Anda di halaman 1dari 5

Melaporkan Kegiatan Membaca Buku

Laporan Kegiatan Membaca Buku

Judul Buku : Learning Metamorphosis : Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya

Pengarang : H.D. Iriyanto

Penerbit, tahun terbit : Erlangga, 2012

Kota terbit : Jakarta Timur

Jenis buku : Non Fiksi

Tebal buku : 127 Halaman

a. Kegiatan Prabaca
No. Pertanyaan Sebelum Membaca Buku
1. Apa maksud dari Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya?
2. Guru yang seperti apa yang hebat itiu?
3. Murid yang seperti apa yang dahsyat itu?
4. Mengapa penulis menulis buku seperti ini?
5. Permasalahan apa saja yang dibahas dalam buku ini?
6. Apa yang akan kita dapatkan apabila seorang siswa membaca buku ini?
7. Apa yang akan kita dapatkan apabila seorang guru membaca buku ini?

b. Kegiatan Pascabaca
No. Sub/Subbab/Bagian Butir-butir penting/menarik
1. BAB I Pendahuluan *Jika kalian ingin berhasil dalam hidup, temukan
"Kuncinya adalah sesuatu yang membuat kalian takjub dan pelajarilah.
Kreativitas dan Imajinasi" Jangan menunggu sampai seseorang mengajari kalian.
Semangat kalian yang berkobar-kobar akan menarik
guru-guru untuk datang kepada kalian. Jangan
mencemaskan tentang diploma atau gelar-gelar
berusahalah agar menjadi sangat baik sehingga tidak
ada yang bisa menolak kalian.
*Pendidikan sangatlah penting bagi pekerjaan dan
kehidupan yang ingin kita bangun di masa depan.
Selama ini sekolah hadir lebih banyak sebagai lembaga
pembelajaran yang mengedepankan aspek kognitif.
Padahal, sebagaimana dikatakan Benyamin S. Bloom,
setiap anak didik memiliki bukan hanya ranah kognitif,
tetapi juga ranah efektif dan psikomotorik. Penting
untuk disadari bahwa dua ranah terakhir ini juga perlu
dikembangkan.
*Apresiasi sekolah yang diberikan kepada murid yang
prestasi akademisnya bagus, relatif lebih tinggi jika
dibandingkan dengan apresiasi yang diberikan kepada
murid yang memiliki prestasi non akademis. Pandangan
atau praktik sekolah seperti itu harusnya sudah diubah.
Setiap anak didik tidak saja harus cerdas secara
intelektual, namun juga harus cerdas secara emosional
dan spiritual.
*Peranan guru di sini sangatlah dominan, karena guru
merupakan elemen pendidikan yang bersentuhan
langsung dengan anak didik, maka dari itu kompetensi
guru harus terus dikembangkan dari masa ke masa. Di
tangan gurulah kecerdasan, keterampilan, dan
kepribadian anak di sekolah itu terbentuk. Maka apabila
ingin ada perubahan output sekolah, maka pertama
yang harus berubah adalah guru.
*Proses metamorphosis, dari ulat hingga menjadi kupu-
kupu, merupakan siklus yang tepat untuk
menggambarkan perubahan yang positif, khususnya
bagi guru.
2. BAB II Fase 'Ulat' Ironi *Guru kurang memahami dengan baik tentang potensi
Profesi Guru dan cara kerja otak anak didiknya.
*Dengan kondisi semacam itu, hambatan dalam proses
belajar mengajarpun bermunculan dan sulit untuk
'dijinakan' dan kalau para murid mengalami kesulitan
belajar pun atau gagal memahami materi yang
diajarkan, para guru pun 'menggebrak' para murid. Bisa
dengan kata-kata, sikap, dsb. Alih-alih memotivasi, tapi
justru sebaliknya. Tentu tidak semua guru seperti itu.
Sekolah terbaik adalah sekolah yang mampu
mengembangkan potensi anak didiknya agar kelak
mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia
seutuhnya.
*Pertama-tama mari kita pelajari apa sebenarnya otak
manusia itu bekerja. Sesederhana atau serumit apa otak
kita berproses?
3. Otak Anda dan Murid- *Organ tubuh kita yang merupakan 'identitas' atau 'jati
murid Anda diri' kita yang sebenarnya. Di organ tubuh yang satu
inilah semua aktivitas hidup seseorang dikendalikan
yaitu otak. Hadits Nabi SAW tentang segumpal daging
yang dimaksud adalah otak. Menurut Dr. Taufik Pasiak
otak memiliki 3 fungsi : (1)fungsi rasional logis, (2)fungsi
emosional intuitif, dan (3)fungsi spiritual. Sementara
organ lain tidak memiliki fungsi tersebut.
*Dalam kacamata teori kuantum, partikel otak manusia
ada sebanyak 10 pangkat 26 atau sama dengan 100 juta
miliar miliar. Sel syarafnya saja ada triliunan sel.
4. Otak Pria dan Otak Wanita *Menurut Brizendine, akal sehat mengatakan kepada
kita bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki
perangai yang berbeda. Namun selama ini budaya
manusia belum memberitahu kita bahwa otaklah yang
mendikte prilaku berbeda ini. Contoh: anak perempuan
menimang-nimang truk kecil.
*"Anak perempuan lahir dalam keadaan telah tertata
sebagai anak perempuan, dan anak laki-laki lahir sudah
tertata sebagai anak laki-laki. Otak merka berbeda pada
saat dilahirkan. Otak merekalah yang mendorong
impuls, nilai, dan keberadaan sejati mereka.
5. Otak Kiri dan Otak Kanan Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuesial, linear,
dan rasional. Artinya serba urut dan teratur. Cara
berpikir otak kiri sesuai untuk tugas-tugas ekspresi
verbal, menulis, membaca, asosiasi, auditorial,
menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta
simbolisme. Otak kanan bersifat acak, tidak teratur,
intuitif, dan holistik. Cara berpikir seperti ini untuk
mengetahui hal-hal yang bersifat non verbal,seperti
perasaan dan emosi, pengenalan bentuk dan pola,
musik dan seni, kepekaan warna, kreativitas dan
visualisasi. Kedua belahan itu harus berfungsi secara
seimbang.
6. Otak dan Pikiran *Produk yang dihasilkan otak adalah pikiran.
*"Manusia boleh saja mati, tetapi pikiran-pikirannya
bisa jadi akan tetap hidup jauh lebih lama. Karena
pikiran-pikiran tersebut disebarluaskan, disosialisasikan,
bahkan didiskusikan oleh generasi-generasi
sesudahnya." (Menulis Buku) Tujuannya agar orang-
orang yang hidup setelah kita masih bisa membaca
pikiran-pikiran kita.
*Tidak seperti fisik tubuh yang terikat pada ruang dan
waktu, pikiran seseorang bebas berkeliaran kemana pun
sesuai dengan keinginannya. Karena semua hal bermula
dari pikiran, maka penting sekali bagi Anda untuk
menjaga dengan sebaik-baiknya pikiran Anda.
*Hukum tarik menarik, disebutkan bahwa sesuatu akan
menarik segala hal yang satu sifat dengannya. Artinya,
pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif.
Sedang pikiran yang negatif juga akan menarik hal-hal
yang negatif pula.
7. Otak dan Belajar Otak manusia memiliki 5 versi kemampuan belajar :
(1)versi emosional, berkaitan dengan harus menarik
hasrat. (2)versi sosial, berhubungan dengan interaksi
sosial dan harus menciptakan keakraban. (3)versi
kognitif, berhubungan dengan perkembangan rasio dan
logika dan harus harus inspirasi. (4)versi fisik,
berhubungan dengan aktivitas fisik, harus energik dan
dinamis. (5)versi reflektif, berhubungan dengan
eksistensi diri, maka harus imajinatif.
8. Otak dan Modalitas Belajar Setiap orang memiliki modalitas belajar yang berbeda-
beda. (1)Visual, (2)Auditori, (3)Kinestetik. Secara umum
modalitas kinestiklah yang akan menghasilkan daya
serap yang paling tinggi. Ilustrasi bola.
9. BAB III Fase 'Kepompong' : *Kita perlu melakukan perenungan ulang atas apa-apa
Nilai Akademis Bukan yang selama ini sudah lita lakukan sebagai guru. Ilustrasi
Segalanya 2 anak dengan beruang.
*Kepintaran atau kecerdasan akademis, yang selama ini
dibangga-banggakan, ternyata tidak cukup. Ia bukanlah
segala-segalanya. Jenis kecerdasan ini memang tidak
selalu bisa menawarkan solusi atas berbagai masalah
yang dihadapi manusia.
*Kepintaran atau kecerdasan akademis, yang sering
menggunakan parameter nilai atau indeks prestasi,
Bukanlah segalanya! Dan itu tidak penting. Yang
sesungguhnya terus berguna bagi kita tidak lain adalah
penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan
kematangan pribadi. Bukan angka atau nilai!
10. Kecerdasan Konvensional *Kecerdasan konvensional identik dengan kecerdasan
Versus Kecerdasan Sukses akademis. Sedangkan kecerdasan sukses adalah orang-
orang yang mengenali kekuatan-kekuatannya, dan
dalam waktu yang sama mampu mengenali juga
kelemahan-kelemahannya, serta mampu menemukan
jalan atau cara untuk memperbaiki atau mereduksi
kelemahan-kelemahannya tersebut.
*Orang cerdas dan sukses juga berkemampuan
membentuk dan memilih lingkungan dengan
menggunakan keseimbangan antara kemampuan
analitis, kreatif, dan praktis.
*Makna kesuksesan dalam 3 konteks : (1)religi, (2)rasio,
(3)kultural, yaitu sukses dalam konteks tidak syirik
(menyekutukan Tuhan), tidak merugikan/menyakiti
orang lain, dan tidak menyimpang dari tata nilai yang
telah disepakati masyarakat setempat.
11. Kecerdasan Konvensional *Ilustrasi anak tercebur di kolam.
Versus Kecerdasan *Setiap orang sesungguhnya memiliki karunia Tuhan
Majemuk berupa kecerdasan mejemuk (multiple intelligence).
Setiap anak memiliki talenta dan kecerdasan masing-
masing.
12. Tujuan Hakiki Versus *Tujuan hakiki seorang guru adalah membimbing
Konsekuensi muridnya agar mampu berkembang sebagai manusia
seutuhnya.
*Namun, fenomena harus lulus 100% pada ujian akhir,
merupakan contoh nyata betapa konsekuensi
mengalahkan tujuan hakiki.
13. Wacana Prestasi Akademik Wacana Prestasi Akademik telah melanda dunia sejak
Versus Wacana diciptakannya tes kecerdasan (IQ). Oleh Alfred Binet
Perkembangan Manusia tahun 1905. Dari wacana tersebut melahirkan banyak
konsekuensi negatif, di antaranya : (1)Wacana Prestasi
Akademik mengabaikan bidang-bidang tertentu dalam
kurikulum. (2)Wacana Prestasi Akademik mendorong
pengajaran sebatas pada persiapan ujian. (3)Wacana
Prestasi Akademik mendorong para murid menyontek
dan menjiplak. Adapun Wacana Perkembangan manusia
yaitu pendidikan harus mampu melejitkan potensi yang
terdapat dalam diri manusia.
14. Pembelajaran dan Karakter = Budi pekerti = Perbuatan yang dilandasi atau
Pembentukan Karakter dilahirkan dari pikiran yang jernih dan baik. Bisa dari
agama, falsafah negara, sistem perundang-undangan,
budaya masyarakat dsb itu semua merupakan 'bahan
baku' terbentuknya budi pekerti. Sedangkan dari sisi
pelaku pembentukan budi pekerti melibatkan keluarga,
dsb. Dari strategi mikro pembentukan karakter atau
budi pekerti di tingkat sekolah meliputi KBM di kelas,
budaya sekolah, kegiatan ekstra, dsb. Harus disiplin dan
berkomitmen kuat. Untuk mendukung terciptanya
budaya sakolah yang positif. Kegiatan Ekstrakulikuler
juga berpotensi membentuk karakter positif murid,
yaitu mampu membentuk sportivitas, etika, estetika,
kerja sama, dll.
15. BAB IV Fase 'Kupu-Kupu' Pada fase ini sudah sepantasnya bila tekad Anda untuk
Menjadi Guru Yang Lebih melakukan perubahan menjadi semakin bulat. Aktivitas
Manusiawi Anda sebagai pribadi maupun sebagai pendidik harus
benar-benar berubah menjadi lebih baik, jika
dibandingkan dengan sebelumnya. Pengalaman Anda
sebagai guru harus menjadi modal bagi perkembangan
profesionalisme Anda, jangan sampai sebaliknya.
Pembelajaran yang sarat dengan sikap saling
menghargai, mencuatkan motivasi, dan tidak
memberikan label-label negatif.
16. Model Quantum Teaching *Seorang guru harus meraih sepenuhnya hak
mengajarnya karna murid telah memberikannya secara
sukarela kepadanya.
*Model Quantum Teaching ini, berpotensi memperkaya
kemampuan Anda untuk melakukan proses
pembelajaran yang lebih manusia. Apa kaidah-
kaidahnya? (1)Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan
antarkan dunia kita pada dunia mereka. (2)Merupakan
perpaduan dari berbagai pendekatan teori pendidikan.
17. Model Sekolah dan Seorang guru harus membuat muridnya 'jatuh cinta'
Gurunya terhadap mata pelajaran yang akan dipelajarinya.
18. Sang Agen Perubahan Muslimah Hapsari, Ciptono, Hernowo Hasim, Yohanes
Surya, Munif Chatib.
19. Inti dan Proses Perubahan Setiap orang pasti ingin berubah menuju yang lebih
baik, dan kesiapan itu bukan dari luar melainkan dari
dalam yaitu diri kita sendiri.

Disusun oleh : Silvia Sukmawati

Kelas : XI MIPA 1