Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA II

KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN NARAPIDANA

Dosen Pembimbing:

Ns. Didi Kurniawan, M.Kep

Di Susun Oleh:

Kelompok 3

1. Yulinda Ronauli 1711113852 6. Ega Afriani 1711113904


2. Rima Yulita 1711113865 7. Rahmatiwi Walidaini 1711113887
3. Sri Fitri Yanti 1711113872 8. Agustina Anggraini 1711113906
4. Riana Sari 1711113876 9. Winda Pratiwi 1711113901
5. Deby Christiani S 1711113878 10. Ruthmita Septiani 1711113884

A 2017 2
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
2019
DAFTAR ISI

COVER.........................................................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................................ i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3

2.1 Definisi Narapidana ........................................................................... 3


2.2 Penggolongan Narapidana ................................................................. 3
2.3 Jenis Masalah Kejiwaan Narapidana ................................................. 5
2.4 Bentuk-Bentuk Pelayanan terhadap Narapidana ............................... 12
2.5 Asuhan Keperawatan ......................................................................... 16

BAB III PENUTUPAN ............................................................................... 22

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 22


3.2 Saran .................................................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 24

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SW yang mana atas berkat dan
pertolongan-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam senantiasa
saya haturkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW yang selalu kita harapkan
syafa’atnya di hari kiamat nanti. Makalah ini saya buat dalam rangka untuk memperdalam
pengetahuan dan pemahaman mengenai Asuhan Keperawatan Jiwa Narapidana dalam
Keperawatan Jiwa. Dengan segala keterbatasan yang ada penulis telah berusaha dengan
segala daya dan upaya guna menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya
makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Atas kritik dan
sarannya saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.

Pekanbaru, 17 Oktober 2019

Penyusun

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan pertumbuhan penduduk di Indonesia saaat ini mengakibatkan
persaingan dalam dunia kerja semakin ketat, sehingga berdampak pada banyaknya
pengangguran. Berdasarkan data dari badan pusat statistik (2013), tingkat
pengangguran setiap bulan adalah sekita 5,92% dari jumlah angkatan kerja di
Indonesia yang mencapai 121,2 juta orang. Banyaknya pengangguran tersebut
menyebabkan beberapa dari mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang harus dipenuhi salah satunya adalah kebutuhan
dasar yang dipenuhi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu kebutuhan
untuk makan. Seseorang dengan tingkat ekonomi menengah kebawah akan mengalami
kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari. Tingkat ekonomi
menengah kebawah tersebut merupakan suatu hal yang mendasari perbuatan
seseorang untuk memenuhi dorongan sosial yang memerlukan dukungan finansial
sehingga berpengaruh pada kebutuhan hidup sehari-hari (Afrinanda, 2009).
Untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya demi meneruskan kebutuhan hidup,
maka mereka menghalalkan segala cara, seperti pencurian, pengeroyokan, dan
pembunuhan. Pelaku kejahatan pasti akan dijatuhi hukuman yang sesuai dengan berat
atau ringannya suatu pelanggaran yang dilakukan. Pelaku kejahatan yang telah
menjalani persidangan dan divonis hukuman pidana disebut dengan narapidana.
Harsono (Siahaan, 2008) mengatakan bahwa narapidana adalah seseorang
yang telah dijatuhi vonis bersalah oleh hokum dan harus menjalani hukuman atau
sanksi, yang kemudian akan ditempatkan di dalam sebuah bangunan yang disebut
rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan.
Narapidana yang sedang menjalani hukuman pidana tidak hanya akan
mengalami hukuman secara fisik, tetapi juga mengalami hukuman secara psikologis
seperti kehilangan kebebasan dan kasih sayang dari pasangan, anak, maupun orang
tuanya. Frank (Siahaan, 2008) menambhakan bahwa dampak fisik dan psikologis yang
dialami narapidana dapat membuat narapidana merasakan perasaan tidak bermakna
yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, bosan dan penuh dengan
keputusasaan.

1
Rahmawati (Shofia, 2009) melalui penelitiannya tentang kepercayaan diri
narapidana pasca hukuman pidana menyatakan bahwa pada dasarnya mantan
narapidana memiliki harga diri rendah dan konsep diri yang negative. Secara garis
besar hal ini disebabkan karena masyarakat cenderung menolak kehadiran mereka
dalam kehidupan yang normal. Penolakan masyarakat terhadap narapidana dianggap
sebagai masalah yang harus diwaspadai.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah defenisi dari Narapidana?
2. Apakah penyebab dari Narapidana?
3. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada Narapidana?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui defenisi dari Narapidana.
2. Mahasiswa mengetahui penyebab dari Narapidana.
3. Mahasiswa mampu menguraikan asuhan keperawatan jiwa pada Narapidana.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Narapidana


Narapidana adalah orang-orang sedang menjalani saksi kurungan atau saksi
lainnya, menurut perundang-undangan. Pengertian narapidana menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah orang hukuman (orang yang sedang menjalani hukuman
karena tindak pidana) atau terhukum. Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor : 12
Tahun 1995 tentang Permasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang menjalani
pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Permasyarakatan.
Selanjutnya Dirjosworo (dalam Lubis dkk, 2014) narapidana adalah manusia
biasa seperti manusia lainnya hanya karena melanggar norma hukum yang ada, maka
dipisahkan oleh hakim untuk menjalani hukuman. Berdasarkan Pasal 1 ayat (7)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 (dalam Lubis dkk, 2014) tentang
Pemasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang
kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan. Menurut Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1995 (dalam Soraya, 2013) tentang Pemasyarakatan, terpidana
adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Dengan demikian, pengertian narapidana adalah seseorang yang melakukan
tindak kejahatan dan telah dinyatakan bersalah oleh hakim di pengadilan serta dijatuhi
hukuman penjara.

2.2 Penggolongan Narapidana


Pasal 12 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
menentukan bahwa dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan dilakukan penggolongan atas dasar:

a. Umur
b. jenis kelamin
c. lama pidana yang dijatuhkan
d. jenis kejahatan.
e. kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan.
f. Pembinaan Narapidana Wanita di LAPAS dilaksanakan di LAPAS Wanita.

3
Dalam standar registrasi dan klasifikasi narapidana dan tahanan yang ditetapkan
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia Nomor: Pas- 170.Pk.01.01.02 Tahun 2015 tentang Standar
Registrasi dan Klasifikasi Narapidana dan Tahanan.

Penggolongan narapidana berdasarkan umur terdiri atas:


a. Anak (12 s.d. 18 tahun)
b. Dewasa (diatas 18 tahun)

Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kelamin, terdiri atas:


a. Laki –laki
b. Wanita

Penggolongan narapidana berdasarkan lama pidana, terdiri atas:


a. Pidana 1 hari sd 3 bulan ( Register B.II b )
b. Pidana 3 bulan sd 12 bulan 5 hari (1 tahun) (Register B.II a)
c. Pidana 12 bulan 5 hari (1 tahun keatas ) (Register B.I)
d. Pidana Seumur Hidup (Register Seumur Hidup)
e. Pidana Mati (Register Mati)

Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kejahatan, terdiri atas:


a. Jenis kejahatan umum
b. Jenis kejahatan khusus

Penggolongan berdasarkan kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau


perkembangan pembinaan. Rahmat Hi. Abdullah (hal. 54) dalam jurnalnya
menjelaskan bahwa adapun penggolongan narapidana sebagaimana yang tercantum
dalam Pasal 12 UU 12/1995 memang perlu, baik dilihat dari segi keamanan dan
pembinaan serta menjaga pengaruh negatif yang dapat berpengaruh terhadap
narapidana lainnya. Jenis kejahatan juga merupakan salah satu karakteristik ide
individualisasi dalam pembinaan narapidana. Untuk itu, di dalam melakukan
pembinaan terhadap narapidana haruslah dipisah-pisahkan berdasarkan jenis
kejahatannya, seperti narkotika, pencurian, penipuan, penggelapan, pembunuhan, dan
lain-lain. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan prisonisasi atas narapidana.

4
Di Indonesia terdapat penggolongan lembaga pemasyarakatan, yaitu lapas umum
dan lapas khusus seperti Lapas Perempuan, Lapas Anak, Lapas Narkotika dan Lapas
untuk tindak pidana berat seperti yang ada di Nusakambangan Cilacap. Namun tidak
di semua daerah di Indonesia memunyai lapas-lapas khusus. Biasanya daerah yang
tidak memunyai lapas khusus contohnya untuk narapidana anak, maka akan dititipkan
di lapas anak di daerah lain yang paling dekat.
Jadi seorang narapidana ditempatkan sesuai dengan penggolongan atas daras
umur, jenis kelamin, lama pidana yang dijatuhkan, jenis kejahatan dan kriteria lainnya
sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan. Artinya, seorang narapidana
herus ditempatkan dengan narapidana lainnya yang golongannya sama sebagaimana
yang telah ditentukan. Seperti halnya narapidana dengan jenis kejahatan berbeda
tidak ditempatkan dalam satu sel secara bersamaan.

2.3 Jenis Masalah Kejiwaan Narapidana


Narapidana yang terkucilkan dari masyarakat umum, akan mengalami berbagai
masalah kejiwaan narapidana kemungkinan akan muncul, diantaranya:

1. Harga Diri Rendah dan Konsep Diri yang Negative


A. Definisi
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri
sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri,
merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri
(Keliat, 1998). Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negative, dapat secara langsung atau tidak langsung
di ekspresikan. Seseorang yang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika
ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat
berbuat apa – apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai
dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif
akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang
dihadapinya. Akan ada dua pihak yang bisa disalahkannya, entah itu
menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain (Rini,
J.F, 2002).

5
Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut ini :
a. Citra Tubuh (Body Image)
Citra tubuh (Body Image) adalah kumpulan dari sikap individu yang
disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa
lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan
potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan
pengalaman yang baru (Stuart & Sundeen, 1998).
b. Ideal Diri (Self Ideal)
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berperilaku sesuai dengan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal
tertentu (Stuart & Sundeen, 1998). Sering juga disebut bahwa ideal diri
sama dengan cita – cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.
c. Identitas Diri (Self Identifity)
Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang
bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan
keunikkan individu (Stuart & Sundeen, 1998). Pembentukan identitas
dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi
merupakan tugas utama pada masa remaja.
d. Peran Diri (Self Role)
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial
berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial. Peran
yang diterapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan.
Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu
(Stuart & Sundeen, 1998).
e. Harga Diri (Self Esteem)
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai
dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar
dalam penerimaan diri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan,
kekalahan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga (Stuart
& Sundeen, 1998).

6
B. Etiologi
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping individu
yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif, kurangnya system
pendukung kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang
negatif, difungsi system keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan
awal (Townsend, M.C. 1998 : 366).
Menurut Carpenito, L.J (1998 : 82) koping individu tidak efektif adalah
keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami suatu
ketidakmampuan dalam mengalami stessor internal atau lingkungan dengan
adekuat karena ketidakkuatan sumber-sumber (fisik, psikologi, perilaku atau
kognitif).
Sedangkan menurut Townsend, M.C (1998 : 312) koping individu
tidak efektif merupakan kelainan perilaku adaptif dan kemampuan
memecahkan masalah seseorang dalam memenuhi tuntutan kehidupan dan
peran. Adapun Penyebab Gangguan Konsep Diri Harga Diri Rendah, yaitu :
a. Faktor Presdisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan
orangtua, penolakan orangtua yang tidak realistis, kegagalan yang
berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor Presipitasi
Faktor Presipitasi Terjadinya harga diri rendah biasanya adalah
kehillangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan
atau produktifitas yang menurun.

C. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah :


- Mengejek dan mengkritik diri
- Merasa bersalah dan khawatir, menghukum dan menolak diri sendiri
- Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi
- Menunda keputusan
- Sulit bergaul
- Menghindari kesenangan yang dapat meberi rasa puas
- Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga, halusinasi

7
- Merusak diri: harga diri rendah menyokong pasien untuk mengakhiri
hidupnya
- Merusak/melukai orang lain
- Perasaan tidak mampu
- Pandangan hidup yang pesimistis
- Tidak menerima pujian
- Penurunan produktivitas
- Penolakan terhadap kemampuan diri
- Kurang memerhatikan perawatan diri
- Berpakaian tidak rapih
- Berkurang selera makan
- Tidak berani menatap lawan bicara
- Lebih banyak menunduk
- Bicara lambat dengan nada suara lemah

D. Penatalaksanaan Terapi (Psikoterapi)


Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi
dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia
tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau
latihan bersama. (Maramis, 2005, hal.231). Terapi aktivitas kelompok dibagi
empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi
aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok stimulasi
realita dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi (Keliat dan Akemat, 2005,
hal.13). Dari empat jenis terapi aktivitas kelompok diatas yang paling relevan
dilakukan pada individu dengan gangguan konsep diri harga diri rendah adalah
terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Terapi aktivitas kelompok (TAK)
stimulasi persepsi adalah terapi yang mengunakan aktivitas sebagai stimulasi
dan terkait dengan pengalaman atau kehidupan untuk didiskusikan dalam
kelompok, hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau
alternatif penyelesaian masalah.(Keliat dan Akemat,2005)

8
2. Risiko Bunuh Diri
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri. Jadi
bunuh diri adalah suatu tindakan agresif yang merusak diri sendiri dengan
mengemukakan rentang harapan-harapan putus asa, sehingga menimbukan
tindakan yang mengarah pada kematian.

A. Rentang Respon
Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang
yang penuh stress Perilaku bunuh diri berkembang dalam beberapa rentang.
Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma
sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon
maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya
setempat. Respon maladaptif antara lain:
a. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis: Individu yang tidak berhasil
memecahkan masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak
mampu mengembangkan koping yang bermanfaat sudah tidak berguna
lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak
ada yang membantu.
b. Kehilangan, ragu-ragu: Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi
dan tidak realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak
tercapai. Misalnya: kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian,
perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang
semua dapat berakhir dengan bunuh diri.
c. Depresi: Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang
ditandai dengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi
pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat.
d. Bunuh diri adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri
untuk mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir
individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

B. Etiologi Bunuh Diri


1. Faktor Predisposisi

9
Menurut Stuart dan Sundeen (1997), faktor predisposisi bunuh diri
antara lain:
a. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
bunuh diri, mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga
gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk bunuh
diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b. Sifat kepribadian. Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan
besarnya resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan
depresi.
c. Lingkungan psikososial. Seseorang yang baru mengalami kehilangan,
perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan berkurangnya
dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan
bunuh diri.
d. Riwayat keluarga/faktor genetic. Factor genetik mempengaruhi
terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya serta merupakan
faktor resiko penting untuk prilaku destruktif.. Disamping itu adanya
penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi
terjadinya resiko buuh diri.
e. Faktor biokimia. Data menunjukkan bahwa secara serotogenik,
apatengik, dan depominersik menjadi media proses yang dapat
menimbulkan prilaku destrukif diri.
2. Faktor Presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah:
a. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
b. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
c. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri.
d. Cara untuk mengakhiri keputusasaan

Selain itu terdapat pula beberapa motif terjadinya bunuh diri, motif bunuh
diri ada banyak macamnya, yaitu:
1. Dilanda keputusasaan dan depresi.
2. Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.

10
3. Gangguan kejiwaan/tidak waras (gila).
4. Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta/Iman/Ilmu).
5. Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.

C. Psikopatologi
Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Orang yang
siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak
kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk
melakukannya. Perilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 4 kategori:
1. Isyarat Bunuh Diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berprilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan:”tolong jaga anak-anak
karena saya akan pergi jauh!” atau” segala sesuatu akan lebih baik tanpa
saya.”Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk
mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan
percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti
rasa bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak berdaya. Pasien juga
mengungkapkan hal-hal negative tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi
seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif dapat ditafsirkan
seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh
diri.Ancaman bunuh diri pada umumnya diucapkan oleh pasien, berisi
keinginan untuk mati, disertai dengan rencana untuk mengakhiri
kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara
aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai
dengan percobaan bunuh diri.
3. Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu
yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah. Pada kondisi ini
pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun,
memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.

11
Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi
yang berat akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.
4. Bunuh Diri
Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau
terabaikan. Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak
langsung ingin mati mungkin pada mati jika tanda-tanda tersebut tidak
diketahui tepat pada waktunya.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang biasanya muncul yaitu:
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan).
h. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan
mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan alcohol).

2.4 Bentuk-Bentuk Pelayanan terhadap Narapidana


1. Pelayanan Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial, dan ekonomis.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan, dan pencegahan
gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau
perawatan. Didalam rumah tahanan sangat penting adanya fasilitas kesehatan
guna untuk melayani setiap narapidana yang sakit.dengan adanya pelayanan
kesehatan maka narapidana yang mengalami sakit akan secepatnya bisa
tertolong untuk mendapatkan kesembuhan. Pelayanan kesehatan di rumah

12
tahanan teluk kuantan kabupaten kuantan singingi merupakan bentuk pelayanan
yang di berikan oleh pihak rumah tahanan kepada narapidana. Berikut adalah
hasil wawancara peliti dengan kepala rumah tahanan teluk kuantan yang mana
peneliti menanyakan apa saja bentuk pelayanan kesehatan di dalam rumah
tahanan dan kepala rumah tahanan menjawab sebagai berikut: “Bentuk
pelayanan kesehatan yang kami sediakaan adalah 1 ruangan kesehatan,2 ranjang
tidur,1 lemari untuk alat medis,2 lemari untuk obatobatan,1 ruangan tenaga
medis,1 kamar mandi”. Dari kutipan diatas dapat dilihat bawa peihak rumah
tahanan menyediakan pelayanan kesehatan bagi narapidana yaitu 1 ruangan
klinik yang terdiri dari Dengan 2 ranjang tidur, 1 lemari untuk alat medis dan
lemari untuk obat-oabatan 1 ruangan tenaga medis dan 1 kamar mandi, fasilitas
ini dapat digunakan oleh narapidana untuk berobat atau jika narapidana ingin
cek kesehatan, dengan menyediakan sarana kesehatan maka narapidana dapat
lebih mudah untuk mendapatkan pertolongan pertama jika mengalami gangguan
kesehatan, jika penyakit narapidana tidak dapat ditangani oleh tenaga medis
maka narapidana akan dirujuk ke rumah sakit umum daerah teluk kuantan
dengan pengawalan dari pihak rutan.

2. Pelayanan Konsumsi
Konsumsi adalah sutu kebutuhan makanan dan minuman yang dibutuhkan
oleh seseorang pada setiap harinya untuk menjaga kesehatan tubuh seseorang
maka harus mendapatkan atau mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang
sehat agar terhindar dari segala penyakit yang bisa menyerang tubuh seseorang.
Pelayanan konsumsi adalah bentuk pelayanan yang sangat penting dan sangat di
butuhkan oleh narapidana yang sedang menjalani hukuman. Berikut adalah hasil
wawancara peneliti dengan kepala rutan tentang apa saja bentuk pelayanan
konsumsi dari rumah tahanan untuk narapidana dan kepala rutan menjawab
seagai berikut: Dari kutipan diatas dapat dilihat bentuk pelayanan konsumsi oleh
pihan rutan dapat berupa peralatan dapur, dan nada juga terdapat 1 kantin untuk
narapidana membeli kebutuhan mereka, narapidana tidak bisa bebas kapanpun
mereka mau ke kantin, tetapi ada waktuwaktu tertentu jika narapidana ingin
kekantin. Pelayanan konsumsi sangat dibutuhkan oleh narapidana yang sedang
menjalani hukuman di dalam rumah tahanan meskipun narapidana sedang dalam

13
menjalani hukuman tetapi mereka berhak untuk mendapatkan pelayanan
konsumsi daripihak rumah tahanan agar narapidana hidup sehat.

3. Pelayanan Penjagaan
Pelayanan penjagaan narapidana adalah bentuk kegiatan dalam
melindungi,menjaga serta memperhatikan narapidana di rumah tahanan agar
terhindar dari kekerasan ataupun kerusuhan antar sesama narapidana.

4. Pelayanan Kunjungan
Pelayanan kunjungan narapidana adalah suatu bentuk pelayanan dari pihak
keluarga maupun kerabat untuk dapat mengunjungi narapidana yang sedang
menjalani hukuman di rumah tahanan.berikut adalah hasil wawancara peneliti
dengan kepala rutan yang mana meneliti menanyakan bentuk pelayanan ataupun
waktu kunjungan yang di berikan oleh pihak rutan dan kepala rutan menjawab
sebagai berikut: “bentuk pelayanan kungjungan dari kami yaitu mengizinkan
keluarga ataupun kerabar narapidana untuk menjenguk narapidana dengan
waktu setiap hari dari jam 09.00- 10.00 dan 15.30-16.30,setiap hari kecuali
tanggal merah.kami mengizinkan keluarga untuk membawakan makanan
ataupun minuman kepada napi.

5. Rehablitasi pada Narapidana


Pelaksanaan Rehabilitasi dalam Deradikalisasi Narapidana Terorisme
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M-02-PK.04.10 Tahun
1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, pembinaan bagi narapidana
terorisme dalam sistem pemasyarakatan menekankan pada dua hal, yakni:
a. Pembinaan kepribadian yang meliputi:
1. Pembinaan kesadaran beragama untuk memberikan pengertian supaya
warga binaan pemasyarakatan dapat menyadari akibat-akibat dari
perbuatan-perbuatan yang benarbenar dan perbuatan-perbuatan yang
salah;
2. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara diberikan dengan tujuan
untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara dalam diri
para narapidana;

14
3. Pembinaan kemampuan intelektual (kecerdasan) supaya pengetahuan
serta kemampuan berpikir warga binaan pemasyarakatan semakin
meningkat sehingga dapat menunjang kegiatan-kegiatan positif yang
diperlukan selama masa pembinaan;
4. Pembinaan kesadaran hukum dilaksanakan dengan memberikan
penyuluhan hukum yang bertujuan untuk mencapai kadar kesadaran
hukum yang tinggi baik saat berada di dalam lingkungan pembinaan
maupun setelah berada kembali di tengah-tengah masyarakat; dan
5. Pembinaan mengintegrasikan diri dengan masyarakat yang bertujuan
supaya mantan narapidana dapat diterima kembali oleh masyarakat
lingkungannya;

b. Pembinaan kemandirian yang terdiri dari pemberian:


1. Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri misalnya
kerajinan tangan, industri rumah tangga dan sebagainya;
2. Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha industri kecil misalnya
pengolahan bahan mentah dari sektor pertanian dan bahan alam
menjadi bahan setengah jadi; dan
3. Keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan bakatnya masing-
masing misalnya kemampuan dibidang seni, maka diusahakan untuk
disalurkan ke perkumpulan seniman.

Rehabilitasi harus mencakup langkah langkah berikut:

1. Tahap persiapan, termasuk penetapan tujuan rehabilitasi, survei dan


pengumpulan data, analisis dan verifikasi informasi, awal analisis penilaian
dan kebutuhan, pengaturan detail rehabilitasi, analisis dan manajemen risiko,
koordinasi dengan pihak terkait, mempersiapkan narapidana atau peserta
rehabilitasi, dan menyiapkan pelatih atau narasumber;
2. Tahapan pelaksanaan, termasuk kegiatan pengembangan umum, misalnya
pengembangan karakter, keterampilan ekonomi dasar, pemberdayaan diri dan
kegiatan pengembangan spesifik misalnya ajaran agama, keterampilan tukang
kayu, keterampilan manajemen kemarahan;
3. Tahapan tindak lanjut, yang meliputi konseling berkelanjutan, silaturrahmi
(diskusi atau dialog), evaluasi keberhasilan rehabilitasi, mendapat umpan

15
balik untuk perbaikan, dan keterlibatan masyarakat atau layanan. Target dari
tahapan tindak lanjut adalah narapidana yang mendukung etika dan norma
sosial, menunjukkan sikap positif, dan menunjukkan kesiapan untuk
bergabung kembali dengan komunitas yang lebih luas. Hal ini bertujuan
untuk mempertahankan perbaikan yang telah diraih oleh narapidana atau
mantan aktivis terorisme (Sukabdi, 2015).

2.5 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas klien meliputi Nama, umur, jenis kelamin, tanggal dirawat, tanggal
pengkajian, nomor rekam medis.
b. Faktor predisposisi merupakan faktor pendukung yang meliputi faktor
biologis, faktor psikologis, sosial budaya, dan faktor genetic.
c. Faktor presipitasi merupakan faktor pencetus yang meliputi sikap persepsi
merasa tidak mampu, putus asa, tidak percaya diri, merasa gagal, merasa
malang, kehilangan, rendah diri, perilaku agresif, kekerasan, ketidak adekuatan
pengobatan dan penanganan gejala stress pencetus pada umunya mencakup
kejadian kehidupan yang penuh dengan stress seperti kehilangan yang
mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain
dan menyebabkan ansietas.
d. Psikososial yang terdiri dari genogram, konsep diri, hubungan social dan
spiritual.
e. Status mental yang terdiri dari penampilan, pembicaraan, aktifitas motorik,
alam perasaan, afek pasien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir,
isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat kosentrasi dan berhitung,
kemampuan penilaian, dan daya tilik diri.
f. Mekanisme koping: koping yang dimiliki klien baik adaptif maupun
maladaptive.
g. Aspek medik yang terdiri dari diagnosa medis dan terapi medis.

Pada proses pengkajian, data penting yang perlu diketahui saudara dapatkan
adalah:

16
MASALAH YANG PERLU DIKAJI
No Masalah Keperawatan Data Subyektif Data Obyektif
1 Masalah utama : gangguan Mengungkapkan ingin
Merusak diri sendiri,
konsep diri : harga diri rendah diakui jati dirinya.
Merusak orang lain,
Mengungkapkan tidak
Ekspresi malu,
ada lagi yang peduli.
Menarik diri dari
Mengungkapkan tidak
hubungan social,
bisa apa-apa.
Tampak mudah
Mengungkapkan dirinya
tersinggung,
tidak berguna.
Tidak mau makan dan
Mengkritik diri sendiri.
tidak tidur.
Perasaan tidak mampu.
2 Penyebab tidak efektifnya Mengungkapkan Tampak ketergantungan
koping individu ketidakmampuan dan terhadap orang lain
meminta bantuan orang Tampak sedih dan tidak
lain. melakukan aktivitas
Mengungkapkan malu yang seharusnya dapat
dan tidak bisa ketika dilakukan
diajak melakukan Wajah tampak murung
sesuatu.
Mengungkapkan tidak
berdaya dan tidak ingin
hidup lagi.
3 Akibat isolasi sosial menarik Mengungkapkan enggan Ekspresi wajah kosong
diri bicara dengan orang lain tidak ada kontak mata
Klien mengatakan malu ketika diajak bicara
bertemu dan berhadapan Suara pelan dan tidak
dengan orang lain jelas
Hanya memberi
jawaban singkat
(ya/tidak)
Menghindar ketika
didekati

17
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data diatas, yang didapat melalui observasi, wawancara atau
pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat
menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien sebagai berikut:
a. Harga Diri Rendah
b. Isolasi Sosial
c. Defisit Perawatan Diri

3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan berdasarkan jenis masalah jiwa pada narapidana yaitu
harga diri rendah dan risiko bunuh diri, sebagai berikut:
A. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif (Keliat,
1999).
Tujuan umum: Klien dapat memiliki koping yang efektif.
Tujuan khusus:
1). Klien dapat mengungkapkan perasaannya secara bebas.
Kriteria evaluasi: Klien mengungkapkan perasaanya secara bebas.
Intervensi:
- Ijinkan klien untuk menangis.
- Sediakan kertas dan alat tulis jika klien belum mau bicara.
- Nyatakan kepada klien bahwa perawat dapat mengerti apabila klien
belum siap membicarakan permasalahannya.
2). Klien dapat mengidentifikasi koping dan perilaku yang berkaitan dengan
kejadian yang dihadapi.
Kriteria evaluasi: Klien dapat mengidentifikasi koping dan perilaku yang
berkaitan dengan kejadian yang dihadapi.
Intervensi:
- Tanyakan kepada klien apakah pernah mengalami hal yang sama.
- Tanyakan cara-cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi perasaan
dan masalah.
- Identifikasi koping yang pernah dipakai.
- Diskusikan dengan klien alternatif koping yang tepat bagi klien.
3). Klien dapat memodifikasi pola kognitif yang negatif.
Kriteria evaluasi: Klien memodifikasi pola kognitif yang negatif.

18
Intervensi:
- Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien.
- Identifikasi pemikiran negatif dan bantu untuk menurunkan melalui
interupsi atau substitusi.
- Bantu klien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
- Identifikasi ketetapan persepsi klien yang tepat tentang penyimpangan
dan pendapatnya yang tidak rasional.
- Kurangi penilaian klien yang negatif terhadap dirinya.
- Evaluasi ketepatan persepsi, logika, dan kesimpulan yang dibuat
klien.
- Bantu klien untuk menyadari nilai yang dimilikinya dan perubahan
yang terjadi.
4). Klien dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan
dengan perawatan dirinya.
Kriteria evaluasi: Klien berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang
berkenaan dengan perawatan dirinya.
Intervensi:
- Libatkan klien dalam menetapkan tujuan perawatan yang ingin
dicapai.
- Motivasi klien untuk membuat jadwal aktivitas perawatan diri.
- Berikan klien privasi sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan.
- Berikan reinforcement positif untuk keputusan yang dibuat.
- Berikan pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau
penampilannya bagus.
- Motivasi klien untuk mempertahankan kegiatan tersebut.
5). Klien dapat memotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistik.
Kriteria evaluasi: Klien termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang
realistik.
Intervensi:
- Bantu klien untuk menetapkan tujuan yang realistik. Fokuskan
kegiatan pada saat sekarang bukan pada masa lalu.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi area situasi kehidupan yang dapat
dikontrolnya.
- Identifikasi cita-cita yang ingin dicapai oleh klien.

19
- Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas tersebut dan berikan
penguatan positif untuk berpartisipasi dan pencapaiannya.
- Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu klien
menurunkan perasaan tidak bersalah.

B. Risiko Bunuh Diri


1) Sp I Pasien
- Membina hubungan saling percaya dengan klien.
- Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien.
- Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien.
- Melakukan kontrak treatment.
- Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri.
2) Sp II Pasien
- Mengidentisifikasi aspek positif pasien
- Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri sendiri
- Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang
berharga
3) Sp III Pasien
- Mengidentisifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
- Menilai pola koping yng biasa dilakukan
- Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
- Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif
- Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian
4) Sp IV Pasien
- Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien
- Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
- Memberi dorongan pasien melakukan kehiatan dalam rangka meraih
masa depan yang realistis
5) SP 1 Keluaga
- Mendiskusikan massalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
- Menjelaskan pengertia, tanda dan gejala resiko bunuh diri, dan jenis
prilaku yang di alami pasien beserta proses terjadinya

20
- Menjelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri yang dialami
pasien beserta proses terjadinya.
6) SP II Keluarga
- Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan resiko
bunuh diri
- Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
resiko bunuh diri.
7) SP III Keluarga
- Membantu keluarga membuat jadual aktivitas dirumah termasuk
minum obat.
- Mendiskusikan sumber rujukan yang bias dijangkau oleh keluarga.

4. Implementasi Keperawatan
Setelah dilakukan perencanaan tindakan keperawatan, maka selanjutnya
dilakukan implementasi sesuai waktu dan urutan perencanaan tindakan
keperawatan.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dilakukan setiap selesai tindakan asuhan keperawatan jiwa pada klien
untuk mengetahui perubahan kondisi yang baik dirasakan oleh klien.

21
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian narapidana
adalah seseorang yang melakukan tindak kejahatan dan telah dinyatakan bersalah oleh
hakim di pengadilan serta dijatuhi hukuman penjara. Karena terkucilkan dari
masyarakat umum, berbagai masalah kejiwaan narapidana kemungkinan akan muncul,
diantaranya: harga diri rendah dan konsep diri yang negative, lalu risiko bunuh diri.
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negative, dapat secara langsung atau tidak langsung
diekspresikan. Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut ini : citra tubuh
(Body Image), ideal Diri (Self Ideal), identitas Diri (Self Identifity), peran Diri (Self
Role), harga diri (Self Esteem). Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya
koping individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif,
kurangnya system pendukung kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan
balik yang negatif, difungsi system keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan
awal.
Jenis-jenis Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan penggolongan
atas dasar: Umur, jenis kelamin, lama pidana yang dijatuhkan, jenis kejahatan, lalu
kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan.
Penggolongan narapidana berdasarkan umur terdiri atas: Anak (12 s.d. 18 tahun), lalu
Dewasa (diatas 18 tahun). Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kelamin, terdiri
atas: Laki –laki dan Wanita. Penggolongan narapidana berdasarkan lama pidana,
terdiri atas: Pidana 1 hari sd 3 bulan ( Register B.II b ), Pidana 3 bulan sd 12 bulan 5
hari (1 tahun) (Register B.II a), Pidana 12 bulan 5 hari (1 tahun keatas ) (Register B.I),
Pidana Seumur Hidup (Register Seumur Hidup), Pidana Mati (Register Mati.
Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kejahatan, terdiri atas: Jenis kejahatan
umum, lalu Jenis kejahatan khusus. Jadi seorang narapidana ditempatkan sesuai
dengan penggolongan atas daras umur, jenis kelamin, lama pidana yang dijatuhkan,
jenis kejahatan dan kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan
pembinaan. Artinya, seorang narapidana herus ditempatkan dengan narapidana
lainnya yang golongannya sama sebagaimana yang telah ditentukan. Seperti halnya

22
narapidana dengan jenis kejahatan berbeda tidak ditempatkan dalam satu sel secara
bersamaan.

3.2 Saran
1. Lembaga Pemasyarakatan
a) Memperbanyak kerja sama antara Instansi Pemerintah/pihak-pihak di luar
Lembaga Pemasyarakatan dalam rangka untuk melakukan pembinaan terhadap
narapidana
b) Mempertahankan pihak-pihak yang telah membantu narapidana dalam proses
pembinaan bukan saja Insidensil melainkan harus bersifat tetap atau seterusnya
secara terjadwal, agar nantinya narapidana mampu menyerap secara optimal.
c) Melaksanakan suatu kegiatan dimana dalam proses pembinaannya harus dapat
menampung aspirasi narapidana, atau apa yang menjadi keinginan narapidana
dengan cara menempatkan kotak-kotak untuk kritik dan saran narapidana
kepada petugas Lembaga Pemasyarakatan, agar terjalin komunikasi yang baik
antara narapidana dan petugas hingga akhirnya akan tercipta suasana yang
kondusif
2. Masyarakat
Masyarakat diharapkan menghilang pendangan buruk terhadap narapidana
yang telah dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan, serta mampu menerima
dengan baik dan memperlakuan mantan narapidana dengan baik didalam
lingkungan agar mantan narapidana merasa diterima oleh masyarakat dan mantan
narapidana tersebut tidak akan mengulangi atau melanggar hukum kembali.
3. Pemerintah
Pemerintah di harapkan memberikan bantuan program BPJS kesehatan
supaya kesehatan narapidana di lapas dapat di jamin atau mendapat bantuan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Mareta, J. Rehabilitasi dalam Upaya Derradikalisasi Narapidana Terorisme. Masalah-masalah


Hukum, 47(4), 338-356.

https://www.scribd.com/document/327541806/askep-narapidana-1 dikutip pada 16 oktober


2019

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt598d737413c6a/penggolongan-
penempatan-narapidana-dalam-satu-sel-lapas/ dikutip pada 16 Oktober 2019

https://jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/download/587/526 dikutip pada 16 Oktober


2019

24