Anda di halaman 1dari 20

PENYESALAN DI UJUNG KISAH

Foto buku
Judul : Kalau Tak Untung
Penulis : Sariamin Ismail ( Selasih )
Penerbit : Balai Pustaka
Tempat & tahun terbit : Jakarta, 2001
Jumlah halaman : 156 halaman
Ilus : 21 cm

Novel fiksi berseri yang dikarya oleh Sariamin Ismail ( Selasih ) ini
merupakan cetakan kedua puluh tiga. Novel yang berjudul Kalau Tak Untung ini
pun merupakan salah satu karya sastra Indonesia lama yang jumlahnya sangat
sedikit. Novel ini sebenarnya di karang olehnya tahun 1933. Di mana, rakyat
Indonesia sedang mengalami masa penjajahan. Oleh karena itu, Sariamin Ismail
sering kali menggunakan nama samaran supaya tidak diketahui oleh kolonel
Belanda karena kebanyakan tulisannya berisikan menentang kebijakan pemerintah
kolonial Belanda dan dinilai menghasut rakyat. Ini merupakan tantangan
terbesarnya.
Beliau menempuh sekolah dasar (Gouvernement School) yang
diselesaikannya dalam 5 tahun di tahun 1921. Kemudian, ia melanjutkan
pendidikan di sekolah guru (Meisjes Normaal School) dan tamat tahun 1925.
Tahun 1925, ia mengajar di Bengkulu. Ditahun 1930, ia di pindahkan ke
Padangpanjang. Lalu, tahun 1939, dipindahkan lagi ke Aceh. Selanjutnya ia
mengajar di Kuantan, Riau dari tahun 1941-1968. Pernah menjadi Ketua Jong
Islamieten Bon Dames Afdeling Cabang Bukittinggi (1928-1930) dan anggota
DPRD Riau (1947-1948).
Dengan ilmu yang dia peroleh dari berbagai penjuru kota di pulau
Sumatera, tak heran banyak karya-karya novelnya yang pernah terbit antara lain,
Kalau Tak Untung (novel, 1933), Pengaruh Keadaan (novel, 1937), Rangkaian
Sastra (1952), Panca Juara (cerita anak, 1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita
Kak Mursi (cerita anak, 1984), Kembali ke Pangkuan Ayah (novel, 1986). Tidak
hanya itu, sajak-sajaknya termuat dalam buku : Puisi Baru (Bunga Rampai, editor
St, Takdir Alisjabhana, 1946), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (Bunga Rampai,
editor Toeti Heraty, 1979), Tonggak 1 (Bunga Rampai, editor, Linus Suryadi AG,
1987), Ungu : Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (editor, Korrie Layun
Rampan).
Kisah diawali dengan adanya sebuah keluarga tak mampu bertinggal di
Bukittinggi yang memiliki dua perempuan cantik nan manja namun dibalik
kemanjaan mereka tersimpan hati yang sabar dan mulia. Rasmani adalah adik dari
Dalipah yang masih bersekolah dasar. Semangat juang Rasmani untuk sekolah
sangatlah tinggi. Begitu pun, kedua orangtuanya. Setiap hari mereka bergantian
mengantarkan Rasmani berangakat sekolah. Saat Rasmani hendak berangkat
sekolah turunlah hujan. Sementara, payung di rumahnya belum diperbaiki.
Akhirnya Rasmani dan ibunya menggunakan daun pisang. Saat itu, mereka
bertemu seorang anak laki-laki berusia sekitar empat belas tahun memegang
sebuah payung. Anak itu bernama Masrul anak Datuk Marajo saudara sebapak
dengan ibunya. Saat melihat baju Rasmani telah basah, Masrul pun menawarkan
diri untuk bersedia mengantarkan Rasmani ke sekolah. Rasmani serta Masrul pun
bergegas ke sekolah. Kini, setiap hari Rasmani diantarkan oleh Masrul berangkat
sekolah. Persahabatan mereka sangatlah karib dan kedekatan mereka pun
menumbuhkan rasa kasih sayang. Sampai pada suatu ketika Masrul mendapat
sebuah berita gembira bahwasanya ia diangkat menjadi jurutulis di Painan,
Padang. Dan saat itu Rasmani menjadi seorang guru bantu di salah satu sekolah di
Bukittinggi.
Terkejutlah Rasmini mendengar berita itu. Sebelum Masrul hendak
meninggalkan tanah kelahirannya, ibu Masrul memintanya untuk bersegera
menikah dengan Aminah saudara dari bapak Rasmani. Namun, Masrul tidak
berkemauan untuk beristri saat itu. Apalagi, dijodohkan dengan saudaranya.
Perdebatan ibu dan anak pun terjadi. Alhasil, Aminah harus menunggu Masrul
tiga tahun dan dia harus pandai membaca dan menulis serta memiliki kecakapan
lain seperti menjahit, mamasak dan sebagainya. Masrul pun meminta pada ibunya
untuk mengajarkan Aminah pada Rasmani. Mendengar kabar itu, Rasmani tambah
terkejut, karena Aminah adalah orang yang telah mencemooh keluarganya.
Saat di Painan, Masrul selalu mengirim kabar melalui sepucuk surat untuk
Rasmani. Ia menceritakan apa yang ia kerjakan di Painan termasuk perjodohan
dan pernikahannya dengan putri kakak Engku Guru gedang. Rasmani sangat
terkejut. Kini, kehidupan Masrul sangatlah menderita. Dalam peranannya sebagai
pemimpin keluarga tidak dihargai lagi oleh istrinya karena penghasilan Masrul
yang tak cukup dan Masrul sering mabuk-mabukan. Masrul sering kali dibentak
dan dicacimaki oleh istrinya. Kesabaran Masrul pun tak terbendung akhirnya dia
menceraikan istrinya dan pulang ke Bukittinggi. Kedatangannya di Bukittinggi,
dihormati dan dihargai walaupun ia telah mengecewakan banyak pihak baik dari
keluarga Rasmani, keluarganya sendiri ataupun keluarga Aminah yang jelas-jelas
telah membuat sebuah harapan pada Aminah untuk menikahinya.
Masrul sering kali mengunjungi rumah Rasmani. Suatu saat, ia
mengungkapkan perasaan isi hatinya pada Rasmani dan ia pun membuat sebuah
harapan lagi pada Rasmani untuk menikahinya kalau ia sudah berpenghasilan.
Dengan niatnya itu, Masrul pun memutuskan pergi ke Medan. Namun,
keputusannya tidak direstui oleh Rasmani. Di Medan, berhari-hari ia tak kunjung
mendapatkan pekerjaan yang tetap. Akhirnya, dia memutuskan untuk membuat
sepucuk surat yang isinya bahwa dia telah kembali kepada istrinya di Painan
karena anaknya sakit-sakitan dan kedua orangtuanya meninggal. Kabar itu
membuat Rasmani terkena serangan jantung. Beberapa hari kemudian, Rasmani
menerima surat berisikan bahwasanya isi surat yang sebelumnya itu bohong besar.
Jantung Rasmani sangat lemah. Ia pun sakit-sakitan. Dalipah, kakak Rasmani
membuat surat pada Masrul untuk pulang ke tanah kelahirannya menjenguk
Rasmani. Namun, sangat disayangkan saat ia pulang ke tanah kelahirannya
seorang gadis yang akan menikah dengannya telah tiada. Rasmani telah
meninggal. Dengan penuh rasa sesal dan dosa ia pergi ke kuburan Rasmani. Ia
menangis sedu sedan. Ia merasakan penyesalan di ujung kisah percintaannya
dengan Rasmani.
Novel ini terasa konvensional. Pembaca seolah-olah ikut terjun di
dalamnya, merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh dalam novel ini.
Berawal dari sebuah persahabatan yang karib sampai pada percintaan yang
memilukan. Terdapat amanat yang diselipkan berupa bentuk puisi seperti pantun
dan gurindam. Cerita dalam novel ini pun berani mendobrak kebiasaan adat
setempat yaitu ”kawin paksa”. Penamaan tokohnya pun sangat kental dan khas
dengan daerahyang diceritakan. Penuturan bahasa penulis masih terpengaruh dan
bernuansa melayu sehingga menjadikan novel ini memiliki ciri khas yang unik.
Sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh Rasmani menggambarkan kaum hawa yaitu
perasa dan penyabar. Selain itu, hubungan masyarakat yang satu dengan yang
lainnya sangat erat. Tidak tampak rasa keindividulisme, tergambar oleh sikap
keluarga Rasmani dan Aminah. Sekali pun keluarga Masrul telah mengecewakan,
namun keduanya masih menjalin sikap harmonis terhadap keluarga Masrul.
Penuturan bahasa yang diucapkan para tokoh pun lembut, ramah dan sopan.
Meskipun digunakan untuk menyidir seseorang namun tetap sopan dan lembut.
Kendati novel ini mengundang pujian dari banyak pihak, penggunaan
bahasa yang digunakan cenderung bertele – tele tidak langsung pada pokok
permasalahan. Sampul buku (cover) tidak cukup menarik. Boros dalam
penggunaan kata. Masih menggunakan kata ganti sapaan dalam bahasa melayu,
yang terkadang sukar di pahami oleh masyarakat awam misalnya Engku, Mamak
dan sebagainya. Sikap yang ditunjukkan oleh Masrul tidak sesuai dengan ajaran
agama, karena terlalu gampang untuk mengucapakan kata JANJI dan suka
berjudi. Selain itu, Masrul terlalu mempermainkan perasaan kaum hawa, sehingga
menimbulkan dampak negatif . Masrul tidak memiliki sikap dan pendirian yang
kuat sebagai pemimpin keluarga. Sehingga dengan mudahnya, ia dicemoohkan
dan caci maki oleh istrinya sendiri. Tak ada dalam dirinya jiwa pemimpin
meskipun dia berpendidikan tinggi. Disini juga Masrul dapat disebut sebagai
pembohong dan munafik karena tingkah lakunya yang tidak konsekuen dan tak
sejalan dengan isi hatinya.
Terlepas dari itu, novel ini dianggap sebagai awal pertumbuhan sastra
Indonesia di tahun 1920-an. Tak heran, novel ini banyak disegani oleh lapisan
masyarakat pada tahunnya bahkan mungkin sampai saat ini. Karena cerita atau
kisahnya sering kali terjadi di kehidupan kita, yaitu Kawin Paksa. Menurut para
orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya itu tidak salah bahkan wajar, namun
menurut para kaum remaja, ini merupakan tindakan paksaan. Karena bagi kaum
muda, mereka menginginkan kebebasan dalam pemilihan jodoh. Karena
merekalah yang akan merasakan dan menanggung segala resiko dalam kehidupan
rumah tangganya. Makanya, mereka menginginkan adanya keseimbangan antara
persoalan cinta dengan persoalan yang bersifat duniawi dan akhirat. Namun pada
intinya, mau dengan cara apapun kelak kalau usia kita telah mencapai kriteria
dewasa atau kriteria untuk menikah, kita akan menikah juga. Karena menikah itu
merupakan suatu kewajiban bagi seluruh insan manusia dan diwajibkan bagi
seluruh agama. Dalam agama Islam, rasul bersabda : barang siapa yang tidak
menikah maka dia bukan umatku. Sebagai manusia dibutuhkan dan diperlukan
prinsip dan pendirian yang kuat, agar dapat menjalankan kehidupan hidupnya
dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
PERJUANGAN SEPULUH ANAK BELITUNG

Judul : Laskar Pelangi


Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tempat & tahun terbit : Yogyakarta, 2005
Jumlah halaman : 529 halaman

Genre cerita ini merupakan sebuah roman yang pertama di karang oleh
Andrea Hirata. Pengarang novel ini memiliki nama lengkap Andrea Hirata Seman
Said Harun. Beliau terkenal karena hasil karyanya dalam novel Laskar Pelangi
mendapat julukan best seller. Tidak hanya itu, banyak karya lain yang ditulis
olehnya diantaranya : Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Andrea
Hirata adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi
Bangka Belitung. Sehingga mudah bagi dirinya untuk menceritakan secara
gamblang kondisi geografis dan keadaan masyarakat terpencil seperti pulau
Belitong.

Berawal dari sebuah sekolah Muhammadiyah yang berada di desa


Gantung, Belitung Timur yang ingin dibubarkan oleh Depdikbud Sumatera
Selatan apabila jumlah siswa yang daftar tidak mencapai angka 10. Saat itu,
jumlah siswa yang daftar baru mencapai angka 9. Sembilan siswa tersebut beserta
orangtua mereka menghadiri sebuah upacara di mana isi dalam pidato upacara
tersebut menyampaikan bahwa sekolah Muhammadiyah akan dibubarkan jikalau
jumlah siswa pendaftar tidak mencapai 10 siswa. Semua kecewa dan cemas.
Sesaat ketika Pak Harfan selaku kepala sekolah Muhammadiyah hendak menutup
pidatonya tampaklah sesosok perempuan tua dan anak laki-lakinya berteriak.
Anak laki-laki itu adalah Harun dan ibunya yang berniat untuk mendaftarkan
anaknya.

Di sekolah Muhammadiyah inilah Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A kiong,


Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun menuntut ilmu dan memulai cerita
seru mereka yang penuh dengan keterbatasan. Mulai dari penempatan tempat
duduk kesepuluh siswa, perjumpaan mereka dengan Pak Harfan selaku kepala
sekolah, perkenalan mereka yang sangat amat kocak di mana A Kiong tebar
pesona ketika ditanyakan namanya oleh Bu Mus. Kemudian kejadian bodoh dan
aneh yang dilakukan oleh Borek, lalu kegemaran Kucai yang senang protes ketika
pemilihan ketua kelas karena sejak kecil telah tampak dalam dirinya jiwa politikus
makanya tak heran kini dia menjadi seorang ketua kelas, kejadian ditemukannya
bakat penyanyi dalam diri Mahar yang tanpa sengaja diketahui oleh Bu Mus
ketika Mahar diperintah menyanyi di depan kelas saat jam mata pelajaran seni,
lalu pengalaman cinta pertama Ikal pada A Ling sepupu A Kiong yang disaksikan
oleh Syahdan dan berakhir karena A Ling harus pergi ke Jakarta untuk menemani
bibinya, selanjutnya pertengkaran A Kiong dengan sahara yang berawal saat
masuk sekolah, kejenakaan Harun yang selalu bercerita tentang kucingnya yang
berbelang tiga, sampai pada pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda
pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.
Karena kesenangan kesepuluh siswa tersebut terhadap pelangi, maka
secara tidak sengaja kesepuluh siswa tersebut diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu
Mus, guru mereka. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengharumkan nama
sekolah mereka. Mulai dari acara karnaval 17 Agustusan yang dimenangkan oleh
Mahar, Kejeniusan Lintang dalam menghadapi Drs. Zulfikar, guru sekolah
ternama dan kemenangan mereka dalam lomba cerdas cermat. Suatu saat sekolah
Muhammadiyah kedatangan seorang siswa baru pindahan dari sekolah PN yang
terkenal. Siswa pindahan itu bernama Flo. Dia seorang anak tomboi yang berasal
dari keluarga kaya. Dan ternyata kedatangan Flo menimbulkan kekacauan dengan
cara mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga terpaksa Trapani harus
pindah. Dibalik kelakuannya terhadap Trapani, terselip bahwa dia melakukan hal
itu karena ingin berdekatan dengan Mahar yang terkenal dengan ketampanannya
dan ia tak ingin didebat. Kehadiran Flo tidak dapat memecahkan persahabatan
Laskar Pelangi. Banyak kisah yang mereka arungi canda tawa suka duka mereka
lalui bersama. Namun sayang, suatu ketika persahabatan mereka berakhir setelah
ayah Lintang meninggal dan Lintang pun terpaksa putus sekolah karena ia
bertanggung jawab untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Beberapa
tahun kemudian mereka tumbuh menjadi seoarang manusia dewasa yang penuh
dengan harapan dan cita-cita. Kegigihan dan semangat mereka yang membawa
mereka ke depan gerbang kesuksesan. Syahdan yang jarang muncul tiba-tiba
memberi kejutan. Tanpa terbayangkan oleh kawan-kawannya Syahdan kini
menjadi seorang network designer. Kucai yang dikenal sebagai politikus kini
menjadi seorang ketua fraksi DPRD Belitong. lalu Ikal kembali dari
perjuangannya di luar pulau menuju ke tanah kelahirannya Desa Gantung,
Belitung Timur.
Novel ini sangatlah terkenal dan merupakan novel terlaris sepanjang
sejarah Indonesia. Karena didalamnya terdapat point-point yang dapat dijadikan
sebagai sebuah pelajaran kepada kita. Persahabatan yang dipertunjukkan luar
biasa. Cinta monyet anak sekolah dasar yang indah dan mengharukan. Makna
takdir yang tak dapat disangka dan diperkirakan oleh semua insan manusia. Lalu,
ketegaran mereka dalam menjalani kehidupan yang serba terbatas. Latar yang
diambil diluar pemikiran kita, karena tanpa disadari oleh kita dengan begitu
luasnya lahan dan pulau di Indonesia ternyata terdapat sebuah pulau yang masih
memiliki masyarakat serba terbatas. Di mana mereka tidak dapat merasakan
fasilitas pendidikan. Sementara kita, rakyat berkecukupan seenaknya menyia-
yiakan fasilitas pendidikan yang ada. Kehidupan mereka ironis, namun mereka
tetap semangat dan berjuang serta mereka dapat merasakan masa anak-anak SD
layaknya kita saat masa sekolah dasar. Bermain, bercanda gurau, berpendidikan
dan aktivitas lainnya. Jiwa sosial mereka sangat tinggi, tak tampak dalam diri
mereka sifat individualisme. Perjuangan cinta yang dilakukan oleh Ikal kepada A
Ling sangat indah dan harmonis, meskipun akhirnya memilukan karena kepergian
A Ling ke Jakarata. Selain itu, siapa sangka hasil didikkan Bu Mus dan Pak
Harfan yang berbuah manis menjadikan Mahar menjadi seorang seniman dan
Lintang menjadi seorang ilmuwan cilik. Tidak hanya sampai disitu, kebodohan
dan kekocakan anak Belitung yang khas juga nampak jelas. Tampilan muka
novelnya pun sangat menarik dan inovatif. Sehingga membuat para pembaca
segan untuk memiliki dan membacanya. Sebagian bahasa yang digunakan
menarik dan mudah dipahami. Dia mencipta satu keyakinan kita bahwa ilmu itu
dibina daripada cinta dan pengorbanan yang sangat besar
Tidak hanya sisi keunggulannya saja di dalam novel ini terdapat beberapa
sisi kelemahannya diantaranya penuturan penyampaian cerita yang terkadang
bertele-tele. Timbulnya rasa keanehan dan kebingungan karena anak sekolah
dasar menggunakan kata-kata ilmiah sehingga terkadang sukar dipahami.
Penuturan gaya bahasanya cenderung bersifat metafora.Ciri khas penulis Andrea
Hirata yang selalu melompat-lompat dalam penyampaian cerita sehingga
membuat masyarakat awam bingung.
Kesimpulannya adalah bahwasanya kita butuh perjuangan untuk mencapai
suatu cita-cita yang kita inginkan dengan berbagai cara selama kita tetap pada rel
yang benar dan tidak melangar aturan yang ada. Dengan segala keterbatasan yang
kita miliki, baik materil maupun non materil akan tetap menjadikan sebuah
motivasi untuk kita berjuang dan ingat Pintu Kesuksesan adalah niat, cinta,
disiplin, kegigihan dan doa.
ANAK SEORANG PEJUANG

Judul : Robert Anak Surapati


Penulis : Abdoel Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Tempat & tahun terbit : Jakarta, 2001
Jumlah halaman : 134 halaman
Ilus : 21 cm

Novel fiksi yang ditulis oleh Abdoel Moeis ini merupakan cetakan
keempat belas oleh penerbit. Novel ini dikhususkan untuk bacaan diatas umur 16
tahun. Riwayat ini pada awalnya terjalin di dalam buku “Surapati”. Namun, dalam
novel berjudul Robert Anak Surapati ini merupakan kisah lanjutan. Abdoel Moeis
adalah seorang satrawan dan wartawan Indonesia. Dia pernah bekerja sebagai
klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung
pada surat kabar Belanda, Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji
Agus Salim. Dia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum
mendirikan surat kabar Kaoem Kita pada 1924. Selain itu ia juga pernah aktif
dalam Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama
(1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan
Perjuangan Priangan. Banyak hasil buah karyanya di negeri ini. Semangat juang
beliau yang membuat beliau terkenal di jagad raya.

Novel ini menceritakan anak seorang budak belian di jaman kolonel


Belanda dulu yang bernama Robert dan ayahnya bernama Untung Surapati.
Semenjak kepergian ayahnya ke alam baka, kehidupan Robert dan ibunya
sangatlah sengsara. Ketika Robert berusia satu tahun ibunya meninggalkannya.
Dan saat itu pula, van Reijn dan istrinya datang sebagai rasa iba pada anak yang
ditinggalkan ibunya itu dan diangkatlah ia sebagai anak angkatnya. Namun
sebelum ibu Robert meninggal, ia menitipkan sepucuk surat untuk Robert kepada
van Reijn dan surat itu diminta untuk dibuka dan dibacakan oleh Robert saat
usianya 21 tahun. Robert pun diasuh oleh van Reijn dengan penuh kasih sayang.
Van Reijn termasuk keluarga terpandang di kotanya. Namun sangat disayangkan,
kasih sayang itu disalahgunakan oleh Robert. Kini Robert bergaul dengan sampah
di kota Amsterdam. Dia sering kali mabuk dan bermain judi. Saat ia pergi ke pesta
Digna, kekasihnya. Ayah angkatnya, Van Reijn meninggal dunia. Ia pun tak
sempat mengucapkan maaf pada ayah angkatnya itu. Sebuah surat berisikan
bahwasanya dirinya bukanlah anak dari keluarga terpandang yang selama ini telah
membesarkannya. Kini, rasa gundah terasa menyelimuti dirinya. Terlebih saat
dirinya di usir oleh Gerard van Reijn adik van Reijn karena tidak ada hak atas
kekayaan van Reijn. Saat itu, dia menemukan sebuah surat dari Suzane dan di
bacalah surat itu. Selesai itu, dirinya yakin bahwa dia bukan darah daging van
Reijn. Dia sangat kecewa dan pikirannya menjadi kacau balau.

Untuk menebus kekecewaannya, ia rela menjual kepalanya kepada bangsa


Indonesia untuk menjadi mata-mata belanda dan dikirimlah dia ke tanah Jawa.
Sesampainya di Pulau Jawa, dia berjumpa dengan Digna yang saat itu telah
memiliki suami bernama Vorneman. Di tanah Jawa, Robert terus dan terus dihasut
oleh Digna bahwasanya bangsa Indonesia terutama pasukan Surapati telah banyak
menyengsarakan bangsa Belanda. Terlebih ketika ayahanda Digna yaitu kapten
Tack meninggal dunia saat perang melawan pasukan Surapati. Mendengar hasutan
Digna, tanpa pikir panjang Robert menyamar menjadi seorang pedagang biasa dan
ia berhasil masuk ke markas pasukan Surapati. Tak lama kemudian, Robert
tertangkap oleh pasukan Surapati. Di tempat itu pulalah, penyamaran Robert
terbongkar dan diketahuilah bahwa dia adalah anak Surapati dan Suzane. Sejuta
cara dilakukan untuk membujuk Robert agar membela bangsa Indonesia bahkan
Raden Gusik istri kedua Surapati pun ikut membujuknya. Sayang, rayuan-rayuan
itu digubiskan oleh Robert. Kini, Robert telah bergabung dengan bangsa Belanda.

Kelebihan yang dipancarkan adalah kebaikan hati dan kesabaran sebuah


keluarga ternama kepada anak angkatnya. Segala upaya mereka lakukan untuk
membahagiakan anak angkatnya. Namun sayang segala kebaikkannya tak dibalas
baik oleh Robert, karena sifatnya yang keras kepala, arogan, dan mudah di hasut
oleh pacarnya Digna. Sifat penyabar yang tonjolkan oleh Surapati beserta
keluarga untuk membujuk Robert agar membela tanah kelahiran ayahnya yaitu
Indonesia. Peperangan yang begitu hebat yang dilakukan oleh anak Surapati dari
istri keduanya dengan Robert anak Surapati dari istri pertamanya.

Kekurangannya adalah sikap durhaka seorang anak kepada kedua


orangtuanya yang terlalu berlebih-lebihan sehingga menimbulkan dampak negatif.
Sikap keras kepala yang dimiliki oleh Robert meskipun dia telah diberi amanat
oleh ayahnya. Tidak hanya sifat keras kepala saja, sifat arogan pun telah
mendarah daging dalam dirinya. Sikap mudah dihasut, menjadikan dirinya
bagaikan setan yang haus akan kesenangan dan kejayaan. Sikap menghasut yang
dilakukan oleh Digna karena faktor balas dendam dapat timbul efek minus pada
pandangan sifat wanita. Karena pada umumnya, sifat kaum hawa adalah lembah
lembut dan penyabar. Namun, tidak untuk Digna. Rasa dendam telah timbul
dalam dirinya semenjak dia mengetahui bahwa orang yang telah membunuh
ayahnya adalah ayahanda Robert, pacarnya dahulu. Oleh karena itu, ia melakukan
hal itu. Rasa dendam itu telah membakar hatinya sehingga, ia kini menjadi arogan.

PEJUANG TANGGUH

Judul : Surapati
Penulis : Abdoel Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Tempat & tahun terbit : Jakarta,
Jumlah halaman : 307 halaman
Ilus : 21 cm

Novel berjudul Surapati ini dapat dikatakan sebagai novel sejarah. Dimana
dalam novel ini menceritakan kejayaan masa lampau, masa para kolonel Belanda
menjajah tanah air kita Indonesia. Semasa hidupnya Abdoel Moeis terus berkarya
dan berjuang melawan para penjajah. Riwayat perjuangannya seperti yang
diinformasikan di dalam sebuah situs internet saat ini diawali ketika beliau berani
mengencam tulisan orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia
melalui tulisannya dalam harian De Express, kemudian beliau bersama Ki Hajar
Dewantara mentang rencana pemerintah Belanda dalam perayaan 100 tahun
kemerdekaan Belanda, lalu pada tahun 1922 di daerah Yogyakarta beliau sebagai
pemimpin dalam pemogokan buruh , dan berupaya untuk mendirikan sebuah
perguruan tinggi yang kini dikenal dengan perguruan tinggi Institut Teknologi
Bandung (ITB) dengan cara mempengaruhi para tokoh Belanda.
Berawal dari jiwa seorang budak belian di jaman kolonel Belanda yang
bernama Untung Surapati yang ingin membela dan memperjuangkan bangsanya
bangsa Indonesia dari para penjajah. Saat itu, beliau bekerja sebagai budak oleh
seorang warga Belanda bernama Edeler Moor. Keluarga Edeler Moor memiliki
seorang gadis cantik. Karena Edeler Moor sibuk dengan pekerjaanya, Suzane
putrinya pun merasa kesepian dia merasakan kurang perhatian dari sang ayah.
Akhirnya Edeler Moor mempercayakan untung untuk menjaga putri cantiknya dan
untung pun senantiasa melindungi dan menjaganya. Mereka bagaikan kakak yang
melindungi adiknya. Namun, kebersamaan mereka yang telah lama terjalin
membuahkan benih-benih cinta diantara keduanya dan mereka mengutarakannya
satu sama lain. Mereka pun menikah diam-diam karena ayah Suzane merasa malu
memiliki menantu dari kaum beda warna dengan bangsanya. Tak lama kemudian,
Edeler Moor mengetahuinya. Untung dipenjara sedangkan putrinya dibuang ke
suatu pulau yang ketika itu sedang mengandung.
Di dalam penjara itulah semangat juang Untung untuk melawan Belanda
tumbuh dan ia berniat akan menghapuskan sistem perbudakan. Dengan mengajak
dua pria bernama Kiyai Ebun dan Wirajuda. Untung dan kawan-kawannya kini
menjadi burunan tentara Belanda. Dalam suatu pelarian, Untung tertangkap oleh
pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Ruys. Kapten Ruys membuat
penawaran kepada Untung jikalau ia ingin diampuni maka ia harus membawa
Pangeran Purbaya. Tak hanya itu, Untung pun ditawarkan posisi menjadi Letnan.
Untung pun mencari dan pada kenyataannya Pangeran Purbaya ingin
menyerahkan diri kepada Belanda. Dalam perjumpaannya dengan Pangeran
Purbaya, Untung tersandung percintaan dengan Raden Gusik Kusuma istri kedua
Pangeran Purbaya. Semangat juang Raden Gusik Kusuma pada bangsa Indonesia
ternyata berbuah sebuah perceraian dirinya dengan Pangeran Purbaya karena ia
mengetahui bahwa Pangeran Purbaya ingin menyerahkan diri pada Belanda.
Untung merasa bingung mengingat bahwa dirinya memiliki seorang istri dan
seorang anak laki-laki berumur satu tahun. Namun, mendengar bahwa istrinya
menginginkan Untung menjadi warga Belanda berubah pikiranlah Untung.
Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya itu dan menikah
dengan Raden Gusik. Mereka dikaruniai tiga orang putra yaitu Pengantin,
Surapati dan Raden Surodilogo. Keluarganya yang baru ini membawa sebuah
barokah dimana di Pasuruan wilayah yang ia pimpin mengalami sebuah kejayaan.
Ia berhasil memperluas kekuasaanya. Belanda pun mulai ketakutan. Segala cara
Belanda lakukan untuk mengancurkan kerajaan-kerajaan di Jawa. Usaha Belanda
pun berhasil. Untung Surapati meninggal karena lambungnya terkena hunjaman
tombak ketika melawan Belanda. Sebelum meninggal, Untung menginginkan
Robert anak dari Suzane untuk berpihak pada bangsa Indonesia. Namun sangat
disayangkan Robert berkhianat ia malah berpihak pada Bangsa Belanda.
Kemudian di akhir novel ada dialog antara dua orang anak Surapati itu yaitu
antara Robert dan Pangantin. “Mudah-mudahan janganlah Tuhan dikemudian hari
mempertemukan kita di medan perang!”.
Tepat sekali kalau novel ini termasuk novel sejarah seperti yang dikatakan
banyak pihak. Banyak point-point yang dapat dijadikan amanat untuk bangsa ini
kedepannya. Bahasa semangat yang menggebu-gebu membuat kita sebagai para
pembaca seolah-olah merasakan semangat perjuangan yang dipancarkannya.
Memaparkan secara jelas kedudukan seorang budak dan seorang raja. Jiwa
kebangsaan yang dimiliki oleh Untung sangat tampak meskipun dia seorang
budak dan meskipun nyawa sebagai taruhannya. Asalkan kebebasan negeri ini
terwujud. Peperangan yang dialami oleh Untung dan kawan-kawannya
memberikan gambaran kepada kita sebagai generasi penerus. Berkaitan dengan
cinta, didalam novel ini menjelaskan bahwa cinta itu lahir tak pandang
kedudukan, ras, suku dan derajat seseorang. Disini cinta bersifat universal. Tak
seorang pun yang dapat memungkirkan kehebatan dan keajaiban cinta. Cinta dan
kasih sayang yang diberikan Untung kepada Suzane menjadikan Suzane
diasingkan ke negeri kincir angin. Sejauh apapun mereka dipisahkan namun anak
yang telah dikandung Suzanne yaitu Robert tetap berjumpa kembali dengan ayah
kandungnya sendiri. Meskipun Robert tak satu prinsip dengan dirinya. Sikap
Untung yang tegas, berprinsip, dan berpendirian yang kuat membuat dirinya rela
untuk meninggalkan istri dan anaknya yang tidak satu prinsip dengan dirinya.
Sikapnya inilah yang memberikan gambaran dan contoh kepada kita apakah ini
jiwa seorang pejuang?. Sangat luar biasa. Mungkin saat ini dengan semakin
canggihnya teknologi, kita jarang menjumpai sesosok pejuang seperti beliau.
Dewasa ini, yang sering kita jumpai adalah para pejabat tinggi yang seenaknya
melakukan tindak korupsi tanpa memandang tangis dan jerit rakyatnya yang haus
akan kecukupan fasilitas dan keamanan hidup. Rasanya saat ini, kita jauh
merasakan kenyamanan dari hasil kinerja para pejabat tinggi. Beda halnya dengan
sikap Untung seorang budak, tewas dengan rasa kebanggaan dalam dirinya.
Daripada para pejabat tinggi yang tewas dengan rasa kegelisahan atas apa yang
telah ia perbuat di dunia.
Kekurangan dalam novel ini adalah terselipnya kata-kata dari bahasa
Belanda. Sikap dan perlakuaan bengis yang ditunjukkan para penjajah kepada
para budak terlalu gamblang. Dalam novel ini juga memaparkan ciutnya seorang
pangeran oleh bangsa Belanda, padahal Untung yang jelas – jelas dia seorang
budak tetap pada pendiriannya yaitu Berjuang Demi Bangsa dan tak ada rasa ciut
sedikit pun yang ada hanya semangat yang berkobar-kobar dalam dirinya. Dengan
perlakuan kejam Edeler Moor terhadap putrinya sehingga ia diasingkan, maka
membuat derajat kaum wanita menjadi tertindas. Sikap angkuh yang dimiliki oleh
Edeler Moor membuat putri kesayangannya diasingkan karena dirinya malu
memiliki menantu dari kalangan rendah apalagi budak belian. Edeler Moor hanya
menginginkan putrinya mendapatkan kebahagian dengan suami yang mapan dan
sederajat dengan keluarganya. Namun, Tuhan berkehendak lain putrinya malah
jatuh cinta pada seorang budak belian yang bekerja bersama dirinya.

BUDAYA KABUPATEN CIREBON

Judul : Tradisi Kliwonan Gunung Jati Model Wisata Religi


Kabupaten Cirebon
Penulis : Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M.A
Penerbit : Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Cakrawala
Tahun terbit : Oktober 2007
Jumlah halaman : 220 halaman
Ilus : 150 x 21 cm

Buku bacaan yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M.A ini
merupakan cetakan pertama. Buku ini sebagai wujud realisasi dan kelajutan hasil
dialog penulis pada saat bedah buku Tradisi Kliwonan di Gedung Pertemuan
Grage Mall Kota Cirebon. Sejak usia muda, penulis sudah aktif mengabdikan diri
dalam kegiatan sosial.
Dengan berbagai ilmu yang ia dapatkan, banyak karya beliau yang sempat
ditulis sebagai bahan perkuliahan dan penelitian. Beliau pun pernah mendapatkan
penghargaan Satya Lencana oleh Presiden Republik Indonesia tahun 2000 dan
buku ini merupakan karya beliau yang ditulisnya tahun 2001.
Sililah Sunan Jati Maulana Syarif Hidayatullah bersumber dari turunan
Prabu Siliwangi. Pernikahan antara Sri Baduga yang bergelar Prabu Siliwangi
dengan Nyai Subanglarang seorang santri dari pondok pesantren kuno, melahirkan
keturunan tiga orang putera, yakni Pangeran Walangsungsang, Nyai Ratu Lara
Santang dan Raja Sengsara. Ketika mereka dewasa, mereka tergerak untuk
memperdalam agama islam dan berniat mengembara mencari guru. Tahun 1422
M Pangeran Walangsungsang bertemu dengan seorang pertapa Budha bernama
pendeta Danuwarsih kemudian pangeran dinikahkan olehnya dengan putrinya Nyi
Endang Geulis.
Atas nasehat gurunya Syekh Nurjati, Pangeran bersama Nyi Rara Santang
(adiknya) berangkat menunaikan haji ke tanah suci. Selesai itu, mereka bertemu
dengan Patih Kerajaan Mesir Jamalullail yang kebetulan sedang mencari
pengganti permaisuri yang wafat. Akhirnya, Nyi Rara Santang dijadikan
permaisuri Sultan Mesir dengan menerima gelar Syarifah Mudaim. Dari
pernikahan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sejak kecil
Syarif Hidayatullah cenderung lebih menekuni pendalaman ajaran islam. Pada
usia muda beliau bertolak ke Jawa dan singgah di Samudera Pasai, Banten dan
Cirebon. Setiba di Cirebon, beliau disambut oleh Syekh Maulana Jati dan
disediakan tempat di sekitar Gunung Sembung yang dikelilingi pohon jati, karena
itu beliau dikenal sebagai Sunan Gunung Jati setelah diangkat oleh Pangeran
Cakrabuana menjadi Tumenggung memerintah Negara Caruban. Kemudian hari,
beliau diberi amanat untuk memimpin kerajaan Cirebon oleh Pangeran
Walangsungsang Cakrabuana dan dinikahkan dengan putrinya bernama Ratu Mas
Pakungwati.
Setelah itu, beliau menyiarkan agama islam di negeri Tartar Cina dan
disana beliau menyamar menjadi rakyat biasa. Dalam perjalanannya menyiarkan
agama islam, beliau dihadapkan oleh persoalan putri kaisar bernama Nio Ong
Tien yang berpura-pura mengandung. Disini, kesaktian Sunan dipertunjukkan.
Kaisar dan putrinya pun terkejut. Akhirnya kaisar mengizinkan putrinya untuk
menikah dengan Sunan Gunung Jati. Dari beberapa kisah perjalanan Sunan
Gunung Jati menyebarkan agama islam di lingkungan masyarakat Jawa yang
semula banyak menganut ajaran Hindu Budha, dapat dimengerti jika pada
akhirnya terjadi sinkretisme budaya dalam praktek ajaran agama, termasuk tradisi
kliwonan yang dianggap bersumber dari hasil perpaduan tersebut.
Tradisi Kliwonan Gunung Jati adalah kebiasaan perilaku masyarakat dan
kelompok umat Islam khususnya, mengunjungi makam Sunan Gunung Jati
dengan maksud ziarah pada setiap malam Jum’at Kliwon. Di mana Sunan Gunung
Jati merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa Barat. Tradisi ini
dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang yang masih hidup agar menyadari
dirinya bahwa suatu saat nanti ia juga akan meninggal dunia. Menurut ajaran
agama islam pun dibenarkan dan dianjurkan untuk berziarah ke kuburan. Dengan
maksud mengingatkan kepada kita.
Seperti halnya buku-buku lain, buku ini pun terdapat kelemahan dan
kelebihan. Adapun kelebihannya adalah terdapat pandangan masyarakat mengenai
tradisi ini, sehingga memberikan gambaran kepada kita bagaimana kehidupan dan
pandangan masyarakat sekitar dengan adanya tradisi Kliwonan ini. Selain itu,
adanya makna mistik yang menjadikan tradisi Kliwonan Sunan Gunung Jati ini
menjadi unik. Karena menurut juru kunci, ada beberapa orang pengunjung yang
dahulunya non muslim, namun setelah ia berkunjung ke makam Sunan Gunung
Jati kini dirinya berganti alih menjadi seorang muslim. Kelemahan dari buku ini
adalah lebih cenderung menceritakan pro dan kontra mengenai adanya tradisi
Kliwonan Gunung Jati. Pro adanya tradisi ini adalah niat masyarakat berkunjung
ke makam dengan maksud agar mengingatkan kepada kita yang masih hidup
kelak suatu saat kita akan meninggal dunia. Namun, ternyata ada anggapan lain,
bahwa terkadang maksud itu disimpangkan dengan adanya niat untuk
menyekutukan Gusti Allah (musyrik) dengan memuja-muja makam kramat yang
menurut mereka dapat membawa keuntungan, sehingga menimbulkan kontra.
Belum memaparkan secara gamblang sejarah lahirnya tradisi Kliwonan Gunung
Jati. Selain itu, cerita mengenai sejarah lahirnya Sunan Gunung Jati pun masih
mengantung. Buku ini seolah-olah seperti sebuah makalah yang dibukukan. Buku
ini cocok digunakan untuk bahan penelitian. Di sisi lain, buku ini memberikan
kemudahan dalam hal me
Kesimpulan yang kita dapat adalah bahwasanya Tradisi Kliwonan Gunung
Jati ini merupakan adat kebiasaan masyarakat setempat dengan tujuan berziarah
ke makam para tokoh agama islam. Adapun anggapan-anggapan lainnya yang
bersifat negatif , itu terserah pada cara pandang dan niat mereka terhadap tradisi
ini. Namun pada hakikatnya, berziarah ke makam itu dianjurkan oleh agama.

COWOK CANTIK ITU

Judul : Cowok Cantik Itu


Penulis : Andra P. Daniel
Penerbit : Balai Pustaka
Tempat & tahun terbit : Jakarta, 2001
Jumlah halaman : 91 halaman
Ilus : 21 cm
Andra P. Daniel adalah seorang lulusan Akademi Hubungan Internasional
kemudian ia melajutkan pendidikannya pada jurusan teknologi pendidikan di IKIP
Jakarta kini Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pada tahun 1976 ia berkecimpung
dalam dunia tulis menulis. Berawal dari menulis beberapa puisi lalu meningkat ke
cerpen dan laporan perjalanan. Banyak karya satra Andra yang dimuat oleh media
massa. Termasuk didalamnya buku kumpulan cerpen yang berjudul ”Cowok
Cantik Itu”.
Buku kumpulan cerpen ini berisi 16 judul cerpen terbaik. Berawal dari
judul cerpen Cowok Cantik Itu yang mengisahkan seorang anak laki-laki tulen
kelas lima SD pindahan Yogyakarta bernama Uke. Sifat, portur tubuh, dan
tingkah lakunya yang agak kemayu bagai seorang putri cantik di istana sentris
yang meyakinkan bahwasanya dia adalah cowok cantik alis banci. Hampir seisi
kelas mengejeknya demikian termasuk teman dekat Mindo. Secar fisik Mindo
seorang wanita yang beda jauh dari Uke. Ia gendut, hidungnya pesek, dan bibirnya
agak tebal. Melihat Uke yang selalu disudutkan oleh teman-temannya, ia pun
merasa simpati. Saat pelajaran olahraga, Mindo menyuruh Uke untuk bermain
sepak bola namun, Uke tidak mau dan dipaksalah Uke. Di lapangan sepak bola
Uke semakin di ledek oleh teman-temannya. Uke lari keluar lapangan dan Mindo
ikut mengejarnya. Mindo menceritakan maksud dia melakukan itu hanya untuk
membuktikan pada teman-teman bahwa Uke bukan banci. Mendengar perkataan
itu, Uke pergi. Tahun berikutnya mereka SMP dan beda sekolah. Saat
pertandingan bola basket, Mindo merasa terkejut ketika namanya disebut oleh
laki-laki tegap dan lelaki itu adalah Uke. Kini, Uke bukanlah seorang banci portur
tubuhnya yang dulu berubah drastis kini Uke seperti anak pemain basket yang
diidam-idamkan kaum hawa.
Kan Kudekap Laramu, Dinda itulah judul pada cerpen no sembilan.
Agil dan Cakra adalah kakak beradik. Mereka anak yatim yang ditinggalkan
ayahnya saat Agil berumur empat tahun. Tengah malam, Agil merintih kesakitan
menahan sakit perutnya. Esokan harinya Agil dibawa oleh ibu ke puskesmas. Kata
dokter puskesmas, besok atau lusa penyakitnya akan sembuh. Selang beberapa
hari, penyakit Agil kambuh dan dicarikannya seorang dokter oleh Cakra. ”Agil
menderita sakit ginjal dan besok pergilah ke RSCM untuk mencuci ginjal serta
bawalah surat pengantar ini untuk keringanan biaya.” ujar dokter tersebut.
Keesokan harinya, mereka pergi sementara Cakra pergi ke rumah Arief kawannya
untuk membimbing adik-adik Arief. Sesampainya dirumah, Cakra menanyakan
pada ibu mengenai kondisi Agil. ”Agil harus dioperasi, Ra. Rencananya dua bulan
lagi. Ia memerlukan donor ginjal. Begitu kata dokter tadi!”