Anda di halaman 1dari 4

Tema Kisah : Kisah pendampingan pengorganisasian dan advokasi sehingga unsur

unsur pemerintah dan masyarakat di kawasan memiliki satu langkah


gerak yang sama.
Penulis : Mumsikah Choyri Diyanah, STP (Pendamping Teknis, Kabupaten
Garut)
Judul Kisah : Stroberi Barudua Mencipta Kawasan

Latar Belakang
Stroberi hampir musnah, punah tak berbekas di Desa Barudua. Genap sembilan bulan
tanaman stroberi tak berbuah. Berbunga tapi kemudian layu sebelum berkembang. Hamparan
hijau yang terbentang pada polybag-polybag kecil seolah akan hanya tinggal dalam ingatan.
2016 menjadi tahun terkelam sejarah stroberi di Desa Barudua. Petani yang hari sebelumnya
masih memetik tiba-tiba pagi itu menemui stroberinya kering serta daunya memutih. Seperti
angin yang dalam sekejap melintasi.. Cara demi cara mereka coba, tahap demi tahap mereka
perbaharui, tapi rupanya stroberi masih saja mati. Tidak tahan dengan rugi, banyak dari
mereka mengundurkan diri. Kembali menapakan kaki pada nasib menjadi buruh atau angkat
kaki mengikuti arus urbanisasi.
Meskipun Desa Barudua sebelumnya pernah masuk ke dalam Desa terisolir dengan
kepadatan penduduk hanya sekitar 11,3/Ha. Nyatanya, Desa ini pernah berjaya. Bermula
ketika tahun 2000 Bapak Supardi menanam stroberi di Desa Barudua. Pada alamnya yang
menawan dan ketinggian 1086 mdpl yang memungkinkan, stroberi tumbuh tanpa henti.
Masyarakat yang tadinya apriori mulai mencoba bertanam memanfaatkan lahan, berganti
pekerjaan, pulang ke kampung halaman melihat keuntungan yang menggiurkan.
Holibert/Earlibrite nama varietas stroberinya, cukup manis untuk stroberi yang tumbuh
di iklim tropis. Lebih tebal dan kenyal dibandingkan sepupunya yaitu “Nyoho” ataupun
“Kalifornia/Festival”. Warnanya merah hati, bentuknya conic dengan ujung meruncing/rata,
rasa dan aromanya menggugah selera serta memiliki umur simpan 4-7 hari. Ketika stroberi
menjadi primadona, sekitar 200 Ha areal ditanami. Sekitar 18 ton per hari stroberi dapat
dipanen. Stroberi didistribusikan hingga ke Malang, Surabaya, Yogyakarta,
Purbalingga, Pontianak, Papua dan kota besar lainya hingga Negara Malaysia.
Barudua saat itu dikenal sebagai Desa Dolar, karena saking mudahnya meraup
untung. Tidak hanya Desa Barudua, Desa Karangmulya dan Desa Girimakmur yang satu
hamparan, ikut juga membudidaya stroberi. Tidak ketinggalan, Desa Cinagara dan Desa
Sanding ikut menikmati, menjadi buruh tani, tempat ekpedisi, distribusi dan juga home industri.
Kelima Desa tersebut saling bahu membahu dan membutuhkan. Maka pantaslah
disandangkan bahwa Kawasan Perdesaan, kerjasama antar desa terbentuk secara social
culture disana.
Pembentukan Kawasan Perdesaan
Apabila kawasan perdesaan umumnya memulai inisiasi pembentukan/regulasi
kawasan perdesaanya berangkat dari potensi, maka di Kawasan Barudua memulainya
dengan masalah. Pesimis ! sudah saja ganti dengan lokasi baru. Kira-kira seperti itu yang
sering tersampaikan dari berbagai pihak ketika tahun 2017 Pendamping Kawasan mulai
bertugas di Kabupaten Garut. Isunya telah santer terdengar, tertulis dalam surat kabar. Hama
virus telah menyerang, membuat stroberi kering kerontang. Berapa kali juga Pemerintah
Daerah menanyakan. Bisakah diganti dengan lokasi baru untuk wilayah dampingan.
Pengembangangan Agrowisata Barudua seolah menjadi beban. Lalu digadang-gadang lah
lokasi baru.
Saat pra tugas di awal pendampingan, keinginan perubahan lokasi disampaikan
kepadaDirjen Kawasan Perdesaan. Mereka memberi pilihan untuk melanjutkan fasilitasi
lokasi lama atau Kabupaten membuat surat pernyataan bahwa Kawasan lokasi lama akan
dihentikan pendampingannya dan diajukan Kawasan Perdesaan baru yang difasiltasi.
Pendamping Kawasan Kab.Garut kemudian menghadap Kasi Pengembangan
Pemasaran Usaha Ekonomi Desa Kabupaten Garut, Bapak ST Hanurwanto untuk
menyampaikan opsi yang diberikan oleh Dirjen Kawasan Perdesaan Kemendes. Namun
beliau menjawab dengan bijak "Kawasan Perdesaan Barudua itu telah lama difasilitasi dalam
sebuah perencanaan. Memang benar stroberinya di tahun 2016 gagal panen. Tetapi sekarang
mungkin ada yang sedang dilakukan. Bukanya bila begitu kita juga harus dukung dengan
pendampingan. Baiknya sekarang dilakukan survey dulu ke lokasi, berapa besar
kesempatannya dan bagaimana keadaan dilapangan. Kalau saya secara pribadi memilih
untuk dilanjutkan Kawasan Barudua”. Begitu beliau memaparkan.
observasi lapangan dilakukan. Ternyata benar saja, stroberi mulai bangkit kembali
disana walau bukan dari varietas istimewa seperti Holibert/Earlibrite. Setidaknya pada
pertengahan tahun 2017, 1-2 ton stroberi dipanen perharinya dari sekitar 2 Ha luas areal
penanaman. Namun Kepala Desa dan aparat yang kami temui cenderung apriori. Mereka
menyatakan telah banyak rencana program yang datang ke Desa Barudua dan Kawasan,
telah banyak pertemuan yang melibatkan masyarakat untuk menyokong rencana program,
namun pada kenyataanya semua itu kembali hanya sebagai rencana. Masyarakat mulai jenuh
dan sering bertanya-tanya tentang hasil dari semua rencana tersebut.
Pemerintah Daerah juga swasta telah datang pada kami dan meneliti. Namun tidak
pernah memberikan jawaban, mengapa stroberi kami tiba-tiba mati kering sebelum dipanen.
Tidak juga memberikan rekomedasi secara pasti, bagaimana sebaiknya kami menanam
kembali. Begitu Kades Barudua, Bapak Endang Yana menuturkan. Kami mencoba berkali-
kali dengan berbagai varietas stroberi. Hingga akhir 2016 stroberi kembali dapat dipanen
walaupun masih dengan kematian yang tinggi. Para petani yang tadinya menanam stroberi
kini belum semuanya kembali. Selain kurangnya modal karena Stroberi memerlukan dana
yang tidak sedikit, juga mereka masih trauma terhadap gagal panen yang pernah terjadi.
Begitu bapak Kades menambahkan dengan lunglai.
Apa yang disampaikan bapak Kades membuat kami banyak mencerna. Bahwa
Barudua seperti ayam emas yang kehilangan induknya. Desa terus menerus mencari tahu,
tetapi belum juga diberikan solusi rekomendasi. Desa mencari-cari pertolongan namun belum
ada yang benar-benar nyata mengulurkan tangan. Pembangunan Kawasan Perdesaan
adalah solusinya, karena kami bukan hanya mendampingi pengembangan potensi tetapi juga
penyelesaian masalah. Bersama empat Desa lainya kita berkolaborasi mencari solusi untuk
masalah stroberi juga sekaligus mengembangkan potensi lainya. Begitu kami menyampaikan.
Pada akhir sesi pertemuan wajah bapak Kades masih kuyu, namun matanya sedikit bersinar
walaupun banyak terdiam. Kami dari pendamping sampaikan pula bahwa nanti akan kembali
dilanjutkan fasiltasi kawasan perdesaan yang telah dilakukan di 2016, dengan berbagai
penajaman dan umpan balik serta relevansi dengan keadaan saat ini. Bapak Kades Barudua
pun mengangguk-angguk.
Tidak mudah mengobarkan spirit dan animo masyarakat serta Pemerintah Desa untuk
bangkit. Pendamping Kawasan berkeliling pada setiap Desa untuk meyakinkan. Akhirnya,
melalui partisipasi Desa dan masyarakat, berbagai musyawarah dilaksanakan hingga potensi
terdeskripsi, Perihal yang tadinya tidak tergali mulai membelalak, persoalan teranalisis,
rencana kegiatan terangkumkan. “Kita harus bangkit tidak sendiri, saling mendukung
membentuk aliansi, berkolaborasi dengan masing-masing proporsi ” Sekertaris Kecamatan
Malangbong, Bapak Asep Adjun ikut mengompori. Konsensus kerjasama disepakati, Bumdes
Bersama diinisiasi, sebagai lembaga ekonomi representasi kerjasama antar-Desa yang
mempunyai otoritas memiliki dan mengelola sumber daya publik (common pool resources).
Para Kepala Desa bergiliran menjadikan Desa dan Kantornya markas bersama. Desa
Barudua, Desa Girimakmur, Desa Sanding, Desa Karangmulya dan Desa Cinagara akhirnya
menyadari bahwa mereka ternyata saling menopang, membutuhkan dan berkaitan. Menjadi
kekuatan besar bila saling bersinergis menjadi Kawasan Perdesaan Agrowisata Barudua.
Proses meyakinkan kini bergeser ke lingkup Kabupaten, yang jauh lebih kompleks.
Tidak semua SKPD sependapat dengan proses kebangkitan Barudua, yang dianggap lambat
dan imposible. Berbagai ekspose, tulisan dan pertemuan dilakukan untuk memberi
kesempatan. Berkali-kali pendamping mendatangi setiap Dinas terkait untuk koordinasi,
mengajak untuk turun langsung melihat lokasi, menggugah, mengadvokasi betapa harapan
itu masih ada, betapa besar manfaat bila persoalan stroberi dapat diatasi bersama-sama.
Hingga di akhir tahun 2017, SK Lokasi Kawasan, SK TKPKP Kabupaten, SK TKPKP Kawasan
dan Perbup RPKP Kawasan Perdesaan Agrowisata Barudua telah terampungkan
Kerjasama Dengan Pihak Ketiga
Berganti bulan berganti tahun, area yang ditanami stroberi semakin luas tahun 2018
stroberi telah sampai pada angka 3-6 ton/hari dengan luas area mencapai 5-8 Ha.
Peningkatan penanaman stroberi ternyata tidak berafiliansi langsunng terhadap penanganan
hama stroberi. Persoalan hama yang menjangkit stroberi kawasan Barudua belum juga ada
habisnya. Presentasi gagal panen untuk varietas Holibert dan varietas Kalifornia masih pada
kisaran 40-80%. Sedangkan varietas Nyoho hampir 100% tidak terkena hama penyakit alias
sukses panen.
Namun stroberi Nyoho kini semakin berkurang produksinya. Para petani enggan
menanam dan mencabuti varietas ini. Varietas Nyoho yang bebas dari jangkitan hama
penyakit tidak menjadi jaminan diterima oleh pasar. Padahal secara fisik dan rasa varietas
Nyoho mempunyai warna merah terang, aroma harum dan rasa cukup manis. Tetapi buahnya
yang lebih mudah busuk (1-2 hari) membuat pasar kurang meminati stroberi jenis tersebut.
Petani yang selain masih trauma dengan gagal panen ditahun 2015 juga merasa tidak punya
pilihan, apakah tetap berusaha menanam stroberi yang diminati oleh pasar dengan modal
besar dan resiko yang besar atau berganti menjadi menanam sayuran atau kembali menjadi
buruh bangunan.
Persoalan pembenihan sebenarnya adalah langkah preventif awal untuk memotong
rantai terjadinya kembali hama penyakit pada tumbuhan. Di kawasan Barudua, antara
produksi/budidaya dengan pembenihan belum terpisah. Pembenihan banyaknya dilakukan
pada indukan stroberi yang dibudidayakan dan pada areal yang sama. Padahal untuk
pembenihan seharusnya diperlukan tempat dan iklim yang dikondisikan. Pembauran dengan
tanaman produksi dapat memudahkan penyebaran hama penyakit. Bantuan Benih
bersertifikat dari fenotif murni juga sangat diperlukan untuk menjamin kemurnian genetic.
Tidak cukup berfungsinya screen house dan Green House juga membuat proses nursery,
karantina dan pembudidayaan tidak bisa dilakukan maksimal
Bukan hal sulit sebenarnya untuk menjadikan Kawasan Barudua sebagai sentra
stroberi. Tanah yang masih terhampar luas, udara dan ketinggian serta kelembaban udara
yang sesuai dengan pertumbuhan stroberi masih sangat mumpuni. Memang harus dicari
solusi, apakah dengan pemulihan atau pemurnian kembali benih dari varietas unggulan
disana atau upaya kultur jaringan misalnya untuk membuat varietas nyoho mempunyai
ketahanan yang lebih ataukah mencari pasar yang bisa menampung stroberi varietas nyoho
bisa juga dengan mengupayakan bantuan dari pemerintah/CSR berupa benih
berkualitas/bersertifikat yang tahan hama atau alat dan pelatihan manajemen pengolahan
terhadap paska panen stroberi yang selain dapat memanfaatkan stroberi yang ditolak oleh
pasar juga memberi nilai tambah.
Pemetaan, zonasi, kluster, penggalian potensi dan gagasan yang difasilitasi dari
kegiatan pendampingan kawasan perdesaan sedikit banyak telah membuka mind set dan
memberi peluang kepada Desa. Bahwa bangkit dan bekerja sama dari kekuatan sendiri
adalah suatu keharusan bila ingin berhasil. Berkolaborasi menjadi jembatan kerjasama
dengan pihak ketiga, terhadap persoalan yang harus dicari solusi dan potensi yang
memerlukan pasar.
Kemitraan dengan PT Kinoichi Farm Supported by JICA Japan telah digagas sejak
2017. Kinoichi Farm memberikan tawaran kerjasama dan penelitian dari mulai pembibitan
hingga pengolahan pasca panen dan pemberdayaan. Tahun 2018 kerjasama tersebut sudah
mulai mendapat titik terang dari Kementan dan telah dilakukan kesepakatan dengan Bupati
Garut. Awal Agustus 2018, Pendamping kawasan diundang untuk melakukan presentasi
dalam FGD Pengambangan Stroberi di Dinas Holtikultur Prov.Jabar yang dihadiri oleh
Kinoichi Farm Suported By Jica, UNPAD, Dinas Pertanian, Dinas Karantina, DPMD dan
Kementerian Pertanian. Berdasarkan FGD tersebut, kegiatan akan dimulai pada Tahun 2019.
Tahun 2018 akan dipergunakan untuk persiapan perijinan karantina dan lain sebagainya
Sedangkan sejak awal bulan April 2018, pendamping telah melakukan komunikasi
dengan Direktur PT.Fruit.Ing dalam rangka penjajakan atas MOU yang sudah dilakukan
sebelumnya dengan Kab.Garut yang difasilitasi oleh Kemendes. Dalam komunikasi ini
disampaikan bahwa stroberi yang diinginkan oleh PT.Fruit.Ing adalah stroberi kualitas reject
yang tidak busuk dan dalam kondisi beku dikarenakan untuk dijadikan bubur buah. Kemudian
pendamping menawarkan stroberi jenis nyoho yang tumbuh baik di Kawasan Barudua tetapi
kurang diterima oleh pasar dikarenakan umur baiknya hanya berkisar 1-2 hari. Untuk
memberikan gambaran kemudian disusun Profil Prukades Stroberi dan lampiranya.
Kebutuhan dari Pt.Fruit.Ing adalah sekitar 20 ton perbulan untuk stroberi reject beku.
Berdasarkan pengamatan dilapangan dan hasil wawancara dengan petani dan pengepul
dalam satu bulan baru dapat dipenuhi sekitar 1-2 ton untuk stroberi nyoho dan reject. Namun
hal ini akan menjadi pemancing bagi petani untuk kembali menanam stroberi nyoho karena
akan ada yang menampung hasil produksi stroberi mereka. Selain itu, Pihak Desa dan
Bumdes Bersama siap menggerakan lagi petani untuk menanam varietas nyoho yang lebih
tahan terhadap hama.
Sejak bulan Juni 2018 komunikasi dengan Fruit.Ing pun lebih intens dibangun, kali ini
Pt.Fruit.Ing selain menginginkan stroberi reject juga membutuhkan stroberi grade A dan B
untuk proyek IQF (Individual Quick Frozen). Sample telah diberikan. Pihak Fruit.Ing merasa
cocok dengan varietas kalifornia yang kini lebih mudah didapat (karna nyoho semakin jarang
dan Holibert lebih rentan hama).
Persiapan terhadap draft Perjanjian Kerjasama terus ditempuh. Proses konsultasi
dengan Dinas PMD, Dinas Pertanian, Gapoktan, Pihak Desa dan Pengepul untuk
mendapatkan data produksi, kebutuhan, masalah dan lain sebagainya. Berbagai hambatan
untuk pengadaan ini seperti belum tersedianya cold storage untuk pembekuan stroberi,
tempat cuci, grading, pengupasan dan alat angkut (refrigerator container) serta alat penunjang
lainya tidak membuat Pelaku Kawasan dan Pendamping Gentar. Kerjasama dengan
pengepul lokal untuk tahap awal dengan menyewa freezer telah dikomunikasikan. Upaya
memohon bantuan dukungan alat kepada Pemerintah pun tidak berhenti dilakukan. Oktober
2018 Insya Allah merupakan babak baru untuk stroberi Barudua. Akan dimulai dengan
pengiriman 1 Ton stroberi beku grade A dan B ke PT.Fruit.Ing Gresik.
Meskipun Kawasan Perdesaan Agrowisata Barudua bukanlah lokasi Kawasan
Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) tetapi Kawasan Perdesaan Agrowisata Barudua juga
adalah bagian dari adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ingin
mensukseskan Nawacita Presiden yang ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran.
Mewujudkan tujuan Pembangunan Kawasan Perdesaan yaitu mempercepat dan
meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa
melalui pendekatan partisipatif.
Program Pembangunan Kawasan Perdesaan diharapkan menghadirkan Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, para pemangku kebijakan dan pihak ketiga di ranah Desa untuk
rempugan menyelesaikan persoalan terkait, memeratakan pembangunan mengurangi
ketimpangan dan arus urbanisasi. Berpegangan tangan menghalau ego, melipat lengan baju,
demi komitmen membangun negeri membawa dampak kesejahteraan, mempercepat
peningkatan ekonomi dan menjadikan kawasan perdesaan sebagai pusat pertumbuhan.
Sehingga mengembalikan kejayaan Stroberi Barudua yang bukan hanya dari segi pertanian
tetapi juga dari pariwisata dan seni budaya bukanlah hal yang muskil.