Anda di halaman 1dari 14

I.

Judul Percobaan : Titrasi Asam dan Basa

II. Hari, Tanggal : 27 Oktober 2015

III. Tujuan Percobaan :

1. Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku asam oksalat


2. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH

IV. Dasar Teori :

Penetralan adalah reaksi dari asam dan basa. Titrasi adalah teknik
yang biasa digunakan untuk penetralan. Titik kritis titrasi adalah titik ekivalen,
suatu titik dimana asam dan basa berada bersama sama dalam proporsi
stoikiometri, tanpa sisa. Perubahan warna indikator asam basa biasa digunakan
untuk menetapkan titik ekivalen. Titik pada titrasi dimana indikator indikator
berubah warna dinamakan titik akhir dari indikator, yang didapat dengan cara
menyesuaikan titik akhir indikator dengan ekivalen pada penetralan. Sehingga,
kita memerlukan suatu indikator yang perubahan warnanya terjadi dalam rentang
pH yang meliputi pH sesuai dengan titik ekivalen. Semua nilai-nilai yang
didapatkan digambarkan dalam kurva titasi untuk reaksi penetralan.

Asam dalam air akan menghasilkan ion H+ dan basa dalam air akan
menghasikan OH¯. Reaksi penetralan adalah reaksi antarasebuah ion H+ dan ion
OH¯ membentuk suatu molekul H2O, dan sifat kedua larutan hilang. Secara
molekuler, reaksi penetralan asam-basa menghasilkan garam dan air.

Dalam percobaan titrasi, suatu larutan yang konsentrasinya diketahui


secara pasti, disebuat sebagai larutan standart (standart solution), ditambahkan
secara bertahap ke larutan lain yang konsentrasinya tidak diketahui, sampai reaksi
kimia antara kedua larutan tersebut berlangsung sempurna. Jika diketahui
voulume larutan standar dan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya yang
digunakan dalam titrasi maka dapat dihitung konsentrasi larutan yang tidk
diketahui itu.
Hal-hal penting dalam titrasi :

1. Titik ekivalen

Titik ekivalen adalah saat jumlah mol H+ sama dengan jumlah mol
OH¯. Biasanya ditunjukkan dengan harga pH

2. Titik akhir

Titik akhir adalah titik saat dimana indikator berubah warna

1. Titrasi asam kuat oleh basa kuat

Perubahan pH pada penetralan asam kuat oleh basa kuat kurva yang
didapatkan sebagai berikut : pada titrasi HCl oleh NaOH, mula mula pH
naik sangat lambat, kemudian terjadi lonjakan pH dan selanjutnya
kenaikan pH lambat sekali. Titik tengah bagian vertikal grafik adalah titik
ekivalen titrasi. Pada titrasi asam kuat dengan basa kuat titik ekivalen
terjadi pada pH = 7. Larutan dengan pH bersifat netral yaitu jumlah ion H+
sama dengan jumlh ion OH¯. Contoh titrasi asam kuat oleh basa kuat
adalah titrasi HCl oleh NaOH. Berikut kurva titrasi asam kuat (HCl) dan
basa kuat (NaOH) :

a. pH rendah pada permulaan titrasi

b. pH berubah secara lambat sampai sebelum tercapai titik ekivalen

c. tepat sebelum titik ekivalen, pH meningkat secara tajam

d. pada titik ekivalen, pH adalah 7,00

e. setelah titik ekivalen, pH meningkat tajam

f. sedikit melebihi titik ekivalen, pH tinggi

g. indikator apapun yang perubahan warnanya terjadi pada rentang pH 4


dampai pH 10 cocok untuk titrasi ini.
Persamaan reaksi kimianya adalah :

NaOH (aq) + HCl (aq) NaCl (aq) + H2O (l)

Bila suatu titik ekivalen telah tercapai, berlaku persamaan :

M grek basa = M grek asam

M1.V1.Val1 = M2.V2.Val2......................................................................(1)

M2 = 𝑀1.𝑉1.𝑉𝑎𝑙1..................................................................................(2)
𝑉2𝑉𝑎𝑙2

14
Kurva Titrasi HCl Oleh NaOH
12

10

8
pH

6
Equivalen Point : pH
4 : 7,00
Acidic Range Y-Values
2
Basic Range
0
0 20 40 60 80 100
VNaOh (Ml)

2. Titrasi asam lemah oleh basa kuat


Bila digunakan basa kuat sebagai bahan titran dalam titrasi dari dua
larutan berbeda yang mempunyai molaritas sama – yang satu asam kuat
dan yang lain asam lemah – kurva titrasi yang kita dapatkan mempunyai
dua karakteristik umum, yaitu :
1. Volume basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen sama
untuk kedua larutan

2. Bagian kurva setelah titik ekivalen banyak kesamaan

Perbedaaan dengan titrasi asam kuat, dalam titrasi asam lemah oleh basa
kuat adalah

1. pH awal lebih tinggi, karena asam lemah terionisasi sebagian

2. pada titik dimana asam lemah ½ dinetralkan, adalah pH = pKa. Pada


titik ini konsentrasi asam lemah dalam larutan buffer dan basa
konjugatnya adalah sama

3. pH pada titik ekivalen lebih besar dari 7,00

4. bagian terjal dari kurva titrasi pada titik ekivalen dalam rentang sempit

5. pemilihan indikator yang cocok untuk titrasi asam lemah oleh basa
kuat lebih terbatas. Khususnya dapat menggunakan indikator
perubahan warna dibawah pH : 7,00

contoh titrasi ini adalah standarisasi H2C2O4 dengan larutan NaOH.

Dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

2 NaOH (aq) + H2C2O4 (aq) Na2C2O4 (aq) + 2H2O (l)


Kurva Titrasi asam lemah oleh basa kuat
16

14

12 pH = pKa = 4,76
10 Half equivalence point
Equivaleince point pH
pH

8
: 8,73
Y-Values
6

4
Basic Range
2
Buffer Zone
0
-20 0 20 40 60 80 100

V. Alat dan Bahan :

Alat

1. Statif dan klem


2. Buret
3. Labu Erlenmeyer 250 mL
4. Pipet Gondok 25 mL
5. Pipet tetes
6. Gelas Ukur
7. Gelas Kimia 100 mL
Bahan
1. NaOH
2. C2H2O4 0,05 M
3. Phenolptalein
4. Aquades
5. Ekstrak Tumbuhan (Kunyit)
VI. Alur :

NaOH

Dibilas buret yang sudah bersih dengan


larutan NaoH yang akan dipakai

Dimasukkan larutan NaOH kedalam buret


sampai melebihi skala nol menggunakan
gelas beker

Dimasukkan larutan NaOH kedalam buret


sampai tepat skala nol

NaOH

Titrasi NaOH terhadap Asam Oksalat (2H2O4)

C2H2O4

Dimasukkan asam oksalat (C2H2O4)


sebanyak 10 mL menggunakan pipet
gondok ke dalam labu erlenmeyer

Ditambahkan 4 tetes indikator


phenolptalein
Dicatat keadaan kolom dalam buret

Diteteskan NaOH dari buret ke dalam


larutan asam oksalat sampai terjadi
perubahan warna pada larutan asam
oksalat
Dicatat volume NaOH yang diperlukan

Diulangi percobaan minimal 3 kali

Dihitung konsentrasi larutan NaOH

Perubahan warna pada C2H2O4

V
Titrasi HCl terhadap NaOH

HCl

Dimasukkan larutan HCl sebanyak 10 mL


menggunakan pipet gondokke dalam labu
erlenmeyer

Dimasukkan larutan NaOH yang telah


diketahui konsentrasi di atas

Dibuat ekstrak tumbuhan yang mempunyai


trayek pH seperti indikator phenolptalein

Ditambahkan 4 tetes ekstrak tumbuhan ke


dalam larutan HCl

Diteteskan NaOH dari buret ke dalam


larutan HCl terjadi perubahan warna pada
larutan HCl
Dicatat volume HCl yang diperlukan

Diulangi percobaan minimal 3 kali

Dihitung konsentrasi larutan HCl

Perubahan warna pada HCl

VII. Hasil Pengamatan :

1. Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan C2H2O4

pengamatan
No Perlakuan
sebelum sesudah
1 10 ml C2H2O4 + 3 tetes Tidak bewarna Tidak bewarna
indikator pp
2 10 ml C2H2O4 + 3 tetes Tidak bewarna Bewarna
indikator pp + NaOH merah muda.
Membutuhkan
volume NaOH
sebanyak
V1 = 3,6 ml
V2 = 3,8 ml
V3 = 3,6 ml

2. Penentuan konsentrasi HCl dengan larutan NaOH


pengamatan
No. Perlakuan
Sebelum sesudah
1 10 ml HCl + 3 tetes Tidak bewarna Tidak bewarna
indikator pp

2 10 ml HCl + 3 tetes Tidak bewarna Bewarna merah


indikator pp + NaOH muda.
Membutuhkan
volume NaOH
sebanyak
V1 = 3,4 ml
V2 = 3,5 ml
V3 = 3,1 ml

3. Penentuan konsentrasi HCl dengan larutan NaOH menggunakan ekstrak


tumbuhan( kunyit )
Pengamatan
No. Perlakuan
Sebelum Sesudah
1 10 Ml HCl + 3 tetes Tidak bewarna Bewarna Kuning
ekstrak kunyit terang
2 10 ml HCl + 3 tetes Bewarna Bewarna Kuning
ekstrak kunyit + NaOH Kuning terang kecoklatan
Membutuhkan
volume NaOH
sebanyak
V1 = 3,2 ml
V2 = 3,2 ml
V3 = 3,2 ml

VIII. Analisis Data dan Pembahasan :

1) Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan C2H2O4


Pada percobaan yang pertama, kami menentukan konsentrasi
NaOH dengan larutan standar primer asam oksalat. Kami menuangkan
larutan NaOH kedalam buret sampai mencapai skala nol. Larutan NaOH
tidak berwarna. Kemudian kami memipet larutan asam oksalat sebanyak
10 mL menggunakan pipet gondok. Kami menggunakan pipet gondok
karena ketelitian dari pipet gondok lebih tinggi daripada menggunakan
gelas ukur. Larutan asam oksalat tersebut kemudian kami masukkan
kedalam Erlenmeyer, dan kemudian kami menambahkan 3 tetes
phenolphtalein. Larutan asam oksalat tidak berwarna. Setelah itu, kami
melakukan titrasi dengan larutan NaOH sampai terjadi perubahan warna
dari tidak berwarna menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut:
2NaOH (aq) + C2H2O4 (aq) → Na2C2O4 (aq) + 2H2O (l)

Langkah-langkah tersebut diulang sebanyak 3 kali. Volume NaOH yang


diperlukan untuk perubahan warna larutan menjadi merah muda adalah
sebagai berikut:
1. V1 = 3,6 ml
2. V2 = 3,8 ml
3. V3 = 3,6 ml
dan diperoleh molaritas NaOH :
1. M1 = 0,27 M
2. M2 = 0,26 M
3. M3 = 0,27 M
Berdasarkan data tersebut, diperoleh hasil rata-rata konsentrasi NaOH
adalah sebesar 0,267 M

2) Penentuan konsentrasi HCl dengan larutan NaOH.


Pada percobaan yang kedua, kami menentukan konsentrasi HCl
dengan NaOH. Sama seperti pada percobaan yang pertama, kami
menuangkan larutan NaOH kedalam buret sampai mencapai skala nol.
Larutan NaOH tersebut tidak berwarna. Kemudian kami memipet larutan
HCl sebanyak 10 ml dan kemudian kami tuangkan dalam erlenmeyer dan
kami menambahkan 3 tetes fenolftalein. Warna larutan ini (HCl dan PP)
tidak berwarna. Setelah itu kami melakukan titrasi dengan larutan NaOH
sampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda.
Reaksi dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)

Langkah tersebut kami ulang sebanyak 3 kali. Volume NaOH yang


diperlukan untuk membuat warna larutan berubah menjadi merah muda
adalah sebagai berikut:
1. V1 = 3,4 ml
2. V2 = 3,5 ml
3. V3 = 3,1 ml
dan diperoleh molaritas HCl sebesar :
1. M1 = 0,091 M
2. M2 = 0,093 M
3. M3 = 0,083 M
Berdasarkan data tersebut, kami dapat menentukan konsentrasi rata-rata
dari HCl yaitu sebesar 0,089 M berdasarkan konsentrasi NaOH yang telah
diketahui sebelumnya (percobaan satu) yaitu 0,267 M
3) Penentuan konsentrasi HCl dengan larutan NaOH dengan menggunakan
indikator ekstrak tumbuhan.
Pada percobaan yang ketiga, kami menentukan konsentrasi HCl dengan
NaOH, tetapi pada percobaan ini kami menggunakan ekstrak tumbuhan
yaitu kunyit sebagai indikator. Kami melakukan langkah yang sama
seperti dalam percobaan kedua. Larutan NaOH dimasukkan dalam buret
dan 10 mL larutan HCl dimasukkan dalam erlenmeyer. Larutan HCl dalam
erlenmeyer tersebut kemudian ditambahkan dengan 3 tetes ekstrak kunyit
yang telah diekstrak menggunakan alkohol.Warna HCl setelah ditambah
dengan ekstrak kunyit berubah dari tidak berwarna menjadi kuning terang.
Dan kemudian setelah kita melakukan titrasi pada larutan ini, warna
larutan menjadi berwarna kuning kecoklatan. Reaksi yang terjadi adalah:
NaOH (aq) + HCl (aq) → NaCl (aq) + H2O (l)

Volume NaOH yang diperlukan untuk mengubah warna HCl + ekstrak


kunyit menjadi berwarna orange adalah :
1. V1 = 3,2ml
2. V2 = 3,2 ml
3. V3 = 3,2 ml
dan diperoleh Molaritas HCl sebesar :
1. M1 = 0,085M
2. M2 = 0,085 M
3. M3 = 0,085 M
Berdasarkan perolehan hasil data tersebut, kami dapat menentukan
konsentrasi rata-rata dari HCl yaitu sebesar 0,085 M dengan konsentrasi
NaOH 0,267 M (percobaan pertama).
IX. Kesimpulan :

Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan


bahwa :

1. larutan NaOH memiliki konsentrasi 0,267 M


2. larutan HCl memiliki konsentrasi sebesar 0,089
3. dengan indikator kunyit, HCl yang dititrasi NaOH akan berubah warna
menjadi kuning kecoklatan sehingga menghasilkan konsentrasi HCl
sebesar 0,085 M. Oleh karena itu kunyit disebut sebagai indikator basa

X. Jawaban Pertanyaan

1. mengapa pada titrasi larutan NaOH dengan asam oksalat menggunakan


indikator phenolptalein ?
jawaban :
karena larutan NaOH adalah basa kuat sedangkan asam oksalat adalah
asam lemah. Sehingga larutan yang didapat akan memiliki pH diatas 7,00
atau bersifat basa. Indikator yang cocok pada titrasi ini adalah
phenolptalein. Yang memiliki rentang pH antara 8,2-10.
2. Apa perbedaan titik ekivalen dan titik akhir?

Jawaban :

a. Titik ekivalen
Titik ekivalen adalah saat jumlah mol H+ sama dengan jumlah mol
OH¯. Biasanya ditunjukkan dengan harga pH. Dimana saat larutan +
indikator ditetesi sudah berubah warna tetapi warnanya masih bisa
kembali lagi ke warna semula

b. Titik akhir
Titik akhir adalah titik saat dimana indikator berubah warna dan
warnanya sudah tidak bisa kembali lagi kebentuk semula

3. Pada larutan diatas mana yang berfungsi sebagai larutan baku primer,
larutan baku sekunder dan larutan baku tersier ?
Jawaban :
Larutan baku primer : larutan C2H2O4, karena larutan C2H2O4 sudah
diketahui molaritasnya terlebih dahulu
Larutan baku sekunder : larutan NaOH, karena Larutan NaOH tidak dapat
diketahui konsentrasinya secara langsung tetapi harus melalui tittrasi
dengan asam oksalat yang sudah diketahui konsentrasinya
Larutan baku tersier : larutan HCl, karena lrutan HCl konsentrasinya
didapat dari titrasi dengan NaOH. Dimana konsentrasi NaOH sendiri
didapatkan dari titrasi dengan C2H2O4

XI. Daftar Pustaka


Achmad, Riskia. 2010. Kimia Dasar . Jakarta : Universitas Terbuka
Tim kimia dasar.2015. Petunjuk Praktikum Kimia Umum.Surabaya :Unesa
jurusan kimia
Dwi Rahayu, Agustina. 2012. Metode Bimbel Privat Kuasai Kimia SMA
Kelas X, XI ,dan XII. Yogyakarta: Planet Ilmu
XII. Lampiran