Anda di halaman 1dari 4

Tugas : Kelompok 22

Tingkat : Akbid 2.C

Mata Kuliah : Askeb Persalinan dan BBL

Dosen pengampu : Darmiati, S.ST., M.Kes., M.Keb

RETENSI PLASENTA

Oleh:

Selvina.D /318,162

Sinda arrang langi /318,163

YAYASAN WAHANA BHAKTI HUSADA

AKADEMI KEBIDANAN PELAMONIA

MAKASSAR

2019
A. Retensi plasenta adalah kondisi ketika plasenta atau ari-ari tertahan di dalam rahim. Kondisi ini sangat
berbahaya, serta dapat menyebabkan infeksi dan perdarahan pascamelahirkan yang mengakibatkan
kematian.

Persalinan terbagi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, ibu hamil akan mengalami kontraksi, yang
memicu pembukaan pada leher rahim. Kemudian, ibu hamil memasuki tahap kedua atau proses
persalinan. Pada tahap ini, ibu mulai mendorong bayi keluar. Setelah bayi lahir, plasenta akan keluar
beberapa menit setelah bayi dilahirkan. Proses keluarnya plasenta ini adalah tahap ketiga atau tahap
terakhir. Umumnya persalinan normal akan melalui 3 tahapan tersebut. Akan tetapi pada ibu dengan
retensi plasenta, plasenta tidak keluar dari dalam rahim bahkan hingga lewat dari 30 menit.

Plasenta adalah organ yang terbentuk di dalam rahim ketika masa kehamilan dimulai. Organ ini berfungsi
sebagai penyedia nutrisi dan oksigen untuk janin, serta membuang limbah sisa metabolisme dari darah.

B. Gejala Retensi Plasenta

Tertahannya sebagian atau seluruh plasenta di dalam tubuh hingga satu jam setelah proses persalinan
usai, merupakan gejala utama retensi plasenta. Bila plasenta masih tertinggal di dalam rahim, gejala lain
akan muncul sehari setelah persalinan, yaitu berupa:

a. Perdarahan hebat.

b. Nyeri yang berlangsung lama.

c. Demam.

d. Keluar cairan dan jaringan berbau tidak sedap dari vagina.

C. Penyebab Retensi Plasenta

Berdasarkan penyebabnya, retensi plasenta dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Placenta adherens. Placenta adherens terjadi ketika rahim tidak cukup kuat berkontraksi dan
mengeluarkan plasenta. Kondisi ini disebabkan perlekatan sebagian atau seluruh plasenta pada dinding
rahim. Placenta adherens adalah jenis retensi plasenta yang paling umum terjadi.

b. Plasenta akreta. Plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim.
Umumnya kondisi ini disebabkan oleh kelainan pada lapisan rahim, akibat menjalani operasi caesar atau
operasi rahim.

c. Trapped placenta. Trapped placenta adalah kondisi ketika plasenta sudah terlepas dari dinding rahim,
tetapi belum keluar dari rahim. Kondisi ini terjadi akibat menutupnya leher rahim (serviks) sebelum
plasenta keluar.

D. Faktor Risiko Retensi Plasenta

Retensi plasenta lebih berisiko dialami oleh ibu dengan beberapa faktor berikut:
a. Hamil saat berusia di atas 30 tahun.

b. Melahirkan di bawah usia kehamilan 34 minggu (kelahiran prematur).

c. Mengalami proses persalinan kala 1 atau kala 2 yang terlalu lama.

d. Persalinan dengan janin mati dalam kandungan.

E. Diagnosis Retensi Plasenta

Bidan akan memeriksa plasenta yang keluar dari rahim, untuk memastikan plasenta telah keluar
sepenuhnya. Walaupun demikian, tetap berisiko ada bagian plasenta yang tertinggal di dalam rahim.
Pada kondisi ini, pasien akan menunjukkan gejala seperti yang telah dijelaskan di atas. Bila diperlukan,
dokter akan menjalankan pemeriksaan USG panggul untuk melihat kondisi rahim.

F. Komplikasi Retensi Plasenta

Retensi plasenta menyebabkan pembuluh darah yang melekat pada plasenta terus mengalirkan darah.
Selain itu, rahim tidak dapat menutup sempurna, sehingga tidak bisa menghentikan perdarahan. Bila
plasenta tidak keluar hingga 30 menit setelah persalinan, akan terjadi perdarahan yang signifikan dan
dapat mengancam nyawa pasien.

G. Pengobatan Retensi Plasenta

Penanganan retensi plasenta bertujuan untuk mengeluarkan plasenta dari dalam rahim, menggunakan
sejumlah metode antara lain:

a. Mengeluarkan plasenta dari rahim menggunakan tangan. Prosedur ini harus dilakukan dengan hati-
hati, karena dapat meningkatkan risiko infeksi.

b. Menggunakan obat-obatan. Beberapa obat bentuk suntik seperti ergometerine atau oksitosin, dapat
digunakan untuk membuat rahim berkontraksi, sehingga bisa mengeluarkan plasenta.

Selain dua metode di atas, bidan akan menyarankan pasien untuk sering berkemih. Hal ini karena
kandung kemih yang penuh dapat mencegah keluarnya plasenta.

Bidan juga akan menyarankan pasien agar segera menyusui, untuk memicu pelepasan hormon yang
dapat meningkatkan kontraksi rahim dan membantu plasenta keluar.

Bila semua metode di atas tidak berhasil mengeluarkan plasenta dari rahim, dokter akan menjalankan
prosedur bedah. Langkah ini merupakan pilihan terakhir.

H. Pencegahan Retensi Plasenta

Sebagai tindakan antisipasi, bidan akan merekomendasikan langkah pencegahan selama tahap atau kala
3 persalinan, seperti:
a. Pemberian obat-obatan seperti oksitosin, untuk merangsang kontraksi rahim dan mengeluarkan
plasenta.

b. Menjalankan prosedur controlled cord traction (CCT) setelah plasenta terlepas dari rahim. Dokter akan
menjepit kemudian menarik tali pusar bayi sambil menekan perut ibu.

c. Melakukan pijatan ringan di area rahim sesudah bayi lahir, untuk mengembalikan ukuran rahim,
merangsang kontraksi, dan membantu menghentikan perdarahan.