Anda di halaman 1dari 8

Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

PERTEMUAN KE-10: PENERAPAN


TEORI PARRY-LORD

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran yang akan dicapai ialah sebagai berikut:
1.1. Menunjukkan penerapan teori Parry-Lord dalam tradisi Koda Knalan di
Flores Timur
1.2. Menunjukkan keunggulan dan kelemahan teori Parry-Lord

B. URAIAN MATERI
Tujuan Pembelajaran 1.1:
Menunjukkan penerapan teori Parry-Lord dalam tradisi Koda
Knalan di Flores Timur

Berikut ini dikemukakan beberapa pokok gagasan dari studi


yang dilakukan Taum sebagai ilustrasi penerapan teori Parry-Lord. Studi
Taum (1994) berjudul Tradisi dan Transformasi Cerita Wato Wele-Lia
Nurat dalam Sastra lisan Flores Timur melibatkan delapan teks puisi
lisan masyarakat Lamaholot di Kabupaten Flores Timur yang disebut
koda klaken atau koda knalan. Koda klaken memiliki struktur formal
(berupa jumlah kata dalam larik, pasangan kata, dan kombinasi
pasangan kata) dalam sistem pembaitan (yang memiliki pola konstruksi
bait yang teratur) yang diikuti secara ketat dan konsisten. Keindahan
bahasa puisi koda klaken dalam menuturkan cerita Wato Wele - Lia
Nurat yang relatif cukup panjang menimbulkan pertanyaan tentang
proses penciptaan dan pewarisannya. Teori Parry-Lord dapat
dipergunakan untuk menjelaskan rahasia tersebut.
a. Formula dan Ungkapan Formulaik
Dalam menuturkan cerita mitologis Wato Wele - Lia Nurat,
bahasa-bahasa kiasan dan sarana-sarana retorika seringkali dipergunakan
oleh si penutur. Dalam penuturan cerita Wato Wete – Lia Nurat,
diselipkankan gaya bahasa metafora, personifikasi, dan perumparnaan,

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 60


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

meskipun digunakan secara terbatas. Gaya bahasa metafora atau gaya


bahasa perbandingan implisit terlihat dalam kutipan berikut ini.
1) Doan na lali muda hugu haga// Jauhnya ujung jeruk tak
mencapainya//
Lela na lali pao wutun buno jauhnya pucuk mangga tak
menggapainya
2) Ehin wengi keleket deket// Buahnya lebat kilat menyambar//
Wain dene hetedo redo Bulirnya banyak gempa mengguncang
3) Deketape ptala tapo// Menyatakan api bintang pagi//
Hemo ape belia hire Membuat api bintang timur

Untuk menggambarkan betapa jauhnya kampung Sina jawa,


kutipan (1) menjelaskan bahwa tempat itu tidak dapat dicapai oleh ujung
jeruk // pucuk mangga. Dalam kutipan (2) metafora kilat menyambar //
gempa mengguncang dimanfaatkan untuk melukiskan hasit panen yang
melimpah. Metafora api bintang pagi // api bintang tirnur
menggambarkan api gaib (ape be-open) yaitu api yang dibuat oleh Lia
Nurat. Gaya bahasa perbandingan eksplisit terlihat dalam dua kutipan
berikut ini.
(4) Wato pesang maik ile jadi// Batu pecah bagai gunung melahirkan//
Parak beta moion woka dewa Wadas terbelah serupa bukit
beranak
(5) Rupan maik ina nitung// Rupanya bagaikan ibu hantu//
NopenoIon ema lolong Wajahnya laksana bunda jin

Pengalihan arti dari sesuatu yang hidup kepada sesuatu yang


tidak bernyawa (yakni gaya bahasa personifikasi) tampak pada kutipan-
kutipan berikut.
(6) Nuren tutu neda maring// Mimpi berkisah mimpi berucap//
Na iba sesa Iemah banu Mencari kian rnenangkap belut
(7) Lewo di uteng tobo hala// Kampung tak memintanya menetap//
Tana di lakang pae hala Desa pun tak mengajaknya berdiam.

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 61


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

Gaya bahasa yang lebih banyak dijumpai adalah metonimia dan


sinekdoke. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan
sebuah kata untuk menyatakan sesuatu hal yang lain karena mempunyai
pertalian yang sangat dekat. Sinekdoke adalah semacam gaya bahasa
figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk
menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk
menyatakan sebagian (Keraf, 2010: 142).
Metonimia yang dominan dalam penuturan Wato Wele - Lia
Nurat adalah akibat digantikan isi dengan wadah (relasi logik). Beberapa
contoh dikemukakan di bawah ini.
(8) Paji tewo pulo kae// Kampung Paji sudah sepuluh//
Beda tana lema kae Desa Beda sudah lima
(9) Soge haka liu ile// Soge datang menembak gunung//
Kewa gere reja woka Kewa tiba membunuh bukit
Sepuluh dan lima dalam kutipan (8) ingin menggambarkan bahwa
perkampungan Paji dan Beda sudah banyak (tidak hanya 10 dan 5
kampung). Dalam kutipan (9) gunung dan bukit adalah metonimia yang
digunakan untuk menggantikan tokoh Lia Nurat, yang dalam
pemahaman masyarakat setempat memang identik dengan Gunung Ile
Mandiri.
Gaya bahasa sinekdoke terlihat dalam kutipan berikut ini.
Kutipan (10) menggambarkan bahwa Lia Nurat Lebih unggul
dibandingkan dengan orang-orang Paji, bukan hanya dalam bidang hasil
bumi. Dalam kutipan (11) telinga menggantikan istri Lia Nurat. Tentu
saja bukan hanya telinga yang dibayar tuntas, melainkan keseluruhan
badan dan jiwa istrinya.
10) Ehin uro Paji// Hasilnya melebih Paji//
Wain epa Beda Tuannya mengampuni Beda
11) Tilun enu sope anal/ Telinganya terbayarka anaknya
Nuti wihiin sope ana terlunaskan// Belis diberikan mas kawin
dibayarkan

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 62


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

Semua gaya bahasa tersebut merupakan ungkapan-ungkapan


formulaik yang sudah disiapkan oleh tradisi, dan yang dapat
dipergunakan oleh siapapun dalam menuturkan berbagai kisah dan
peristiwa serupa.
b. Tema-tema atau Kelompok Gagasan
Tema-tema atau kelompok-kelompok gagasan di dalam cerita
Wato Wele - Lia Nurat, khususnya dalam versi X (teks A, B, dan H),
terdiri dari delapan kelompok tema sebagai berikut.
(1) Cerita tentang sebuah lokasi yang sangat jauh, yang dinamakan
Sina Jawa, yang merupakan asal-usul tokoh Wato Wete dan Lia
Nurat.
(2) Deskripsi tentang burung garuda, telur burung garuda, dan
kelahiran manusia dari telur burung garuda itu.
(3) Cerita tentang perjalanan mencari tempat untuk menetap dan
identifikasi lokasi, kebun, dan kampung yang dibangun.
(4) Adegan Lia Nurat menyatakan api di puncak gunung lle Mandiri
merupakan sebuah adegan siap pakai. Dalam adegan ini selalu
dilukiskan bahwa nyala api itu sangat terang mencapai kampung
Paji dan menarik perhatian bakat istrinya yang bernama Hadung
Boleng Teniban Duti.
(5) Adanya bagian cerita yang mendeskripsikan secara rinci mengenai
anak-anak Lia nurat dan Hadung Boleng. Deskripsi ini merupakan
sebuah konvensi penceritaan yang sangat penting, karena berkaitan
dengan legitimasi pemilikan tanah.
(6) Adegan pertengkaran kedua istri Lia Nurat, Hadung Boleng
Teniban Duli dan Uto Watak Teluma Burak, yang berakhir dengan
kematian Lia Nurat sebagai akibat pembalasan dendam dari
keluarga Uto Watak Teluma Burak.
(7) Adegan peperangan di Adonara antara putra-putra Lia Nurat
melawan suku Paji yang berakhir dengan kematian putra sulung
Lia Nurat bernama Blawa Burak Sina Puri.

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 63


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

(8) Adegan penutup cerita berupa pembagian tanah antara anak-anak


Jaki-Jaki Lia Nurat, yang sampai sekarang ditempati oleh
keturunannya masing-masing di wilayah Baipito.
Kedelapan tema tersebut merupakan adegan-adegan siap pakai
yang telah disiapkan oleh konvensi, yang dapat dimanfaatkan oleh
berbagai tukang cerita setiap kali mereka ingin menuturkan kisah Wato
Wele-Lia Nurat.
c. Prosedur Pewarisan
Di daerah-daerah tertentu, mungkin saja penuturan sastra lisan
tidak dilakukan sebagai sebuah kegiatan profesi, dalam arti si penutur
sastra lisan mengikuti proses pendidikan tertentu. Masyarakat Flores
Timur misalnya mengenal tradisi puisi lisan (yang disebut koda knalan
atau koda klaken) dengati sistem dan kaidah-kaidah poetika yang diikuti
secara ketat dan teratur, akan tetapi proses menjadi seorang pembawa
puisi lisan yang mahir tidak melalui pola yang demikian (Taum, 1995:
46-51). Kemampuan dan kemahiran menggunakan bahasa sastra koda
knalan umumnya dipercaya sebagai suatu rahmat atau karunia (kurnia)
Tuhan.
Dalam istilah mereka, kemampuan itu diakibatkan mnuno buno
(mnuno = bintang; buno = jatuh, menukik), yaitu orang-orang tertentu
yang kejatuhan bintang. Ada keyakinan bahwa selalu ada salah seorang
anak dari keluarga tua adat yang muncul dengan kemampuan bersastra.
Di wilayah Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur, NTT, ada
kepercayaan bahwa pada waktu seseorang bercerita, dia didatangi dan
didampingi oleh Manuk Sili Gokok yaitu seekor burung garuda yang
memberinya kemampuan bersastra itu.
Berbagai gaya retorika dalam komposisi sastra lisan
menunjukkan ciri-ciri formulaik, baik dalam tataran struktur formatnya
maupun dalam tataran semantisnya. Ciri-ciri formulaik itu dapat
dipahami dalam konteks fungsi sastra lisan sebagai sarana bagi
penyimpanan, penyampaian dan pewarisan berbagai norma,
konvensional dan sistem nilai dalam lingkup suatu kebudayaan tertentu.

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 64


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

Variasi-variasi teks dapat dikaji dalam hubungannya dengan aspek


tanggapan (resepsi) penutur cerita terhadap norma-norma konvensional
tersebut, entah norma-norma kesusastraan maupun norma-norma sosial
kemasyarakatan. Menurut paham resepsi sastra, pergeseran unsur-unsur
teks berkaitan erat dengan horison harapan penutur terhadap sistem
konvensi tersebut. Perlu dipahami bahwa perubahan-perubahan
kemasyarakatan mengakibatkan munculnya variasi-variasi suatu teks
tertentu.
Penciptaan sastra lisan pada umumnya dipermudah berkat
adanya formula, ungkapan-ungkapan formulaik, dan tema-tema siap
pakai. Pencipta sastra lisan bertugas merakit formula-formula tersebut
ke dalam sebuah cerita yang utuh. Dengan demikian, sastra lisan tampak
sebagai akumulasi formula-formula. Meskipun demikian, struktur sastra
lisan sesungguhnya tidak beku karena setiap kali diceritakan, teks itu
diciptakan secara baru dan spontan sesuai dengan situasi pendengar,
waktu yang tersedia, maupun keadaan si penggubah sendiri. Dalam
kebudayaan-kebudayaan tertentu, seorang sastrawan (penyair lisan atau
tukang cerita) adalah seorang profesional yang mencapai status tersebut
melalui sistem pendidikan tertentu yang diikuti dengan teratur.
Dalam kebudayaan yang lain, seorang sastrawan lisan tidak
mengikuti sistem pendidikan tertentu. Jika dilacak lebih jauh mengenai
sumber-sumber cerita, dapat dijumpai berbagai aspek intertekstualitas
dalam sebuah teks. Kajian terhadap hal ini dapat menjefaskan migrasi
dan difusi sebuah bentuk kebudayaan. Jika dipandang bahwa dalam
sastra lisan terdapat kesatuan formal dan semantik, maka kaidah-kaidah
formal yang diuraian di atas dapat menjadi salah satu petunjuk untuk
menemukan arti dan makna teksnya. Lord (1971:68) mengungkapkan
bahwa formula dan ungkapan-ungkapan formulaik hanya menjadi sarana
penyampaian cerita. Dalam ungkapan Lord sendiri, the tales the thing;
cerita atau kisah itulah pokoknya.

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 65


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

Tujuan Pembelajaran 1.2:


Menunjukkan keunggulan dan kelemahan teori Parry-Lord

Studi Parry dan Lord menjawab misteri penciptaan Homerus yang


buta huruf dapat menciptakan puisi Odysee dan llias yang sangat terkenal
itu. Parry adalah orang pertama yang membuktikan bahwa karya Homerus
merupakan karya utuh dan sempurna. Homerus memang memanfaatkan
dan menggali kekayaan tradisi lisan pada zamannya, tetapi berdasarkan
konvensi tradisi lisan itu dia menciptakan karya sastranya sebagai suatu
keseluruhan. Pandangan ini memberikan wawasan baru dalam teori
ekspresivisme, khususnya menyangkut proses penciptaan, pewarisan, dan
pembentukan atau komposisi sebuah cerita. Pada tataran sintaksis terdapat
formula dan ungkapan formulaik yang sudah disediakan oleh tradisi
bahasa dan yang siap digunakan oleh tukang cerita dalam merangkaikan
kalimat di dalam penceritaan.
Pada tataran wacana, tradisi juga sudah menyiapkan tema atau
kelompok gagasan yang merupakan adegan-adegan siap pakai yang
merupakan kekayaan tradisi lisan setempat, yang siap dimanfaatkan oleh
tukang cerita. Teori penciptaan Lord ini kiranya berlaku pula pada
penceritaan kisah-kisah yang panjang seperti dalam cerita wayang ataupun
kisah-kisah perjalanan Panji. Seorang tukang cerita (dalang) tentu
memiliki formula dan ungkapan-ungkapan formulaik serta adegan-adegan
siap pakai yang dapat dimanfaatkannya setiap kali melakukan pementasan.
Kepandaian seorang tukang cerita dapat dipandang sebagai sebuah
ketrampilan yang dapat dipelajari siapapun yang berminat menjadi tukang
cerita.
Teori penciptaan Parry dan Lord kiranya tidak dapat begitu saja
diterapkan dalam proses penciptaan prosa maupun puisi-puisi lisan yang
relatif pendek. Dalam berbagai kebudayaan tradisional di lndonesia,
kadang-kadang muncul fenomena bahwa proses pewarisan kemampuan
bercerita dari seorang tukang cerita ke tukang cerita lainnya melibatkan
hal-hal yang bersifat magis, seperti bertapa, pemberian kembang dan

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 66


Modul Sastra Lisan SASTRA INDONESIA

mahar tertentu, upacara ritual, doa, dan slametan. Hal ini tidak disinggung
sama sekali dalam teori Milman Parry. Sekalipun demikian, pernyataan
Parry dan Lord bahwa keahlian seorang tukang cerita selalu tidak terlepas
dari ketrampilannya merangkai kalimat dan adegan-adegan siap pakai
merupakan sebuah kenyataan artistik yang sulit dibantahkan tanpa
kemampuan tersebut, sukar diharapkan adanya tukang cerita yang mampu
membawakan berbagai cerita rakyat yang sudah dikenal masyarakat
secara memuaskan.

C. LATIHAN SOAL / TUGAS


1. Setelah mempelajari penerapan teori Parry-Lord, jelaskan perbedaan
antara formula dan formulaik berdasarkan pembahasan dalam
penelitian kisah Wato Wete – Lia Nurat di atas!
2. Salah satu kelemahan teori Parry-Lord ialah tidak dapat diapakai
dalam proses penciptaan puisi maupun prosa lisan yang pendek,
mengapa demikian?

D. DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.

Lord, Albert B. 1971. The Singer of Tales. New York: Harvard


University Press.

S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang 67