Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fiqh Islam merupakan kumpulan hukum Islam yang berkenaan dengan amal perbuatan,
yang digali dari sumber/dalilnya secara terperinci. Dalil pokok yang merupakan sumber fiqh itu
adalah wahyu Tuhan. Satu-satunya pemilik dan penguasa hukum.
Pengertian wahyu sebagai satu-satunya sumber hukum, ialah bahwa dialah yang berhak
menetapkan adanya sumber lain yang dapat dijadikan dasar bagi hukum Islam, diantaranya
dinyatakan adalah: Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Sejarah pertumbuhan hukum Islam
memperlihatkan praktek tersebut sudah dilakukan sejak masa Nabi, Khulafaurrasyidin, Tabi’in
dan generasi ulama selanjutnya.
Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas disepakati oleh Ahlusunnah sebagai dalil secara prinsip,
walaupun berbeda dalam kadar penggunaannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sumber-sumber hukum Islam?
2. Bagaimana pengertian Al-Qur’an serta hukum apa saja kah yang terkandung didalamnya?
3. Bagaimana pengertian Sunnah/Hadits serta hukum syara’ apa sajakah yang ada
didalamnya?
4. Bagaimana pengertian Ijma’?
5. Bagaimana penegertian Qiyas?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sumber-sumber hukum Islam.
2. Untuk mengetahui pengertian Al-Qur’an serta hukum-hukum syara’ yang terkandung
didalamnya.
3. Untuk mengetahui pengertian sunnah serta hukum-hukum syara’ yang terkandung
didalamnya.
4. Untuk mengetahui pengertian Ijma’.
5. Untuk mengetahui pengertian Qiyas.

SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 1


BAB II

PEMBAHASAN

Hukum Islam sebagai hukum yang mengatur kehidupan manusia dalam pembentukannya
memiliki beberapa sumber, yaitu:

1. Al-Qur’an
a. Definisi Al-Qur’an

Secara etimologis, Al-Qur’an adalah bentuk mashdar dari kata qa-ra-a se-wazan dengan
kata fu’lan, artinya: bacaan; berbicara tentang apa yang tertulis padanya; atau melihat dan
menelaah. Dalam pengertian ini, kata ‫ قرآن‬berarti ‫مقرؤ‬, yaitu isim maf’ul (objek) dari ‫قرأ‬. Hal ini
sesuai dengan Firman Allah dalam surat al-Qiyamah (75): 17-18:

)17-18 :‫ فأذا قرأناه فاتبع قرأنه (القيامة‬.‫ان علينا جمعه وقرأنه‬

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan


(membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya, maka ikutilah
bacaannya i

Kata “Qur’an” digunakan dalam arti sebagai nama kitab suci yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW. Bila dilafazkan dengan menggunakan alif-lam berarti untuk keseluruhan
apa yang dimaksud dengan Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam surat al-isra’ (17): 9:

)9 :‫ان هذا القرأن يهدي للتي هي اقوم (االسراء‬

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.

Al-Qur’an disebut juga Al-Kitab sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah (2): 2:

)2 :‫ذلك الكتاب ال ريب فيه هدى للمتقين (البقرة‬

Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa.1

1
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, (Jakarta: KENCANA PRENADAMEDIA GROUP) hlm. 189-194.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 2
Al-Qur’an menurut istilah ialah Kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi
Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril dengan berbahasa arab, sebagai mu’jizat ditangan
Rasul SAW dan tertulis dalam lembaran-lembaran yang teriwayatkan secara mutawatir serta
menjadi ibadah bagi pembacanya.2

Arti Al-Qur’an secara terminologis juga ditemukan dalam beberapa rumusan definisi sebagai
berikut:

a) Menurut Syaltut, Al-Qur’an adalah: “Lafaz Arabi yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, dinukilkan kepada kita secara mutawatir”.
b) Al-Syaukani mengartikan Al-Qur’an dengan: “Kalam Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW., tertulis dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir”.
c) Definisi Al-Qur’an yang dikemukakan Abu Zahrah ialah: “Kitab yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad”.
d) Menurut Al-Sarkhisi, Al-Qur’an adalah: “Kitab yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW., ditulis dalam mushaf, diturunkan engan huruf yang tujuh yang
masyhur dan dinukilkan secara mutawatir”.
e) Al-Amidi memberikan definisi Al-Qur’an: “Al-Kitab adalah Al-Qur’an yang
diturunkan”.
f) Ibn Suki mendefinisikan Al-Qur’an: “Lafaz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW., mengandung mukjizat setiap suratnya, yang beribadah membacanya”.

Dengan menganalisis unsur-unsur setiap definisi diatas dan membandingkan antara satu
definisi dengan lainnya, dapat ditarik suatu rumusan mengenai definisi Al-Qur’an, yaitu: “Lafaz
berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang dinukilkan secara
mutawatir”.3

Al-Qur’an merupakan sendi fundamental dan rujukan pertama bagi semua dalil dan hukum
syari’at, merupakan Undang-Undang Dasar, sumber dari segala sumber dan dasar dari semua
dasar. Hal ini sudah merupakan kesepakatan seluruh Ulama Islam.

2
Abbadi Ishomuddin, Ushul Fiqh (Pengantar Teori Hukum Islam), (Pamekasan: STAIN Pamekasan Press) hlm. 15.
3
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, hlm. 195.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 3
b. Ciri Khas dan Keistimewaan Al-Qur’an

Dari definisi Al-qur’an tersebut diatas, jelaslah bahwa Al-Qur’an mempunyai cirri-ciri
khas dan keistimewaan sebagai berikut:

 Lafaz dan maknanya datang dari Allah dan disampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW melalui Malaikat Jibril dengan jalan wahyu Nabi tidak boleh mengubah baik
kalimat ataupun pengertiannyaselain dari menyampaikan seperti apa yang
diterimanya. Oleh karena itu tidak boleh meriwayatkan Al-Qur’an dengan makna;
dan dengan demikian maka Al-Qur’an berbeda dengan hadits baik hadits qudsy
maupun hadits Nabawwy, karena keduanya adalah merupakan ungkapan kalimat dari
Nabi dan merupakan perkataan Nabi yang diungkapkannya dari makna yang
diilhamkan Allah atau yang diwahyukan Allah kepadanya. Jadi dari segi ini tak
berbeda antara hadits Qudsy dan hadits Nabawy.
 Bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan lafaz dan gaya bahasa Arab, seperti yang
difirmankan Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 3:
...‫ان جعلناه قرأنا عربيا‬
Sesungguhnya Kami jadikan Al-Qur’an itu sebagai bacaan yang berbahasa Arab.
 Bahwa Al-Qur’an disampaikan/diterima melalui jalan tawatur yang menimbulkan
keyakinan dan kepastian tentaang kebenarannya. Dia dihafal dalam hati, dibukukan
dalam mushaf dan disebarluaskan ke seluruh negeri Islam bertubi-tubi, tanpa berbeda
dan diragukan didalamnya, baik ayat ataupun susunannya.4

Ulama sepakat bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar yang diberikan kepada Nabi
Muhammad SAW, ia adalah mu’jizat yag dapat disaksikan oleh seluruh umat manusia sepanjang
zaman, karena memang kerasulan Muhammad SAW adalah untuk keselamatan manusia
sepanjang masa. Diatas kemu’jizatan Al-Qur’an inilah kenabian Rasulullah SAW ditegakkan.
Sekalipun ada mu’jizat-mu’jizat lain selain Al-Qur’an, tapi semua itu hanya berlaku untuk suatu
waktu tertentu, keadaan tertentu bahkan ada yang khusus untuk suatu kasus tertentu.

4
Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, (Jakarta: Sinar Grafika), hlm. 10-
12.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 4
I’jaz itu tidak terlepas dari keistimewaannya sebagai Firman Allah, dimana lafal dan
maknanya kedua-duanya dari sisi Allah SWT. Lalu bentuknya berupa bahasa Arab diletakkan
kedalam hati Rasulullah SAW. Beliau hanya mengikuti apa yang disampaikan kepadanya dan
menyampaikannya.

Dengan kemu’jizatannya maka keberadaan Al-Qur’an sepanjang sejarah, dari dulu


sampai sekarang bahkan dimasa depanpun tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada satu
karyapun yang mampu menandinginya.

Kemu’jizatannya dilihat dari beberapa sisi yang sangat istimewa antara lain:

 Dari sisi bahasanya.


Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang tinggi, makna yang dalam dan
susunan kata yang amat mengagumkan. Ketinggian gaya bahasa yang dimiliki
Al-Qur’an ini banyak membuat kalangan Arab-yang terkenal ahili-ahli sastra
yang handal- terpukau dan hal ini pula yang sering membuat mereka menuduh
Nabi Muhammad SAW sebagai tukang sihir, yang menyihir mereka melalui
untaian kata-kata indah dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
Gaya bahasa Al-Qur’an bagai petir yang menyambar seluruh persendian
kejiwaan seseorang dan kehalusannya seperti awan lembut yang mengelus-elus
hati seseorang.
Allah SWT menjelaskan ketidakmungkinan manusia dapat menandinginya
meskipun dengan cara apapun seperti ditegaskan dalam Firman-Nya pada surat
al-Isra’ (17): 88:
‫قل لئن اجتمعت األنس والجن على ان يأتوا بمثل هذا القرأن ال يأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض‬
)88 :‫ظهيرا (األسراء‬
Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat
yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi
sebagian yang lain”.
 Dari sisi kandungan isinya.

SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 5


Al-Qur’an banyak mengandung berita-berita gentnag hal gaib, seperti syurga,
neraka, hari kiamat dan lain sebagainya. Berita-berita tentang kehidupan orang-orang
terdahulu yang validitasnya tidak diraguukan, Al-Qur’an bercerita tentang kisah para
rasul sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu tentang Nabi Adam sampai Nabi Isa
dan umat yang hidup pada masa para nabi itu. Al-Qur’an bercerita tentang Ashhabul
Kahfi dan lain sebagainya.

Disamping itu, kitab suci ini juga banyak memuat ayat-ayat tentang peristiwa
atau beberapa prediksi masa depan. Jumhur Ulama sepakat bahwa hal ini merupakan
salah satu keistimewaan Al-Qur’an. Berita dan janji-janji masa depan yang
terkandung Al-Qur’an adalah benar dan muncul dari kenyataan. Misalnya prediksi
kemenangan bangsa Romawi atas Persia dalam surat ar-Rum (30): 2-4.

Dari segi kandungannya mengenai pedoman hidup yang menuntun manusia


mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat; tentang halal dan haram,
tentang salah dan benar, tentang buruk dan baik; tentang yang boleh dilakukan dan
tidak boleh dilakukan dan tentang etika pergaulan.5

Banyak fakta ilmu pengetahuan yang dikabarkan Al-Qur’an sejalan benar


dengan penemuan-penemuan modern baik di bidang kejadian manusia maupun
pertumbuhannya (QS. Al-Mukminun (23): 12-14), ayat kauniyah tentang perjalanan
matahari dan berbagai fenomena alam seperti dalam surah Yasin (36): 38.6

c. Ibarat Al-Qur’an dalam Menetapkan Hukum Syara’.

Al-Qur’an bukanlah kitab undang-undang yang menggunakan ibarat tertentu dalam


menjelaskan hukum. Al-Qur’an adalah sumber hidayah yang didalmnya terkandung norma dan
kaidah yang dapat diformulasikan dalam bentuk hukum dan undang-undang.

Dalam menjelaskan hukum, Al-Qur’an menggunakan beberapa cara dan ibarat, yaitu
dalam bentuk tuntutan, baik tuntutan untuk berbuat yang disebut suruhan atau perintah, atau
tuntutan untuk meninggalkan yang disebut larangan.

5
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, hlm. 213-216.
6
Abbadi Ishomuddin, Ushul Fiqh (Pengantar Teori Hukum Islam), hlm. 17-19.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 6
Bentuk perintah dalam Al-Qur’an yang menunjukkan keharusan untuk berbuat seperti
keharusan melaksanakan sholat dengan perintah Allah dalam surat an-Nisa’ (4): 77:

‫اقيموا الصلوة‬

Laksanakanlah shalat.

Larangan menunjukkan keharusan meninggalkan perbuatan yang dilarang, seperti


larangan membunuh dalam Firman Allah:

‫وال تقتلوا النفس التي حرم هللا اال بالحق‬

Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak. (al-An’am
[6]: 151).

d. Hukum yang Terkandung dalam Al-Qur’an.

Secara garis besar hukum-hukum dalam Al-Qur’an dapat dibagi tiga macam:

1) Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akidah (keimanan) yang membicarakan


tentang hal-hal yang wajib diyakini, seperti masalah tauhid, masalah kenabian,
mengenai kitab-Nya, Malaikat, hari kemudian dan sebagainya yang berhubungan
dengan doktrin akidah.
2) Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akhlaq, yaitu hal-hal yang harus
dijadikan perhiasan diiri oleh setiap mukallaf berupa sifat-sifat keutamaan dan
menghindarkan diri dari hal-hal yang membawa kepada kehinaan (doktrin
akhlak).
3) Hukum-hukum amaliyah, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan
amal perbuatan mukallaf (doktrin syari’ah/fiqh). Hukum amaliyah terbagi kepada
dua bagian:
a) Hukum Ibadat, yaitu hukum yang diisyaratkan untuk mengatur hubungan
antara hamba dan Khaliqnya. Seperti shalat, puasa, zakat, dan lain
sebagainya.

SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 7


b) Hukum mu’amalat, yaitu hubungan antara sesame manusia, baik secara
pribadi maupun masyarakatnya.7
Hukum mu’amalah itu ada beberapa macam, yaitu:
 Hukum yang mengatur hubungan antara sesama manusia yang
menyangku kebutuhannya akan harta bagi keperluan hidupnya.
Bentuk hukum ini disebut “hukum mu’amalat dalam arti khusus”.
Contohnya seperti: jual beli, sewa menyewa dan lainnya.
 Hukum yang mengatur hubungan antara sesama manusia yang
berkaitan dengan kebutuhannya akan penyaluran nafsu syahwat
secara sah dan yang berkaitan dengan itu. Bentuk hukum ini
disebut “hukum munakahat”. Contohnya seperti: Kawin, cerai,
rujuk dan pengasuhan atas anak yang dilahirkan.
 Hukum yang mengatur hubungan antara sesama manusia yang
menyangkut perpindahan harta yang tersebab oleh karena adanya
kematian. Bentuk hukum ini disebut hukum “mawaris”
dan”wasiat”.
 Hukum yang mengatur hubungan antara sesama manusia denagn
manusia lainnya yang berkaita dengan usaha pencdgahan
terjadinya kejahatan atas harta, maupun kejahatan penyaluran
nafsu syahwat atau menyangkut kejahatan dan sanksi bagi
pelanggarnya. Bentuk hukum ini disebut hukum jinayah atau
pidana. Contohnya seperti: pencurian, pembunuhan dan lainnya.
 Hukum yang mengatur hubungan antara sesama manusia yang
berkaitan dengan usaha penyelesaian akibat tindak kejahatan di
pengadilan. Bentuk hukum ini disebut hukum “murafa’at” atau
hukum “qadha”, disebut juga “hukum acara”. Contohnya, seperti:
kesaksian, gugatan, dan pembuktian di pengadilan.
 Hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia
lain yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan

7
Ibid, hlm. 23-24.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 8
bernegara disebut hukum dusturiyah. Umpamanya tentang ulil
amri, khalifah, baitulmal, disebut juga hukum tata negara.
 Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya
dalam suatu negara dengan manusia di negara lain, dalam
keadaan damai dan keadaan perang. Bentu hukum ini disebut
:hukum antarnegara” atau “hukum dualiyah”, disebut juga
“hukum internasional”. Contohnya, seperti tentang tawanan,
ekstradisi, perjanjian, rampasan perang dan lainnya.

Demikianlah diantara bentuk-bentuk hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an.


Dengan demikian, jelas bahwa Al-Qur’an itu mengandung dasar-dasar hukum dari semua
bentuk hukum yang berkembang didunia. 8

2. Sunah/Hadits
a. Definisi Sunah

Kata “sunah” (‫ )سنة‬berasal dari kata ‫سن‬. Secara etimologis berarti: cara yang biasa
dilakukan, apakah cara itu sesuatu yang baik, atau buruk. Penggunaan kata sunah dalam arti ini
terlihat dalam Sabda Nabi:

.‫من سن سنة حسنة فله اجرها واجر من عمل بها ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزرمن عمل بها الى يوم القيامة‬

Siapa yang membuat sunah yang baik maka baginya pahala serta pahala orang yang
mengerjakannya dan siapa yang membuat sunah yang buruk, maka baginya siksaan orang yang
mengerjakannya sampai hari kiamat.

Sunah secara etimologi berarti ketepatan atau adat istiadat, yakni suatu hal yang biasa
dilakukan, baik tentang persoalan hukum, sosial maupun agama. Dapat diartikan pula sebagai
rintisan pada hal-hal yang baik maupun yang buruk.9

Dalam pengertian lain, Sunah secara etimologi berarti cara, gaya, jalan yang dilalui; dan
secara terminology adalah kumpulan apa yang telah diriwayatkan oleh Rasul dengan sanad yang

8
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, hlm. 24-25.
9
M. Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: AMZAH) hlm. 9.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 9
sahih, baik perkataan, perbuatan, sifat, ketetapan, dan segal pla kehidupannya. Hal ini seperti
sabda Rasulullah SAW., “Telah aku tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat
selama kamu berpegang kepadanya, yaitu kitabullah dan sunah Rasulnya (HR. Malik).10

Dalam Al-Qur’an terdapat kata “sunah” dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa
surat dengan arti “kebiasaan yang berlaku” dan “jalan yang diikuti”. Umpamanya dalam firman
Allah dalam surat Ali ‘Imran (3): 137:

‫قد خلت من قبلكم سنن فسيروا في األرض‬

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah., karena itu berjalanlah kamu
di muka bumi.

Kemudian dalam surat Al-Israa’ (17): 77:

‫سنة من قد ارسلنا قبلك من رسلنا والتجد لسنتنا تحويال‬

(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu sunah terhadap rasul-rasul Kami yang
Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan kami.

Para ulama Islam mengutip kata sunah dari Al-Qur’an dan bahasa Arab yang mereka
gunakan dalam artian khusus, yaitu: “cara yang biasa dilakukan dalam pengalaman agama”. Kata
sunah dalam periode awal Islam dikenal dalam artian seperti ini.

Sunah dalam istilah ulama ushul adalah: “apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi
Muhammad SAW, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun pengakuan dan Sifat Nabi”.
Sedangka Sunah dalam istilah ulama fiqh adalah: “sifat hukum bagi suatu perbuatan yang
dituntut melakukannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti” dengan pengertian diberi pahala
orang yang melakukannya dan tidak berdosa orang yang tidak melakukannya.

Kata “sunah” sering diidentikkan dengan kata “hadits”. Kata “hadits” ini sering
digunakan oleh ahli hadits dengan maksud yang sama dengan kata “sunah” menurut pengertian
yang digunakan kalangan ulama ushul.

10
Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA),
hlm. 34.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 10
Dikalangan ulama ada yang membedakan sunah dari hadits, terutama karena dari segi
etimologi kedua kata itu memang berbeda. Kata hadits lebih banyak mengarah kepada ucapan-
ucapan Nabi; sedangkan sunah lebih banyak mengarah kepada perbuatan dan tindakan nabi yang
sudah menjadi tradisi yang hidup dalam pengamalan agama.

Semua ulama Ahl al-sunnah baik dalam kelompok ahli fiqh, ulama ushul fiqh maupun ulama
hadits sepakat mengatakan bahwa kata sunah atau hadis itu hanya merujuk kepada dan berlaku
untuk Nabi dan tidak digunakan untuk selain dari Nabi. Alasannya adalah karena beliau
sendirilah yang dinyatakan sebagai manusia yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), dan
karenanya beliau sendiri lah yang merupakan sumber teladan, sehingga apa yang disunahkannya
mengikat seluruh umat Islam.11

Menurut pemakaian juristiknya, sunnah bermakna sesuatu yang berbeda. Bagi para ulama
ushul, sunnah merupakan sumber syari’ah dan dalil hukum setelah Al-Qur’an. Tetapi bagi para
ulama fiqh, istilah sunah terutama bermakna nilai syar’i yang masuk dalam kategori mandub.
Secara harfiyah hadits bermakna riwayat, pesan atau berisi cerita-cerita factual tentang suatu
kejadian.

Hadits berbeda dari sunnah, dalam pengertian bahwa hadits merupakan riwayat tentang
tingkah laku Nabi sementara sunnah adalah contoh atau hukum yang didedukasi darinya.hadits
meurut pegertian ini merupakan media atau pembawa sunnah, meskipun sunnah merupakan
konsep yang lebih luas dan dipakai dalam pengertian itu terutama sebelum pengertian
harfiyahnya memberi jalan kepada pemakaian juristiknya.12

b. Kedudukan Sunnah

Sebagaimana keadaannya Al-Qur’an, Sunah Nabi juga berkedudukan sebagai sumber


hukum atau ushul syar’iy dan juga sebagai dalil hukum syara’. Kedudukannya sebagai sumber
syara’ atau ushul syar’iy adalah karena Sunah Nabi itu mengandung norma hukum yang
kepadanya didasarkan hukum syara’ dan daripadanya digali, ditemukan dan dirumuskan hukum
syara’.

11
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, hlm. 226-228.
12
Muhammad Hasyim Kamali, Prinsip dan Teori-teori Hukum Islam (Ushul al-Fiqh), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar
bekerja sama dengan Circle For The Quran and Hummanity studies), hlm. 58.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 11
Kedudukannya sebagai dalil syara’ mengandung arti sunah itu disamping Al-Qur’an,
sunah Nabi juga memberi petunjuk kepada kita untuk mengetahui titah Allah yang bersifat azali
yang disebut hukm sya’;iy itu.

Sunnah adalah salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua—
setelah Al Qur’an—dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam arti jika suatu masalah atau kasus
terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar hukumnya dalam Al Qur’an, maka hakim ataupun
mujtahid harus kembali kepada hadits Nabi Muhammad SAW.

Dalam praktik keseharian, banyak sekali ditemukan masalah yang tidak dimuat didalam
Al Qur’an dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam hadits Nabi. Hal ini tak terlalu sulit
dipahami, sebab Al Qur’an adalah Kitab Allah yang hanya memuat ketentuan-ketentuan umum,
prinsip-prinsip dasar, dan garis-garis besar masalah. Sedangkan rinciannya dituangkan didalam
Sunnah Nabi. Dan memang harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan, Al Qur’an akan
menjadi setebal apa, karena ia harus memuat bermacam-macam masalah kecil dan parsial yang
tak ada batasnya.

Kemudian masalah yang dihadapi umat manusia tak pernah berhenti dan zaman
senantiasa berkembang. Masalah yang actual sepuluh tahun silam, belum tetu terdengar di zaman
ini. Sekiranya Al Qur’an memuat masalah-masalah kecil dan bersifat local, maka penyajiannya
akan terkesan kurang sejalan dengan roda perputaran zaman. Padahal Al Qur’an diturunkan
Allah SWT untuk menjadi pegangan umat manusia hingga akhir zaman, dan konsepnya
senantiasa relevan untuk setiap kurun waktu dan tempat. Oleh karena itu, Al Qur’an tidak
memuat cara pembuatan pesawat terbang, teknik merakit computer, rumus-rumus matematika,
sebab masalah-masalah sejenis ini bersifat temporer dan berkembang terus menerus sesuai
dengan tingkat kemajuan peradaban umat manusia tetapi, Al Qur’an cukup menginformasikan
masalah-masalah general yang bersifat mutlak dan tak mengalami perubahan. Al Qur’an juga
membrikan dorongan kuat untuk menggunakan akal pikiran manusia kearah yang bermanfaat.
Disinilah letaknya salah satu I’jaz Al Qur’an.

Masalah-masalah agama yang tidak dirinci Al Qur’an itu pada umumnya dapat
ditemukan didalam hadits Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan sholat, puasa, zakat, haji yang
merupakan rukun Islam, tidak dijelaskan rinciannya dalam Al Qur’an, tetapi dijabarkan secara
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 12
detail oleh Sunnah Nabi Muhammad SAW. Demikian pula aturan mu’amalat dan transaksi,
pelaksanaan hukum pidana, aturan moral, dan lainnya. Dari sini dapat ditangkap betapa
urgensinya hadits dalam kehidupan ber Islam ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa bagian
terbesar dari konsep Islam didapati di dalam Sunnah.13

Sudah terjadi kesepakatan di kalangan kaum muslimin bahwa Sunnah rasulullah yang
dimaksudkan sebagai undang-undang dan pedoman hidup umat manusia yang harus diikuti asal
saja sampainya kepada kita dengan sanad (sandaran) yang lebih shahih, sehingga memberikan
keyakinan yang pasti (mutawatir), atau dugaan yang kuat (Ahaad) bahwa memang benar datang
dari Rasulullah, adalah menjadi hujjah bagi kaum muslimin dan sebagai sumber hukum bagi para
mujtahid, untuk memetik hukum syara’.14

Kedudukan sunnah menurut urutan dalil syara’ berada pada posisi kedua setelah Al-
Qur’an. Kesimpulan ini didasarkan pada argumentasi baik berupa Sunnah dan atsar sahabat,
maupun logika.

Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Turmuzy, Darimy dan Baihaqy dari Mu’az bin
Jabal bahwa ketika ia akan diutus oleh Nabi ke Yaman, lebih dahulu dilakukan semacam tes
sebagai berikut: Rasulullah beertanya “Bagaimana anda berbuat jika kepada anda dimintakan
keputusan?” Mu’az menjawab “saya akan putuskan menurut Kitabullah” kemudian Rasul
bertanya “Jika anda tidak temui dalam Kitabullah?” kemudian Mu’az menjawab “Saya akan
putuskan menurut Sunnah Rasulullah” kemudian Raul bertanya kembali “jika juga anda tidak
temukan dalam Sunnah?” Mu’az menjawab “ Saya akan melakukan ijtihad birra’yi dan tidak
akan berhenti” Lalu Rasulullah menepuk dada Mu’az seraya berucap “Segala puji bagi Allah
yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah sesuai dengan yang diridhai Allah dan
Rasul-Nya”.15

c. Hukum-hukum Syara’ dalam Sunnah Nabi

Sunnah berdaya hukum sebagaimana disebutkan diatas secara garis besarnya


mengandung beberapa bidang sebagai berikut:

13
Daud Rasyid, Islam dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta: GEMA INSANI PRESS) hlm. 35-36.
14
Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya, hlm. 24.
15
Ibid, hlm. 30.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 13
a) Akidah
Bidang akidah ini dibatasi oleh Islam dalam hal perbedaan antara iman dan kafir,
yang berhubungan dengan Allah dan sifat-sifat-Nya, para rasul, wahyu, dan hari
kiamat. Sunnah tidak dapat menetapkan dasar ‘akidah karena akidah itu
menimbulkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan itu berarti keyakinan yang
pasti.
b) Akhlak
Dalam sunnah atau hadits banyak sekali disampaikan Nabi hikmah-hikmah, adab
sopan santun dalam pergaulan, nasihat-nasihat, baik secara langsung maupun
dalam bentuk pujian terhadap keadilan, kebenaran, menepati janji; atau celaan
terhadap perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan umat. Sunah tersebut
menuntut munculnya manusia sempurna yang juga dikehendaki oleh rasa dan
pandangan yang wajar.
Semua yang muncul dari sunnah dalam bentuk akhlak ini pada umumnya
mempunyai dasar dan rujukan dalam Al-Qur’an; sunah yang dating kemudian
hanya bersifat memperjelas atau merincinya.
c) Hukum-hukum Amaliyah
Hal ini berhubungan dengan penetapan bentuk-bentuk ibadat, pengaturan
mu’amalat antar manusia; memisahkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban;
menyelesaikan persengketaan diantara umat secara adil. Hukum-hukum yang
diperoleh dari sunnahdalam bentuk inilah, yang disebut Fiqh Sunnah; sedangkan
haditsnya sendiri disebut Hadits Ahkam. Hadits-hadits dalam bentuk inilah yang
dijadikan sumber hukum oleh para ahli fiqh sesudah Al-Quran. Dari situlah
mereka mengistinbathkan hukum dan mencari penjelasan tentang petunjuk-
petunjuk Al-Qur’an yang menyangkut hukum.16
3. Ijma’

Kata ijma’ secara bahasa berarti “kebulatan tekad terhadap suatu persoalan” atau
“kesepakatan tentang suatu masalah”. Secara bahasa juga ijma’ dapat berarti al-‘azm
(berketetapan hati untuk melakuakn sesuatu) dan al-tashmim (berketetapan hati untuk

16
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh 1, hlm. 254-255.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 14
mengambil keputusan).17 Menurut istilah Ushul Fiqh, seperti dikemukakan Abdul-Karim Zaidan,
adalah “kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Islam tentang hukum syara’ pada satu
masalah setelah Rasulullah SAW wafat”.18

Ijma’ adalah kata benda verbal (masdar) dari kata Arab ajma’a, yang mempunyai dua
makna; memutuskan, dan menyepakati sesuatu. Makna lain dari ajma’a adalah ‘kesepakatan
yang bulat’. Oleh karena itu, frase ajma’a al-qawmu ‘ala kadha bermakna ‘orang-orang
bersepakat bulat tentang begini-begini’. Makna kedua sering digabungkan dengan makna
pertama, dimana apabila ada kesepakatan bulat tentang sesuatu maka juga ada keputusan tentang
soal itu.

Ijma’ didefinisikan sebagai kesepakatan bulat mujtahid Muslim dari suatu periode setelah
wafatnya Nabi Muhammad tentang suatu masalah. Menurut definisi ini, rujukan kepada mujtahid
mengenyampingkan kesepakatan orang-orang awam dari lingkup ijma’. Demikian halnya,
dengan merujuk kepada mujtahid suatu periode berarti periode dimana ada sejumlah mujtahid
pada waktu terjadinya suatu peristiwa. Oleh karena itu, tidak diperhitungkan sebagai ijma’
apabila seorang mujtahid atau sejumlah mujtahid baru muncul setelah terjadinya peristiwa itu.19

4. Qiyas

Qiyas merupakan metode pertama yang dipegang para mujtahid untuk mengistinbathkan
hukum yang tidak diterangkan nash, sebagai metode yang terkuat dan paling jelas.

Pengertian qiyas menurut bahasa adalah mempersamakan, sedangkan menurut istilah


Ulama Ushul, qiyas adalah mempersamakan satu peristiwa hukum yang tidak ditentukan
hukumnya oleh nash, dengan peristiwa hukum yang ditentukan oleh nash bahwa ketentuan
hukumnya sama dengan hukum yang ditentukan nash.20

Qiyas berasal dari kata qasa, yaqisu, qaisan, artinya mengukur dan ukuran. Kata qiyas
diartikan ukuran, timbangan, dan lain sebagainya, atau pengukuran sesuatu dengan yang lainnya
atau penyamaan sesuatu dengan yang sejenisnya.

17
Muhammad Syukri Albani Nasution, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Rajawali Pers), hlm. 93.
18
Abbadi Ishomuddin, Ushul Fiqh (Pengantar Teori Hukum Islam), hlm. 49-50.
19
Muhammad Hasyim Kamali, Prinsip dan Teori-Teori Hukum Islam (Ushul Fiqh), hlm. 219.
20
Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam; Permasalahan dan Fleksibilitasnya, hlm. 82.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 15
Moh. Syukri Albani Nasution dalam tulisannya mendefinisikan qiyas adalah menetapkan
hukum suatu perbuatan yang belum ada ketentuannya berdasarkan sesuatu yang sudah ada
ketentuan hukumnya.21

21
Moh. Syukri Albani Nasution, Filsafat Hukum Islam, hlm. 102.
SUMBER DAN DASAR HUKUM ISLAM 16