Anda di halaman 1dari 12

JURNAL PRAKTIKUM

FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


“Infus Glukosa”

DOSEN PEMBIMBING:
Ginanjar Putri Nastiti, S. Farm., M. Farm., Apt

DISUSUN OLEH:
Devi Endah Safitri
1702050074

D3 FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan
steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta
sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.
Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi
relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari
mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka
kematian mikroba.( Lachman, hal 1254 ).
Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus
intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi
nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang
ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan
untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk
mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan
asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi.
Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain.
Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah
plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh
karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus
intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh
pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat
seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang
isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan
hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi
pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.
1.2 TUJUAN
a. Untuk mengetahui cara pembuatan sediaan steril
b. Untuk mengetahui cara menghitung tonisistas suatu cairan infus
c. Untuk mengetahui cara pembuatan sediaan infus glukosa
1.3 MANFAAT
a. Mengetahui cara pembuatan sediaan steril
b. Mampu menghitung tonisistas suatu cairan infus
c. Mampu membuatan sediaan infus glukosa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 PENGERTIAN
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyeri simplisia nabati
dengan air pada suhu 900 selama 15 menit (FI III).
Glukosa merupakan suatu metabolit yang penting bagi kelangsungan
hidup manusia. Pada pasien pediatri yang dipuasakan, semua cairan rutin yang
diberikan harus mengandung glukosa dengan alasan pada anak hanya sedikit
mempunyai cadangan glikogen dihepar, sehingga bila masuk peroral terhenti
selama beberapa waktu akan dengan mudah menjadi hipoglikemi yang dpaat
berakibat fatal terutama bagi sel otak. Pada anak yang berpuasa akan terjadi
pemecahan glikogen di hati dan otot menjadi asam laktat dan piruvat.
Sehingga untuk menghindari hal tersebut pada pasien pediatri biasanya
menggunakan infus yang mengandung dekstrosa (Smith’s, 1996).
Larutan glukosa dengan kosentrasi 5% sering digunakan untuk deplesi
cairan, dan dapat diberikan melalui vena parifer. Larutan glukosa dengan
kosentrasi yang lebih besar dari 5% merupakan larutan yang bersifat
hiperosmotik dan umumnya digunakan sebagai sumber karbohidrat, serta
larutan glukosa 5%, sering digunakan dalam pengobatan hipoglikemi berat
(Sweetman, 2002).
Dekstrosa digunakan sebagai terapi pada pasien hipoglikemi yang
membutuhkan kosentrsi glukosa dalam darah, hal ini dipenuhi dengan cara
menyimpan dekstrosa yang ada sebagai cadangan gula dalam darah (McEvoy,
2002).
2.2. TONISITAS
Suatu sediaan steril haruslah iotonis. Dimana bisa dikatakan isotonis jika
memiliki nilai osmolaritas (mOsmol/L) pada rentang tertentu.
Osmolaritas Tonisitas
(mOsmol/L
>350 Hipertonis
329-350 Sedikit hipertonis
270-328 Isotonis
250-269 Sedikit hypotonis
0-249 Hypotonis

2.3. SYARAT-SYARAT INFUS


Syarat – syarat infus yang baik adalah :
1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jarinan dan efek toksis
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat
3. Tidak berwarna kecuali meman obatnya berwarna
4. Sedapat mungkin isohidris, ph larut sama dengan darah dan cairan
tubuh yakni 7,4
5. Sedapat mungkin isotonis, artinya mempunyai tekanan osmosis yang
sama dengan darah atau cairan tubuh yang lain tekanan osmosis
cairan tubuh seperti darah, air mata, cairan lubaidenan tekanan
osmosis larutan nacl 0,9%
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari
mikrooranisme hidup patogen maupun non patogen
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat
menimbulkan demam.
2.4 FORMULA
R/ Glukosa 5 gr
NaCl 35 mg
Aqua p.i ad 100 ml

2.5 ORGANOLEPTIS
1) GLUKOSA/ DEKSTROSA
 BM Glukosa: D glukosa monohidrat 198,17
 Pemerian: Hablur tidak berwarna serbuk hablur atau serbuk granula
putih, tidak berbau rasa manis.
 Kelarutan: mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air
mendidih, larut dalam etanol mendidih, sedikit larut dalam alkohol.
 Khasiat: sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis
 Titik lebut: 830C
 Stabilitas: stabil dalam bentuk larutan, stabil dalam keadaan
penyimpanan yang kering, dengan pemanasan tinggi dapat
menyebabkan reduksi pH dan karamelisisasi dalam larutan.
(FI IV hal.300, Martindale 28 hal.50, Excipient hal.154)
2) NaCl
 BM NaCl: 58,44.
 Pemerian: Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur
putih; rasa asin.
 Kelarutan: mudah larut dalam air; sedikit mudah larut dalam etanol
eter mendidih; larut dalam gliserin; sukar dengan etanot.
 Melting poin: 8040C.
 PH stabil infus NaCl: 4,5-7.
 Kegunaan: pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh.
(FI III hal.584, FI IV hal.917,918)
3) Aqua p.i
 Pemerian: Jernih, tidak berwarna, tidak berbau Kegunaan: Pembawa
dan melarutkan
 Alasan pemilihan: karena digunakan untuk melarutkan zat aktif dan
zat-zat tambahan. (FI III hal.112)
BAB III
PREFORMULASI

R/ Glukosa 5 gr
NaCl 35 mg
Aqua p.i ad 100 ml

3.1 ALAT & BAHAN


 Alat:
1) Beaker glass 250 ml
2) Batang pengaduk
3) Corong gelas
4) Gelas ukur 100 ml
5) Timbangan analitik
6) Water bath
7) Kertas perkamen
8) Botol syrup 100 ml @2
9) pH meter
10) Kertas saring
 Bahan:
1) NaCl
2) Aqua p.i/ Aquadest
3) Glukosa
3.2 PERHITUNGAN BAHAN
Sediaan yang akan dibuat adalah 100 ml dalam satu botol infus dan akan
membuat 2 botol sediaan infus, sehingga perhitungan masing-masing bahan
adalah:
 Volume kelebihan
Kelebihan volume injeksi dalam wadah untuk cairan encer lebih dari 50 ml
adalah 2%-5%. (depkes RI,1995)
 Perhitungan Bahan
a. Glukosa 5 gr
 Bahan yang dilebihkan 5 %
= 5% x 5 gr = 0,25 gr
 V = 5 gr + 0,25 gr = 5,25 gr/botol
 Untuk 2 botol = 5,25 gr x 2 = 10,5 gr
b. NaCl 35 mg
 35 mg = 35/1000 = 0,035 gr
 Bahan yang dilebihkan 5%
= 5% x 0,035 = 0,00175 gr
 V = 0,035 gr + 0,00175 gr = 0,03675 gr
 Untuk 2 botol = 0,03675 gr x 2 = 0,0735 gr
c. Aqua p.i ad 100 ml
 Volume dilebihkan 5 %
= 5% x 100 ml = 5 ml
 Volume 1 botol = 100 ml + 5 ml = 105 ml
 Untuk 2 botol = 105 ml x 2 = 110 ml
3.3 PERHITUNGAN TONISITAS

Membuat infus mengandung Glukosa 52,5 g/L dan NaCl 0,3675 g/L

1. Osmolaritas Glukosa
W= 52,5 g/L
n glukosa (C6H12O6) = 1
BM = 198,2
𝑊 𝑋 1000 𝑋 𝑛 52,5 g/L 𝑋 1000 𝑋 1
mOsmol/L = x = =
𝐵𝑀 198,2
52,500
= = 264,88 mOsmole/ L
198,2

2. Osmolaritas NaCl
W= 0,3675 g/L
n NaCl (Na+Cl-) = 2
BM = 58,44
𝑊 𝑋 1000 𝑋 𝑛 0,3675 g/L 𝑋 1000 𝑋 2 735
mOsmol/L = x = = = 58,44 = 12,57mOsmole/L
𝐵𝑀 58,44

3. Total mOsmol/L = mOsmole Glukosa + mOsmole NaCl


= 264,88 + 12,57
= 277,45 mOsmole/L (ISOTONIS)

3.4 METODE/ CARA KERJA


1. Sterilkan Alas meja menggunakan alkohol 70%
2. Kalibrasi botol infus @2 botol, masing-masing ad 100 ml
3. Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan menggunakan oven pada suhu
1210C selama 15 menit
4. Timbang glukosa 10,5 gr, NaCl 0,0735 gr , dan ambil aquadest 110 ml
5. Nyalakan waterbath dan diatur suhu 600C selama 30 menit
6. Larutkan NacL 0,0735 gr pada aquadest 55 ml ad larut
7. Panaskan larutan pada waterbath pada suhu 600C
8. Tambahkan glukosa 10,5 gr dan sisan aquadest ad 110 ml sambil diaduk
sampai larut kurang lebih 15 menit
9. Saring menggunakan kertas saring sebanyak 2-3 kali
10. Uji pH menggunakan pH meter, uji kejernihan, uji partikulat dan uji volume
11. Masukan kedalam botol infus, bagi kedalam 2 botol sama banyak
12. Beri etiket biru pada masing-masing botol
DAFTAR PUSTAKA

1. Lachman, L., H.A. Lieberman, dan J.L.Karing. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Edisi ketiga, Terjemahan: S.Suyatmi, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
2. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
3. Andrew, Jonlee., dan Daniel C. Smith. (1996). In Search of The Marketing

Imagination: Factors Affecting The Creativity of Marketing Program for


Mature Products. Journal of Marketing Research.
4. Sweetan, S. C. 2009. Martindale : The Complete Drug Reference Thirty-Sixth
Edition. London : pharmaceutical press.
5. McEvoy, G. K. 2002. AHFS Drug Information. United State of America:
American Society of Health System Pharmacists.