Anda di halaman 1dari 23

28

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini, pendekatan penelitian yang akan digunakan adalah

pendekatan kuantitatif karena penelitian ini bertujuan untuk menguji teori dan

data hasil penelitian berupa angka-angka yang akan dihitung menggunakan

statistik. Pendekatan kuantitatif memiliki beberapa rancangan penelitian yaitu

penelitian eksperimen dan penelitian survey. Penelitian eksperimen berusaha

menentukan apakah suatu treatment mempengaruhi hasil sebuah penelitian

(Creswell, 2016:17). Penelitian eksperimen terbagi menjadi beberapa jenis yaitu

eksperimen-esperimen nyata dan eksperimen-eksperimen kurang rigid yang sering

disebut quasi eksperimen (Campbell & Stanley, 1963 dalam Creswell, 2016).

Dalam penelitian ini, rancangan penelitian yang akan digunakan adalah

eksperimen.

Jenis eksperimen yang digunakan adalah quasi eksperimen. Quasi

eksperimen merupakan pengembangan dari true eksperimental design yang sulit

untuk dilakukan (Sugiyono, 2016:116). Pada quasi eksperimen, terdapat salah

satu variabel yang di kontrol. Dalam penelitian ini, terdapat salah satu variabel

yang akan di kontrol. Desain penelitian dari quasi eksperimen yang akan

digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design. Desain tersebut dipilih

karena kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dipilih secara random.

Hasil eksperimen di dapat setelah masing-masing kelompok diberi perlakuan.


29

Dalam penelitian ini, Nonequivalent Control Group Design digambarkan seperti

di bawah ini:

Tabel 3.1: Desain penelitian Nonequivalent Control Group Design

Kelompok Prates Perlakuan Posttest

Eksperimen O1 X O2

Kontrol O3 O4

(Sugiyono, 2016:118)
Keterangan:
O1 : Pretest kelompok eksperimen
O2 : Posttest kelompok eksperimen
O3 : Pretest kelompok kontrol
O4 : Posttest kelompok kontrol
X : Perlakuan pada kelas eksperimen, yaitu penggunaan model
induktif kata bergambar
Perlakuan yang di berikan pada penelitian ini adalah model induktif kata

bergambar. Perlakuan menggunakan model induktif kata bergambar hanya

diberikan kepada kelompok eksperimen. Model induktif kata bergambar

dilakukan dengan cara guru mempersiapkan sebuah gambar yang sering dilihat

siswa dalam kehidupan sehari-harinya. Kemudian siswa bersama-sama dengan

guru mengidentifikasi gambar dan menuliskan kata-kata sesuai yang ada pada

gambar hingga membentuk bagan gambar. Setelah seluruh kata pada gambar

telah diidentifikasi, maka dilakukan proses membaca atau mereview ulang kata

yang telah diidentifikasi sebanyak dua kali. Kemudian, langkah selanjutnya

adalah meminta siswa untuk membuat judul apa yang akan diceritakan, setelah

itu membuat kata hingga kalimat yang padu. Setelah kalimat tersebut jadi,
30

dilakukan proses membaca kembali apa yang telah ditulis siswa, kemudian siswa

akan bercerita di depan teman-temannya.

Pemberian perlakuan pada kelas eksperimen dilakukan sebanyak 4 kali. Hal

tersebut dikarenakan pada model induktif kata bergambar langkah-langkah

pembelajarannya harus dilakukan secara bertahap. Kelompok kontrol juga

mendapatkan perlakuan sebanyak 4 kali juga, tetapi menggunakan model

pembelajaran konvensional.

Sebelum di berikan perlakuan, kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol, di berikan prates untuk mengetahui keadaan awal masing-

masing kelompok. Setelah diberikan perlakuan, maka masing-masing kelompok

akan diberikan posttest untuk mengetahui keadaan setelah diberikan perlakuan.

3.2 Variabel Penelitian

Variabel adalah simbol yang padanya kita lekatkan bilangan atau nilai

(Kerlinger, Simatupang, 2006:49). Sedangkan menurut Sugiyono (2016:64)

menyatakan bahwa variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,

obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian

ini terdapat dua variabel yaitu varibel independen (bebas) dan dependen (terikat).

Variabel independen atau biasa disebut variabel bebas dalam Sugiyono

(2016:64) menyatakan bahwa variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

dependen (terikat). Jadi, variabel bebas merupakan variabel yang memberikan

pengaruh atau perubahan. Dalam penelitian ini, variabel bebas dilambangkan


31

dengan huruf (X). Variabel X dalam penelitian ini adalah model induktif kata

bergambar.

Variabel dependen atau biasa disebut variabel terikat merupakan variabel

yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari diberikannya variabel bebas

(Sugiyono, 2016:64). Jadi, variabel terikat adalah variabel yang mendapat

pengaruh. Dalam penelitian ini, variabel terikat dilambangkan dengan huruf (Y).

Variabel Y dalam penelitian ini adalah keterampilan bercerita.

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019 pada semester genap

Tahun Ajaran 2018/2019. Jangka waktu tersebut akan dilakukan tahapan

penelitian yakni (1) pengukuran kemampuan awal pada kelas eksperiman dan

kelas kontrol dalam bercerita. (2) pemberian treatment pada kelas eksperiman dan

kelas kontrol. (3) pungukuran kemampuan akhir pada kelas eksperiman dan kelas

kontrol dalam bercerita.

Tempat pelaksanaan penelitian di gugus IV Labuapi yang terletak di

Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

3.4 Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekumpulan subyek (yang mencakup semua mahluk hidup

maupun benda-benda mati) yang mempunyai kecenderungan sama serta memiliki

sifat-sifat yang serupa (Handini, 2012:41). Sedangkan dalam Sugiyono

(2016:119) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek

yang mempunyai kuanitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian


32

ini adalah siswa kelas V di gugus IV Labuapi, dengan jumlah siswa sebanyak 206

siswa.

Sampel adalah sebagian dari populasi dimana penelitian dilakukan (Handini,

2012:44). Sedangkan menurut Sugiyono (2016:120) sampel adalah bagian dari

jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Untuk menentukan sampel,

peneliti membutuhkan tehnik pengambilan sampel. Tehnik sampel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sampling purposive. Kerlinger, Simatupang

(2006:206) menjelaskan bahwa sampling purposive adalah sampling yang

bertujuan tertentu. Dalam Sugiyono (2016: 126) sampling purposive adalah

teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sehingga, jumlah sampel

dalam penelitian ini sebanyak 51 siswa yang diambil dari kelas 5 di SDN 2

Kuranji dan kelas 5 di SDN 2 Karang Bongkot. Kelas V di SDN 2 Kuranji

menjadi kelas kontrol dan kelas V di SDN 2 karang Bongkot menjadi kelas

eksperimen. Pemilihan kelompok sampel tersebut berdasarkan pertimbangan

persamaan kurikulum yang digunakan yaitu KTSP. Jumlah siswa dari dua sekolah

tersebut tidak terlalu jauh perbedaannya, hal ini juga menjadi pertimbangan

dipilihnya sekolah tersebut. Selain itu, penyediaan sarana pembelajaran di dua

sekolah tersebut cukup memadai.

3.5 Data dan Metode Pengumpulan Data

Data merupakan sekumpulan informasi yang diperoleh dari penelitian, data

dapat berbentuk angka atau sifat. Data yang akan diperoleh dalam penelitian ini

adalah data mengenai keterampilan bercerita dan keterlaksanaan model

pembelajaran induktif kata bergambar. Data dalam penelitian ini terbagi menjadi
33

dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data utama yang

diambil langsung dari subjek penelitian menggunakan alat pengukuran, data

primer pada penelitian ini adalah data keterampilan bercerita. Sedangkan data

sekunder adalah data pendukung yang tidak langsung diambil oleh penelitinya,

data sekunder pada penelitian ini adalah data keterlaksanaan model pembelajaran.

Data keterampilan bercerita di dapatkan dari tes lisan, kemudian data

keterlaksanaan model pembelajaran induktif kata bergambar di dapatkan dari

observasi keterlaksanaan pembelajaran. Jenis data pada penelitian ini adalah jenis

data kuantitatif karena data yang di dapat berupa angka-angka. Metode

pengumpulan data yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini akan dijelaskan

sebagai berikut:

1. Tes

Suatu tes (uji) adalah prosedur sistematis ketika individu yang diuji

dihadapkan pada sehimpunan rangsang (stimuli) buatan untuk ditanggapinya, dan

tanggapan-tanggapan itu memungkinkan penguji memberikan angka atau

sehimpunan angka bagi pihak yang diuji, dan angka atau angka-anka itu dapat

menjadi sumber inferensi tentang pemilikan pihak yang diuji terhadap sifat apa

pun yang diukur dengan tes itu (Kerlinger, Simatupang, 2006: 788). Sedangkan

dalam Nurgiyantoro (2016:123) menyatakan bahwa tes adalah salah satu bentuk

pengukuran dan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi

(kompetensi, pengetahuan, keterampilan) tentang peserta didik.

Sehingga pemilihan tes sebagai metode pengumpulan data dalam

penelitian ini karena informasi yang akan di dapatkan adalah keterampilan


34

bercerita siswa. Pemberian tes dilakukan untuk mengetahui perkembangan

keterampilan bercerita siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Bentuk tes yang diberikan adalah tes kinerja (performance test). Candiasa

(2010:16) menjelaskan bahwa performance test adalah tes yang digunakan untuk

mengukur kualitas produk hasil belajar atau keterampilan untuk melakukan suatu

aktivitas hasil belajar. Tes kinerja dapat disamakan dengan tes praktik, praktik

melakukan suatu aktivitas sebagai bukti capaian hasil belajar (Nurgiyantoro,

2016: 160). Sehingga, di dalam penelitian ini tes yang akan dilakukan adalah

dengan meminta siswa untuk praktik bercerita di depan kelas yang akan di nilai

menggunakan lembar penilaian keterampilan bercerita. Lembar penilaian bercerita

yang akan digunakan adalah lembar bercerita berdasarkan rangsang gambar, hal

ini dikarenakan pada model induktif kata bergambar menggunakan gambar

sebagai stimulus utama untuk membuat cerita. Tes akan dilakukan pada saat

pretest dan postest.

2. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang

diselidiki. (Narbuko dan Achmadi, 2010: 70). Observasi banyak digunakan untuk

mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang

dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan

(Sudjana, 2017: 84). Pada penelitian ini, dilakukan metode pengumpulan data

yaitu observasi. Sasaran observasi pada penelitian ini adalah keterlaksanaan

model induktif kata bergambar pada kelas eksperimen


35

Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi terstruktur,

dimana observasi di lakukan oleh seorang observer yang ikut berada di dalam

kelas dan menilai menggunakan lembar observasi. Observasi dimulai saat di mulai

pemberian treatment hingga akhir pemberian treatment.

3.6 Instrumen Penelitian

1. Lembar Pengamatan

Lembar pengamatan digunakan saat proses observasi. Di dalam

penelitian ini, lembar pengamatan yang digunakan adalah lembar pengamatan

kegiatan pembelajaran menggunakan model induktif kata bergambar di kelas

eksperimen. Berikut ini adalah lembar pengamatan untuk peneliti dan siswa.

Tabel 3.2 Kisi-kisi observasi kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model induktif

kata bergambar

No Indikator Kegiatan

1 Guru membuka pembelajaran dengan baik

2 Guru mengucapkan salam ketika masuk kelas kepada siswa

3 Guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa bersama.

4 Guru mengecek kehadiran siswa.

5 Guru mengkondisikan kelas agar siswa siap untuk belajar.

Guru menceritakan sebuah cerita kepada siswa untuk membangkitkan


6
semangat.
36

No Indikator Kegiatan

7 Guru melakukan apersepsi.

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan apa yang akan dilakukan


8
oleh siswa.

9 Guru menyebutkan tujuan dan indikator pembelajaran

10 Guru mempersiapkan gambar

Guru meminta siswa mengidentifikasikan gambar yang telah


11
disiapkan

Guru bersama siswa memberikan tanda dengan menuliskan nama


12
objek yang telah dilihat oleh siswa pada gambar

Guru dan siswa bersama-sama membaca dan mereview bagan kata


13
bergambar yang telah diidentifikasi

Siswa membuat bank kata dengan menuliskan nama objek dalam


14
gambar pada kartu kosakata yang telah disediakan

Guru bersama siswa mengklasifikasikan kata-kata yang telah


15
diidentifikasi pada gambar ke dalam berbagai jenis kelompok

Guru dan siswa bersama-sama membaca dan mereview bagan kata


16
bergambar yang telah diidentifikasi

Guru membimbing siswa untuk menambahkan kata-kata baru yang


17
ditemukan pada gambar atau pada bank kata
37

No Indikator Kegiatan

Guru membimbing siswa untuk membuat sebuah judul yang


18
berhubungan dengan gambar yang telah diidentifikasi

Guru membimbing siswa untuk menyusun kalimat-kalimat yang


19
sesuai dengan gambar

20 Guru dan siswa membaca ulang kalimat yang telah dibuat oleh siswa

Guru meminta siswa untuk menceritakan hasil tulisannya berdasarkan


21
gambar

22 Guru bersama siswa mengulas kembali materi yang telah dipelajari.

Guru melakukan refleksi sebelum menutup kegiatan melalui


23
pertanyaan untuk menanyakan perasaan siswa setelah belajar

24 Guru meminta siswa untuk memimpin do’a bersama.

25 Guru mengucapkan salam untuk menutup pelajaran

2. Lembar Penilaian Bercerita

Lembar penilaian bercerita dibuat untuk menilai keterampilan

bercerita siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Aspek penilaian

bercerita di buat berdasarkan model induktif kata bergambar dimana siswa

akan diminta bercerita setelah mengidentifikasi gambar. Maka aspek

penilaian dalam penelitian ini beracuan pada aspek kebahasaan berdasarkan

rangsang gambar yang diberikan (Nurgiyantoro, 2016: 448).


38

Tabel 3.3: Rubrik Penilaian Berbicara Berdasarkan Rangsang Gambar

Tingkat Capaian

No Aspek yang Dinilai Kinerja

1 2 3 4 5

1 Kesesuaian Dengan Gambar

2 Ketepatan Logika Urutan Cerita

3 Ketepatan Makna Keseluruhan Cerita

4 Ketepatan Kata

5 Ketepatan Kalimat

6 Kelancaran

Jumlah Skor:

Nilai :

Dalam penelitian ini, karena yang akan diteliti adalah keterampilan

bercerita lisan, maka rubrik penilaiannya di modifikasi sesuai dengan

penilaian kegiatan bercerita lisan. Berikut ini adalah rubrik penilaian serta

indikator penilaian keterampilan bercerita yang di adaptasi serta di modifikasi

dari penelitian Mawarni (2016:42).

Tabel 3.4 Tabel Rubrik Penilaian Keterampilan Bercerita (Modifikasi)

Tingkat Capaian Kinerja


No Aspek yang Dinilai
1 2 3 4

1 Kesesuaian Dengan Gambar

2 Ketepatan Pemilihan Kata dan Kalimat


39

Tingkat Capaian Kinerja


No Aspek yang Dinilai
1 2 3 4

3 Ketepatan Logika Urutan Cerita

4 Ekspresi dan Gestur Tubuh

5 Volume Suara

6 Kelancaran

Jumlah Skor:

Tabel 3.5 Tabel Indikator Penilaian Keterampilan Bercerita

No Aspek Penilaian Indikator Skor

Isi cerita sesuai dengan seluruh objek pada


4
gambar dan mudah di pahami

Isi cerita sesuai dengan sebagian objek pada


3
Kesesuaian gambar dan mudah dipahami
1
dengan gambar Isi cerita sesuai dengan sebagian objek pada
2
gambar namun kurang bisa dipahami

Isi cerita tidak sesuai dengan objek pada


1
gambar dan kurang bisa dipahami

Penggunaan kata, istilah, ungkapan dan


4
Ketepatan kata kalimat sesuai dengan cerita dan variatif
2
dan kalimat Penggunaan kata, istilah, ungkapan dan
3
kalimat sesuai dengan cerita kurang variatif
40

No Aspek Penilaian Indikator Skor

Penggunaan istilah, kata, ungkapan dan


2
kalimat terpengaruh dialek

Penggunaan kata, istilah, ungkapan dan


1
kalimat sesuai dengan cerita namun terbatas

Penyampaian dan pengungkapan cerita


4
mudah dipahami sesuai dengan cerita

Penyampaian dan pengungkapan cerita dapat


3
dipahami sesuai dengan cerita
Ketepatan logika
3 Penyampaian dan pengungkapan cerita
urutan cerita
kurang dapat dipahami namun sesuai dengan 2

cerita

Penyampaian dan pengungkapan cerita tidak


1
dapat dipahami namun sesuai dengan cerita

Sikap sangat ekspresif, gerak-gerik wajar,


4
tenang, dan tidak grogi
Ekspresi dan
Sikap ekspresif, gerak-gerik sesekali kurang
Gestur tubuh 3
wajar, tenang, dan tidak grogi
4
Sikap cukup ekspresif, gerak-gerik beberapa

kali kurang wajar, kurang tenang, dan sedikit 2

grogi

Sikap tidak ekspresif, gerak-gerik beberapa 1


41

No Aspek Penilaian Indikator Skor

kali kurang wajar, tidak tenang, dan grogi

Volume suara terdengar dengan jelas,

lantang, terdengar dalam ruang kelas dan 4

seluruh siswa dapat mendengar

Volume suara terdengar dengan jelas dan

kurang lantang dalam ruang kelas dan hanya 3

5 Volume Suara sebagian siswa dapat mendengar

Volume suara terdengar kurang jelas dan


2
hanya beberapa siswa dapat mendengar

Volume suara tidak terdengar jelas dan

kurang lantang serta semua siswa belum 1

mendengar

Siswa bercerita lancar dari awal sampai akhir


4
dengan jeda tepat

Siswa bercerita lancar dari awal sampai akhir


3
namun jeda kurang tepat

6 Kelancaran Siswa bercerita dengan sesekali tersendat dan


2
jeda kurang tepat

Siswa bercerita dengan tersendat-sendat dari

awal sampai akhir dengan jeda yang tidak 1

tepat
42

Instrumen yang telah di susun terlebih dahulu di uji tingkat

validitasnya. Validitas instrumen yang digunakan adalah validitas

konstruk (consrtuct validity) untuk menguji apakah instrumen tersebut

sesuai dengan konsep keilmuan yang bersangkutan. Validitas konstruk

akan dilakukan oleh expert judgement.

3.7 Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini, seluruh data yang telah didapatkan menggunakan

instrumen penelitian akan diolah dan analisis. Pengolahan serta analisis data

guna mendapatkan jawaban untuk rumusan masalah dan pengujian hipotesis.

Data tes keterampilan bercerita akan dianalisis menggunakan uji beda (uji t-

score) sebelum melakukan uji beda, dilakukan uji normalitas serta

homogenitas data.

1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data setiap variabel

terdistribusi normal atau tidak, yang selanjutnya sebagai dasar untuk

mengetahui data yang diperoleh dapat dianalisis menggunakan statistik

parametrik atau nonparametrik. Pengujian normalitas data pada penelitian ini

menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov. Pengujian menggunakan

Kolmogorov Smirnov dilakukan dengan membandingkan distribusi data

dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku merupakan data yang

telah dirubah menjadi nilai z-score dan diasumsikan normal. Langkah

penghitungan normalitas menggunakan Kolmogorov Smirnov adalah sebagai

berikut.
43

a) Menghitung nilai Z

Penghitungan nilai z dilakukan pada setiap angka data menggunakan rumus

sebagai berikut.
𝑋−𝜇
z=( )
𝜎

𝜇 dihitung menggunakan rumus berikut ini

∑𝑥
𝜇 = (𝑁)

sedangkan untuk 𝜎 dihitung menggunakan rumus berikut ini,

∑(𝑥−𝜇)2
𝜎=√ 𝑁

Keterangan:

z = Angka baku

x = Angka pada data

𝜇 = Rata-rata populasi

σ = Simpangan baku

N = Banyaknya data

b) Menentukan nilai P pada masing-masing angka pada data berdasarkan

tabel distribusi normal (tabel z).

c) Menghitung probabilitas kumulatif pada masing-masing angka pada data.

Cara menghitung probabilittas adalah dengan menggunakan rumus : 0,5 ±

nilai P. Penjelasan penggunaan (+) atau (-) dilihat pada nilai z yang telah

dihitung sebelumnya.

- Apabila nilai pada z bermuatan positif maka untuk menghitung

probabilitas kumulatifnya menggunakan penjumlahan (+).


44

- Apabila nilai z bermuatan negatif maka untuk menghitung probabilitas

kumulatifnya menggunakan pengurangan (-)

d) Menghitung probablitias kumulatif harapan pada masing-masing angka

pada data dengan menggunakan rumus 𝑛𝑖⁄𝑛.

Keterangan :

ni = data ke berapa

n = banyaknya data

e) Menghitung selisih probabilitas harapan dengan probabilitas kumulatif

pada masing-masing angka pada data. Cara menghitung selisihnya adalah

dengan menngurangi angka pada probabilitas harapan dengan angka

probabilitas kumulatifnya.

f) Menentukan harga M yaitu selisih terbesar probabilitas harapan dengan

probabilitas kumulatif. Cara menentukannya adalah dengan melihat data

yang paling besar pada tabel selisih. Harga M ini menjadi K-S hitung.

g) Membandingkan nilai K-S hitung dengan nilai K-S tabel. Kaidah

keputusannya adalah data akan terdistribusi normal apabila hasil hitung

Kolmogorov Smirnov lebih kecil dibandingkan dengan nilai pada tabel

kolmogorov smirnof. K-Shitung < K-Stabel pada taraf signifikan yang

digunakan sebesar 5%.

2. Uji Homogenitas Data

Data yang akan diolah dengan rumus uji-t harus diuji homogenitasnya

terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kedua sampel homogen atau tidak.
45

Homogenitas sampel dimaksudkan untuk menegaskan bahwa kedua kelas

yang dijadikan sampel penelitian adalah homogen.

Homogenitas sampel dicari dengan menggunakan rumus uji F yaitu:

(Sugiyono, 2015:199).

𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟
𝐹=
𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

Varians masing-masing kelas diperoleh dengan rumus:

2
 

  X  X 
S2   
n 1

Keterangan:

F = indeks homogenitas yang dicari

S2 = varians

X = nilai siswa

X = rata-rata

n = jumlah sampel

Nilai Fhitung dan Ftabel dibandingkan pada taraf signifikan 5%. Data

dikatakan homogen jika Fhitung < Ftabel.

3. Uji Hipotesis (Uji t-score)

Statistik yang digunakan untuk menguji suatu hipotesis tergantung pada

hasil perhitungan uji normalitas. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t

sampel independen. Uji ini dipilih karena pada penelitian ini menggunakan

desain penelitian non equivalent control group design yang bertujuan untuk

membandingkan rerata 2 kelompok sampel.


46

Rumus uji t sampel independen adalah:

𝑥̄ 1−𝑥̄2
t hit =
𝑠𝑥̄ 1−x̄2

Keterangan :

x̄1 = rata-rata jumlah kelompok data 1

x̄2 = rata-rata jumlah kelompok data 2

𝑠𝑥̄ 1 − x̄ 2 = standar error perbedaan dua rerata sampel

Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H0: µ eksperimen ≠ µ kontrol

Ha: µ eksperimen = µ kontrol

H0: Tidak terdapat perbedaan keterampilan bercerita pada kelas yang

menerapkan model induktif kata bergambar dengan kelas yang

menerapkan pembelajaran konvensional.

Ha: Terdapat perbedaan keterampilan bercerita pada kelas yang menerapkan

model induktif kata bergambar dengan kelas yang menerapkan

pembelajaran konvensional .

Kriteria pengujian hipotesis pada taraf signifikan 5% adalah H0 akan

ditolak jika thitung > ttabel dengan kata lain bahwa Ha diterima. Nilai t dapat

diperoleh dari tabel distributif. Sehingga akan di dapatkan kesimpulan dari

penelitian ini. Penarikan kesimpulan berdasarkan penghitungan hipotesis

tersebut adalah sebagai berikut.


47

- Apabila H0 ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh

penggunaan model induktif kata bergambar terhadap keterampilan

bercerita siswa.

- Apabila H0 diterima, maka tidak terdapat pengaruh penggunaan model

induktif kata bergambar terhadap keterampilan bercerita siswa.


48

DAFTAR PUSTAKA

Calhoun, Emily F. 1999. Teaaching Beginning Reading and Writing with The

Picture Word Inductive Model

Candiasa, Made. 2010. Pengujian Instrumen Penelitian disertai Aplikasii

ITEMAN dan BIGSTEPS. Bali: Penerbit Universitas Pendidikan

Ganesha.

Creswell John W. 2016. Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif,

Kuantitatif. dan Campuran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gina Asifa Miftahul, dkk. Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Narasi

melalui Model PWIM (Picture Word Inductive Model) Siswa Kelas

IVB SD Negeri Ketib Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten

Sumedang. Sumedang: UPI Kampus Sumedang.

Handini Myrnawati Crie. 2012. Metodologi Penelitian untuk Pemula. Jakarta: FIP

Press.

Jocye Bruce, et al. 2011. Model-Model Pengajaran (Edisi Delapan). Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Kerlinger, Fred N. 2006. Asas-Asas Penelitian Behavioral Edisi Ketiga.

Terjemahan Landung R Simatupang. Yogyakarta: Gadjah Mada

University press.

Khunairoh Istiqomah Nur, dkk. 2014. Penerapan Picture Word Inductive

Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan.

Solo: Universitas Sebelas Maret.


49

Madyawati, Lilis. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak Edisi

Pertama. Jakarta: Prenadamedia Group.

Marwani, Yunia Tri. 2016. Peningkatan Keterampilan Bercerita Menggunakan

Media Kartu Bergambar untuk Siswa Kelas VII D SMP Negeri 2

Prambanan Klaten. Skripsi tidak di terbitkan. Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta.

Narbuko Cholid dan Achmadi Abu. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT

Bumi Aksara.

Nurgiyantoro, Burhan. 2016. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis

Kompetensi Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Palupi, Anindha Wintang. 2012. Keefektifan Model Induktif Kata Bergambar

dalam Menulis Puisi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1

Ketanggungan Brebes. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Rahayu, Aprianti Yofita. 2013. Anak Usia TK: Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Melalui Kegiatan Bercerita. Jakarta: PT. Indeks.

Santosa Puji, dkk. 2013. Materi Pokok dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.

Banten: Universitas Terbuka.

Sudjana, Nana. 2017. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Sugiyono, 2015. Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung:

Alfabeta.
50

Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:

Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara: Sebagai Suatu keterampilan Berbahasa.

Bandung: Percetakan Angkasa.