Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KELOMPOK SEMINAR AKUNTANSI

IAS 16 – Impirement of Asset

SEPTIANINGRUM ( 1711070261 )
SINTYA MAHENDRAYANI (

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGAM STUDI AKUNTANSI


INSTITUT PERBANAS BEKASI
2019
BAB I

PENDAHULUAN
Penurunan nilai aset (impairment) merupakan salah satu treatment akuntansi
yang dilakukan untuk mencari nilai yang akurat atas suatu aset. Nilai tercatat aset perlu
dilakukan tes penurunan nilai dengan periode tertentu agar aset dicatat tidak melebihi
jumlah terpulihkannya. Jumlah terpulihkan suatu aset dapat dilihat dari dua indikator
yaitu berdasarkan penggunaannya dan berdasarkan penjualan aset tersebut.
Penurunan Nilai Aset (impairment) terjadi apabila jumlah tercatatnya melebihi
jumlah terpulihkan. Jumlah terpulihkan suatu aset atau unit penghasil kas adalah jumlah
yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya.
Pada setiap akhir periode pelaporan, entitas menilai apakah terdapat indikasi aset
mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka entitas mengestimasi
jumlah terpulihkan aset tersebut.
Penurunan nilai didasarkan pada prinsip konservatisme dan kehati-hatian. Aset
tak boleh dicatat overstated, dari nilai dapat diperoleh kembali. Aset harus disajikan
sebesar nilai yang mencerminkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh di masa
depan. Jika nilai di masa depan lebih rendah dari nilai tercatat, maka aset harus
diturunkan.Pengukuran penurunan nilai dapat dilakukan untuk satu unit aset tunggal
maupun satu kelaompok aset. Ada aset yang dapat menghasilkan arus kas independen
dari aset atau kelompok aset lain. Jika satu aset dapat menghasilkan arus kas
independen maka pengukuran penurunan nilai dilakukan berdasarkan unit aset
tersebut. Namun ada beberapa aset yang dapat menghasilkan arus kas jika berada
dalam kelompok aset, sehingga penurunan nilai dilakukan untuk satu unit penghasil
kas. Contoh unit penghasil kas adalah investasi asosiasi, investasi di anak perusahaan,
suatu unit pabrik.
Aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan dan penggunaan. Jika aset
dijual, entitas akan mendapatkan nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan. Dalam
penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat diperoleh
kembali dan nilai yang digunakan.
Ruang Lingkup
Pernyataan ini diterapkan untuk akuntansi penurunan nilai terhadap semua aset,
kecuali :
a. Persediaan (lihat IAS 2: Persediaan);
b. aset yang timbul dari kontrak konstruksi (lihat IAS 11: Akuntansi Kontrak
Konstruksi);
c. aset pajak tangguhan (lihat IAS 12: Pajak Penghasilan);
d. aset yang timbul dari imbalan kerja (lihat IAS 19: Imbalan Kerja);
e. aset keuangan yang termasuk dalam ruang lingkup IAS 19: Instrumen
Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran;
f. Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (lihat IAS 40: Properti Investasi);
g. aset biologis terkait dengan kegiatan pertanian yang diukur pada nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual ( lihat PSAK 41 Pertanian );
h. biaya akuisisi tangguhan, dan aset tidak berwujud, yang timbul dari hak
kontraktual penanggung berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam
ruang lingkup IFRS 4: Kontrak Asuransi; dan
i. aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang diklasifi kasikan sebagai dimiliki
untuk dijual sesuai dengan IFRS 5: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual
dan Operasi yang Dihentikan.

Perbedaan PSAK 48 dengan IAS 36


PSAK 48 - Penurunan Nilai Aset secara garis besar mengadopsi seluruh
pengaturan yang ada dalam IAS 36 - Impairment of Assets, kecuali untuk hal-hal yang
perlu disesuaikan dengan standar yang ada dan telah dipakai di Indonesia. Perbedaan
tersebut adalah sebagai berikut:
Perihal IAS 36 PSAK 48 (Revisi 2009)
Ruang Lingkup Memasukkan Tidak memasukkan biological asset dalam
biological aset dalam pengecualian ruang lingkup. Jadi biological
pengecualian ruang asset masih tercakup.
lingkup.
Paragraf 4a Ruang lingkup Diperjelas dengan menambahkan investasi
mengenai dalam entitas anak yang disajikan dengan
subsidiaries. metode biaya dalam laporan keuangan
tersendiri seperti yang dijelaskan dalam
PSAK 4 Laporan Keuangan Konsolidasi dan
Laporan Keuangan Tersendiri.
Paragraf 12 H Mengenai sumber Ditambahkan informasi sesuai dengan
informasi penilaian perubahan di PSAK 4 Paragraf 12 H huruf
apakah aset (i) dihapus karena tidak relevan, terkait
mengalami penurunan dengan perubahan di PSAK 4.
nilai.
Penghapusan Dihapus karena sudah Dihapus karena sudah menjadi appendiks C
paragraf 91-95 menjadi appendiks C dan nomor paragraph selanjutnya
namun nomor disesuaikan.
paragraf selanjutnya
tidak disesuaikan.
Appendiks B Keterangan untuk Appendiks B dihapus karena tidak relevan.
menggunakan PSAK 16 sudah merujuk pada IAS 16
Appendiks B bila terbaru.
memakai IAS 16 versi
sebelum 2003.
Paragraf 139 Masa Efektif 31 Maret Masa efektif 1 Januari 2011 secara
2004 secara prospektif.
prospektif.
Paragraf 140 Ketentuan Transisi Tidak diadopsi karena tidak relevan.
A-D terkait dengan
perbaikan IFRS/IAS
lain.
Sumber: Exposure Draft PSAK Nomor 48—Penurunan Nilai Aset.
Identifikasi Aset yang Mungkin Mengalami Penurunan Nilai
Suatu aset mengalami penurunan nilai jika jumlah tercatatnya melebihi
jumlah terpulihkan. Pada setiap akhir periode pelaporan, suatu entitas harus
menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Terlepas
apakah terdapat indikasi penurunan nilai, entitas juga harus:
 menguji penurunan nilai aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak
terbatas atau aset tidak berwujud yang belum dapat digunakan, secara
tahunan, dengan membandingkan nilai tercatatnya dengan jumlah
terpulihkannya.
 menguji penurunan nilai goodwill yang diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis
secara tahunan.
Ketidakpastian mengenai kemampuan aset tidak berwujud dalam
menghasilkan manfaat ekonomi masa depan yang cukup untuk memulihkan jumlah
tercatatnya biasanya lebih besar pada saat aset tersebut belum dapat digunakan
daripada setelah aset tersebut dapat digunakan. Dalam menilai apakah terdapat
indikasi bahwa aset mungkin mengalami penurunan nilai, entitas harus
mempertimbangkan, minimum, hal-hal berikut ini:
Informasi dari sumber-sumber eksternal:
 selama periode tersebut, nilai pasar aset telah turun secara signifikan
lebih dari yang diharapkan sebagai akibat dari berjalannya waktu atau
pemakaian normal.
 perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup
hukum tempat entitas beroperasi atau di pasar tempat aset dikaryakan, yang
berdampak merugikan terhadap entitas, telah terjadi selama periode tersebut,
atau akan terjadi dalam waktu dekat.
 suku bunga pasar atau tingkat imbalan pasar dari investasi telah
meningkat selama periode tersebut, dan kenaikan tersebut mungkin akan
mempengaruhi tingkat diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai pakai
aset dan menurunkan nilai terpulihkan aset secara material.
 jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
Informasi dari sumber-sumber internal:
 terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aset.
 telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan
yang berdampak merugikan sehubungan dengan seberapa jauh, atau
cara, suatu aset digunakan atau diharapkan akan digunakan.
 terdapat bukti dari pelaporan int ernal yang mengindikasikan
bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk, atau akan lebih buruk, dari yang
diharapkan.

PENGUKURAN JUMLAH TERPULIHKAN


Pernyataan ini mendefi nisikan jumlah terpulihkan sebagai jumlah yang lebih
tinggi antara nilai wajar aset atau unit penghasil kas dikurangi biaya penjualan
dengan nilai pakainya. Nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan nilai pakai dari suatu
aset tidak selalu perlu ditentukan dua-duanya. Penentuan nilai wajar dikurangi biaya
penjualan suatu aset mungkin dapat dilakukan meskipun jika aset tersebut tidak
diperdagangkan dalam pasar aktif. Jika tidak terdapat alasan untuk meyakini bahwa
nilai pakai aset secara material melebihi nilai wajarnya dikurangi biaya penjualan, nilai
wajar aset dikurangi biaya penjualan dapat digunakan sebagai jumlah terpulihkan
Jumlah terpulihkan ditentukan untuk aset individual, kecuali aset tersebut tidak
menghasilkan arus kas masuk yang sebagian besar independen dari aset atau
kelompok aset lain. Dalam hal ini, jumlah terpulihkan ditentukan untuk unit penghasil
kas yang mencakup aset tersebut (lihat paragraf 65–98), kecuali:
a. nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual pelepasan aset tersebut lebih besar
dari jumlah tercatatnya; atau
b. nilai pakai aset tersebut diestimasikan mendekati nilai wajarnya dikurangi
biaya untuk menjual pelepasan, dan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual
pelepasan tersebut dapat ditentukan diukur.
Dalam beberapa kasus, estimasi, rata-rata dan penghitungan jalan pintas dapat
memberikan hasil yang mendekati penghitungan terperinci yang diilustrasikan dalam
Pernyataan ini dalam menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual pelepasan
atau nilai pakai.

Pengukuran Jumlah Terpulihkan Aset Tidak Berwujud Dengan Masa Manfaat


yang Tidak Terbatas
Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas untuk diuji penurunan
nilainya setiap tahun dengan membandingkan jumlah tercatatnya dengan jumlah
terpulihkannya, terlepas apakah terdapat indikasi penurunan nilai.(prgf 10)
Bukti terbaik dari nilai wajar aset dikurangi biaya untuk menjual adalah harga
dalam suatu perjanjian penjualan mengikat yang dibuat dalam transaksi wajar,
disesuaikan dengan biaya tambahan yang dapat diatribusikan langsung pada
pelepasan aset. Jika tidak terdapat perjanjian penjualan mengikat namun aset
diperdagangkan di pasar aktif, maka nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual adalah
harga pasar aset dikurangi biaya pelepasan aset tersebut. Harga pasar yang sesuai
biasanya adalah harga penawaran kini. Jika harga penawaran kini tidak tersedia, maka
harga transaksi terkini dapat menjadi dasar untuk mengestimasi nilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual, sepanjang tidak terdapat perubahan signifikan dalam kondisi
ekonomi antara tanggal transaksi dengan tanggal ketika estimasi dibuat.
Jika tidak terdapat perjanjian penjualan mengikat atau pasar aktif untuk aset,
maka nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual didasarkan pada informasi terbaik yang
tersedia untuk menggambarkan jumlah yang dapat diperoleh entitas pada akhir periode
pelaporan, dari pelepasan aset dalam transaksi wajar antara pihak-pihak yang
berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam transaksi wajar setelah
dikurangi biaya pelepasan. Dalam menentukan jumlah tersebut, entitas
mempertimbangkan hasil dari transaksi terkini untuk aset serupa dalam industri yang
sama. Nilar wajar dikurangi biaya untuk menjual tidak menggambarkan suatu penjualan
yang dipaksakan, kecuali manajemen terdorong untuk menjual segera.
Biaya pelepasan aset, selain dari biaya yang telah diakui sebagai liabilitas,
adalah pengurang dalam menentukan mengukur nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual pelepasan. Contoh biaya tersebut adalah biaya hukum, materai dan pajak
transaksi sejenis, biaya pemindahan aset, dan biaya tambahan langsung untuk
menjadikan aset dalam kondisi siap dijual. Namun, imbalan akibat pemutusan kontrak
kerja (seperti dijelaskan di PSAK 24: Imbalan Kerja) dan biaya terkait dengan
pengurangan atau reorganisasi bisnis setelah pelepasan aset bukan merupakan biaya
tambahan langsung untuk pelepasan aset.

Nilai Wajar Dikurangi Biaya Penjualan


Bukti terbaik dari nilai wajar aset dikurangi biaya penjualan adalah harga dalam
suatu perjanjian penjualan yang mengikat yang dibuat dalam suatu transaksi antara
pihak-pihak yang independen, disesuaikan dengan biaya tambahan yang dapat
dikaitkan secara langsung dengan pelepasan asset. Apabila tidak terdapat perjanjian
penjualan yang mengikat namun aset diperdagangkan di pasar aktif, nilai wajar
dikurangi biaya penjualan adalah harga pasar aset dikurangi biaya pelepasan aset
tersebut.
Biaya pelepasan aset, selain dari yang sudah diakui sebagai kewajiban,
dikurangkan dalam menentukan nilai wajar dikurangi biaya penjualan. Terkadang dalam
suatu pelepasan aset, pembeli diharuskan menanggung suatu laibilitas dan hanya
tersedia satu nilai wajar dikurangi biaya penjualan yang mencakup aset dan laibilitas
tersebut.

Nilai Pakai
Elemen-elemen berikut harus diperhitungkan dalam 28 penghitungan nilai pakai aset:
 estimasi arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh dari
aset;
 ekspektasi mengenai kemungkinan variasi dari jumlah atau waktu arus kas
masa depan tersebut;
 nilai waktu uang, diwakili oleh suku bunga pasar bebas risiko yang berlaku;
 harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat pada aset; dan
 faktor-faktor lain, seperti ilikuiditas, yang akan dipertimbangkan oleh
pelaku pasar dalam menilai arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan
diperoleh dari aset tersebut.
Dasar Estimasi Arus Kas Masa Depan
Dalam mengukur nilai pakai, suatu entitas harus:
 mendasarkan proyeksi arus kas pada asumsi-asumsi yang memadai dan
terdukungkan yang mencerminkan estimasi terbaik manajeman
mengenai rentang kemungkinan-kemungkinan kondisi ekonomi yang akan
terjadi selama masa manfaat aset. Bukti eksternal diberi bobot yang lebih tinggi.
 mendasarkan proyeksi arus kas pada anggaran atau prakiraan keuangan
terkini yang disetujui manajemen, tetapi harus mengeluarkan unsur estimasi
arus kas masuk atau arus kas keluar yang berkaitan dengan restrukturisasi
masa depan atau perbaikan maupun peningkatan kinerja aset. Proyeksi
berdasarkan anggaran atau prakiraan keuangan tersebut harus meliputi jangka
waktu maksimum lima tahun, kecuali jika penggunaan waktu yang lebih
panjang dapat dijustifi kasi.
 mengestimasi proyeksi arus kas yang melewati periode yang tercakup dalam
anggaran atau prakiraan terkini dengan mengekstrapolasi proyeksi yang
didasarkan pada anggaran atau prakiraan tersebut dengan menggunakan tingkat
pertumbuhan tetap atau menurun untuk tahun-tahun berikutnya

Arus kas masa depan diestimasi berdasarkan kondisi aset saat ini. Estimasi arus kas
masa depan tidak mencakup arus kas masuk atau keluar masa depan yang
diharapkan timbul dari:
 restrukturisasi masa depan yang mana entitas belum berkomitmen; atau
 perbaikan dan peningkatan kinerja aset.
Estimasi arus kas masa depan tidak termasuk:
 arus kas masuk atau keluar dari aktivitas pendanaan; dan
 penerimaan atau pembayaran pajak penghasilan.

Arus Kas Masa Depan Valuta Asing


Arus kas masa depan diestimasi dalam satuan mata uang ketika akan dihasilkan dan
kemudian didiskonto menggunakan suatu tingkat diskonto yang tepat untuk satuan mata
uang tersebut.

Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto ditetapkan atas dasar tingkat diskonto sebelum pajak yang
menggambarkan penilaian pasar kini dari:
 nilai waktu uang; dan
 risiko spesifik atas aset dimana estimasi arus kas masa depan belum
disesuaikan.
Tarif diskonto yang mencerminkan penilaian pasar kini atas nilai waktu uang dan risiko
spesifik atas aset tertentu adalah tingkat pengembalian yang disyaratkan investor jika
seandainya mereka hendak memilih suatu investasi yang menghasilkan arus kas dengan
jumlah, waktu dan profil risiko yang sama dengan yang entitas harapkan akan dihasilkan
dari aset tersebut.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN RUGI PENURUNAN NILAI


Jika, dan hanya jika, nilai terpulihkan aset lebih kecil dari nilai tercatatnya, nilai tecatat
aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkan. Penurunan tersebut adalah rugi penurunan
nilai. Rugi penurunan nilai segera diakui dalam laporan laba rugi, kecuali aset
disajikan pada jumlah direvaluasi sesuai dengan Pernyataan lain (contoh, sesuai
dengan model revaluasi pada PSAK 16). Setiap rugi penurunan nilai aset revaluasian
diperlakukan sebagai penurunan revaluasi sesuai dengan Pernyataan lain.
Ketika jumlah estimasi rugi penurunan nilai lebih besar dari nilai tercatat aset
yang terkait, entitas mengakui laibilitas jika, dan hanya jika, hal ini disyaratkan oleh
Pernyataan lain.
Setelah pengakuan rugi penurunan nilai, beban penyusutan (amortisasi) aset
disesuaikan di masa depan untuk mengalokasikan nilai tercatat aset revisian, setelah
dikurangi nilai sisa (jika ada), secara sistematis selama sisa masa manfaatnya
Ilustrasi Penurunan Nilai 1:
Contoh: PT Azahra melakukan uji penurunan nilai terhadap peralatan yang
dimilikinya. Nilai tercatat dari peralatan sebesar Rp 200.000.000, nilai wajar
dikurangi biaya menjual Rp180.000.000 dan nilai pakainya 175.000.000.

 Jurnal untuk mencatat kerugian penurunan nilai tersebut :


Dr. Kerugian penurunan nilai Rp. 20.000.000;
Cr. Ak. Dep-Peralatan Rp.20.000.000;

Ilustrasi Pengakuan Penurunan Nilai:

Perusahaan Owl melakukan review penurunan nilai aset pada 2010.


Sebidang tanah dicatat pada nilai wajar dengan surplus revaluasi
senilai Rp 50 juta, aset-aset lainnya dicatat pada nilai historis
dikurangi akumulasi depresiasi atau amortisasi.
Hasil dari review sebagai berikut:
Fair value less Carrying
costs to sell Value in use amount
Tanah (nilai wajar) Rp 212 juta Rp 220 juta Rp 300 juta
Aset tak berwujud, Rp 8.2 juta Rp 6.5 juta Rp 9 juta
pada biaya yang
teramortisasi
Mesin, setelah Rp21 juta Rp 18 juta Rp 30 juta
didepresiasikan

Berdasarkan informasi yang tersedia, aset Owl yang mengalami


kerugian penurunan nilai adalah:

Recoverable Carrying Impairment


amount amount loss

Tanah, pada nilai Rp 220 juta Rp 300 juta Rp 80 juta


wajar
Rp 8.2 juta Rp 9 juta N/A
Aset Tak Berwujud,
pada biaya
teramortisasi
Mesin, setelah Rp 21 juta Rp 30 juta Rp 9 juta
didepresiasikan
Kerugian penurunan nilai dikurangkan terlebih dahulu ke surplus
revaluasi.
Untuk mengakui kerugian penurunan nilai tanah
Dr Surplus revaluasi Rp 50 juta
Rugi penurunan nilai (80 juta – 50 juta) Rp 30 juta
Cr Tanah Rp 80 juta

Untuk mengakui kerugian penurunan nilai mesin


Dr Kerugian penurunan nilai Rp 9 juta
Cr Mesin Rp 9 juta

 Contoh 2 :
Berikut ini informasi yang berhubungan dengan pengujian nilai peralatan yang dimiliki
perusahaan pada tanggal 31 Desember 2015
a. Biaya perolehan peralatan Rp 9.000
b. Akumulasi penyusutan Rp 1.000.000
c. Nilai pakai Rp 7.000.000
d. Nilai wajar Rp 4.800.000
e. Pada tangal 31 desember 2015 peralatan memiliki sisa umur manfaat 4 tahun

Diminta:
1. Buat jurnal atas penurunan nilai peralatan tersebut diatas, pada tanggal 31 desember
2015
2. Buat jurnal untuk mencatat beban penusutan tahun 2016

Penyelesaian:
Nilai buku = 9.000.000 - 1.000.000 = 8.000.000
Nilai wajar - Biaya penjualan >< Nilai pakai
4.800.000 - 0 < 7.000.000
Nilai terpulihkan = 7.000.000
Penurunan nilai peralatan = 8.000.000 - 7.000.000 = 1.000.000

1. Pencatatan jurnal atas penurunan nilai peralatan


Dr. Rugi penurunan nilai – peralatan 1000.000

Cr. Akumulasi rugi penurunan nilai – peralatan 1000.000

2. Nilai perolehan peralatan setelah penurunan nilai


9.000.000 - 1.000.000 - 1.000.000 = 7.000.000

Biaya penyusutan peralatan per tahun = 7.000.000 - 0 (tanpa nilai residu) / 4 =


1.750.000
Dr. Beban penyusutan – peralatan 1.750.000
Cr. Akumulasi penyusutan - peralatan 1.750.000

Mesin produksi dengan harga perolehan Rp. 1.080.000,- (dalam ribu). Taksiran umur
pemakaian 18 tahun, tanpa nilai residu.

Akumulasi penyusutan pada akhir tahun ke-7 sebesar Rp. 420.000.

Penilaian kembali nilai mesin produksi tersebut menunjukkan data sebagai berikut :

Harga perolehan kembali = Rp. 700.000 (dalam ribu)

Persentase keadaan = 65%.

Pencatatan penilaian kembali ke dalam akun-akun akan menyebabkan pengurangan


jumlah dalam akun Mesin dan penyesuaian akun Akumulasi Penyusutan sebagai
berikut :
Perhitungannya :

Mesin dipakai selama 7 tahun, masih dalam persentase keadaan 65%.

Akumulasi penyusutan berdasar penilaian kembali =

7/20 x Rp. 700.000 = Rp. 245.000

Penyusutan sesudah adanya penilaian kembali dihitung berdasarkan nilai mesin yang
baru.

UNIT PENGHASIL KAS


Identifikasi Unit Penghasil Kas Dimana Aset Tercakup
Unit Penghasil Kas (UPK) adalah kelompok aset terkecil yang mencakup aset
tersebut dan menghasilkan arus kas masuk yang sebagian besar independen dari arus
kas masuk dari aset atau kelompok aset lain.

Goodwill yang diperoleh dalam kombinasi bisnis sejak tanggal akuisisi dialokasikan
pada setiap unit penghasil kas pihak pengakuisisi, atau kelompok unit penghasil kas
yang diperkirakan memberikan manfaat dari sinergi kombinasi bisnis tersebut, terlepas
apakah aset atau liabilitas lain dari pihak yang diakuisisi ditempatkan dalam unit atau
kelompok unit tersebut. Unit penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill diuji
penurunan nilai secara tahunan, dan kapanpun terdapat indikasi bahwa unit tersebut
mengalami penurunan nilai, dengan membandingkan jumlah tercatat unit tersebut
(termasuk goodwill) dengan jumlah terpulihkannya.

Jika terdapat indikasi bahwa aset mungkin mengalami penurunan nilai, maka jumlah
terpulihkan diestimasi untuk aset individual tersebut. Jika tidak mungkin untuk
mengestimasi jumlah terpulihkan aset individual, maka entitas menentukan jumlah
terpulihkan dari unit penghasil kas mana aset tercakup.

Jumlah terpulihkan dari suatu aset individual tidak dapat ditentukan jika:
(a) nilai pakai aset tidak dapat diestimasi mendekati nilai wajarnya
dikurangi biaya penjualan (contoh, apabila arus kas masa depan dari
penggunaan aset tidak dapat diestimasi menjadi tak berarti); dan
(b) aset tidak menghasilkan arus kas masuk yang independen dari kelompok
aset lain.

Jika terdapat pasar aktif untuk hasil produk yang diproduksi oleh aset atau kelompok
aset, aset atau kelompok aset tersebut diidentifikasi sebagai unit penghasil kas,
meskipun jika sebagian atau keseluruhan hasil produksi digunakan secara internal.
Unit penghasil kas diidentifikasi secara konsisten dari periode ke periode untuk aset
atau jenis aset yang sama, kecuali perubahan dapat dijustifikasi.
Contoh:
Mesin A merupakan bagian dari rangkaian produksi dari lini produksi pembuatan
makanan kaleng. Mesin A memiliki fungsi memproduksi kaleng kemasan yang secara
khusus diproduksi untuk keperluan produksi makanan kaleng tersebut.
Dapat dikatakan bahwa mesin tersebut tidak menghasilkan arus kas masuk
secara independen, karena arus kas masuk hanya terjadi jika makanan kaleng selesai
diproduksi lalu dijual. Untuk keperluan penilaian recoverable amount, maka penilaian
mesin A menggunakan konsep Unit Penghasil Kas. UPK dari mesin tersebut adalah lini
produksi pembuatan makanan kaleng, karena dari keseluruhan lini itulah yang
memungkinkan adanya penjualan sehingga tercipta arus kas masuk yang independen.
Namun, apabila Mesin A tersebut selain men-supply kaleng kemasan di dalam lini
produksi juga menjualnya di pasar, maka dapat dikatakan bahwa Mesin A memiliki arus
kas masuk yang independen. Jika kasusnya seperti itu, maka penilaian recovery value
atas Mesin A tidak menggunakan UPK lini produksi melainkan langsung dinilai atas
Mesin A itu sendiri.

Jumlah Terpulihkan dan Jumlah Tercatat dari Unit Pernghasil Kas


Jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas adalah jumlah yang lebih tinggi antara
nilai wajar unit penghasil kas dikurangi biaya penjualan dan nilai pakainya. Jumlah
tercatat unit penghasil kas ditentukan atas dasar yang konsisten dengan cara
menetapkan jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas.

Pengujian Unit Penghasil Kas dengan Goodwill untuk Penurunan Nilai


Jika goodwill terkait dengan unit penghasil kas tetapi belum dialokasikan ke unit
tersebut, unit tersebut harus diuji penurunan nilai ketika terdapat suatu indikasi
bahwa unit tersebut mungkin mengalami penurunan nilai. Unit penghasil kas yang
telah memperoleh alokasi goodwill harus diuji penurunan nilai secara tahunan, dan
setiap kali apabila terdapat indikasi bahwa unit tersebut mengalami penurunan nilai,
dengan membandingkan jumlah tercatat unit tersebut (termasuk goodwill) dengan
jumlah terpulihkannya.

Waktu Pengujian Penurunan Nilai


Uji tahunan penurunan nilai untuk unit penghasil kas yang telah merima alokasi
goodwill dapat dilakukan setiap waktu selama suatu periode tahunan, sepanjang
pengujian dilakukan pada waktu yang sama setiap tahun. Unit penghasil kas yang
berbeda dapat diuji untuk penurunan nilai pada saat yang berbeda. Jika aset-aset yang
merupakan komponen unit penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill,
diuji penurunan nilai pada saat yang sama dengan unit yang mengandung goodwill,
aset-aset tersebut harus diuji penurunan nilainya sebelum unit tersebut.

Aset Korporat
Aset korporat termasuk aset kelompok atau divisi seperti bangunan kantor pusat
atau divisi dari entitas, perlengkapan EDP atau pusat penelitian. Struktur suatu entitas
menentukan apakah asset memenuhi definisi Pernyataan ini mengenai aset korporat
untuk suatu unit penghasil kas tertentu. Karena aset korporat tidak menghasilkan arus kas
masuk yang terpisah, jumlah terpulihkan aset korporat individual tidak dapat ditentukan
kecuali manajemen telah memutuskan untuk melepas aset tersebut. Dalam menguji rugi
penurunan nilai suatu unit penghasil kas, entitas mengidentifikasi semua aset korporat
yang terkait dengan unit penghasil kas yang sedang ditelaah. Jika sebagian dari jumlah
tercatat aset korporat:
(a) dapat dialokasikan dengan dasar yang layak dan konsisten terhadap unit
tersebut, entitas membandingkan jumlah tercatat dari unit (termasuk porsi
dari jumlah tercatat aset korporat yang dialokasikan ke unit tersebut) dengan
jumlah terpulihkan.
(b) tidak dapat dialokasikan pada suatu dasar yang layak dan konsisten ke unit
itu, entitas harus:
(i) membandingkan jumlah tercatat unit, diluar aset korporat, dengan jumlah
terpulihkan dan mengakui setiap rugi penurunan nilai
(ii) mengidentifikasi kelompok terkecil dari unit penghasil kas yang mencakup
unit penghasil kas yang ditelaah dan yang sebagian dari jumlah tercatat aset
korporat dapat dialokasikan atas dasar yang layak dan konsisten; dan
(iii) membandingkan jumlah tercatat dari kelompok unit penghasil kas tersebut
(termasuk bagian dari jumlah tercatat aset korporat yang dialokasikan ke
kelompok dari unit tersebut) dengan jumlah terpulihkan dari kelompok unit itu.
Rugi Penurunan Nilai Untuk Unit Penghasil Kas dan Goodwill
Rugi penurunan nilai diakui untuk unit penghasil kas (kelompok terkecil dari unit
penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill atau aset korporat) jika,
dan hanya jika, jumlah terpulihkan dari unit tersebut (kelompok dari unit) lebih kecil
dari jumlah tercatatnya. Rugi penurunan nilai dialokasikan untuk mengurangi jumlah
tercatat aset dari unit tersebut (kelompok dari unit) dengan urutan sebagai berikut:
(a) pertama, untuk mengurangi jumlah tercatat atas setiap goodwill yang
dialokasikan ke unit penghasil kas tersebut (kelompok dari unit); dan
(b) selanjutnya, ke aset lain dari unit tersebut (kelompok dari unit) dibagi pro
rata atas dasar jumlah tercatat setiap aset di dalam unit tersebut (kelompok
dari unit).
Pengurangan-pengurangan dalam jumlah tercatat diperlakukan sebagai rugi
penurunan nilai atas aset individual. Dalam mengalokasikan rugi penurunan
nilai entitas tidak harus mengurangi jumlah tercatat aset dengan jumlah yang
tertinggi dari:
1. nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual (jika ditentukan);
2. nilai pakainya (jika dapat ditentukan); dan nol.

Contoh dan Ilustrasi Penurunan Nilai UPK dan Goodwill:

1. Suatu entitas mengoperasikan peralatan pengeboran minyak di dasar laut.


Entitas menyediakan biaya restorasi senilai Rp 10 M, yang mencerminkan nilai
kini dari biaya tersebut. Entitas tersebut menerima tawaran untuk membeli
peralatan minyak seharga Rp 16 M, dan nilai biaya pelepasan seharga Rp 2 M.
Nilai pakai sebesar Rp 24 M. Sedangkan nilai tercatat dari peralatan sebesar Rp
20 M. Apakah nilai dari peralatan menurun?
Jawab:
Nilai wajar dikurangi cost to sell dari peralatan adalah Rp 14 M (Rp 16 M – Rp 2
M).
Nilai pakai dari peralatan sebesar Rp 14 M (Rp 24 M – Rp 10 M). Nilai tercatat
dari peralatan adalah Rp 10 M (Rp 20 M – Rp 10 M). Sehingga, nilai terpulihkan
dari unit penghasil kas melebihi nilai tercatatnya, sehingga aset ini tidak
diturunkan nilainya.
2. PT Kelas Damai Sejahtera memiliki 80% kepemilikan PT Kelas Aman Damai
dengan membayar Rp 16 M pada 1 Januari 2016. Setelah tanggal akuisisi, aset
bersih yang dapat diidentifikasi memiliki nilai Rp15 M. Sehingga:
Nilai wajar aset bersih bisa Rp15 M
diidentifikasi
Nilai aset bersih yang diakusisi 80% x Rp15 M = Rp12 M

Biaya kombinasi bisnis Rp 16 M

Goodwill Rp 4 M

PT Kelas Aman Damai merupakan UPK. Pada 31 Desember 2016, nilai yang
dapat dipulihkan dari PT Kelas Damai Sejahtera sebesar Rp10 M. Hitung
penurunan nilai goodwill
Jawab:
• Bagian 1: Menguji penurunan nilai PT Kelas Aman Damai
Asumsi: depresiasi aset yang dapat diidentifikasi Rp1.5 M selama tahun 2016

Akhir tahun 2016 Goodwill Aset yang dapat Total


diidentifikasi
Nilai tercatat bruto Rp 4 M Rp 15 M Rp 19 M
Akumulasi depresiasi - (1.5 M) (1.5 M)
Nilai tercatat 4M 13.5 M 17.5 M
Goodwill minoritas 1M - 1M
Nilaai tercatat yang Rp 5 M Rp 13.5 M Rp 18.5 M
disesuaikan
Nilai yang dapat dipulihkan (10 M) lebih kecil dari nilai tercatat yang telah
disesuaikan (18,5 M) Sehingga terjadi penurunan nilai sebesar 8,5 M.

• Bagian 2: Mengalokasikan kerugian penurunan nilai


Akhir tahun 2015 Goodwill Aset yang dapat Total
diidentifikasi
Nilai tercatat bruto Rp 4 M Rp 15 M Rp 19 M
Akumulasi depresiasi - (1.5 M) (1.5 M)
Nilai tercatat 4M 13.5 M 17.5 M
Kerugian penurunan nilai 4M 3.5 M 7.5 M
Nilai tercatat yang 0 Rp 10 M Rp 10 M
disesuaikan

Kasus Unit Penghasil Kas:


Pembalikan Suatu Rugi Penurunan Nilai
Entitas menilai pada akhir setiap periode pelaporan apakah terdapat indikasi
bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya untuk
aset (selain goodwill) mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun. Rugi
penurunan nilai yang telah diakui dalam periode-periode sebelumnya untuk aset selain
goodwill harus dibalik jika, dan hanya jika, terdapat perubahan estimasi yang
digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan atas aset tersebut sejak rugi penurunan
nilai terakhir diakui. Pembalikan rugi penurunan nilai menggambarkan peningkatan
estimasi jasa potensial aset, baik dari penggunaan atau dari penjualan, sejak tanggal
ketika entitas terakhir kali mengakui rugi penurunan nilai untuk aset tersebut. Suatu
nilai pakai aset bisa menjadi lebih besar dari jumlah tercatatnya karena nilai sekarang
dari arus kas masuk masa depan meningkat seiring dengan semakin pendeknya
periode ekspektasi arus kas.

Pembalikan Rugi Penurunan Nilai Untuk Aset Individual


Entitas menilai pada akhir setiap periode pelaporan apakah terdapat
indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui atas aset (selain goodwill)
pada periode sebelumnya mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun.
Jika terdapat indikasi tersebut, maka entitas mengestimasi jumlah terpulihkan
aset tersebut. Dalam penilaian ini, entitas mempertimbangkan minimal indikasi
berikut ini:
1. Informasi sumber eksternal
a. Terdapat indikasi yang dapat diobservasi bahwa nilai aset telah
meningkatkan secara signifikan selama periode.
b. Perubahan signifikan yang berdampak menguntungkan bagi entitas telah
terjadi selama periode, atau akan terjadi dalam waktu dekat, dalam hal
teknologi, pasar, kondisi ekonomik maupun hokum tempat entitas
beroperasi atau pasar tempat aset itu digunakan.
c. Suku bunga pasar atau tingkat imbal hasil pasar lain atas investasi telah
menurun selama periode tersebut, dan penurunan tersebut akan
mempengaruhi tingkat diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai
pakai aset sehingga meningkatkan jumlah terpulihkan secara material.
2. Informasi sumber internal
a. Perubahan siginifikan yang berdampak menguntungkan bagi entitas telah
terjadi selama periode, atau diharapkan akan terjadi dalam waktu dekat,
terkait bagaimana atau cara aset tersebut digunakan atau diperkirakan
untuk digunakan. Perubahan ini termasuk biaya yang timbul selama
periode untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja aset atau
merestrukturisasi operasi di tempat aset tersebut tercakup.
b. Bukti tersedia dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja
ekonomik aset lebih baik atau akan lebih baik daripada yang diperkirakan.

Rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya untuk
aset selain goodwill dibalik jika dan hanya jika terdapat perubahan estimasi yang
digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan aset tersebut sejak rugi
penurunan nilai terakhir diakui. Jika demikian, jumlah tercatat aset dinaikkan ke
jumlah terpulihkannya. Kenaikan ini merupakan suatu pembalikan rugi
penurunan nilai. Contoh perubahan estimasi termasuk:

1. Perubahan dasar untuk menentukan jumlah terpulihkan (yaitu apakah jumlah


terpulihkan didasarkan pada nilai wajar dikurangi biaya pelepasan atau nilai
pakai);
2. Jika jumlah terpulihkan didasarkan pada nilai pakai, maka terjadi perubahan
dalam jumlah atau waktu dari estimasi arus kas masa depan atau tingkat
diskonto;
3. Jika jumlah terpulihkan didasarkan pada nilai wajar dikurangi biaya
pelepasan, maka terjadi perubahan dalam estimasi komponen nilai wajar
dikurangi biaya pelepasan.

Adapun pembalikan rugi penurunan nilai dapat dikelompokan sebagai berikut:


1. Pembalikan rugi penurunan nilai aset individual
Jumlah tercatat aset yang meningkat selain goodwill yang dapat diatribusikan
ke pembalikan rugi penurunan nilai, tidak boleh melebihi jumlah tercatat (neto
setelah amortisasi atau penyusutan) seandainya aset tidak mengalami rugi
penurunan nilai pada tahun-tahun sebelumnya.
Pembalikan rugi penurunan nilai atas aset selain goodwill diakui segera
dalam laba rugi, kecuali aset disajikan pada jumlah revaluasian sesuai
dengan PSAK lain. Setiap pemulihan rugi penurunan nilai aset revaluasian
diperlakukan sebagai kenaikan revaluasi sesuai dengan PSAK terkait.
Setelah pembalikan rugi penurunan nilai diakui, penyusutan (amortisasi) yang
dibebankan atas aset tersebut disesuaikan pada periode masa depan untuk
mengalokasikan jumlah tercatat aset yang direvisi, dikurangi nilai residunya
(jika ada), dengan dasar sistematik selama sisa umur manfaatnya.
Contoh:
PT Tan membeli peralatan pada tanggal 1 Januari 2015 seharga 300.000
dengan masa manfaat 3 tahun dan tanpa nilai residu. Maka depresiasi setiap
tahunnya adalah sebagai berikut:
Tahun Depreciation Expense Carrying Amount
2015 100.000 (300.000/3) 200.000
2016 100.000 (300.000/3) 100.000
2017 100.000 (300.000/3) 0
Pada 31 Desember 2015, PT Tan menentukan bahwa terjadi impairment
sejumlah 20.000.

Loss on Impairment 20.000


Accumulated Depreciation - Equipment 20.000
Setelah adanya impairment tersebut, maka nilai depresiasinya menjadi
sebagai berikut.

Tahun Depreciation Expense Carrying Amount


2016 90.000 (180.000/3) 90.000
2017 90.000 (180.000/3) 0
Pada akhir 2016, PT Tan menentukan bahwa ada pembalikan impairment
sehingga nilai peralatan tersebut menjadi 96.000 yang mana lebih besar
daripada carrying amount-nya yang sejumlah 90.000. Maka jurnalnya:

Accumulated Depreciation – Equipment 6.000


Recovery of Impairment Loss 6.000
Pembalikan impairment ini akan dilaporkan dalam “Pendapatan dan beban
lain-lain pada Laporan Laba Rugi. Carrying amount peralatan tersebut kini
menjadi 96.000 pada 31 Desember 2016.

2. Pembalikan Rugi Penurunan Nilai Unit Penghasil Kas


Pembalikan rugi penurunan nilai unit penghasil kas dialokasikan pada aset
dari unit tersebut (kecuali untuk goodwill) secara prorata dengan jumlah
tercatat aset tersebut. Peningkatan dalam jumlah tercatat ini diperlakukan
sebagai pembalikan rugi penurunan nilai untuk aset individual dan diakui.
Dalam mengalokasikan pembalikan rugi penurunan nilai unit penghasil kas,
jumlah tercatat aset tidak boleh dinaikkan di atas nilai yang terendah dari:
a. Jumlah terpulihkan (jika dapat ditentukan); dan
b. Jumlah tercatat yang telah ditentukan (amortisasi atau penyusutan neto)
seandainya tidak ada rugi penurunan nilai yang telah diakui untuk aset
tersebut pada periode sebelumnya.

Jumlah pemulihan rugi penurunan nilai selain yang telah dialokasikan pada
aset tersebut dialokasikan secara prorata pada aset lain dari unit tersebut,
kecuali untuk goodwill.

3. Pembalikan Rugi Penurunan Nilai Goodwill


Rugi penurunan nilai yang diakui atas goodwill tidak dapat dibalik pada
periode selanjutnya.

PENGUNGKAPAN
Dalam penurunan setiap kelas aset, entitas harus mengungkapkan hal-hal
berikut:
a. Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi selama periode dan pos
laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain yang didalamnya tercakup
rugi penurunan nilai.
b. Jumlah rugi pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi selama
periode dan pos laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain yang
didalamnya tercakup rugi penurunan nilai.
c. Jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam penghasilan
komprehensif lain selama periode
d. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam
penghasilan komprehensif lain selama periode
Entitas yang melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5 (Segmen
Operasi) mengungkapkan hal-hal berikut ini untuk setiap segmen dilaporkan:
a. Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain selama periode
b. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain selama periode.
Terdapat pengungkapan tambahan utama yaitu
a. Setiap setiap UPK (atau kelompok UPK) yang memiliki nilai tercatat goodwill atau
aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas termasuk:
b. Asumsi utama dan pendekatan manajemen yang digunakan untuk mengukur nilai
terpulihkan
c. Periode dimana manajemen telah memproyeksikan arus kas, tingkat
pertumbuhan, tingkat diskonto.

- Penggunaan Teknik nilai Kini untuk Mengukur Nilai Pakai


Terdapat dua pendekatan yang berbeda untuk menghitung nilai kini. Kedua
pendekatan tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi nilai pakai aset.
Pendekatan apapun yang diadopsi entitas untuk mencerminkan ekspektasi
dalam kemungkinan variasi jumlah atau waktu dari arus kas masa depan,
hasilnya seharusnya mencerminkan ekspektasi nilai kini dari arus kas masa
depan, yaitu rata-rata tertimbang dari semua kemungkinan hasil. Pemilihan
pendekatan yang digunakan bergantung pada kondisi yang ada. Kedua
pendekatan tersebut adalah:
1. Pendekatan tradisional (Pendekatan tingkat diskonto sesuaian)
Menggunakan tingkat diskonto (discount rate) yang disesuaikan untuk
mencerminkan tingkat risiko aliran kas. Pendekatan ini sangat berguna ketika
aliran kas dapat ditentukan dan disebutkan dalam suatu kontrak (misalnya
obligasi – aliran kas masa depan jelas jumlahnya). Tingkat diskonto dalam hal
ini merupakan tingkat yang telah disesuaikan dengan risiko (risk adjusted),
baik dalam jumlah, sifat, dan waktunya.
Penerapan nilai kini dalam akuntansi secara tradisional menggunakan kas
estimasian dan “tingkat bunga sebanding dengan risiko”. Artinya, pendekatan
tradisional mengasumsikan bahwa penggunaan tingkat diskonto tunggal dapat
menggabungkan semua ekspektasi tentang arus kas masa depan dan premi
risiko yang tepat. Dengan demikian, pendektan tradisional memberikan
penekanan yang besar pada seleksi tingkat diskonto.
- Pendekatan arus kas ekspektasian.
Menggunakan tingkat diskonto yang bebas risiko (risk free rate) tetapi
mempertimbangkan beberapa skenario aliran kas yang mencerminkan hasil
(outcomes) yang berbeda-beda, termasuk probabilitas keterjadiannya. Tingkat
diskonto bebas risiko di sini mungkin hampir sama dengan tingkat
pengembalian obligasi pemerintah.
Pendekatan nilai kini ekspektasian ini menggunakan beberapa kemungkinan
aliran kas yang diharapkan (multiple cash flow) dari suatu kejadian. Misalnya,
dalam pembayaran gaji pekerja pembongkaran gedung di akhir masa manfaat
gedung, kemungkinan pekerja dibayar Rp 20 adalah 35%, dibayar Rp50
adalah 40%, dan dibayar Rp100 adalah 65%. Jadi nilai aliran kas
ekspektasian adalah (Rp20*35%)+(Rp50*40%)+(Rp100*65%). Pendekatan
kedua ini dapat digunakan untuk menentukan present value dari provisi ARO.