Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU BEDAH LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER 2018


UNIVERSITAS PATTIMURA

HEMOTORAKS SINISTRA DAN FRAKTUR TERTUTUP


TIBIA KOMPLIT 1/3 SINISTRA

Oleh:
Vika A. Leiwakabessy, S.Ked

Pembimbing :
dr. Wijaya Johanes Chendra, Sp.OT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas
bimbingan-Nya dapat diselesaikan referat yang berjudul ” Hemotoraks sinistra +Fraktur tertutup
tibia komplit 1/3 sinitra”, dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu
Bedah.
Penulis menyadari akan kekurangan dalam pembuatan referat ini, oleh karena itu segala

kritik dan saran yang membangun penulis perlukan untuk kesempurnaan referat ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua yang turut membantu dalam

penyelesaian tugas ini terutama kepada dokter pembimbing yang sangat membantu dalam

membimbing pembuatan referat ini. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Ambon, September 2018

Penulis

Vika Arilia, S.Ked

2|
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 3

BAB I LAPORAN KASUS ................................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. FRAKTUR
1. Defenisi ................................................................................................................... 10
2. Anatomi.................................................................................................................... 11
3. Etiologi ................................................................................................................... 12
4. Patofisiologi ............................................................................................................. 12
5. Manifestasi klinik..................................................................................................... 14
6. Klasifikasi ................................................................................................................ 15
7. Pemeriksaan penunjang .......................................................................................... 16
8. Diagnosis ................................................................................................................. 17
9. Penatalaksanaan ...................................................................................................... 17
10. Komplikasi ............................................................................................................... 18
11. Prognosis ................................................................................................................. 19

B. HEMOTHORAX ..................................................................................................... 20

BAB III DISKUSI................................................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 24

3|
BAB I
LAPORAN KASUS

I. Identitas
Nama : Tn. KL
Umur : 18 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Farmasi atas
Tgl.MRS : 09 Agustus 2018
Pukul : 15.30 WIT
Pengantar : keluarga
Agama : Kristen Protestan
No.RM : 13-57-38
II. Primary Survey
A. : Bebas tanpa kontrol servikal
B. : Spontan. RR: 32X/Menit, SPO2 89%
C. : TD: 110/80mmHg, nadi : 74x/menit, suhu : 36,5°C
D. : E4V5M6
E. : nyeri dada kiri (+), nyeri kaki kiri (+)
III. Secondary Survey
Anamnesis
Keluhan utama : Sesak
Pasien datang dengan keluhan sesak nafas setelah kecelakaan lalu lintas ± 30 menit SMRS.
sesak dirasakan terus-menerus setelah kecelakaan. Pasien juga merasakan sakit kepala, pusing
dan lemas, mual (-) dan muntah (-). Pasien juga mengalami nyeri pada dada kiri dan nyeri pada
kaki kiri. Pasien mengaku dapat menggerakan kaki kiri dan merasakan sentuhan pada kaki kiri.
Pasien mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi, pasien menabrak mobil dari depan
dan pasien terlempar kearah depan, kepala pasien terbentur bemper mobil dan badan pasien
terbentur aspal.
A. (Allergy) :-
B. (Medication) :

4|
C. (Past Illness) :-
D. (Last Meal) :-
E. (Event/Environment) : Jalan Raya

IV. Pemeriksaan Fisik


GCS : E4V5M6
Kepala : Normochepal
Mata : anemia -/-, refleks pupil +/+
THT : otore -/-, rhinore -/-
Leher : KGB (-), jejas (-), nyeri tekan (-)
Dada : NT (+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung : BJ 1&2 reguler
Paru : Bunyi nafas vesikuler, menurun pada hemitoraks sinitra
Abdomen : BU (+), nyeri tekan (-)
Genitalia : tidak diperiksa
Esktremitas :
Kanan : akrar hangat, CRT < 2detik, nyeri tekan (-)
Kiri : Jejas (+) pada cruris, edema (+) pada cruris, nyeri tekan (+) pada
cruris sinistra, CRT < 2detik
V. Diagnosis kerja : Hemotoraks sinistra + Fraktur tertutup Tibia komplit 1/3 sinitra
VI. Diagnosis Banding :-
VII. Pemeriksaan Penunjang :
- foto rontgen toraks AP
- Foto rontgen cruris sinistra AP/lateral
- pemeriksaan Darah rutin
VIII. Planning
- Pemasangan Chest Tube
- pemasangan oksigen 6 liter
- Imobilisasi dengan spalk
- infus NaCL 0,9% 20 tpm
- Inj ceftriaxone 2x1 gr amp
- Inj ketorolac 2x15 amp/IV
5|
- Ranitidin 2x50mg amp/IV

Hasil Pemeriksaan Penunjang


Foto rontgen

Gambar 1. Toraks Anterior Posterior Gambar 2. Cruris Anterior-Posterior &


Lateral

Hasil Pmeriksaan Lab


Darah Rutin

- Haemoglobin : 12,1 g/dl  normal


- Hematokrit : 35,6%  normal
- Trombosit : 295 x 103/mm3  normal
- Leukosit : 22 x 103/mm3  meningkat
- Neutrofil : 79,8%  meningkat
- Limfosit : 6.6%  menurun

6|
FOLLOW UP

Tanggal S O A P

09/08/2018  Nyeri pada  Tekanan Hemotoraks  Pemasangan


kepala darah: 110/80 Chest tube
sinistra dan
 Nyeri pada dada mmHg  Nacl 0,9% 20
 Sesak  Nadi: fraktur tertutup tpm
 Nyeri pada kaki 141x/menit tibia komplit 1/3  Oksigen 6
kiri  Respiratori liter/menit
rate: sinistra  Cefriakson 2x1
34x/menit gram
 SpO2: 91%  Ketorolac
 Suhu: 36.0 0C 2x15 mg
 Ranitidine 2x
50 mg
 Imobilisasi
dengan spalk
10/08/2018  Nyeri pada dada  Tekanan Hemotoraks  Chest tube
 Sesak darah 120/80
sinistra dan
terpasang
 Nyeri pada kaki  Nadi:  Nacl 0,9% 20
kiri 100x/menit fraktur tertutup tpm
 Respiratori tibia komplit 1/3  Oksigen 6
rate: liter/menit
27x/menit sinistra  Cefriakson 2x1
 SpO2: 93% gram
 Suhu: 36,5 0C  Ketorolac
2x15 mg
 Ranitidine 2x
50 mg

11/08/2018  Nyeri pada dada  Tekanan Hemotoraks  Chest tube


 Sesak darah 120/80
sinistra dan
terpasang
 Nyeri pada kaki  Nadi:  Nacl 0,9% 20
kiri 95x/menit fraktur tertutup tpm
 Respiratori tibia komplit 1/3  Oksigen 6
rate: liter/menit
22x/menit sinistra  Cefriakson 2x1
 SpO2: 93% gram
 Suhu: 36,5 0C  Ketorolac
2x15 mg
 Ranitidine 2x
50 mg
7|
12/08/2018  Nyeri pada dada  Tekanan Hemotoraks  Chest tube
 Sesak darah 120/80
sinistra dan
terpasang
 Nyeri pada kaki  Nadi:  Nacl 0,9% 20
kiri 80x/menit fraktur tertutup tpm
 Respiratori tibia komplit 1/3  Oksigen 6
rate: liter/menit
21x/menit sinistra  Cefriakson 2x1
 SpO2: 95% gram
 Suhu: 37 0C  Ketorolac
2x15 mg
 Ranitidine 2x
50 mg

13/08/2018  Nyeri pada dada  Tekanan Hemotoraks  Chest tube


berkurang darah 120/80 terpasang
sinistra dan
 Sesak  Nadi:  Nacl 0,9% 20
 Nyeri pada kaki 89x/menit fraktur tertutup tpm
kiri  Respiratori tibia komplit 1/3  Oksigen 6
rate: liter/menit
20x/menit sinistra  Cefriakson 2x1
 SpO2: 95% gram
 Suhu: 36,5 0C  Ketorolac
2x15 mg
 Ranitidine 2x
50 mg

14/08/2018  Nyeri dada  Tekanan Hemotoraks  Nacl 0,9% 20


berkurang darah 120/80 tpm
sinistra dan
 Sesak berkurang  Nadi:  Cefriakson 2x1
 Nyeri pada kaki 100x/menit fraktur tertutup gram
berkurang  Respiratori tibia komplit 1/3  Ketorolac
rate: 2x15 mg
27x/menit sinistra  Ranitidine 2x
 SpO2: 96% 50 mg
 Suhu: 37 0C  WSD sudah
dilepas

8|
Hemotoraks
 Nyeri pada dada  Tekanan
15/08/2018 sinistra dan Pasien pulang
teratatasi darah 120/80
 Tidak sesak lagi  Nadi: fraktur tertutup
 Nyeri pada kaki 100x/menit tibia komplit 1/3
berkurang sekali  Respiratori
rate: sinistra
27x/menit
 SpO2: 95%

9|
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. FRAKTUR

1. Defenisi

Fraktur adalah suatu patahan atau hilangnya kontinuitas jaringan tulang, tulang
rawan epifisis atau tulang rawan sendi baik yang bersifat total maupun yang parsial.2
Sedangkan Fraktur Tibia adalah fraktur yang terjadi pada bagian tibia sebelah kanan maupun
kiri akibat pukulan benda keras atau jatuh yang bertumpu pada kaki.8

2. Anatomi

secara garis besar struktur tulang dibagi menjadi enam yaitu :

10 |
1) Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula ulna, dan humerulus. Daerah
batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifissis disebut
metafisis. Didaerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit karena
daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh
darah.
2) Tulang pendek (short bone) misalnya tulang-tulang karpal
3) Tulang pipih (flet bone), misal tulang iga, skapula, dan pelvis.
4) Tulang tak beraturan misalnya tulang vertebra.
5) Tulang sesamoid, misal tulang patela.
6) Tulang sutura ada di atap tengkorak

Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot
menyusun kurang lebih 50%. Struktur tulang-tulang memberi perlindungan terhadap organ
vital termasuk otak, jantung dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk
meyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak.
Tulang tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan
terletak medial dari fibula atau tulang betis.1

3. Etiologi

Penyebab fraktur secara umum disebabkan karena pukulan secara langsung, gaya
meremuk, dan bahkan kontraksi otot eksterm. Penyebab terjadinya fraktur yang diketahui
adalah sebagai berikut .3

1) Trauma langsung ( direct )

Fraktur yang disebabkan oleh adanya benturan langsung pada jaringan tulang seperti pada
kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan benturan benda keras oleh kekuatan
langsung.

2) Trauma tidak langsung ( indirect )

Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih disebabkan oleh
adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot , contohnya seperti pada

11 |
olahragawan atau pesenam yang menggunakan hanya satu tangannya untuk menumpu
beban badannya

3) Trauma pathologis

Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteomielitis, osteosarkoma,


osteomalacia, cushing syndrome, komplikasi kortison / ACTH, osteogenesis imperfecta
(gangguan congenital yang mempengaruhi pembentukan osteoblast). Terjadi karena
struktur tulang yang lemah dan mudah patah.

a. Osteoporosis terjadi karena kecepatan reabsobsi tulang melebihi kecepatan


pembentukan tulang, sehingga akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh dan dapat
mengalami patah tulang.

b. Osteomilitis merupakan infeksi tulang dan sum-sum tulang yang disebabkan oleh
bakteri piogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus ditempat lain dan beredar
melalui sirkulasi darah.

c. Ostheoartritis itu disebabkan oleh rusak atau menipisnya bantalan sendi dan tulang
rawan

4. Patofisiologi

Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan seseorang mempunyai


keterbatasan gerak dan ketidakseimbangan berat badan. Fraktur yang terjadi dapat berupa
fraktur terbuka atau tertutup. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak
sekitarnya sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai kerusakan jaringan lunak seperti
otot, tendon, legamen, dan pembuluh darah.4

Tekanan yang kuat atau berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat
menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka
terbuka dan akan menyebabkan peradangan dan memungkinkan terjadi infeksi.

Proses pemulihan fraktur menurut Muttaqin, (2017) meliputi:

1. Fase inflamasi

12 |
Fase inflamasi terjadi segera setalah luka dan berakhir 3-4 hari, dua proses utama yang
terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan fagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan)
terjadi akibat fase kontriksi pembuluh darah besar didaerah luka. Bekuan darah dibentuk
oleh trombosit yang menyiapkan matriksfibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan
sel. Fagositosis merupakan perpindahan sel, leokosit ke daerah interestisial. Tempat ini di
tempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama kurang lebih 24 jam setelah cedera.
Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan ujung
epitel diakhir pembuluh darah akan mempercepat proses penyembuhan. Fase inflamasi
juga memerlukan pembuluh darah dan respons seluler yang digunakan untuk mengangkat
benda - benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa
bahan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan hingga pada akhirnya daerah luka
tampak merah dan sedikit bengkak.

2. Fase polifrasi sel

Fase polifrasi yaitu sel-sel berpolifrasi dari lapisan dalam periosteum sekitar lokasi fraktur
sel-sel ini menjadi osteoblast, sel ini aktif tumbuh kearah frakmen tulang dan juga terjadi
di jaringan sumsum tulang. Fase ini terjadi setelah hari ke-2 paska fraktur.

3. Fase pembentukan kallus

Pada fase ini osteoblas membentuk tulang lunak (kallus), Tempat osteoblas diduduki oleh
matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam-garam kalsium
pembentuk suatu tulang yang imatur. Jika terlihat massa kallus pada X-ray maka fraktur
telah menyatu. Pada fase ini terjadi setelah 6-10 hari setelah fraktur.

4. Fase konsolidasi

Pada fase ini kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu
secara bertahap menjadi tulang mature. Fase ini terjadi pada minggu ke-3-10 setelah
fraktur.

5. Fase remodeling

13 |
Pada fase remodeling ini perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan
osteoblastik pada tulang serta kallus eksterna secara perlahan-lanan menghilang. Kallus
inter mediet berubah menjadi tulang yang kompak dan kallus bagian bagian dalam akan
mengalami peronggaan untuk membentuk sumsum. Pada fase remodeling ini dimulai dari
minggu ke 8-12 dan berahir sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur.

5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi deformitas, pemendekan


ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna.4,5

14 |
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyartai fraktur merupakan bentuk bidai alami yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar frekmen tulang.
2. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot
yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu
sama lain.
3. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus
yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. ( uji krepitus dapat
menyebabkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat ).
4. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau
hari setelah cedera

5. Klasifikasi

Secara klinis, fraktur dibagi menjadi :3

a. Fraktur tertutup
Fraktur yang tidak meluas dan tidak menyebabkan robekan pada kulit.
b. Fraktur terbuka
Fragmen tulang meluas melewati otot dan adanya perlukaan di kulit yang terbagi
menjadi 3 derajat, seperti pada tabel 1 dibawah ini :

DERAJAT LUKA FRAKTUR

I Laserasi <1cm Sederhana, dislokasi fragmen


minimal

II laserasi >1cm , kontusi otot Dislokasi fragmen jelas


disekitarnya

15 |
III Luka hebat, rusak hebat atau Fragmen tulang ada yang
hilangnya jaringan hilang
disekitarnya

Tabel 1. Derajat Fraktur terbuka

c. Komplit Fraktur

pada fraktur ini garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang.8 Patahan fraktur yang dilihat secara radiologi dapat
membantu untuk memprediksi tindakan yang harus dilakukan setelah melakukan
reduksi. sedangkan pada oblik atau spiral (gambar 1c) lebih cenderung memendek
dan terjadi pergeseran meskipun tulang telah dibidai. Fraktur segmental (gambar
1b) membagi tulang menjadi 3 bagian. Pada fraktur impaksi fragmen menumpuk
saling tumpang tindih dan garis fraktur tidak jelas. Pada raktur kominutif terdapat
lebih dari dua fragmen, karena kurang menyatunya permukaan fraktur yang
membuat tidak stabil.3,

d. Inkomplit Fraktur

Pada fraktur ini, garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.8 Pada
fraktur buckle, bagian yang mengalami fraktur hampir tidak terlihat (gambar 1d).
Pada fraktur greenstick (gambar 1e dan 1f), tulang melengkung atau bengkok
seperti ranting yang retak. Hal ini dapat terlihat pada anak‒anak, yang tulangnya
lebih elastis daripada orang dewasa. 3,8

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang fraktur menurut Doenges : 6

a) Pemeriksaan Rontgen

Menentukan luas atau lokasi minimal 2 gambaran, anteroposterior (AP) dan Lateral.

b) CT Scan tulang, MRI

Untuk melihat dengan jelas daerah yang mengalami kerusakan.


16 |
c) Pemeriksaan Laboratorium
 Hemoglobin (Hb)  laki-laki 14-18 g/dL, perempuan 12-16 g/Dl
 Hematokrit (Ht)   laki-laki 40,7 % - 50,3 %, perempuan 36,1 % - 44,3 %
 Leukosit  4.000 – 10.000 sel/ul darah
 Eritrosit   laki-laki 4,7 – 6,1 juta sel/ul darah , perempuan 4,2 – 5,4 juta
sel/ul darah
 Trombosit  150.000 – 400.000 sel/ul darah
 LED  laki-laki 0 – 15 mm/jam, perempuan 0 -20 mm/jam

7. Diagnosis

Gejala fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang
yang patah, deformitas, krepitasi, gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri, putusnya
kontinuitas tulang, dan gangguan neurovaskuler 1,3,4,5.

Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. riwayat cedera atau fraktur
sebelumnya, pekerjaan, obat-obatan yang dikonsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat
osteoporosis serta penyakit lain.1,4,5

Pada pemeriksaan fisik dilakukan tiga hal penting, yakni inspeksi / look : deformitas
(angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan), warna kulit, tanda peradangan dan tekstur kulit
bengkak. Palpasi / feel : nyeri tekan, krepitasi, status neurologis dan vaskuler di bagian
distalnya perlu diperiksa untuk menguji sensasi. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas
tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah daerah yang cedera.
Pemeriksaan gerakan / moving untuk menilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan
sendi, menimbulkan sakit disertai krepitasi.4,5

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain laboratorium meliputi darah rutin,
1,3
faktor pembekuan darah, dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi. Pemeriksaan

17 |
radiologis untuk lokasi fraktur : dua gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral, memuat
dua sendi di proksimal dan distal fraktur, memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu
ekstremitas yang cedera dan yang tidak terkena cedera (pada anak) yaitu sebelum tindakan
dan sesudah tindakan4,5

8. Penatalaksanaan

Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi


semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang
(imobilisasi). Pada anak-anak reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan
sempurna seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan remodeling. 1,3,6,7

1. Recognition : diagnosa dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan menilai
primary survei,anamnesis, pemeriksaan klinis dan radiologi. Pada awal pengobatan
perlu diperhatikan : lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai untuk
pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi selama pengobatan.
2. Reduction : tujuannya untuk mengembalikan panjang dan kesegarisan tulang. Dapat
dicapai dengan manipulasi tertutup/reduksi terbuka progresi. Reduksi tertutup terdiri
dari penggunaan traksimoval untuk menarik fraktur kemudian memanipulasi untuk
mengembalikan kesegarisan normal1,2,4
Reduksi terbuka diindikasikan jika reduksi tertutup gagal/tidak memuaskan. Reduksi
terbuka merupakan alat frusasi internal yang digunakan itu mempertahankan dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid. Reduction interna fixation (ORIF)
yaitu dengan pembedahan terbuka dan mengimobilisasi fraktur yang berfungsi untuk
memasukkan skrup/pen kedalam fraktur, yang berfungsi untuk menfiksasi bagian-
bagian tulang yang fraktur secara bersamaan.
3. Retention, imobilisasi fraktur tujuannya mencegah pergeseran fragmen dan mencegah
pergerakan yang dapat mengancam union. Untuk mempertahankan reduksi
(ekstremitas yang mengalami fraktur) adalah dengan traksi. Traksi merupakan salah
satu pengobatan dengan cara menarik bagian tulang-tulang sebagai kekuatan dengan

18 |
kontrol dan tahanan beban keduanya untuk menyokong tulang dengan tujuan mencegah
reposisi deformitas, mengurangi fraktur dan dislokasi, mempertahankan ligamen
tubuh/mengurangi spasme otot, mengurangi nyeri, mempertahankan anatomi tubuh dan
mengimobilisasi area fraktur. Ada 2 pemasangan traksi yaitu : skin traksi dan skeletal
traksi.
4. Rehabilitation, mengembalikan aktiftas fungsional seoptimal mungkin

9. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi akibat fraktur menurut Mutaqin (2014) yaitu : 7

 Sindrom kompartemen. Merupakan suatu keadaan peningkatan takanan yang


berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempa
 Infeksi, Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya
terjadi pada kasus fraktur terbuka
 Delayed union. Adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan
untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah. Hal ini juga
merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan
tulang untuk menyambung. Hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun.
 Non-union adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan
konsilidasi.
 Mal-union adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat
deformitas yang berbentuk anggulasi, vagus/valgus, rotasi, pemendekan

10. Prognosis
Prognosis dari fraktur tibia untuk kehidupan adalah bonam. Pada sisi fungsi
bergantung pada kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke perfoma semula,
namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, terapi yang dipilih, dan
bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan.3

19 |
B. HEMOTHORAX

Hemotoraks adalah adanya darah pada rongga pleura, sumber perdarahan berasal
dari dinding toraks, parenkim paru, jantung, dan pembuluh darah besar. biasanya
disebabkan akibat trauma tumpul ataupun trauma tembus.11
Secara anatomi rongga pleura terbagi atas dua yaitu pleura parietal dan visceralis,
perdarahan pada rongga pleura dapat terjadi akibat cedera intrapleura atau ekstrapleura.
Yang dimaksud dengan intrapleura ialah perdarahan dari intratoraks biasanya oleh
pembuluh darah besar maupun jantung seperti, aorta, cabang arteri brachiocephalic,
arteri pulmoner, vena cava superior, vena brachiocephalic, vena cava inferior, vena
azygos, dan vena pulmoner. Pada cedera intrapleura merupakan penyebab dari
hemotoraks massif (≥ 1500 L), sedangkan ekstrapleura ialah ialah perdarahan yang
berasal dari dinding toraks seperti arteri intercostal dan arteri mammary internal.12

Berdasarkan penyebab hemotoraks dapat dibagi menjadi :13

 Hemotoraks spontan, Oleh karena : primer (ruptur , sekunder (infeksi keganasan),

 Hematoraks yang didapat, Oleh karena: barotrauma, trauma. Penyebab paling


umum dari hemothorax adalah trauma dada.Trauma misalnya :

 Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding dada

20 |
 Trauma tumpul dada

Tujuan utama terapi dari hemothoraks adalah untuk menstabilkan hemodinamik


pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara dari rongga
pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan hemodinamik adalah dengan resusitasi
seperti diberikan oksigenasi, cairan infus, transfusi darah, dilanjutkan pemberian
analgetik dan antibiotik.14

Langkah selanjutnya untuk penatalaksanaan pasien dengan hemothoraks adalah


mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat dilakukan dengan cara :15

 Chest tube (Tube thoracostomy drainage) : tube thoracostomy drainage merupakan


terapi utama untuk pasien dengan hemothoraks. Insersi chest tube melalui dinding
dada untuk drainase darah dan udara. Pemasangannya selama beberapa hari untuk
mengembangkan paru ke ukuran normal.

 Indikasi untuk pemasangan thoraks tube antara lain:


 Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

 Perdarahan di rongga dada (hemothorax)


 Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax or
hemothorax)

 Thoracotomy : merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi rongga dada


ketika hemothoraks massif atau terjadi perdarahan persisten. Thoracotomy juga
dilakukan ketika hemothoraks parah dan chest tube sendiri tidak dapat mengontrol
perdarahan sehingga operasi (thoracotomy) diperlukan untuk menghentikan
perdarahan. Perdarahan persisten atau berkelanjutan yang segera memerlukan
tindakan operasi untuk menghentikan sumber perdarahan di antaranya seperti
ruptur aorta pada trauma berat.

21 |
BAB III

DISKUSI KASUS

Pasien Laki-laki inisial KL usia 18 tahun masuk RS Setelah mengalami


kecelakaan lalu lintas ± 30 menit SMRS. sesak dirasakan terus-menerus setelah
kecelakaan. Pasien juga merasakan sakit kepala, pusing dan lemas, mual (-) dan muntah
(-). Pasien juga mengalami nyeri pada dada kiri dan nyeri pada kaki kiri. Pasien mengaku
dapat menggerakan kaki kiri dan merasakan sentuhan pada kaki kiri. Pasien mengendarai
sepeda motor dengan kecepatan tinggi, pasien menabrak mobil dari depan dan pasien
terlempar kearah depan, kepala pasien terbentur bemper mobil dan badan pasien terbentur
aspal.

Berdasarkan dari anamnesis Diagnosis hemotoraks pada kasus ini berdasarkan


gejala klinis berupa sesak dan nyeri dada yang dialami setelah mengalami kecelakaan
sepeda motor yang membuat tubuh pasien, terkhususnya toraks yang berbenturan dengan
jalan setelah terlempar kearah depan, disertai patah tulang kering (tibia), pada
pemeriksaan fisik ditemukan pergerakan otot-otot pernapasan, pergerakan dada asimetris
dan jejas pada kaki kiri, nyeri tekan pada dada kiri dan kaki kiri, sakit pada dada sebelah
kiri, hasil perkusi redup pada dada kiri bunyi nafas yang berbeda antara dada kiri dan
kanan. Ditunjang dengan foto rontgen pada toraks dan cruris yang telah menunjukan
22 |
adanya cairan pada rongga pleura sinitra, darah dan fraktur tibia 1/3 sinistra. Telah
dilakukan pemasangan chest tube dan immobilisasi dengan gips serta terapi farmakologi
yang adekuat.

Untuk penatalaksanaannya terbagi dua yaitu untuk hemotoraks dan fraktur tibia.
Untuk hemotoraks sendiri penatalaksanaanya ialah dengan pemasangan chest tube
(ukuran besar 36 atau 40 French). Langkah pemasangan chest tube merupakan tindakan
definitif yang harus dilakukan. Sedangkan Untuk fraktur tertutup inkomplit tibia 1/3
sinistra maka tindakan definitif utama ialah imobilisasi. Imobilisasi fraktur bertujuan
untuk melurukan ekstremitas yang cedera kembali ke posisi se-anatomis mungkin dan
mencegah gerakan yang berlebihan pada daerah fraktur atau mencegah kerusakan lebih
lanjut. Prinsip imobilisasi sebagai berikut :

a) Periksa ABCDE dan terapi keadaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu
b) Buka pakaian seluruhnya termasuk ekstremitas. Lepaskan jam, cincin, kalung dan
semua yang menjepit. Cegah hipotermi
c) Periksa keadaan neurovascular sebelum memasang gips. Periksa pulsasi, perdarahan
eksternal yang harus dihentikan, dan periksa sensorik dan motoric ekstremitas.
d) Pilih jenis dan ukuran gips (LLC) yang sesuai dengan ekstremitas yang trauma. gips
harus mencakup sendi diatas (lutut) dan dibawah (ankle) ekstremitas yang mengalami
trauma
e) Gips dipasang pada ekstremitas yang sudah lurus
f) Konsul ke dokter ortopedi
Pada kasus ini langkah tersebut telah dilakukan tetapi yang diawali dengan
imobilisasi fraktur tibia dan masalah hemotoraks ditangani dengan pemasangan oksigen
yang membantu pasien untuk stabil sehingga keesokan harinya dikonsul untuk
pemasangan chest tube oleh dokter bedah. Pada kasus ini, pasien menolak untuk tindakan
operasi walaupun sudah dikonsulkan pada dokter ortopedi.

23 |
DAFTAR PUSTAKA

1. Helmi ZN. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika. 2016. p41155
2. Bucholz RW, Heckman JD, Court-Brown CM. Rockwood & Green's Fractures in Adults,
6th Edition. USA: Maryland Composition. 2016. p80-331
3. Sjamsuhidayat, de Jong. BUKU AJAR ILMU BEDAH EDISI 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG. p959-1083
4. Salter RB. Textbook Disorders and Injuries of The Muskuloskeletal System Third Edition.
USA: Lippincott Williams and Wilkins. 2014. p417-498
5. Nayagam S. Principles of Fractures. Dalam: Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley’s
System of Orthopaedics and Fractures Ninth Edition. London: Hodder Education. 2014.
p687-73
6. Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG, Pollock RE. Orthopaedics.
Dalam: Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG, Pollock RE.
Schwartz's Principle of Surgery. The McGraw-Hill Companies: USA. 2014.
7. Klingensmith ME, Chen LE, Glasgow SC, Goers, TA, Melby SJ. Dalam: Klingensmith
ME, Chen LE, Glasgow SC, Goers, TA, Melby SJ. Washington Manual of Surgery, The
5th Edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 2018. p578-597
8. Kumpulan kuliah Ilmu Bedah FKUI oleh staf pengajar bgaian Ilmu Bedah FKUI
9. Ipley’s System Of Orthopaedics and Fracture, 9th edition. 2010
10. Advanced Trauma Life Support student course Manual Ninth edition. 2012

24 |
11. May J, Ades A. Porous diaphragm syndrome: haemothorax secondary to haemoperitoneum
following laparoscopic hysterectomy. BMJ Case Rep. 2014 Dec 5. 2014.
12. [Guideline] Tissue plasminogen activator in traumatic hemothorax. Department of Surgical
Education, Orlando Regional Medical Center. Available
at http://www.surgicalcriticalcare.net/Guidelines/tissue_plasminogen_activator.pdf.
March 4, 2008; Accessed: December 12, 2016.
13. Mosby Inc. Elsevier Chapter 26. Thoracic Trauma. 2014
14. Gopinath N, Invited Arcticle “Thoracic Trauma”, Indian Journal of Thoracic and
Cardiovascular Surgery Vol. 20, Number 3, 144-148.
15. Dave Lloyd, MD. Thoracic Trauma.

www.doh.wa.gov/hsqa/emstrauma/OTEP/thoracictrauma.ppt

25 |