Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

REKAYASA GEMPA

‘’PERATURAN GEMPA SNI 2847 – 2013’’

Oleh

Jeprianto (21701051199)
M.Angga.Erfanto (21701051184)
Ade Pradana (21701051177)
Aidil Angga (21701051182)
Zen Makruf (21701051167)
M.Viqhu Ulum (21701051176)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2019
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................ i
KATA PENGANTAR .............................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka........................................................................ 3
BAB III LANDASAN TEORI
3.1 Umum...................................................................... …………. 5
a. Konsep Perencanaan Struktur Gedung Tahan Gempa……………6
b. Sistem rangka pemikul momen………………………….
c. Pembebanan struktur……………………………………
d. Beban gempa……………………………………………

DAFTAR PUSTAKA
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih
Atas kerja sama kelompok kami

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu segala
saran dan kritik guna perbaikan sangat kami nantikan. Semoga makalah ini dapat berguna
dan bermanfaat khususnya bagi penyusun dan para pembaca pada umumnya.

Malang ...............2019

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gempa adalah salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam mendesain
struktur suatu bangunan. Di Indonesia, bangunan didesain terhadap gempa
berdasarkan peraturan gempa yang berlaku dan terus diperbarui seiring berjalannya
waktu. Pembaruan peraturan tersebut (SNI-1726-2002 menjadi SNI 1726:2012)
menyebabkan meningkatnya beban gempa desain yang digunakan untuk
merencanakan suatu bangunan. Peta gempa mengalami perubahan secara signifikan
akibat pembaruan tersebut. Level gempa maksimum yang disyaratkan juga berubah
dari gempa periode ulang 500 tahun (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Permukiman, 2002) menjadi gempa periode ulang 2500 tahun (Badan Standardisasi
Nasional, 2012). Selain itu, faktor reduksi yang digunakan untuk beberapa jenis
struktur juga mengalami penurunan sehingga gaya gempa nominal yang disyaratkan
semakin besar. Selain peraturan gempa, peraturan persyaratan beton struktural untuk
bangunan gedung juga mengalami pembaruan. Sebagai contoh, persyaratan jarak
sengkang balok maksimum pada peraturan baru (SNI 2847:2013) lebih ketat dari
peraturan lama (RSNI-03-2847-2002). Oleh karena itu, bangunan lama perlu
dievaluasi berdasarkan peraturan baru.

Dalam perancangan struktur bangunan, perencana harus berpedoman pada


peraturan yang berlaku. Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Nomor
297 tahun 2013 oleh Badan Standardisasi Nasional tentang Penetapan Revisi 8 Standar
Nasional Indonesia maka perencana harus merancang bangunan sesuai dengan
peraturan yang telah ditetapkan. Beberapa peraturan yang direvisi yaitu SNI
1727:2013 mengenai Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan
Struktur lain dan SNI 2847:2013 mengenai Persyaratan Beton Struktural untuk
bangunan gedung.

Beban minimum yang diatur pada SNI 1727:2013 diantaranya adalah beban
gempa dan beban angin. Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik
besar yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Pertemuan 3 lempeng tektonik tersebut telah menyebabkan kejadian – kejadian gempa
bumi besar seperti yang telah terjadi di Aceh (2004), Nias (2005), Yogyakarta (2006)
sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar. Selain permasalahan gempa,
beban angin juga berpengaruh pada bangunan bertingkat tinggi. Oleh karena itu, perlu
dilakukan perancangan bangunan struktur gedung yang memenuhi persyaratan beban
minimum sesuai dengan peraturan yang berlaku agar struktur bangunan dapat
meminimalisasi jatuhnya korban jiwa
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

Sistem struktur dalam perancangan gedung juga menjadi pertimbangan, sistem


struktur hendaknya memiliki kriteria yang lazim untuk digunakan dan seperti yang telah
kita ketahui struktur harus mampu menahan beban-beban yang bekerja baik beban
vertikal dan gravitasi maupun beban lateral. Filososfi perancangan bangunan tahan
gempa diadopsi hampir seluruh negara di dunia mengikuti ketentuan berikut ini, pada:

a. Gempa kecil bangunan tidak boleh mengalami kerusakan,

b. Gempa menengah komponen struktural tidak boleh rusak, namun komponen non-
struktural diijinkan mengalami kerusakan,

c. Gempa kuat komponen struktural boleh mengalami kerusakan, namun bangunan


tidak boleh mengalami keruntuhan. (Daniel Rumbi Teruna, 2007)

Revisi peraturan baru bangunan tahan gempa di Indonesia dalam perancangan suatu
gedung beton setidaknya harus mengacu pada peraturan SNI 2847-2013, yaitu Tata
cara perencanaan struktur beton untuk bangunan gedung, dan SNI 03-1726-2012,
yaitu Tata cara perencanaan ketahana gempa untuk bangunan gedung dan non
gedung, sedangkan untuk bagian-bagian yang tidak ada dalam peraturan SNI 2847-
2013 dan SNI 03-1726-2012, selama belum terbit peraturan baru dapat
menggunakan referensi yang lain.
BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Umum

Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturan-


peraturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman
terhadap dari segala kemungkinan yang menjadikan gagalnya suatu sistem struktur
itu sendiri. Struktur bangunan dapat dirancang dengan mudah apabila beban-beban
yang bekerja pada bangunan bisa ditentukan dengan pasti. Kapasitas bangunan
dapat ditentukan sesuai dengan penggunan bangunan yang bersangkutan, sehingga
beban hidup dan beban mati dapat dihitung sesuai dengan kapasitas rencana.
Tetapi beban akibat bencana alam yang mempengaruhi bangunan seperti angin
dan gempa yang tidak dapat dengan pasti diidentifikasi sehingga dalam
perancangan bangunan harus diperhatikan agar struktur tidak runtuh pada saat
kondisi beban maksimal.
Kerusakan yang timbul akibat terjadinya gempa pada bangunan gedung,
terutama pada bangunan bertingkat banyak, pada hakekatnya dapat disebabkan
karena tidak memenuhinya persyaratan bangunan tersebut terhadap prinsip desain
bangunan tahan gempa, atau dapat juga karena kekuatan gempanya yang cukup
besar.
Pada bangunan bertingkat perlu dilakukan analisis pembebanan dan
mekanika gaya sebagai upaya untuk mendapatkan kondisi struktur yang kokoh dan
proporsional. Karena, pada bangunan bertingkat akan bekerja berbagai macam
gaya. Gaya yang ditimbulkan oleh beban bangunan itu sendiri dan beban luar
meliputi perlengkapan bangunan menyebabkan adanya gaya vertikal, gaya ini
diperlukan untuk mendimensi elemen struktur.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia Departemen Pekerjaan Umum,
Syarat-syarat perencanaan struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan tidak
berlaku untuk bangunan sebagai berikut :
1). Gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau masih memerlukan
pembuktian tentang kelayakannya.
2). Gedung dengan sistem isolasi landasan (base isolation) untuk menahan
pengaruh gempa terhadap struktur atas.
3). Bangunan Teknik Sipil seperti jembatan, bangunan air, dinding dan
dermaga pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non gedung lainnya.
4). Rumah tinggal satu tingkat dan bangunan gedung-gedung non teknis lainnya.

A. Konsep Perencanaan Struktur Gedung Tahan Gempa

1. Pengertian daktilitas
Daktilitas ( ductility ) adalah perbandingan antara simpangan maksimum
sebelum bahan runtuh dengan simpangan pada saat leleh awal. Bahan atau
struktur yang bersifat elastis murni, biasanya dikatakan bahan getas, artinya jika
terjadi leleh bahan langsung patah, sedangkan untuk bahan yang bersifat elasto-
plastis, berarti bahan tersebut adalah liat atau disebut daktail. (Asroni, 2003).
Menurut Standar Nasional Indonesia Departemen Pekerjaan Umum, 2002 SNI-
1726-2002, Daktilitas adalah kemampuan suatu struktur gedung untuk
mengalami simpangan pasca-elastik yang besar secara berulang kali dan bolak-
balik akibat beban gempa di atas beban gempa yang menyebabkan terjadinya
pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup,
sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri, walaupun sudah berada dalam
kondisi di ambang keruntuhan.

2. Perencanaan Sendi Plastis


Pada perencanaan gedung dengan sistem daktail, diupayakan agar kolom
lebih kuat dari pada baloknya. Dengan demikian jika, terjadi gempa yang lebih
besar dari pada gempa rencana, maka balok akan patah lebih dulu (sehingga
terjadi sendi plastis), tetapi gedung yang bersangkutan masih berdiri (tidak
runtuh). Selanjutnya setelah semua ujung-ujung balok terjadi sendi plastis,
barulah gedung tersebut runtuh. (Asroni, 2003).
Menurut SNI-2847-2013, daerah sendi plastis adalah panjang elemen
rangka dimana pelelehan lentur diharapkan terjadi akibat perpindahan desain
gempa. Ketika terjadi gempa, struktur akan menerima beban siklik dan pada
daerah-daerah yang mempunyai momen terbesar (umumnya diujung balok)
regangan tarik baja tulangan akan berganti-ganti untuk momen negatif pada tepi
atas dan positif pada tepi bawah. Apabila regangan tarik baja sudah leleh, maka
beton akan mulai rusak retak. Kerusakan tersebut didesain terjadi pada sendi
plastis. Pada daerah sendi plastis, tulangan harus di ditail sedemikian sehingga
perilakunya benar-benar daktail atau liat.

Sendi Plastis

Gambar II.1.Sendi Plastis pada Struktur Gedung

Pada Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) dengan daktalitas tertentu,


sendi plastis dipasang pada balok dan kolom. Mekanisme pembentukan sendi
plastis juga harus diperhatikan agar struktur mampu berperilaku daktail seperti
yang direncanakan. Berikut ini adalah ketentuan untuk pemasangan sendi plastis
pada balok dan kolom.
 Sendi plastis balok. Untuk balok, sendi plastis dipasang pada ujung kanan dan
ujung kiri dengan jarak 2h dari kolom, dimana h adalah tinggi penampang
balok.
 Sendi plasstis kolom. Untuk kolom, sendi plastis hanya boleh dipasang pada
ujung bawah kolom lantai paling bawah. Lokasi sendi plastis kolom dipasang
pada jarak Io dari ujung bawah kaki kolom.
Pemasangan sendi plastis dapat dilihat pada Gambar II.2.

2h
2h

l0

Gambar II.2. Sendi plastis pada balok (a) dan kolom (b)

B.Sistem Rangka Pemikul Momen

Menurut SNI 1726:2012, SRPM adalah sistem struktur yang pada dasarnya
memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap, dan beban
lateralnya dipikul oleh rangka tersebut melalui mekanisme lentur. SRPM dibagi
menjadi 3 macam,diantaranya adalah :
1). Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB).
2).Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM).
3). Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK).

C. Pembebanan Struktur

1. Kekuatan komponen struktur


Struktur dan komponen struktur harus didesain agar mempunyai kekuatan
desain di semua penampang paling sedikit sama dengan kekuatan perlu yang
dihitung untuk beban dan gaya terfaktor dalam kombinasi sedemikian rupa seperti
ditetapkan dalam SNI 2847-2013.
2. Kekuatan Perlu
Kekuatan perlu U harus paling tidak sama dengan pengaruh beban terfaktor
dalam kombinasi pembebanan berikut:
1). U = 1,4.D (II.1a)

2). U = 1,2.D + 1,6.L + 0,5.(Lr atau R) (II.1b)

3). U = 1,2.D + 1,6.(Lr atau R) + (1,0.L atau 0,5.W) (II.1c)

4). U = 1,2.D + 1,0.W + 1,0.L + 0,5.(Lr atau R) (II.1d)

5). U = 1,2.D + 1,0.E + 1,0.L (II.1e)

6). U = 0,9.D + 1,0.W (II.1f)

7). U = 0,9.D + 1,0.E (II.1g)

3. Faktor Reduksi Kekuatan (ϕ)


Kekuatan desain yang disediakan oleh suatu komponen struktur,
sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan
dengan lentur, beban normal, geser, dan torsi, harus diambil sebesar kekuatan
nominal dihitung sesuai dengan persyaratan dan asumsi dari SNI 2847-2013, yang
dikalikan dengan faktor reduksi kekuatan ϕ dalam Pasal 9.3.2.1, Pasal 9.3.2.2, dan
Pasal 9.3.2.3, 9.3.2.4, sebagai berikut:
1). ϕ = 0,90 untuk beban lentur tanpa gaya aksial (II.2a)

2). ϕ = 0,75 untuk struktur dengan tulangan spiral (II.2b)

3). ϕ = 0,65 untuk struktur dengan komponen lainnya (II.2c)

4). ϕ = 0,75 untuk gaya geser dan torsi (II.2d)

5). ϕ = 0,65 untuk tumpuan pada beton (II.2e)


D. Beban Gempa

1. Umum
Beban gempa adalah beban yang berasal dari pergerakan tanah sebagai
pijakan gedung. Beban gempa harus diperhitungkan di dalam perencanaan
gedung terutama di Negara Indonesia yang mana merupakan wilayah yang
sering terjadi gempa.

Perhitungan beban gempa bisa dilakukan dengan metode statik ekivalen


atau analisis dinamis. Perhitungan beban gempa menggunakan analisis dinamis
cenderung lebih rumit dibandingkan menggunakan metode statik ekivalen. Pada
perhitungan dengan analisis dinamis, metode yang dipakai adalah respon
spektrum dan analisis riwayat waktu (Time History Analysis).

2 .Beban mati
Menurut BSN (2013), beban mati merupakan berat seluruh bahan konstruksi
bangunan gedung yang terpasang, termasuk lantai, plafon, dinding, atap, tangga,
dinding partisi tetap, finishing, klading gedung dan komponen arsitektural dan
struktural lainnya serta peralatan layan terpasang lain termasuk berat keran.
Kemudian harus digunakan berat bahan dan konstruksi yang sebenarnya dalam
penentuan beban mati untuk perancangan, dan jika tidak ada informasi yang jelas
mengenai hal tersebut

3.Beban hidup

Beban hidup merupakan beban yang berasal dari penggunaan bangunan


gedung seperti aktivitas manusia, kendaraan, maupun barang-barang yang dapat
berpindah-pindah selama masa operasional bangunan. Menurut BSN (2013), beban
hidup merupakan beban yang ditimbulkan oleh penghuni dan pengguna bangunan
gedung atau struktur lain yang tidak termasuk beban lingkungan dan beban
konstruksi seperti beban gempa, beban banjir, beban hujan, beban angin dan beban
mati. Beban hidup yang digunakan dalam perancangan struktur gedung dan struktur
lain merupakan beban maksimum yang diharapkan terjadi akibat
4.Beban angin

Berdasarkan BSN (2013), bangunan gedung dan struktur lain termasuk


kedalam Sistem Penahan Beban Angin Utama (SPBAU) dan seluruh komponen
gedung harus dilaksanakan dan dirancang agar dapat menahan beban angin yang
ditetapkan menurut BSN (2013) Pasal 26 sampai Pasal 31.
Menurut BSN (2013), beban angin merupakan semua beban yang bekerja pada
gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.
Penentuan beban angin ditentukan dengan mengganggap adanya tekanan positif dan
tekanan negatif (isapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang – bidang yang
ditinjau.

5.Beban tanah dan tekanan hidrostatis

Menurut BSN (2013), tekanan lateral tanah yang bekerja pada struktur pada
bagian samping tanah harus diperhatikan pada saat perancangan.. Jika beban tanah
dalam laporan penyelidikan tanah yang disetujui oleh pihak yang berwenang tidak
ada maka beban tanah yang diberikan

E .Analisis Pembetonan Struktur Portal

Menurut BSN (2013), syarat minimum yang digunakan untuk desain dan
konstruksi komponen struktur menurut persyaratan peraturan bangunan gedung
secara umum yang diadopsi secara ilegal, dan untuk beton struktur kuat tekan beton
nya tidak boleh kurang dari 17 MPa. Kekuatan beton yang digunakan dalam desain
dan dievaluasi sesuai dengan persyaratan, beton yang dirancang sedemikian hingga
menghasilkan kekuatan tekan rata – rata f’cr seperti yang dijelaskan pada pasal 5.3.2
tentang kekuatan rata – rata perlu. Untuk kekuatan rata-rata perlu dapat dilihat pada
Tabel 2.10 berikut.

Kekuatan tekan Kekuatan tekan rata-


disyaratkan (Mpa) rata perlu (MPa)
f’c > 35 f’cr = 1,10 f’c + 5,0

21 ≤ f’c ≤35 f’cr = f’c + 8,3

f’c<21 f’cr = f’c + 7,0

Kesimpulan

Selain peraturan gempa, peraturan persyaratan beton struktural untuk bangunan


gedung juga mengalami pembaruan. Sebagai contoh, persyaratan jarak sengkang
balok maksimum pada peraturan baru (SNI 2847:2013) lebih ketat dari peraturan lama
(RSNI-03-2847-2002). Oleh karena itu, bangunan lama perlu dievaluasi berdasarkan
peraturan baru.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional. 2013. “Persyaratan beton struktural untuk


bangunan gedung, SNI 2847:2013”. Jakarta: BSN
Badan Standarisasi Nasional. 2002. ”Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI 03-1726-2002
“. Bandung: BSN
Badan Standarisasi Nasional. 2013. ”Beban minimum untuk perencanaan
bangunan gedung dan struktur lain, SNI 1727:2013 “. Jakarta: BSN