Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN ADULT RESPIRATORY DISTRESS


SYNDROME (ARDS)”

Oleh:

1. M.Uztadh Al Asari
2. Lailatus Sa’adah
3. Sinta Herdina Putri

PROGRAM PENDIDIKAN SI KEPERAWATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
Tahun 2013-2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kehendak-

Nyalah makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Acute Respiratory Distress Syndrome

(ARDS)” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini kami banyak menemukan kesulitan yang disebabkan oleh

kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat dorongan dan bimbingan berbagai pihak, akhirnya

makalah ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari, sebagai seorang mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan

masih perlu banyak belajar dalam penulisan makalah ini, bahwa makalah ini masih banyak

memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif

dan bersifat membangun agar makalah ini memiliki daya guna di masa yang akan datang.

Harapan kami, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan

mahasiswa.

Jombang20 oktober 2013

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sindrom gagal pernafasan merupakan gagal pernafasan mendadak yang timbul
pada penderita tanpa kelainan paru yang mendasari sebelumnya. Sindrom Gawat Nafas
Dewasa (ARDS) juga dikenal dengan edema paru nonkardiogenik merupakan sindroma
klinis yang ditandai penurunan progresif kandungan oksigen arteri yang terjadi setelah
penyakit atau cedera serius. Dalam sumber lain ARDS merupakan kondisi kedaruratan
paru yang tiba-tiba dan bentuk kegagalan nafas berat, biasanya terjadi pada orang yang
sebelumnya sehat yang telah terpajan pada berbagai penyebab pulmonal atau
nonpulmonal. Beberapa factor pretipitasi meliputi tenggelam, emboli lemak, sepsis,
aspirasi, pankretitis, emboli paru, perdarahan dan trauma berbagai bentuk. Dua
kelompok yang tampak menjadi resiko besar untuk sindrom adalah yang mengalami
sindrom sepsis dan yang mengalami aspirasi sejumlah besar cairan gaster dengan pH
rendah. Kebanyakan kasus sepsis yang menyebabkan ARDS dan kegagalan organ
multiple karena infeksi oleh basil aerobic gram negative. Kejadian pretipitasi biasanya
terjadi 1 sampai 96 jam sebelum timbul ARDS.
ARDS pertama kali digambarkan sebagai sindrom klinis pada tahun 1967. Ini
meliputi peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler pulmonal, menyebabkan edema
pulmonal nonkardiak. ARDS didefinisikan sebagai difusi akut infiltrasi pulmonal yang
berhubungan dengan masalah besar tentang oksigenasi meskipun diberi suplemen
oksigen dan pulmonary arterial wedge pressure (PAWP) kurang dari 18 mmHg.
ARDS sering terjadi dalam kombinasi dengan cidera organ multiple dan mungkin
menjadi bagian dari gagal organ multiple. Prevalensi ARDS diperkirakan tidak kurang
dari 150.000 kasus pertahun. Sampai adanya mekanisme laporan pendukung efektif
berdasarkan definisi konsisten, insiden yang benar tentang ARDS masih belum
diketahui. Laju mortalitas tergantung pada etiologi dan sangat berfariasi. ARDS adalah
penyebab utama laju mortalitas di antara pasien trauma dan sepsis, pada laju kematian
menyeluruh kurang lebih 50% – 70%. Perbedaan sindrom klinis tentang berbagai
etiologi tampak sebagai manifestasi patogenesis umum tanpa menghiraukan factor
penyebab.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Adult Respiratory Distress syndrome?
2. Bagaimana etiologi dari ARDS?
3. Bagaimana tanda dan gejala dari ARDS?
4. Bagaimana patofisiologi dari ARDS?
5. Bagaimana manifestassi klinis dari ARDS?
6. Bagaimana komplikasi dari ARDS?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari ARDS?
1.3. Tujuan
 Agar mahasiswa memahami konsep dari ARDS
 Agar mahasiswa mampu membuat Asuhan Keperawatan pada penderita ARDS
 Agar mahasiswa mampu mengaplikasikan nya di dalam kehidupan.
BAB II

PEMBAHASAN

1. DEFINISI
ARDS merupakan suatu bentuk dari gagal napas akut yang ditandai dengan
hipoksemia, penurunan compliance paru, dispnea, edema pulmonal bilateral tanpa gagal
jantung dengan infiltrate yang menyebar dikenal juga dengan nama noncardigenic
pulmonary edema, shock pulmonary dan lain-lain. Walaupun awalnya disebut dengan
“Sindrom Gawat Napas Biasa” (Adult) istilah “akut” sekarang lebih dianjurkan karena
keadaan ini tidak terbatas pada orang dewasa.
2. ETIOLOGI
ARDS terjadi jika paru terkena cedera secara langsung maupun tidak langsung oleh
berbagai proses. Beberapa penyebab ARDS:
 Syok karena berbagai penyebab (terutama hemoragik, pancreatitis akut
hemoragik sepsis gram negative)
 Sepsis tanpa syok dengan atau tanpa kolagolasi intravaskuler diseminata (DIC)
 Peunomia virus yang berat
 Trauma yang berat
 Cidera kepala
 Cidera dada yang langsung
 Trauma pada berbagai organ dengan syok hemoragik
 Fraktur majemuk
 Emboli lemak ( berkaitan dengan fraktur dengan tulang panjang seperti
fremur)
 Cidera aspirasi atau inhalasi
 Aspirasi isi lambung
 Hampir tenggelam
 Inhalasi asap
 Inhalasi gas iritan (missal, klor, omonia, sulfur diogsida)
 pemberian inhirasi oksigen konsentrasi tinggi (Fio2>50%) yang lama (>48
jam)
 overdosis narkotik
 postperfusi pada pembedahan pintas kardiopulmunar

Biasanya pada pasien dengan ARDS merupakan golongan yang kuat untuk
menjelaskan mekanisme yang mealui cidera pembuluh darah paru. Mekanisme ini
kelihatannya bergantung pada intraksi sel-sel radang yang aktif, mediator bumolar, sel-sel
endoterial. Penjelasan yang lebih baik tentang mekanisme ini akan menentukan
perkembangan intervensi farmakologi yang efektif. Baru-baru ini, penelitian telah
difokuskan pada mekanisme yang menyebabkan pengaktifan sel-sel peradangan
(khususnya PMN), trombosit, dan faktor-faktor pembekuan lain, karena ARDs jelas
merupakan bagian keadaan sistemik yang disebabkan oleh radang yang dapat
berkembang secara berlahan menjadi gagal organ yang multipel.

3. TANDA DAN GEJALA


A. Tanda
Gagal nafas total
• Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
• Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada
pengembangan dada pada inspirasi
• Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan
Gagal nafas parsial
• Terdenganr suara nafas tambahan gargling (sumbatan akibat dari cairan), snoring (
mendengkur ) , Growing(sumbatan napas dengan lidah jatuh ke belakang) dan wheezing
(mengi)
• Ada retraksi dada
B. Gejala
• Hiperkapnia yaitu peningkatan PCO2 (penurunan kesadaran)
• Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

4. PATOFISIOLOGI
Secara pathofisiologi terjadinya ARDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kerusakan sistemik

Pe ↓ perfusi jaringan

Hipoksia seluler

Pelepasan faktor-faktor biokimia
( enzim lisosom, vasoaktif, system komplemen, asam metabolic, kolagen, histamine )

Pe ↑ permiabilitas kapiler paru

Pe ↓ aktivitas surfaktan

Edema interstisial alveolar paru

Kolaps alveolar yang progresif

Pe ↓ compliance paru
Stiff lung
Pe ↑ shunting

Hipoksia arterial

Keterangan ;
Pergerakan cairan paru pada kasus ARDS :
• Terjadi peregangan / deposisi dari mebran hialin
• Intraalveolar Epithelial junction melebar
• Terjadi edema interstisial, cairan intravascular keluar, protein keluar masuk ke dalam
alveoli
• Endotel kapiler paru pecah
• Eritrosit keluar dari intavaskuler masuk kedalam paru menyebabkan fenomena frozzy
sputum

5. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis utama pada kasus ARDS :
1.Peningkatan jumlah pernapasan
2. Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis
3. Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan
4.Penurunan kesadaran mental
5. Takikardi, takipnea
6.Dispnea dengan kesulitan bernafas
7. Terdapat retraksi interkosta
8. Sianosis
9. Hipoksemia
10. Auskultasi paru : ronkhi basah, krekels, stridor, wheezing
11. Auskultasi jantung : BJ normal tanpa murmur atau gallop

6. KOMPLIKASI
Menurut Hudak & Gallo ( 1997 ), komplikasi yang dapat terjadi pada ARDS adalah :
- Abnormalitas obstruktif terbatas ( keterbatasan aliran udara )
- Defek difusi sedang
- Hipoksemia selama latihan
- Toksisitas oksigen
- Sepsis
7. PENATALAKSANAAN
Pengobatan ARDS yang pertama-tama adalah pencegahan, karena ARDS tidak pernah
merupakan penyakit primer tetapi timbul setelah penyakit lain yang parah. Apabila
ARDS tetap timbul, maka pengobatannya adalah:
 Diuretik untuk mengurangi beban cairan, dan obat-obat perangsang jantung untuk
meningkatkan kontraktilitas jantung dan volume sekuncup agar penimbungan
cairan di paru berkurang. Penatalaksanaan cairan dan obat-obat jantung digunakan
untuk mengurangi kemungkinan gagal jantung kanan.
 Terapi oksigen dan ventilasi mekanis sering diberikan.
 Kadang-kadang digunakan obat-obat anti-inflamasi untuk mengurangi efek
merusak dari proses peradangan, walaupun efektifitasnya masih dipertanyakan.