Anda di halaman 1dari 7

KEGAWAT DARURATAN DALAM KEBIDANAN

 Yaitu, keadaan yang dapat terjadi tiba-tiba, dapat disertai kejang, atau dapat

timbul sebagai akibat dari suatu komplikasi yang tidak ditangani atau dipantau

dengan semestinya.

 Yang termasuk kegawatdaruratan dalam kebidanan

1. Perdarahan dalam kehamilan.

2. Preeklamsia/ Eklamsia

3. Sepsis puerperalis

4. Syok dibidang obstetri

5. Distosia bahu

6. Prolapsus tali pusat

7. Persalinan macet & cephalopelvic disproportion

8. Ruptur uteri

9. Komplikasi kala III dan IV.

 Menghadapi kegawatdaruratan

 Untuk bereaksi terhadap kegawatdaruratan secara benar dan efektif

dibutuhkan anggota-anggota tim medis yang mengetahui peranannya masing-

masing dan bagaimana suatu tim harus berfungsi untuk memberikan reaksi yang

paling efektif terhadap suatu kegawatdaruratan.

 Lanjutan…

 Para anggota tim juga harus mengetahui :

 Keadaan klinis, diagnosis, dan penanganannya

 Kegunaan, pemberian, dan efek samping obat-obatan

 Peralatan gawat darurat dan cara kerjanya.

 Tim Emergency

 Pada kasus gawat darurat yang mengancam jiwa menggunakan simbol warna biru.

Keadaan ini mengharuskan penanganan segera pada ruang resusitasi. Kondisi


darurat tidak gawat merupakan suatu kondisi dimana terjadi gangguan integritas

fisiologis atau psikologis secara mendadak.

 Misalnya pasien dengan dislokasi, nyeri kepala non spesifik dan lainnya. Dalam

Aplikasi pada IGD menggunakan simbol warna kuning.

 Sedangkan kondisi gawat tidak darurat adalah suatu kondisi yang potensial

dapat mengancam jiwa dan dapat merusak fungsi vital organ seperti jantung,

otak dan paru-paru. Contoh kasusnya antara lain acute dyspnea, nyeri abdominal

akut, konfusi (kejang) akut dan lain sebagainya. Pada aplikasi menggunakan simbol

warna merah. (emedicine.com)

Prosedur Umum Penanganan Kegawatdaruratan Beberapa prinsip umum

manajemen kegawatdaruratan adalah yaitu :

1.Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik).

2.Sadar peran petugas kesehatan dalam menghadapi korban dan wali/saksi.

3.Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang

mengancam jiwa (henti napas, nadi tidak teraba, perdarahan hebat, keracunan).

4.Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara

menyeluruh.

5.Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai, lindungi korban dari

kedinginan.

6.Jika korban sadar, jelaskan apa yang terjadi, berikan bantuan untuk

menenangkan dan yakinkan akan ditolong.

7.Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu, memindahkan jika hanya

ada kondisi yang membahayakan.

8.Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan

tindakan anastesi umum dalam waktu dekat.

9.Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai

dilakukan dan terdapat alat transportasi yang memadai


Lima prosedur umum yang memberikan keseluruhan kerangka kerja pada

penanganan pasien kegawatdaruratan :

1.Memeriksa situasi Informasi yang cepat dan tepat harus dikumpulkan dan

diinterpretasikan oleh penolong pertama, terutama mengenai penyebab, riwayat

kejadian, riwayat penyakit pasien termasuk obat-obatan yang telah digunakan.

Bila pengkajian dilakukan dengan cepat pada suatu kasus akan menolong

menentukan prioritas dan mencegah komplikasi yang utama.

2.Menentukan jenis dan kedalam cidera, penyakit atau masalah-masalah. Dalam

menentukan jenis dari suatu kegawatdaruratan, sifat berarti tipe seperti

jantung, paru-paru atau trauma. Kadang hal ini tumpang tindih antara satu sistem

dengan sistem lain seperti jantung paru-paru.

3. Memberikan pertolongan pertama yang tepat Seleksi terhadap prosedur

pertolongan pertama tergantung pada interpretasi data. Pengkajian pasien

dimulai dengan mengevaluasi tanda-tanda vital dan proses yang sangat serius

sampai yang kurang serius, sehingga sistem prioritas yang sama dapat dilakukan

pada pemberian pertolongan pertama. Penanganan kegawatdaruratan yang

mengancam kehidupan harus segera dilakukan lebih dulu.

 4.Memberikan otoritas dan mengatur pemindahan. Penolong pertama sewaktu

memulai pertolongannya harus menginstruksikan orang yang ada disekitarnya

untuk meminta bantuan. Jika penolong sendirian perlu untuk memberikan

pertolongan pertama yang vital bagi kehidupan dan harus dilakukan rujukan ke

rumah sakit yang lebih tinggi bila peralatan dan petugas kurang memadai.

 5.Lengkapi tindakan lanjutan (follow up). Merupakan prosedur-prosedur yang

mendukung, mengganti dan menyertai pertolongan pertama. Mulai dari yang umum

ke perawatan teknis. Pada dasarnya pertolongan pertama harus

mempertimbangkan hal-hal ini sebagai prosedur perawatan lanjutan

a.Mempertahankan jalan napas dan cek tanda-tanda vital.

b.Memberikan rasa nyaman pasien bila mungkin


c.Mempertahankan suhu tubuh

d.Memberikan dukungan mental.

e.Memberikan cairan kecuali kontraindikasi


Kedaruratan kebidanan

pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada
kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut
perdarahan antepartum. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan
antepartum pada trimester ketiga.
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Mochtar, 1998).
Menurut Browne, klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta
melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:

1. Plasenta Previa Totalis


Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi, jelas tidak mungkin
bayi dilahirkan in order to vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan
sangat hebat.
2. Plasenta Previa Parsialis
Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada tempat
implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan biasanya tetap tidak dilahirkan
melalui pervaginam.
3. Plasenta Previa Marginalis
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa dilahirkan pervaginam
tetapi risiko perdarahan tetap besar.
4. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)
Lateralis plasenta, tempat implantasi beberapa millimeter atau cm dari tepi jalan lahir
risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan
pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir
pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.

Etiologi
Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut
berhubungan dengan abnormalitas dari vaskularisasi endometrium yang mungkin disebabkan
oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi. (Mochtar, 1998). Perdarahan
berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga.
Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah
rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim
untuk berkonstruksi secara adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk:

1. Riwayat plasenta previa sebelumnya.


2. Riwayat seksio sesarea.
3. Riwayat aborsi.
4. Kehamilan ganda.
5. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun.
6. Multiparitas.
7. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim, sehingga mempersempit permukaan
bagi penempatan plasenta.
8. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung
telur setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.
9. Adanya trauma selama kehamilan.
10. Sosial ekonomi rendah/gizi buruk, patofisiologi dimulai dari usia kehamilan 30
minggu segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
11. Mendapat tindakan Kuretase.

Patologi
Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang
menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah
letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta
previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin baru
berdarah setelah persalinan dimulai.
Tanda dan Gejala
Gejala Utama
Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar,
tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
Gejala Klinik

1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali
biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu
lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya
rasa sakit.
3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
4. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang
terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan,
sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.

Diagnosis
Untuk mendiagnosis perdarahan diakibatkan oleh plasenta previa diperlukan anamnesis dan
pemeriksaan obstetrik. Dapat juga dilakukan pemeriksaaan hematokrit. Pemeriksaan bagian
luar terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Pemeriksaan inspekulo
bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari
kelainan serviks atau vagina seperti erosro porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri polipus
serviks uteri, varises vulva dan trauma.
Komplikasi Plasenta Previa
Menurut Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,1997,Jakarta.

1. Prolaps tali pusat.


2. Prolaps plasenta.
3. Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan
dengan kerokan.
4. Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan.
5. Perdarahan post portum.
6. Infeksi karena perdarahan yang banyak.
7. Bayi premature atau lahir mati.

Penanganan
Menurut Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo.SpOG. 1997. Jakarta.
Penanganan Pasif
1. Perhatian – Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan
inisial), harus dikirim ke rumah sakit tanpa dilakukan manipulasi apapun. Baik rektal
apalagi vaginal (Eastmon).
2. Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup belum inpartu,
kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin dibawah 2500 gr, maka
kehamilan dapat dipertahankan, istirahat dan pemberian obat-obatan seperti
spasmolitika, progestin atau progesterone, observasi dengan teliti.
3. Sambil mengawasi periksa golongan darah dan menyiapkan donor transfusi darah,
bila memungkinkan kehamilan dipertahakan setua mungkin supaya janin terhindar
dari prematuritas.
4. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil tersangka plasenta previa rujuk segera ke
rumah sakit dimana tedapat fasilitas operasi dan transfusi darah.
5. Bila kekurangan darah, berikanlah transfusi darah dan obat-obatan penambah darah.

Cara Persalinan

1. Persalinan Pervaginam
2. Persalinan perabdominan, dengan seksio sesarea.