Anda di halaman 1dari 8

A.

SEJARAH PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN PERBANKAN

Pada akhir pemerintahan Orde Lama (tahun 1959-1965) dikeluarkannya kebijakan yang berdampak
terhadap kinerja perbankan sampai awal tahun 1960-an,yaitu dikeluarkannya peraturan pemerintah
dalam pengendalian moneter tanggal 24 agustus 1959 yang isinya “

1. Adanya kebijakan pemotongan nilai uang kertas atau sanering. Kebijakan ini memotong
uang Rp. 500,- dan Rp. 1.000,00 menjadi tinggal sepersepuluhnya (10 persen).
2. Pembekuan simpanan di bank – bank sebesar 90 persen untuk jumlah simpanan diatas Rp.
25.000,-
3. Penghapusan sistem bukti ekspor menjadi pungutan ekspor dan pungutan impor.

Kebijakan itu merugikan banyak bank dan masyarakat yang menyimpan uangnya di bank. Pada
tahun 1960 pemerintah mengeluarkan peraturan Pusat Nomor 41 tentang Pembentukan Bank
Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). BKTN merupakan penggabungan dari tiga bank antara lain
BRI,Bank Tani dan Nelayanan,serta Nederlandsche Handles Maatschappij (NHM). Pembentukan bank
ini untuk mendukung revolusi agraria yang dicetuskan tanggal 24 september 1960. Tugas BKTN
adalah menyediakan kredit bagi petani dan nelayan yang disertai dengan
pendidikan,pelatihan,bimbingan dan pengawasan (supervised credit). Pada tahun 1965 terjadi
perubahan pada bank – bank milik pemerintah. Peraturan Presiden No. 8 tahun 1965 memutuskan
untuk mengintegrasikan BTN ke dalam Bank Indonesia. Sementara Penpres No. 9 tahun 1965
mengintegrasikan BKTN ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi,Tani
dan Nelayan (BIUKTN).

Masa represi keuangan terjadi antara periode tahun 1966-1983,yakni pada saat peralihan dari masa
Orde Lama ke Orde Baru. Kebijakan represi keuangan pemerintah Orde Baru meliputi program
stabilisasi dan rehabilitasi,sedangkan dalam jangka panjang diarahkan dalam bentuk program
pembangunan. Untuk menunjang program tersebut,pada tanggal 3 oktober 1966 pemerintah
mengeluarkan peraturan yang berisi antara lain:

1. Peninjauan kembali kredit perbankan dengan memberikan batasan dalam jumlah


kredit,agunan,dan tingkat suku bunga.
2. Diberlakukan prinsip anggaran pendapatan dan belanja negara berimbang sebagai salah satu
upaya pengendalian inflasi.
3. Adanya kebijakan debirokratisasi yang ditujukan untuk mengurangi intervensi pemerintah
dalam perekonomian agar tercipta sistem ekonomi demokratis.
4. Kebijakan dibidang perdagangan luar negeri yang bertujuan memberikan porsi yang lebih
besar bagi eksportir dan mengurangi intervensi pemerintah dalam tata niaga ekspor dengan
sistem insentif ekspor.
5. Kebijakan penundaan pembayaran utang luar negeri dan penarikan utang –utang luar negeri
baru yang tujuannya untuk mengurangi tekanan neraca pembayaran.

Dalam penyaluran kredit program Bimbingan Massal (BIMAS),BRI menjadi bank pelaksana yang
ditunjuk oleh pemerintah. Salah satu tugas dari bank pelaksana program ini adalah menyediakan
kebutuhan dana bagi pembiayaan sarana produksi seperti bibit,pupuk,dan pestisida. Koperasi juga
berperan dalam program BIMAS melalui pembentukan Badan Usaha Unit Desa (BUUD).
Permasalahan yang terjadi dalam program BIMAS adalah tingkatan pengembalian kredit yang
cenderung menurun. Dengan kondisi ini maka bank pelaksana akan kurang terpacu untuk bekerja
keras dalam program BIMAS yang dicanangkan pemerintah padahal kredit ini bersumber dari Kredit
Likuiditas Bank Indonesia.

Beberapa indikator ketidakberhasilan program BIMAS ini dipengaruhi berbagai faktor antara lain :

1. Pencapaian target dengan luas areal sawah yang ditetapkan. Penyaluran kredit hanya rata –
rata 61 persen dari total luas areal sawah yang ditetapkan selama program BIMAS.
2. Realisasi kredit yang disalurkan rata – rata hanya 44 persen dari target.
3. Rata –rata besarnya pembayaran kembali kredit BIMAS selama 15 tahun hanya mencapai
Rp. 531,8 miliar dari target Rp. 1,446 triliun atau 36,8 persennya saja.

B. DEREGULASI PERBANKAN

Paket kebijakan yang pertama adalah Paket Juni 1983 (Pakjun’83) dan yang kedua adalah paket
kebijakan Oktober 1988 (Pakto’88). Paket kebijakan juni 1983 ditujukan untuk mendorong ekspor
non-migas sebagai antisipasi atas merosotnya penerimaan devisa dari minyak.

Isi paket kebijakan Juni 1983 adalah

1. Penghapusan pagu kredit sehingga perbankan dapat memberikan kredit secara lebih
fleksibel sesuai dengan kemampuan.
2. Bank diberi kebebasan dalam menentukan suku bunga,baik deposito,tabungan maupun
kredit dalam meningkatkan mobilisasi dana dari dan kepada masyarakat.
3. Pengaturan volume kredit likuiditas dapat mengurangi ketergantungan bank – bank kepada
bank sentral dengan memperkenalkan alat kebijakan moneter berupa Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) dan fasilitas diskonto.

Paket kebijakan Oktober 1988 dilakukan untuk : pertama meningkatkan pengerahan dana
masyarakat,kedua memperluas jangkauan layanan bagi masyarakat terutama pelaku ekspor,ketiga
mendorong tercapainya efisiensi dan profesionalisme dalam pengelolaan bank dengan kompetisi
yang sehat.

Isi paket kebijakan Oktober 1988 adalah :

1. Pembukaan pasar bagi industri perbankan nasional dengan cara memberi kemudahan
perijinan bagi bank devisa dan kemudahan untuk membuka kantor cabang.
2. Penetapan pajak atas bunga deposito sebesar 15 persen,sama halnya dengan pajak
keuntungan dari sekuritas dan obligasi.
3. Penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 15 persen utang lancar menjadi 2 persen dari
DPK (Dana Pihak Ketiga).
4. Penentuan BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit )dengan batasan sampai dengan 20
persen dari total modal kepada peminjam tunggal atau 50 persen kepada peminjam grup.
5. Penempatan dana BUMN di bank – bank pemerintah sampai 50 persen dan 20 persen pada
setiap bank lainnya.
6. Diperbolehkannya bank – bank untuk melakukan diferensiasi produk DPK baik dalam
tabungan maupun deposito.
7. Adanya kelonggaran persyaratan untuk memperoleh ijin perdagangan valuta asing.

Dengan demikian cakupan paket deregulasi ini tidak terbatas pada sektor perbankan saja,akan
tetapi juga pada sektor keuangan pada umumnya seperti perusahaan asuransi dan pasar modal.
Persitiwa booming minyak merupakan salah satu sebab kebijakan moneter yang diambil oleh
pemerintah berfungsi ganda yakni sebagai alat untuk pengendalian tekanan inflasi dan juga
sebagai alat mempengaruhi alokasi dana.

C. PERBANKAN PADA PERIODE KRISIS MONETER 1997/1998

Krisis moneter yang terjadi di Indonesia merupakan dampak dari krisis moneter yang melanda
Asia pada tahun 1997. Penyaluran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) merupakan pilihan
kebijakan yang paling banyak disorot karena menyangkut aliran dana yang sangat besar dan
sangat berpengaruh bagi pengelolaan keuangan negara pasca krisis.

Krisis moneter tersebut berdampak luas dan lama terhadap perekonomian dan khususnya
perbankan di Indonesia. Sebenarnya sejak digulirkan Pakto’88 sudah dapat terindikasi lemahnya
perbankan Indonesia. Ciri – ciri yang memperkuat indikasi tersebut antara lain :

1. Rendahnya rasio modal terhadap aktiva produktif


2. Rendahnya persyaratan modal minimum untuk mendirikan suatu bank di Indonesia
(Merupakan yang terendah di Asia saat itu).
3. Tingginya jumlah kredit yang bermasalah.

Kredit macet yang terjadi pada tahun 1997 mencapai 7,7 persen atau sebesar Rp, 10,2 triliun
tingginya kredit bermasalah tersebut terutama disebabkan oleh pelanggaran MBPK bagi bank –
bank swasta yang bermodal kecil pasca deregulasi. Besarnya kredit yang kurang
terkontrol,lemahnya pengawasan dan sistem internal,serta rendahnya kemampuan dalam
mendeteksi resiko membuat kondisi ini semakin parah saat krisis ekonomi terjadi.

Mengingat kondisi perbankan saat itu yang kurang kondusif,maka pemerintah melakukan
penjaminan terselubung (implicit guarantee) dari Bank Sentral agar bank yang tidak sehat tetap
dipertahankan dengan alasan mencegah kegagalan sistemik perbankan. Pengawasan bank
sentral saat itu belum dapat mengimbangi perkembangan perbankan yang begitu pesat dan
makin kompleks . hal itu membuat potensi krisis menjadi terakumuluasi,yang makin membuat
perbankan nasional sangat sensitif terhadap krisis.

1. Penyaluran BLBI
Istilah BLBI dikenal sejak tanggal 15 januari 1998 sebagaimana ditegaskan Pemerintah dalam
Letter of Intent kepada International Monetary Fund (IMF). Dalam surat yang ditandatangani
oleh Menko Ekuin itu,pemerintah menyatakan pentingnya bantuan likuiditas (liquidity
support) BI kepada perbankan sehingga secara jelas dapat disimpulkan BLBI merupakan
program pemerintah yang di acknowledge oleh IMF bahkan menjadi conditionality yang
ditetapkan oleh IMF. Meskipun dalam pengertian luas liquidity support itu meliputi juga
kredit subordinasi,kredit likuiditas darurat,dan fasilitas diskonto I dan II,BLBI yang diberikan
dalam masa krisis itu hanya mencakup bantuan likuiditas kepada bank untuk menutup
kekurangan likuiditas terutama yang berupa saldo debet,fasilitas diskonto,dan SBPU
khusus,serta dana talangan dalam rangka kewajiban pembayaran luar negeri.
D. DAMPAK KRISIS TERHADAP PERBANKAN
Dampak terbesar krisis moneter bagi perbankan adalah menurunnya kepercayaan
masyarakat terhadap bank. Dilikudasinya 16 bank pada tahun 1997 merupakan bukti
perbankan Indonesia sangat rapuh. Lumpuhnya sektor perbankan saat itu sangat
berpengaruh dalam kegiatan ekonomi masyarakat,terutama yang menggunakan fasilitas
bank.
Upaya untuk menyehatkan bank dimulai tahun 1998 dengan proses due diligence pleh BPPN
terhadap 176 bank nasional dalam rangka rekapitalisasi perbankan. Ada 99 bank yang masuk
katergori A,49 dalam kategori B.dan 28 masuk kategori c. Dasar dari pengkategorian rasio
tersebut pada rasio Kecukupan Modal/CAR (Capital Adequacy Ratio) yang syaratnya sebagai
berikut :
1. Kategori A untuk bank yang memiliki CAR diatas 4 persen
2. Kategori B untuk bank yang memiliki CAR antara 4 persen sampai 25 persen.
3. Kategori C untuk bank yang memiliki CARnya dibawah 25 persen.

Di beberapa negara umumnya digunakan dua tahap untuk mengatasi krisis perbankan.
Tahap pertama,dengan menentukan tujuan yang jelas,yaitu memulihkan kepercayaan
nasabah dan menjamin dananya,mencegah likuidasi aset,menghindari fluktuasi moneter,dan
melindungi bank – bank yang solvent. Tahap kedua membuat blue print yang jelas,perbaikan
pengaturan regulasi perbankan,restrukturisasi perbankan,dan dukungan pendanaan dari
pemerintah.

Ada beberapa cara yang telah ditempuh pemerintah untuk menyehatkan perbankan
Indonesia,yaitu :

1. Likuidasi Bank
Kebijakan pemerintah untuk melikuidasi 16 bank pada bulan November 1997
menimbulkan biaya sosial yang besar,yaitu anjloknya kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan. Tidak berjalannya mekanisme intermediasi bank berdampak buruk bagi
perekonomian. Adanya kontraksi penawaran agregat dan sisi lain terjadi pula ekspansi
permintaan agregat mengakibatkan angka inflasi yang tinggi.
Kondisi krisis keuangan dan ekonomi yang pernah terjadi di Amerika Latin menunjukkan
beberap hal :
a. Panic buying terhadap barang – barang tahan lama karena uang tunai memiliki time
value of money yang negatif.
b. Melebarnya defisit neraca perdagangan.
c. Capital flight yang mendorong masyarakat tidak percaya terhadap lembaga
intermediasi finansial domestic.
d. Nilai mata uang akan mengalami depresiasi yang besar dan fluktuasinya sangat sulit
dikendalikan
2. Penggabungan Bank (Merger)
Salah satu cara menyehatkan bank adalah dengan menggabungkan beberapa bank yang
dinilai efektif untuk menghasilkan bank yang kuat dan tahan terhadap goncangan
ekonomi. Merger akan meningkatkan efisiensi yang berasal dari penghematan biaya
operasional bank. Pemerintah melalui peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1997 dapat
memberikan kewenangan kepada Bank Indonesia untuk melaksanakan segala
kewenangan pemegang sahan untuk melakukan penggabungan,peleburan,atau
pengambilalihan bank tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Bagi perbankan,merger kadang sulit dilakukan karena tidak setiap bank cocok dan sesuai
selain itu merger juga memerlukan biaya yang cukup besar. Dengan merger,maka
karyawan bank dapat di PHK dengan alasan terlalu banyaknya jumlah karyawan sehingga
kurang efisien. Oleh karena itu merger atau konsolidasi lebih sesuai bila dilakukan pada
bank yang memiliki jenis usaha sama.
3. Restrukturisasi Perbankan
Restrukturisasi perbankan bertujuan untuk mengubah perbankan dari yang tidak sehat
menjadi sehat dengan berbagai strategi. Untuk jangka pendek restrukturisasi ditujukan
untuk ; memulihkan kepercayaan pasar terhadap sistem keuangan,penggunaan sumber
daya secara efisien,dan memiliki investor dan pengelola yang professional. Dalam jangka
panjang ,restrukturisasi ditujukan untuk menciptakan stabilitas sistem keuangan jangka
panjang dan menciptakan pelaku ekonomi dan keuangan yang handal.
Restrukturisasi harus dilakukan pada level makro maupun mikro. Pada level makro
berkaitan dengan peran pemerintah pada kebijakan,khususnya rekapitalisasi perbankan.
Sedangkan level mikro dengan upaya bank – bank menata dan melakukan perbaikan
pada perusahaannya. Hal itu karena program restrukturisasi terkait dengan kondisi
makro ekonomi yang stabil dan langkah penyehatan serta pemberdayaan sektor riil.
4. Rekapitalisasi Perbankan
Untuk mengikuti skema rekapitalisasi,bank diwajibkan dapat mencapai CAR tidak
kurang dari 25 persen. Target adanya rekapitalisasi adalah menjaidkan bank domestik
mencapai CAR sampai 4 persen pada saat setelah krisis. Besarnya CAR ini setengahnya
dari standard yang ditetapkan oleh BIS (Bank for International Settlement),yakni 8
persen.
Untuk bank yang telah memenuhi syarat CAR antara 25 persen sampai 4 persen dapat
mengikuti program rekapitalisasi tau ditutup. Modal baru yang disetor untuk
rekapitalisasi oleh pemilik 20 persen,sedangkan pemerintah sebanyak 80 persen.
Dengan demikian besarnya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk rekapitalisasi
sangatlah besar. Rekapitalisasi menyebabkan beban yang berat bagi pemerintah.

E. PERBANKAN PEMERINTAH
Sampai dengan periode tahun 2003-an,perbankan Indonesia boleh dikatakan disibukkan
oleh kegiatan konsolidasi,melakukan berbagai efisiensi dari soal operasional,jaringan,kantor
cabang,serta efisiensi biaya modal dengan membuang beban. Yang paling terlihat adalah
pergeseran sumber dana dari dana mahal berupa deposito ke dana murah berupa tabungan
dan giro.
Tahun 2004,perbankan nasional memasuki pertumbuhan tinggi. Ini adalah tahun milik sektor
perbankan. Emiten perbankan memimpin pergerakan saham di pasar modal.
Penyelenggaran pemilu memang sedikit menghambat laju penyaluran kredit di kuartal
pertama,tetapi fundamental yang kuat menghasilkan optimisme besar dalam memandang
perbankan.
Konsolidasi perbankan dapat dikatakan telah usai ditahun 2004, Pembubaran Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan divestasi Bank Permata menjadi pertanda telah
berakhirnya masa itu. Semua bank yang tadinya dibawah BPPN telah menyelesaikan
program restrukturisasi,terutama sekali restrukturisasi kredit bermasalah (NPL). Konsolidasi
lain,yaitu konsolidasi secara akuntansi,seperti halnya kuasi reorganisasi juga telah selesai.
Kuasi reorganisasi adalah prosedur akuntansi yang ditetapkan perusahaan dan disetujui
pemegang saham untuk menghapus saldo negatif laba ditahan dengan menurunkan saldo
akun (pos) paid – up capital (modal disetor). Dalam proses ini,aktiva yang dinilai terlalu tinggi
juga harus diturunkan.
Sekalipun Loan to Deposito Ratio (LDR) belum kembali ke masa sebelum krisis,tetapi fungsi
intermediasi perbankan nasional secara bertahap terus menunjukkan perbaikan. Hal ini
terutama pada pertumbuhan kredit di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan
konsumen.

F. ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA (API)


Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan
Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah,bentuk,dan tatanan industri
perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun kedepan. Arah kebijakan
pengembangan industri perbankan di masa datang oleh API dilandasi oleh visi mencapai
suatu sistem perbankan yang sehat,kuat,dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem
keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat API merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program restrukturisasi
perbankan maupun white paper penyehatan perbankan nasional pasca IMF.maka Bank
Indonesia akan mulai mengimplementasikan API pada tahun 2004.
Ada enam pilar sistem perbankan nasional dalam API yaitu :
a. Struktur perbankan yang sehat,
b. Sistem pengaturan yang efektif,
c. Sistem pengawasan yang independen dan efektif,
d. Industry perbankan yang kuat,
e. Infrastruktur pendukung yang mecukupi
f. Perlindungan konsumen.

Pada tahun 2003 Bank Indonesia akan mengklasifikasikan bank – bank di Indonesia menjadi
empat kelas,yaitu :

1. Bank internasional dengan jumlah modal Rp. 50 triliun ke atas,


2. Bank nasional dengan jumlah modal Rp. 10 triliun – Rp. 50 triliun,
3. Bank dengan fokus,yaitu yang memiliki modal Rp. 0,1 triliun – Rp. 10 triliun,
4. Bank dengan kegiatan usaha terbatas yang meliputi BPR dan bank – bank kecil yang
modalnya dibawah Rp. 100 miliar

Mencermati rancangan blue print API dengan strategi jangka panjangnya dengan syarat bagi
perbankan pada tahun 2013 kemungkinan bank –bank akan kesulitan untuk mencapainya.
Hal itu mengingat pertumbuhan dan kemampuan dari bank – bank di Indonesia masih belum
mencukupi untuk ditarget sedemikian besarnya.

G. PERBANKAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT


Pengembangan ekonomi rakyat merupakan cara untuk menanggulangi kemiskinan ini.
Menanggulangi kemiskin berarti memberikan akses pada si miskin untuk bisa terlibat dalam
produksi dan distribusi tersebut. Namun demikian,keterbatasan aset produktif yang dimiliki
dan keterbatasan pendidikan serta keterampilan telah membatasi si miskin untuk terlibat
dalam aktivitas ekonomi ini.
Salah satu upaya tersebut misalnya memberikan akses dalam mendapatkan fasilitas
finansial,seperti kredit mikro dari sektor perbankan. Sejauh ini alokasi kredit yang diberikan
kepada bank – bank banyak masuk ke sektor modern,yang secara relatif hanya sebagian
kecil masyarakat menggelutinya.
Peran penting lain dari ekonomi rakyat adalah dalam penyerapan tenaga kerja,yang sangat
terkait dengan permasalahan kemiskinan. Masalah kekurangan kapital (investasi) yang
dihadapi Indonesia dipecahkan dengan pola investasi yang pada tenaga kerja.
Dapat dikatakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia sejak lama sebenarnya adalah
berbasiskan perekonomian rakyat. Dilihat secara absolute,dari 39,72 juta unit usaha
(1972),sebanyak 39.71 juta merupakan ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat ini juga mampu
bertahan pada saat krisis ekonomi terjadi. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau
ekonomi rakyat sering diberi predikat sebagai “katup pengaman perekonomian nasional”.

H. KEUANGAN MIKRO
Menurut Krisnamurti (2013),keuangan mikro dapat menjadi faktor kritikal dalam usaha
penanggulangan kemiskinan yang efektif. Peningkatan akses dan pengadaan sarana
penyimpanan,pembiayaan,dan asuransi yang efisien dapat membangun keberdayaan
kelompok miskin dan peluang mereka untuk ke luar dari kemiskinan,melalui :
1. Tingkat konsumsi yang lebih pasti dan tidak berfluktuasi,
2. Mengelola resiko dengan lebih baik,
3. Secara bertahap memiliki kesempatan untuk membangun aset,
4. Mengembangkan kegiatan usaha mikronya,
5. Menguatkan kapasitas perolehan pendapatannya,dan
6. Dapat merasakan tingkat hidup yang lebih baik.

Salah satu masalah yang banyak dihadapi oleh usaha mikro,kecil,dan menengah adalah
berkaitan dengan permodalan. Sumber dana yang digunakan pada umumnya adalah dari
modal sendiri,atau modal keluarga,sumber dana dari pihak luar umunyan berasal dari
lembaga keuangan informal,yang biasanya mengenakan bunga yang tinggi. Di sisi
lain,perbankan secara ketat menerapkan prinsip prudential banking yang mengharuskan
adanya jaminan tersebut. Kebijakan yang membuka akses pada lembaga keuangan formal
tersebut seharusnya dilakukan secara menyeluruh ditanah air dengan cara (a) menyediakan
lembaga keuangan nonbank yang memberi peluang usaha ekonomi rakyat untuk meminjam
tanpa jaminan;(b) pemerintah (Pusat/Daerah) membeli premi risiko lembaga keuangan
bank; dan dalam jangka panjang kemungkinan mengkaji untuk mengamandemen UU
Perbankan yang membuka peluang memberikan pinjaman tanpa jaminan.

I. OTORITAS JASA KEUANGAN


Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dibentuk pada tahun 2011 berdasarkan Undang - Undang
Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Dalam undang –undang tersebut
disebutkan bahwa OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan
pihak lain,yang mempunyai fungsi,tugas,dan wewenang
pengaturan,pengawasan,pemeriksaan,dan penyidikian,
Visi OJK adalah menjadi lembaga pengawas industri jasa keuangan yang terpercaya ,
melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat,dan mampu mewujudkan industri jasa
keuangan menjadi pilar perekonomian nasional yang berdaya saing global serta dapat
memajukan kesejahteraan umum.
Sedangkan Misi OJK adalah
1. Mewujudkan terselenggaranya seluruh kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara
teratur,adil,transparan,dan akuntabel;
2. Mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil;
3. Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

OJK mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang


terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan. OJK mempunyai tugas
melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor
Perbankan,sektor Pasar Modal,dan sektor IKNB.

Adapun mengenai pembentukan OJK,salah satunya dilatarbelakangi oleh peran Bank


Indonesia sebagai bank sentral dalam pengaturan dan pengawasan industri perbankan,yang
dinilai belum dapat berjalan secara efektif.