Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Tumor adalah pertumbuhan jaringan baru yang terus menerus secara cepat
dan pertumbuhannya tidak terkendali. Tumor dapat berasal dari dalam tulang,
jaringan, atau sel kartilago yang berhubungan dengan epifisis atau dari unsur
pembentuk darah yang terdapat pada sumsum tulang (Suratun, 2008).
Tumor tulang / incoplasma adalah pertumbuhan jaringan baru yang terus
menerus secara cepat dan pertimbangannya tidak terkendali. Tumor / incoplasma
dapat berasal dari dalam tulang juga timbul dari jaringan atau dari sel- sel
kartilago yang berhubungan dengan epiphipisis atau dari unsur-unsur pembentuk
darah yang terdapat pada sumsum tulang.
Dari uraian diatas maka kami menyusun tugas yang berjudul “Laporan
Pendahuluan Tumor Tulang” untuk memenuhi tugas keperawatan medikal bedah
III system muskoloskeletal.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa definisi tumor tulang?
2. Apa etiologi tumor tulang?
3. Bagaimana manifestasi tumor tulang?
4. Bagaimana patofisiologi tumor tulang?
5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik tumor tulang?
6. Bagaimana penatalaksanaan tumor tulang?
7. Apa saja diagnosa keperawatan yang muncul pada tumor tulang?
8. Bagaimana intervensi tumor tulang?

1
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah
ini yaitu untuk mengetahui:
1. Definisi tumor tulang.
2. Etiologi tumor tulang.
3. Manifestasi klinis/ tanda dan gejala tumor tulang.
4. Patofisiologi tumor tulang.
5. Pemeriksaan diagnostik tumor tulang.
6. Penatalaksanaan tumor tulang.
7. Diagnosa keperawatan yang muncul pada tumor tulang.
8. Intervensi tumor tulang.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI
Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru yang abnormal (neoplasma),
progresif dimana sel-sel nya tidak pernah menjadi dewasa. Neoplasma merupakan
masa abnormal dari jaringan, yang pertumbuhannya pesat dan tidak terkoordinasi
dari pada jaringan normal dan berlangsung lama serta berlebihan setelah
perhentian stimulus yang menimbulkan perubahan tersebut. (Robin, 1999).
Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang
yang tidak normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang utama,
seperti osteosarkoma, chondrosarkoma, dan sarkoma lainnya.(Brunner & Suddart,
2002).

2.2 ETIOLOGI
1. Tumor Tulang Jinak ( Benigna)
Penyebab dari tumor tulang tidak diketahui. Tumor tulang biasanya
muncul pada area yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Tetapi
pada penelitian biomolekuler lebih lanjut ditemukan beberapa mekanisme
terjadinya neoplasma tulang, yaitu melalui identifikasi mutasi genetik yang
spesifik dan penyimpangan kromosom pada tumor. Keabnormalan dari gen
supresor tumor dan gen pencetus oncogen.
Menurut penelitian juga disebutkan bahwa terjadinya mutasi cromosom
P53 dan Rb juga dapat menjadi penyebab terjadinya tumor (Robins 1999, 551,
“Basic of Pathology Disease”). Selain itu penyebabnya bisa karena adanya
trauma dan infeksi yang berulang misalnya Bone infarct, osteomyelitis
chronic paget disease. Faktor lingkungan berupa paparan radiasi dan zat
karsinogenik (timbal, karbon dan bahan metal lain), serta gaya hidup
(perokok, alkoholik, dan sering terpapar stress) juga merupakan factor
predisposisi terjadinya tumor tulang ini.

3
2. Tumor Tulang Ganas (Maligna)
Faktor penyebab tumor maligna yaitu:
a. Faktor genetik atau keturunan dimana bisa diturunkan dari embrionik
mesoderm.
b. Virus: dapat dianggap bisa menyatukan diri dalam sel sehingga
mengganggu generasi mendatang dari populasi sel.
c. Agen fisik: pemajanan terhadap radiasi pengionisasi dapat terjadi saat
prosedur radiografi berulang atau ketika terapi radiasi digunakan untuk
mengobati penyakit.
d. Agen hormonal: pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya
gangguan dalam keseimbangan hormon baik dalam pembentukan hormon
tubuh sendiri (endogenus) atau pemberian hormon eksogenus.
e. Kegagalan sistem imun berespon dengan tepat terhadap sel-sel maligna
memungkinkan tumor tumbuh sampai pada ukuran yang terlalu besar
untuk diatasi oleh mekanisme imun normal.
f. Agen kimia: kebanyakan zat kimia yang berbahaya menghasilkan efek-
efek toksik dengan menggunakan struktur DNA pada bagian-bagian tubuh
(zat warna amino aromatik, anilin, nikel, seng, polifinil chlorida).
(Brunner and Suddart, 2001).

2.3 MANIFESTASI KLINIS


Secara umum manifestasi klinis tumor tulang adalah
1. Nyeri Tulang
Nyeri tulang adalah gejala yang paling sering didapati pada proses metastasis
ke tulang dan biasanya merupakan gejala awal yang disadari oleh pasien.
Nyeri timbul akibat peregangan periosteum dan stimulasi saraf pada
endosteum oleh tumor. Nyeri dapat hilang-timbul dan lebih terasa pada malam
hari atau waktu beristirahat.
2. Fraktur

4
Adanya metastasis ke tulang dapat menyebabkan struktur tulang menjadi lebih
rapuh dan beresiko untuk mengalami fraktur. Kadang-kadang fraktur timbul
sebelum gejala-gejala lainnya. Daerah yang sering mengalami fraktur yaitu
tulang-tulang panjang di ekstremitas atas dan bawah serta vertebra.
3. Penekanan Medula Spinalis
Ketika terjadi proses metastasis ke vertebra, maka medulla spinalis menjadi
terdesak. Pendesakan medulla spinalis tidak hanya menimbulkan nyeri tetapi
juga parese atau mati rasa pada ekstremitas, gangguan miksi, atau mati rasa
disekitar abdomen.
4. Peninggian Kadar Kalsium dalam Darah
Hal ini disebabkan karena tingginya pelepasan cadangan kalsium dari tulang.
Peninggian kalsium dapat menyebabkan kurang nafsu makan, mual, haus,
konstipasi, kelelahan, dan bahkan gangguan kesadaran.
5. Gejala Lainnya
Apabila metastasis sampai ke sumsum tulang, gejala yang timbul sesuai
dengan tipe sel darah yang terkena. Anemia dapat terjadi apabila mengenai sel
darah merah. Apabila sel darah putih yang terkena, maka pasien dapat dengan
mudah terjangkit infeksi. Sedangkan gangguan pada platelet, dapat
menyebabkan perdarahan. (Brunner and Suddart, 2001).

5
2.4 PATOFISIOLOGI

Radiasi sinar radio aktif, Kerusakan gen Proliferasi tulang


herediter/ keturunan, virus secara abnormal
onkogenik MK: Nyeri

Metastase hematogen dan


Osteosarkoma Neoplasma
pembengkakan lokal

Vertebra Tindakan medis Kerusakan


amputasi struktur tulang

Kompresi pada
spina kanalis Cacat permanen Tulang lebih rapuh

Gangguan neurologis MK: Gangguan citra Resiko fraktur


tubuh (patah tulang)

MK: Resiko cidera


Didalam tulang Dipermukaan tulang

MK: Ketidakefektifan
Tumbuh sampai jaringan koping
lunak disekitar tulang epifisis
dan tulang rawan sendi Pertumbuhan tulang
yang abortif/
Jaringan lunak diinfasi Neoplasma tumbuh abnormal
oleh sel tumor kedalam sendi
Penimbunan
Respon osteolitik dan
Reaksi tulang normal periosteum disekitar
respon osteoblastik
lesi

6
2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Laboratorium
1) Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan kadar alkali fosfatase
serum meningkat (pada sarkom).
2) Tes darah rutin
Tes darah rutin disarankan. Jika ada penderitaan dari sumsum tulang
karena penyebaran kanker mungkin ada anemia, rendah sel darah putih
atau hitungan trombosit.
3) Tes darah biokimia
Darah biokimia tes mungkin menunjukkan peningkatan enzim yang
disebut basa phosphatise pada pasien dengan osteosarkoma
b. Radiologi
1) Sinar x tulang
Pemeriksaan Ini adalah yang paling umum dan paling efektif biaya
penyelidikan diberitahukan bila kondisi tulang yang dicurigai. Pasien yang
menyajikan ke dokter dengan fraktur mungkin memiliki kanker tulang
yang mendasari yang dapat diduga pada x ray. Jika sinar x sugestif dari
kanker tulang pasien disebut spesialis untuk lebih lanjut evaluasi dan
manajemen.
2) MRI scan
MRI scan adalah studi pencitraan lain yang menggunakan medan magnet
yang kuat dan gelombang radio untuk melihat tulang dan organ tubuh. Ini
mungkin disarankan untuk mendeteksi ukuran dan penyebaran setiap
kanker tumor dalam tulang.
3) CT scan
CT scan juga melibatkan mengambil serangkaian sinar-X yang melihat
ukuran dan tingkat penyebaran kanker. CT scan dada dapat
mengungkapkan penyebaran kanker tulang ke paru-paru.
4) Biopsi

7
Ini adalah metode yang paling pasti untuk mendeteksi kanker tulang.
Biopsi melibatkan mengambil sampel kecil dari daerah yang terkena
dampak dari tulang dan menodai dengan pewarna cocok pada slide dan
memeriksa sel sampel di bawah mikroskop di laboratorium.
Biopsi digunakan untuk mendeteksi jenis kanker, tahap atau kelas kanker
dan bagaimana agresif kanker adalah. Hal ini membantu dalam
perencanaan manajemen kanker dan juga membantu dalam meramalkan
hasil dari kanker.
2.6 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tumor jinak biasanya tidak terlalu sulit dibandingkan tumor
ganas. Pada tumor ganas diperlukan kerjasama dan konsultasi antara ahli bedah
onkologi, ahli bedah ortopedi, ahli radiologi, ahli patologi serta ahli prostetik dan
rehabilitative. Tumor jinak yang jelas, misalnya osteokondroma yang kecil tidak
perlu diperlukan tindakan khusus. Apabila jenis tumor diragukan maka perlu
pemeriksaan biopsy. Apabila suatu lesi pada tumor primer dicurigai sebagai suatu
keganasan maka penderita sebaiknya dirawat untuk pemeriksaan lengkap,
pemeriksaan darah, foto paru, pencitraan baik dengan foto polos maupun CT scan
dan biopsy tumor.

Terapi Operatif:

Eksis tumor dengan cara operasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik
antara lain:

1. Intralesional atau intrakapsuler: dilakukan dengan eksisi/ kurates tumor, tidak


diaanjurkan pada tumor ganas dan biasanya dilakukan pada kelompok low
grade tumor, misalnya giant cell tumor.
2. Eksisi marginal: pengeluaran tumor diluar dari kapsulnya. Teknik ini terutama
dilakukan pada tumor jinak atau tumor ganas jenis low grade malignancy.
3. Eksis marginal (eksis en-block): pada eksis luar, tumor dikeluarkan secara
utuh disertai jaringan disekitar tumor yang berupa psoudokapsul atau jaringan

8
yang bereaksi diluar. Tindakan eksisi luas dilakukan pada tumor ganas dan
biasanya dikombinasi dengan pemberian kemoterapi/ radioterapi pada pre/
pascaoperasi.
4. Operasi radikal: dilakukan seperti pada eksisi luas dan ditambah dengan
pengeluaran seluruh tulang serta sendi dan jaringan sebagai bagian yang utuh.
Cara ini biasanya berupa amputasi anggoa gerak diatasnya dan disertai
pengeluaran sendi atasnya. Dengan staging yang tepat serta pemberiasn
kemoterapi untuk mengontrol penyebaran tumor, tindakan amputasi dapat
dihindarkan dengan suatu teknik yang disebut limbsparin surgery (limph-
saving procedure) yaitu berupa eksisi yang luas disertai dengan penggantian
anggota gerak tersebut yang dibuat khusus secara individu.

Radioterapi

Radiasi dengan energy tinggi merupakan suatu cara eradikasi tumor ganas
radiosensitive dan dapat juga sebagi tindakan awal sebelum tindakan operasi
dilakukan. Kombinasi radioterapi dapat digunakan dengan kemoterapi.
Radioterapi digunakan pada keadaaan-keadaaan yang omperable misalnya danya
metastasis atau keadaan local yang tidak memungkinkan untuk tindalak operasi.

Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pengobatan tambahan. Obat-obatan yang digunakan


adalah metotroksat, adriamisin, siklofosmafid, vikristin, sisplantinum, pemberian
kemotrapi biasanya dilakukan pada pre/ pasca operasi.

2.7 DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL


1. Nyeri akut berhubungan dengan (b.d) proses patologik dan pembedahan.
2. Resiko cidera: factor patologik b.d tumor.
3. Ketidakefektifan koping b.d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi
tentang proses penyakit, dan system pendukung tidak adekuat.
4. Gangguaan citra tubuh b.d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja.

9
2.8 INTERVENSI
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL (NIC)
(NOC)
1. Nyeri akut berhubungan Tujuan: setelah 1. Kaji nyeri dengan pendekatan 1. Menjadi parameter dasar
dengan (b.d) proses dilakukan asuhan PQRST. untuk mengetahui sejauh
patologik dan keperawatan selama 1x24 2. Lakukan menejemen mana intervensi yang
pembedahan. jam nyeri berkurang/ keperawatan nyeri: diperlukan dan sebagai
hilang atau teradaptasi. a. Atur posisi fisiologis. evaluasi keberhasilan
Kriteria Hasil: b. Istirahatkan klien. dari intervensi
 Secara subjektif c. Menejemen lingkungan: menejemen keperawatan
melaporkan nyeri lingkungan tenang dan nyeri.
berkurang/ dapat batasi pengunjung. 2.
diadaptasi. Skala d. Ajarkan teknik relaksasi a. Posisi fisiologis akan
nyeri 0-1 (0-4). nafas dalam. meningkatkan
 Dapat e. Ajarkan teknik distraksi asupan O2 ke
mengidentifikasi pada saat nyeri. jaringan yang
aktivitas yang f. Lakukan menejemen mengalami iskemia.
meningkatkan/ sentuhan. b. Istirahat akan

10
menurunkan nyeri. 3. Kolaborasi dengan dokter: menurunkan
 Pasien tidak gelisah pemberian analgetik. kebutuhan O2
jaringan perifer dan
akan meningkatkan
suplai darah pada
jaringan yang
mengalami
peradangan.
c. Lingkungan tenang
akan menurunkan
stimulas nyeri
eksternal dan
pembatasan
pengunjung akan
membantu
meningkatkan
kondisi O2 ruangan
yang akan berkurang
apabila banyak

11
pengunjung yang
berada di ruangan.
d. Meningkatkan
asupan O2 sehingga
akan menurunkan
nyeri sekunder dan
iskemia jaringan.
e. Distraksi
(pengalihan
perhatian) dapat
menurunkan
stimulasi internal
dengan mekanisme
peningkatan
produksi endorphin
dan enkefalin yang
dapat memblok
reseptor nyeri untuk
tidak dikirimkan ke

12
korteks serebri
sehingga
menurunkan persepsi
nyeri.
f. Menejemen sentuhan
pada saat nyeri
berupa sentuhan
dukungan psikologis
dapat membantu
suplai darah dan
oksigen ke area nyeri
dan menurunkan
sensasi nyeri.
3. Analgesic memblok
lintasan nyeri sehingga
nyeri akan berkurang.
2. Resiko cidera: factor Tujuan: setelah 1. Kendalikan lingkungan 1. Lingkungan yang bebas
patologik b.d tumor. dilakukan asuhan dengan: Menyingkirkan bahaya akan mengurangi
keperawatn selama 1x24 bahaya yang tampak jelas, resiko cedera dan

13
jam resiko cidera tertasi. mengurangi potensial cedera membebaskan keluarga
Kriteria Hasil: akibat jatuh ketika tidur dari kekhawatiran yang
Cidera tidak terealisasi. misalnya menggunakan konstan.
penyanggah tempat tidur, 2. Hal ini akan
usahakan posisi tempat tidur memberikan pasien
rendah, gunakan pencahayaan merasa otonomi, restrain
malam siapkan lampu panggil. dapat meningkatkan
2. Izinkan kemandirian dan agitasi.
kebebasan maksimum dengan
memberikan kebebasan dalam
lingkungan yang aman,
hindari penggunaan restrain,
ketika pasien melamun
alihkan perhatiannya
ketimbang mengagetkannya.
3. Ketidakefektifan koping Tujuan: setelah 1. Berikan kesempatan untuk 1. Verbalisasi ancaman
b.d rasa takut tentang dilakukan tindakan 1x24 mengungkapkan actual atau dirasakan
ketidaktahuan, persepsi jam koping menjadi kekhawatiran, ketakutan, dapat membantu
tentang proses penyakit, efektif. perasaan, dan harapan. mengurangi kecemasan

14
dan system pendukung Kriteria Hasil: 2. Gunakan komunikasi empati. dan membuka pintu
tidak adekuat.  Mengidentifikasikan 3. Bantu pasien dalam untuk komunikasi yang
pola koping yang pemecahan masalah secara berkelanjutan.
efektif. konstruktif. 2. Mengakui dan berempati
 Mengungkapkan 4. Pertimbangkan aktivitas menciptakan lingkungan
secara verbal tentang mental dan fisik dalam yang mendukung yang
koping yang efektif. kemampuan pasien (missal: meningkatkan
 Mengatakan membaca, mennton TV, penanganan.
penurunan stres. tamasya, olah raga, bermain, 3. Pemecahan masalah
 Klien menerima makan, dan pertemuan social). konstruktif dapat
tentang keadaannya. 5. Dorong penggunaan relaksasi mendorong kemandirian
perilaku kogniyif (missal: dan rasa otomi.
terapi music, citra terpandu). 4. Intervensi yang
meningkatkan kesadarn
tubuh seperti olah raga,
nutrisi yang tepat, dan
relaksasi otot dapat
membantu mengatsi
keceasan dan depresi.

15
5. Teknik relaksasi,
desensitasi, dan citra
terpandu dapat
membantu pasien
mengatasi,
meningkatkan rasa
control, dan
menghilangkan
kecemasan.
4. Gangguan citra tubuh b.d Tujuan: setelah 1. Bimbinglah dalam antisipasi: 1. Dapat membantu pasien/
hilangnya bagian tubuh dilakuakan asuhan persiapkan pasien terhadap orang terdekat memulai
atau perubahan kinerja. keperawatan selama 1x24 kritis perkembangan atau proses adaptasi pada
jam gangguan citra tubuh kritis situasional. status baru dan
tertasi. 2. Peningkatan citra tubuh: menyiapkan beberapa
Kriteria Hasil: tingkatkan persepsi sadar dan untuk efek samping.
 Menunjukkan tak sadar pasien serta sikap 2. Membantu mengartikan
adaptasi dengan terhadap tubuh pasien. masalah sehubungan
ketidakberdayaan 3. Peningkatan koping: bantu dengan pola hidup
fisik, penyesuaian pasien beradaptasi dengan sebelumnya dan

16
psikososial. persepsi stresor, perubahan membantu pemecahan
 Menunjukkan citra atau ancaman. masalah. Contohnya,
tubuh positif dan takut kehilangan
harga diri positif. kemandirian,
 Menunjukkan kemampuan bekerja,
kepuasan terhadap dsb.
penampilan dan 3. Meningkatkan
fungsi tubuh. kemandirian dan
 Menunjukkan meningkatkan perasaan
keinginan untuk harga diri.
menyentuh bagian
tubuh yang
mengalami gangguan

17
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru yang abnormal (neoplasma),
progresif dimana sel-sel nya tidak pernah menjadi dewasa. Neoplasma merupakan
masa abnormal dari jaringan, yang pertumbuhannya pesat dan tidak terkoordinasi
dari pada jaringan normal dan berlangsung lama serta berlebihan setelah
perhentian stimulus yang menimbulkan perubahan tersebut. (Robin, 1999).

3.2 SARAN
Adapun saran kami kepada pembaca agar pembaca dapat mengetahui dan
memahami tentang “Laporan Pendahuluan Tumor Tulang”. Selain dari pada itu,
kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan karena kami masih dalam proses
belajar. Kami berharap dengan adanya makalah ini, dapat menjadi wacana yang
membuka pola pikir pembaca.

18