Anda di halaman 1dari 10

ISSN 2442-3041

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika


Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
© STKIP PGRI Banjarmasin

PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG BERMAKNA

Rahmita Yuliana Gazali


Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Banjarmasin
rahmitayulianagazali@stkipbjm.ac.id

Abstrak: Definisi pembelajaran matematika yang bermakna mempunyai cakupan yang luas
karena kecenderungannya masih umum dan belum terukur. Dalam kajian ini, parameter
pembelajaran matematika bermakna terdiri atas belajar matematika bermakna tidak sekadar
hafalan (menghafal) berdasarkan teori Ausubel dan belajar matematika bermakna melalui
kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan. Jika seorang siswa berkeinginan untuk mengingat
sesuatu tanpa mengaitkan dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil
pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna baginya.

Kata kunci: Pembelajaran matematika, bermakna, hafalan, kegiatan

Pendidikan matematika di tanah air guru. Guru harus mengubah perannya,


saat ini sedang mengalami perubahan tidak lagi sebagai pemegang otoritas
paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, tertinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi
terutama di kalangan pengambil kebijakan, menjadi fasilitator yang membimbing
untuk memperbaharui pendidikan siswa ke arah pembentukan pengetahuan
matematika. Tujuannya adalah agar oleh diri mereka sendiri.
pembelajaran matematika lebih bermakna Namun, di sisi lain, para pendidik
bagi siswa dan dapat memberikan bekal dalam konteks ini adalah guru matematika,
kompetensi yang memadai baik untuk studi diharapkan mampu mereduksi anggapan
lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja awal siswa bahwa matematika sebagai
(Sutarto Hadi, 2005). pelajaran yang sulit. Anggapan ini tidak
Paradigma baru pendidikan saat ini terlepas dari persepsi yang berkembang di
masih diharapkan lebih menekankan pada masyarakat tentang matematika. Anggapan
peserta didik (siswa) sebagai manusia yang banyak orang bahwa matematika pelajaran
memiliki potensi untuk belajar dan yang sulit tanpa disadari telah
berkembang. Siswa harus aktif dalam mengkooptasi pikiran siswa. Sehingga
pencarian dan pengembangan siswa juga beranggapan demikian, ketika
pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak berhadapan dengan matematika.
terbatas pada apa yang disampaikan oleh Pandangan bahwa matematika ilmu yang

181
Pembelajaran Matematika yang Bermakna 182

kering, abstrak, teoritis, penuh dengan tidak bisa di pandang sebagai penerima
lambang-lambang dan rumus yang sulit pasif matematika yang sudah jadi (passive
dan membinggungkan. Anggapan ini ikut receivers of ready-made mathematics).
membentuk persepsi negatif siswa Siswa harus diberi kesempatan untuk
terhadap matematika. menemukan kembali matematika di bawah
Akibatnya pelajaran matematika bimbingan orang dewasa (Gravemeijer,
tidak dipandang secara objektif lagi. 1994) dan tentunya melalui berbagai
Matematika sebagai salah satu ilmu kegiatan yang diharapkan mampu
pengetahun kehilangan sifat netralnya. menjadikan matematika sebagai
Tentu saja anggapan yang berkembang di pembelajaran yang bermakna.
masyarakat tidak dapat disalahkan begitu Pada kegiatan pembelajaran,
saja. Anggapan itu muncul karena termasuk pembelajaran matematika, jika
pengalaman yang kurang menyenangkan guru dapat mengatikan antara materi yang
terhadap pembelajaran matematika. dibahas dengan kondisi siswa, baik hobi
Untuk menghilangkan persepsi atau kebutuhan siswa, perkembangan
pada siswa bahwa matematika sulit, harus kognitif, lingkungan keseharian, dan bekal
dimulai dari diri guru. Pertama, guru yang telah dimiliki siswa, maka akan
seyogyanya mengubah paradigma berdampak positif bagi siswa yaitu
pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran yang dilakukan dalam
pembelajaran progresif. Pada paradigma mempelajari suatu konsep matematika
tradisional pembelajaran matematika di menjadi menyenangkan (joyful learning).
sekolah cenderung didominasi oleh Pembelajaran ini bisa diterapkan
transfer pengetahuan. Materi yang banyak melalui penggunaan masalah kontekstual
dan sulit, serta tuntutan untuk sebagai jembatan pemahaman siswa
menyelesaikan materi pembelajaran telah terhadap matematika, karena penggunaan
membuat guru membelajarkan matematika masalah kontekstual merupakan konsep
dengan cepat tapi tidak mendalam. belajar yang beranggapan bahwa anak akan
Pembelajaran matematika dilakukan belajar lebih baik jika lingkungan
dengan pola instruksi, bukan konstruksi diciptakan secara alamiah, artinya belajar
dan rekonstruksi pengetahuan. Bahkan akan lebih bermakna jika anak “bekerja”
tanpa memberi kesempatan pada siswa dan “mengalami” sendiri apa yang
untuk menentukan sendiri arah mana siswa dipelajarinya, bukan sekedar
ingin berekplorasi dalam menemukan “mengetahuinya”.
pengetahuan yang bermakna bagi dirinya. Misalnya, ketika siswa SMP
Akibatnya pembelajaran matematika di dihadapkan pada materi pelajaran seperti
sekolah hanya bersifat hafalan dan bukan aritmetika sosial, diharapkan siswa mampu
melatih pola pikir. Kedua, guru seharusnya memahami konsep-konsep terkait materi
mengubah paradigma tentang matematika. tersebut. Berdasarkan teori belajar
Matematika bukan sekedar alat bagi ilmu bermakna Ausubel, ketika siswa belajar
yang lain, tapi matematika juga merupakan aritmetika sosial, guru dapat membantu
aktivitas manusia. Hans Freudental siswa dengan memancing pengetahuan
berpendapat bahwa matematika siswa terkait masalah jual beli yang pernah
merupakan aktivitas insani (mathematics mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
as human activity). Menurutnya siswa Hal tersebut mampu memperkuat struktur

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
183 Rahmita Yuliana Gazali

kognitif siswa sehingga ketika siswa Fakta merupakan suatu konvensi atau
menemui masalah terkait aritmetika sosial, kesepakatan dalam matematika, misalnya
mereka mampu memberikan pemecahan simbol-simbol dalam matematika. Simbol
masalah yang sesuai dengan konsep- “4” merupakan simbol yang dihubungkan
konsep yang telah mereka pelajari dan dengan perkataan “empat”, “x” adalah
mereka alami. simbol yang dihubungkan dengan operasi
Pembelajaran dengan perkalian , “+” adalah simbol yang
menggunakan masalah-masalah dihubungkan dengan operasi penjumlahan,
kontekstual dan pembelajaran yang “│“ adalah simbol yang dihubungkan
menyenangkan sejalan dengan prinsip dengan perkataan “habis dibagi”, dan
bahwa pembelajaran harus bermakna sebagainya. Jadi, fakta merupakan cara
(meaningful learning), yang antara lain yang khas dari penyajian ide-ide
diajukan oleh Ausubel. Menurut Ausubel matematika dalam kata-kata atau lambang
(1963: 42-43), ada dua macam proses (simbol).
belajar, yakni proses belajar bermakna dan Sedangkan keterampilan (skill)
proses belajar menghafal. Belajar matematika merupakan gabungan antara
bermakna merupakan suatu proses operasi dan prosedur di mana
dikaitkannya informasi baru pada konsep- matematikawan diharapkan dapat
konsep relevan yang terdapat dalam menyelesaikan persoalan dengan cepat dan
struktur kognitif seseorang. Jadi, proses tepat. Berbagai keterampilan berwujud
belajar tidak sekedar menghafal konsep- urutan prosedur tertentu yang disebut
konsep atau fakta-fakta belaka (root dengan algoritma. Selanjutnya, operasi
learning), namun berusaha merupakan suatu aturan untuk
menghubungkan konsep-konsep atau mendapatkan elemen tunggal dari satu atau
fakta-fakta tersebut untuk menghasilkan lebih elemen yang diketahui, misalnya
pemahaman yang utuh (meaningfull penjumlahan pecahan, perkalian pecahan
learning), sehingga konsep yang dipelajari desimal, membagi sudut, dan menentukan
dipahami secara baik dan tidak mudah gabungan atau irisan dari beberapa
dilupakan. himpunan obyek merupakan contoh
keterampilan.
Konsep merupakan suatu ide atau
Pembahasan
gagasan abstrak yang memungkinkan
A. Obyek Matematika seseorang dapat mengklasifikasikan
Selanjutnya, sebagai pendidik, guru obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa
seyogyanya juga memahami dari awal tertentu dan memungkinkan pula untuk
bagaimana karakteristik dan hakikat menentukan apakah obyek-obyek atau
matematika. Dalam mempelajari peristiwa-peristiwa tertentu itu merupakan
matematika perlu mengklasifikasikan contoh atau bukan contoh dari gagasan
obyek matematika, karena salah satu tersebut.
karakteristik matematika adalah obyek Misalnya tentang konsep
matematika. Menurut Bell (1978), obyek keterbagian bilangan bulat, bilangan b
dalam matematika diklasifikasikan atas habis dibagi a bila ada y sehingga b = ay,
fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip. untuk a, b, dan y bilangan-bilangan bulat.
Misalkan ambil bilangan b = 8 dan a = 2,

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika yang Bermakna 184

maka ada bilangan y = 4 sehingga sekedar learning to know (kemampuan


memenuhi b = ay atau 8 = 2.4. Dengan siswa dalam memahami), melainkan juga
mengambil bilangan b = 8 dan a = 2 maka meliputi learning to do (kemampuan siswa
memenuhi ide b habis dibagi a. Dengan dalam melakukan kegiatan matematika),
demikian b = 8 dan a = 2 adalah obyek- learning to be (kemampuan siswa untuk
obyek yang merupakan contoh dari ide meraih prestasi dalam bidang matematika),
keterbagian bilangan bulat. hingga learning to live together
Prinsip adalah obyek matematika (kemampuan siswa dalam
yang lebih kompleks. Menurut Bell (1978), mengkomunikasikan matematika di
prinsip merupakan hubungan antara kehidupan sehari-hari).
konsep bersama dengan relasi di antara Sebagai contoh pada pembelajaran
konsep-konsep. Misalnya, jika a│b dan matematika materi aritmetika sosial, siswa
b│c maka a│c, dengan a, b dan c bilangan- harus mampu memahami konsep-konsep
bilangan bulat. Di sini ada konsep a│b aritmetika sosial seperti jual beli, untung
dihubungkan dengan konsep b│c rugi, diskon, hingga konsep yang lebih
maka terjadilah konsep lain yaitu a│c. rumit (learning to know). Ketika siswa
sudah mampu memahami konsep-konsep
B. Pembelajaran Matematika tersebut, siswa bisa melakukan berbagai
Menurut National Research kegiatan matematika. Kegiatan di sini bisa
Council (Cowan, 2006: 25), dalam rangka berarti kegiatan dalam mencari
mengembangkan pemikiran matematika penyelesaian dari setiap masalah/ soal
dan kemampuan untuk memecahkan matematika pada saat proses pembelajaran
masalah, siswa perlu untuk “melakukan” berlangsung. Jika siswa sudah memahami
matematika. Hal ini berarti bahwa siswa konsep dengan baik, maka siswa bisa
perlu menggabungkan kegiatan seperti dengan mudah berkegiatan matematika
memecahkan masalah yang menantang, (learning to do). Hal ini akan memberikan
memahami pola, merumuskan dugaan dan dampak positif bagi siswa sehingga siswa
memeriksanya, menarik kesimpulan memiliki kesempatan dalam meningkatkan
melalui penalaran serta prestasi belajar matematikanya (learning to
mengkomunikasikan ide-ide, pola, dugaan be). Serta pilar keempat, learning to live
dan kesimpulan tersebut. Berdasarkan together, siswa mampu
pendapat tersebut, matematika penting dan mengkomunikasikan dan menerapkan ilmu
harus dikuasai oleh siswa secara yang telah mereka miliki dalam kehidupan
komprehensif dan holistik, artinya bahwa sehari-hari, khususnya pada kegiatan
pembelajaran matematika sebaiknya perdagangan.
mengoptimalkan keberadaan dan peran Menurut Matlin (Sugiman, 2009:
siswa sebagai pelajar. 421), agar konsep-konsep matematika
Menurut UNESCO (Sugiman 2009: bermanfaat dan tersimpan lama dalam
415), kecenderungan pendidikan memuat Long-Term Memory siswa dan tidak hanya
empat pilar utama, yaitu: (a) Learning to tersimpan dalam Short-Term Memory,
know; (b) Learning to do; (c) Learning to maka pembelajaran yang dilakukan
live together; dan (d) Learning to be. hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip
Dengan berlandaskan kepada empat pilar berikut.
tersebut, pembelajaran matematika tidak

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
185 Rahmita Yuliana Gazali

1) Pelajaran harus bermakna (meaningful) Teori belajar bermakna Ausubel di


bagi siswa. mana informasi baru diasimilasikan dalam
2) Siswa didorong untuk mengembangkan pengertian yang dimiliki siswa, merupakan
apa yang dipelajari secara kaya. teori yang sangat dekat dengan inti pokok
3) Siswa melakukan encoding ketika konstruktivisme, yang beranggapan bahwa
mempelajari matematika dalam bentuk pengetahuan adalah hasil konstruksi
elaborasi. manusia. Konstruktivisme dalam proses
4) Siswa mengaitkan materi pelajaran belajar digunakan pertama kali oleh Piaget
dengan pengalaman diri sebagai bentuk seorang pakar psikologi kognitif yang
dari self-reference effect. banyak memberikan kontribusi bagi
Berdasarkan uraian tersebut, maka pengkajian perkembangan psikologi
diperlukan pembelajaran yang bermakna kognitif. Oleh karena itu Piaget banyak
agar pengetahuan yang diperoleh siswa mempengaruhi pemikiran-pemikiran
dari proses pembelajaran dapat melekat Ausubel dalam psikologi kognitif dan
lebih lama dalam ingatan siswa. konstruktivisme proses belajar.
Novak (Dahar, 2011: 94)
C. Pembelajaran Matematika yang menjelaskan bahwa Ausubel
Bermakna mengklasifikasikan belajar ke dalam dua
Dalam kajian ini, yang dimaksud dimensi yaitu dimensi pertama tentang cara
pembelajaran matematika bermakna penyajian informasi atau materi kepada
mencakup dua hal yaitu belajar matematika siswa melalui penerimaan dan penemuan.
bermakna tidak sekadar hafalan Sedangkan dimensi kedua tentang cara
(menghafal) berdasarkan teori Ausubel dan siswa mengkaitkan materi yang diberikan
belajar matematika melalui kegiatan pada struktur kognitif yang telah ada, yaitu
(matematika sebagai kegiatan). berupa fakta, konsep, dan generalisasi yang
1. Belajar Matematika Bermakna telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Ausubel Dimensi kedua ini merupakan proses
David Paul Ausubel adalah seorang utama dalam belajar di mana materi baru
tokoh ahli psikologi kognitif yang terkait dengan ide-ide yang relevan dalam
mengembangkan teori psikologi kognitif. struktur kognitif yang ada.
Teori tersebut merupakan salah satu Menurut Dahar (2011: 94), jika siswa
cabang dari psikologi umum dan mencakup dapat menghubungkan atau mengkaitkan
studi ilmiah tentang gejala-gejala informasi atau materi itu pada pengetahuan
kehidupan mental sejauh berkaitan dengan yang telah dimilikinya maka dikatakan
cara manusia berpikir dalam memperoleh terjadi belajar bermakna. Tetapi jika siswa
pengetahuan, mengolah kesan-kesan yang menghafalkan informasi atau materi baru
masuk melalui indra, pemecahan masalah, tanpa mengkaitkannya dengan
menggali ingatan pengetahuan dan pengetahuan yang telah dimilikinya, maka
prosedur kerja yang dibutuhkan dalam dikatakan terjadi belajar hafalan. Hal ini
kehidupan sehari- hari. Ausubel dalam menyebabkan materi tidak akan bertahan
teorinya yang berkaitan dengan cara lama dalam ingatan siswa.
manusia memperoleh pengetahuan, Pada belajar menghafal, siswa
mengkontraskan belajar bermakna dengan menghafalkan materi yang sudah
belajar hafalan. diperolehnya, tetapi pada belajar bermakna

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika yang Bermakna 186

materi yang telah diperoleh itu informasi yang harus dipelajari (Novak &
dikembangkan dengan keadaan lain Gowin, 2006: 7).
sehingga belajarnya lebih dimengerti. Berdasarkan tabel tersebut,
Berdasarkan perbedaan antara belajar sepanjang kontinum (mendatar) dari kiri ke
menghafal dan belajar bermakna tersebut, kanan berkurangnya belajar penerimaan
jelas terlihat belajar bermakna memiliki dan bertambahnya belajar penemuan.
lebih banyak keunggulan daripada belajar Sedangkan sepanjang kontinum (vertikal)
menghafal. Maka dari itu, penting bagi dari bawah ke atas berkurangnya belajar
siswa melakukan belajar bermakna pada hafalan dan bertambahnya belajar
setiap proses pembelajaran. bermakna (Dahar, 2011: 95).
Ausubel (1978: 41) menyatakan: Ausubel menyatakan bahwa
“…,if the learner’s intention is to memorise banyak ahli pendidikan menyamakan
it verbatim, i.e., as a series of arbitrarily belajar penerimaan dengan belajar hafalan,
related word, both the learning process karena mereka berpendapat bahwa belajar
and the learning outcome must necessarily bermakna hanya terjadi jika siswa
be rote and meaningless”. Jika seorang menemukan sendiri pengetahuannya.
siswa berkeinginan untuk mengingat Berdasarkan tabel di atas, belajar
sesuatu tanpa mengaitkan dengan hal yang penerimaan yang bermakna dapat
lain maka baik proses maupun hasil dilakukan dengan cara menjelaskan
pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hubungan antara konsep-konsep,
hafalan dan tidak akan bermakna sama sedangkan belajar penemuan yang
sekali baginya. bermakna hanya terjadi pada penelitian
Tabel 1.Belajar bermakna dan belajar hafalan ilmiah.
Menjelaskan Pengajaran Penelitian
Belajar
hubungan Audio- ilmiah
Mayer (Haylock & Thangata, 2007:
Bermakna
antara Tutorial 121) menjelaskan ciri pembelajaran
konsep-
konsep
bermakna adalah siswa dapat
Penyajian Kegiatan di Sebagian menggunakan pengetahuan yang mereka
melalui laboratorium besar
ceramah sekolah penelitian
pelajari untuk memecahkan masalah dan
atau buku rutin atau untuk memahami konsep-konsep baru
pelajaran produksi
intelektual
dengan mentransfer pengetahuan mereka
Daftar Menerapkan Pemecahan untuk situasi dan masalah baru. Pada
perkalian rumus-rumus dengan
untuk coba-coba
pembelajaran matematika, konsep
Belajar
Hafalan memecahkan pembelajaran bermakna konsisten dengan
masalah
pandangan konstruktivis dimana siswa
Belajar Belajar Belajar
penerimaan penemuan penemuan dikatakan memahami jika mereka
terbimbing mandiri
membangun makna dari pengalaman
mereka dengan membuat koneksi kognitif
Berdasarkan pendapat tersebut, antara pengalaman baru dan pemahaman
pembelajaran dapat bervariasi dari yang matematika mereka sebelumnya.
hafalan menjadi sangat bermakna dari Belajar bermakna memiliki
belajar penerimaan, di mana informasi beberapa karakteristik yang
yang diberikan secara langsung kepada membedakannya dengan belajar hafalan.
siswa, untuk belajar penemuan, di mana Menurut Meral (2009:28), karakteristik
siswa mengidentifikasi dan memilih belajar bermakna yaitu: 1) penggabungan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
187 Rahmita Yuliana Gazali

substantif pengetahuan baru dalam struktur memusatkan kepada belajar bermakna


kognitif siswa, 2) upaya yang disengaja (meaningful learning). Menurut Ausubel
untuk menggabungkan pengetahuan (1978: 628), pembelajaran bermakna
dengan konsep yang lebih tinggi dalam merupakan suatu proses akuisisi makna
struktur kognitif siswa, 3) pembelajaran baru, dengan mengandaikan seperangkat
yang berkaitan dengan pengalaman baik itu pembelajaran yang bermakna dan tugas
berupa peristiwa atau kejadian yang ada belajar berpotensi bermakna.
disekitar, dan 4) komitmen tentang sikap Potensi bermakna pada
yang berhubungan dengan pengetahuan pembelajaran matematika juga bisa melalui
baru sebelum masuk pada materi yang akan masalah nyata dan logis, kontekstual tetapi
dipelajari. realistik, yang dihadirkan ke ruang kelas,
Dalam pandangan Ausubel, untuk diharapkan siswa dapat mengoptimalkan
belajar secara bermakna, siswa harus panca inderanya baik penglihatan,
menghubungkan pengetahuan baru pendengaran, penciuman, maupun
(konsep dan proposisi) dengan apa yang penginderaan yang lain untuk dapat
telah mereka ketahui. Belajar bermakna memahami materi yang sedang dipelajari,
merupakan suatu proses dikaitkannya serta dapat membantu siswa dalam
informasi baru pada konsep-konsep relevan menyelesaikan masalah-masalah yang
yang terdapat dalam struktur kognitif berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
seseorang (Dahar, 2011: 95). Belajar yang mereka hadapi. Menurut Lesh &
seharusnya merupakan asimilasi yang Doerr, masalah mengharuskan siswa untuk
bermakna bagi siswa. memahami situasi sehingga mereka dapat
Menurut Ausubel (Dahar, 2011: menyelesaikan masalah tersebut dengan
99), prasyarat-prasyarat belajar bermakna cara yang bermakna bagi mereka (Sriraman
adalah sebagai berikut. & English, 2010: 273).
1) Materi yang akan dipelajari harus Pembelajaran bermakna berkaitan
bermakna secara potensial. erat dengan pembelajaran kontekstual,
Kebermaknaan materi tergantung pada yaitu pembelajaran yang didukung situasi
dua faktor berikut. atau masalah dalam kehidupan nyata.
a) Materi itu harus memiliki Landasan filosofis kontekstual itu sendiri
kebermaknaan logis. adalah konstruktivisme, yaitu filosofi
b) Gagasan-gagasan yang relevan belajar yang menekankan bahwa belajar
harus terdapat dalam struktur tidak hanya sekedar menghafal (rote
kognitif siswa. learning), tetapi merekonstruksikan atau
2) Anak yang akan belajar atau siswa membangun pengetahuan dan
harus bertujuan untuk melaksanakan keterampilan baru lewat fakta-fakta yang
belajar bermakna, jadi mempunyai mereka alami dalam kehidupannya.
kesiapan dan niat untuk belajar Berdasarkan paparan tersebut dapat
bermakna. Tujuan siswa merupakan disimpulkan bahwa salah satu cara yang
faktor utama dalam belajar bermakna. dapat digunakan agar terjadi belajar
bermakna adalah mengaitkan pembelajaran
Ausubel mengemukakan perlunya dengan masalah-masalah yang dekat
teori belajar kognitif sebagai dasar dalam dengan kehidupan siswa sehari-hari
mengembangkan teori pengajaran dengan (kontekstual).

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika yang Bermakna 188

Pembelajaran kontekstual memiliki a. Matematika adalah kegiatan


lima konsep yang harus diterapkan pada penelusuran pola dan hubungan
pembelajaran (Muslich, 2011: 41-42), Implikasi dari pandangan ini
yaitu: terhadap usaha guru adalah dengan
1) Relating, yaitu bentuk belajar dalam memberi kesempatan siswa untuk
konteks kehidupan nyata atau melakukan kegiatan penemuan dan
pengalaman nyata. penyelidikan pola-pola untuk menentukan
2) Experiencing, yaitu belajar dalam hubungan.
konteks eksplorasi, penemuan, dan b. Matematika adalah kegiatan
penciptaan. kreativitas yang memerlukan
3) Applying, yaitu belajar dalam bentuk imajinasi, intuisi dan penemuan
penerapan hasil belajar ke dalam Implikasi dari pandangan ini
penggunaan dan kebutuhan praktis. terhadap usaha guru adalah dengan
4) Cooperating, yaitu belajar dalam mendorong inisiatif dan memberikan
bentuk berbagi informasi dan kesempatan berpikir berbeda, mendorong
pengalaman, saling merespon, dan rasa ingin tahu, keinginan bertanya,
saling berkomunikasi. kemampuan menyanggah dan
5) Transferring, yaitu kegiatan belajar kemampuan memperkirakan, menghargai
dalam bentuk memanfaatkan penemuan yang diluar perkiraan sebagai
pengetahuan dan pengalaman hal bermanfaat dari anggapannya sebagai
berdasarkan konteks baru untuk kesalahan, mendorong siswa menemukan
mendapatkan pengetahuan dan struktur dan desain matematika,
pengalaman belajar yang baru. mendorong siswa menghargai penemuan
siswa yang lainnya, mendorong siswa
Pada pembelajaran matematika, berfikir refleksif, dan tidak menyarankan
konsep pembelajaran bermakna konsisten penggunaan suatu metode tertentu.
dengan pandangan konstruktivis dimana c. Matematika adalah kegiatan problem
siswa dikatakan memahami jika mereka solving
membangun makna dari pengalaman Implikasi dari pandangan ini
mereka dengan membuat koneksi kognitif terhadap usaha guru adalah melalui
antara pengalaman baru dan pemahaman menyediakan lingkungan belajar
matematika mereka sebelumnya, tidak matematika yang merangsang timbulnya
sekadar menghafal rumus/dalil. persoalan matematika, membantu siswa
2. Matematika sebagai Kegiatan memecahhkan persoalan matematika
Ebbutt dan Straker (1995: 10-63) menggunakan caranya sendiri, membantu
dalam Marsigit (2012), memberikan siswa mengetahui informasi yang
pedoman bagi guru matematika dalam diperlukan untuk memecahkan persoalan
usaha untuk mendorong agar para siswa matematika, mendorong siswa untuk
menyenangi matematika di sekolah. berpikir logis, konsisten, sistematis dan
Pedoman yang diberikan tersebut mengembangkan sistem
berdasarkan kepada anggapan dasar dokumentasi/catatan, mengembangkan
tentang hakekat matematika dan hakekat kemampuan dan ketrampilan untuk
subyek didik beserta implikasinya terhadap memecahkan persoalan, membantu siswa
pembelajaran matematika sebagai berikut: mengetahui bagaimana dan kapan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
189 Rahmita Yuliana Gazali

menggunakan berbagai alat peraga/media jeruk yang sudah disusun berbentuk


pendidikan matematika seperti: jangka, persegi panjang.
kalkulator, dsb. Contoh lainnya adalah dengan
d. Matematika merupakan kegiatan menerapkan berbagai pendekatan
berkomunikasi pembelajaran disesuaikan dengan
Implikasi dari pandangan ini karakteristik siswa dan materi yang akar
terhadap usaha guru adalah melalui diajarkan. Beberapa pendekatan yang
mendorong siswa mengenal sifat mendukung antara lain pendekatan inkuiri,
matematika, mendorong siswa membuat open ended, penemuan, matematika
contoh sifat matematika, mendorong realistik, kontekstual, pembelajaran
siswa menjelaskan sifat matematika, berbasis masalah, pembelajaran berbasis
mendorong siswa memberikan alasan proyek, dan saintifik.
perlunya kegiatan matematika, Sebagai ruh matematika adalah
mendorong siswa membicarakan pemecahan masalah sedangkan masalah itu
persoalan matematika, mendorong siswa sendiri dapat dikaji dari perspektif yang
membaca dan menulis matematika, dan berbeda-beda dan akibatnya matematika
menghargai bahasa ibu siswa dalam bersifat dinamis, fleksibel, tumbuh, dan
membicarakan matematika. berkembang seiring dengan perubahan dan
3. Matematika berkegiatan tidak perkembangan masalah itu sendiri. Dengan
sekedar hafalan demikian belajar matematika menjadi tidak
Guna mengurangi dominasi guru bermakna manakala hanya sekedar hafalan
dan menambah peran siswa dalam tanpa pemecahan masalah.
pembelajaran matematika, pendekatan-
pendekatan pembelajaran matematika yang
Kesimpulan
konstruktivistik merupakan pilihan yang
pertama. 1. Pembelajaran matematika yang
bermakna bisa berarti belajar
matematika tidak sekadar menghafal
rumus-rumus untuk menyelesaikan
masalah matematika.
2. Beberapa hal patut diperhatikan oleh
para guru matematika terutama dalam
penyelenggaraan pembelajaran
matematika yang dilakukan melalui:
tahap persiapan, tahap pembelajaran,
dan tahap evaluasi, agar pembelajaran
Gambar 1. Siswa mengukur diameter jeruk
matematika lebih menarik. Utamanya
guru perlu merencanakan kegiatan
Siswa mengkonstruk atau
matematika yang meliputi
membangun pengetahuannya sendiri.
merencanakan kegiatan matematika
Misalnya tampak pada Gambar 1, dimana
yang seimbang dalam hal materi,
sekelompok siswa sedang mengukur
waktu, kesulitan, aktivitas, dsb.
diameter buah jeruk dengan cara mengupas
Misalnya dengan merencanakan
kulit jeruk, kemudian menempelkan kulit

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika yang Bermakna 190

kegiatan matematika dengan masalah Muslich, M. (2011). KTSP: pembelajaran


terbuka (open-ended), penyelesaian berbasis kompetensi dan kontekstual.
masalah (problem solving). Jakarta: Bumi Aksara

Novak, J. D. & Gowin, D. B. (2006).


Daftar Pustaka Learning how to learn. New York:
Cambridge University Press.
Ausubel, D. (1963). The psychology of
meaningful verbal learning. New Sriraman & English. (2010). Theories of
York: Grune & Stratton. mathematics education. New York:
Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
Ausubel, D. (1978). Educational
psychology: a cognitive view. New Sugiman. (2009). Pandangan matematika
York: Holt, Rinehart and Winston. sebagai aktivitas insani beserta
dampak pembelajarannya. Prosiding
Bell, Frederick H. (1978). Teaching and
of SemNas Matematika dan
Learning Mathematics in Secondary
Pendidikan Matematika,FMIPA
School. Cetakan Kedua. Dubuque,
UNY, P-26.
Iowa: Win C. Brown Company
Publishers.

Cowan, P. (2006). Teaching mathematics.


New York: Routledge.

Dahar, R. W. (2011). Teori belajar dan


pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Ebbutt, S dan Straker, A., 1995 , Children


and Mathematics: A Handbook for
Teacher, London: Collins
Educational.

Gravemeijer, K. 1994. Developing


Realistic Mathematics Education.
Utrecht: Freundenthal Intitute.

Hadi, S. (2005). Pendidikan Matematika


Realistik dan Implementasinya.
Banjarmasin Tulip Banjarmasin.

Marsigit. 2012. Kajian Panelitian (Review


Jurnal Internasional) Pendidikan
Matematika. Yogyakarta: Program
Pascasarjana UNY.

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016