Anda di halaman 1dari 17

ARTIKEL

SEJARAH KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD SAW

Disusun oleh

DESTRI FITRIANI
NIS : 9111 / 0007416849

Kelas : X IPS 1

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMA N 1 TALANGPADANG

2017
A. KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

Muhammad bin Abdullāh lahir di Mekkah, 20 April 570, Pada masa kelahiran
Nabi Muhammad SAW terdapat kejadian yang luar biasa yaitu ada serombongan
pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah (Gubernur kerajaan Habsyi di Yaman)
hendak menghancurkan Ka’bah karena negeri Makkah semakin ramai dan bangsa
Quraisy semakin terhormat dan setiap tahunnya selalu padat umat manusia untuk haji.
Ini membuat Abrahah iri dan Abrahah berusaha membelokkan umat manusia agar
tidak lagi ke Ma’kah. Abrahah mendirikan gereja besar di Shan’a yang bernama Al-
Qulles. Namun tak seorang pun mau datang ke gereja Al Qulles itu. Abrahah marah
besar dan akhirnya mengerahkan tentara bergajah untuk menyerang Kakbah. Didekat
Makkah pasukan bergajah merampas harta benda penduduk termasuk 100 ekor Unta
AbdulMuthalib.
Keadaan kota Makkah sepi tentara Abrahah dengan leluasa masuk Makkah dan siap
untuk menghancurkan Kakbah. Namun kejadian tersebut telah digagalkan oleh Allah
SWT dengan mengutus burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil dengan
paruhnya. Kerikil itu dijatuhkan tepat mengenai kepala masing-masing pasukan
bergajah tersebut hingga tembus ke badan sampai mati. Peristiwa ini diabadikan
dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5). Pasukan bergajah hancur lebur
mendapat adzab dari Allah SWT.
Pada masa itu tepatnya hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah lahir
bayi yang diberi nama Muhammad dari kandungan ibu Aminah dan yang ber-ayahkan
Abdullah. Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia
lahir pada Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M, yang merupakan tahun gagalnya Abrahah
menyerang Mekkah. Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah
Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia,
jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Beliau lahir dalam
keadaan yatim, karena ayahnya, Abdullah, meninggal dalam perjalanan dagang di
Madinah, yang ketika itu bernama Yastrib, ketika Muhammad masih dalam
kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang
budak perempuan bernama Ummu Aimanyang kemudian mengasuh Nabi.(Sumber
http://www.nuramalia93.blogspot,com).
1. Masa Menyusui Nabi Muhammad SAW
Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusui selama tiga atau
tujuh hari. Pernah diasuh oleh Ummu Aiman, Barakah Al-Khabsyiyyah, Kemudian
setelah itu disusui oleh Tsuwaibah mantan budak Abu Lahab selama beberapa hari,
Rasulullah saw bersabda, “Saya dan Abu Salamah telah disusui oleh Tsuwaibah.”
Urwah bin Az-Zubair Radiyallahu Anhuma berkata, “Tsuwaibah adalah budak yang
telah dimerdekakan oleh Abu Lahab, ia menyusui Nabi saw. Setelah Abu Lahab
meninggal beberapa keluarganya melihat Abu Lahab dalam mimpi, sewaktu dia
ditanya, “Apa yang telah kamu temukan?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan
sesuatupun setelah kamu, hanya saja saya telah mendapatkan minuman sebagai
balasan dari memerdekakan Tsuwaibah.
Kemudian datanglah setelai itu, rombongan wanita mencar bayi yang
mau disusui, diantara mereka adalah Halimah As-sa’diyah Radiyallahu Anhu
kemudian ditawarkanlah Rasulullah saw kepada para wanita itu. Mereka semuanya
menolak tak kala dikatakan bahwa dia adalah anak yatim. Namun, setelah semua
wanita telah mendapatkan anak susuan, sementara Halimah belum mendapatkan anak
susuan, maka dia kembali menemui beliau dan membawanya pulang, dalam Shahih
muslim telah dijelaskan tentang penyusuan ini.
Setelah dua tahun berlalu, Halimah datang bersama beliau kepada ibunya
dengan keinginan agar beliau tetap bersamanya, karna berkah yang mengiringinya
selama Rasulullah bersama mereka. Akhirnya, beliau tetap bersama Halimah hingga
batas waktu yang dia sepakati untuk mengembalikan beliau kepada ibunya.
Kisah Rasulullah saw menyusui pada selain ibunya sangat terkenal
dalam kitab-kitab Shirah yang dikisahkan langsung oleh Halimah As-Sa’diyah, dia
menceritakan peristiwa kedatangnnya ke Mekah, kemudian akhirnya memlilih
Rasulullah saw karena tidak lagi mendapatkan yang lain, dan apa yang terjadi setelah
itu, dirumah keluarga Haimah mendapat berkah yang banyak.
Shahih Muslim 1/147, Nomor 261, dikatakan bahwa rumah Halimah As-
Sa’diyah terletak di Barat Daya Thaif, sekitar 70 KM lebih dari Thaif, sekarang
bernama perkampungan Bani Sa’ad yang terdiri dari beberapa perkampungan, ada
juga yang mengatakan bahwa kampung tempat Rasulullah saw dibesarkan bernama
Adz-Dzuwaibat. Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, Pada Bani Sa’ad terletak dikampung
As-Syuhbah sekitar 100 KM dari Thaif kearah barat daya, ada masjid bernama Masjid
Halimah As-Sa’diyah. Masjid tersebut adalah masjid yang tidak ada sejarahnya, Bani
Sa’ad yang tinggal disana tidak mengakui kebenaran masjid itu dinisbahkan kepada
Halimah, mereka berkata “Tempat Nabi saw disusui bereda pada dekat lembah
Nakhlah antara Miqat Qarnulmanazil dan Hunain, wallahu A’lam.(Sumber
http://www.kisahislam.net)

2. Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad SAW


Kebiasaan di kalangan pemuka pada saat itu apabila mempunyai bayi,
maka bayi yang baru lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan. Dengan tujuan
agar dapat menghirup udara segar dan bersih serta untuk menjaga kondisi tubuh
ibunya agar tetap sehat. Menurut riwayat, setelah Muhammad dilahirkan disusui oleh
ibunya hanya beberapa hari saja, Tsuaibah menyusui 3 hari setelah itu oleh Abdul
Munthalib disusukan kepada Halimah Sa’diyah istri Haris dari kabilah Bani Sa’ad.

Semenjak kecil Muhammad memiliki keistimewaan yaitu badannya cepat besar, umur
5 bulan sudah dapat berjalan dan umur 2 tahun sudah lancar berbicara serta umur 9
tahun sudah menggembalakan kambing dan wajahnya memancarkan
cahaya.Muhammad diasuh Halimah selama 6 tahun. Pada usia 4 tahun Muhammad
didekati oleh malaikat Jibril dan menelentangkannya lalu membelah dada dan
mengeluarkan hati serta segumpal darah dari dada nabi Muhammad SAW lalu Jibril
mencucinya kemudian menata kembali ke tempatnya dan Muhammad
tetapdalamkeadaanbugar.

Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, Halimah khawatir dan mengembalikan
Muhammad ke ibundanya. Pada usia 6 tahun nabi diajak Ibunya untuk berziarah ke
makam ayahnya di Yatsrib dengan perjalanan 500 KM . Dalam perjalanan pulang ke
Makkah Aminah sakit dan akhirnya meninggal di Abwa yang terletak antara Makkah
danMadinah. Nabi Muhammad lantas ditemani Ummu Aiman ke Makkah dan
diantarkan ke tempat kakeknya yaitu Abdul Munthalib. Sejak itu Nabi menjadi yatim
piyatu tidak punya ayah dan ibu. Abdul Munthalib sangat menyayangi cucunya ini
(Muhammad) dan pada usia 8 tahun 2 bulan 10 hari Abdul Munthalib wafat.
Kemudian Nabi diasuh oleh pamannya yang bernama AbuThalib.
Abu Thalib mengasuh menjaga nabi sampai umur lebih dari 40 tahun. Pada usia 12
tahun nabi diajak Abu Thalib berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan bertemu
dengan pendeta Bahira. Untuk keselamatan nabi Bahira meminta abu Thalib kembali
keMakkah. Ketika Nabi berusia 15 thn meletus perang Fijar antara kabilah Quraisy
bersama Kinanah dengan Qais Ailan. Nabi ikut bergabung dalam perang ini dengan
mengumpulkan anak-anak panah buat paman-paman beliau untuk dilemparkan
kemusuhnya. (Sumber http://www.nuramalia93.blogspot,com).

3. Masa Remaja Rasulullah SAW


Diriwayatkan ketika berusia 12 tahun, muhammad saw menyertai
pamannya, abu thalib, dalam berdagang menuju suriah, tempat kemudian beliau
berjumpa dengan seorang pendeta, yang dalam berbagai riwayat disebutkan bernama
Bahira. Meskipun beliau merupakan satu-satunya nabi dalam sejarah yang kisah
hidupnya dikenal luas, masa-masa awal kehidupan muhammad saw tidak banyak
diketahui.

Muhammad saw, besar bersama kehidupan suku quraisy mekah, dan hari-hari yang
dilaluinya oenuh dengan pengalaman yang sangat berharga. Dengan kelembutan,
kehalusan budi dan kejujuran beliau, maka orang quraisy mekah memberi gelar
kepada beliau dengan al-amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.

Pada usia 30 tahunan, muhammad saw sebagai tanda kecerdasan beliau, dan
bijaksana baliau, nabi saw mampu mendamaikan perselisihan kecil yang muncul
ditengah-tengah suku quraisy yang sedang melakukan renovasi ka’bah.

Mereka mempersoalkan siapa yang paling berhak menempatkan posisi hajar aswad
dika’bah. Beliau membagi tugas kepada mereka dengan teknik dan strategi yang
sangat adil dan melegakan hati mereka.
4. Masa Pernikahan Rasulullah SAW
Ketika Nabi Muhammad berumur 25 tahun, Abu Thalib mendengar
bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan Khafilah
ke Syam. Abu Thalib lalu menghubungi Khadijah untuk mengupah Muhammad untuk
menjalankan perdagangannya. Khadijah setuju dengan upah empat ekor unta. Setelah
mendapat nasihat dari pamanya, Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah.
Dengan mengambil jalan padang pasir Khafilah itu pun berangkat menuju Syam,
dengan melalui Wadi’l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang
dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya, Abu Thalib.
Dengan Kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu
benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang
lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya.
Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat
menarik kecintaan dan peghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya
mereka akan kembali, dan membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira
disukai oleh Khadijah.Setelah kembali ke Mekkah, Muhammad bercerita dengan
bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya,
demikian juga mengenai barang-barang dari Syam yang dibawanya. Khadijah
gembira dan tertarik sekali mendengarnya. Sesudah itu, Maisara bercerita juga tentang
Muhammad, betapa halus wataknya, betapa tinggi budi-pekertinya. Hal itu menambah
pengetahuan Khadijah disamping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekkah
yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah
menjadi rasa cinta, singga dia yang sudah berusi 40 tahun, dan yang sebelum itu telah
menolak lamaran pemuka-pemuka dab pembesar-pembesar Quraisy, tertarik juga
hatinya untuk menikahi Muhammad, yang tutur kata dan pandangan matanya telah
menembus kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang
perempuan. Kata sebuah sumber atau dengan sahabatnya, Nufaisa pergi mejajagi
Muhammad seraya berkata, “Kenapa kau tidak mau kamin?” “Aku tidak punya apa-
apa sebagai persiapan perkawinan,” jawab Muhammad. “Kalau itu disediakan dan
yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat, dan memenuhi syarat, tidakkah akan
kau terima?” “siapa itu?” Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: “Khadijah”.
“Dengan cara bagaimana?”tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada
Khadijah sekalipun hati kiecilnya belum lagi memikirkan soal pernikahan, mengingat
Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan para bangsawan dari
Quraisy. Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan “Serahkan hal itu
kepadaku,” maka ia pun nyatakan persetujuan.
Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan
dihadiri oleh paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah
guna menentukan hari pernikahan. Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan
diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah
meninggal sebelum perang Fijar. Disinilah dimulainya lembaran baru dalam
kehidupan Muhammad, dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapak,
suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak, dan sebagai ibu-bapak
yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialai
Muhammad yang telah kehilangan orangtuanya semasa ia masih kecil. (Sumber
http://www.zamronialwan.blogspot.co.id)

5. Nama-Nama Istri Nabi Muhammad SAW

Selama hidupnya Muhammad menikah dengan 11 atau 13 orang wanita


(terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah
dengan Khadijah, yang berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat.
Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia, sehingga saat meninggalnya Khadijah
(yang bersamaan dengan tahun meninggalnya Abu Thalibpamannya) disebut sebagai
tahun kesedihan.
Selain Khadijah, isteri-isteri beliau adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah
binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah
(Hindun binti Umayyah), Zainab binti Zahsy, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu
Habibah (Ramlah), Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits dan Maria Al-
Qibtiyah.
Sepeninggal Khadijah, Khawla binti Hakim menyarankan kepadanya
untuk menikahi Sawda binti Zama (seorang janda) atau Aisyah (putri Abu Bakar,
dimana Muhammad akhirnya menikahi keduanya. Kemudian setelah itu Muhammad
tercatat menikahi beberapa orang wanita lagi hingga jumlah seluruhnya sekitar 11
orang, dimana sembilan di antaranya masih hidup sepeninggal Muhammad.
Nabi Muhammad menikahi mereka semua setelah Khadijah meninggal
dunia. Dan mereka semua beliau nikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah Ra.
Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat bahwa sebagian besar
perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan politik (sesuai dengan budaya
Arab), atau memberikan penghidupan bagi para janda (saat itu janda lebih susah untuk
menikah karena budaya yang menekankan perkawinan dengan perawan).

Berikut nama-nama istri Nabi Muhammad SAW menurut kronologi pernikahan


mereka dengan Rasulullah SAW:

1) Khadijah Binti Khuwailid RA. (556-619 M)


Status ketika menikah: Janda, karena ditinggal wafat oleh 2 suaminya
terdahulu,yaitu Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy.
Periode menikah: Tahun 595 M di Mekkah ketika usia Rasulullah SAW 25 tahun
dan Khadijah 40 tahun.
Anak: Dari pernikahan dengan Khadijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah
anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau (Al-Qosim
dan Abdullah) meninggal. Sedangan anak perempuan beliau adalah: Zainab,
Ruqoyyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Khadijah RA adalah orang pertama yang pertama mengakui kerasulan suaminya.
Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup.
Khadijah adalah isteri yang paling dicintai Rasulullah SAW.
2) Saudah Bini Zam’a RA. (5996-674 M)
Status ketika menikah: Janda dari Sakran bin ‘Amr Bin Abdi Syams yang turut
berhijrah ke Habsyah
Periode menikah: Tahun 631 M ketika Saudah berusia 35 tahun. Pada pernikahan
dengan Saudah Rasulullah tidak di Karuniai anak. Tujuan Rasulullah
menikahinya adalah untuk menyelamatkan dari kekafiran akibat menjanda.
Keluarga Saudah RA masih kafir dan akan dipastikan mempengaruhi kembali
Saudah jika tidak diselamatkan.
3) Aisyah Binti Abu Bakar RA. (614-678 M)
Rasulullah menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 6 hingga 9 tahun, tetapi
mereka baru bercampur setelah Aisyah cukup umur. Pernikahannya tidak
dikaruniai anak, tujuan Rasulullah menikahi Aisyah adalah untuk mendekatkan
hubungan dengan keluarga Abu Bakar yang merupakan sahabat utama Rasulullah
dan merupakan Khaifah pertama setelah Rasulullah meninggal.
4) Hafsoh Binti Umar Bin Khatab RA. (607-antara 648 dan 665 M)
Rasulullah menikahi Hafsoh dalam keadaan janda dari Khunais Bin Hudzaifah
yang gugur sebagai syahid dalam Perang Badar. Rasulullah menikahi Hafsoh
bertujuan untuk menghormati ayah Hafsoh, yaitu Umar Bin Khatab yang kelak
menjadi Khalifah kedua setelah Rasulullah meninggal.
5) Zainab Binti Khuzaiamh RA. (596-625 M)
Rasulullah menikahi Zainab dalam keadaan janda dari Abdullah Bin Jahsi yang
gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud.Pernikahannya tidak dikaruniai anak.
Zainab RA meninggal dunia 2-3 bulan setelah menikah dengan Rasulullah SAW.
6) Ummu Salamah Hindun Binti Abu Umayyah RA. (599-683 M)
Rasulullah menikahi Ummu Salamah janda dari Abu Salamah dengan
meninggalkan 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Rasulullah
menikahiUmmu Salamah dengan tujuan menjaga keluarga dan anak-anak Ummu
Salamah.
7) Zainab Binti Jahsyi Bin Royab RA. (588/561 M)
Rasulullah menikahi Zainab seorang janda dari Zaid Bin Haritsah, anak angkat
Rasulullah. Rasulullah menikahi Zainab karena Zainab adalah putri bibi
Rasulullah, Rasulullah menikahinya atas perintah Allah SWT.
8) Juwairiyah Binti Al-Harits RA. (605-670 M)
Rasulullah menikahi Juwairiyah seorang janda dari Masafeah Ibn Safuan.
Juwairiyah RA Adalah putri dari Al-Harits Bin Dhirar, Pemimpin Bani Mustalik
yang pernah berkomplot untuk membunuh Rasulullah, namun berhasil
ditaklukan. Juwairiyah kemudian menjadi tawana perang yang dimiliki oleh
Tsabit Bin Qais Bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah dengan
menikahinya untuk melunakkan hati sukunya kepada islam.
9) Ummu Habibah Ramlah Binti Abu Sufyan RA (591-665 M)
Rasulullah menikahiUmmu Habibah seorang janda dari Ubaidillah Bin Jahsy
yang Hijrah bersamanya ke Habsyah. Suami Ummu Habibah pertama
(Ubaidillah) murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di Habsyiah. Ummu
Habibah tetap istiqamah terhadap agamanya. Alasan Rasulullah menikahinya
adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik
baginya. Selain itu sebagai penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah
karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di
Mekah.
10) Shofiyyah Binti Huyay Bin Akhtob RA (628-672 M)
Rasulullah menikahi Shofiyyah seorang janda dari Kinanah, salah seorang tokoh
yahudi yang terbunuh dalam Perang Khaibar. Shofiyyah adalah istri Rasulullah
yang berlatarbelakang etnis Yahudi. Sukunya diserang karena telah melanggar
perjanjian yang sudah mereka sepakati dengan kaum Muslimin. Shofiyyah
termasuk salah seorang tawanan saat itu. Nabi berjanji menikahinya jika ia masuk
islam.
11) Maimunah Binti Al-HaritsRA (602-681 M)
Rasulullah menikahi Maimunah seorang janda dari Abd Al-Rahman Bin Abdil-
Uzza.Rasulullah menikahi Maimunah sebagai penghormatan bagi keluarganya
yang telah saling tolong menolong dengannya. Maimunah sendirilah yang datang
menemui Rasulullah dan meminta agar menikahinya.
12) Mariah Al-Qibthiyah RA
Rasulullah menikahi Mariah sebagai hadiah dari Muqauqis, seorang penguasa
Mesir . Pada pernikahannya dengan Mariah, rasulullah dikaruniai seorang anak
laki-laki yang diberi nama Ibrahim, namun meninggal dunia pada usia 18 bulan.
B. KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW

1. Awal Kerasulan Nabi Muhammad SAW


Menjelang usianya yang ke-40, muhammad saw biasa memisahkan diri dari pergaulan
masyarakat umum, untuk berkontemplasi digua hira, beberapa kilometer diutara
mekah.

Gua hira tersebut, nabi mula-mula hanya berjam-jam saja, kemudian berhari-hari,
bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, muhammad saw mendapat wahyu
pertama dari alloh melalui malaikat jibril.

Pada saat beliau tidur dan terbangun dengan tiba-tiba pada malam itu di gua hira,
dalam ketakutan yang luar biasa, seluruh tubuhnya, seluruh diri batinnya, dicengkram
oleh sebuah kekuatan yang sangat besar, seolah-olah seorang malaikat telah
mencengkram beliau dalam pelukan yang menakutkan seakan mencabut kehidupan
dan napas darinya. Ketika beliau berbaring disana, remuk redam, beliau mendengar
perintah, “bacalah!” beliau tidak dapat melakukan ini, beliau bukan penyair terdidik,
bukan peramal, bukan penyair dengan seribu kalimat yang tersusun dengan baik yang
siap dibibir beliau. Ketika itu ia protes bahwa beliau adalah buta huruf, malaikat itu
merangkulnya lagi dengan kekuatan yang begitu rupa, sehingga turunlah ayat yang
pertama yaitu ayat 1 sampai 5 dalam surat al-alaq, yang artinya:
1) Bacalah dengan (menyebut) nama tuhan mu yang menciptakan.
2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3) Bacalah dan tuhanmulah yang maha pemurah.
4) Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam.
5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dia merasa ketakutan karena belum pernah mendengar dan mengalami nya. Dengan
turunnya wahyu yang pertama itu, berarti muhammad saw telah dipilih alloh sebagai
nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia
kepada suatu agama.
Peristiwa turunnya wahyu itu menandakan telah diangkatnya muhammad saw sebagai
seorang nabi penerima wahyu di tanah arab. Malam terjadinya peristiwa itu kemudian
dikenal sebagai “malam penuh keagungan (lailatul al-qadar) “ dan menurut sebagian
riwayat terjadi menjelang akhir bulan ramadhan. Setelah wahyu pertama turun, yang
menandai masa awal kenabian, berlangsung masa kekosongan atau masa jeda (fatrah).

Ketika hati muhammad saw diliputi kegelisahan yang sangat dan merasakan beban
emosi yang menghimpit, dia pulang ke rumah dengan perasaan waswas, dan meminta
istrinya untuk menyelimutinya. Saat itulah turun wahyu yang kedua yang berbunyi “
Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan!!”

Dan seterusnya, yaitu surah Al-Muddatstsir 1-7 wahyu yang telah, dan kemudian
turun sepanjang hidup Muhammad SAW, muncul dalam bentuk suara yang berbeda-
beda. Tapi, pada periode akhir kenabiannya, wahyu surah-surah Madaniyah turun
dalam satu suara. Adapun orang-orang yang pertama kali memeluk agama Islam:
Orang-orang yang pertama-tama masuk Islam adalah:

a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)

b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)

c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)

d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi SAW)


Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:

a). Utsman Bin Affan

b). Zubair Bin Awwam

c). Saad Bin Abi Waqqash

d). Abdurahman Bin Auf


e). Thalhah Bin “Ubaidillah

f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah

g). Arqam Bin Abil Arqam

h). Fatimah Binti Khathab

Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang


terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam
langsung dari Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.

2. Akhir Kerasulan Nabi Muhammad SAW


2.1 Pembentukan Negara Madinah
Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib (Madinah), Nabi Muhammad SAW
resmi sebagai pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dala sejarah islam pun
dimulai. Berbeda dengan periode Mekkah, Pada Periode Madinah, Islam
merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan
masyarakat banyak turun diMadinah. Nabi Muhammad SAW mempunyai
kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negar.
Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, Kekuasaan Spiritual
dan Kekuasaan Duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis merupakan
kepala negara.
Dengan terbentuknya negara Madinah, islam makin bertambah kuat.
Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekah dan musuh-
musuh islam lainnyamenjadi risau. Kerisauan ini akan mendorong orang-orang
Quraisy berbuat apa saja. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan
gangguan dari musuh, Nabi sebagai kepala Pemerintah mengatur siasat dan
membentuk pasukan tentara. Umat islam diizinkan berperang dengan dua alasan:
1. Untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya
2. Menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan
mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.
Dalam sejarah Madinah ini memang banyak terjadi peprangan sebagai upaya
kaum muslimin mempertahankan diri dari serangan musuh. Nabi Muhammad
SAW sendiri, diawal pemerintahnnya mengadakan beberapa Ekspedisi keluar
kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang
mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru
dibentuk. Perjanjian Madinah dengan beberapa kabilah disekitar Madinah juga
diadakan dengan maksud mempertahankan kedudukan Madinah.

Pada tahun 9 dan 10 Hijriah (630-632 M) banyak suku dari pelosok Arab
mengutus Delegasinya kepada Nabi SAW menyatakan ketundukan mereka.
Masuknya orang Mekkah ke agama Islam rupanya mempunyai pengaruh yang
amat besar pada penduduk padang pasir yang liar itu. Tahun itu disebut dengan
tahun Perutusan. Persatuan bangsa Arab telah terwujud, peperangan antar suku
yang berlangsung sebelumnya telah berubah menjadi persaudaraan seagama.

Setelah itu, Nabi SAW segera kembali ke Madinah. Beliau mengatur


organisasi masyarakat kabilah yang telah memeluk agama islam. Petugas
keagamaan dan para da’i dikirim keberbagai daerah dan kabilah untuk
mengajarkan ajaran-ajaran agama islam, mengatur peradilan, dan memungut
zakat. Dua bulan setelah itu, Nabi menderita sakit demam. Tenaganya dengan
cepat berkurang. Pada hari Senin tanggal 12 Rabiulawal 11 Hijriah atau 8 Juni
632 Masehi, Nabi Muhammad SAW wafat dirumah isterinya Aisyah.

3. Nana Dan Gelar Nabi Muhammad SAW


Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua julukan dari suku Quraisy
(suku terbesar di Mekkah yang juga suku dari Muhammad) yaitu Al-Amiin yang
artinya "orang yang dapat dipercaya" dan As-Saadiq yang artinya "yang benar".
Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh
,kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, yang berarti
"semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"; sering disingkat
"S.A.W" atau "SAW") setelah namanya.
Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim yang berarti "bapak Qasim",
karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia
meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam
perbaikan Kakbah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang
siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan
masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan
suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya,
hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya "orang yang dapat
dipercaya".
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah orang yang percaya sepenuhnya
dengan keesaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-
sifat tamak, angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia
dikenal menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak
yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga
menghindari semua kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab
pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-
lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang berarti "yang benar".
Di dalam HR Bukhari dan Muslim disebutkan nama dan gelar Nabi
Muhammad SAW, antara lain :
- Ahmad
- Al-Mahi
- Al-Hasyir
- Al-'Aqib
- Muqaffi
- Nabiyyuttaubah
- Nabiyyurrahmah.

Pengertian nama-nama nabi Muhammad Saw :


- Ahmad : yang paling terpuji karena akhlak karimahnya, dan paling banyak
memuji Allah.
- Al-Mahi ( pengikis/penghapus) : karena Allah mengikis kekufuran dengan
mengutusnya,
- Al-Hasyir (penghimpun) : sebab nanti di hari kiamat seluruh manusia
berhimpun di hadapan beliau, ada yang mengatakan di bawah perintah beliau.
- Al-'Aqib (penutup) : karena beliaulah nabi dan rasul penutup.
- Muqaffi (yang mengikuti) : maksudnya mengikuti dan melanjutkan jejak
risalah para nabi.
- Nabiyyuttaubah (nabi taubat) : meski beliau sudah ma'shum dalam artian
bersih dari dosa, namun beliau banyak bertaubat. Dalam satu riwayat beliau
bertaubat hingga 70 kali sehari, dan dalam riwayat lain hingga 100 kali.
- Nabiyyurrahmah (nabi ramhat) : beliau adalah seorang nabi yang penuh kasih
hatta dalam peperangan pun, diutusnya beliau ke bumi ini adalah sebagai
rahmat bagi semesta alam.

Nama-nama tersebut berdasarkan penuturan beliau sendiri. Dan kita tahu


bahwa setiap sabda beliau adalah berdasarkan wahyu. Jadi bisa disimpulkan
bahwa yang memberi nama/gelar tersebut adalah Allah Swt.

Sifat-Sifat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik yaitu:


a). Siddiq
Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong (kidzib)
Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang
dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong.
Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.

b). Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat
atau tidak dapat dipercaya. Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah
SWT. Rasulullah taat kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai
dengan petunjuk Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT
maupun kepada umatnya.

c). Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Rasulullah sangat tidak mungkin untuk
menyembunyikan (kitman). Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya
tidak ada yang ditutup- tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu
pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir. Rasulullah menyampaikan
risalah secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.

d). Fathonah
Fathonah artinya cerdas. Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh.
Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah
diterima dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat
tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan
wahyu Allah.

4. PENGERTIAN NAMA NABI MUHAMMAD SAW


1. Ahmad : yang paling terpuji karena akhlak karimahnya, dan paling banyak
memuji Allah.
2. Al-Mahi ( pengikis/penghapus) : karena Allah mengikis kekufuran dengan
mengutusnya,
3. Al-Hasyir (penghimpun) : sebab nanti di hari kiamat seluruh manusia berhimpun
di hadapan beliau, ada yang mengatakan di bawah perintah beliau.
4. Al-‘Aqib (penutup) : karena beliaulah nabi dan rasul penutup.
5. Muqaffi (yang mengikuti) : maksudnya mengikuti dan melanjutkan jejak risalah
para nabi.
6. Nabiyyuttaubah (nabi taubat) : meski beliau sudah ma’shum dalam artian bersih
dari dosa, namun beliau banyak bertaubat. Dalam satu riwayat beliau bertaubat
hingga 70 kali sehari, dan dalam riwayat lain hingga 100 kali.
7. Nabiyyurrahmah (nabi ramhat) : beliau adalah seorang nabi yang penuh kasih
hatta dalam peperangan pun, diutusnya beliau ke bumi ini adalah sebagai rahmat
bagi semesta alam.

Nama-nama tersebut berdasarkan penuturan beliau sendiri. Dan kita tahu bahwa setiap sabda
beliau adalah berdasarkan wahyu. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang memberi nama/gelar
tersebut adalah Allah Swt.