Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MANAJEMEN (Prinsip dan Tipe Kepemimpinan)


diajukan untuk memenuhi tugas dari dosen Mata Kuliah Manajemen

Kelompok 14 (2A-D4)
Disusun oleh :

1. Alifia Rahma (P17331118412)


2. Vetty Nuraeni M S (P17331119462)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN GIZI PROGRAM STUDI D-IV
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Prinsip dan Tipe Kepemimpinan”.
Penulisan makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen .

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami menerima segala saran
dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi kepada
para pembaca.

Cimahi, 5 Agustus 2019

Penulis

DAFTTAR ISI
i
KATA PENGANTAR......................................................................................................................2

DAFTTAR ISI.................................................................................................................................3

BAB I...............................................................................................................................................4

PENDAHULUAN...........................................................................................................................4

A. Latar Belakang........................................................................................................................4

B. Rumusan Masalah...................................................................................................................4

C. Tujuan Penulisan....................................................................................................................4

BAB II.............................................................................................................................................5

PEMBAHASAN..............................................................................................................................5

1.1 Definisi Kepemimpinan........................................................................................................5

1.2 Macam-Macam Gaya Kepemimpinan...................................................................................5

1.3 Tipe – tipe kepemimpinan......................................................................................................7

1.4 Prinsip- Prinsip Kepemimpinan.............................................................................................8

2.1 PENGERTIAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA.............................................................9

2.2 Syarat – Syarat Hubungan Antar Manusia...........................................................................10

2.3 Tujuan Hubungan Antar Manusia........................................................................................11

2.4 TAHAP – TAHAP DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA.......................................12

2.5 Pengambilan Keputusan (Decision Making)........................................................................12

2.6.Jenis-Jenis Keputusan..........................................................................................................13

2.7.Menghadapi Kejelasan Dan Ketidakjelasan........................................................................14

BAB III..........................................................................................................................................15

KESIMPULAN..............................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap orang pasti memiliki sifat kepemimpinan. namun, sifat yang tertanam dari
dalam diri seseorang nerbeda-beda sesuai dengan karakteristik orang tersebut. Kepemimpinan
akan selalu ada khususnya dalam bidanh pendidikan maupun dalam suatu instansi atau dalam
pekerjaan. Sifat kepemimpinn ini tentu sangat diperlukan dalam manajemen suatu perusahaan
tertentu, untuk mengatur seluruh anggota maupun karyawan dalam suatu instansi diperlukan
adanya seseorang yang memimpin. Kepemimpinan merupakan suatu tangung jawab besar yang
dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengetahuan serta ilmu tentang
kepemimpinan.

Menurut kodratnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Pada masa
sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk
memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar
kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap
umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan
pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen
atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan
diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian kepemimpinan serta karakteristik kepemimpinan
2. Tipe kepemimpinan dalam manajemen
3. Pengertian Hubungan antar manusia serta tahapan hubungan antar manusia
4. Pengertian pengambilan keputusan dalam manajemen

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui kepemimpinan serta karakteristik kepemimpinan.
2. Mengetahyi tipe kepemimpinan dalam manajemen.
3. Megetahui hubungan antar manusia serta tahapan hubungan antar manusia.
4. Mengetahui tentang pengambilan keputusan dalam manajemen.

1
BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Definisi Kepemimpinan


Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para
pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana
didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of
directing and influencing the task related activities of group members. Kepemimpinan adalah
proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang
harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua
konsep, yaitu sebagai proses, dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan
kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan,
atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu
menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan
adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu,
pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya
menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.

Selain itu banyak juga pendapat dari para tokoh mengenai arti dari kepemimpinan ini,
yaitu:

1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan
tertentu. (Tannenbaum, Weschler, & Massarik, 1961:24)

2. Kepemimpinan adalah pembentukkan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan


dan interaksi (Stogdill, 1974:411).

3. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di
atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi ( Katz & Kahn, 1978:528)

1.2 Macam-Macam Gaya Kepemimpinan


Keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahan banyak
dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Beberapa ahli mengemukakan pendapat tentang macam-
macam gaya kepemimpinan, adalah sebagai berikut :

A. Gaya kepemimpinan menurut Thoha (2013:49) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan terbagi
menjadi dua kategori gaya yang ekstrem yaitu :

2
1. Gaya kepemimpinan otokratis, gaya ini dipandang sebagai gaya yang di dasarkan atas
kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. 2. Gaya kepemimpinan demokratis, gaya ini dikaitkan
dengan kekuatan personal dan keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan.

B. Gaya kepemimpinan menurut pendapat Hasibuan (2007:170) gaya kepemimpinan


dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1. Kepemimpinan Otoriter Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasaan atau


wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut
sistem sentralisasi wewenang.

2. Kepemimpinan Partisipatif Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam


kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi,
menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan.

3. Kepemimpinan Delegatif Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin


mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak lengkap.

C. Gaya kepemimpinan menurut Sutikno (2014:35) mengatakan gaya kepemimpinan


atau perilaku kepemimpinan atau sering disebut Tipe Kepemimpinan. Tipe kepemimpinan yang
luas dikenal dan diakui keberadaanya adalah sebagai berikut :

1. Tipe Otokratik Tipe kepemimpinan ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak
pribadinya (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak boleh
ada orang lain yang turut campur.

2. Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire) Tipe kepemimpinan ini merupakan
kebalikan dari tipe kepemimpinan otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin
biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan seringkali menghindar diri daritanggung jawab.

3. Tipe Paternalistik Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya


dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan kepadanya.

4. Tipe Kharismatik Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus


yaitu daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat
besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit mengapa orang tersebut
itu dikagumi.

5. Tipe Militeristik Pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin


organisasi militer. Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin dalam menggerakan
bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah, senang bergantung kepada pangkat dan
jabatannya, dan senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi
dan kaku dari bawahannya, dan sukar menerima kritikan dari bawahannya.
3
6. Tipe Pseudo-demokratik Tipe ini disebut juga kepemimpinan manipulatif atau semi
demokratik. Tipe kepemimpinan ini ditandai oleh adanya sikap seorang pemimpin yang berusaha
mengemukakan keinginan-keinginannya dan setelah itu membuat sebuah panitia, dengan berpura-
pura untuk berunding tetapi yang sebenarnya tiada lain untuk mengesahkan saran-sarannya.

7. Tipe Demokratik Tipe demokratik adalah tipe pemimpin yang demokratis, dan bukan
kerena dipilihnya sipemipin secara demokratis. Tipe kepemimpinan dimana pemimpin selalu
bersedia menerima dan menghargai saran-saran, pendapat, dan nasehat dari staf dan bawahan.

1.3 Tipe – tipe kepemimpinan


1. Tipe Otokratik

kDilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seorng yang sangat
egois.Seorang pemimpin yang otoriter akan menunjuukkan sikap yang menonjol
”keakuannya”, antara lain dalam bentuk:

• Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain ddalam


organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat
mereka.

• Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan


pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.

Pengabaian peran para bawahan dalam proses pemgambilan keputusan. Gaya


kepemimpinan yang dipergunakan adalah:

• Menuntut ketaatan penuh dari bawahannya.

• Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya.

• Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi.

• Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjaduinya penyimpangn oleh bawahan.

2. Tipe Paternalistik

Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat dilingkungan masyarakat yang bersifat


tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masyarakat tradisional
ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua
atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau
panutan masyarakat. Biasanya tokohtokoh adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat
mengembangkan sikap kebersamaan.

3. Tipe Kharismatik

4
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria
kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya
tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya
kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharisnatik adalah seseorang
yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidk selalu dapat
menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

4. Tipe Laissez Faire

Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan
sendirinya karena para anggota organisasi terdiri ari orang-orang yang sudah dewasa yang
mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaransasaran apa yang ingin dicapai,
tugas yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering
intervensi.

5. Tipe Demokratis

a. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator


dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.

b. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa
dilakukan demi tercapainya tujuan.

c. Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.

d. Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan
martabat manusia.

1.4 Prinsip- Prinsip Kepemimpinan


Menurut Bernes dalam buku Prilaku Dalam Keorganisasian mengatakan seorang pemimpin
dalam tim kaizen memfokuskan perhatiannya pertama kepada manusia baru kemudian pada
hasilnya, sehingga tanggung jawab pemimpin merupakan kebalikan dari tugas supervisor. Prinsip
kepemimpinan kaizen menurut Bernez dikemukakan dengan mempertimbangkan bahwa kaizen
mengandung sembilan prinsip, yaitu:

a. Mengadakan peningkatan secara terus menerus. Sudah menjadi sifat alamiah suatu tugas
dapat dilaksanakan secara sukses, maka kita pengalihan perhatian pada suatu yang baru.
Keberhasilan bukanlah suatu hasil akhir dari suatu tugas, keberhasilan adalah suatu langkah maju
berikutnya. 19

5
b. Mengakui masalah secara terbuka. Keterbukaan sebagai kekuatan yang bisa
mengendalikan dan mengatasi berbagai masalah dengan cepat, dan juga sama secepatnya dapat
mewujudkan kemampuan.

c. Mempromosikan keterbukaan, bagi organisasi tradisional, ilmu pengetahuan adalah


kekuasaan pribadi. Tetapi bagi organisasi kaizen, ilmu adalah untuk saling dibagikan dan
hubungan komunikasi yang mendukungnya adalah sumber efisiensi yang besar.

d. Menciptakan tim kerja. Dalam organisasi Kaizen tim adalah bahan bangunan dasar yang
membentuk struktur organisasi. Masing-masing karyawan secara individual memberikan
sumbangan berupa reputasi akan efisiensi, prestasi kerja dan peningkatannya.

e. Memberikan proses hubungan kerja yang benar. Dalam organisasi kaizen tidak menyukai
hubungan yang saling bermusuhan dan penuh kontroversi yang terjadi dalam perusahaan secara
murni berpusat pada hal-hal yang memiliki kultur yang saling menyalahkan.

f. Mengembangkan disiplin pribadi. Disiplin di tempat kerja merupakan sifat alamiah dan
menuntut pengorbanan pribadi untuk menciptakan suasana harmonis dengan rekan sekerja di
dalam tim dan prinsipprinsip utama perusahaan, sehingga sifat-sifat individual yang terpenting
bisa tetap terjaga.

g. Memberikan informasi pada karyawan. Informasi merupakan hal yang penting dalam
perusahaan kaizen. Para pemimpin dan para manajer 20 mengakui bahwa karyawan tidak dapat
diharapkan untuk berpartisipasi melebihi tugas sehari-hari mereka.

h. Sebagai contoh tugas mereka dalam sistem sasaran perusahaan, siklus kaizen atau siklus
kualitas tim-tim proyek.

i. Memberikan wewenang pada setiap karyawan. Melalui pelatihan berbagai keahlian,


dorongan semangat, tanggung jawab, pengambilan keputusan, akses sumber-sumber data dan
anggaran, timbal balik reputasi perusahaan, dan penghargaan, maka para karyawan kaizen
memilih kekuatan untuk cara memengaruhi urusan diri mereka sendiri dan urusan perusahaan.

2.1 PENGERTIAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA


Pengertian Hubungan Antar Manusia Menurut Beberapa Pakar:

A. Hugo Cabot dan Joseph A Kahl (1967): Hubungan antar manusia adalah suatu
sosiologi yang konkret karena meneliti situasi kehidupan, khususnya masalah “interaksi” dengan

6
pengaruh dan psikologisnya. Jadi, interaksi mengakibatkan dan menghasilkan penyesuaian diri
secara timbal balik yang mencakup kecakapan dalam penyesuaian dengan situasi baru.

B. Keith Davis “Human Relation at Work” adalah interaksi antara seseorang dengan
orang lain dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan. Ditinjau dari kepimpinannya,
yang bertanggung jawab dalam suatukelompok merupakan interaksi orang-orang menuju situasi
kerja yang memotivasi untuk bekerjasama secara produktif, sehingga dicapai kepuasan ekonomi,
psikologis dan sosial.

C. Ferdinand Tonnies: menyatakan bahwa manusia dalam bermasyarakat mempunyai


dua jenis pergaulan yaitu:

1. Gemeinscaft, hal yang dialami oleh orang lain dirasakan sebagaimana terjadi pada dirinya
oleh karena pergaulannya yang sangat akrab. Sifatnya statis, pribadi, tidak rasional;

2. Gessellscaft, pergaulan yang mempertimbangkan untung dan ruginya sehingga anggota bebas
keluar masuk dari kelompok tersebut. (Handayani, Kusmiyati & Tyastuti, 2010 : 25-26)

Hakikat dari hubungan antar manusia adalah komunikasi antarpribadi. Hubungan antar manusia
sebenarnya dilandaskan pada adanya kepentingan-kepentingan individual. Hubungan antar
manusia diartikan sebagai suatu proses interaksi antar

Dapat disimpulkan, hubungan antar manusia merupakan suatu timbal balik antar sesama
manusia yaitu dua orang atau lebih dalam mencapai suatu tujuan.

2.2 Syarat – Syarat Hubungan Antar Manusia


Hubungan antar manusia dapaat berjalan selaras apabila ada pemahaman pada diri masing –
masing. Berikut ini beberapa syarat agar hubungan antar manusia bisa berjalan lancar sesuai
harapan.

Ada unsur simpati dan empati ( diawali saling perhatian, sehingga menjalin interaksi yang baik
dan komunikasi akan berjalan lancar ).

1.Paham akan kebutuhan manusia

Kebutuhan manusia menurut maslow ada 5 tingkatan. Untuk mendapatkan hubungan antar
manusia yang sesuai maka kita perlu paham akan kebutuhan tersebut.

a. Kebutuhan yang pertama adalah kebutuhan dasar manusia meliputi makan, minum,
oksigen, dan sebagainya. Kita perhatikan bahwa dalam melakukan hubungan antar manusia tidak
7
etis bila kita mengajak seseorang berbicara berjam jam tanpa dikasih minum dan makan. Karena
bila hal tersebut kita lakukan akan mengganggu komunikasi karena konsentrasi akan buyar
apabila lapar dan haus atau akibat yang buruk adalah lemas atau pingsan sehingga tujuan
komunikasi tidak tercapai. Begitu pula apabila komunikasi dilakukan pada situasi yang pengap
tanpa oksigen, maka hal yang buruk seperti sesak nafas dan pingsan dapat terjadi.

b. Kebutuhan yang kedua adalah rasa aman.

Dalam melakukan hubungan antar manusia maka rasa aman dan nyaman sangat penting
kita perhatikan. Rasa aman tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi psikologis,termasuk
diantaranya kita perlu menjaga kerahasiaan dari klien. Sebagai seorang bidan apapun yang
diutarakan klien harus kita jaga jangan sampai diceritakan kepad pihak – pihak yang tidak
berwenang. Kecuali kalau untuk konsultasi atau kolaborasi.

c. Kebutuhan yang ketiga adalaah rasa sayang atau cinta.

Rasa sayang bisa kita tunjukan kepada orang lain dalam bentuk simpati dan empati
kepada klien. Saat melakukan komunikasi kita bisa menggunakan bahasa verbal dan non verbal,
dan juga kita perlu mengetahui budaya – budaya yang berlaku. Hal – hal seperti itu sangat
penting kita ketahui agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam menjalin hubungan dengan orang
lain.

d. Kebutuhan yang keempat adalah harga diri.

Harga diri adalah hal yang sangat hakiki,kita perlu berhati–hati dalam melakukan
hubungan dengan orang lain jangan sampai menyinggung perasaan dan harga diri mereka.
Bersikap sopan dan ramah akan meningkatkan harga diri mereka.

e. Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.

Setiap orang ingin dihargai keberadaannya dan kemampuannya. Memberikan reward


atau penghargaan sebaiknya kita lakukan pada orang yang tepat. Reward tidak harus berupa
hadiah yang mahal – mahal tetapi bisa dengan memberikan pujian atau sanjungan yang sesuai.
Pujian yang kita berikan jangan sampai bertolak belakang dengan kenyataan karena hal itu akan
menyebabkan kita dituduh melakukan penghinaan atau pelecehan. Pujian dan sanjungan yang
tepat akan membuat seseorang lebih semangat dan termotivasi.

(Handayani, Kusmiyati & Tyastuti, 2010 : 29-31)

2.3 Tujuan Hubungan Antar Manusia


Tujuan penggunaan hubungan antar manusia adalah memanfaatkan pengetahuan tentang
factor social dan psikologi dalam penyesuaian diri manusia sedemikian rupa sehingga
penyesuaian diri itu terjadi dengan serasi selaras dengan ketegangan dan pertentangan sedikit
mungkin (Wahyuningrum & Yogi Andhi, 2010 : 40)
8
Tujuan hubungan antar manusia antara lain :

1. Menemukan jati diri

Dengan melakukan hubungan dengan orang lain maka kita dapat menemukan konsep diri
kita, mengetahui apa yang menjadi kelemahan kita, yang tidak bisa kita ketahui tanpa masukan
dari orang lain. Sehingga dengan masukan itu kita dapat mengetahui siapa diri kita dan
memperbaiki apa yang menjadi kekurangan kita.

2. Menemukan dunia luar

Dunia luar yang tidak kita ketahui bisa kita dapatkan dan ketahui dengan bergaul dengan
orang lain,sehingga bisa membuka wawasan kita pada hal – hal dilingkungan luar kita.

3. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain

Dengan menjalin hubungan antar manusia kita sebagai makhluk social akan semakin
meningkatkan hubungan dan dapat menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi karena
komunikasi akan selalu terpelihara.

4. Mengubah sikap dan perilaku sendiri dan orang lain

Sikap dan perilaku diri sendiri maupun orang lain dapat dirubah dengan adanya masukan
– masukan , kritik – kritik atau meniru dari apa yang kita lihat. Dengan pergaulan atau
komunikasi dengan orang lain bisa memberikan masukan negative atau positif pada diri kita atau
orang lain.

5. Bermain dan hiburan

Orang yang tidak pernah melakukan komunikasi denagn orang lain, tentu hidupnya akan
kesepian. Dengan bergaul maka kita akan mendapatkan hiburan dan permainan.

6. Memberikan bantuan

Kita tidak bisa hidup sendiri,semua kegiatan perlu bantuan dari orang lain, sehingga kita
perlu membina hubungan baik agar semua kegiatan bisa lancar(Handayani, Kusmiyati &
Tyastuti, 2010 : 31-32)

2.4 TAHAP – TAHAP DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA


Hubungan antar manusia mempunyai 5 tahap, yaitu :

9
1. Kontak

Tahap pertama pada Hubungan antar manusia adalah membuat kontak. Beberapa macam
persepsi alat indera adalah melihat, mendengar, dan membau. Selama tahap ini dalam empat
menit pertama interaksi awal, individu tersebut harus memutuskan apakah ingin melanjutkan
hubungan atau tidak. Pada tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik
paling terbuka untuk diamati secara mudah. Namun, kualitas-kualitas lain seperti sikap
bersahabat, kehangatan, keterbukaan, dan kedinamisan juga terungkap pada tahap ini. Jika
menyukai hubungan pada tahap ini, maka individu tersebut dapat melanjutkan ketahap kedua.

2. Keterlibatan

Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika mengikatkan diri dengan
untuk lebih mengenal individu lain dan juga mengungkapkan diri. Jika merupakan hubungan
persahabatan, maka kedua pihak mungkin melakukan sesuatu yang merupakan minat bersama.

3. Keakraban

Pada tahap keakraban, ada rasa saling keterikatan atau ketergantungan. Kemungkinan pada
tahap ini terbina hubungan primer (primary relationship), dimana rasa persahabatan dan saling
percaya akan timbul.

4.Perusakan

Dua tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan ketika ikatan diantara kedua pihak
melemah. Pada tahap perusakan mulai ada rasa bahwa hubungan yang telah terjalin tidaklah
sepenting sebelumnya, semakin sedikit waktu senggang, kedua pihak saling berdiam diri dan
tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Jika tahap ini berlanjut berarti memasuki tahap
pemutusan.

5.Pemutusan

Terjadi pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak. Jika bentuk ikatan tersebut
adalah perkawinan, maka pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun
pemutusan hubungan

(DeVito 1997: 255-258)

10
2.5 Pengambilan Keputusan (Decision Making)
Keputusan (decision) merupakan pilihan yang dibuat dari alternatif-alternatif yang ada.
Banyak orang menyangka bahwa membuat pilihan adalah bagian yang besar dalam proses
pengambilan keputusan, tetapi tidak. Membuat pilihan hanyalah satu bagian saja.
Pengambilan keputusan (decision making) adalah proses dalam mengenali masalah-masalah dan
peluang-peluang untuk kemudian dipecahkan. Pengambilan keputusan mengharuskan adanya
usaha baik sebelum ataupun sesudah dibuatnya pilihan yang nyata.
Intisari pengambilan keputusan yaitu perumusan beberapa alternatif tindakan dalam menggarap
situasi yang dihadapi, serta menetapkan pilihan yang tepat antara beberapa alternatif yang
tersedia setelah diadakan evaluasi mengenai efektivitas alternatif tersebut untuk mencapai tujuan
para pengambil keputusan.

A. Fungsi Pengambilan Keputusan


Pengambilan keputusan mempunyai fungsi sebagai berikut :
Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual
maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional.
Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa akan datang,
dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

B. Tujuan Pengambilan Keputusan


Tujuan dalam pengambilan keputusan antara lain :
A. Tujuan Yang Bersifat Tunggal, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut
satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak ada kaitannya dengan masalah lain.

B. Tujuan Yang Bersifat Ganda, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih
dari satu masalah, artinya bahwa keputusan yang diambil itu sekaligus memcahkan dua masalah
atau lebih, yang bersifat kontradiktif atau yang tidak kontradiktif

2.6.Jenis-Jenis Keputusan
Keputusan-keputusan dalam manajemen dibagi dalam 2 jenis yaitu :

A. Keputusan Yang Terprogram (Programmed Decision)


Penyelesaian masalah rutin yang ditetapkan dengan peraturan, prosedur atau kebiasaan
Contoh : Manajer produksi dari PT. ALI SUKSES selalu melakukan kegiatan rutin disetiap
awal bulan, yaitu dengan melakukan pembelian bahan baku untuk persediaan.

B. Keputusan Tidak Terprogram (Nonprogrammed Decision)

11
Penyelesian spesifik yang diciptakan lewat proses tidak terstruktur untuk menangani
masalah non rutin. Keputusan ini biasanya terjadi di manajemen tingkat atas Informasi untuk
pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah
tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yang
sangat penting didalam pengambilan keputusan tidak terstruktur. Contoh : Pak Ali adalah
seorang Presiden Direktur PT. Angkasa. Ia harus selalu bisa mengambil keputusan dengan
cepat demi kelangsungan perusahaannya. Pengambilan keputusan yang dia ambil
berdasarkan informasi pasar yang harus selalu ia ketahui. Contohnya adalah harga saham
yang selalu berubah. Dia harus bisa menyesuaikan keuangan perusahaan agar harga saham
perusahaan pada bursa efek bisa selalu stabil.

2.7.Menghadapi Kejelasan Dan Ketidakjelasan


Setiap situasi saat pengambilan keputusan dapat diatur dalam sebuah skala sesuai dengan
ketersediaan informasi dan kemungkinan akan kegagalan. Empat posisi dalam skala tersebut
adalah kejelasan, risiko, ketidakjelasan, dan ambiguitas. Sementara keputusan yang terprogram
dapat dibuat dalam situasi yang melibatkan kejelasan, sebagian besar situasi yang harus
ditangani manajer setiap hari terdiri atas setidaknya tingkat ketidakjelasan dan mengharuskan
adanya pengambilan keputusan yang tidak terprogram.

A. Kejelasan (Certainly)
Kondisi pengambilan keputusan saat seorang manajer mempunyai informasi yang akurat,
dapat diukur dan dapat diandalkan tentang hasil dari berbagai alternatif yang sedang
dipertimbangkan.

B. Resiko (Risk)
Sebuah keputusan harus memiliki tujuan-tujuan yang jelas dan informasi yang baik selalu
tersedia, tetapi hasilnya di masa depan yang berhubungan dengan setiap alternatif belum lah
pasti. Namun, informasi yang cukup selalu tersedia bagi kemungkinan diperkirakannya hasil
yang sukses untuk setiap alternatif. Analisi statistik dapat digunakan untuk menghitung
kemungkinan untuk mengalami kegagalan dan keberhasilan. Pengukuran risiko akan
mencegah peristiwa-peristiwa di masa depan yang dapat menggagalkan alternatif solusi yang
di ambil.

C. Ketidakjelasan (Uncertainly)
Artinya adalah bahwa manajer mengetahui tujuan mana yang ingin dicapainya, tetapi
informasi tentang alternatif-alternatif dan peristiwa di masa depan tidaklah lengkap. Faktor-
faktor yang mungkin akan memengaruhi sebuah keputusan, seperti masalah harga, biaya
produksi, volume, dan suku bunga di masa yang akan datang, adalah persoalan yang sulit
untuk dianalisis dan diperkirakan.

12
D. Ambiguitas Dan Konflik Ambiguitas (Ambiguity)
Adalah situasi paling sulit dalam pengambilan keputusan. Ambiguitas berarti bahwa tujuan-
tujuan yang akan dicapai atau permasalahan-permasalahan yang hendak dipecahkan tidak
jelas, alternatif-alternatif sangatlah sulit ditentukan, dan informasi mengenai hasilnya nanti
tidaklah tersedia. Situasi yang benar-benar ambigu dapat menciptkan apa yang terkadang
disebut dengan masalah keputusan yang gagal. Keputusan yang gagal adalah keputusan yang
mendatangkan konflik dan bukan mencapai tujuan serta alternatif keputusan, membuat
keadaan yang tidak stabil, tidak memiliki informasi dan link yang jelas di antara unsur-unsur
penting dalam mengambil keputusan.

BAB III

KESIMPULAN

13
Teori kepemimpinan membicarakan mengenai bagaimana seseorang menjadi pemimpin,
atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin, dan teori tentang kepemimpinan itu diantaranya
adalah teori kelebihan, teori sifat, teori keturunan, teori kharismatis, teori bakat dan teori sosial.
Tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh seorang
pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin dalam menjalankan
kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor pendidikan, pengalaman, usia,
karakter tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang yang ambisius untuk
menguasai setiap situasi apabila menjadi pemimpin cenderung akan bersifat otoriter. Orang yang
mempunyai sifat kebapakan apabila menjadi pemimpin cenderung akan menjalankan
kepemimpinan yang bertipe paternalistik sedangkan pemimpin yang tidak menguasai bidang
tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan segala sesuatunya pada bawahan sehingga
gaya kepemimpinannya cenderung bersifat laisser faire.
Hubungan antar manusia adalah suatu sosiologi yang konkret karena meneliti
situasi kehidupan, khususnya masalah “interaksi” dengan pengaruh dan psikologisnya. Jadi,
interaksi mengakibatkan dan menghasilkan penyesuaian diri secara timbal balik yang mencakup
kecakapan dalam penyesuaian dengan situasi baru.
Pengambilan keputusan (decision making) adalah proses dalam mengenali masalah-
masalah dan peluang-peluang untuk kemudian dipecahkan. Pengambilan keputusan
mengharuskan adanya usaha baik sebelum ataupun sesudah dibuatnya pilihan yang nyata.
Intisari pengambilan keputusan yaitu perumusan beberapa alternatif tindakan dalam menggarap
situasi yang dihadapi, serta menetapkan pilihan yang tepat antara beberapa alternatif yang
tersedia setelah diadakan evaluasi mengenai efektivitas alternatif tersebut untuk mencapai tujuan
para pengambil keputusan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Daft, L. Richard. Era Baru Manajemen. Edisi 9.Salemba Empat

14
2. Syamsi, Ibnu. 1989. Pengambilan Keputusan (Decision Making) . Jakarta. Bina Aksara

3. diakses di http://academia.edu/Pengantar Manajemen Oleh Mudin Ali. diakses pada tanggal 1


Agustus 2019

4. diakses di http: //academia. edu/ Hubungan antar manusia diakses pada tanggal 1 Agustus
2019

5. diakses di http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-
RAHAYU_GININTASASI/kepemimpinan.pdf pada tanggal 5 Agustus 2019

6. diakses di http://digilib.unila.ac.id/15583/14/BAB%20II.pdf pada tanggal 5 Agustus 2019

15