Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN TAHUNAN

HIBAH BERSAING

Judul Penelitian : PENGUATAN MITIGASI BENCANA DI ACEH: STUDI


KARAKTERISTIK DISPALL (DISTRIBUTION
PATTERN OF LIQUID LEACHATE ) BERDASARKAN
SIFAT KONDUKTIVITAS LISTRIK BAWAH
PERMUKAAN (SUBSURFACE)

Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun

Ketua : Dr. Muhammad Syukri, MT (NIDN: 0018057003)


Anggota : Marwan, M.T (NIDN: 0001017121)

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


November 2013

i
RINGKASAN

Kawasan Gampong Jawa, Kota Banda Aceh merupakan kawasan padat


penduduk dan dalam perencanaan tata ruang Kota Banda Aceh, daerah ini
merupakan kawasan pengembangan pemukiman kepadatan tinggi. Salah satu
kebutuhan yang paling penting adalah air. Air yang merupakan sumber kehidupan
bagi manusia, bila tercemar polutan akan meningkatkan kandungan zat padat, dan
merupakan indikator pencemaran air. Liquid Leachate merupakan air yang terbentuk
dalam timbunan sampah melarutkan berbagai senyawa, memiliki kandungan
pencemar khususnya zat organik yang sangat tinggi. Hal ini menjadi potensi
penyebab pencemaran air tanah, sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi dan
proteksi. Sehingga perlu dilakukan analisis Dispall (Distribution Pattern of Liquid
Leachate) untuk melihat sebaran polutan tersebut. Teknik yang digunakan adalah
dengan menganalisa sifat konduktivitas lapisan bawah permukaan (subsurface).
Dengan metode Geolistrik, ditentukan variasi konduktivitas (resistivitas) yang dapat
mendeteksi akumulasi polutan cair dalam tanah yang sering diasosiasikan sebagai
fluida konduktif. Lokasi studi adalah pada kawasan sanitary landfill yaitu di
Gampong Jawa Banda Aceh. Di kawasan ini penduduk menggunakan air sumur
sebagai keperluan sehari-hari. Hal ini menjadi target khusus dan menjadikan
penelitian sangat signifikan untuk dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan
liquid leachate. Sehingga perlu dikembangkan suatu metoda pemetaan dan analisis
potensi dan risiko bencana, pengembangan sistem informasi bencana, dan pengembangan
“green technology” untuk mitigasi bencana secara struktural dan nonstruktural. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sesuai peta jalan penelitian, menunjukkan bahwa untuk
tahap awal telah didapatkan model geofisika. Dari 7 (tujuh) lintasan pengukuran yang
dilakukan di sekeliling kawasan studi menghasilkan profil 2D citra bawah permukaan.
Pada lapisan bagian permukaan (kedalaman sekitar 0-5 m) dengan nilai resistivitas ≥
6,0 Ωm yang merupakan material lempung, dan diinterpretasikan sebagai reclaim
material, yaitu batuan/tanah atau sedimen yang terdeposit akibat proses gravitasi,
terpecah-pecah dan menumpuk oleh berbagai proses dan membentuk lapisan tanah
baru. Pada bagian bawah dari setiap perlapisan, terdapat material dengan resistivitas
3-30 Ωm yang diinterpretasikan sebagai material marine alluvium, yang merupakan
tanah yang telah mengalami degradasi oleh pencampuran air asin dan air payau,
material ini terlihat jelas terutama pada lintasan L1, L2, L3 dan L7 yang disebabkan
karena keberadaan didekat pantai. Profile resistivitas lain dengan nilai resistivitas 0.2-
0.6 Ωm, diinterpretasi sebagai lokasi utama tempat merembesnya dan
terakumulasinya lindi (leachate) dan merupakan kawasan tempat aliran kontaminan,
dan berada pada kedalaman 10-20 m. Dengan pengaruh elevasi dan gravitasi maka
infiltasi aliran lindi ini akan sangat berpotensi untuk mempengaruhi keadaan air tanah
atau akifer. Karakteristik ini diperlihatkan pada model geofisika citra 2D bawah
permukaan (subsurface) yaitu pola distribusi dan akumulasi lindi cair (DISPALL
atau Distribution Pattern Of Liquid Leachate) di lokasi studi.

Kata kunci: Liquid Leachate, geolistrik, polutan, bencana, konduktivitas.

iii
PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan keharibaan Ilahi Rabbi Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam kepada
Baginda Nabi Muhammad SAW, Sang Revolusioner Dunia beserta sahabat dan
keluarga beliau sekalian sehingga atas izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan
penelitian ini berupa laporan tahunan dengan judul “Penguatan Mitigasi Bencana Di
Aceh: Studi Karakteristik Dispall (Distribution Pattern Of Liquid Leachate )
Berdasarkan Sifat Konduktivitas Listrik Bawah Permukaan (Subsurface)”.
Alhamdulillah dari hadil penelitian, sesuai hapana telah menghasilkan publikasi pada
Jurnal Internasional bereputasi. Semoga hasil ini akan memberikan kontribusi bagi
pengembangan Universitas Syiah Kuala dan memberikan manfaat bagi masysarakat.

Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis telah banyak mendapat dukungan


dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tinggginya kepada Rektor Universitas Syiah Kuala yang
telah memberikan dukungan pendanaan dan mendukung sepenuhnya penelitian ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih kami berikan kepada :

1. Dekan FMIPA dan Ketua Jurusan Fisika FMIPA Unsyiah yang telah memberikan
dukungan fasilitas yang ada.
2. Ketua Lembaga Penelitian Unsyiah, yang memberikan masukan, informasi dan
dukungan dalam penelitian ini.
3. Para staf jurusan dan mahasiswa yang banyak membantu dalam kegiatan lapangan.
4. Laboratorium Geofisika, School of Physics USM, Malaysia.
5. Dan seluruh pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Akhirnya kami menyadari atas kekurangan dan kekeliruan dalam penelitian ini,
untuk itu kami mohon masukan dan kritik serta saran yang konstruktif demi
kesempurnaan penelitian. Kiranya karya penelitian ini dapat bermanfaat bagi kemajuan
Bangsa dan Negara. Amin ya rabbal alamin.

Banda Aceh, 22 November 2013


Ketua Peneliti,

Dr. Muhammad Syukri, MT

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
RINGKASAN iii
PRAKATA iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB 1. PENDAHULUAN 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 3
BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 8
BAB 4. METODE PENELITIAN 11
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 21
BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA 34
BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN 35
DAFTAR PUSTAKA 37
LAMPIRAN 40
I. Artikel Publikasi ilmiah 41
II. Foto-Foto Kegiatan Penelitian 55

v
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan untuk Tahun 1 20


Table 4.2 Jadwal Pelaksanaan untuk Tahun 2 20
Table 5.1 Koordinat lokasi masing-masing lintasan pengukuran 22

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Peta lokasi penelitian yang terletak di sebelah utara Kota Banda
Aceh (sumber: BRR, 2007). 3
Gambar 2.2 (a). Peta geologi daerah permukaan dan (b) daerah 2 meter
dibawah permukaan (Sumber: ManGeoNAD, BGR, 2006). 5
Gambar 4.1. Prinsip dasar pengukuran metode geolistrik resistivitas. 11
Gambar 4.2 Konfigurasi elektroda Wenner Schlumberger. 12
Gambar 4.3 Diagram alir prosedur dan rencana penelitian 15
Gambar 4.4 Diagram alir pengukuran lapangan 16
Gambar 4.5 Diagram alir pengolahan data menggunakan Software Res2Div. 17
Gambar 4.6 Bagan Alir dan Peta Jalan Penelitian. 19
Gambar 5.1 Peta sanitary landfill Gampong Jawa dan lokasi masing-masing
lintasan pengukuran. 23
Gambar 5.2 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 24
Gambar 5.3 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 25
Gambar 5.4 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 26
Gambar 5.5 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 27
Gambar 5.6 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 28
Gambar 5.7 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 29
Gambar 5.8 Nilai resistivitas untuk lintasan 1 30
Gambar 5.9 Gambaran lay out konfigurasi atau susunan elektroda arus dan
potensial 23

vii
DAFTAR LAMPIRAN

I. Artikel Publikasi Ilmiah i

1. Leachate Migration Delineation using 2-D Electrical Resistivity Imaging (2-


DERI) at Gampong Jawa, Banda Aceh.

Dipublikasikan di Jurnal Internasional Bereputasi yaitu The Electronic Journal of


Geotecnical Engineering, dengan Impact Factor pada tahun 2012: 1.2120 (Global
Institute For Scientific Information (Gisi)) dan di index oleh: Compendex, EEVL,
GeoRef dan Scopus.

2. Water table Delineation for Leachate Identification using 2-D Electrical


Resistivity Imaging (2-DERI) and Seismic Refraction at Gampong Jawa, Banda
Aceh

Dipublikasikan di Jurnal Internasional Bereputasi yaitu The Electronic Journal of


Geotecnical Engineering, dengan Impact Factor pada tahun 2012: 1.2120 (Global
Institute For Scientific Information (Gisi)) dan di index oleh: Compendex, EEVL,
GeoRef dan Scopus.
3. Evaluation of pollutant distributions with geoelectrical resistivity technique at
Gampong Jawa Landfill Banda Aceh

Dipubikasikan pada the 9th International Conference on Mathematics, Statistics and


Their Applications, yang akan dilaksanakan 12-13 Desember di Medan, Sumatera
Utara.

II. Foto-Foto Kegiatan Penelitian ii

viii
ix
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Seiring dengan meningkatnya populasi manusia beserta semua aktivitasnya
yang berkaitan dengan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggap tidak berguna
lagi yaitu sampah dan limbah. Sampah merupakan polutan umum yang dapat
menyebabkan turunnya nilai estetika lingkungan, membawa berbagai jenis penyakit,
menimbulkan polusi, pencemaran air permukaan, air tanah dan berbagai akibat
negatif lainnya. Biasanya untuk menjaga kebersihan sering kali menyingkirkan
sampah ke tempat yang jauh dari pemukiman yang disebut sanitary landfill atau
tempat pembuangan akhir. Produksi sampah terus terjadi setiap hari, akan
mengalami pembusukan terutama pada sampah basah. Indonesia merupakan negara
tropis yang mempunyai iklim panas dan kelembaban tinggi, merupakan faktor
pemercepat terjadinya reaksi kimia, sehingga sampah lebih cepat membusuk jika
dibandingkan dengan negara lain. Air yang ada pada sampah hasil pembusukan
umumnya mengandung bahan kimia, bakteri dan kotoran lainnya yang dapat
merembes ke dalam tanah. Jika ada air hujan melewati sampah ini maka akan
tercemar oleh polutan tersebut, sehingga hal ini dapat menimbulkan pencemaran air
tanah baik yang berasal dari rembesan air sampah maupun oleh sampah itu sendiri.
Air tanah merupakan sumber utama bagi manusia. Dengan semakin
sempitnya lahan pemukiman, semakin banyak penduduk di kota-kota
besar yang tinggal di daerah sekitar sanitary landfill, yang juga memanfaatkan air
sumur sebagai sumber air minum. Hal ini dikarenakan kebutuhan air bersih yang
biasanya belum terjangkau atau belum tersedia. Jika terjadi pencemaran air tanah
akibat meresapnya air lindi yang berasal dari pembusukan sampah, maka dapat
menggangu kelangsungan hidup penduduk sekitar sanitary landfill tersebut.
Kawasan sanitary landfill di daerah Gampong Jawa Kota Banda Aceh,
melayani pembuangan sampah yang ada di dalam kota dan sekitarnya. Dalam Qanun
Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Banda Aceh Tahun 2009- 2029, yang tercantum dalam Bagian Ketiga tentang
Rencana Pengembangan Kawasan Budi Daya Kota Pasal 54, Paragraf 1 tentang
Kawasan Perumahan, Pasal 55, daerah ini ditetapkan sebagai pengembangan
kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi dan pengembangan perumahan

1
nelayan di kawasan pesisir. Sampah yang dibuang kebanyakan adalah sampah
organik. Hal ini menyebabkan sampah lebih cepat membusuk dan menghasilkan
polutan yang dapat mencemari air tanah berupa rembesan air lindi, yang merupakan
polutan sampah yang dapat mencemari air tanah di daerah sekitar sanitary landfill
tersebut. Kondisi sanitary landfill di Banda Aceh sudah mengkawatirkan, hal ini
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH)
Banda Aceh pada April 2010, yang mengatakan bahwa lokasi ini mengandung zat
berbahaya. Hasil analisa menyimpulkan terdapat kandungan amonika (NH3-N)
diatas 1,5 mg/l, phosphate (PO4) diatas 2,0, BODS 494 mg/l, dan COD 812
mg/l(www.serambinews.net/news/view/38279/air-lindi-di-tpa-gampong-jawa-men-
gandung-zat-berbahaya). Selain itu, informasi terakhir menyebutkan bahwa produksi
sampah di Kota ini sudah mencapai 150 ton lebih perhari, (http://www.
rakyataceh.com/index.php/open=view&newsid=30591&tit=Banda_Aceh_Daya_
Tampung_TPA_Gampong_Jawa_Penuh), hal ini tentu menambah kekhawatiran
akan dampak yang dapat ditimbulkan tersebut. Beberapa hal yang menjadi
permasalah langsung dan terjadi secara berterusan ini manjadi pemicu utama dan
pendukung yang sangat penting untuk dilakukannya penelitian sebagai tindak lanjut
dan mencoba mencari solusi bagi berkelanjutannya masalah-masalah tersebut. Hal
ini yang menjadi faktor penting dan mendorong untuk dilakukannya penelitian ini.

1.2 Kegunaan
Diharapkan dari penelitian akan memberikan kegunaan bagi penelitian
sendiri untuk pengembangan ilmu pengetahuan, selain juga harapannya dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan dan kemajuan Universitas Syiah Kuala.
Selain itu juga di harapkan dapat memberikan kegunaan bagi:
a. Pemerintah daerah Kota Banda Aceh dan Instansi terkait sebagai referensi dalam
pengambilan keputusan dan penanggulangan dampak bencana yang lebih besar.
b. Masyarakat, terutama masyarakat di sekitra lokasi studi agar lebih berhati-hati
dalam mengkonsumsi air, baik sebagai air minum maupun keperluan lainnya.

2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Daerah Studi


Daerah studi terletak di Kecamatan Kuta Raja merupakan wilayah pesisir di
bagian utara Kota Banda Aceh (Gambar 1). Ruang lingkup wilayah Kecamatan Kuta
Raja meliputi seluruh wilayah administrasi seluas 537,7 hektar meliputi :
1. Kelurahan Lampaseh Kota (25 hektar)
2. Kelurahan Merduati (27,8 hektar)
3. Kelurahan Keudah (32 hektar)
4. Kelurahan Peulanggahan (52,25 hektar)
5. Gampong Jawa (150,60 hektar)
6. Gampong Pande (250,05 hektar)

Gambar 2.1 Peta lokasi penelitian yang terletak di sebelah utara Kota Banda Aceh
(sumber: BRR, 2007).

3
Sedangkan batas administrasi Kecamatan Kuta Raja adalah :
- Sebelah Utara : Selat Malaka
- Sebelah Timur : Krueng Aceh, Kecamatan Kuta Alam
- Sebelah Selatan : Kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Meuraxa
- Sebelah Barat : Krueng Doi, Kecamatan Meuraxa
Secara umum Kecamatan Kuta Raja berada pada ketinggian 0,5-5 m dpl,
sehingga secara geografis wilayah ini termasuk dalam zona dataran rendah (<100 m
dpl). Kemiringan lahannya berada pada kemiringan 0-8%, yang merupakan wilayah
yang relatif datar.
Sistem tata air untuk Wilayah Kecamatan Kuta Raja sebelah timur dan barat
dibatasi oleh sungai, dimana pada sisi timur dibatasi oleh sungai Krueng Aceh dan
sisi barat Krueng Doi. Sungai-sungai tersebut langsung bermuara ke Selat Malaka.
Untuk memenuhi kebutuhan air, masyarakat memanfaatkan air PDAM, namun
sebagian besarnya masih menggunakan air dari sumur gali dan pompa yang
dalamnya berkisar 4–10 m. Karenanya, kondisi ini mempunyai resiko yang relatif
besar bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar kawasan ini, yang tidak jauh dari
lokasi sanitary landfill Gampong Jawa tersebut.

2.2 Geologi
Secara umum, tutupan lapisan tanah permukaan di wilayah studi adalah
campuran endapan lumpur, pasir lempung, pasir. Pada bagian timur laut, sebagian
besar berupa rawa-rawa (Gambar 2a). Sedangkan kondisi geologi pada lapisan
kedalaman 2 m mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda. Dimana sebagian
besar berupa pasir dan sebagian lapisan lempung yang tidak muncul di permukaan.
Area dengan pasir lempung dan endapan lumpur relatif berkurang dan sedikit lapisan
baru kerikil terdapat di sekitar Krueng Aceh (Gambar 2b).
Sebagian besar area pasir pada lapisan permukaan sampai dengan kedalaman
2 m dapat diklasifikasikan sebagai campuran pasir atau lapisan lumpur dan
berlempung pada beberapa area yang dapat diklasifikasikan sebagai lempung dengan
plastisitas maksimum dimana pada area bagian barat daya lapisan pasir berlempung,
pasir, lumpur dan lempung merupakan lempung plastis.
Dari peta kekuatan tanah ini terlihat bahwa daerah yang mempunyai kekuatan
tanah paling rendah adalah di bagian tenggara. Sebagian besar area tertutup oleh

4
lapisan pasir yang cukup tebal sehingga mempunyai kekuatan tanah yang cukup
besar.

Gambar 2.2 (a) Peta geologi daerah permukaan dan (b) daerah 2 meter dibawah
permukaan (Sumber: ManGeoNAD, BGR, 2006).

2.3 Sistem Pengelolaan Limbah


Sistem pengelolaan limbah di Kecamatan Kuta Raja pasca gempabumi dan
tsunami 2004 sampai saat ini dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(DKP) Kota Banda Aceh yang terintegrasi dengan sistem pengelolaan persampahan
Kota Banda Aceh, dan dibuang ke sanitary landfill yang berlokasi di Gampong
Jawa. Sistem pengelolaannya menggunakan sistem sanitary landfill dan sistem
pembakaran manual.
Untuk dapat menangani persampahan dengan baik, maka perlu diperoleh
gambaran tentang proyeksi volume sampah di masa mendatang, sehingga dengan
demikian dapat diperkirakan bentuk dan keperluan penanganannya. Hasil proyeksi
memperlihatkan bahwa volume limbah di daerah ini tahun 2016 adalah sebesar 46
m3/hari. Untuk volume sampah sebesar ini dapat ditangani dengan mengangkatnya
dari rumah-rumah penduduk dengan memakai gerobak sampah biasa dan kemudian

5
mengumpulkannya di beberapa lokasi sementara, untuk selanjutnya diangkut ke
sanitary landfill Gampong Jawa.
Air tanah umumnya mengandung zat padat terlarut yang berasal dari mineral
dan garam-garam yang secara alamiah terjadi pada siklus hidrologi. Bila air ini ini
terkontaminasi oleh polutan yang berasal sanitary landfill maka kandungan zat padat
tersebut akan meningkat. Peningkatan jumlah zat padat terlarut ini yang menjadi
indikator terjadinya pencemaran air. Konduktivitas adalah merupakan karakteristik
utama kelistrikan tanah, dimana sifat ini dipengaruhi jumlah kandungan ion bebas
yang ada didalam air. Sehingga air murni yang merupakan air yang tidak
mengandung ion bebas bersifat tidak menghantarkan listrik. Berkaitan dengan sifat
resistivitas listrik, lapisan akifer merupakan lapisan batuan yang memiliki nilai
8
resistivitas 1-10 Ω.m (Telford et al., 1990). Faktor-faktor yang berpengaruh antara
lain: Komposisi litologi, kondisi batuan, komposisi mineral yang dikandung,
kandungan benda cair. Penyusun utama akifer dapat berupa pasir, kerikil, batupasir,
batugamping rekahan, yang masing-masing dipengaruhi porositasnya. Lapisan akifer
airtanah memiliki porositas yang relatif tinggi (10-40 %) dan dengan permeabilitas
yang relatif tinggi (0,83-1875 cm/jam).

2.4 Metode Geolistrik Resistivitas


Metoda geolistrik resistivitas dimanfaatkan selain untuk eksplorasi juga
sering di aplikasikan dalam studi lingkungan, yaitu untuk mendeteksi kontras
resistivitas medium akibat penyebaran polutan atau kontaminan di bawah permukaan
yang sering diasosiasikan sebagai fluida konduktif. Beberapa studi sebelumnya
dilakukan pada berbagai aplikasi, seperti untuk mengidentifikasi adanya intrusi air
laut, kebocoran limbah hasil industri (Van et al., 1991), mendeteksi keberadaan
limbah beracun yang tertimbun di dalam tanah (Marchetti et al, 2002.), atau juga
mengidentifikasi pencemaran air tanah yang terjadi akibat rembesan pencemaran
dari air sungai pada radius sekitar 1 km dari sungai (Wijaya et al, 2009). Metoda
geolistrik terbukti efektif digunakan untuk mengidentifikasi distribusi polutan
tersebut baik secara spasial maupun temporal.
Selain itu juga terbukti metode yang cukup efektif dalam pendeteksian
kebocoran pada kolam (Van et al., 1991). Selanjutnya Hidajat (2006) menggunakan
metode ini untuk menentukan kondisi hidrogeologi suatu wilayah yang meliputi

6
batuan penyimpan air, keberadaan air tanah dangkal, dan keberadaan air permukaan.
Hal ini juga dapat dilakukan dengan pemodelan dalam skala laboratorium untuk
menginvestigasi keberadaan air tanah (Teti dan Bulkis, 2008), dimana didapati
perubahan penampang isoresisitivitas pada saat sebelum dan sesudah dilakukan
penginjeksian air dalam jumlah yang berbeda di dalam bak kaca. Berkenaan dengan
lingkungan, Kartini dan Danusaputro (2005) melakukan interpretasi penyebaran
polutan di kawasan sanitary landfill Jati Barang, Semarang dengan metode geolistrik
Self Potensial. Pada lokasi ini didapati pola sebaran polutan secara lateral
penyebaran sudah menyeluruh didaerah studi. Semakin dekat tumpukan sampah
yang sudah lama semakin tinggi polutannya dan mengandung logam berat yang telah
melebihi ambang batas.
Keberaan polutan di bawah permukaan sulit diamati dan diketahui secara
langsung, baik kedalaman maupun arah sebarannya. Oleh karenanya perlu dilakukan
studi awal ini untuk penyelidikan masalah lingkungan ini sehingga dapat dilakukan
tindakan pennaggulangan dengan cepat dan dapat dicari metode yang tepat.

7
BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan
Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan suatu metode pemetaan analisis
potensi dan resiko bencana serta metode perbaikan dengan menentukan Dispall
(Distribution Pattern of Liquid Leachate) yang dihasilkan dari limbah di sekitar
sanitary landfill Gampong Jawa Banda Aceh dengan menggunakan Metode
Geolistrik Resistivitas. Liquid Leachate sampah diketahui mempunyai
konduktivitas yang berbeda dengan konduktivitas batuan atau air tanah yang ada
disekitarnya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan beberapa peneliti sebelumnya,
menunjukkan bahwa Liquid Leachate mempunyai konduktivitas yang lebih tinggi
daripada air tanah. Menurut Loke (1999) resistivitas air bersih (freshwater) adalah
antara 10-100 m. Berdasarkan sifat inilah bisa dilakukan penelitian untuk
mengetahui letak akumulasi Liquid Leachate di sekitar sanitary landfill dengan
memanfaatkan perbedaan resistivitas tersebut.
Oleh karena itu, metode geolistrik resistivitas ini sangat signifikan dan
merupakan metode yang unggul dalam melakukan pemetaan sebaran dan akumulasi
Dispall yang merupakan salah penyebab bencana. Pada tahap kedua ini akan
dilakukan pemantauan kembali mengenai pola dan karakteristik konduktivitas bawah
permukaan dengan metode geolistrik, serta pengukuran data sekunder, pengukuran
kualitas fisis air di sekitar lokasi penelitian, juga melakukan komparasi hasil dengan
yang telah didapatkan pada tahun pertama. Selanjutnya akan didapatkan model
Dispall dan pola sebaran polutan, dengan demikian akan dapat dilakukan antisipasi
dan pencegahan terhadap kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan dan bencana
yang akan terjadi.

3.2 Urgensi
Akibat lemahnya sistem informasi dan perlunya proses pengolahan dan
pengaturan limbah yang berjalan lamban dan kurang efektif, perlu diungkapkan
pencemaran lingkungan dan akumulasi polutan di kawasan pemukiman pendudukan
dan sekitar sanitary landfill Banda Aceh. Dengan luas area sekitar 21 Hektar dan
kapasitas pembuangan 160 ton/hari, serta padatnya jumlah penduduk di kawasan ini

8
sudah sangat meresahkan masyarakat (www.theglobejournal.com/kategori/ ling-
kungan/warga-minta-tpa-gampong-jawa-dipindah-kan.php). Untuk itu, sudah sangat
mendesak untuk dilakukan penelitian untuk mendapatkan solusi yang terbaik pada
masyarakat, terutama terhadap penyebaran rembesan polutan tersebut pada daerah
ini yang terkontaminasi. Pendugaan sebaran kontaminasi bawah permukaan dapat
dilakukan dengan pengukuran langsung dan tidak langsung.
Pengukuran langsung dilakukan dengan pengambilan data hidrogeologi dari
sumur-sumur penduduk ataupun pengambilan sampel tanah disekitar sumber polutan
untuk analisa di laboratorium. Geolistrik merupakan metode geofisika untuk
pengukuran tidak langsung. Hasil pengukuran geolistrik tersebut merupakan nilai
resistivitas yang dimiliki tiap lapisan batuan atau tanah di bawah permukaan
(subsurface). Dari besarnya konduktivitas dan resistivitas semu, dapat
diinterpretasikan arah penyebaran dari kontaminan.
Metode geolistrik telah berkembang dengan pesat dan menunjukkan hasil
yang optimal. Pendugaan dengan metode geolistrik pada prinsipnya adalah untuk
menentukan resistivitas lapisan batuan. Kinerja dari metode ini adalah dengan
mengalirkan arus ke lapisan batuan dan didapat beda potensial. Dari data yang
berupa besarnya arus dan beda potensial tersebut akan didapat nilai resistivitasnya.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa metode geolistrik bisa memetakan
intrusi air laut dan studi pencemaran air tanah, seperti penelitian yang dilakukan
Benson et al (1983). Dan terbukti sebagai metode yang tidak merusak dalam
melakukan studi kontaminasi air, yang mendukung kelestarian lingkungan (Ward,
1985; Reynold, 1997). Metode ini juga secara ekstensif telah banyak digunakan
dalam penelitian lingkungan (Reynold, 1997; Greenhouse et al., 1993; Stierman,
1984; Fitterman & Stewart, 1986). Selain itu juga, sering dilakukan secara
kombinasi metode geofisika untuk studi hidrogeologi dan aplikasinya pada masalah
pencemaran air tanah (Hughes et al. 1989; Ebraheem, 1996; Ibrahim et al. 1996; dan
Sebaq, 2000). Penyebaran kontaminan cair dalam tanah yang diasosiasikan sebagai
fluida konduktif dengan anomali konduktif menunjukkan akumulasi
rembesan lindi yang dapat mencemari air tanah di sekitar daerah tercemar.
Metode geolistrik terbukti merupakan metode yang terkenal dalam
pendeteksian kualitas air tanah dan lingkungan. Metode ini terbukti sangat efektif
dalam memecahkan masalah aliran lindi di daerah sanitary landfill (Abdullah et.al,
2010; Roe et.al., 2010; Mukhtar et.al., 2010: Alile et.al. 2010: Bernstone et. al.,
9
2010; Legaz et.al., 2010; Caputo, et.al., 2011), yang juga dapat memprediksi model
aliran air tanah di bawah permukaan (Sandberg et al., 2002) serta dapat dilakukan
untuk pemetaan infrastruktur bawah permukaan pada area konduktif, dimana kurang
efektif bila menggunakan GPR (Pellerin,2002), atau melakukan penilaian terhadap
ancaman polusi di bawah permukaan pada kemungkinan adanya bahan beracun
(Meju, 2006). Misalnya menganalisis kondisi lingkungan berdasarkan distribusi
potensial berkaitan pengaruh gas methane di kawasan sanitary landfill (Rosqvist
et.al., 2009). Dengan kajian-kajian yang telah dilakukan tersebut menunjukkan
bahwa urgansi (keutamaan) penelitan ini menjadi sangat penting dan signifikan
untuk dikembangkan.

10
BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1 Konsep Metode Geolistrik


Konsep dasar dari metode geolistrik resistivitas adalah pengukuran harga
resistivitas batuan. Prinsip kerja metode ini adalah dengan menginjeksikan arus ke
bawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda potensial, yang akan memberikan
informasi mengenai resistivitas batuan. Perbedaan nilai resistivitas berbagai jenis
batuan akan mewakili perbedaan karakteristik tiap lapisan batuan tersebut. Nilai
resistivitas diukur sebagai akibat penginjeksian arus listrik, sehingga lapisan batuan
merupakan penghantar arus. Hal ini dilakukan dengan menggunakan empat elektroda
yang disusun sebaris, salah satu dari dua buah elektroda yang berbeda muatan
digunakan untuk mengalirkan arus ke dalam tanah, dan dua elektroda lainnya
digunakan untuk mengukur tegangan yang ditimbulkan oleh aliran arus tadi,
sehingga resistivitas bawah permukaan dapat diketahui (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Prinsip dasar pengukuran metode geolistrik resistivitas.

Resistivitas batuan adalah fungsi dari konfigurasi elektroda dan parameter-


parameter listrik batuan. Arus yang dialirkan di dalam tanah dapat berupa arus
searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi rendah. Untuk menghindari
potensial spontan, efek polarisasi dan menghindarkan pengaruh kapasitansi tanah

11
yaitu kecenderungan tanah untuk menyimpan muatan maka biasanya digunakan arus
bolak balik yang berfrekuensi rendah (Bhattacharya & Patra, 1968). Metode ini juga
bisa digunakan untuk mengetahui keberadaan air tanah dan juga untuk eksplorasi
mineral. Dalam pengukuran metode geolistrik resistivitas peralatan yang harus
dimiliki antara lain sumber arus dan alat pengukur untuk potensial arus serta
elektroda yang digunakan untuk memasukkan arus kedalam bumi (Hendrajaya dan
Arif, 1990).
Hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda
tertentu, menunjukkan karaktersitik variasi nilai resistivitas untuk setiap lapisan
tanah. Pada penelitian akan digunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger yang
mendasarkan pengukuran pada kontinuitas pengukuran dalam satu penampang dan
hasilnya suatu penampang semu (pseudosection). Konfigurasi ini merupakan
perpaduan dari konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger (Gambar 4.2).
Pada pengukuran dengan faktor spasi (n) = 1, konfigurasi Wenner-Schlumberger
sama dengan pengukuran pada konfigurasi Wenner (jarak antar elektrode = a),
namun pada pengukuran dengan n = 2 dan seterusnya, konfigurasi Wenner-
Schlumberger sama dengan konfigurasi Schlumberger (jarak antara elektroda arus
dan elektroda potensial lebih besar daripada jarak antar elektrode potensial).

Gambar 4.2 Konfigurasi elektroda Wenner-Schlumberger.

Perhitungan resistivitas semu pada tahanan jenis menggunakan persamaan:

dengan K adalah faktor geometri dari konfigurasi elektroda yang digunakan di


lapangan. Rumusan faktor geometri dapat dituliskan:

12
Sehingga berlaku hubungan

Adapun prosedur penelitian dapat dilihat seperti pada Gambar 4.3 di bawah:

4.2 Proses Penelitian


4.2.1 Pengambilan Data
Proses pengambilan data dalam penelitian sebagai berikut:
1. Sebelum melakukan pengukuran, perlu dilakukan survey awal pada lokasi
pengukuran untuk mengecek kondisi yang sesuai, apakah lokasi tersebut dapat
dilakukan pengukuran atau tidak.
2. Kemudian ditentukan posisi sentral untuk penentuan letak kabel Lund Multi-
Elektroda sehingga dapat ditarik dari titik awal pengukuran, dan posisi-posisi
lintasan pengukuran dan tiap-tiap lintasan ditentukan koordinatnya dengan
menggunakan GPS.
3. Selanjutnya dipasang elektroda arus dan potensial pada permukan tanah
mengikuti kabel Lund Multi-Elektroda, dengan jarak yang sudah ada pada kabel
Lund Multi-Elektroda.
4. Elektroda dan kabel Lund Multi-Elektroda dihubungkan dengan menggunakan
jumper dan dipastikan semua elektroda terhubung pada kabel Lund Multi-
Elektroda.
5. Kemudian kabel Lund Multi-Elektroda tersebut dihubungkan dengan alat
Terameter ABEM dan diletakkan baterai, yang juga dihubungkan dengan alat
Terameter ABEM.
6. Alat Terameter ABEM dihidupkan (di ON kan).
7. Kemudian alat Terameter ABEM diatur sesuai dengan setting pengukuran yang
diperlukan.
8. Dilakulan pengukuran (akusisi data lapangan).

4.2.2 Pemodelan/Interpretasi Data


Setelah dilakukan akusisi data di lapangan, data mentah (raw data) tersebut
ditransfer dari instrumen Terameter ABEM SAS 4000 ke perangkat computer
(laptop) dalam format data notepad. Kemudian data di run untuk di buat model

13
pengukuran. Dimana data yang diperoleh dari pengukuran digunakan sebagai
parameter input.
Proses pengolahan data dan pemodelan dilakukan menggunakan software
Res2Dinv, program ini dapat memproses data dan menentukan model resistivitas 2-D
untuk bawah permukaan (subsurface) bumi dan hasil survei geolistrik. Kemudian
pada waktu bersamaan softeare tersebut membuat model hasil perhitungan. Dan
tahap akhir akan dihasilkan model resistivitas yang sebenarnya (model 2-D) dengan
proses inversi.Proses ini dihasilkan ssuatu bentuk yang berkaita dengan distribusi
titik-titik pada datum point. Program ini mampu memproses hingga 650 elektroda
dan 6500 point dalam satu waktu. Secara sederhana, langkah-langkah yang
dilakukan dalam pemodelan data adalah:
1. Jalankan Program Res2Dinv
2. Pilih File >> Read Data File dan klik, kemudian ketika ada pernyataan klik OK.
3. Kemudian pilih Display>>least squares Inversion, maka dilayarakan
ditampilkan profil lapisan bawah permukaan.
4. Selesai.

4.2.3 Diagram Alir Penelitian


Secara umum gambaran penelitian, pengukuran lapangan, dan pengolahan
data dapat dilihat pada Gambar 4.3; 4.4; dan 4.5.

14
Mulai

Survey awal
o Penentuan koordinat/lokasi
o Studi geologi dan pustaka
o Desain survey geolistrik
resistivitas
o Persiapan instrumen
penggukuran
Survey Lapangan
o Pengukuran geolistrik
resistivitas dengan metode
mapping
Data Pengukuran
o Beda potensial (V)
o Arus listrik (I)
o Spasi elektroda (a)

Pengolahan Data
o Data awal, datum point, spasi elektroda,
dan resistivitas semu
o Dengan software Res2Dinv, didapat model
variasi resistivitas semu
o Model di interpretasi berdasarkan
perubahan nilai resistivitas

Interpretasi Data
o Litologi dan struktur geologi
bawah permukaan (subsurcae)
o Model pola aliran limbah

Selesai

Gambar 4.3 Diagram alir prosedur dan rencana penelitian.

15
Mulai

Persiapan survei
o Mempersiapkan alat-alat penelitian dan tim survei.
o Mengecek kondisi lokasi penelitian.

Survei di lapangan
Pengukuran Geolistrik resistivitas dengan menentukan:
o Jarak (sapasi) elektroda
o Arus listrik (I)
o Beda potensial (∆V)

Elektroda arus dan elektroda potensial dipasang


mengikuti kabel lund multi elektroda sesuai dengan
konfigurasi elektroda.

Pastikan semua elektroda terhubung semua dengan


kabel lund multi elektroda

Hidupkan terameter ABEM SAS


4000

Tunggu sampai proses pembacaan


dan pengukuran selesai

Didapat data mentah (raw data)

Selesai

Gambar 4.4 Diagram alir pengukuran lapangan.


16
Mulai

INPUT DATA
Data lapangan

Menyimpan data

Melakukan pemodelan menggunakan


program Res2Dinv.

No
RMS minimum

Yes

Didapat data hasil pemodelan

Litologi bawah permukaan tanah

Selesai

Gambar 4.5 Diagram alir pengolahan data menggunakan Software Res2Div.

17
Penelitian berlangsung dari bulan Februari-November 2013 untuk tahun pertama,
dan penelitian tahun kedua dilakukan mulai Februari-November 2014. Dimana untuk
tahun kedua, agar diperoleh hasil atau model yang detail dan lengkap sehingga akan
menjadi acuan bagi pengambil kebijakan dalam mengantisipasi terjadi berbagai
dampak negatif, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan. Pada tahap ini akan
dilakukan verifikasi kontinu data geofisika dan pengukuran kualitas air di sekitar
kawasan studi. Lokasi pengambilan sampel akan diambil air permukaan dan air
sumur yang ditentukan dengan mempertimbangkan kepadatan penduduk, Parameter
fisis penting yang akan di ukur adalah suhu, TDS, Bau, Warna, pH, COD, DO, Besi.
Sebagai tambahan juga akan ditentukan parameter Fosfat, Nitrat, Nitrit, NH3,
Klorida, dan H2S. Dimana hasil yang didapat akan dianalisa komparatif konstruktif,
yaitu dengan mengacu pada standar baku mutu limbah cair dan standar baku mutu
air. Bagan alir penelitian secara lengkap untuk tahun pertama dan kedua dapat dilihat
pada Gambar 4.6.

18
Gambar 4.6. Bagan Alir dan Peta Jalan Penelitian

Tahun 2 Tahun 1

s Su
ppl
ier Data
Data fisis Administrasi
s
Sampel air

Data
Data
Geologi
Sekunder

Analisa Data
kualitas air Sekunder

HASIL : Model
Karakteristik Model
Dispall
Dispall 4S’s
Geofisika
Indikator

Sys Ski
te Pengukuran lls Survey
ms lapangan awal

Komparasi Pengukuran
Data/hasil lapangan

Analisa Interpretasi
model Data/Hasil

19
JADWAL PELAKSANAAN
4.1 Jadwal Pelaksanaan untuk Tahun 1

Jadwal Kegiatan (Bulan)


Jenis
Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Studi data awal

Survey awal
Pengukuran
lapangan

Interpretasi
data/hasil

Laporan
tahun 1

4.2 Jadwal Pelaksanaan untuk Tahun 2

Jadwal Kegiatan (Bulan)


Jenis
Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Studi fisis
kualitas air

Pengukuran
lapangan
Komparasi
data/hasil

Analisa model
Dispall

Laporan
tahun 2

20
BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil
Penelitian, pengukuran dan pengambilan data dilakukan menggunakan
metode geolistrik resistivity di kawasan sanitary landlfill TPA Gampong Jawa
Banda Aceh. Digunakannya metode geolistrik tahanan jenis ini dimaksudkan untuk
mengetahui sebaran batuan (tanah) yang bersifat konduktif, semi dan non konduktif.
Sehingga dapat untuk memperkirakan keberadaan tubuh batuan dasar (bedrocks)
yang mempunyai nilai resistivitas tinggi (non konduktif), batuan ubahan (alterasi)
yang mempunyai resistivitas rendah (konduktif). Metoda ini menggunakan arus
listrik searah atau bolak-balik yang dialirkan kedalam bumi melalui dua elektroda
arus. Perbedaan tegangan yang timbul diukur dengan menggunakan dua elektroda
potensial. Parameter yang diperoleh adalah nilai resistivitas semu 2D yang
diharapkan dapat memberikan gambaran lapisan bawah permukaan. Pengukuran
geolistrik resistivitas dilakukan dengan menggunakan konfigurasi Wenner-
Schlumberger.
Berdasarkan citra geolistrik bawah permukaan secara 2D yang didapatkan,
dapat menganalisa perbedaan nilai resisitivitas batuan maka dapat diinterpretasikan
kedalaman, struktur geometri, pola dan bentuk perubahan jenis batuan, serta
karakteristik perlapisannya. Hasil dari penelitian ini berupa data dari lima lintasan
pengukuran, masing-masing lintasan memiliki panjang yang bevariasi antara 100 -
200 m dengan jarak spasi elektroda 2 m. Dengan fungsinya sebagai tempat
pembuangan akhir, pada lokasi ini diduga akan terdapat bentuk-bentuk dan ciri-ciri
khusus pada bawah pemukaan dangkal, baik berupa lapisan keras (hard layer)
maupun lapisan terkontaminasi.
Data hasil pengukuran lapangan dan diproses dengan menggunakan software
Res2Dinv, dimana hasil pengolahan yang diperoleh adalah berupa gambaran
penampang bawah permukaan. Secara umum, hasil dari semua pengolahan data
menunjukkan gambaran penampang bawah permukaan dengan jenis batuan yang
cukup variatif, dengan nilai resistivitas yang diperoleh dari hasil inversi juga
bervariasi. Salah satu hasil pengolahan data berupa data pengukuran, data
perhitungan dan model inversi untuk semua lintasan. Jumlah lintasan yang di ukur
adalah sebanyak 7 lintasan yang melingkupi semua area mengelilingi kawasan TPA

21
tersebut. Adapun lintasan tersebut masing-masing terletak pada koordinatnya (Tabel
5.1) seperti tergambar dalam peta pada Gambar 5.1.

Tabel 5.1. Koordinat lokasi masing-masing lintasan pengukuran.


Lintasan Panjang Lintang (U) Bujur (T) Titik

Lintasan 1 200 m 50 34’ 46.73” 950 18’ 52.10” 0


50 34’ 40.77” 950 18’ 54.60” 200
Lintasan 2 200 m 50 34’ 46.75” 950 18’ 46.75” 0
50 34’ 40.86” 950 18’ 54.73” 200
Lintasan 3 160 m 50 34’ 44.96” 950 18’ 44.96” 0
50 34’ 49.91” 950 18’ 54.58” 160
Lintasan 4 100 m 50 34’ 38.93” 950 18’ 55.24” 0
50 34’ 39.78” 950 18’ 54.41” 100
Lintasan 5 100 m 50 34’ 39.05” 950 18’ 59.03” 0
50 34’ 41.16” 950 19’ 01.44” 100
Lintasan 6 100 m 50 34’ 36.98” 950 18’ 56.97” 0
50 34’ 39.14” 950 19’ 00.07” 100
Lintasan 7 200 m 50 34’ 46.97” 950 18’ 57.02” 0
50 34’ 42.43” 950 19’ 02.28” 200

Lintasan pengukuran dilakukan di sekeliling lokasi sanitary landfill dengan


harapan akan dapat ditentukan bagaimana secara optimal identifikasi kondisi geologi
bawah permukaan dan akan dapat dicitrakan perbandingan nilai resisitivitas pada
masing-masing sisi, formasi peresapan limbah, yang akhirnya akan sangat berkait
erat dengan penetuan lokasi akumulasi lindi (leachate) atau pola aliran kontaminan.

22
Gambar 5.1 Peta sanitary landfill Gampong Jawa dan lokasi masing-masing
lintasan pengukuran.

Sedangkan hasil dan nilai resitivitas dari pemrosesan data dan proses inversi
berdasarkan hasil pengukuran untuk setiap lintasan adalah seperti terlihat pada
Gambar 5.2 – 5.8 di bawah.

23
Gambar 5.2 Nilai resistivitas untuk lintasan 1

24
Gambar 5.3 Nilai resistivitas untuk lintasan 2.

25
Gambar 5.4 Nilai resistivitas untuk lintasan 3.

26
Gambar 5.5 Nilai resistivitas untuk lintasan 4

27
Gambar 5.6 Nilai resistivitas untuk lintasan .

28
Gambar 5.7 Nilai resistivitas untuk lintasan 6.

29
Gambar 5.8 Nilai resistivitas untuk lintasan 7.

Dimana:
Leachate resistivity values = 0.2-0.6 ohm.m
Marine alluvium resistivity values = 3-30 ohm.m
Reclaim materials resistivity values = >6 ohm.m

30
5.2 Pembahasan
Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pengolahan data sintetik
hasil forward modeling. Dimana data yang terekam dalam komputer langsung berbentuk
format DAT, dan data ini dihasilkan dari model sintetik yang dibuat dengan
menggunakan software Res2Dinv yang menghasilkan penampang dan nilai apparent
resistivity. Perhitungannya menggunakan formula yang sesuai dengan konfigurasinya
untuk mendapatkan a (apparent resistivity) seperti berikut:

dengan K adalah faktor geometri, yang didapatkan sesuai konfigurasi yang digunakan,
yaitu:

 
 
 2 
K  
 1  1  1  1 
r r r r 
 1 2 3 4 
.
dengan r1 = jarak elektroda arus 1 dengan elektroda potensial 1, r2 = jarak elektroda
elektroda potensial 1 dan elektroda arsu 2, r3= jarak elekroda arus 1 dan elektroda
potensial 2, dan r4= jarak elekroda potensial 2 dan elektroda arus 2. Secara umum dapat
dilihat seperti Gambar 5.9.

Gambar 5.9 Gambaran lay out konfigurasi atau susunan elektroda arus dan potensial.

31
Dengan model sintetik ini, kemudian dilakukan proses inversi dengan
menggunakan perangkat lunak Res2Dinv, yang mengasilkan penampang 2D dari nilai
resistivitas sebenarnya (true resistivity). Hasil inversi ini secara vertikal dapat
menunjukkan kedalaman dan sebaran resistivitas sebenarnya. Keluaran hasil inversi ini
juga merupakan akumulasi jarak elektroda, kedalaman penetrasi dan nilai resistivitas
sebenarnya (true resistivity). Hasil pengukuran dan hasil inversi untuk semua lintasan (7
lintasan) pada lokasi menunjukkan citra bawah permukaan 2D (Gambar 5.2 - 5.8).
Terlihat bahwa kedalaman yang diperoleh untuk semua lintasan pengukuran adalah
sekitar 20-40 m dengan panjang lintasan 100-200 m.
Lintasan L1 dan L2 terletak pada bagian Barat, L3 terletak pada bagian Barat
Laut, L4 terletak pada bagian Selatan, L5 di bagian Tenggara, L6 di bagian Selatan dan
L7 di bagian Timur. Dengan nilai penampang resistivitas yang relatif rendah yaitu 0-30
Ωm. Pada penampang tersebut, nilai resistivitas pada bagian permukaan (kedalaman
sekitar 0-5 m) dengan nilai resistivitas ≥ 6,0 Ωm. Berdasarkan citra struktur bawah
permukaan tersebut dan berdasarkan literatur (Reynold, 1997) dapat diketahui bahwa
yang lapisan bawah pemukaan tersebut berupa material lempung, yang diinterpretasikan
merupakan reclaim material. Material ini merupakan batuan/tanah atau sedimen yang
terdeposit akibat proses gravitasi, terpecah-pecah dan menumpuk oleh berbagai proses
dan membentuk lapisan tanah baru. Lapisan ini terletak secara tidak teratur di beberapa
tempat di bagian permukaan pada setiap lintasan.
Selanjutnya pada bagian bawah dari setiap perlapisan, terdapat suatu material
dengan penampang resisvitas sekitar 3-30 Ωm yang diinterpretasikan sebagai material
marine alluvium, yang merupakan tanah yang telah mengalami degradasi oleh
pencampuran air asin dan air payau. Hal ini sesuai dengan keberadan lokasi studi yang
terletak berdekatan dengan kawasan pantai. Penampang lapisan dengan material ini
terlihat jelas terutama pada lintasan L1, L2, L3 dan L7. Keberadaan ini juga disebabkan
karena keberadaan lokasi lintasan ini yang secara langsung merupakan kawasan yang
diduga dipengaruhi oleh intrusi air laut.
Penampang resistivitas lain yang sangat penting adalah beberapa bagian yang
merupakan titik-titik lokasi yang sangat konduktif. Lapisan ini mempunyai nilai
resistivitas sekitar 0.2-0.6 Ωm, yang di interpretasikan sebagai lokasi utama tempat

32
merembesnya lindi (leachate) dan merupakan kawasan tempat aliran kontaminan. Titik-
titik aliran lindi ini didapati di semua lintasan pada kedalaman sekitar 10-20 m. Dengan
pengaruh elevasi dan gravitasi maka infiltasi aliran lindi ini akan sangat berpotensi
untuk mempengaruhi keadaan air tanah atau akifer.
Dari penelitian ini didapatkan model geofisika yang menunjukkan karakteristik
secara detail bawah permukaan (subsurface) terutama distribusi dan pola akumulasi
lindi cair (DISPALL atau Distribution Pattern Of Liquid Leachate). Model ini
menunjukan citra penampang 2-D pada kawasan tersebut yang terdiri dari 2 lapisan
utama yaitu:
1. Lapisan bagian atas (top layer) yang terdiri dari material reclaim yang terdiri dari
clayey sand (lempung pasiran) dan lateritic clay (lempung latritik) dengan nilai
resistivitas < 20 Ωm dan berada pada kedalaman < 20 m.
2. Lapisan bagian bawah (bottom layer) yang terdiri dari marine alluvium atau
material lempung yang telah mengalami degradasi akibat intrusi air laut dan air
payau. Nilai resistivitasnya > 20 Ωm
Dan pada lapisan atas tersebut dengan nilai resistivitas yang fluktuatif dan
bervariasi dan diinterpretasi sebagai area yang mengalami kontaminasi disebabkan oleh
infiltasi oleh lindi (leachate).

33
BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Setelah dilakukan penelitan untuk tahap pertama yang didapatkan hasil cukup
baik berupa model geofisika yang menjelaskan secara lebih jelas model awal aliran,
infiltasi dan akumulasi lindi yang menggambalkan adalnya DISPALL (Distribution
Pattern Of Liquid Leachate). Selanjutnya akan dilanjutkan pada penelitian untuk tahap
kedua atau tahun kedua., untuk mendapatkan karakteristik DISPALL tersebut secara
lebih komprehensif yang diharapkan akan menjadi rekomendasi bagi pengambil
kebijakan untuk mengantisipasi munculnya dampak negative. Adapun rencana pada
tahun kedua secara umum tergambar pada diagram alir peta ajalan penelitian pada
Gambar 4.6 diatas. Dimana perlu dilakukan verfikasi kajian geofisika yang lebih detail
dan kajian kualitas fisis limbah cair dan air.
. Pada tahap ini akan dilakukan verifikasi kontinu data geofisika dan pengukuran
kualitas air di sekitar kawasan studi. Lokasi pengambilan sampel akan diambil air
permukaan dan air sumur yang ditentukan dengan mempertimbangkan kepadatan
penduduk, Parameter fisis penting yang akan di ukur adalah suhu, TDS, Bau, Warna,
pH, COD, DO, Besi. Sebagai tambahan juga akan ditentukan parameter Fosfat, Nitrat,
Nitrit, NH3, Klorida, dan H2S. Dimana hasil yang didapat akan dianalisa komparatif
konstruktif, yaitu dengan mengacu pada standar baku mutu limbah cair dan standar baku
mutu air. Untuk itu diperlukan beberapa tahapan seperti berikut:
1. Perlu didapatkannya data fisis sampel air di wilayah sekitar lokasi penelitian
2. Perlu dilakukan analisa data sekunder
3. Perlu dilakukan analisis kualitas air di sekitar lokasi penelitian
4. Perlu dilakukan penelitian lapangan geolistrik lanjutan
5. Perlu dibuat analisa model yang didapatkan
6. Perlu ditentukan model DISPALL yang ditentukan, sehingga akan didapatkan
7. Karakreitik DISPALL dan dampak pada wilayah penelitian tersebut.
Demikian rencana penelitian untuk tahun kedua, harapannya dengan dukungan
berbagai pihak, penelitian dapat dihasilkan dengan baik dan bermanfaat bagi
masyarakat, Bangsa dan Negara.

34
BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian mengenai Penguatan Mitigasi Bencana Di Aceh: Studi


Karakteristik Dispall (Distribution Pattern Of Liquid Leachate ) Berdasarkan Sifat
Konduktivitas Listrik Bawah Permukaan (Subsurface) dapat diambil kesimpulan:
1. Model geofisika menunjukan citra penampang 2-D pada kawasan tersebut yang
terdiri dari 2 lapisan utama yaitu:
a. Lapisan bagian atas (top layer) yang terdiri dari material reclaim yang terdiri
dari clayey sand (lempung pasiran) dan lateritic clay (lempung latritik) dengan
nilai resistivitas < 20 Ωm dan berada pada kedalaman < 20 m.
b. Lapisan bagian bawah (bottom layer) yang terdiri dari marine alluvium atau
material lempung yang telah mengalami degradasi akibat intrusi air laut dan air
payau. Nilai resistivitasnya > 20 Ωm.
2. Didapatkan perlapisan dengan nilai resistivitas relative rendah berfluktuatif dan
bervariasi, diinterpretasi sebagai area terakumulasinya kontaminasi akibat infiltasi
lindi (leachate).
3. Secara umum model geofisika tersebut menunjukkan hasil dengan sangat signifikan
dan sesuai dengan kondisi riil terkait dengan keadaan geologi, topografi, dan posis
geografis lokasi studi.
4. Karakteristik pada model geofisika citra 2D bawah permukaan (subsurface) tersebut
menunjukkan pola distribusi dan akumulasi lindi cair (DISPALL atau Distribution
Pattern Of Liquid Leachate) di lokasi studi.

Setelah dilakukan penelitian ini maka penulis merasa perlu untuk memberikan
saran pengembangan selanjutnya yaitu:
1. Sangat diperlu penelitian lanjutan untuk tahap kedua, untuk pengembangan lebih
luas metode geofisika dan geokimia dengan penambahan beberapa parameter
penting sesuai dengan rencana penelitian tahap selanjutnya.

35
2. Perlu dukungan data-data sekunder untuk melengkapi analisis yang lebih dalam pada
tahapan selanjutnya.
3. Perlu dikembangkan model yang lebih detail pemetaan kebencanaan yang lebih
lengkap dan komprehensif, karena bahaya dan dampak yang ditimbulkan akan
menjadi bencana dan berdampak pada jatuhnya korban jiwa. Sehingga hal ini perlu
di lakukan antisipasi dan perencanaan mitigasi bencana yang lebih baik.

36
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, N.K., Osazuwa, I.B., dan Onugba, A., 2010., Detecting Municipal Solid
Waste Leachate Plumes Through Electrical Resistivity Survey And Physio-
Chemical Analysis Of Groundwater Samples, Journal of American Science, V.6,
n.8.

Alile, O.M., Jegede, S.I., dan Emekeme, R.E., 2010, Subsurface probe and
hydrochemical analysis for the purpose of siting waste landfill, African Journal of
Environmental Science and Technology Vol. 4(1) p. 001-005.

Benson, R., Glaccum, R. dan Noel, M., 1983, Geophysical Techniques for Sensing
Buried Waste and Waste Migration. Environ. Monitor. Syst. Lab., Off. Res.
Develop., US Environ. Protect. Ag., Las Vegas, NV, Rep. 68-03-3050, V.114.

Bernstone, C., dan Dahlin, T., 1996, 2D Resistivity Surveying of Old Landfills,
Proceeding 2nd European EEGS Meeting, Nantes, France, 2-4 September 1996.

Bhattacharia, P. K., dan Patra, H.P., 1968. Direct Current Geoelectrical Sounding,
Elsevier, Amsterdam.

BRR NAD-Nias, 2007, Tsunami Recovery Waste Management Programme, Multi


Donor Fund.

Caputo, M.C., De Carlo, L. Cassiani, G., dan Deiana, R., 2011, Electrical methods for
monitoring a site potentially contaminated by landfill leachate, Geophysical
Research, Vol. 13, EGU2011-13332.

Ebraheem, A.M., 1996, Evaluation and Management of Groundwater Resources in the


Area West of Assiut City, Western Desert, Egypt. Bull. Fac. Sci., Assiut Univ.,
Assiut, 25, No. 1-F, p.19 - 44.

Fitterman, D. and Stewart, M., 1986, Transient Electromagnetic Sounding for


Groundwater Exploration”. Geophysics, V.5, p. 995-1005.

Greenhouse, J., Brewster, M., Schneider, G., Redman, D., Annan, P., Olhoeft, G.,
Lucius, J., Sander, K. and Mazzella, A., 1993, Geophysics and Solvents. The
Borden experiment Leading Edge., 12, No. 4, p. 261-267.

Hendrajaya, L., dan Arif, I., 1990, Geolistrik Tahanan Jenis, Laboratorium Fisika Bumi,
Jurusan Fisika Fmipa ITB, Bandung.

Hidajat, W.K., 2006, Menentukan lapisan penyimpan air (aquifer) dengan metode
geolistrik, Jurnal Teknik, V.28, no.3.

37
Hughes, L., Figgins, S. and Tinlin, R., 1989, The Use of Electrical Geophysics in
Groundwater Exploration and Mapping Groundwater Contamination. In: Proc.
Exploration, 87. Ont. Geol. Surv., Spec., 3.

Ibrahim,H.A; El-Hussaini, A.H., Ebraheem, A.M. and Ebraheem, M.O., 1998,


Application of Surface Earth Resistivity (ER) and Self-Potential (SP) for Ground
Water Exploration and Contamination in the Area West of Assiut City Egypt. Bull.
Fac. Sci., Assiut Univ., Assiut, 27, No. 2-F, p.227-252.

Kartini Dan Hernowo Danusaputro, 2005, Estimasi Penyebaran Polutan Dengan Metode
Self Potential, Jurnal Berkala Fisika, Vol.8, No.1, hal. 27-32.

Legaz, A., 2010, Measuring In-situ Time Domain Induced Polarization Data for
Landfills Delineation, Near Surface – 16th European Meeting of Environmental
and Engineering Geophysics 6 - 8 September 2010, Zurich, Switzerland.

Loke, M.H., 1999, Electrical imaging surveys for environmental and engineering
studies, Technical Notes.

Marchetti, M., Cafarella, L., Di Mauro, D., and Zirizzotti, A., 2002, Ground
magnetometric surveys and integrated geophysical methods for solid buried waste
detection: a case study, Annals Of Geophysics, V. 45.

Meju, M., 2006, Geoelectrical Characterization Of Covered Landfill Sites: A Process-


Oriented Model And Investigative Approach, Journal of Applied
Hydrogeophysics, 319–339.

Mukhtar, A.L., Sulaiman, W.N., Ibrahim, S., Latif, P.A., Dan Hanafi, N.M., 2000,
Detection Of Groundwater Pollution Using Resistivity Imaging At Seri Petaling
Landfill, Malaysia.

Pellerin, L., 2002, Applications of Electrical and Electromagnetic Methods for


Environmental and Geotechnical Investigations, Surveys in Geophysics, V. 23,
p.101-132.

Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Banda Aceh Tahun 2009- 2029

Roe, J., Triantafilis, J., dan Santos, F.M., 2010, Detecting a landfill leachate plume using
a DUALEM-421 and a laterally constrained inversion model, 2010 19th World
Congress of Soil Science, Soil Solutions for a Changing World, 1 – 6 August
2010, Brisbane, Australia.

Rosqvist, H., Leroux, V., Dahlin, T., Svensson, M., Lindsjo, M., Mannson, C.H., dan
Johansson, S., 2009, An Evaluation of the Potential of the Geoelectrical resistivity

38
method for Mapping gas migration in landfills, HPM3 Workshop 10-12 March
2009, Braunschweig, Germany.

Sebaq, A.S.A. 2000, Application of Surface Geoelectrical Methods for the Delineation
of Groundwater Pollution in the Area Northwest of Assiut City (Beni Ghalib). M.
Sc. Thesis, Assiut Univ. Egypt.

Telford,W.M., L.P. Geldart and R.E. Sheriff, 1990, Applied Geophysic : Second Edition,
Cambrige University Press, USA, p.522-538.

Teti Zubaidah, Bulkis Kanata, 2008, Pemodelan Fisika Aplikasi Metode Geolistrik
Konfigurasi Schlumberger Untuk Investigasi Keberadaan Air Tanah, Jurnal
Teknik Elektro, V.7 no.1.

Reynolds, J.M. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics. New York:


John Wiley & Sons, 1997.

Sandberg, S.K ,. Slater, L.D, dan Versteeg, R., 2002, An integrated geophysical
investigation of the hydrogeology of an anisotropic unconfined aquifer, Journal of
Hydrology, V. 267, p. 227–243

Stierman, D., 1984, Electrical Methods of Detecting Contaminated Groundwater at the


Stringfellow Waste Disposal Site”. Riverside County, California. Environ. Geol.
Water Sci., 6, No. 1, p.11-20.

Van, G.P., Park, S.K., Hamilton, P., 1991, Monitoring leaks from stroge ponds using
resistivity methods, Geophysics, 56, p.1267-1270.

Ward, S., 1985, Where are our Careers in Geophysics?, Leading Edg. 4, No. 7.

Wijaya, L. Legowo, B., Dan Ramelan, A.H., 2009, Identifikasi Pencemaran Air Tanah
Dengan Metode Geolistrik Di Wilayah Ngringo Jaten Karanganyar, Prosiding
Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir,
Surakarta.

www.serambinews.net/news/view/38279/air-lindi-di-tpa-gampong-jawa-mengandung-
zat-berbahaya, diakses tanggal 3 Januari 2012.

www.theglobejournal.com/kategori/lingkungan/warga-minta-tpa-gampong-jawa-
dipindahkan.php, diakses tanggal 12Januari 2012

www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=30591&tit=Banda_Aceh_Daya_
Tampung_TPA_Gampong_Jawa_Penuh, diakses tanggal 10 Februari 2013.

39