Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ASUHAN KLIEN YANG MENGHADAPI KEHILANGAN DAN KEMATIAN

Laporan Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Nilai Tugas Mata Kuliah
Keterampilan Komunikasi Praktik Kebidanan Program Studi DIII Kebidanan STIKes Yatsi

Disusun oleh :
1.Adriana Meisasail (18115001) 6. Ayu Halimah (18115006)

2.Amdiyah (18115002) 7. Dea Amelia Herdiani (18115007)

3.Apriwiyana (18115003) 8. Devi Oktaviani (18115008)

4.Aulia Fitriani (18115004) 9. Ferdyannanda Arsa P (18115009)

5.Avifah Awaliyah (18115005) 10. Hanyfah Hendrawati (18115010)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) YATSI


TANGERANG
2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
banyak nikmat kepada kita semua. Shalawat serta salam yang tidak pernah padam selalu
tercurahkan kepada suri tauladan yang terbaik sepanjang masa, junjungan kita nabi Muhammad
saw, yang telah menegakkan cahaya kebenaran ditengah bumi ini dan menghapus zaman jahiliyah,
zaman kebodohan. Sang pembawa bentuk kemuliaan dan mukjizat pedoman hidup manusia
sepanjang masa, yaitu Al-Quran.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam
membimbing dan memberikan motivasi tidak terhenti untuk saya penulis. Ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :
 Ibu Ida Farida, S.Kp,M.Kes, selaku Ketua STIKes YATSI
 Ibu Lastri Mei Winarni, M.Keb. Selaku Puket I STIKes YATSI
 Ibu Ella Nurlella, SE. Selaku Puket II STIKes YATSI
 Ibu Ningsih, SE. Selaku Puket III STIKes YATSI dan Dosen Mata Kuliah Kewirausahaan
 Ibu Silfia Nuzulus Sa’idah, S.ST, M.Keb, Selaku Wali kelas Tingkat 1 D3 Kebidanan
 Dr. Kemas Djamaludin, Selaku Dosen Mata Kuliah Anatomi dan Fisiologi
Penulis sadar jika di dalam Karya Ilmiah ini Terdapat banyak kekeliruan, maka penulis
berharap mendapatkan koreksi dan saran dari semua pihak. Tak ada seorang pun yang sempurna di
dunia ini, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Wallahul Muwafiq Illa Aqwamith Thariq
Wassalamualaikum Wr.Wb

Tangerang, 25 Oktober 2018


Penulis,

Kelompok 1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.........................................................................................................ii

Daftar isi..................................................................................................................iii

BAB I Pendahuluan.............................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 4
1.3 Tujuan.................................................................................................. 5
1.3.1 Tujuan Umum...................................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus.................................................................... 5
1.4 Manfaat................................................................................................ 5

BAB II Pembahasan............................................................................................. 6
2.1 Konsep Kehilangan........................................................................... 8
2.2 Konsep Berduka................................................................................ 12
2.3 Dampak Kehilangan......................................................................... 13
2.4 Tindakan Petugas Terhadap Keluarga yang Kehilangan............. 13
2.5 Jenis-jenis Depresi............................................................................. 14
2.6 Tindakan Petugas Saat Menangani Pasien yang Mengalami Sakaratul
Maut.............................................................................................. 15
2.7 Perubahan Tubuh Seseorang yang Meninggal............................... 15

BAB III Penutup................................................................................................. 18


3.1 Kesimpulan.................................................................................. 18
3.2 Saran............................................................................................ 18

Daftar Pustaka..................................................................................................... 1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam siklus kehidupan, setiap individu pasti pernah mengalami perasaan kehilangan dan
berduka. Kehilangan adalah kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan
atau ketidaklengkapan sesuatu yang sebelumnya ada. Contoh amputasi, gangguan fungsi tubuh
dll. Berduka merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan.
Perasaan kehilangan bisa mempengaruhi sikap dan perilaku individu yang
mengalaminya. Kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk berkembang, kadang-kadang
akan timbul regresi, serta merasa takut saat ditinggalkan atau dibiarkan kesepian, kehilangan
dapat juga menimbulkan disintegrasi dalam keluarga, dan menjadi pukulan yg sangat
berat serta menghilangkan semangat hidup individu yg ditinggalkan.
Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka sedikit demi
sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada keinginan untuk mencari
bantuan kepada orang lain. Perawat atau bidan bekerja sama dengan pasien yang mengalami
berbagai tipe kehilangan dan membantu pasien untuk memahami dan menerima kehilangan
dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud konsep kehilangan?
1.2.2 Apa yang dimaksud konsep berduka?
1.2.3 Bagaimana dampak dari kehilangan?
1.2.4 Bagaimana tindakan petugas terhadap keluarga yang kehilangan?
1.2.5 Apa saja jenis-jenis dari depresi?
1.2.6 Bagaimana tindakan petugas saat menangani pasien yang mengalami sakaratul maut?
1.2.7 Bagaiman perubahan tubuh seseorang yang meninggal?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Tujuan Umum
1.3.1.1 Untuk memenuhi tugas SGD
1.3.1.2 Agar mahasiswa kebidanan mampu mengerti dan memahami konsep
kehilangan dan berduka.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Agar mengerti dan memahami konsep dasar kehilangan dan konsep
dasar berduka.
1.3.2.2 Agar mahasiswa kebidanan mengerti dan memahami dampak dari
kehilangan.
1.3.2.3 Agar mengerti dan memahami tindakan petugas terhadap keluarga
yang kehilangan.
1.3.2.4 Agar mengerti dan mampu bagaimana tindakan petugas saat
menangani pasien yang mengalami sakaratul maut.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Untuk mengembangkan wawasan dan kemampuan bagi mahasiswa kebidanan dalam
menyusun makalah secara sistematis. Dapat menerapkan atau mempraktikkan ilmu
pengetahuan yang diperoleh pada masyarakat secara langsung serta menambah
pengetahuan tentang konsep dasar kehilangan dan berduka.
1.4.2 Bagi institusi
Menambah sumber kepustakaan dan dapat digunakan sebagai masukan bagi teman-teman
dan tim penyusun selanjutnya dalam pembuatan makalah
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Kehilangan


2.1.1 Definisi kehilangan
Kehilangan kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan atau ketidaklengkapan
sesuatu yang sebelumnya ada. Contoh amputasi, gangguan fungsi tubuh dll. Rasa
kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama
kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan
mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan
bereaksi terhadap kehilangan.

2.1.2 Bentuk Kehilangan


Adapun bentuk dari kehilangan yaitu:
1. Kehilangan Maturasional
Kehilangan yang diakibatkan oleh tranmisi kehidupan normal untuk pertama kalinya
misal : anak yang mulai berjalan kehilangan citra tubuh semasa bayinya.
2. Kehilangan Situasional
Kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba dalam merespons kejadian eksternal
spesifik misal kematian mendadak dari orang yang dicintai.
2.1.3 Tipe-tipe Kehilangan
1. Kehilangan Nyata
Kehilangan yang dapat diidentifikasi oleh individu atau orang lain contoh : amputasi
dan kehilangan fungsi tubuh.
2. Kehilangan yang dirasakan
Kehilangan yang dapat dirasakan oleh individu, tetapi tidak oleh orang lain misal :
menurunkan harga diri.
2.1.4 Jenis-jenis Kehilangan
1. Kehilangan benda external
Mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi uang, berpindah tempat, dicuri,
atau rusak karena bencana alam.
2. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Bisa diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk
dari latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara
permanen, misalnya berpindah rumah, dirawat di rumah sakit atau berpindah
pekerjaan.
3. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti
Kehilangan yang sangat bermakna atau orang yang sangat berarti adalah salah satu
kehilangan yang sangat membuat stress, misalnya pekerjaan, kepergian anggota
keluarga atau teman dekat, orang yang dipercaya atau binatang peliharaan,
perceraian.
4. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau
psikologis.
5. Kehilangan hidup
Dimana seseorang mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon
pada kegiatan dan orang disekitarnya sampai pada kematian yang sesungguhnya,
misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat atau diri sendiri atau orang yang
hidup sendirian dan sudah menderita penyakit terminal sekian lama dan kematian
merupakan pembebasan dari penderitaan. .
2.1.5 Faktor-faktor Resiko yang Menyertai Kehilangan menurut martocchio:
1. Status sosial ekonomi yang rendah
2. Kesehatan yang buruk
3. Kematian yang tiba-tiba atau sakit yang mendadak
4. Merasa tidak adanya dukungan sosial yang memadai.
5. Kurangnya dukungan dari kepercayaan keagamaan.
6. Kekurangan dukungan dari keluarga atau seseorang yang tidak dpat
mengadapi ekspresi berduka.
7. Kecendrungan yg kuat tentang keteguhan pada seseorang sblum
keatian/kehidupan setelah mati dari seseorang yg sudah mati.
8. Reaksi yg kuat tentang distress, kemarahan dan mencela diri sendiri.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI KEHILANGAN


a. Perkembangan
- Anak- anak.
* Belum mengerti seperti orang dewasa, belum bisa merasakan.
* Belum menghambat perkembangan.
* Bisa mengalami regresi
- Orang Dewasa
Kehilangan membuat orang menjadi mengenang tentang hidup, tujuan hidup,
menyiapkan diri bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari.
b. Keluarga.
Keluarga mempengaruhi respon dan ekspresi kesedihan. Anak terbesar biasanya menunjukan
sikap kuat, tidak menunjukan sikap sedih secara terbuka
c. Faktor Sosial Ekonomi.
Apabila yang meninggal merupakan penanggung jawab ekonomi keluarga, beraati
kehilangan orang yang dicintai sekaligus kehilangan secara ekonomi.Dan hal ini bisa
mengganggu kelangsungan hidup.
d. Pengaruh Kultural.
Kultur mempengaruhi manifestasi fisik dan emosi. Kultur ‘barat’ menganggap kesedihan
adalahsesuatu yang sifatnya pribadi sehingga hanya diutarakan pada keluarga, kesedihan
tidak ditunjukan pada orang lain. Kultur lain menggagap bahwa mengekspresikan kesedihan
harus dengan berteriak dan menangis keras-keras.
e. Agama.
Dengan agama bisa menghibur dan menimbulkan rasa aman. Menyadarkan bahwa kematian
sudah ada dikonsep dasar agama. Tetapi ada juga yang menyalahkan Tuhan akan kematian.
f. Penyebab Kematian
Seseorang yang ditinggal anggota keluarga dengan tiba-tiba akan menyebabkan shock dan
tahapan kehilangan yang lebih lama. Ada yang menganggap bahwa kematian akibat
kecelakaan diasosiasikan dengan kesialan.

2.2 Konsep Berduka


2.2.1 Definisi Berduka
Merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan dengan
berbagai cara yang unik pada masing-masing individu berdasarkan pengalaman
pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan spiritual yang dianutnya. Hal ini terjadi
dalam masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan.
2.2.2 Jenis-jenis Berduka
1. Berduka normal terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal
terhadap kehilangan.
2. Berduka antisipatif, yaitu proses melepaskan diri yang muncul sbelum
kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi.
3. Berduka yang rumit, dialami oleh individu yang sulit untuk maju ke tahap
berikutnya.
4. Berduka tertutup, yaitu kedukaan dengan kehilangan yang tidak dpat diakui
secara terbuka.
2.2.3 Respons Berduka
Respons individu ketika berduka terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap sebagai
berikut.
1. Tahap pengingkaran
Reaksi awal individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya dan
tidak mengerti atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar telah
terjadi.
2. Tahap kemarahan
Pada tahap ini, individu menolak kehilangan.
3. Tahap tawar menawar
Pada tahap ini, terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan.
4. Tahap depresi
Pada tahap ini, pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang
bersikap sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusan, rasa tidak
berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri.
5. Tahap penerimaan
Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi rasa kehilangan.
2.2.4 Tanda dan Gejala Berduka
1. Efek sosial
a. Menarik diri dari lingkungan
b. Isolasi (emosi dan fisik) dari istri, keluarga dan teman.

2.3 Dampak Kehilangan


1. Pada masa anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk
berkembang, kadang-kadang akan timbul regresi, serta merasa takut saat
ditinggalkan atau dibiarkan kesepian.
2. Pada masa remaja atau dewasa muda, kaehilangan dapat menimbulkan
disintegrasi dalam keluarga.
3. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya karena kematian pasangan hidup,
dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat huyidup
individu yang ditinggalkan.

2.4 Tindakan Petugas terhadap Keluarga yang Kehilangan


1. Tindakan pada pasien dengan tahap pengingkaran
- Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
- Menunjukkan sikap menerima dengan ikhlas kemudian mendorong pasien
untuk berbagi rasa.
- Memberikan jawaban yg jujur terhadap pertanyaan pasien tentang sakit,
pengobatan, dan kematian.
2. Tindakan pada Pasien dengan Tahap Kemarahan
Mengizinkan dan mendorong pasien untuk mengungkapkan rasa marahnya secara
verbal tanpa melawanya kembali dengan kemarahan.
3. Tindakan pada pasien dengan tahap tawar menawar
Membantu pasien dalam mengungkapkan rasa bersalah dan takut.
4. Tindakan pada Pasien dengan Tahap Depresi
§ Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut.
§ Membantu pasien mengurangi rasa bersalah.
5. Tindakan pada Pasien dengan Tahap Penerimaan
Membantu pasien menerima kehilangan yg tidak bisa dielakkan.

2.5 Jenis-Jenis Depresi


a. Menurut WHO berdasarkan tingkat penyakit
1. Depresi Psikogenik
Depresi ini terjadi karena pengaruh psiologis individu.
2. Depresi Endogenik
Depresi ini diturunkan biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah psikologis/fisik
tertentu, tetapi bisa juga dicetuskan oleh trauma fisik maupun psikis.
3. Depresi Somatogenik
Pada Depresi ini dianggap bahwa faktor2 jasmani berperan dlm timbulnya depresi.
b. Berdasarkan pada gejala dan tanda-tanda terbagi menjadi
1. Depresi reaktif
Merupakan istilah yang digunakan untuk gangguan mood depresi yang ditandai oleh
apati dan retardasi atau oleh kecemasan dan agtasi.
2. Exhaustion depression.
Merupakan depresi yang ditimbulkan setelah bertahun-bertahun masa laten, akibat
tekanan perasaan yang berlarut-larut, goncangan jiwa yang berturut atau pengalaman
berulang yang menyakitkan.
3. Depresi neurotic.
Asal mulanya adalah konflik-konflik psikologis masa anak-anak (seperti keadaan
perpisahan dengan ibu pada masa bayi, hubungan orang tua anak yang tidak
menyenangkan) yang selama ini disimpan dan membekas dalam jiwa penderita.

2.6 Tindakan Petugas Saat Menangani Pasien yang Mengalami Sakaratul Maut

1.Memberi tahu pada keluarga tentang tindakan yg akan dilakukan.


2.Mendekatkan alat.
3.Memisahkan pasien dgn pasien lain.
4.Mengizinkan keluarga untuk mendampingi pasien tdk boleh ditinggalkan sendiri.
5.Membersihkan pasien dari keringat.
6.Membasahi bibir pasien dgn kassa lembab, bila tampak kering menggunakan pinset.
7.Membantu melayani dalam upacara keagamaan.
8.Mengobservasi tanda2 kehidupan (vital sign) terus menerus.
9.Mencuci tangan.
10.Melakukan dokumentasi tindakan.

2.7 Perubahan pada Tubuh Seseorang yang Meninggal


1. Death Rattle
Death Rattle adalah istilah umum rumah sakit saat pasien yang hendak meninggal mengeluarkan
suara yang mengerikan, namun apa sebab suara ini keluar? Hal ini terjadi setelah
hilangnya refleks batuk dan kehilangan kemampuan untuk menelan.
2. Cheynes-Stokes Respiration
Ini adalalah pola pernapasan yang sangat abnormal ditandai dengan napas yang sangat cepat dan
kemudian periode tidak bernapas (apnea).
Dalam jangka pendek, jantung menjadi lemah dan terlalu banyak bekerja, ini membuat tubuh
hiperventilasi (bernapas normal cepat) dan kemudian, tidak ada energi lebih untuk bernapas untuk
jangka waktu lama (apnea).
3. Defecation
Setelah kematian, setiap otot dalam tubuh manusia akan berhenti untuk menerima energi dalam
bentuk ATP. Akibatnya, perut akan relaks dan buang air besar dapat terjadi.
4. Rigor Mortis
Setelah kematian, tubuh tidak mampu untuk memecahkan ikatan yang
menyebabkan kontraksi - menyebabkan keadaan kontraksi terus-menerus.
5. Livor Mortis
Livor mortis adalah warna ungu-merah yang muncul ketika darah tenggelam kebagian tubuh
tertentu.
6. Algor Mortis
Adalah turunnya temperatur tubuh seiring dengan kematian. Terjadi bila suhu diluar lebih dingin
dari suhu tubuh. Orang yang meninggal di lantai kamar mandi lebih cepat turun suhu tubuhnya
daripada orang yang meninggal di luar, anak kecil lebih cepat turun suhu tubuhnya daripada orang
gemuk. Namun normalnya butuh 24 jam sampai tubuh benar-benar menjadi dingin atau suhu
tubuhnya sama dengan lingkungan sekitar.
7. Tache Noire
Tache Noire, secara harfiah berarti ”titik hitam”, adalah garis cokelat gelap kemerahan yang akan
membentuk horizontal di bola mata. Selama hidup bola mata tetap lembab karena berkedip, tapi
kadang-kadang mereka tidak lagi dilindungi setelah kematian. Oleh karena itu, Tache Noire akan
terjadi pada individu yang kelopak mata tidak tertutup setelah kematian.
8. Purge Fluid
Adalah cairan berwarna merah kecoklatan yang keluar dari mulut dan lubang anus, sering
disalahartikan sebagai cedera otak atau darah biasa. Ini muncul sebagai akibat dari gas yang
terbentuk di seluruh tubuh.
9. Degloving
Setelah kematian kulit akan mengelupas, terutama kulit pada jari-jari dan kuku, gejala ini membuat
kulit mengelupas seperti sarung tangan atau kaos kaki. Hal ini tejadi sebagai akibat dari
pembengkakan gas pada batang, leher dan anggota badan, yang menjadi bengkak sehingga
seseorang dapat mengira mayat itu obesitas. Ketika gas busuk berada di bawah sejumlah besar
tekanan, mereka melepaskan diri dari tubuh dan seluruh masa yang membusuk hancur bersama
jaringan lunak.
10. Maceration
Maserasi berarti “lunak dalam rendaman” dalam bahasa Latin. Hal ini mengacu kepada bayi yang
mati dalam rahim, antara bulan keenam dan bulan kesembilan kehamilan
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kehilangan kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan atau ketidaklengkapan sesuatu
yang sebelumnya ada. Bentuk kehilangan yaitu kehilangan situasional dan kehilangan
maturasional. Jenis-jenis kehilangan yaitu kehilangan benda external, kehilangan lingkungan
yang telah dikenal, kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti, kehilangan aspek diri, dan
kehilangan hidup.
Berduka merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Jenis-jenis berduka ada empat yaitu
berduka normal, berduka antisipatif, berduka yang rumit, dan berduka tertutup. Dampak
kehilangan pada masa anak-anak kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk
berkembang,Pada masa remaja dewasa muda kaehilangan dapat menimbulkan disintegrasi
dalam keluarga, dan Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya karena kematian pasangan
hidup, dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup individu
yang ditinggalkan. Jenis-jenis depresi menurut WHO berdasarkan tingkat penyakit ada tiga
yaitudepresi psikogenik, depresi endogenik, dan depresi somatogenik. Sedangkan berdasarkan
pada gejala dan tanda-tanda terbagi menjadi tiga yaitu depresi reaktif, exhaustion depression,
dandepresi neurotic.
Perubahan pada tubuh seseorang yang meninggal yaitu death rattle, cheynes-stokes respiration,
defecation, rigor mortis, livor mortis, algor mortis, tache noire, purge fluid,degloving,
dan maceration.
3.2 Saran
1. Klien yang mengalami kehilangan dan berduka hendaknya tidak terlalu berlarut-
larut dalam kesedihan karena akan menyebabkan depresi.
2. Dalam menangani klien yang mengalami kehilangan dan berduka, tenaga
kesehatan harusmelakukan tindakan terhadap keluarga yang ditinggalkan dengan cara
menenangkan hati keluarga agar membantu keluarga menerima kehilangan yg tidak bisa
dielakkan.