Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH IMUNOLOGI

Disusun oleh :

1. AYU MIKA ULINITA Br. GINTING NIM :193302080001

2. DARA SAKINAHTUL DIPA NIM : 193302080012

3. DELVITA IRMAYASARI NIM : 193302080002

4. LISA TRI ANANDA PURBA NIM : 193302080013

PROGRAM STUDI S-1 KEBIDANAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA

TAHUN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa
selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada dosen kami yang bernama buk Lisbet Laola
Silitonga,S.Pd.,M.Pd yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini yang
berjudul “ Imunologi ’’ dan tidak pula kami ucapkan rasa terima kasih kami kepada teman-
teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa
disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca mengenai
Imunologi. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, baik dari sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa sehingga kami sangat
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah
selanjutnya yang lebih baik lagi. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Medan, 14 September 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………… i

KATA PENGANTAR…………………………………………….. ii

DAFTAR ISI………………………………………………………. iii

BAB 1 PENDAHULUAN………………………………………4

1.1 Latar Belakang………………………………………….. 5


1.2 Rumusan Masalah………………………………………. 5
1.3 Tujuan Penulisan………………………………………… 5
1.4 Manfaat Penulian…………………………………………5
BAB 2 PEMBAHASAN…………………………………………
2.1 Imunoglobulin……………………………………………. 6
2.2 Imunologi……………………………...6
2.2 Sistem Imun....................................7
2.3 Antigen……………………. 9
2.4 Antibodi……………………. 9
2.5 darah…………...………………............10
2.6 Penyakit imun ………………………....10
BAB 3 PENUTUP…………………………………………… 16
3.1 Kesimpulan……………………………………………... 16

3.2 Saran…………………………………………………….. 16
3.3 Daftar pustaka……………………………………………. 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui pada zaman sekarang banyak sekali penyakit- penyakit baru yang telah
teridentifikasi. Tapi kita tidak pernah tahu dari mana asal mula penyakit tersebut, apakah penyakit
tersebut berasal dari virus, bakteri, atau bahkan dari sistem imun kita sendiri. Disini kami akan
membahas mengenai imunologi,dan penyakit-penyakit apa saja yang disebabkan dari menurunnya
sistem imun, dan dalam makalah ini kami akan menyinggung mengenai antibodi, antigen serta gol
darah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah imunoglobulin?

2. Bagaimana sejarah imunologi?

3. Apa pengertian imunologi ?

4. Apa pengertian dari sistem imun serta pembagian sistem imun ?

5. Apa yang dimaksud dengan antigen dan bagaimana struktur dari antigen ?

6. Apa yang dimaksud dengan antibodi?

7. Apa hubungan antara gol darah dengan antibodi dan antigen?

8. Apa saja macam-macam patogen?

9. Apa saja macam-macam penyakit yang disebabkan imun ?

1.3 Tujuan

1. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana sejarah awal mula imunoglobulin.


2. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana sejarah imunologi.
3. Supaya pembaca dapat mengetahui apa pengertian dari imunologi.
4. Agar pembaca dapat mengetahui pengertian dari sistem imun serta pembagian sistem imun tersebut.
5. Agar pembaca dapat mengetahui pengertian dari antigen serta bagaimana struktur dari antigen tersebut.
6. Agar pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan antibodi.

4
7. Agar pembaca dapat mengetahui hubungan antara gol darah dengan antibodi dan antigen
8. Agar pembaca dapat mengetahui macam-macam patogen.
9. Agar pembaca mengetahui macam-macam penyakit yang disebabkan oleh imun.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 IMUNOGLOBULIN

adalah protein yang disekresikan produk dari sel plasma yang mengikat antigen dan sebagai
efektor sistem imun humoral. Pada sel B, imunoglobulin disebut reseptor sel B atau BCR (B cell
receptor).

unsur yang Berperan dalam Reaksi Imunoglobulin.Protein- protein yang berfungsi untuk melindungi
tubuh lewat proses kekebalan ini dinamakan “Imuno globulin”, disingkat “Ig”.Protein paling khas pada
sistem pertahanan, molekul imuno globulin mengikatkan diri pada antigen untuk menginformasikan
kepada sel-sel kekebalan lainnya tentang keberadaan antigen tersebut atau untuk memulai reaksi
berantai perang penghancuran.

1) Sel B

Adalah limfosit yang memainkan peran penting pada respon imunhumoral yang berbalik pada
imunitas selularyang diperintah oleh sel T. Fungsi utama sel B adalah untuk membuat antibodi
melawan antigen. Sel B adalah komponen sistem kekebalan tiruan. Pencerap antigen pada sel B,
biasa disebut pencerap sel B,merupakan imunoglobulin. Pada saat sel B teraktivasi oleh antigen, sel
Bterdiferensiasi menjadi sel plasma yang memproduksi molekul antibodi dari antigen yang terikat
pada pencerapnya.

Sel B terbagi menjadi dua jenis:·

 Sel B-1atau sel B CD5

Merupakan sel B yang ditemukan pada ruang peritonealdan pleural dan memiliki kemampuan
untuk berkembangbiak. ·

 Sel B-2 atau sel B konvensional

Merupakan sel B hasil sintesis sumsumtulangyang memenuhi plasma darahdan jaringan sistem
limfatikdan tidakmemiliki kemampuan untuk berkembangbiak. Sel B berasal dari sel puncayang
berada padajaringan hemopoietikdidalam sumsum tulang.

6
2) Sel T

Sel T adalah sel di dalam salah satu grup sel darah putih yang diketahuisebagai limfositdan
memainkan peran utama pada kekebalan selular. Sel T mampu membedakan jenis
patogendengan kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali
tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan karena sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T
memori dengan kemampuan untuk berkembangbiak dengan cepat untuk melawan infeksi yang
mungkin terulang kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat infeksi tertentu dan sistematika
perlawanannya, dieksploitasi sepanjang prosesvaksinasi, yang dipelajari pada sistem kekebalan
tiruan.

Respon yang dilakukan oleh sel T adalah interaksi yang terjadi antara reseptor selT (bahasa
Inggris: T cell receptor, TCR) dan peptida MHC pada permukaan sel sehingga menimbulkan antar
muka antara sel T dan sel target yang diikat lebihlanjut oleh molekul co-receptor dan co-binding
Ikatanpolivalenyang terjadi

memungkinkan pengiriman sinyal antar kedua sel. Sebuah fragmen peptida kecil yang
melambangkan seluruh isi selular, dikirimkan oleh sel target ke antar muka sebagai MHC untuk
dipindai oleh TCR yang mencari sinyal asing dengan lintasan pengenalan antigen. Aktivasi sel T
memberikan respon kekebalan yang berlainan seperti produksi antibodi, aktivasi sel fagosit atau
penghancuran sel target dalam seketika. Dengan demikian respon kekebalan tiruan terhadap
berbagai macam penyakit diterapkan.

Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari sumsum tulang
menuju kelenjar timus, tempat sel punca tersebut mengalami rekombinasi VDJ pada rantai-beta
pencerapnya, guna membentuk protein TCR yang disebut pre-TCR, pencerap spesial pada
permukaan sel yangdisebut pencerap sel T(bahasa Inggris: T cell receptor, TCR). "T" pada kata sel
T adalah singkatan dari kata timus yang merupakan organ penting tempat sel T tumbuh dan
menjadi matang. Beberapa jenis sel T telah ditemukan dan diketahui mempunyai fungsi yang
berbeda-beda.Sel T terbagi menjadi tiga jenis, masing-masing dari ketiga jenis tersebut
mempunyai tugas / fungsi yang berbeda-beda :·

7
 Sel T sitotoksik (killer)

Berfungsi membunuh sel-sel yang terinfekasi, selini dapat membunuh berbagai bibit
penyakit, dan sel kanker.·

 Sel T supressor (penekan)

Mempunyai efek menstabilkan jumlah sel killer agar sel killer tidak membunuh sel-sel tubuh
yang sehat.·

 Sel T penolong (helper)

Berfungsi membantu zat antibodi dan sel B penghasil antibodi. Sel ini mengatur respons,
kekebalan tubuh dengan caramengenali dan mengaktifkan limfosit yang lain.

3) Imunoglobulin G (IgG)

Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang paling
sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dancairan
peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik
(sebagai serum transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-
satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.

4) Imuno globulin A (IgA)

Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, airmata,


cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy),
sedangkan yang monomer (y) tidak aktif. Jaringan yangmensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah
sel epithel yang bertindak sebagaireseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk
kedalam lumen.

Fungsi dari IgA ini ialah:

- Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa

- Tidak efektif dalam mengikat komplemen

8
- Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lisozim yang ada dalam cairan sekretori yang
mengandung IgA

- Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif

5) Imunoglobulin M (IgM)

Imunoglobulin M ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu
paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan limavalensi. Imunoglobulin ini
hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atau
adanya antigen (imunisasi/vaksinasi).

IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutininalamiah.
IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk T-
independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen.

6) Imuno globulin D (IgD)

Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penanda permukaan pada
sel B yang matang. IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal. Sel B membentuk
IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dariRNA.

7) Imunoglobulin E (IgE)

Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan dengan mast sel dan
basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil. IgE berikatan pada reseptor Fc
pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi
bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya
sehingga menyebabkan reaksi anaphylaksis. IgE sangat berguna untuk melawan parasit

9
2.2 SEJARAH IMUNOLOGI

Imunologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang sistem pertahanan tubuh. kata “imunologi”
berasal dari kata immunitas dari bahasa latin yang berarti pengecualian atau pembebasan. Istilah
itu awalnya dipakai oleh senator Roma yang mempunyai hak-hak istimewa untuk bebas dari tuntutan
hukum pada masa jabatannya. Immunitas (imunitas) selanjutnya dipakai untuk suatu pengertian yang
mengarah pada perlindungandan kekebalan terhadap suatu penyakit, dan lebih spesifik penyakit infeksi.

Konsep imunitas yang berarti perlindungan dan kekebalan sesungguhnya telah dikenal oleh manusia sejak
jaman dahulu. Pada saat ilmu imunologi belum berkembang, nenek moyang bangsa Cina membuat puder
dari serpihan kulit penderita cacar untuk melindungi anak-anak mereka dari penyakit tersebut. Puder
tersebut selanjutnya dipaparkan pada anak-anak dengan cara dihirup. Cara yang mereka lakukan berhasil
mencegah penularan infeksi cacar dan mereka kebal walaupun hidup pada lingkungan yang menjadi
wabah. Saat itu belum ada ilmuwan yang dapat memberikan penjelasan, mengapa anak-anak yang
menghirup puder dari serpihan kulit penderita cacar menjadi imun (kebal) terhadap penyakit itu.
Imunologi tergolong ilmu yang baru berkembang. Ilmu ini sebenarnya berawal dari penemuan vaksin oleh

(Edward Jennerpada tahun 1796)

Edward Jenner dengan ketekunannya telah menemukan vaksin penyakit cacar menular, smallpox.
Pemberian vaksin terhadap individu sehat selanjutnya dikenal dengan istilah vaksinasi. Vaksin ini berupa
strain yang telah dilemahkan dan tidak punya potensi menimbulkan penyakit bagi individu yang sehat.

10
Walaupun penemuan Jenner ini tergolong penemuan yang besar dan sangat sukses, namun memerlukan
waktu sekitar dua abat untuk memusnahkan penyakit cacar di seluruh dunia setelah penemuan besar itu.

World Health Organization (WHO) menyatakan Smallpox musnah pada tahun 1979. Perkembangan ilmu
pengetahuan pada masa Jenner belum bisa menjelaskan perihal smallpox dengan baik. Ketika Jenner
menemukan vaksin untuk smallpox, Jenner sendiri tidak tahu apa penyebab penyakit yangmematikan itu.

Baru abad 19 Robert Koch bisa menjelaskan adanyabeberapa agen penginfeksi berupa mikroorganisme
yang menimbulkan penyakit. Mikroorganisme tersebut meliputi, virus, bakteri, fungi, dan beberapa
eukariotik yang selanjutnya disebut parasit. Organisme parasit sampai saat ini masih menjadi pekerjaan
yang sulit bagi para ilmuan. Penyakit malaria yang ditimbulkan oleh plasmodium, kaki gajah oleh
Wuchereriabancrofti, masih merambah di belahan bumi ini terutama di daerah tropis.Penemuan oleh
Robert Koch dan penemuan besar lain pada abat 19 telah mengilhami penemuan-penemuan vaksin
beberapa penyakit.

Pada tahun 1880,Lois Pasteur menemukan vaksin kolera yang biasa menyerang ayam. Pada
perkembangannya Lois Pasteur berhasil menemukan vaksin rabies.Penemuan-penemuan tersebut di atas
mendasari perkembangan ilmuImunologi yang mendasarkan kekebalan sebagai alat untuk
menghindariserangan penyakit.

Pada tahun 1890,Emil von Behring dan Shibasaburo Kitasato menemukan bahwa individu yang telah
diberi vaksin akan menghasilkan antibodi yang bisa diamati pada serum. Antibodi ini selanjutnya
diketahui bersifat sangat spesifik terhadap antigen. (rifai, 2011)

2.3 Pengertian Imunologi

Inunologi berasal dari bahasa latin yaitu Imunis dan Logos. Imun yang berarti kebal dan
logos yang berarti ilmu. Imunologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kekebalan tubuh.
Imunitas adalah perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi. Sel – sel dan
molekul molekul yang terlibat di dalam perlindungan membentuk sistem imun. Sedangkan
respon untuk menyambut agen asing disebut respon imun. Imunologi adalah suatu cabang
yang luas dari ilmu biomedis yang mencakup kajian mengenai semua aspek sistem imun (
kekebalan ) pada semua organisme.

11
Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap
infeksi bakteri dan virus,serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika
sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga
menyebabakan patogen , termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat
berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel
tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah d ilaporkan meningkatkan resiko terkena
beberapa jenis kanker.

Imunologi ialah ilmu yang mempelajari sistem imunitas tubuh manusia maupun hewan,
merupakan disiplin ilmu yang dalam perkembangannya berakar dari pencegahan dan
pengobatan penyakit infeksi.

Pengetahuan imunologi yang maju telah dapat dikembangkan untuk menerangkan


patogenesis serta menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sebelumnya masih kabur.
Kemajuan dicapai dalam pengembangan berbagai vaksin dan obat – obat yang digunakan
dalam memperbaiki fungsi sistem imun dalam memerangi infeksi dan keganasan, atau
sebaliknya digunakna untuk menekan inflamasi dan fungsi sistem imun yang berlebihan pada
penyakit hipersensitivitas.

Pada mulanya imunologi merupakan cabang mikrobiologi yang mempelajari respons tubuh,
terutama respons kekebalan terhadap penyakit infeksi. Imunologi adalah suatu cabang yang
luas dari ilmu biomedis yang mencakup kajian mengenai semua aspeksistem imun
(kekebalan) pada semuaorganisme. Imunologi antara lain mempelajari peranan fisiologis
sistem imum baik dalam keadaan sehat maupun sakit; malfungsi sistem imun pada gangguan
imunologi karakteristik fisik, kimiawi, dan fisiologis komponen-komponen sistem imun.

2.4 Sistem Imun

imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk mempertahankan


keutuhan tubuh sebagai pelindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai
bahan dalam lingkungan hidup. Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada
organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan
mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor.

12
Ada 3 (tiga) fungsi penting yang harus dimiliki sistem imun yang sehat :

1. Kemampuannya untuk mengenali benda-benda asing seperti bakteri,virus, parasit,


jamur, sel kanker, dll. Fungsi ini sangat penting, karena harus bisa membedakan mana
kawan( bakteri yang menguntungkan dan sel tubuhyang baik )mana lawan ( virus, bakteri
jahat, jamur, parasit, radikal bebas dansel-sel yang bermutasi yang bisa menjadi tumor/kanker )
dan mana yang orang biasa ( alergen, pemicu alergi ) yang harus dibiarkan lewat.

2.Bisa bertindak secara khusus untuk menghadapi serangan benda asing itu

3. Sistem Imun mengingat penyerang-penyerang asing itu ( rupa & rumuskimiawi


antibodi yang digunakan untuk mengalahkan mereka yang disimpan didalam Transfer
Factor tubuh ) sehingga bisa dengan cepat menolak serangan ulang di masa depan.

Sistem imun yang sehat adalah sistem imun yang seimbang yang bisa meningkatkan
kemampuan tubuh dalam melawan penyakit. Sistem imun menyediakan kekebalan
terhadap suatu penyakit yang disebut imunitas.

Respon imun adalah suatu cara yang dilakukan tubuh untuk memberi respon
terhadapmasuknya patogen atau antigen tertentu ke dalam tubuh.

Imunitas atau sistem imun tubuh manusia terdiri dari :

1.Sistem Imun Alami (sistem imun non-spesifik)

adalah respon pertahanan yang secara nonselekif mempertahankan tubuh dari invasi
dari benda asing atau abnormal dari jenis apapun dan imunitas ini tidak diperoleh
melalui kontak dengan suatu antigen. Sistem ini disebut non spesifik karena tidak ditujukan
terhadap mikroorganisme tertentu. Selain itu sistem imun ini memiliki respon yang cepat
terhadap serangan agen patogen atau asing, tidak memiliki memori immunologik, dan
umumnya memiliki durasi yang singkat.

Sistem imun non-spesifik telah berfungsi sejak lahir, merupakan tentara terdepan dalam
sistem imun yang terdiri atas pertahanan fisik/mekanik seperti kulit, selaput lendir, dan silia
saluran napas yang dapat mencegah masuknya berbagai kuman patogen kedalam tubuh.

13
Sejumlah komponen serum yang disekresikan tubuh seperti sistem komplemen, sitokin tertentu,
dan antibodi alamiah, serta komponen seluler seperti sel natural killer (NK)

Yang termasuk innate immunity adalah : Makrofage, sel darah merah dan selassesories,
selain itu juga bahan biokimia dan fisik barier seperti kulit yang mensekresi lisosim dan
dapat merusak bakteri seperti S.aureus. Oleh karena itu sistem ini spesifik untuk alam.
Sehingga jika ada organisme melakukan penetrasi melalui permukaan epithel akan
dianulir oleh sitem Retikulum Endothelium (RE) yang merupakan turunan dari sel
sumsung tulang yang berfungsi menangkap internelisasi dan merusak agen infeksius.
Dalam hal ini yang bertindak memfagositosit adalah sel kuffer. Selain itu juga sel darah
merah termasuk eosinophil, PMN dan monosit dapat migrasi ke dalam jaringan yang
dapatmerangsang secara invasive.

Sel lainnya adalah natural killer,leukosit, sel ini cocok untuk mengenali perubahan
permukaan pada sel yang terinfeksi, seperti mengikat dan membunuh sel yang
dipengaruhi oleh interferon.

Interferon adalah termasuk antibodi spesifik yang diproduksi oleh sel target atau sel
terinfeksi.

Faktor lain yang termasuk innate immunity adalah protein serum yang merupakan
protein fase akut. Protein ini mempunyai efek sebagai perlindungan melalui interaksi komplek
dengan komplemen, yang selanjutnya diikuti lisisnya agen penyakit.

Sebagai tanda awal dari respon imun adalah inflamasi yang merupakan reaksi dari tubuh
terhadap injuri seperti invasi agen infeksius.

Terjadinya proses ini dapat ditandai dengan 3 hal yaitu

 pertama terjadi peningkatan daerah ke daerah infeksi


 kedua peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan reaksi sel endithel,sehingga terjadi
reaksi silang antara molekul besar dan sel endotelial.
 Ketiga terjadinya migrasi leukosit (PMN) dan makrofage dan kapiler ke jaringan sekitar.

14
Pertahanan non spesifik terbagi atas 3 bagian yaitu :

a. Pertahanan Fisik : Kulit, Membran Mukosa

b. Pertahanan Kimiawi : Saliva, Air mata, Lisozim (enzim penghancur)

c. Pertahanan Biologis : Sel darah putih yang bersifat fagosit (neutrofil,monosit, acidofil),
protein antimikroba dan respon pembengkakan (inflammatory).

2. Sistem Imun Adaptif (sistem imun spesifik / Adaptive Immunity System)

Adaptive Immunity adalah merupakan sistem pertahanan tubuh lapis kedua, jika innate
immunity tidak mampu mengeliminasi agen penyakit. Hal ini terjadi jika fagosit tidak
mengenali agen infeksius sebab hanya sedikit reseptor yangcocok untuk agen infeksius
atau agen tidak bertindak sebagai faktor antigenterlarut (solube antigen) yang aktif.

Jika hal ini terus menerus, maka akan diperlukan molekul spesifik yang akan berikatan
langsung dengan antigeninfeksius yang dikenal dengan antibodi dan selanjutnya akan terjadi
proses fagotosis. Antibodi diproduksi oleh sel B yang merupakan molekul fleksibel dan
bertindak sebagai adaptor antara agen infeksius dan fagosit. Antibodi mempunyai 2
fungsi selain mempunyai variabel antibodi yang berbeda dan mengikat agen infeksius
juga mengikat reseptor sel dan selanjutnya mengaktifkan komplemen yang diakhiri
dengan terjadinya lisis.

Sistem Imun ini disebut Spesifik karena : dilakukan hanya oleh sel darah putih, Limfosit,
membentuk kekebalan tubuh, dipicu oleh antigen (senyawa asing) sehingga terjadi
pembentukan antibodi dan setiap antibodi spesifik untuk antigen tertentu. Limfosit
berperan dalam imunitas yang diperantarai sel dan antibodi.

Imunnitas ini terjadi setelah pemaparan terhadap suatu penyakit infeksi, bersifat khusus dan
diperantarai oleh antibody atau sel limfoid.

15
Immunitas ini bisa bersifat pasif dan aktif.

a. Immunitas pasif, diperoleh dari antibody yang telah terbentuk sebelumnya dalam inang
lain.
b. Immunitas aktif, resistensi yang di induksi setelah kontak yang efektif dengan antigen
asing yang dapat berupa infeksi klinis atau subklinis, imunisasi pemaparan terhadap
produk mikroba atau transplantasi se lasing.

Sistem imun adaptif ini mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing
bagi dirinya. Sistem imun adaptif memiliki beberapa karakteristik, meliputi kemampuan ntuk
merespon berbagai antigen, masin-masing dengan pola yang spesifik; kemampuan untuk
membedakan antara antigen asing dan antigen sendiri; dan kemampuan untuk merepon antigen
yang ditemukan sebelumnya dengan memulai respon memori yang kuat.

Non spesifik Spesfik

Resistensi Tidak berubah oleh infeksi Membaik oleh infeksi


berulang

Spesifitas Umumnya efektif terhadap semua Spesifik untuk mikroorganisme yan


mikroorganisme sudah mensistesis sebelumnya.
Sel yang penting Fagosit Limfosit
Sel NK
Sel K
Molekul yang Lizosim Antibody sitokin
penting Komlemen
Protein fase akut
Interferon (sitokin)
Sel yang berada di Didominasi sel polimorfonuklear Didominisi selT dan selB
dalamnya
Sifat Bersifat general/umum Bersifat memori/diperlukan
pajan pertama dan efektif untuk
pajanan berikutnya dengan
antigen yang sama.

16
Cara kerja Cara kerja cepat Cara kerja kualitas
meningkat karena
memiliki sifar memori

2.5 Antigen

antigen biasanya adalah suatu zat asing terhadap inang yang mula-mula dihadapi oleh faktor-
faktor alamiah diikuti oleh pengaktifan HI atau CMI. Zat ini terikat pada reseptor permukaan
antigen spesifik koloni sel-sel-T atau sel-sel-B. (Julius, 2011)

Antigen adalah bahan, yang asing untuk badan, yang di dalam manusia atau organisme
multiseluler lain dapat menimbulkan pembentukan antibodi terhadapnya dan dengan antibodi
itu antigen dapat bereaksi secara khas. (FK UI).

Antigen adalah suatu substansi yang mampu merangsang terbentuknya respon imun yang
dapat dideteksi, baik respon imun seluler, respon imun humoral atau kedua-duanya. Karena
sifatnya itu antigen disebut juga sebagai imunogen. Imunogen yang paling poten umumnya
merupakan makromolekul protein, polisakarida atau polimer sintetik yang lain seperti
polivinilpirolidon(PVP).

Antigen ditemukan dipermukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan
seseorang tidak bereaksi terhadap sel-selnyasendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen
merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi
antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul
lainnya. Permukaan bakteri mengandung banyak protein dan polisakarida yang
bersifat antigen, sehingga antigen bisa merupakan bakteri, virus, protein, karbohidrat,
sel-sel kanker, dan racun.

Berdasarkan sumbernya terdapat 3 (tiga) macam antigen, yaitu

 autologous antigen : Autologous antigen berasal dari individu yang sama dengan
yang yang terkena antigen.
 homologous antigen : Homologous antigen adalah antigen yang berasal dari individu
lain tetapi masih dalam satu spesies yang sama.

17
 heterologous antigen : Heterologous antigen adalah antigen yang berasal dari
individu yang berbeda dari spesies yang berbeda juga. Perbedaan sumber antigen
biasanya akan menghasilkan respons imun yang berbeda dari sumber lainnya (Criep
1962).

Secara fungsional antigen terbagi menjadi 3, yaitu:

1.Imunogen

2. Hapten

3. Superantigen (supermitogen)

Pengklasifikasian dan Contoh-contoh Antigen

A.Klasifikasi Antigen1.

 Pembagian antigen menurut epitop :

a.Unideterminan, univalen : hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul.

b.Unideterminan, multivalen : hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan
tersebut pada satu molekul.

c.Multideterminan, univalen : banyak epitop yang ber macam-macam tetapi hanya satu dari
setiap macamnya (kebanyakan protein).

d.Multideterminan, multivalen : banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam
pada satu molekul.

Pembagian antigen menurut spesitisitas :

a. Heteroantinogen : yang dimiliki oleh banyak spesies

b.Xenoantinogen : yang hanya dimiliki oleh banyak spesiestertentu.

c. Aloantinogen : yang spesifik untuk individu dalam satu spesies

d.Antigen organ spesifik : yang hanya dimiliki organ tertentu.

18
e.Autoantigen : yang dimiliki alat tubuh sendiri

Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T :

a.T dependen : yang memerlukan pengenalan sel T terlebihdahulu untuk dapat menimbulkan
respon antibodi.

b.T independen: yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan selT untuk membentuk
antibodi.

Pembagian antigen menurut sifat kimiawi :

a.Hidrat arang (polisakarida)

b.Lipid

c.Asam Nukleat

d. Protein

Cara masuk dalam tubuh :

a.Parental : Melalui pembuluh darah (jarum suntik)

b.Oral : Makanan

c.Kontak Mukosa : Berhubungan badan

d.Kontak Kulit

Produk Bakteri :

a. Toksin

b. Virus

c.Parasit

d.Obat dengan BM meningkat (ex. Insulin, penicillin, dll).

19
Contoh Antigen

1. Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya danlebih tersebar luas
dibandingkan makhluk hidup yang lain. Bakterimemiliki ratusan ribu spesies yang hidup di
darat hingga lautandan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yangmenguntungkan
tetapi ada juga yang meerugikan. Bakteri adalahorganisme uniseluler dan prokariot serta
umumnya tidak memilikiklorofil dan berukuran renik.
2. Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi selorganisme biologis. Istilah
virus biasanya merujuk pada partikel- partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota. Virus
bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di
dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus
tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri.
3. Sel darah yang asing Sel darah yang asing dapat diperoleh dari pendonoran darah.Transfusi
darah merupakan jenis transplantasi yang paling seringdilakukan. Dan apabila darah yang
masuk ke dalam tubuhresipien tidak kompatibel maka tubuh akan mengenalinya
sebagaiantigen.
4. Sel-sel dari transplantasi organTransplantasi adalah pemindahan sel, jaringan maupun organ
hidupdari seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengembalikan fungsi yang telah
hilang. Namun sel-sel tersebut dapat menjadi antigen ketika sel tidak cocok dengan tubuh
resipien.
5. ToksinToksin adalah segala bentuk zat yang memiliki efek destruktif bagi fungsi sel dan
struktur sel tubuh. Beberapa jenis toksin bersifat fatal, dan beberapa jenis lain bersifat lebih
ringan. Disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya antigen pada antibodi
disebutvariabel.Secara garis besar, interaksi antigen-antibodi adalah seperti berikut:

Karakteristik dan Sifat-sifat Antigen

A.Karakteristik Antigen

Karakteristik antigen meliputi bentuk, ukuran, rigiditas, lokasideterminan dan struktur


tersier.

1.Ukuran

20
antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat molekul yang besar. Tetapi
molekul kecil dapat bergabung dengan protein inang sehingga dapat bersifat
imunogen dengan membentuk kompleks kecil (hapten) dan protein inang (carrier).

2.Bentuk

bentuk determinan sangat penting sebagai komponen utama, seperti DNP dalam
DNP-L-lisin yang memberi bentuk molekul yang tidak dapat ditemukan dalam
homolog primer.

3.Rigiditas

Gelatin yang mempunyai berat molekul yang sangat besar, hampir semuanya non
imunogenik. Kespesifitasnya dari produksi antigen secara langsung diangkut ke
gelatin.

4.Lokasi determinan

Bagian protein yang terdenaturasimengindikasikan determinan antigen yang penting


yang dapatdimasukkan oleh molekul besar.

5.Struktur tersier

struktur tersier dari protein penting dalammendeterminasi kespesifikasn dari respon


suatu antibodi. Produksiantibodi rantai A dari insulin tidak bereaksi dengan molekul
alami.Reduksi dan reoksidasi dari ribonuklease di bawah kondisi kontroldiproduksi
dari campuran molekul protein yang berbeda hanyadalam struktur tiga dimensi. Jika
katabolisme terjadi, strukturtersier dari imunogen akan dihancurkan.

Sifat- Sifat AntigenAntigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas sebagai


berikut :

1.Keasingan

Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhisyarat sebagai


imunogen adalah bahwa zat tersebut secara genetikasing terhadap hospes.

21
2.Sifat-sifat Fisik

Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyaiukuran minimum tertentu, yaitu
mempunyai berat molekul >40.000dalton, respon terhadap hospes minimal, umumnya berupa
protein asing, alergen bersifat stabil (tahan bila dipanaskan, sukardipecahkan), mampu
merangsang terbentuknya AB serta antigen poten alamiahnya berupa makromolekul dan
kompleks polisakarida,serta fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan
protein-protein jaringan.Hapten dapat merangsang terjadinya respon imun yang kuat jika
bergabung proten pembawa dengan ukuran sesuai.

3.Kompleksitas

Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputisifat fisik dan kimia


molekul.

4.Bentuk-bentuk (Conformation)

Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen.Polipeptid linear atau bercabang,
karbohidrat linear atau bercabang,serta protein globular, semuanya mampu merangsang
terjadinya respon imun.

5.Muatan (Charge)

Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif,
dan netral dapat imunogen. Namun demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan
antibodi yang tanpa kekuatan.

6. Kemampuan Masuk

Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan menentukan
hasil respon imun.

Mekanisme Masuknya Antigen dalam Tubuh

Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekulkecil yang bisa masuk ke
dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadiantigen bila dia melekat pada protein tubuh
kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan istilah

22
hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal
maupuninternal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sellimfosit B
yang akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh haptendiantaranya adalah toksin
poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat
membawa efek alergik.Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan
reseptorsel limfosit B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi
menjadi sel plasma. Sel plasma kemudian akan membentukantibodi yang mampu berikatan
dengan antigen yang merangsang pembentukan antibodi itu sendiri. Tempat melekatnya
antibodi pada antigen disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya antigen pada antibodi
disebut variabel.

Secara garis besar, interaksi antigen-antibodi adalah seperti berikut:

 Antigen/hapten masuk ke tubuh melalui makanan, minuman,udara, injeksi, atau


kontak langsung.
 Antigen berikatan dengan antibody.
 Histamine keluar dari sel mast dan basofil

Timbul manifestasi alergiTerdapat berbagai kategori Interaksi antigen-antibodi,


kategori tersebut antaralain:

1.PrimerInteraksi tingkat primer

adalah saat kejadian awal terikatnya antigendengan antibodi pada situs identik yang kecil, bernama
epitop.

2.SekunderInteraksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:

a. Netralisasi

Adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen menimbulkan effect yang
merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin bakteri, antibody mencegah zat kimia ini
berinteraksi dengan sel yang rentan.

b.Aglutinasi

23
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfusi darah yang tidak cocok
berikatan bersama-sama membentuk gumpalan.

c. Presipitasi

Adalah jika komplek antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar, sehingga tidak dapat
bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya mengendap.

d. Fagositosis

Adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu mengikat reseptor fagosit
(sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang mengandung antigen tersebut.

e.Sitotoksis

Adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel pembawa antigen oleh
killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel
sasaran dilapisi oleh antibodi sebelum dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.

3 TersierInteraksi tingkat tersier

adalah munculnya tanda-tanda biologik dariinteraksi antigen-antibodi yang dapat berguna atau
merusak bagi penderitanya. Pengaruh menguntungkan antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri,
immnunitas mikroba,dan lain-lain. Sedangkan pengaruh merusakantara lain: edema, reaksi sitolitik
berat, dan defisiensi yang menyebabkankerentanan terhadap infeksi.

Aplikasi Pengetahuan mengenai Antigen dalam Bidang Kesehatan

Pengetahuan tentang antigen, imunogenitas, imunogen, dan epitopsangat penting dalam aplikasi
klinik, khususnya untuk imunisasi dengantujuan pencegahan terhadap penyakit-penyakit infeksi
tertentu.Pengetahuan mengenai antigen juga dimanfaatkan untuk membuatvaksin.

1. Vaksin Bakteria.

Diphteria, Pertussis dan Tetanus (DPT)DPT merupakan vaksin polivalen yang mengandung
toksoid dariCorynebacterium diphteriae dan Closteridium tetani dengandibubuhi bakteri

24
Bordetella pertussis (penyebab batuk rejang) yangtelah dimatikan. Toksoid adalah toksin yang
telah dihilangkantoksisitasnya, tetapi masih bersifat sebagai imunogen.

b. Haemophilus influenzae tibe b (Hib)

Vaksin ini terdiri atas polisakarida berasal dari Haemophilusinfluenzae tipe b yang
dikonjugasikan dengan toksoid atau proteinmembran luar dari meningocococcus yang
digunakan untuk . Mencegah meningitis (radang selaput otak) oleh
Haemophilusinfluenzae. Tetapi karbohidrat yang dimurnikan tersebut
kurangimunogenik pada anak-anak berumur dibawah 2 tahun. Polisakaridatersebut
hanya akan memiliki imunogenisitas jika secara kimiawidikaitkan dengan molekul
protein sebagai carrier.

c. Neiseria meniitis

Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit meningitis. Vaksin initerdiri atas
karbohidrat yang berasal dari kapsul meningococcus darigalur A, C, Y dan W-135.

d. Polisakharida pneumococcus

Vaksin ini dipersiapkan dari kapsul polisakharida dari 23 tipe antigenikStreptococcus


pmeumoniae. Vaksin ini akan dilindungi terhadap 90 %galur pneumococcus yang
menyerang manusia.

e. Baccili Calmette-Guerin (BCG)Vaksin ini

mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan dari galurMycobacterium bovis


yang digunakan untuk melindungi terhadapinfeksi tbc manusia.

Vaksin virus

a. RubellaVaksin rubella

mengandung virus hidup yang telah dilemahkan yang dibiakkan dalam jaringan hewan
atau sel-sel diploid manusia

25
b.Virus influenza

Mengandung virus influenza tipe A dan B secara utuh yang dibiakkan dalam embrio ayam
dan dinonaktifkan dengan formalin.

c. Poliomyelitis

Vaksin terhadap poliomyelitis tersedia dalam 2 bentuk.

 Vaksin salk (inactivated polio vaccine= IPV) diperoleh dari virus yang dibiakkan dalam
jaringan (ginjal kera) kemudian dinonaktifkan dengan formalin atau sinar UVIOL. Pemberian
vaksin melalui suntikan.
 Vaksin Sabin atau OPV (Oral polio vaccine) dipersiapkan dari virus yang ditumbuhkan
dalam jaringan (ginjal kera). Pemberian vaksin dengan cara tetesan melalui mulut.

d. Hepatitis B

Vaksin hepatitis B terdiri dari partikel antigen permukaan virus hepatitisB (HbsAg) yang
diperoleh dari plasma manusia penyandang carrier.

e.Varicella

Vaksin varicella digunakan untuk mencegah terhadap infeksi cacar air.

f. Hepatitis A

Vaksin yang mengandung virus hepatitis A yang dinonaktifkan.

g. Rabies

Vaksin rabies tersedia dalam dua bentuk :

a) Virus rabies yang telah dimatikan untuk vaksinisasi manusia

 Virus yang dibiakkan dalam sel embrio itik


 Virus yang ditumbuhkan dalam sel diploid manusia

b) Virus rabies hidup yang dilemahkan untuk vaksinasi hewan peliharaan

26
2.4 Antibodi

Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh vertebrata lainnya, dan
digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasin dan menetralisasikan benda asing
seperti virus dan bakteri.mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibodi
memiliki dua rantai berat besar dan dua rantau ringan. Antibodi diproduksi oleh tipe sel darah yang
disebut sel B. terdapat beberapa tipe yang berbeda dari rantai berat antibodi, dan beberapa tipe
antibodi yang berbeda, yang dimasukkan kedalam isotype yang berbeda berdaasarkan pada tiap
rantai berat mereka masuki. Lima isotype antibodi yang berbeda diketahui berada pada tubuh
mamalia, yang memainkan peran yang berbeda dan menolong mengarahkan respon imun yang tepat
untuk tiap tipe benda asing yang berbeda yang ditemui. Antibodi adalah molekul immunuglobulin
yang bereaksi dengan antigen speifik yang menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama.
Antibodi disintesis oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor
sel. Antibodi biasanya disinhkat penulisannya menjadi Ab (Dorlan).

Sebuah molekul antibodi umumnya mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang identik dan
spesifik untuk epitop (determinan antigenik) yang menyebabkan produksi antibodi tersebut. Masing-
masing molekul antibodi terdiri atas empat rantai polipeptida, yaitu dua rantai berat (heavy chain)
yang identik dan dua rantai ringan (light chain) yang identik, yang dihubungan oleh jembatan
disulfida untuk membentuk molekul berbentuk Y. pada kedua ujung molekul berbentuk Y itu
terdapat daerah variabel (V) rantai berat dan rantai ringan. Disebut demikian karena urutan asam
amino pada bagian ini sangat bervariasi dari satu antibodi ke antibodi yang lain. Daerah V rantai
berat dan daerah V rantai ringan secara bersama-sama membentuk suatu kontur unik tempat
pengikatan antigen milik antibodi.interaksi antara tempat pengikatan antigen dengan apitopnya mirip
dengan interaksi enzim dan substratnya.

HEMOGLOBIN

Hemoglobin adalah molekul protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen
dari paru-paru ke jaringan tubuh dan mengembalikan karbondioksida dari jaringan tubuh ke
paru-paru untuk dikeluarkan melalui pernapasan.

Hemoglobin juga mempunyai peranan penting dalam menjaga bentuk sel darah merah.
Normalnya sel darah merah berbentuk bulat dengan bagian tengah yang pipih menyerupai

27
donat tanpa lubang di tengahnya. Struktur hemoglobin yang abnormal dapat mengganggu
bentuk sel darah merah dan menghalangi fungsinya untuk bekerja melalui pembuluh darah.

Penyebab kekurangan hemoglobin umumnya karena perdarahan yang dapat berasal dari
luka, perdarahan di saluran cerna, saluran kemih, saat menstruasi berat, atau
karena perdarahan pasca persalinan.

Selain itu, kekurangan hemoglobin juga disebabkan beberapa penyakit yang membuat
produksi Hb atau sel darah merah berkurang seperti anemia defisiensi besi, anemia
aplastik, defisiensi vitamin B12, kanker, gastritis, sirosis, penyakit Hodgkin, hipotirodisme,
gagal ginjal kronis, sistitis, leukemia, myeloma dan M Y E L OD YS PL A S T I C S YN D R OM E .

Efek samping obat kemoterapi juga dapat menyebabkan Hb yang rendah.

Beberapa kelainan dapat merusak hemoglobin lebih cepat daripada kemampuan tubuh
membuatnya, misalnya porfiria, splenomegali, vaskulitis atau radang pada pembuluh darah,
anemia hemolitik, dan gangguan pada proses pembentukan hemoglobin seperti
pada thalassemia dan anemia sel sabit.

Tes Darah untuk Mengukur Hemoglobin

Hemoglobin dapat diukur melalui tes darah lengkap, yaitu dengan memeriksa sampel darah
yang biasanya diambil dari pembuluh vena pada lengan. Pemeriksaan ini merupakan tes
darah yang paling sering dilakukan untuk menentukan kadar trombosit, sel darah putih, sel
darah merah serta hemoglobin dalam darah. Dengan menggunakan mesin pemeriksaan
khusus biasanya hasil tes akan terlihat dalam waktu kurang dari satu menit.

Tingkat hemoglobin dinyatakan dalam gram per desiliter (dL). Kadar hemoglobin normal
seseorang tergantung dari usia dan jenis kelaminnya, dan masing-masing laboratorium
memiliki rentang batas normal kadar Hb yang berbeda-beda

Pada bayi baru lahir, tingkat hemoglobin normal sekitar 17-22 gram/dL. Kemudian turun
pada saat bayi usia 1 bulan yaitu 11-15 gram/dL. Tingkat hemoglobin anak-anak secara
umum yaitu sekitar 11-13 gram/dL.
Sementara itu, tingkat hemoglobin pada laki-laki dewasa sekitar 14-18 gram/dL dan pada
wanita dewasa lebih rendah, yaitu sekitar 12-16 gram/dL. Seiring dengan pertambahan usia,
umumnya tingkat hemoglobin akan semakin turun.

28
Umumnya jumlah hemoglobin yang rendah menunjukkan adanya anemia. Oleh karena itu,
selain pemeriksaan Hb, dokter juga akan menyarankan pemeriksaan lain seperti morfologi
darah tepi untuk melihat bentuk sel darah merah, retikulosit, serum besi, Total I R ON
B I NDI N G C A PA C I T Y (TIBC), biopsi sumsum tulang, serum ferritin, pemeriksaan urine,
dan pemeriksaan genetik untuk mencari tahu penyebab anemia atau rendahnya Hb.

Meningkatkan Hemoglobin

Terdapat beberapa metode untuk meningkatkan kadar hemoglobin Anda, tergantung pada
penyebab yang mendasarinya, antara lain:

 Transfusi sel darah merah. Ini merupakan metode utama untuk meningkatkan Hb pada
kondisi dimana tubuh tidak dapat membuat Hb dengan normal, seperti pada
thalassemia dan anemia sel sabit. Transfusi darah juga diberikan pada anemia berat
dimana kadar Hb sudah jauh menurun di bawah batas normal. Pada orang yang rutin
menerima transfusi darah, perlu dilakukan I RO N C HE L AT I ON therapy untuk
mencegah kelebihan kadar zat besi akibat transfusi.
 Mengonsumsi suplemen zat besi. Sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan
dokter karena bisa menimbulkan efek samping dan dapat menyebabkan keracunan zat
besi jika dikonsumsi oleh anak-anak atau dosis penggunaannya tidak sesuai.
Suplemen ini sering diberikan pada ibu hamil karena pada saat mengandung, darah
akan terbentuk lebih banyak sehingga kebutuhan zat besi pada saat hamil juga
meningkat. Konsumsi tablet besi dapat menyebabkan efek samping berupa mual,
warna feses hitam, sembelit, dan nyeri perut.
 Menggunakan eritropoietin yaitu hormon untuk merangsang produksi sel darah
merah. Pilihan terapi ini adalah untuk anemia pada penyakit ginjal berat dimana
produksi hormon eritropoietin sudah tidak memadai. Penggunaan hormon ini juga
bisa untuk mengobati anemia karena efek samping kemoterapi, gangguan sumsum
tulang, dan anemia yang disebabkan oleh kanker.
 Meningkatkan asupan makanan yang kaya akan zat besi seperti telur, bayam, kacang-
kacangan, daging tanpa lemak dan makanan laut. Serta makanan yang
mengandung vitamin B6, asam folat, vitamin B12, dan vitamin C.
 Terapi sel punca (S T E M C E L L T HE RA PY ). Ini adalah terapi definitif untuk mengobati
penyakit hemoglobin seperti thalassemia. Penderita thalassemia perlu rutin mendapatkan
transfusi darah agar kebutuhan akan Hb tercukupi, namun dapat menimbulkan risiko jika

29
dilakukan jangka panjang. Terapi sel punca atau stem cell dilakukan dengan cara operasi
cangkok atau transplantasi sumsum tulang untuk menunjang produksi Hb yang normal.
Tetapi kekurangannya, prosedur ini memiliki berbagai risiko fatal dan biaya operasi yang
mahal. Oleh karena itu, perlu pemeriksaan dan pertimbangan medis yang baik sebelum
menjalani prosedur ini.

Rendahnya hemoglobin tidak selalu menandakan hal yang serius, misalnya pada wanita hamil
seringkali kadar Hb cenderung rendah. Namun bukan berarti kondisi ini dapat dianggap
sepele. Gejala-gejala yang timbul karena kurangnya hemoglobin serupa dengan gejala anemia
pada umumnya, tetapi dapat disertai dengan ciri khusus tertentu sesuai penyakit yang
mendasarinya.

Apabila Anda atau anggota keluarga, mengalami gejala kekurangan hemoglobin atau
memiliki gangguan kesehatan yang berisiko menyebabkan kekurangan hemoglobin seperti di
atas, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan
pengobatan yang tepat. Kondisi rendahnya hemoglobin yang disertai demam, penurunan
berat badan tanpa sebab yang jelas, terdapat pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan
kesadaran, atau kadar Hb yang sangat rendah adalah kondisi serius yang perlu segera
mendapatkan pengobatan.

2.5 Penyakit Imunitas

Mekanisme imun/kekebalan tubuh merupakan sistem pertahanan tubuh yang terintegrasi sejak
awal konsepsi (pembuahan) merupakan sistem pertahanan tubuh yang sudah merupakan
software bawaan. Tetapi sistem imun tersebut dapat juga berubah menjadi suatu penyakit.
Yang dalam beberapa jenis tidak bisa disembuhkan. Berikut ini merupakan penyakit akibat
merendahnya sistem imun.

1. Hipersensitcive

Adalah reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respons imun yang berlebihan sehingga
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi tersebut Gell dan Coombs dibagi dalam 4
tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan
IV. Reaksi itu dapat terjadi sendiri-sendiri, tetapi klinik sering dua atau lebih jenis tersebut
terjadi bersama.

30
Jenis-jenis Reaksi Hipersensitivitas

Secara umum hipersensitivitas dibagi menjadi empat tipe, yaitu:

 Reaksi hipersensitivitas tipe 1

Tipe ini sama dengan alergi dan biasa disebut reaksi hipersensitivitas tipe cepat. Reaksi
hipersensitivitas tipe 1 melibatkan sejenis antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE).
Senyawa IgE tersebut akan melepaskan histamin yang kemudian bisa memicu reaksi alergi
ringan hingga berat, seperti anafilaksis. Disebut reaksi hipersensitivitas ‘cepat’ karena
respons yang terjadi dari hipersensitivitas tipe 1 ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam
setelah terpapar antigen.

Beberapa reaksi yang timbul akan tergantung sistem organ mana yang terpengaruh. Beberapa
gangguan yang termasuk hipersensitivitas tipe ini adalah::

 Urtikaria atau biduran : yaitu ruam gatal pada kulit


 R HINITIS atau reaksi alergi : pada saluran pernapasan yang menyebabkan bersin,
hidung tersumbat atau berair, dan gatal.
 Asma :di mana terjadi penyempitan saluran napas, produksi lendir, dan peradangan
saluran pernapasan, sehingga mengakibatkan sesak napas.
 Anafilaksis adalah reaksi alergi yang berdampak pada seluruh tubuh dan dapat
menyebabkan kematian. Reaksi anafilaksis bisa meliputi kesulitan bernapas, tekanan
darah menurun drastis (syok), dan tenggorokan serta wajah membengkak sehingga
dapat berakibat fatal. Jika terjadi, penderita perlu segera mendapat pertolongan medis.

 Reaksi hipersensitivitas tipe 2

Tipe kedua dari reaksi hipersensitivitas biasa disebut reaksi hipersensitivitas sitotoksik, di
mana sel tubuh yang normal secara keliru dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh
sendiri. Reaksi ini melibatkan antibodi imunoglobulin G (IgG) atau imunoglobulin M
(IgM).

Contoh dari reaksi hipersensitivitas jenis ini adalah anemia hemolitik autoimun,
penolakan transplantasi organ, dan penyakit Hashimoto .

31
 Reaksi hipersensitivitas tipe 3

Reaksi hipersensitivitas jenis ini disebut juga penyakit kompleks imun. Yaitu ketika
antibodi dan antigen, atau unsur penyebab produksi antibodi, akan bergabung menjadi
suatu komponen dan beredar dalam darah atau jaringan tubuh. Kombinasi antara antibodi
dan antigen inilah yang disebut kompleks imun.

Kompleks imun kemudian memicu respons peradangan tubuh dan bisa terdeposit pada
pembuluh darah di berbagai organ. Jika tertanam pada ginjal, dapat
menyebabkan glomerulonefritis atau peradangan ginjal. Reaksi hipersensitivitas tipe 3
umumnya muncul 4-10 hari setelah tubuh terpajan antigen.

Contoh penyakit yang terjadi karena reaksi hipersensitivitas tipe 3 antara


lain lupus dan R HE U M A T OI D A RT HR I T I S .

 Reaksi hipersensitivitas tipe 4

Reaksi hipersensitivitas tipe 4 disebut sebagai reaksi hipersensitivitas tipe lambat, karena
reaksinya relatif lebih lama dibanding dengan reaksi hipersensitivitas tipe lain. Berbeda
dengan tipe hipersensitivitas lainnya yang mana antibodi berperan utama, dalam tipe ini,
sejenis sel darah putih yang disebut sel T berperan dalam menyebabkan reaksi alergi dan
gejala-gejala yang ada.

Contoh hipersensitivitas tipe 4 adalah dermatitis kontak dan berbagai bentuk reaksi
hipersensitivitas akibat obat-obatan.

Melihat banyaknya reaksi hipersensitivitas yang bisa terjadi, maka penanganan yang
dibutuhkan pun tergantung pada jenis reaksi yang diderita. Penanganan pada asma tentu
berbeda dengan penanganan pada biduran, atau pada reaksi hipersensitivitas jenis yang
lain. Untuk itu, konsultasikan kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan dan
pengobatan yang tepat. Jika diperlukan, dokter mungkin akan melakukan tes alergi untuk
mengidentifikasi faktor pemicu reaksi hipersensitivitas Anda, sehingga dapat dihindari.

2. Autoimunitas (hilangnya toleransi)

Adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. Normalnya,
sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus.

32
Namun, pada seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya melihat
sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga sistem kekebalan tubuh akan
melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Reaksi
sistem imun terhadap antigen jaringan sendiri. Antigen terebut disebut autoantigen sedangkan
antibodi yng dibentuk disebut autoantibodi.

Penyebab penyakit Imunitas

Belum diketahui apa penyebab penyakit autoimun, namun beberapa faktor di bawah ini
dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini:

 Etnis.

Beberapa penyakit autoimun umumnya menyerang etnis tertentu. Misalnya, diabetes


tipe 1 umumnya menimpa orang Eropa, sedangkan lupus rentan terjadi pada orang
Afrika-Amerika dan Amerika Latin.

 Gender

Wanita lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria. Biasanya penyakit
ini dimulai pada masa kehamilan.

 Lingkungan.

Paparan dari lingkungan, seperti cahaya matahari, bahan kimia, serta infeksi virus
dan bakteri, bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit autoimun dan
memperparah keadaannya.

 Riwayat keluarga.

Umumnya penyakit autoimun juga menyerang anggota keluarga yang lain. Meski
tidak selalu terserang penyakit autoimun yang sama, mereka rentan terkena penyakit
autoimun yang lain.

33
Gejala penyakit autoimunitas

Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya
memiliki gejala yang sama. Pada umumnya, gejala-gejala awal penyakit autoimun adalah:

 Kelelahan.
 Pegal otot.
 Ruam kulit.
 Demam ringan.
 Rambut rontok.
 Sulit berkonsentrasi.
 Kesemutan di tangan dan kaki.

Masing-masing penyakit autoimun memiliki gejala yang spesifik, misalnya sering merasa
haus, lemas, dan penurunan berat badan pada penderita diabetes tipe 1.

Beberapa contoh dari penyakit autoimun beserta gejalanya, adalah:

 Lupus

dapat memengaruhi hampir semua sistem organ dan menimbulkan gejala seperti demam,
nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, kejang,
nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan.

 Penyakit Graves

dapat mengakibatkan kehilangan berat badan, mata menonjol, gelisah, rambut rontok,
jantung berdebar.

 Psoriasis

kulit bersisik.

 M ULTIPLE SCLEROSIS

nyeri, lelah, otot tegang, gangguan penglihatan, dan kurangnya koordinasi tubuh.

34
 M YASTHENIA GRAVIS

kelelahan yang semakin parah seiring aktivitas yang dilakukan.

 Tiroiditis Hashimoto

kelelahan, depresi, sembelit, peningkatan berat badan, kulit kering, dan sensitif pada
udara dingin.

 Kolitis ulseratif dan Crohn’s disease

nyeri perut, diare, BAB berdarah, demam, dan penurunan berat badan.

 R EUMATOID ARTH RITIS

menimbulkan gejala nyeri sendi, radang sendi, dan pembengkakan.

 Sindrom Guillain-Barre

kelelahan sampai kelumpuhan.

Gejala penyakit autoimun dapat mengalami F L ARE , yaitu timbulnya gejala secara
tiba-tiba dengan derajat yang berat. F L A RE timbul karena dipicu oleh suatu hal,
misalnya paparan sinar matahari atau stres.

Diagnose penyakit autoimun

Tidak mudah bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit autoimun. Meski setiap penyakit
autoimun memiliki ciri khas, namun gejala yang muncul bisa sama. Dokter akan
menjalankan beberapa tes untuk mengetahui apakah seseorang terserang penyakit
autoimun, di antaranya dengan tes ANA ( AN T I NU CL E A R A NT I B O DY ) dan tes untuk
mengetahui peradangan yang mungkin ditimbulkan penyakit autoimun.

Pengobatan penyakit autoimun

Kebanyakan dari penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, namun gejala yang
timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak timbul FL A RE . Pengobatan untuk menangani
penyakit autoimun tergantung pada jenis penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan,

35
dan tingkat keparahannya. Untuk mengatasi nyeri, penderita bisa
mengkonsumsi aspirin atau ibuprofen.

Pasien juga bisa menjalani terapi pengganti hormon jika menderita penyakit autoimun
yang menghambat produksi hormon dalam tubuh. Misalnya, untuk penderita diabetes tipe
1, dibutuhkan suntikan insulin untuk mengatur kadar gula darah, atau bagi
penderita tiroiditis diberikan hormon tiroid.

Beberapa obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid digunakan untuk
membantu menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh.
Obat jenis anti TNF, seperti infliximab, dapat mencegah peradangan yang diakibatkan
penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis.

3. HIV/AIDS

Adalah sekumpulan gejala yang menyertai infeksi HIV disertai gejala infeksi yang oportunistik
yang diakibatkan adanya penurun kekebalan tubuh akibat kerusakan sistem imun.

4. Lupus

Lupus (systemic lupus erythematosus) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem
dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai adanya antibodi yang
menyerang tubuhnya sendiri. Penyakit lupus lebih sering ditemukan pada ras tertentu seperti ras
kulit hitam, cina, dan filipina.

Penyebab dan mekanisme terjadinya SLE masih belum diketahui dengan jelas. Namun diduga
mekanisme terjadinya penyakit ini melibatkan beberapa faktor meliputi, genetik, lingkungan, dan
sistem kekebalan humoral.

Gejala klinis dan perjalanan penyakit SLE sangat bervariasi. Penyakit dapat timbul mendadak
disertai tanda-tanda terkenanya berbagai sistem dalam tubuh. Munculnya penyakit dapat spontan
atau didahului faktor pemicu. Setiap serangan biasanya disertai gejala umum seperti demam,
badan lemah, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Infeksi juga lebih mudah terjadi
pada penderita SLE, sehingga penderita dianjurkan mendapat terapi pencegahan dengan
antibiotika bila akan menjalani operasi gigi, saluran kencing, atau tindakan lainnya. Sala satu
bagian dari pengobatan SLE yang tidak boleh terlupakan adalah memberikan penjelasan kepada

36
penderita mengenai penyakit yang dideritanya, sehingga penderita dapat bersikap positif terhadap
terapi yang akan dijalaninya.

37
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar Biologis yang dilakukan oleh sel dan
organ khusus pada suatu orgnisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benr, sistem ini akan
melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing
dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang,
sehingga meyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu dapat berkembang
dalam tubuh.

3.2 Saran

Setelah mengetahui teori dasar tentang imunologi, kita diharapkan mampu meningkatkan
atau mempertahankan kekebalan tubuh kita dengan menjalankan gaya hidup yang sehat agar
terhindar dari berbagai macam infeksi.

38
DAFTAR PUSTAKA

https://www.alodokter.com/seperti-apa-kondisi-hipersensitivitas

ditinjau oleh dr. Kevin Andrian

https://www.academia.edu/18550866/Dasar_Imunologi

https://www.alodokter.com/penyakit-autoimun

ditinjau oleh dr. Tjin Willy

https://www.academia.edu/29184857/Makalah_imunologi

https://www.academia.edu/11179007/MAKALAH_IMUNOGLOBULIN

39