Anda di halaman 1dari 10

I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI LOBUS PARIETAL

Lobus Parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di gyrus postsentralis

(area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran. Daerah anterior lobus parietalis

ditandai oleh sulkus sentralis, yang juga menunjukkan batas posterior lobus frontalis. Pada

bagian medialnya, lobus parietalis dipisahkan dari lobus oksipitalis oleh sulkus

parietooksipitalis. Pemisahan lobus parietalis dan oksipitalis pada konveksitas lateralis dapat

diperkirakan dengan menarik garis dari sulkus parietooksipitalis pada bagian medial ke

preoccipital notch (suatu indentasi sulkus yang kecil pada permukaan ventrolateral otak yang

juga perluasan lobus temporalis ke arah posterior). Kecuali daerah sepanjang ramus posterior

horizontal (RHP) fisura lateralis, sulit menentukan batas antara lobus parietalis dan

temporalis. Batas posteroinferior lobus parietalis pada permukaan lateral serebri dapat

diperkirakan dengan membuat garis khayal dari RHP fisura lateralis ke garis perpendikular

yang digambar ke arah atas dari preoccipital notch (Baehr, 2010).

Ada lima bagian penting pada lobus parietalis yaitu girus postsentralis, lobus

parietalis superior, lobus parietalis inferior, prekuneus, dan bagian posterior dari lobus

parasentralis. Girus postsentralis terletak antara sulkus sentralis dan sulkus postsentralis.

Lobus parietalis inferior terdiri dari dua bagian yaitu girus supramarginal dan girus angularis.

Prekuneus adalah bagian korteks yang terletak di anterior lobus oksipitalis pada medial

permukaan hemisfer.
Secara stuktural, lobus parietalis terdiri dari (Baehr, 2010) :

1. Korteks area sensorik primer (Area 3, 1 & 2)

Korteks area sensorik primer meliputi girus postsentralis dan meluas ke arah

anterior sampai mencapai dasar sulkus sentralis. Korteks area ini juga meluas sampai

meliputi sebagian dari permukaan medial hemisfer serebri. permukaan lateral

hemisfer terdapat daerah proyeksi untuk leher, bahu, lengan atas, lengan bawah,

pergelangan tangan dan akhirnya ibu jari tangan. Proyeksi daerah wajah tegak dan

juga relatif luas terutama daerah mulut dan bibir. Di sebelah inferior wajah terdapat

daerah proyeksi untuk gigi, lidah, dan faring. Daerah proyeksi untuk impuls daerah

intraabdominal terdapat di dalam pars operkularis korteks area somatosensorik

2. Korteks area asosiasi somatosensorik (Area 5 dan 7)

Korteks area asosiasi somatosensorik menempati lobulus parietalis superior

meluas sampai permukaan medial hemisfer. Area ini mempunyai hubungan dengan

area sensorik lainnya. Daerah ini menerima serabut talamokortikalis yang berasal dari

nukleus ventral posterolateralis talamus, dan memiliki hubungan dengan area 3, 1, dan

2 melalui seratasosiasi pendek. Datangnya impuls somatosensorik pada area

somatosensorik hanya memberi kesan adanya rangsangan raba atau gerakan, akan

tetapi perabaan suatu benda dengan mata tertutup belum dapat mengungkapkan

bentuk dan susunannya. Impuls ini perlu dihantarkan selanjutnya ke area asosiasi

somatosensorik untuk mengalami pengolahan, analisis dan korelasi lebih lanjut

sehingga individu bersangkutan dapat mengenal benda yang diletakkan di atas

tangannya tanpa melihatnya (Baehr, 2010)


Korteks somatosensorik terletak diantara lobus parietal dengan sulcus centralis

yang merupakan tempat pertama dimana terjadinya proses kortikal dan persepsi

untuk rangsangan somesthetic dan proprioseptif. Setiap bagian korteks

somatosensorik menerima rangsangan somesthetic dan proprioseptif dari area

yang spesifik di tubuh yang dinamakan dengan homunculus sensory.


3. Girus angularis dan supramarginalis (area 39 dan 40)

Impuls sensorik yang mencapai korteks serebri pada akhirnya akan mengalami

integrasi terakhir di dalam girus angularis (area 39) yang juga dikenal sebagai daerah

integrasi umum. Girus angularis terletak di daerah pertemuan antara lobus parietalis,

temporalis, dan oksipitalis. Girus ini menerima dan mengirimkan seratasosiasi dari

dan ke berbagai daerah korteks, termasuk girus supramarginalis. Daerah ideomotor

dan integrasi umum hampir selalu terletak pada hemisfer serebri kiri sesuai dengan

dominansi bagian otak tersebut. Girus supramarginalis juga mempunyai hubungan

dengan korteks sekitarnya melalui serat asosiasi yang banyak jumlahnya.

II. VASKULARISASI

A. Arteri Cerebral Anterior

Arteri Cerebral Anterior mensuplai 3/4 permukaan medial lobus frontalis,

termasuk permukaan orbita media, frontal, bagian atas permukaan lateral hemisfer

serebri dan 4/5 korpus kalosum. Percabangan bagian dalam berasal dekat sirkulus

willisi yaitu proksimal atau distal pada arteri communicating anterior, nukleus

kaudatus bagian anterior dan globus pallidus anterior. Oleh karena itu ACA dibagi

tiga cabang besar yaitu arteri lentikulostriata media, percabangan pericallosal ke

corpus kalosum dan percabangan ke hemisfer serebri.

Arteri cerebral anterior berasal dari ICA, dibagi atas 3 segmen yaitu:

1. A1 berasal dari arteri karotid interna ke anterior communicating artery

2. A2 berasal dari anterior communicating artery ke arteri callosal marginal

3. A3 berasal dari bagian distal arteri callosal marginal


Karakteristik klinis pada infark di daerah ACA meliputi defisit motorik dan

sensorik kontralateral dimana bagian lengan lebih ringan dibanding tungkai, deviasi

mata dan kepala kearah lesi, afasia motorik transkortikal, gangguan prilaku, disartria

(Ropper,2005).

B. Artery cerebral media (MCA)

Artery cerebral media adalah satu dari 3 pasang arteri terbesar yang mensuplai darah

ke otak. Artery cerebral media berasal dari arteri karotid interna yang merupakan arteri

terbesar dari 2 percabangan terminal utama yaitu MCA dan ACA dan berlanjut ke sulkus

lateralis dan memberi percabangan ke korteks serebri. Artery cerebral media mensuplai

sebagian besar permukaan lateral hemisfer, yaitu bagian superior lobus parietalis dan

bagian inferior lobus temporalis dan lobus oksipitalis, juga mensuplai kapsula interna

dan basal ganglia. Artery cerebral media dibagi atas 4 segmen yaitu

1. M1 dari asal kebifurkasio

2. M2 dari bifurkasio ke percabangan korteks

3. M3 percabangan opercular

4. M4 penggabungan cabang – cabang fissura sylvian pada permukaan

hemisfer lateral dari hemisfer serebri.

Karakteristik klinis yang didapati pada infark di daerah MCA meliputi: hemiplegia

kontralateral, hemianestesi dan hemianopsia homonim, deviasi kepala dan mata ke arah

lesi, afasia global dan anosognosia (Ropper, 2005).


III. FUNGSI LOBUS PARIETAL

Lobus parietal memiliki korteks somatosensorik, yang berfungsi menerima informasi

mengenai tekanan, sakit, sentuhan, dan temperature dari seluruh tubuh. Area dari korteks

somatosensorik yang menerima sinyal dari tangan dan wajah memiliki ukuran yang luar

biasa besar karna bagian tubuh ini scara khusus sensitive. (Wade C, 2013)

Pembagian fungsi lobus parietalis secara stuktural (Baehr,2010) :

1. Korteks area sensorik primer (Area 3, 1 & 2)

Area ini bertanggung jawab untuk persepsi nyeri dan suhu, sensasi somatik dan

proprioseptif secara sadar, terutama dari separuh tubuh dan wajah bagian

kontralateral.

2. Korteks area asosiasi somatosensorik (Area 5 dan 7)

Fungsi utama korteks ini adalah menerima dan mengintegrasikan modalitas

sensorik yang berlainan. Daerah ini menerima serabut talamokortikalis yang

berasal dari nukleus ventral posterolateralis talamus, dan memiliki hubungan

dengan area 3, 1, dan 2 melalui seratasosiasi pendek.

3. Girus angularis dan supramarginalis (area 39 dan 40)

Girus supramarginalis disebut area ideomotor yang bertugas untuk menentukan

serangkaian tindakan yang diperlukan sebagai reaksi dari informasi yang telah

dikoordinasi oleh girus angularis.

IV. KELAINAN GEJALA KLINIS PADA LOBUS PARIETALIS

Karena melayani fungsi yang beragam dan saling terkait, sehingga kerusakan pada

lobus parietalis dapat mengakibatkan berbagai gangguan. Ini termasuk kelainan melibatkan

sensasi somesthetic dan sakit, hubungan visual-spasial, aktivitas motorik temporal-


sequentual, bahasa, tata bahasa, perhitungan numerik, emosi, dan perhatian, tergantung pada

daerah yang mengalami luka (lesi) serta laterality dari kerusakan, yaitu :

1. Tidak mampu memberi nama pada obyek tertentu(Anomia).

2. Tidak mampu memberi perhatian pada lebih dari satu objek pada satu waktu.

3. Ketidak mampuan membaca (Alexia).

4. Kesulitan membedakan sisi kanan dan kiri.

5. Bermasalah dengan matematika (Dyscalculia)

6. Ketidakmampuan dalam koordinasi mata dan tangan.

Symptom-symptom lain yang juga terkait dengan lobus parietal adalah sebagai

berikut.:

Gejala somatosensori pada lesi di lobus parietalis.

Somatosensory symptoms terkait dengan kerusakan gyrus postcentral (area 1, 2, 3a,

dan 3b) dan korteks yang berdekatan (area PE dan PF):

• Somatosensory Thresholds. Kerusakan pada gyrus postcentral biasanya terkait

dengan perubahan batas somatosensori. Lesi pada postsentral gyrus menghasilkan

symptom yang disebut Afferent paresis, yaitu gerakan jari yang kikuk karena

seseorang kehilangan feedback yang diperlukan tentang posisi mereka dengan tepat

• Somatoperceptual Disorders. Gangguan somatoperceptual ini dapat mengalami

extinction yang paling sering dikaitkan dengan kerusakan pada korteks sekunder

somatik (daerah PE dan PF), terutama di daerah lobus parietalis.

• Blind Touch

Orang yang menderita blind touch dapat mengidentifikasi lokasi dari stimulus visual

meskipun kadang mereka menyangkal apa yang dilihatnya. Memiliki kerusakan besar
pada area PE, PF, dan beberapa dari PG, menghasilkan anestesi lengkap dari sisi

kanan tubuh yang begitu parah bahwa ia bertanggung jawab untuk memotong atau

membakar dirinya sendiri tanpa menyadari hal itu.

• Somatosensory Agnosia.

Ada 2 tipe yaitu Astereognosis yaitu ketidakmampuan untuk merekognisi secara

natural objek yang disentuhnya; Asomatognosia yaitu kehilangan kemampuan untuk

mengenali dirinya sendiri dan merasakan tubuhnya sendiri. Asomatognosia terbagi 4

yaitu anosognosia adalah ketidaksadaran atau menolak terhadap penyakit; anosodia

phoria adalah acuh tak acuh terhadap penyakit yang diderita; autotopagnosia adalah

ketidakmampuan untuk mengetahui lokasi dan nama-nama dalam tubuhnya;

asymbolia for pain yaitu kurangnya reaksi yang normal terhadap penyakit.

Gejala dari kerusakan lobus parietal:

• Balint’s Syndrome, suatu gangguang neuropsikologis yang jarang dan tidak difahami

secara utuh, utamanya terdiri dari ketidakmampuan untuk mempersepsi visual field

secara utuh (simultanogsia), kesulitan dalam fiksasi mata (ocular apraksia) dan

ketidakmampuan untuk memindahkan tangan pada sebuah objek yang spesifik (optik

ataksia) pertama kali ditemukan oleh seorang dokter Hungaria bernama Reszo Balint

pada tahun 1909.

• Collateral neglect dan symptom lain dari kerusakan lobus parietal kanan.

Perceptual disorder yang mengikuti kerusakan parietal kanan dideskripsikan oleh

John Hughlings- Jackson pada tahun 1874. Biasanya terdapat kerusakan pada visual,

auditori, dan stimulasi somaesthetic (somatosensory) pada sisi tubuh dan/atau ruang

yang berseberangan dengan lesion, yang diikuti dengan adanya penyangkalan

terhadap kekurangan yang dirasakan. Kesembuhan melewati dua tahapan. Tahap


pertama, allesthesia, dikarakteristikkan dengan individu mulai merespon stimulus

pada sisi yang rusak, tetapi merespon stimulus tersebut seakan-akan stimulus tersebut

berada pada sisi yang baik. Tahap kedua adalah simultaneous extinction: individu

merespon stimulus pada sisi yang rusak sampai sekarang ini kecuali kedua sisi

distimulasi secara bersamaan, dimana individu menyadari hanya stimulasi pada sisi

ipsilateral pada lesion. Symptom lain yang lazim dari lesion lobus parietal kanan telah

dijelaskan oleh Warringtondan koleganya, pasien dengan lesion parietal kanan sangat

buruk dalam mengenali objek yang tidak terlihat dari gambaran yang familiar,

walaupun mereka dapat mengenali objek-objek dengan gambaran yang familiar.

Warrington menyimpulkan bahwa kekurangan tidak dalam bentuk gestalt, atau

konsep, melainkan klasifikasi perceptual, mekanisme untuk mengkategorikan

informasi sebagai bagian dari konsep.

• Gerstmann syndrome dan symptom lain parietal kiri. Pada tahun 1924, Joseph

Gerstmann mendeskripsikan seorang pasien dengan symptom yang tidak biasa

mengikuti stroke parietal kiri: finger agnosia, pasien tidak mampu untuk mengenali

jari-jari pada tangan yang lain. Penemuan ini sangat menarik perhatian dan dalam

tahun-tahun berikutnya symptom lain dilaporkan terkait dengan finger agnosia,

termasuk right-left confusion, agraphia (ketidakmampuan untuk menulis) dan

acalculia (ketidakmampuan untuk menampilkan operasi matematika). Keempat

symptom ini secara bersama dikenal dengan Gerstmann syndrome.


DAFTAR PUSTAKA

Baehr, M., Frotscher, M. 2010. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology. 4th ed. Thieme: New

York. pp 350-53

Adam R.D., Victor M., Ropper A.H. 2005. Principles of Neurology.8th ed. McGraw Hill.

New York.

Wade, Carole, Travis Carol.2013 Psikologi 11th ed. Dominica university of California.

https://www.neuroskills.com/brain-injury/parietal-lobes.php diakses 3/03/2017 ; 16:35