Anda di halaman 1dari 72

Open Pit Mine

Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Geotechnics
LABORATORY ACTIVITY

Novandri Kusuma Wardana, ST., S.Si., M.T.


Member of International Society for Rock Mechanics & Rock Engineering (ISRM)
Founder PT. Geomine Roclab’s Studio
Senior Geotechnical PT. Kaltim Prima Coal
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Katili, 1974)
Sabuk Vulkanik

1-2/82
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

3
Geomekanika Dalam Pertambangan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Modifikasi Cummins & Given (1973)


Diagram Konseptual Proyek Tambang

4
Mekanika Batuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Brady & Brown (1985)

• The subject of engineering rock mechanics, as applied in mining engineering


practice, is concerned with the application of the principles of engineering
mechanics to the design of the rock structures generated by mining activity

• Rock mechanics is the theoretical & applied science of the mechanical behaviour of
rock & rock masses: it is that branch of mechanics concerned with the response of
rock & rock masses to the force fields of their physical environment

• Rock mechanics itself forms a part of the broader subject of Geomechanics, which
is concerned with the mechanical responses of all geological materials including
rock & soils
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Geomekanika
Disiplin Keilmuan Dalam Geomekanika

6
Keahlian Khusus Dalam Geomekanika
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Pengembangan
Peralatan Pengembangan
Pengujian Permodelan
Perkuatan & Peralatan
Laboratorium Numerik
Penyanggaan Pemantauan
Batuan

Analisis: Analitik Pengembangan


Pengujian Skala Pengembangan
Empirik Peralatan Uji
Besar & In-Situ Peralatan Uji
Observasi Laboratorium Lapangan & Skala
Survei Geologi
Besar

Teknologi Informasi & Digitasi

Analisis Risiko
Terima Probabilistik
Dampak

7
Lingkaran Mohr-1
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

 Lingkaran Mohr merupakan metode grafis sederhana dan


cepat yang dapat digunakan untuk:
 Menentukan besar tegangan normal (sn) dan tegangan geser (t)
pada bidang tertentu.

 Menentukan besar dan arah tegangan-tegangan utama.

 Untuk memplot tegangan geser (t) pada Lingkaran Mohr,


gunakan konvensi tanda (+) & (-) yang hanya valid untuk
keperluan presentasi grafis.
 Tegangan geser (t) diplot (+) jika tegangan tersebut akan
memutar elemen berlawanan putaran jarum jam.
 Tegangan geser (t) diplot (-) jika tegangan tsb akan
memutar elemen searah putaran jarum jam.
8
Lingkaran Mohr-2
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

 t diplot positif jika memutar elemen berlawanan


dengan arah putaran jarum jam & sebaliknya
 Tentukan nilai dan arah sn & t yang bekerja pada
bidang C
 Tentukan besar & arah s1 & s3
 Perhatikan bidang C:
 Normalnya bersudut 30O counter clockwise dari arah
bekerjanya sx (sumbu x), atau bersudut 30O counter
clockwise dari bidang tempat sx bekerja (Bidang A)
 s3 = 4 MPa, bekerja pada bidang yang normalnya
bersudut 108.5o counter-clockwise dari bidang tempat
bekerjanya sx (bidang A)

sy = 18 MPa

4 cm
sx = 36 MPa
sx = 36 MPa 8 cm
txy = 12 MPa

sy = 18 MPa tyx = 12 MPa


9
Tegangan Utama-1
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Bidang utama (principal plane) adalah bidang


dimana tidak terdapat tegangan geser.

• Pada bidang ini hanya bekerja tegangan normal


yang merupakan tegangan utama (principal
stress), sedangkan normal dari bidang tersebut
merupakan arah dari sumbu utama (principal
axis).

• Karena ada tiga rujukan arah maka akan


terdapat juga tiga sumbu utama.

• Maka, ada 3 tegangan utama & 3 sumbu


utama yang harus ditentukan untuk
menggambarkan kondisi tegangan di sebuah
titik.
10
Tegangan Utama-2
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Bidang ABC mempunyai orientasi sedemikian rupa sehingga resultan tegangan yang bekerja
padanya hanya tegangan normal sp.
t x   x 
 t   σ  
• Komponen-komponen traksi pada bidang ABC adalah:  y p  y
 t z   z 

 Komponen2 traksi dengan kondisi tegangan & orientasi bidang: t x  s x t xy t zx  x 


t   t sy

t yz y 
 y   xy
 Dengan mengurangkan kedua persamaan di atas, diperoleh: t z  t zx t yz s z  z 

s x t xy t zx  x   x  σ x  σp t xy tzx   x 
 
  
t yz y   s p y   t xy σ y  σp t yz   y   0
t xy sy
 tzx
t zx t yz σ z  σp   z 
 t yz s z  z  z  

 Persamaan matriks ini menunjukkan satu set dari tiga persamaan simultan yang homogen dalam x, y,
dan z.
 Persamaan tsb mempunyai solusi non-trivial jika determinan dari matriks koefisien = 0, yang
menghasilkan persamaan pangkat tiga.
11
Tegangan Utama-3
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

s3p - I1 s2p + I2 sp - I3 = 0

I1 = sx + sy + sz
I2 = sxsy + sysz + szsx – (t2xy + t2yz + t2zx)
I3 = sxsysz + 2 txytyztzx – (sxt2yz + syt2zx + szt2xy)

I1 = Invariant tegangan (Stress invariant) pertama


I2 = Invariant tegangan (Stress invariant) kedua
I3 = Invariant tegangan (Stress invariant) ketiga

Setiap tegangan utama akan berhubungan dengan sumbu utama, yang cosinus
arahnya (x,y,z) dapat dicari langsung dari persamaan matriks.
Sifat dasar dari cosinus arah, yaitu: 2x + 2y + 2z = 1

σ1  σ 2  σ 3  σ x  σ y  σ z 12
Tegangan Utama-4
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Menurut Brady & Brown (1993) cosinus arahnya untuk setiap tegangan
utama si (i =1,2,3) adalah:

A σ y  σi t yz
 xi  A
A 2
B C
2

2 12 t yz σ z  σi

t xy t yz
B B
 yi  t zx σ z  σi
A 2
B C
2

2 12

t xy σ y  σi
C
C t zx t yz
 zi 
A 2
B C
2

2 12

13
Eigen Value & Eigen Vector
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

sx = 7.825 MPa txy = 1.422 MPa

sy = 6.308 MPa tyz = 0.012 MPa

sz = 7.866 MPa tzx = -1.857 MPa

Tegangan si (MPa) DD Dip

s1 41,4 323,38 28,93

s2 18,0 62,18 15,47

s3 3,1 356,86 30,35

Contoh σKE (MPa) DD Dip

AE-01 32,24 329 0


AE-02 17,50 59 5
AE-03 12,81 239 85
AE-04 31,98 282 32
AE-05 12,65 107 39
AE-06 31,45 11 39 14
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Regangan Uji Kuat Tekan Batuan Utuh


Parameter Penting Pada Kurva Tegangan

15
s 
s 1  s 3  s c  3 m i  1
0.5
Kriteria Runtuh Linear & Non Linear
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

 sc 
' 
 s  Jikatan   μ,maka 2c cos  2c cos 
s 1'  s 3 '  s ci  3 m b  s  sc  st 
 s ci  σ c 1  Sin 

1 - sin  1  sin 
Non Linear Failure Criterion σ t 1  Sin 
σc  σt
1  sin  
Untukμ  1,  45 0 ,makaσ c  8 σ t s1  sc  s 3  
 1  sin  

16
Permasalahan Dalam Geomekanika
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Hudson, 2012)

• Leopold Muller (1962): “We do not know the rock mass strength, and that is why we need an
International Society”, yet we still have problems estimating the rock mass strength
• Ralph Peck (Peck 1997): Nature did not follow standards in creating the mass of rock or soil
in question. A defect or a field condition potentially fatal to the performance of the project
may exist that escapes the standard investigation. Experience leading to judgment is the
best defense against the consequences of such a possibility, and the course of action
leading to an appropriate solution will differ amongst individuals of different experience.
That is, judgment is an essential ingredient in geo-engineering, and it cannot be
standardized.
• Pemahaman dalam mekanika batuan yang belum tuntas:
 Geologi – karakteristik massa batuan
 Tegangan in-situ
 Karakteristik batuan utuh
 Rekahan dan perekahan
 Aliran air
 Permodelan: numerik dan fisik
 Perancangan
• Isu utama dalam geomekanika – ketidakpastian – analisa risiko
Risiko Inherent - Risiko Residual - Kontrol
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Eliminasi Rekayasa Administrasi

Hazard Karyawan

Risiko Inherent
Monitor and review
Substitusi Isolasi PPE

Establish the context


Kontrol
Identify risks
Communicate and consult

Analyse risks

Evaluate risks
Assess risks

Treat risks

Tingkat Risiko = Dampak x Probabilitas


Risiko18
(AS/NZ4360)
Residual
18
Kriteria Dampak & Probabilitas
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Skala Probabilistik Skala Dampak

Indikator 1 2 3 4 5
Tingkat (sangat tinggi) (tinggi) (medium) (rendah) (sangat rendah)
Probabilitas

Almost Certain =
A Signifikan Signifikan Tinggi Tinggi Medium
Banyak kejadian
(sangat tinggi) 1 3 6 10 15
per tahun

Likely = satu atau


B Signifikan Signifikan Tinggi Medium Rendah
dua kejadian per
(tinggi) 2 5 9 14 19
tahun

Possible = satu
C Signifikan Tinggi Medium Rendah Rendah
kejadian dalam 25
(medium) 4 8 13 18 22
% LOM

Unlikely = satu
D Tinggi Tinggi Medium Rendah Rendah
kejadian dalam
(rendah) 7 12 17 21 24
75% LOM

Rare = hampir
E Tinggi Medium Rendah Rendah Rendah
tidak terjadi
(sangat rendah) 11 16 20 23 25
selama LOM

1-6: Risiki Signifikan - Stop aktivitas, segera lakukan koreksi perbaikan, hanya mulai aktivitas ketika kontrol sudah siap
7-15: Risiko Medium – Lakukan koreksi/pencegahan secepatnya, tindakan kontrol secepatnya di kaji ulang 19
18-25: Risiko Rendah – Lakukan koreksi/pencegahan saat diperlukan
Klasifikasi Geologi Batuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Basalt Schist

Batu Lempung

Monzonite Gneiss

Batu pasir kasar

Gabro Batu pasir hijau Quartzite

Proses pembentukan
Proses pembentukan Proses pembentukan
batuan beku
batuan sediment batuan metamorphic
Risiko Geomekanika
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Kondisi geologi yang tak terduga merupakan faktor serius dalam penentuan biaya dan
waktu. Dana yang terlibat dalam hal klaim asuransi dari masalah geomekanika sangat besar.

• Penyelidikan geomekanika lapangan yang terbatas bisa merupakan faktor kontribusi


terbesar dalam risiko geomekanika.

• Lubang bor vertikal (tradisional) boleh jadi tidak cukup untuk mendefinisikan kondisi
geologi suatu lapangan sehingga lubang bor horizontal dan terowongan percobaan bisa
menjadi alternatif.

• Penggunaan konsultan ahli geomekanika (certified) dapat mengurangi risiko geomekanika.

• Persiapan material kontrak adalah sangat penting dan perlu mencakup Geotechnical
Baseline Report dan Risk Sharing Packages.

21
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Sumber Ketidakpastian Dalam Rekayasa Batuan

Einstein & Baecher (1982 & 1983)

 Spatial variabilitas Steffen et.al., 2008


Faktor Lereng Sumber Ketidakpastian
 Ketidakpastian akibat pengukuran:
Topografi,
 Gangguan contoh Geometri Geologi/Struktur
Air tanah
 Kesalahan random
Kekuatan
 Kesalahan bias Karakteristik Deformasi
Konduktivitas hidraulik
 Fluktuasi statistik Tegangan in-situ
Beban/Gaya Peledakan
 Ketidakpastian model Gempa bumi
Dugaan
 Penghapusan Longsor
Kehandalan model

22
Spatial Variabilitas
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

The foundation of all concepts is simple, un-


sophisticated and experience.
Personal experience is everything … and logical
consistency is not final
D.T. Suzuki – Former Professor Philosophy, Otani
University, Kyoto, Japan

Core disking
23
23
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Terbuka

24
Rossette Hasil Survei
Scanline Pada Tambang
Contoh Plot Stereonet &
Peluang Ketidakpastian Akibat Pengukuran
Geologi & Massa Batuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Orientasi kekar
Lingkaran mewakili
lereng
• Jarak kekar
a. Kelongsoran busur, pola
struktur random
Puncak lereng
• Kondisi kekar
Puncak lereng

Lingkaran mewakili
lereng
Arah longsor lereng

Lingkaran mewakili
b. Kelongsoran bidang , terdapat adanya
Bidang berhubungan terhadap
struktur seperti perlapisan
(ISRM, 1981) pusat konstrasi kutub
Puncak lereng
Lingkaran mewakili
lereng

Arah longsor lereng

Lingkaran mewakili
c. Kelongsoran baji, pola Bidang berhubungan terhadap
struktur berpotongan pusat konstrasi kutub

(Hoek & Bray, 1981)


Puncak lereng

Lingkaran mewakili
lereng

Lingkaran mewakili
d. Kelongsoran guling, pola Bidang berhubungan terhadap
struktur memiliki kemiringan pusat konstrasi kutub
hampir tegak
(Barton & Choubey, 1977)
Peluang Ketidakpastian Akibat Deteriorasi
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Saptono, 2012)

23 February 2010

4 February 2010

8 March 2010
26
Peluang Ketidakpastian Akibat Pengujian Sifat
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Fisik Laboratorium Geomekanika


Laboratorium Geomekanika & Peralatan Tambang – Institut Teknologi Bandung

27
Peluang Ketidakpastian Akibat Uji
Kuat Tekan Uniaksial – UCS
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Laboratorium Geomekanika & Peralatan Tambang – Institut Teknologi Bandung

Spherical seat
& Steel platen

Load cell

Steel platen

3A-28
Efek Skala Pada UCS Batuan Utuh
Hoek & Brown (1980)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

s Ukuran meningkat – UCS menurun

D = 10 D = 15
D=5
L/D=2.5 L/D=2.5
L/D=2.5

UCS MPa
600
Kramadibrata (1993) BASALTMAFIC
500 PORPHYRY
GMD-U8 Ore
400 GMD-U8 MULLOCK

300

200

100

Kramadibrata (1993) 0
0 25 50 75 100 125 150 175
Diameter mm 3A-29
Kekuatan Jangka Panjang Massa Batuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Dwinagara, 2007)

Lapangan Permodelan Laboratorium

Extensometer dan Goodman Jack Tegangan insitu Sifat mekanik


Data masukan Sifat Fisik
Konvergenmeter (Hartami, 2005)

U, t Em Permodelan penggalian , m,S,h,e E, , σci, c, , σLT


bertahap

Analisis

Kurva rayapan (εVs t ) Tegangan (σθ) dan perpindahan

Persamaan reologi Justifikasi tegangan σcm = σci sa


s1 s1 s1 s1 σθ = σ1
e1 (t )    e ( E1t / 3h1 )  t
E2 E1 E1 3h2
εm = σcm : Em

E1, E2, η1, η2

σ cm
σ LT  ELT 
e1 (t ) 
s1 Em
1    1,8
E (t )
3E1 E2h2
ELT sLT= ELT x εm
E (t ) 
3E1h2  3E2h2  3E2h2e  ( E1t / 3h1 )  E1E2t

Kekuatan Jangka Panjang Massa Batuan = σLT


30
Peluang Ketidakpastian Akibat Uji Kuat Tarik Tak Langsung
(UTS) – Brazilian Test
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

2F • st = Indirect Tensile Strength, MPa


σt  • D = Diameter, mm
πDt
• F = Load, N
• t = Thickness, mm
• UTS << UCS
• UCS/UTS = Toughness Ratio = Brittleness Index
• BI menaik kinerja rock cutting menjadi baik

Top Jig Brazilian

Tensile force Crack D Tensile force

Bottom Jig Brazilian 31


Skematik Diagram Uji Triaksial
Diagram skematik
pressure intensifier servo
controlled
Laboratorium Geomekanika & Peralatan Tambang – Institut Teknologi Bandung
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Prinsip kerja confining


pressure generator

Kriteria Failure Hoek & Brown dan Ekivalen Mohr-Coulomb (TX-Konvensional)

80

70

60

50

s1 (MPa)
40

30

20

TXHB - KONV
10
TXMC - KONV

0
-6 -4 -2 0 2 4 6 8
s3 (MPa)
3210
Peluang Ketidakpastian
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

UCS Karena Anisotropik

b = 38o

(Donath, 1972 & Mc Lamore – Gray 1967)

(Ramamurthy dkk, 1993)

33
Peluang Ketidakpastian Akibat
Uji Geser Langsung Batuan Utuh
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Laboratorium Geomekanika & Peralatan Tambang – Institut Teknologi Bandung

34
Peluang Ketidakpastian Akibat Penentuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

C&

Kulatilake dkk (1995), faktor penentu t kekar tanpa material pengisi:


 Tegangan normal
 Kekasaran (Joint Roughness Coefficient=JRC) & ukuran kekar
 Derajat pelapukan
 Kekuatan bidang lemah (Joint Compressive Strength=JCS)
 Kelembaban & tekanan air.

W
kuat geser puncak

Tegangan geser - t
(a) (b)

kuat geser sisa

35
Perpindahan - u
Efek Skala Pada Kuat Geser Batuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Bandis dkk, 1981

Dia Contoh 54 mm - Kondisi Jenuh

Dia Contoh 54 mm - Kondisi Alamiah

3B-36
Penurunan Kuat Geser Jangka Panjang
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Peneliti Jenis Batuan tLT (%)

Kramadibrata & Kushardanto (2002) Batu Lempung (PT. BA) 40

Xu, dkk (2004) Batu Granit (China) 91

Kramadibrata, dkk (2007) Batu Lumpur (PT. KPC) 57

Gosfenry A. (2008) Batu Lumpur (PT. BA) 64

Tonny L Baskari (2008) Batu Lempung (PT. Berau Coal) 46

Adrianus Rizqi (2009) Batu Pasir (PT. Adaro) 66

37
Ketidakpastian Model Numerik & Model Analitik
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

FOSA < FOSB however POFB > POFA

A B

38
38
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Penggalian
Ketidakpastian

39
Grafik Penentuan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Klasifikasi Batuan Untuk Kemampuberaian


Pemberaian
(Franklin, Broch & Walton, 1971)

40
UCS (MPa) Material Kemampuberaian
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

>200 Basalt, granite -

Panduan
Kuartzit, limestone
100 – 200 -
siliseus

Kemampuberaian 20 – 100 Gneiss, limestone


- 50 MPa dengan
surface miner
Menurut UCS Sandstone, shale,
(Schroder & Trumper, 1993) 5 – 20
marble, claystone
Dengan Compact BWE

Mudah diberai dengan


Salt, chalk, batuan
<5 hampir semua
unkonsolidated
ekskavator

Excavatability
Index vs. RMR
(Kramadibrata, 1996)

41
Penentuan Kinerja Tipikal
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Surface Miner
Kramadibrata (1996)

[RCI] = 0.23 + 141 [REI]

[REI] = [RMF] [BI]-1


sc
BI   Brittlenes sIndex
st

[RMF ]   Rock Mass Factor
sc
N
[RCI]   Rock Cuttability Index
Ls c Power & Height vs Time BL160CM1

700 6
600 5
500 4
Power (kW)

Height (m)
400 3
300 2

200 1
100 0
0 -1
0 10 20 30 40 50 60 70
42
Time (s)
Penentuan Kinerja Surface Miner Wirtgen-2200
Kramadibrata, Simangunsong, Widodo, Wattimena, Tanjung, Wicaksana (2015)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

350

300

250

Produksi (m3/jam)
200

150
Lapangan
100 Dey & Ghoose
Kramadibrata
50
Gehring
0
10 12 14 16 18 20 22 24
UCS (MPa)

43
Parameter Perencanaan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Geometri Jenjang

7:1

6:1

5:1
Stripping Ratio

4:1

3:1

2:1

1:1 Legenda jenjang

0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9

Kadar Bijih (% Cu)


44
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Tembaga & Emas


Desain Tambang Terbuka

45
Isu Kemantapan Lereng
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

 Rancangan Lereng: kemantapan lereng - K3L vs. keuntungan


 Ahli Geomekanik:
 Kompeten/terlatih/terampil secara teknikal, praktek & analitik
 Menghasilkan data
 Menghasilkan informasi
 Memberikan pengetahuan untuk pengambilan keputusan
 Ketidakpastian (uncertainty) nilai data parameter geoteknik lereng karena sifat
alamiah dan faktor luar
• Menghasilkan pemahaman kualitatif (geologi & geologi struktur) faktor-faktor
pentingnya untuk sebuah lereng dan probabilitas atau peluang terjadinya kelongsoran
• Safety Factor (FK) masih dianggap sebagai sebuah indikator penentuan kemantapan
lereng tetapi tidak bisa menjawab risiko potensi kelongsoran lereng
• Maka perlu melakukan perhitungan probabilitas sebuah kelongsoran lereng sangt
lebih berarti daripada menghasilkan sebuah angka FK yang menyatakan aman
 Risk = f (probabilitas x dampak)
Dampak Kelongsoran Lereng
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

 Pergerakan masa material longsor


 Biaya recovery
 Pembersihan sisa longsoran & remediasi lereng untuk mencegah erosi dan
longsoran tmbahan
 Memperbaiki jalan transport & pembukaan kembali jalan masuk
 Kecelakaan dan atau fataliti
 Dampak lingkungan - Total Suspended Solid (TSS) & pH
 Kerusakan AAB dan atau infrastruktur
 Gangguan produksi - cash flow & penalti kontrak penjulan
 Status darurat (force majeure)
 Industrial action
 Eksternal isu
Kelongsoran Lereng
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Longsoran
bidang

Longsoran baji
Wedge failure

Longsoran busur

48
Cakupan Asesmen Kelongsoran Lereng
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Penyelidikan Pengujian
Lapangan Laboratorium
Normal
Log Normal
Beta
Gamma

Distribusi Data

Risk Assessment
Normal
Distribusi c, . 
Nilai Representatif &
Simpangan

Data Geoteknik
Risk Management
Representatif

Topografi

Probabilitas - Dampak
Geometri
Risiko Terkontrol

Risiko Terizinkan
Dimensi

Model Perhitungan
Perhitungan FK

Geometri &
Perubahan
Kestabilan Lereng

Dimensi
FK
Probabilitas
Kelongsoran
(Rausand, 2005)
Probabilitas Kelongsoran
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Suatu pendekatan yang mempertimbangkan seluruh variasi yang ada pada parameter masukan yang
menghasilkan nilai FK tertentu.

• Bahwa nilai seluruh parameter masukan acak tersebut memiliki peluang yang sama dalam
menghasilkan FK tertentu akibat adanya ketidakpastian dari seluruh parameter masukan.

• Cara ini lebih merepresentasikan nilai variasi alami yang dimiliki masing-masing parameter
masukan

• Klasifikasi dampak kelongsoran pada lereng tambang terbuka:


 Kelongsoran Lereng Keseluruhan (Global Failure): Longsor yang dapat membahayakan keselamatan pekerja dan keberlangsungan
tambang. Longsor ini memerlukan waktu rehabilitasi cukup lama, mengganggu jadual produksi dan pemenuhan kontrak penjualan.

 Kelongsoran Multi Jenjang (Inter-ramp Failure): Longsor yang terjadi pada lebih dari 1 jenjang, dan kadangkala merusak jalan
angkutan ke tambang.

 Kelongsoran Tunggal/jenjang (Bench Failure): Kelongsoran lereng hanya mempengaruhi operasi produksi di sekitar jenjang yang
longsor

50
Kategori Lereng Dampak FKmin FKmin PKmax

Kriteria Batas FK & PK Stacey (2009) Longsor (Statik) (Dinamik) P(FK<1)


Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Tunggal/
Rendah-Tinggi 1,1 NA 25-50%
Bench

PK (%) Deskripsi – SRK (2006) Rendah 1,15-1,2 1,0 25%


Multi Bench
Sedang 1,2 1,0 20%
Lereng kritis dimana kelongsoran mungkin mempengaruhi (Interramp)
<5
operasi produksi & keselamatan tambang Tinggi 1,2-1,3 1,1 10%
Kelongsoran lereng memiliki dampak yang cukup besar Rendah 1,2-1,3 1,0 15-20%
<15
terhadap biaya & keselamatan
Keseluruhan
Sedang 1,3 1,05 5-10%
Kelongsoran lereng memiliki dampak yang relatif sangat kecil (Overall)
<30
terhadap biaya dan keselamatan Tinggi 1,5 1,1 ≤5%

PK (%) – Priest & Brown (1983)


Dampak FK
Longsor Rata2
Densitas Probabilitas

Min Maks

Tidak serius 1,3 10 20


Cukup serius 1,6 5 10
Sangat serius 2,0 0,3 5

Frekuensi Lereng Longsor


PK (%)
Kirsten (1983)
50-100 Bukti lereng longsor umum
Jumlah lereng tidak stabil cukup
20-50
besar
PK
10-20 Bukti ketidakstabilan cukup besar
(%)
5-10 Bukti lereng tidak stabil beberapa
Tidak ada bukti cukup lereng tidak
1,5-5
stabil
0,5-1,5 Tidak ada bukti lereng tidak stabil
<0,5 Lereng stabil
51
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Metode Monte Carlo


• Algoritma komputasi untuk mensimulasikan berbagai perilaku sistem fisika dan matematika.
• Algoritma ini perlu perhitungan pengulangan (repetisi) dan amat kompleks, maka simulasi metode ini
dilakukan menggunakan komputer, dan memakai berbagai teknik simulasi komputer.
• Algoritma Monte Carlo adalah metode Monte Carlo numerik yang digunakan untuk menemukan solusi problem
matematis (yang dapat terdiri dari banyak variabel) yang susah dipecahkan, misalnya dengan kalkulus integral,
atau metode numerik lainnya.
• Penggunaannya memerlukan sejumlah besar bilangan acak, dan hal tersebut semakin mudah dengan
perkembangan pembangkit bilangan pseudo acak, yang jauh lebih cepat dan praktis dibandingkan dengan
metode sebelumnya yang menggunakan tabel bilangan acak untuk sampling statistik.
• Tahapan simulasi Monte Carlo:
 Memilih suatu fungsi distribusi asumsi yang memenuhi nilai dari variabel acak.
 Menghitung nilai FK menggunakan fungsi distribusi asumsi yang diperoleh dari langkah pertama.
 Mengulang langkah 1 dan 2, dan menyimpan hasil perhitungan tsb dari setiap perhitungan.
 Menggunakan nilai FK hasil perhitungan tsb dari simulasi Monte Carlo untuk menduga; Probabilitas
kelongsoran (PK), nilai rata-rata & varians, dan grafik PDF/CDF dari histogram.
• Simulasi ini menggunakan suatu urutan nilai acak yang berbeda dan menghasilkan; probabilitas, rata-rata,
varians, dan histogram. Karena jumlah percobaan bertambah, maka perbedaan-perbedaan tersebut akan
menjadi lebih kecil.
52
,
Penentuan Parameter Kriteria Hoek & Brown (2002)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

mi parameter fitting kurva yang diperoleh dari hasil uji triaksial


 GSI 100 
  batuan utuh.
 28 14 D 
mb  mi e mb parameter reduksi mi, yang menghitung pengaruh
penurunan kekuatan dari kondisi massa batuan yang
 GSI 100 
  didefenisikan oleh GSI

se  9 3 D 
s dan a: Konstanta Massa Batuan
1
 
2 6
e
1 GSI /15  20 / 3
e  D: Faktor ketergangguan massa batuan akibat peledakan
D = 0,7 (Good Blasting)
D = 1,0 (Poor Blasting)

Hoek, E. Practical Rock Engineering


Perhitungan Kohesi & Sudut Gesek Dalam Massa
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Batuan Menurut Kriteria Hoek & Brown

s ci [(1  2 ) s  (1   )mbs 3' n ](s  mbs 3' n ) 1


c 
'

(1   )(2   ) 1  (6mb ( s  mbs 3' n ) 1 /(1   )(2   )

 6mb ( s  mbs 3' n ) 1 


  sin 
' 1
'  1 
 2(1   )( 2   )  6mb ( s  m s
b 3n ) 
Keterangan:

C` = Kohesi efektif; ` = Sudut gesek dalam efektif

s1` & s3` = Tegangan efektif maksimum & minimum pada saat longsor

mb = Konstanta massa batuan Hoek-Brown; s dan  : Konstanta

sci : Kuat tekan UCS batuan utuh

s’3n = s’3max/sci

Untuk perhitungan c dan :

Kondisi puncak gunakan asumsi D=0,

Kondisi residual menggunakan asumsi D=1.


Geological Strength Index (GSI)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Hoek, 1994, Hoek, Kaiser & Bawden, 1995 & Hoek, Carter & Diederichs, 2013)

• GSI merupakan salah satu metode karakterisasi massa


batuan yang dikembangkan dalam rekayasa mekanika
batuan, selain rock mass rating (RMR), mining rock mass
rating (MRMR), rock mass strength (RMS), slope rock
mass rating (SRMS), slope mass rating (SMR).
• Nilai GSI diperoleh dari persamaan empirik hubungan
GSI sebagai fungsi RMR89 (Hoek & Brown, 1997):

GSI  RMR(76) (RMR  23 )


GSI  RMR(89) - 5 (RMR  23 )
RQD
GSI  2 Jcond(76) 
2
RQD
GSI  1,5 Jcond(89)  r 2  0,95
2
 Jr 
52 
GSI   Ja   RQD r 2  0,88
 Jr  2
 1  
 Ja 
Dengan bobot air tanah dibuat 15 dan 55
Adjustment untuk Joint Orientation = 0
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Variasi Nilai GSI Untuk Berbagai Massa Batuan

56
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Definisi Joint Condition - Bieniawski

sangat kasar, tdk agak kasar. agak kasar. Slicken-sided /tebal Gouge lunak tebal
menerus, tdk ada pemisahan < 1 pemisahan < 1 gouge < 5 mm, atau > 5 mm, atau
Kondisi kekar
pemisahan, dinding mm, dinding mm, dinding pemisahan 1-5 mm, pemisahan > 5
batu tdk lapuk agak lapuk sangat lapuk menerus mm, menerus
Bobot Bieniawski (1976) 25 20 12 6 0
Bobot Bieniawski (1989) 30 25 20 10 0

Bobot Bieniawski (1989)


Discontinuity length (persistance) -
<1m 1–3m 3 – 10 m 10 – 20 m > 20 m
Kemenerusan

Rating 6 4 2 1 0

Separation (aperture) – Pemisahan none < 0.1 mm 0.1 – 1.0 mm 1 – 5 mm > 5 mm

Rating 6 5 4 1 0

Roughness – Kekasaran Very rough Rough Slightly rough Smooth Slickensided

Rating 6 5 3 1 0

Infilling (gouge) – Isian none Hard filling < 5mm Hard filling > 5 mm Soft filling < 5mm Soft filling > 5mm

Rating 6 4 2 2 1

Weathering – Pelapukan Unweathered Slightly weathered Moderately weathered Highly weathered Decomposed

Rating 6 5 3 1 0

57
Menduga Joint Alteration Factor (JA)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• "It is often more important to characterize discontinuities according to


surface character as it is to note their scale parameters." Tor L. Brekke
and Terry R. Howard (1972)

• Alterasi kekar merupakan parameter kolektif kekuatan:


 rupa muka dinding kekar

 jenis & tipe isian kekar

 tebal isi kekar

 apakah kekar bersih dari isian atau terisi padat

58
Joint Alteration Number (JA)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Ja r

(a) Rock wall contact

A. Tightly healed, hard, nonsoftening, impermeable filling, i.e., quartz or epidote 0.75

B. Unaltered joint walls, surface staining only 1 25-35o

C. Slightly altered joint walls. Non-softening mineral

coatings, sandy particles, clay-free disintegrated rock, etc. 2 25-30o

D. Silty or sandy clay coatings, small clay fraction (non-softening) 3 20-25o

E. Softening or low-friction clay mineral coatings, i.e., kaolinite, mica. Also chlorite, talc, gypsum,

& graphite, etc., & small quantities of swelling clays (discontinuous coatings, 1-2 mm or less in thickness) 4 8-16o

(b) Rock wall contact before 10 cm shear

F. Sandy particles, clay-free disintegrate rock etc. 4 25-30o

G. Strongly over-consolidated, non-softening clay mineral fillings (continuous, < 5 mm in thickness) 6 16-24o

H. Medium or low over-consolidation, softening, clay mineral fillings (continuous,< 5 mm in thickness) 8 12-16o

J. Swelling clay fillings, i.e., monmorilonite (continuous, < 5 mm in thickness). Value of Ja depends on

percentage of swelling clay sized particles, and acces to water, etc.

8 6-12o

(c) No rock wall contact when sheared

K. Zones or bands of disintegrated or crushed rock & clay (see G., H., J., for description of clay condition) 6-8 or 16-24o

8-12

L. Zones or bands of silty or sandy clay, small clay fraction (nonsoftening) 5.0

M. Thick, continuous zones or bands of clay (see G., H., J., for description of clay condition) 10-13 or

13-20 6-24o

Note : Values of r are intended as an approximate guide to the mineralogcal properties of the alteration products.

59
Definisi Jr
Barton
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(1974)

Joint Roughness Number (Jr)


(a) Rock wall contact and

(b) Rock wall contact before 10 cm shear 1.0


A. Discontinuous joint 4.0

B. Rough or irregular, undulating 3.0

C. Smooth, undulating 2.0

D. Slickensided, undulating 1.5


E. Rough or irregular, planar 1.5 .
F. Smooth, planar 1.0

G. Slickensided planar 0.5

Descriptions B - G refer to small - scale features &


intermediate
to prevent rock wall contact scale features in that order. b
– nominal
(b) Add 1.0 if the mean spacing of the relevant joint set is
greater than 3 m
Jr = 0.5 can be used for planar slickensided joints the
lineations are favorable oriented
60
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

7/24/2019
(Azizi, 2014)
Fungsi Distribusi Padat Probabilitas

61
Distribusi Nilai UCS
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Azizi, 2014)

UCS (MPa)

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00


0.00

50.00

100.00

150.00
Depth (m)

200.00

250.00

300.00

350.00

400.00

62
450.00
Distribusi UCS – GSI – C & 
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

(Azizi, 2014)
Batubara Batu Pasir
0.4
BB_ucs data 0.6 BP_ucs data
Batu Lumpur
Distribusi Gamma Distribusi Gamma
0.35
0.5

0.3
UCS - Gamma UCS - Gamma 0.35 BL_ucs data
Densitas Probabilitas

Distribusi Gamma

Densitas Probabilitas
0.4
0.25 0.3

0.2 0.3 0.25


UCS - Gamma

Densitas Probabilitas
0.15
0.2 0.2

0.1
0.15
0.1
0.05
0.1
0 0
1 2 3 4 5 6 7 8 0 1 2 3 4 5
UCS (MPa) UCS (MPa) 0.05

0
0 1 2 3 4 5 6
0.09 UCS (MPa)
BB_gsi data 0.1 BP_gsi data
0.08 Distribusi Normal
Distribusi Normal
0.09
0.07 GSI 0.08 0.07

Normal GSI BL_gsi data


Densitas Probabilitas

0.06 Densitas Probabilitas 0.07


0.06 Distribusi Normal
0.05 0.06 Normal
0.04
0.05 0.05 GSI

Densitas Probabilitas
0.03
0.04

0.03
0.04 Normal
0.02
0.02 0.03
0.01
0.01
0.02
0 0
25 30 35 40 45 52 54 56 58 60 62 64 66
GSI GSI 0.01

0
30 35 40 45 50 55 60 65
GSI

Batu Lumpur Batu Lumpur Batu Lumpur


12 BL_phi_peak data BL_phi_res data
18 BL_c_res data 0.045 0.07
BL_c_peak data Distribusi Normal Distribusi Gamma
Distribusi Lognormal
Distribusi Lognormal 16 0.04
10 0.06
14 0.035
r Gamma
Densitas Probabilitas

Densitas Probabilitas
0.05
Densitas Probabilitas

Densitas Probabilitas

Cp Lognormal
12
Cr Lognormal 0.03

0.04
10 0.025

p Normal
6
8 0.02 0.03

4 6 0.015
0.02
4 0.01
2 0.01
2 0.005

0 0 0 0
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 0.14 0.16 0.18 0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 5 10 15 20 25 30
Kohesi (Puncak - MPa) Kohesi (Residual - MPa) Sudut Gesek Dalam (Puncak - Derajat) Sudut Gesek Dalam (Residual - Derajat)
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Distribusi UCS & Bobot Isi O/B Batubara

64
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Software Slide
Analisa FK dengan

65
Grafik FK Berdasarkan Keseimbangan Batas Menurut Kriteria Mohr-Coulomb vs. Hoek
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

& Brown untuk Lereng Tunggal Batupasir Berlapis


(Saptono, 2012)

4.0

Kriteria Mohr - Coulomb


3.5
Kriteria Hoek & Brown

3.0
Faktor Kemanan

2.5 H = 12 m

2.0

H = 16 m
1.5

H = 24 m
1.0

0.5
25 30 35 40 45 50 55 60 65
Sudut Lereng (o)
Klasifikasi RMR Untuk Model
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Tambang Tembaga Terbuka

Klasifikasi RMR di permukaan pit (Aug 2017) Klasifikasi RMR pada penampang N-S
Definisi Geometri & FK Lereng
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Puncak lereng

Tinggi Puncak lereng


lereng
tunggal
(h)
Sudut lereng tunggal
Kaki lereng b Jalan tambang
Lereng tunggal

Tinggi
lereng
keseluruhan
(H) Jalan tambang

Jalan tambang

Jenjang penahan

Kaki lereng  Sudut lereng keseluruhan Lereng


Jenjang penahan
Lereng keseluruhan

Sudut antar jalan lereng


Jalan tambang

Geometri Kondisi Material Normal Kondisi Material Jenuh


Kondisi Lereng
Tinggi (m) Sudut (0) FK(deterministik) FK(rerata) FK(deterministik) FK(rerata)

Sekarang 195 40 1.88 1.96 1.01 1.06

Desain Ulang 195 35 2.04 2.11 1.20 1.22

Desain Ulang = merubah jenjang lereng


Longsoran Terkontrol di Tambang Tambang Terbuka
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Pemantauan Perpindahan Massa Batuan


(Adriansyah, 2011)
 Tanggal Kelongsoran: Tahap-1 24 Volume : 102,353 m3
April & berlanjut berpropagasi 10
Mei 2011
 Lokasi: P5 – SE mulai dari elevasi
60 mRL hingga -135 mRL
 Dimensi Kelongsoran: ~ 80 m lebar
x 195 m tinggi
 Awal Kelongsoran: Berasosiasi
dengan kombinasi kondisi massa
batuan buruk dan geologi struktur –
sangat terkekarkan.

Stage-1
Stage-2
Slope Stability Radar (SSR) and Robotic Theodolith

Pemantauan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

Perpindahan Lereng
Wireline
Extensometer

Robotic
Prism
Theodolite

Robotic scan area

70
Catatan Akhir
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019

• Indonesia terbukti memiliki potensi geologi dan tambang besar kelas dunia
• Operasi tambang perlu ahli geomekanik yang memiliki pengetahuan komprehensif,
gabungan berbagai disiplin dan mampu menduga perilaku batuan di alam sehingga
memerlukan pemikiran vertikal dan horizontal
• Teori distribusi tegangan, prinsip mekanika khususnya batuan, aljabar linear (matriks
& determinan), statistik probabilitas, sifat konstitutif batuan dan prinsip kriteria
keruntuhan batuan harus dimengerti dan hafal
• Sejarah sebagai pengalaman untuk diagnosa dan menduga kedepan
• Pengetahuan geologi penting untuk mampu baca perilaku batuan dan sebuah angka
tidak berarti jika tidak disertai justifikasi “risiko”
• Kerjasama Tim di sebuah institusi, wilayah lokal, wilayah regional dan diseluruh
Indonesia sangat penting dalam upaya mengurangi kecelakaan lingkungan dan fatal
• Pemantauan baik secara manual dan dengan bantuan peralatan sangat diperlukan
Training Geoteknik Tambang Terbuka_Novandri Kusuma Wardana_22 – 25 Juli 2019