Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS PENGARUH PENDEKATAN PENGUKURAN

NILAI WAJAR DAN NILAI HISTORIS


TERHADAP VALUE RELEVANCE ASET BIOLOGIS
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN
DI INDONESIA, MALAYSIA, DAN SINGAPURA)

Emeraldy Putra Petrus dan Aria Farahmita

Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

E-mail: emeraldyputra@yahoo.com

Abstrak

Penelitian ini merupakan studi empiris pada perusahaan perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura,
mengenai hubungan antara pendekatan pengukuran dengan value relevance aset biologis. Konsep penelitian ini
adalah menjadikan pendekatan pengukuran sebagai dasar penelitian dengan tujuan meneliti value relevance aset
biologis dan membedakan value relevance aset biologis tersebut dari dua pendekatan pengukuran, nilai wajar
dan nilai historis. Dengan menggunakan teknik regresi linear model harga Ohlson pada data pooled cross section
untuk 31 perusahaan perkebunan, didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh
nilai buku aset biologis terhadap harga saham. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh negatif signifikan pendekatan pengukuran nilai wajar dan pengaruh positif signifikan pendekatan
pengukuran nilai historis, terhadap value relevance aset biologis. Hasil tersebut membuktikan bahwa pendekatan
pengukuran nilai wajar atas aset biologis tidak mempunyai value relevance lebih tinggi dibandingkan dengan
pendekatan pengukuran nilai historis.

Kata Kunci:
Value Relevance, Aset Biologis, Nilai Wajar, Nilai Historis

Analysis of The Effect of Fair Value and Historical Cost Measurement Approach
on The Value Relevance of Biological Assets
(Empirical Study on Plantation Companies in Indonesia, Malaysia, and Singapore)

Abstract

This study is an empirical study on plantation companies in Indonesia, Malaysia, and Singapore, about the
relation between the measurement approach with the value relevance of biological assets. The concept of this
study is to make the measurement approach as the basis of the study in orders to investigate the value relevance
of biological assets and differentiate the value relevance of biological assets from two measurement approaches,
the fair value and the historical cost. By using Ohlson price level regression technique on pooled cross section
data in 31 plantation companies, obtained results that show there were no significant effect of the book value of
biological assets against the stock prices. Furthermore, the results show that there were significant negative
effect of the fair value measurement approach and significant positive effect of the historical measurement
approach, against the value relevance of biological assets. That results prove that the fair value measurement
approach on biological assets have no higher value relevance than the historical cost measurement approach.

Keywords:
Value Relevance; Biological Assets; Fair Value; Historical Cost

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Di dalam akuntansi keuangan dikenal adanya standar akuntansi yang harus dipatuhi
dalam pembuatan laporan keuangan. Standar akuntansi tersebut diperlukan karena setiap
negara tentunya mempunyai aturan akuntansi yang berbeda-beda. Perbedaan itu mencakup
pengakuan, pengukuran, penilaian, penyajian, dan pelaporan. Standar akuntansi yang berbeda
antar negara akan menyulitkan para pengguna laporan keuangan terutama bagi para investor
yang lingkup kerjanya melewati batas negara. Berdasar hal tersebut, munculah isu
konvergensi International Financial Reporting Standard (IFRS) untuk mengatur standar
akuntansi yang berlaku secara umum. Dengan adanya konvergensi IFRS diharapkan dapat
menjembatani persepsi yang berbeda dalam mengartikan laporan keuangan karena semua
negara berpedoman pada standar akuntansi yang seragam dan pemahaman yang sama.
Dengan direalisasikannya konvergensi IFRS yang berlaku efektif tahun 2008, banyak
negara merespon perubahan-perubahan sistem pelaporan keuangan terkini dengan melakukan
penyesuaian IFRS ke standar akuntansi yang berlaku untuk masing-masing negara.
Penyesuaian IFRS tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat terkait fungsi dan posisi
negara sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi dunia yang diterima secara global. Dengan
mengadopsi IFRS, negara-negara tersebut akan dapat meningkatkan berbagai hal seperti
kualitas standar akuntansi, kredibilitas laporan keuangan, komparabilitas pelaporan keuangan,
hingga menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalu pasar
modal. Namun di sisi lain, perubahan tata cara pelaporan keuangan ke IFRS sebagai standar
akuntansi yang diadopsi secara global juga berdampak sangat luas. Salah satu dampaknya
yaitu perubahan pendekatan pengukuran akuntansi yang menekanan pada nilai wajar (fair
value) dan meninggalkan nilai historis (historical cost).
Fenomena transisi atas standar-standar akuntansi terhadap pendekatan pengukuran
akuntansi berdasar nilai wajar ini telah menimbulkan suatu perdebatan yang sengit terutama
dalam tahun-tahun terakhir ini. Salah satu perdebatan tersebut adalah perdebatan mengenai
standar akuntansi perkebunan IFRS yang mengacu pada International Accounting Standard
(IAS) No. 41 Agriculture tahun 2003.
IAS No. 41 Agriculture (2003) yang menggunakan pendekatan pengukuran nilai wajar
atas aset biologis, mengklasifikasikan tanaman perkebunan menjadi dua jenis, yaitu aset
biologis dan produk agrikultur. Aset biologis itu sendiri juga dibedakan berdasar macamnya,
yakni aset biologis yang dapat dikonsumsi (consumable biological assets) dan aset biologis

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


bawaan (bearer biological assets). Penggunaan basis pengukuran nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual ini lebih lanjut dipertanyakan berdasar perlakuan akuntansinya terutama untuk
aset biologis berupa tanaman jangka panjang seperti kelapa sawit. Banyak pihak menganggap
bahwa penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar untuk kelapa sawit yang
membutuhkan waktu selama lima tahun hingga akhirnya dapat dipanen adalah tidak tepat. Hal
tersebut didasari oleh pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual
dalam laporan laba rugi yang berdampak pada meningkatnya volatilitas kinerja keuangan
yang sebetulnya belum terealisasi pada tahun sebelum panen; sehingga menurut mereka,
penggunaan opsi pendekatan pengukuran nilai historis seharusnya lebih tepat dalam
mengukur nilai aset biologis tersebut dalam laporan keuangan.
Keberatan atas perlakuan akuntansi IAS No. 41 Agriculture (2003) ini paling gencar
diutarakan oleh Indonesia dan Malaysia sebagai negara-negara agraris yang kekayaan
alamnya sebagian besar berorientasi pada aset biologis tanaman jangka panjang. Mereka
menganggap perlakuan akuntansi dengan menggunakan pendekatan pengukuran nilai wajar
hanya menitiktolakkan basis pengukuran berdasar karakteristik aset biologis tanaman jangan
pendek Australia sebagai ketua penyusun IAS No. 41 Agriculture (2003). Hal ini menjadi
menarik berdasar fakta bahwa Singapura ternyata telah mengadopsi pendekatan pengukuran
nilai wajar atas aset biologis.
Perdebatan mengenai standar akuntansi perkebunan khususnya IAS No. 41
Agriculture (2003) tersebut lebih lanjut diteliti oleh banyak pihak yang bersikap kritis
terhadap persyaratan penerapan nilai wajar serta perubahan nilainya yang harus diakui dalam
laporan laba rugi perusahaan. Argilés, Bladon, dan Monllau (2009), berdasar pada
penelitiannya memperlihatkan bahwa antara perusahaan dengan pendekatan pengukuran nilai
wajar dan nilai historis terhadap aset biologis tidak memiliki perbedaan yang nyata terkait
nilai aset, pendapatan, earnings, ROA, dan Income Smoothing Index (ISI). Penelitian tersebut
konsisten dengan replikasi penelitian yang dilakukan Maruli dan Farahmita (2010) di
Indonesia.
Kebutuhan atas standar akuntansi khusus yang mengatur akuntansi perkebunan
berdasar fungsi informasi pendekatan pengukuran akuntanasi atas aset biologis dalam laporan
keuangan adalah isu utama terkait hubungannya dengan pengguna laporan keuangan, dalam
hal ini investor. Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan yang diterbitkan suatu
perusahaan seharusnya dapat mengungkapkan kondisi perusahaan yang sebenarnya sehingga
bermanfaat untuk pengambilan keputusan. Informasi yang bermanfaat bagi pengambilan
keputusan haruslah informasi yang mempunyai relevansi terkait hubungan informasi tersebut

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


terhadap pengambilan keputusan. Salah satu indikator bahwa suatu informasi akuntansi
mempunyai relevansi nilai (value relevance) adalah adanya reaksi investor pada saat
diumumkannya suatu informasi akuntansi yang pengaruhnya dapat diamati dari pergerakan
harga saham perusahaan.
Barth et al (2001) dalam penelitiannya mengenai value relevance nilai wajar yang
dijadikan sebagai dasar pendekatan pengukuran akuntansi atas kewajiban pensiun, hutang-
efek, derivatif, paten, goodwill, hingga aset berwujud jangka panjang, menyimpulkan bahwa
nilai wajar lebih value relevant dibandingkan nilai historis. Hal tersebut lebih lanjut
dipertegas dengan hasil penelitian Danbolt dan Rees (2008) atas industri real estate yang
beorientasi pada aset berupa properti yang menyimpulkan bahwa pendekatan pengukuran
nilai wajar juga lebih value relevant dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai
historis. Hasil tersebut didasari kesimpulan mereka terkait tidak ambigunya penggunaan
pendekatan pengukuran nilai wajar berdasar karakteristik pengukuran yang menghalangi
terjadinya manipulasi manajemen laba (earnings management).
Mencermati perdebatan mengenai pendekatan pengukuran nilai wajar dan nilai historis
atas aset biologis perusahaan perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, serta
mengaitkannya dengan dasar tujuan pelaporan keuangan yaitu menyediakan informasi yang
berguna untuk pihak pengguna laporan keuangan, khususnya investor dalam pengambilan
keputusan, terangkum dalam benak penulis suatu pertanyaan “Apakah pendekatan
pengukuran nilai wajar atas aset biologis mempunyai value relevance lebih tinggi
dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai historis?” Menindaklanjuti pertanyaan
tersebut, keberadaan penulis sebagai insan pendidikan Indonesia tergerak untuk membahas
lebih lanjut mengenai hal tersebut dalam bentuk penelitian berjudul “Analisis Pengaruh
Pendekatan Pengukuran Nilai Wajar dan Nilai Historis terhadap Value Relevance Aset
Biologis (Studi Empiris pada Perusahaan Perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan
Singapura)”.

1.2 Perumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu:
1. Apakah nilai buku aset biologis berpengaruh terhadap harga saham perusahaan
perkebunan?
2. Apakah pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset biologis mempunyai value
relevance lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai historis?

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengaruh nilai buku aset biologis terhadap harga saham perusahaan
perkebunan.
2. Memberikan bukti empiris bahwa pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset
biologis mempunyai value relevance lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan
pengukuran nilai historis.

2. Tinjauan Teoritis

2.1 Aset Biologis


Penyajian laporan keuangan secara benar harus dilakukan baik dari segi jumlah
maupun klasifikasi dari masing-masing akun yang ada, termasuk akun yang berkaitan dengan
tanaman perkebunan. Berdasar pendekatan pengukuran nilai historis, tanaman
perkebunandapat diklasifikasikan menjadi duajenis, yaitu aset biologis, yang dibedakan antara
tanaman belum menghasilkan (immature) dengan tanaman telah menghasilkan (mature), dan
persediaan.
Di lain sisi, IAS No. 41 Agriculture (2003) yang berorientasi pada pendekatan
pengukuran nilai wajar, mengklasifikasikan tanaman perkebunan menjadi dua jenis, yaitu aset
biologis dan produk agrikultur. Aset biologis itu sendiri juga dibedakan dari macamnya, yakni
aset biologis yang dapat dikonsumsi (consumable biological assets) dan aset biologis bawaan
(bearer biological assets).

2.2 Value Relevance


Value relevance akuntansi dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi (Francis dan
Schipper, 1999) memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dengan menyebutkan
empat kemungkinan interpretasi value relevance yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Informasi akuntansi dalam laporan keuangan mempengaruhi harga saham karena
mengandung nilai intrinsik saham sehingga berpengaruh ke harga saham.
2. Informasi akuntanasi dalam laporan keuangan merupakan nilai yang relevan bila
mengandung variabel yang dapat digunakan dalam model penilaian atau memprediksi
variabel-variabel tersebut.
3. Hubungan statistik digunakan untuk mengukur apakah investor benar-benar
menggunakan informasi tersebut dalam penetapan harga, sehingga nilai relevan diukur

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


dengan kemampuan informasi akuntanasi dalam laporan keuangan untuk mengubah
harga saham karena menyebabkan investor memperbaiki ekspektasinya.
4. Value relevance diukur dengan kemampuan informasi akuntansi dalam laporan
keuangan untuk menangkap berbagai informasi yang mempengaruhi nilai saham.
Berbagai studi telah membuktikan bahwa laba akuntansi berhubungan dengan harga
saham (Beaver et al 1968, 1979). Beberapa studi lainnya juga menunjukkan bahwa nilai buku
ekuitas terkait aset dan kewajiban berhubungan dengan harga saham (Landsman, 1986 serta
Francis dan Schipper, 1999). Pengujian value relevance gabungan laba akuntansi dan nilai
buku ekuitas yang dilakukan oleh beberapa peneliti banyak dimotivasi oleh hasil studi Ohlson
(1995) serta Feltham dan Ohlson (1996). Studi Ohlson (1995) yang banyak dipakai sebagai
dasar teoritis oleh peneliti-peneliti lainnya, menghubungkan nilai buku ekuitas dan laba
dengan harga saham. Maka dari itu, studi ini didasarkan pada regresi linear model harga
(price level regression model) Ohlson berikut:

Pjt = α0 +α1Bjt + α2Ejt + εjt

2.3 Pengembangan Hipotesis


Value relevance informasi akuntansi mempunyai arti kemampuan informasi akuntansi
untuk menjelaskan nilai perusahaan. Informasi akuntansi yang terkandung dalam laporan
keuangan yang diterbitkan suatu perusahaan harus dapat mengungkapkan kondisi perusahaan
yang sebenarnya, sehingga bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. Informasi yang
bermanfaat bagi pengambilan keputusan haruslah informasi yang mempunyai relevansi.
Meningkatnya persaingan informasi di pasar modal menyebabkan pentingnya mengetahui
informasi akuntansi dalam laporan keuangan.Di sinilah letak kegunaan value relevance, yaitu
menggambarkan kegunaan informasi akuntansi dalam laporan keuangan bagi investor, yang
secara relatif berhubungan dengan seluruh informasi yang digunakan oleh investor pada pasar
modal (Lev dan Zarowin, 1999).
Definisi angka akuntansi sebagai nilai yang relevan berdasar fungsinya sebagai
kekuatan spesifik variabel laporan keuangan digunakan untuk menjelaskan perubahan nilai
ekuitas. Semakin besar daya explanatory spesifik variabel laporan keuangan, semakin besar
value relevance. Berdasar penelitian Hellstorm (2005), value relevance dapat dipahami
sebagai kemampuan pernyataan informasi akuntansi untuk meringkas atau menangkap
informasi yang mempengaruhi nilai saham dan dapat diuji secara empiris sebagai hubungan
statistik antara nilai pasar dan nilai akuntansi.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


2.3.1 Value RelevanceNilai Buku Aset Biologis
Informasi nilai buku aset berwujud mencerminkan sumber daya perusahaan, hak atas
sumber daya perusahaan, dan perputaran sumber daya perusahaan.Hak atas sumber daya
terdiri atas hak pemilik dan hak nonpemilik.Hak pemilik atas sumber daya perusahaan
merupakan hak residual pemegang saham.Hak residual pemegang saham atau ekuitas
dilaporkan dalam neraca sebagai nilai buku ekuitas.Maka dari itu, nilai buku aset berwujud
yang merupakan bagian dari nilai buku ekuitas, mengandung nilai ekonomik yang
berpengaruh positif pada nilai pasar perusahaan (Ohlson, 1995; Sasongko, 2008).
Setiap industri umumnya memiliki karakteristik utama terkait informasi akuntansi
yang akan disajikan tersebut. Beberapa penelitian (Lev dan Zarowin, 1999 serta Francis dan
Schipper, 1999) menunjukkan bahwa value relevance dapat dikaitkan dengan keberadaan
driver ataupun elemen aset berwujud. Aset biologis merupakan salah satu elemen aset
berwujud pada perusahaan-perusahaan yang secara khusus berada dalam lingkup bidang
industri perkebunan. Maka dari itu dapat disimpulkan, aset biologis merupakan aset berwujud
yang informasi nilai bukunya berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan
perkebunan, sehingga dapat dikatakan value relevance.Berdasar hal tersebut, hipotesis 1 yang
diujikan adalah:

H1: Terdapat pengaruh positif nilai buku aset biologis terhadap harga saham
perusahaan perkebunan

2.3.2 Perbandingan Value Relevance Aset Biologis antara Pendekatan Pengukuran


Nilai Wajar dan Nilai Historis
Nilai wajar dari aset berwujud merupakan nilai yang relevan. Namun, hasil tersebut
bergantung pada lingkungan dan estimasi yang disediakan. Ada juga beberapa bukti bahwa,
untuk aset berwujud, revaluasi mungkin bias. Biasnya informasi akuntansi merupakan isu
utama yang dihadapi investor dalam melakukan pengambilan keputusan investasi.
Danbolt dan Rees (2008) dalam penelitiannya atas industri real estate yang secara
mayor berorientasi pada aset berwujud berupa properti, menyimpulkan bahwa penggunaan
pendekatan pengukuran nilai wajar lebih value relevant dibandingkan dengan pendekatan
pengukuran nilai historis. Hal tersebut dikarenakan tidak ambigunya penggunaan pendekatan
pengukuran nilai wajar berdasar konsistensi pengukuran yang menghalangi terjadinya
manipulasi manajemen laba (earnings management). Pendekatan yang mereka gunakan
berbeda dari penelitian sebelumnya, mereka menggunakan basis pengukuran sebagai dasar

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


penelitian dengan tujuan meneliti value relevance aset berwujud berupa properti dan
membedakan value relevance aset berwujud tersebut dari dua pendekatan pengukuran, yaitu
nilai wajar dan nilai historis.
Di lain sisi, Charles Elad (2004) yang dalam penelitiannya terhadap implementasi
pendekatan pengukuran nilai wajar, menyatakan bahwa nilai wajar tidak sesuai dengan model
akuntansi. Hal tersebut dikarenakan penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar
menghasilkan perlakuan yang berbeda berdasar subyektifitas penilaian untuk memperkirakan
nilai wajar aset dalam laporan keuangan.
Perbedaan temuan Danbolt dan Rees (2008) dengan temuan Charles Elad (2004) ini
menggambarkan adanya conflict of interest antara pihak pengguna laporan keuangan, yang
cenderung menggunakan informasi pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset dalam
laporan keuangan berdasar penelitian Danbolt dan Rees (2008), dengan pihak penyusun
standar, yang berdasar penelitian Charles Elad (2004) menilai nilai wajar aset tidak konsisten
dikarenakan subyektifitas penilaiannya. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut
berdasar fakta bahwa pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset yang meski menciptakan
ketidakkonsistenan penilaian berdasar subyektifitasnya, memiliki value relevance lebih tinggi
dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai historis. Berdasar hal tersebut, hipotesis 2
yang diteliti yaitu:

H2: Pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset biologis mempunyai value
relevance lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai
historis.

3. Metode Penelitian

3.1 Desain Penelitian


Value relevance aset biologis yang tercermin dari kekuatan informasi nilai buku aset
biologis dalam laporan keuangan untuk mempengaruhi harga saham perusahaan perkebunan,
merupakan elemen penting dalam penelitian ini. Maka dari itu, variabel-variabel terkait
hubungan nilai buku aset biologis dengan harga saham yang diteliti digambarkan dalam
bentuk kerangka penelitian pada Gambar 3.1 sebagai berikut:

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


Variabel Independen Variabel Dependen

H1 H1
Nilai Buku Aset Biologis Harga Saham

Variabel Kontrol:
• Ukuran
• Risiko
• Inflasi

Variabel Independen Variabel Dependen

H2

Nilai Wajar
H2
H2
H2 Nilai Buku Aset Biologis Harga Saham
Nilai
Historis
Variabel Kontrol:
• Ukuran
• Risiko
• Inflasi

Gambar 3.1 Kerangka Penelitian

3.2 Metode Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam penelitian pada perusahaan perkebunan ini adalah data
kuantitatif dengan sumber data berupa data sekunder yang dirinci sebagai berikut:
• Data harga saham, aset biologis, non aset biologis, dan liabilitas dalam laporan
keuangan yang diperoleh dari Thompson Reuters.
• Data informasi pendekatan pengukuran atas aset biologis baik untuk pendekatan
pengukuran nilai wajar maupun nilai historis dalam pengungkapan catatan atas
laporan keuangan yang diperoleh dari Thompson Reuters.
• Data ukuran perusahaan berupa total aset dalam laporan keuangan yang diperoleh dari
Thompson Reuters.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


• Data tingkat risiko berupa market risk (Rm), premium risk (Rp),dan risk-free (Rf)
yang diperoleh dari Thompson Reuters.
• Data tingkat inflasi berupa inflation rate yang diperoleh dari World Bank.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dari penelitian dengan jenis data pooled cross section ini mencakup 54
perusahaan perkebunan. Populasi perusahaan perkebunan tersebut merupakan pengkhususan
lingkup populasi dari penelitian Maruli dan Farahmita (2010) yang hanya meliputi negara
Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk periode observasi dari tahun 2007 sampai dengan
tahun 2009. Dari populasi tersebut akan dipilih sampel yang akan digunakan dalam penelitian.
Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dimana
sampel dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dalam penelitian. Ketentuan kriteria
untuk pemilihan sampel dalam penelitian ini yaitu:
• Memiliki data harga saham yaitu harga saham pada saat penutupan (monthly closing
price) per 31 Desember selama tiga tahun berturut-turut pada bursa tempat perusahaan
perkebunan tersebut listing (Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI); Malaysia, Kuala
Lumpur Stock Exchange (KLSE); Singapura, Singapore Exchange (SGX)).
• Memiliki data aset biologis dalam laporan keuangan yang dipublikasikan selama tiga
tahun berturut-turut dengan rincian:
- Untuk perusahaan perkebunan yang menggunakan pendekatan pengukuran nilai wajar,
jenis aset biologis yang digunakan sebagai data aset biologis adalah aset biologis yang
dapat dikonsumsi (consumable biological assets) dan aset biologis bawaan (bearer
biological assets).
- Untuk perusahaan perkebunan yang menggunakan pendekatan pengukuran nilai
historis, jenis aset biologis yang digunakan sebagai data aset biologis adalah tanaman
belum menghasilkan (immature) dan tanaman telah menghasilkan (mature).
• Memiliki data informasi pendekatan pengukuran atas aset biologis baik nilai wajar
maupun nilai historis dalam pengungkapan catatan atas laporan keuangan selama tiga
tahun berturut-turut.

3.4 Teknik Pengujian Hipotesis


Penelitian ini merupakan studi asosiasi yang secara ekonometri diuji dengan
menggunakan model regresi linier berganda sebagai dasar pengujian hipotesis.Value

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


relevance yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini diukur dari hubungan positif antara
variabel akuntansi dengan nilai pasar pada model regresi linier berganda berdasar price level
regression modelOhlson (1995).Berdasar penelitian ini, maka variabel-variabel yang diteliti
diderivasikan dalam model regresi linier berganda sebagai berikut:

Model 1

Pi = α0 + α1ABi + α2NABi + α3Li + α4LSIZEi + α5INFi + α6BETAi + α7εi

Model 2

Pi = α0 + α1ABi + α2NABi + α3Li + α4LSIZEi + α5INFi + α6BETAi +


α7DFVHCi + α8DFVHCi*ABi + + α9εi

Pi = harga saham; harga saham penutupan (monthly closing price) perusahaan


i per 31 Desember
ABi = aset biologis; total nilai buku aset biologis (total nilai bukutanaman
belum menghasilkan / immature ditambah total nilai bukutanaman telah
menghasilkan / mature) dibagi lembar saham perusahaan i per 31
Desember
NABi = non aset biologis; total nilai buku aset selain aset biologis dibagi lembar
saham perusahaan i per 31 Desember
Li = liabilitas; total nilai buku liabilitas dibagi lembar saham perusahaan i per
31 Desember
LSIZEi = ukuran; logaritma normaltotal nilai buku asetperusahaan iper 31
Desember
BETAi = risiko; beta perusahaan regresi CAPM market risk (Rm), premium risk
(Rp),dan risk-free (Rf) perusahaan i
INFi = inflasi; inflation rate negara asal perusahaan i
DFVHCi = variabel dummy; DFVHC = 1, nilai wajar dan DFVHC = 0, nilai historis
DFVHCi*ABi = moderasi variabel dummy; perkalian variabel dummy dengan nilai buku
aset biologis
εi = residual; informasi lain yang value relevant dari perusahaan i
i = perusahaan

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


4. Analisis

4.1 Objek Penelitian


Tabel 4.1 Daftar Pemilihan Sampel

Jumlah   Jumlah  
Kriteria   Total  
(Nilai  Wajar)   (Nilai  Historis)  
Perusahaan  perkebunan  berdasar  penelitian  Maruli  dan  
100   300   400  
Farahmita  (2010)  
Perusahaan  yang  memiliki  aset  biologis  berdasar  
70   230   300  
penelitian  Maruli  dan  Farahmita  (2010)  
Perusahaan  yang  listing  di  Bursa  Efek  Indonesia  (BEI),  
Kuala  Lumpur  Stock  Exchange  (KLSE),  dan  Singapore   16   38   54  
Exchange  (SGX)  
Jumlah  sampel  dengan  data  laporan  keuangan  tidak  
(0)   (6)   (6)  
lengkap  
Jumlah  sampel  yang  tidak  memenuhi  kriteria   (2)   (11)   (13)  
Jumlah  sampel  yang  outliers   (1)   (3)   (4)  
Jumlah  sampel  akhir   13   18   31  
Periode  pengamatan   3  Tahun   3  Tahun   3  Tahun  
Jumlah  observasi   39   54   93  

(Sumber: Data; Diolah)

Setelah dilakukan penelitian dengan metode penarikan sampel purposive sampling,


maka total sampel yang terpilih adalah 31 perusahaan perkebunan yang listing di Bursa Efek
Indonesia (BEI), Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE), dan Singapore Exchange (SGX).
Sampel perusahaan perkebunan yang diteliti merupakan pengkhususan lingkup sampel dari
penelitian Maruli dan Farahmita (2010) yang hanya meliputi negara Indonesia, Malaysia, dan
Singapura dengan total observasi sebanyak 93 observasi berdasar periode pengamatan dari
tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


4.2 Statistik Deskriptif
4.2.1 Hasil
Tabel 4.2 Hasil Statistik Deskriptif

Variable   N   Minimum   Maximum   Mean   Std,  Deviation  


P   93   0,007616   3,9   0,635974   0,785806  
AB   93   0,004686   0,477923   0,160882   0,123309  
NAB   93   0,005458   1,923233   0,498957   0,460315  
L   93   0,008248   1,020006   0,22929   0,21639  
SIZE   93   13.094,14   7.900.480   613.528.3   1.238.905  
BETA   93   0,29   2,58   1,180323   0,475354  
INF   93   0,6   11,1   4,012903   3,040853  
DFVHC   93   0   1   0,419355   0,496128  
DFVHC*AB   93   0   0,477923   0,083688   0,131647  
Keterangan:  
P  =  Harga  Saham;  AB  =  Aset  Biologis;  NAB  =  Non  Aset  Biologis;  L  =  Liabilitas;  SIZE  =  Ukuran;  BETA  =  Risiko;  INF  =  
Inflasi;  DFVHC  =  Variabel  Dummy  (Nilai  Wajar  =  1;  Nilai  Historis  =  0);  DFVHC*AB  =  Moderasi  Variabel  Dummy;  
Dalam  satuan  mata  uang  USD;  Per  lembar  saham,  kecuali  SIZE  

(Sumber: Data; Diolah)

4.2.2 Pembahasan
Berdasar hasil statistik deskriptif atas sampel variabel-variabel yang diuji pada model
1 dan 2 dalam penelitian ini, maka dirampungkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara keseluruhan, total observasi dalam penelitian ini adalah 93 observasi berdasar
31 sampel perusahaan perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
2. Variabel dependen harga saham, yang merupakan tolak ukur investasi oleh investor,
memiliki rata-rata sebesar 0,635 (dalam satuan mata uang USD) dengan nilai
minimum 0,007 dan nilai maksimum 3,90. Sampel harga saham dalam penelitian ini
memiliki variasi persebaran yang luas berdasar standar deviasi relatif yang tinggi
yakni 0,785.
3. Sedangkan aset biologis (AB), yang merupakan tolak ukur informasi untuk investor,
didapatkan hasil rata-rata sebesar 0,16 (dalam satuan mata uang USD; dibagi per
lembar saham) dengan nilai minimum 0,004 yang dimiliki dan nilai maksimum 0,477.
Sampel aset biologis dalam penelitian ini memiliki variasi persebaran yang luas
berdasar standar deviasi yang relatif tinggi yakni 0,123.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


4.3 Hasil dan Pembahasan Pengujian Statistik Model 1
Model 1 yang telah memenuhi uji asumsi klasik di atas kemudian diuji dengan
melakukan pengujian statistik terkait pengukuran koefisien determinasi !! , nilai F, dan nilai
statistik t yang hasilnya didapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.3 Hasil Pengujian Statistik Model 1

Variable   Expected  Sign   Actual  Sign   Coefficient   Std.Error   t-­‐Statistic   Prob.   Description  
C       -­‐2,59012   0,585214   -­‐4,42593   0,0000   Signifikan  ***  
AB   +   +   0,339849   0,588701   0,577286   0,5653   Tidak  Signifikan  
NAB   +   +   1,446594   0,205228   7,048697   0,0000   Signifikan  ***  
L   -­‐   -­‐   -­‐1,64277   0,389287   -­‐4,21994   0,0001   Signifikan  ***  
LSIZE   +/-­‐   +   0,543608   0,117526   4,625436   0,0000   Signifikan  ***  
BETA   -­‐   -­‐   -­‐0,01959   0,14517   -­‐0,13496   0,8930   Tidak  Signifikan  
INF   +/-­‐   -­‐   -­‐0,02274   0,02053   -­‐1,1075   0,2712   Tidak  Signifikan  

R-­‐squared       0,567189   Years:   2007  -­‐  2009  

Adjusted  R-­‐squared       0,536993   Periods  included:   3  

F-­‐statistic       18,7835   Cross-­‐sections  included:   31  

Prob(F-­‐statistic)       0,0000   Total  panel    observations:   93  

Keterangan:  
AB  =  Aset  Biologis;  NAB  =  Non  Aset  Biologis;  L  =  Liabilitas;  LSIZE  =  Ukuran;  BETA  =  Risiko;  INF  =  Inflasi;  Level  Signifikansi  =  
*p<0,1;  **p<0,05;  ***p<0,01  

(Sumber: Data; Diolah)

Berdasar hasil pengujian statistik model 1 di atas dijabarkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Besaran kontribusi interaksi variabel independen aset biologis, non aset biologis,
liabilitas, ukuran, risiko, dan inflasi terhadap variabel dependen harga saham
perusahaan perkebunan adalah sebesar 53,699% berdasar koefisien determinasi
adjusted !! . Untuk 46,301% lainnya dikontribusikan oleh faktor-faktor selain variabel
independen yang diteliti.
2. Terdapat pengaruh variabel independen aset biologis, non aset biologis, liabilitas,
ukuran, risiko, dan inflasi terhadap variabel dependen harga saham berdasar nilai
signifikansi probabilitas 0,00 < (α = 0,05); F = 18,783 dalam penelitian ini.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


3. Terkait signifikansi pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel
dependen, didapatkan hasil sebagai berikut:
• Variabel independen non aset biologis, liabilitas, dan ukuran secara signifikan
mempengaruhi variabel dependen harga saham berdasar nilai signfikansi probabilitas
< (α = 0,05).
• Sedangkan variabel independen aset biologis, risiko, dan inflasi tidak terdapat
pengaruh secara signifikan terkait hubungannya dengan variabel dependen harga
saham berdasar nilai signifikansi probabilitas> (α = 0,05).
• Khusus untuk variabel independen aset biologis yang diuji dalam hipotesis terkait
pengaruhnya terhadap variabel dependen harga saham, didapatkan hasil bahwa
variabel independen aset biologis memiliki nilai koefisien sebesar 0,339 dengan
signifikansi probabilitas0,565/2 = 0,2825.

Melalui pengujian model 1 ini, diketahui bahwa value relevance aset biologis yang
diuji dalam hipotesis 1 ditunjukkan oleh koefisien α1 hubungan variabel independen nilai
buku aset biologis (AB) dengan variabel dependen harga saham (P). Nilai koefisien α2
tersebut diekspektasikan bernilai positif guna menggambarkan value relevance aset biologis
dalam laporan keuangan.Namun, dikarenakan tidak terdapat cukup bukti bahwa terdapat
pengaruh nilai buku aset biologis terhadap harga saham perusahaan perkebunan, maka
Hipotesis 1 tidak dapat diterima. Hal tersebut didasari signifikansi probabilitas0,565/2 =
0,2825> (α = 0,05).
Perbedaan hasil dengan hipotesis ini mungkin dikarenakan belum disertakannya
informasi pendekatan pengukuran atas aset biologis yang mungkin merupakan tolak ukur
informasi akuntansi utama untuk pengguna laporan keuangan, dalam hal ini investor.
Informasi pendekatan pengukuran itu sendiri dibedakan berdasar pengukurannya menjadi dua
macam, yaitu pendekatan pengukuran nilai wajar dan pendekatan pengukuran nilai historis.
Penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset biologis merupakan cara
yang relevan untuk mengukur nilai buku aset biologis. Namun, hasil tersebut bergantung pada
lingkungan dan estimasi yang disediakan. Di lain sisi, penggunaan pendekatan pengukuran
nilai historis memang lebih andal untuk mencerminkan nilai buku aset biologis dalam laporan
keuangan. Akan tetapi, alokasi biaya, kualitas aset biologis, hingga pengelolaan transformasi
biologis, merupakan isu yang lebih lanjut harus dikaji. Keunggulan dan kelemahan kedua
pendekatan pengukuran atas aset biologis tersebut yang mungkin menjadi pedoman investor
ketika ingin melakukan investasi pada perusahaan perkebunan.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


4.4 Hasil dan Pembahasan Pengujian Statistik Model 2
Model 2 yang telah memenuhi uji asumsi klasik di atas kemudian diuji dengan
melakukan pengujian statistik terkait pengukuran koefisien determinasi !! , nilai F, dan nilai
statistik t yang hasilnya didapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Statistik Model 2

Variable   Expected  Sign   Actual  Sign   Coefficient   Std.Error   t-­‐Statistic   Prob.   Description  
C       -­‐2,75435   0,527833   -­‐5,21822   0,0000   Signifikan  ***  
AB   +   +   2,955303   0,843184   3,504934   0,0007   Signifikan  ***  
NAB   +   +   1,25729   0,195189   6,441397   0,0000   Signifikan  ***  
L   -­‐   -­‐   -­‐1,69284   0,349584   -­‐4,84243   0,0000   Signifikan  ***  
LSIZE   +/-­‐   +   0,551308   0,105486   5,226347   0,0000   Signifikan  ***  
BETA   -­‐   -­‐   -­‐0,04547   0,138723   -­‐0,32778   0,7439   Tidak  Signifikan  
INF   +/-­‐   -­‐   -­‐0,0178   0,018953   -­‐0,93927   0,3503   Tidak  Signifikan  
DFVHC   +   +   0,260558   0,209134   1,245889   0,2163   Tidak  Signifikan  
DFVHC*AB   +   -­‐   -­‐3,47469   0,993736   -­‐3,49659   0,0008   Signifikan  ***  
R-­‐squared     0,660601   Years:   2007  -­‐  2009  
Adjusted  R-­‐squared     0,628278   Periods  included:   3  
F-­‐statistic     20,43707   Cross-­‐sections  included:   31  
Prob(F-­‐statistic)     0,0000   Total  panel  observations:   93  
Keterangan:  
AB  =  Aset  Biologis;  NAB  =  Non  Aset  Biologis;  L  =  Liabilitas;  LSIZE  =  Ukuran;  BETA  =  Risiko;  INF  =  Inflasi;  DFVHC  =  Variabel  
Dummy;  DFVHC*AB  =  Moderasi  Variabel  Dummy;  Level  Signifikansi  =  *p<0,1;  **p<0,05;  ***p<0,01  

(Sumber: Data; Diolah)

Berdasar hasil pengujian statistik model 2 di atas dijabarkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Besaran kontribusi interaksi variabel independen aset biologis, non aset biologis,
liabilitas, ukuran, risiko, inflasi, dummy variabel, dan moderasi dummy variabel
terhadap variabel dependen harga saham perusahaan perkebunan adalah sebesar
62,827% berdasar koefisien determinasi adjusted !! . Untuk 37,173% lainnya
dikontribusikan oleh faktor-faktor selain variabel independen yang diteliti.
2. Terdapat pengaruh variabel independen aset biologis, non aset biologis, liabilitas,
ukuran, risiko, inflasi, dummy variabel, dan moderasi dummy variabel terhadap
variabel dependen harga saham berdasar nilai signifikansi probabilitas 0,00 < (α =
0,05); F = 20,437 dalam penelitian ini.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


3. Terkait signifikansi pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel
dependen, didapatkan hasil sebagai berikut:
• Variabel independen aset biologis, non aset biologis, liabilitas, ukuran, dan moderasi
dummy variabel secara signifikan mempengaruhi variabel dependen harga saham
berdasar nilai signfikansi probabilitas < (α = 0,05).
• Sedangkan variabel independen risiko, inflasi, dan dummy variabel tidak terdapat
pengaruh secara signifikan terkait hubungannya dengan variabel dependen harga
saham berdasar nilai signifikansi probabilitas> (α = 0,05).
• Khusus untuk variabel independen moderasi dummy variabel dan aset biologis yang
diuji dalam hipotesis terkait pengaruhnya terhadap variabel dependen harga saham,
didapatkan hasil bahwa variabel independen moderasi dummy variabel memiliki nilai
koefisien sebesar -3,474 dengan signifikansi probabilitas0,0008/2 = 0,0004 dan
variabel independen aset biologis memiliki nilai koefisien sebesar +2,955 dengan
signifikansi probabilitas 0,0007/2 = 0,00035.

Melalui pengujian model 2 ini, diketahui bahwa value relevance aset biologis berdasar
pendekatan pengukuran yang diuji dalam hipotesis 2 digambarkan oleh koefisien α8
hubungan variabel independen moderasi variabel dummy (DFVHC*AB) dengan variabel
dependen harga saham (P) sebagai representasi pendekatan pengukuran nilai wajar serta
koefisien α1 hubungan aset biologis (AB) dengan variabel dependen harga saham (P) sebagai
representasi pendekatan pengukuran nilai historis. Nilai koefisien α8 tersebut diekspektasikan
bernilai positif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai koefisien α1 guna menunjukkan
pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset biologis mempunyai value relevance lebih tinggi
dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai historis.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa koefisien α8 moderasi variabel dummy bernilai
negatif sebesar (-) 3,474. Tanda negatif tersebut menunjukkan hubungan negatif pendekatan
pengukuran nilai wajar atas aset biologisterhadap harga saham yang berarti, semakin rendah
nilai buku aset biologis dengan pendekatan pengukuran nilai wajar, semakin tinggi harga
saham perusahaan perkebunan; begitu sebaliknya. Sedangkan koefisien α1 aset biologis
bernilai positif sebesar (+) 2,955.Tanda positif tersebut menunjukkan hubungan positif
pendekatan pengukuran nilai historis atas aset biologis terhadap harga saham yang berarti,
semakin tinggi nilai buku aset biologis dengan pendekatan pengukuran nilai historis, semakin
tinggi harga saham perusahaan perkebunan.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


Dikarenakan terdapat cukup bukti untuk menyatakan bahwa pendekatan pengukuran
nilai wajar atas aset biologis tidak mempunyai value relevance lebih tinggi dibandingkan
dengan pendekatan pengukuran nilai historis berdasar nilai koefisien α8 = -3,474 <nilai
koefisien α1 = +2,955 dan masing-masing signifikansi probabilitas < (α = 0,05), maka
Hipotesis 2 tidak dapat diterima.
Perbedaan hasil dengan hipotesis ini mungkin disebabkan oleh perlakuan akuntansi
atas aset berwujud berupa aset biologis yang marak diperdebatkan akhir-akhir ini.
Penggunaan nilai wajar berdasar IAS No. 41 Agriculture (2003) untuk aset biologis berupa
tanaman jangka panjang mungkin dijadikan salah satu tolak ukur informasi tidak lebih
relevannya aset biologis dengan pendekatan pengukuran nilai wajar jika dibandingkan dengan
pendekatan pengukuran nilai historis, bagi investor. Penggunaan pendekatan pengukuran nilai
wajar untuk tanaman jangka panjang seperti kelapa sawit yang merupakan mayoritas jenis
aset biologis yang diteliti, adalah isu utamanya. Hal tersebut didasari oleh pengakuan selisih
perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dalam laporan laba rugi yang berdampak
pada meningkatnya volatilitas kinerja keuangan yang sebetulnya belum terealisasi pada tahun
sebelum panen (dimana untuk kelapa sawit, membutuhkan lima tahun hingga dapat dipanen).
Volatilitas kinerja keuangan yang belum terealisasi tersebut memicu tingginya kerugian
perusahaan pada saat mengawali aktivitas agrikultur, sehingga kurang dapat menarik investor
untuk melakukan investasi pada perusahaan perkebunan.
Selain itu, subyektifitas penilaian dalam memperkirakan nilai wajar aset biologis
dalam laporan keuangan mungkin menjadi isu berikutnya. Perbedaan nilai berdasar
subyektifitas penilaian menjadi indikasi terjadinya manipulasi manajemen laba (earnings
management) yang dihindari oleh investor. Hal tersebut dipertegas fakta bahwa pendekatan
pengukuran nilai wajar memiliki kerumitan penilaian untuk menilai aset biologis dalam
laporan keuangan yang lebih lanjut memicu kesulitan investor untuk memahami informasi
aset biologis sebagai dasar penetapan tolak ukur investasi yang tercermin dari harga saham.

5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan
Penelitian ini menguji hubungan informasi pendekatan pengukuran dengan value
relevance aset biologis. Konsep penelitian ini adalah menggunakan pendekatan pengukuran
sebagai dasar penelitian dengan tujuan meneliti value relevance aset biologis dan

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


membedakan value relevance aset biologis tersebut dari dua pendekatan pengukuran, yaitu
nilai wajar dan nilai historis.
Berdasar hasil penelitian, tidak ditemukan adanya pengaruh nilai buku aset biologis
terhadap harga saham perusahaan perkebunan yang menggambarkan value relevance aset
biologis. Hal tersebut mungkin dikarenakan belum disertakannya informasi pendekatan
pengukuran atas aset biologis yang mungkin merupakan tolak ukur informasi akuntansi utama
untuk investor. Keunggulan dan kelemahan kedua pendekatan pengukuran atas aset biologis
tersebut yang mungkin menjadi pedoman investor ketika ingin melakukan investasi pada
perusahaan perkebunan.
Lebih lanjut, didapatkan hasil penelitian bahwa pendekatan pengukuran nilai wajar
atas aset biologis tidak mempunyai value relevance lebih tinggi dibandingkan dengan
pendekatan pengukuran nilai historis. Penggunaan nilai wajar berdasar IAS No. 41
Agriculture (2003) untuk aset biologis berupa tanaman jangka panjang mungkin dijadikan
salah satu tolak ukur informasi tidak lebih relevannya aset biologis dengan pendekatan
pengukuran nilai wajar jika dibandingkan dengan pendekatan pengukuran nilai historis,
terhadap pengambilan keputusan investasi oleh investor. Hal tersebut didasari oleh pengakuan
selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dalam laporan laba rugi yang
berdampak pada meningkatnya volatilitas kinerja keuangan yang belum terealisasi hingga
tanaman jangka panjang dapat dipanen.Tingginya kerugian perusahaan perkebunan pada saat
mengawali aktivitas agrikultur tersebut yang mungkin menyebabkan kurang relevannya
informasi pendekatan pengukuran nilai wajar atas aset biologis bagi investor.
Selain itu, subyektifitas penilaian dalam memperkirakan nilai wajar aset biologis
dalam laporan keuangan mungkin menjadi isu berikutnya. Perbedaan nilai berdasar
subyektifitas penilaian menjadi indikasi terjadinya manipulasi manajemen laba (earnings
management) yang dihindari oleh investor. Hal tersebut dipertegas fakta bahwa pendekatan
pengukuran nilai wajar memiliki kerumitan penilaian untuk menilai aset dalam laporan
keuangan yang mana memicu kesulitan investor untuk memahami informasi aset biologis
sebagai dasar penetapan tolak ukur investasi yang tercermin dari harga saham.

5.2 Keterbatasan dan Saran


Penelitianpengaruh pendekatan pengukuran nilai wajar dan nilai historis terhadap
value relevance aset biologis perusahaan perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura
ini memiliki keterbatasan-keterbatasan. Maka dari itu, dikemukakan berberapa saran untuk
penelitian selanjutnya yaitu:

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


1. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan yang
berada di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Jika memungkinkan, penggunaan
sampel yang lebih luas, yaitu melebihi lingkup negara-negara tersebut, akan
memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Hal tersebut dimotivasi oleh
penyesuaian IFRS yang berlaku secara global terhadap standar akuntansi masing-
masing negara. Sehingga, penggunaan dan pemahaman informasi akuntansi yang lebih
mudah oleh pihak pengguna laporan keuangan, khususnya investor, dapat ditangkap
secara penuh dalam penelitian.
2. Penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan proksi price level regression model
yang didasari penelitian Ohlson (1995) dalam mengukur value relevance informasi
akuntansi dalam laporan keuangan. Penggunaan residual income model sebagai proksi
dalam penelitian selanjutnya diharapkan dalam menyempurnakan pemahaman value
relevance informasi akuntansi.

5.3 Implikasi Penelitian


Diperlukan kajian lebih lanjut bagi regulator (standard setters)mengenai relevansi
dan keandalan penggunaan pendekatan pengukuran atas aset biologis berdasar jenisnya:
- Tanaman Jangka Pendek
Perlakuan akuntansi menggunakan pendekatan pengukuran nilai wajar atas tanamanan
jangka pendek, seperti apel, sudah tepat berdasar lebih relevannya nilai aset biologis
dalam laporan keuangan perusahaan perkebunan. Hal tersebut didasari umur tanaman
jangka pendek itu sendiri yang relatif pendek. Sehingga, pengakuan selisih perubahan
nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dalam laporan laba rugi sudah dapat
direalisasi pada periode laporan keuangan tahunan yang sejalan dengan periode
tanaman jangka pendek tumbuh dan dapat dipanen.
- Tanaman Jangka Panjang
Opsi penggunaan pendekatan pengukuran nilai historis atas tanaman jangka panjang,
seperti kelapa sawit, mungkin lebih andal untuk mengukur nilai aset biologis dalam
laporan keuangan perusahaan perkebunan. Tingginya kerugian perusahaan perkebunan
pada saat mengawali aktivitas agrikultur jika menggunakan pendekatan pengukuran
nilai wajar atas tanaman jangka panjang adalah isu utama disini. Hal tersebut didasari
pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dalam laporan
laba rugi yang berdampak pada meningkatnya volatilitas kinerja keuangan yang belum
terealisasi hingga tanaman jangka panjang dapat dipanen.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


DAFTAR REFERENSI

Arie Rahayu Hariani dan Mohammad Nashih. 2006. Value Relevance Laporan Keuangan di
Indonesia dan Kaitannya dengan Beban Iklan dan Promosi.

Barth, Mary E., and Clinch, G. 2001. Revalued Financial, Tangible, and Intangible Assets:
Associations with Share Prices and Non-Market-Based Value Estimates, Journal of
Accounting Research, 36 (Supplement), pp. 119-233.

Barth, Mary E., W.H. Beaver, and W.R. Landsman. 1998. The Relevance of The Value
Relevance Literature for Financial Accounting Standard Setting: Another View,
Journal of Accounting and Economics, Vol.31, 77-104.

Boschen, F John, and Weise, L. Charles. 2002. Does the dynamic time consistency model of
inflation explain cross-country differences in inflation dynamics?Department of
Economics Gettysburg College.

Charles E. and Kathleen H. 2001.Implementing Fair Value Accounting in The Agricultural


Sector, The Institute of Chartered Accountants Scotland.

Danbolt, J. and Rees, W. 2008.An Experiment in Fair Value Accounting: UK Investment


Vehicles, Europe Accounting Review. 17, p. 271-303. 33 p.

Damodar N. Gujarati. 1995. Basic Econometrics. 4th ed. McGraw-Hill International Editions.

Feltham, G. and J. Ohlson.1995. Valuation and Clean Surplus Accounting for Operating and
Financial Activities, Contemporary Accounting Research 11: 689-731.

Francis, J. and K. Schipper. 1999.Have Financial statements Lost Their Relevance? Journal of
Accounting Research: 319-52.

Green, J Edward., Lopez, A Jose., Wang, andZhenyu. 2001. Formulating The Imputed Cost of
Equity Capital for Priced Services at Federal Services Banks, FRBNY Economic
Police Review.

International Accounting Standard Board. 2003. International Accounting Standard (IAS) No.
41 Agriculture.

J. M. Argilés, J. G. Bladon, and T. Monllau. 2009. Fair Value Versus Historic Cost Valuation
for Biological assets: Implications for The Quality of Financial Information, Working
Papers in Economics 215, Universitat de Barcelona.

Ota, Koji. 2001. The Impact of Valuation Models on Value-Relevance Studies in Accounting:
A Review of Theory and Evidence, Journal of Australian National University School of
Finance and Applied Statistics.

Lev, Baruch and Paul Zarowin. 1999. The Boundaries of Financial Reporting and How to
Extend Them, Journal of Accounting Research, Vol. 37, 353-385.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013


Naimah dan Siddharta, 2006.Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan, dan Profitabilitas
Perusahaan Terhadap Koefisien Respon Laba dan Koefisien Respon Nilai Buku
Ekuitas: Studi pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta.

Ohlson, James A. 1995. Earnings, Book Values, and Dividends in Equity Valuation,
Contemporary Accounting Research, Vol. 11, 661-687.

Penman, S. 1998. Combining Earnings and Book Value in Equity Valuation, Contemporary
Accounting Research 15: 291-324.

Pinasti, Margani. 2004. Faktor-Faktor yang Menjelaskan Variasi Relevansi-Nilai Informasi


Akuntansi: Pengujian Hipotesis Informasi Alternatif, Simposium Nasional Akuntansi
VII, 738-753.

Sari, Sekar Mayang. 2004. Analisa terhadap Relevansi Nilai (Value-Relevance) Laba, Arus
Kas, dan Nilai Buku Ekuitas: Analisa di seputar Perioda Krisis Keuangan 1995-1998,
Simposium Nasional Akuntansi VII, 862-882.

Saur Maruli dan Aria Farahmita. 2010. Analisis Pendekatan Nilai Wajar dan Nilai Historis
Dalam Penilaian Aset Biologis Pada Perusahaan Agrikultur: Tinjauan Kritis Rencana
Adopsi IAS 41, Simposium Nasional Akuntansi VII.

Universitas Indonesia.2008. Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Universitas


Indonesia.

Analisis pengaruh…, Emeraldy Putra Petrus, FE UI, 2013