Anda di halaman 1dari 5

J. Sains Tek., Agustus 2005, Vol. 11, No.

IDENTIFIKASI PENYEBARAN LIMBAH CAIR DENGAN


MENGGUNAKAN METODE TAHANAN JENIS 3D (MODEL
LABORATORIUM)

Karyanto

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Lampung


Jl. S. Brojonegoro No. 1, Bandar Lampung 35145

E-mail: karyanto@unila.ac.id

Diterima 18 April 2005, disetujui untuk diterbitkan.28 Juli 2005

ABSTRACT

The research on the identification of the liquid waste distribution has been performed using the resistivity
method. A laboratory scale experiment has been performed using a glass tube filled with a variety of media
representing a layered earth-layer which was then injected with the liquid pollutant. The 3D data was taken
using pole-pole configuration in a 7x7 grid size; with the distance of each measurement was 10 cm. The
result showed that the distribution pattern of the pollutant in this model was tend to be horizontal which
centered on the gravel clay in 0.07 – 0.15 m depth. The pollutant was also tend to distribute along the center
of measurement in the layer used.

Keywords: resistivity, pole-pole, pollutant

1. PENDAHULUAN limbah cair dapat dilakukan dengan pengukuran


resistivitas listrik media dengan menggunakan
Limbah cair adalah sampah cair dari suatu metode tahanan jenis. Metode ini pernah dipakai
lingkungan masyarakat dan terutama terdiri dari air untuk meneliti migrasi fluida di zona vadose oleh
Park2. Untuk mereduksi kemungkinan kesalahan
yang telah dipergunakan dengan ± 0,1% berupa
pengukuran di lapangan, maka perlu diadakan
benda-benda padat yang terdiri atas zat organik
pemodelan dalam skala laboratorium yang men-
dan bukan organik1. Limbah cair tersebut dapat
dekati model lapangan. Dan untuk mendapatkan
berasal dari sisa kegiatan rumah tangga maupun
model penyebaran limbah ke arah vertikal dan
industri yang mengandung berbagai zat berbahaya
horisontal untuk tiap kedalaman, maka dapat
seperti kandungan logam berat dan kuman
dilakukan dengan pengukuran secara 3D (3
penyakit. Jika tidak ditangani dengan baik maka
dimensi). Metode ini akan mampu mencitrakan
limbah tersebut dapat meresap ke dalam tanah dan
kondisi bawah permukaan secara vertikal tiap
mencemari sumber air tanah. Hal ini banyak terjadi
blok/lintasan dan secara horizontal untuk tiap-tiap
di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
kedalaman yang dikehendaki.
limbah. Untuk mengetahui tingkat pencemaran air
tanah dapat dilakukan dengan pemeriksaan
1.1. Metode Geolistrik Tahanan Jenis 3D
kualitas air secara kimia dan fisika. Namun, sangat
penting juga untuk mengontrol adanya rembesan
Metode geolistrik tahanan jenis 3D merupakan
limbah tersebut terutama pada TPA limbah seperti
metode geolistrik yang mempelajari sifat tahanan
penampungan sampah maupun penampungan
jenis (resistivitas listrik) dari lapisan batuan di
limbah-limbah industri. Dengan mengetahui
dalam bumi. Prinsip metode ini, yaitu dengan
adanya rembesan limbah cair, maka akan dapat
menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi melalui
membantu dalam upaya penanganannya secara
dua buah elektroda arus, dan melakukan
baik.
pengukuran beda potensial yang dilakukan
melalui dua buah elektroda potensial. Dari hasil
Pengontrolan terhadap penyebaran limbah cair di
pengukuran arus dan beda potensial listrik
tanah sulit dilakukan, karena umumnya limbah
tersebut, akan dapat dihitung variasi harga
melarut dalam tanah. Sebagai alternatip dalam
resistivitas listrik pada lapisan di bawah titik ukur
mengidentifikasi kemungkinan adanya rembesan
(sounding point). Survey geolistrik tahanan jenis

 2005 FMIPA Universitas Lampung 79


Karyanto…Identifikasi Penyebaran Limbah Cair

tiga dimensi (3D) sangat jarang dilakukan (1) Tanah Penutup


dibandingkan dengan resistivitas tahanan jenis 1D (2) Kerikil Lempung
ataupun 2D. Hal ini disebabkan oleh jumlah (3) Pasir
pengukuran atau data yang dibutuhkan cukup besar (4) Lempung Pasiran
dan ketiadaan program inversi dalam mengolah
data-data tersebut3. Pada hal geolistrik tahanan Kemudian ke dalam lapisan tersebut diinjeksikan
jenis 3D akan memberikan gambaran struktur polutan cair. Pada survei tahanan jenis 3D dengan
geologi daerah survey dalam bentuk 3 dimensi, teknik complete data set survey ini menggunakan
yaitu ke arah horisintal 2 arah (x dan y) dan ke konfigurasi pole-pole. Pada konfigurasi pole-pole,
arah vertikal/kedalaman (z). elektroda arus C2 dan elektroda potensial P2
diletakkan di jauh tak terhingga ( ∞ ) dari
Pengukuran survei 3 D berupa susunan beberapa elektroda-elektroda lainnya. Dengan harga
elektroda yang berupa petak berbentuk persegi tahanan jenis semunya dapat dihitung dengan
baik bujur sangkar atau dapat juga persegi Persamaan (1) 3,5,6.
panjang4. Lintasan pengukuran untuk survei ρ = 2π a R (1)
geolistrik tahanan jenis 3D berupa susunan dengan a adalah jarak antar elektroda arus C1 dan
beberapa elektroda yang merupakan bentuk petak
elektroda potensial P1 (m), R adalah tahanan
persegi. Secara ilustrasi seperti ditunjukkan
Gambar 1 untuk grid data 5x5. terukur ( Ω ).

arah-x Pada survei ini dipilih konfigurasi pole-pole


• • • • • dengan alasan disamping untuk mendapatkan
penetrasi yang cukup dalam juga karena alasan
• • • • • teknis lapangan, karena dengan menggunakan
arah-y
• • • • • konfigurasi pole-pole ini akan sangat
• • • • • mempermudah pengambilan data sebab dua
elektroda yang lain yaitu elektroda arus 2 (C2) dan
• • • • • elektroda potensial 2 (P2) diletakkan di jauh tak
hingga yang tidak membutuhkan perpindahan,
Gambar 1. Susunan elektroda untuk survei sehingga secara teknis akan sangat mendukung dan
tahanan jenis 3D 3. banyak mereduksi waktu yang diperlukan dalam
pengambilan data. Kemudian daerah survei kita
Dalam proses pengambilan data terdapat 2 cara buat grid 7x7, sedangkan cara pengambilan
yaitu complete data set survey dan cross diagonal datanya adalah dengan teknik complete data set
survey. Cara yang pertama complete data set survey seperti pada Gambar 2.
survey adalah teknik pengambilan data lengkap
pada tiap elektrodanya sehingga akan membu- Urutan pengambilan datanya adalah sebagai
tuhkan waktu yang lama. Sedangkan cara yang berikut:
kedua cross diagonal survey merupakan teknik 1. Menempatkan C2 dan P2 di jauh tak
yang lebih singkat daripada teknik pertama berhingga.
sehingga memerlukan waktu yang juga lebih 2. Elektroda arus C1 diinjeksikan pada titik 1
singkat, dimana pengukuran potensial hanya dan elektroda potensial P1 diinjeksikan pada
dilakukan sepanjang sumbu-x, sumbu-y dan titik 2. Kemudian arus diinjeksikan dan beda
sumbu diagonal yang membentuk sudut 45o potensial diukur.
terhadap sumbu-x atau sumbu-y 3. 3. Dilakukan pengukuran seperti pada langkah 2,
namun posisi P1 digeser ke titik 3, 4, dan
2. METODE PENELITIAN seterusnya sampai titik 49, sedangkan C1 tetap
di titik 1.
2.1. Alat dan bahan 4. Langkah 2 dan 3 dilakukan kembali, dengan
a. 1 set Resistivity meter NAINURA 22 menggeser C1 ke indeks yang lebih besar jika
NRD SS P1 sudah sampai ke titik 49.
b. Accu sebagai sumber arus DC 5. Langkah 4 dilakukan kembali sampai
c. Kabel-kabel penghubung elektroda arus C1 ke titik 48.
d. Bak kaca 6. Sebagai catatan bahwa pengukuran dilakukan
untuk nomor indeks posisi elektroda potensial
2.2. Pengambilan Data (P1) lebih besar dari pada indeks posisi
elektroda arus (C1).
Bak kaca diisi dengan beberapa lapisan berturut-
turut, yaitu:

80  2005 FMIPA Universitas Lampung


J. Sains Tek., Agustus 2005, Vol. 11, No. 2

1 2 3 4 5 6 7
• • • • • • •
8 9 10 11 12 13 14
• • + x x x x
15 16 17 18 19 20 21
x x x x x x x
22 23 24 25 26 27 28
x x x x x x x
29 30 31 32 33 34 35
x x x x x x x
36 37 38 38 40 41 42
x x x x x x x
43 44 45 46 47 48 49
x x x x x x x
ket:
+ : elektroda arus
x : elektroda potensial
• : elektroda yang sudah diukur

Gambar 2. Pengambilan data tahanan jenis 3D dengan teknik complete data set survey 3.

2.3. Pengolahan Data model yaitu model lapisan tiap kedalaman yang
ditentukan secara horizontal dan model
Pengolahan data dilakukan dengan menghitung penampang lintang (cross section) tiap
resistivitas semu hasil pengukuran di lapangan blok/lintasan yang ditentukan secara vertikal
dengan menggunakan Persamaan (1). Kemudian berdasarkan data-data terukur yang
dilanjutkan dengan pembuatan model bawah menggambarkan model bumi berlapis yang
permukaan berdasarkan data lapangan yang telah direpresentasikan oleh harga-harga tahanan jenis
dihitung dengan menggunakan perangkat lunak lapisannya, seperti ditunjukkan pada Gambar 3 dan
Res3dinv yang akan menggambarkan pola Gambar 4.
penyebaran anomali pada tiap kedalaman yang
ditentukan secara horisontal dan tiap lintasan Dari hasil pemodelan secara inversi (ke belakang),
survei yang ditentukan pula secara vertikal. daerah penelitian dibagi dalam blok-blok yang
dipotong secara vertikal yang diperlihatkan
2.4. Analisis Data menjadi 6 penampang lintang dengan lebar tiap
bloknya adalah 0,1 meter (Gambar 3). Penampang
1 (titik ukur 1 – 7 dan 8 - 14) mempunyai arah
Analisis dilakukan terhadap hasil pemodelan sumbu x sejauh 0,6 meter sumbu y 0 – 0,1 meter
inversi untuk menentukan pola penyebaran batuan dan sumbu z (kedalaman) 0,69 meter. Penampang
basal berdasarkan harga-harga tahanan jenis 2 (titik ukur 8 – 14 dan 15 - 21) dengan arah
lapisan di bawah titik ukur. Analisis ini dilakukan sumbu x sejauh 0,6 meter, sumbu y sejauh 0,1 –
terhadap tiap kedalaman dan blok daerah yang 0,2 meter dan sumbu z sampai kedalaman 0,69
ditentukan. meter. Penampang 3 (titik ukur 15 – 21 dan 22 –
28) dengan arah sumbu x sejauh 0,6 meter, sumbu
3. HASIL DAN PEMBAHASAN y 0,2 – 0,3 meter dan sumbu z samapai kedalaman
0,69 meter. Penampang 4 (titik 22 – 28 dan 29 –
Volume polutan yang diinjeksikan adalah 2 liter 35) dengan arah sumbu x 0,6 meter, sumbu y
dan diinjeksikan pada titik ukur ke 25 (SP 25). sejauh 0,3 – 0,4 meter dan sumbu z sampai
Sedangkan pengukuran potensial dan arus kedalaman 0,69 meter. Penampang 5 (titik ukur 29
dilakukan setelah 3 jam dari proses injeksi polutan. – 35 dan 36 – 42) dengan arah sumbu x sejauh 0,6
Karena grid pengukuran adalah 7x7 dan meter, sumbu y sejauh 0,4 – 0,5 meter dan sumbu
menggunakan complete data set survey maka z sampai kedalaman 0,69 meter. Penampang 6
jumlah data yang didapat sebanyak 1176 buah. (titik ukur 36 – 42 dan 43 – 49) dengan arah
sumbu x sejauh 0,6 meter, sumbu y sejauh 0,5 –
Model hasil inversi yang didapatkan dengan 0,6 meter dan sumbu z dengan kedalaman sampai
menggunakan program Res3dinv terbagi atas 2 0,69 meter.

 2005 FMIPA Universitas Lampung 81


Karyanto…Identifikasi Penyebaran Limbah Cair

Gambar 3. Model Penampang Lintang (vertikal) tiap blok/lintasan

Gambar 4. Model Lapisan Tiap Kedalaman Secara Horisontal

Pada penampang vertikal (Gambar 3) kerikil yang berada di kedalaman sekitar 0,09 –
memperlihatkan peta penyebaran polutan (limbah 0,21 meter.
cair) yang menyebar dari titik ukur 25. Keberadaan
rembesan polutan ditunjukkan oleh tanda panah. Sedangkan dari penampang model horisontal
Polutan menyebar hanya secara horisontal ke (Gambar 4) diperlihatkan bahwa distribusi polutan
segala arah sampai jarak 0,3 meter dari titik injeksi terpusat pada kedalaman 0,07 – 0,15 meter pada
polutan (titik ukur 25) pada lapisan lempung lapisan lempung kerikil. Hal disebabkan oleh

82  2005 FMIPA Universitas Lampung


J. Sains Tek., Agustus 2005, Vol. 11, No. 2

perbedaan besar butir dan densitas dari lapisan DAFTAR PUSTAKA


lempung yang sangat memungkinkan terciptanya
rongga, sehingga polutan akan lebih mudah untuk 1. Mahida, U.N. 1993. Pencemaran Air dan
mengalir di dalam lapisan tersebut. Maka dari hasil Pemanfaatan Limbah Industri, PT. Raja
pengolahan data dan pemodelan yang dibuat Grafindo Persada, Jakarta.
didapatkan hasil bahwa penyebaran polutan dalam
hal ini limbah cair cenderung menyebar ke arah 2. Park, S.K. 1998. Fluid migration in the vadose
horisontal (mendatar), hal ini terjadi karena zone from 3D inversion of resistivity data,
disamping faktor injeksi polutan yang kurang Geophysics, 63, 41 – 61.
dalam dan volume polutan terbatas (2 liter) juga
disebabkan injeksi polutan tepat di lapisan yang 3. Loke.M.H. 1999. RES3DINV ver. 2.0. for
mempunyai perbedaan butir yang signifikan Windows 3.1, 95 & NT ; Rapid 3D Resistivity
(lempung kerikil), sehingga polutan akan & IP Inversion using the least-squares method.
terkonsentrasi di lapisan tersebut. Geophysical Prospecting (www.abem.se)

4. KESIMPULAN 4. Loke, M.H., and Barker, R.D. 1996. Practical


techniques for 3D resistivity surveys and data
Berdasarkan hasil interpretasi terhadap model, inversion, Geophys. Prospecting, 4, 499 - 523.
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari model vertikal, terlihat bahwa polutan 5. Telford, W.M., Geldart, L.P., and Sheriff, R.E.
menyebar ke segala arah namun menuju ke 1990. Applied Geophysics, 2nd Edition,
arah titik injeksi polutan. Penyebaran Cambridge University Press, New York.
rembesan polutan terlihat pada semua titik
ukur (sounding point). 6. Reynold, J.M. 1998. An Introduction to
2. Dari model horisontal, nampak bahwa applied and environmental geophysics, John
distribusi polutan terpusat pada lapisan Wiley and sons Inc., New York.
lempung kerikil dengan kedalaman 0,07 –
0,15 meter.
3. Metode geolistrik tahanan jenis 3D dapat
dipergunakan untuk mengidentifikasi
penyebaran limbah cair.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada DP3M
DIKTI Republik Indonesia yang telah membiayai
penelitian sampai keluarnya artikel ini melalui
Penelitian Dosen Muda. Terima kasih juga penulis
ucapkan kepada Yahya Darmawan, S.Si. yang
telah mengambil data pada penelitian tersebut.

 2005 FMIPA Universitas Lampung 83