Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


TN. J DENGAN PENYAKIT NEURITIS OPTIK
DI RT 02/ RW 02 DUSUN ANDONG TAMAN SURUH

Disusun Oleh :
I Ketut Anggas Dwi A. (2016.02.015)
Imam Nur Fauzi (2016.02.016)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


TN. J DENGAN PENYAKIT NEURITIS OPTIK DI RT 02/ RW 02
DUSUN ANDONG TAMAN SURUH

Tanggal: 28 Agustus 2019

Oleh :

Mahasiswa

MAHASISWA MAHASISWA

I KETUT ANGGAS DWI A. IMAM NUR FAUZI

2016.02.015 2016.02.016

PEMBIMBING INSTITUSI

INA INDRIATUL M,SKEP.,MPH


KATA PENGANTAR

Bimillahirrahmanirrohiim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan

Maha Penyayang. Tidak ada ungkapan kata yang pantas sebagai pengantar

melainkan ungkapan syukur Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah ‫ ﷻ‬Subhanahu

wa Ta’ala, Tuhan yang maha mengetahui segala sesuatu, Tuhan yang tidak

pernah mengantuk dan tidak pula tidur, Tuhan yang paling megetahui kondisi

hamba-Nya, Tuhan yang Rahmat-Nya lebih besar daripada Murka-Nya, Tuhan

yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita yang apabila kita

menghitung satu persatu nikmat-Nya, niscaya tidak akan sanggup kita

menghitungnya. Salah satu nikmat tersebut yaitu penulis Allah takdirkan dapat

menyelesaikan tugas Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. J

dengan penyakit neuritis optik di RT 02/ RW 02 Dusun Andong, Taman Suruh.

Shalawat serta keselamatan senantiasa tercurahkan kepada manusia teragung

sepanjang masa yaitu Nabi Muhammad ‫ ﷺ‬Shalallahu ‘alahi wa Sallam, dan

semoga keselamatan senantiasa tercurahkan kepada keluarga beliau, para

Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, serta umatnya yang senantiasa setia hingga

akhir zaman.

Dengan segala ungkapan syukur yang penulis ucapkan maka Laporan

Pendahuluan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Hal demikian tentunya

tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kelancaran dan

dukungan moril dalam pembuatan Laporan Pendahuluan ini. Maka dalam

kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya

atas pengorbanan waktu yang telah diberikan, atas masukan-masukan yang


bermanfaat, atas nasehat dan do’a yang telah tercurahkan, serta atas bimbingan,

pengarahan dan motivasi yang memberikan semangat hingga terselesaikannya

Laporan pendahuluan ini. Ungkapan terimakasih ini ingin penulis sampaikan

kepada yang terhormat :

1. Bapak DR. H. Soekardjo, S.Kep, MM, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Banyuwangi

2. Ibu Anita Dwi Ariani, M.Kep, Ns selaku Kaprodi S1 Keperawatan

STIKES Banyuwangi

3. Bapak Muhammad Al Amin, S. Kep, M. Kes, Ns selaku Dosen mata

kuliah Komunitas yang telah membantu dan membimbing dalam

kegiatan PLKK Komunitas ini.

4. Bapak Achmad Efendi, S.Kep, Ns Dosen mata kuliah Komunitas yang

telah membantu dan membimbing dalam kegiatan PLKK Komunitas ini.

5. Semua teman-teman seperjuangan S1 Keperawatan Angkatan 2016 yang

saling memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

Penulis berusaha untuk dapat menyelesaikan Laporan pendahuluan ini dengan

sebaik-baiknya, adapun penulis sebagai manusia tentunya manusia biasa yang

tidak luput dari kesalahan, maka dari itu penulis mengharapkan adanya kritik dan

saran dari semua pihak untuk kesempurnaan laporan pendahuluan ini.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien asuhan
keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan dalam
menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit.
Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia – sia jika tidak
dilanjutkan oleh keluarga di rumah. Secara empiris dapat dikatakan bahwa
kesehatan anggota keluarga dan kualitas kehidupan keluarga sangat
berhubungan atau sangat signifikan.
Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat,
sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat
mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi
kebutuhan individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi kebutuhan
masyarakat. Dalam pemberian pelayanan kesehatan, perawat harus
memperhatikan nilai – nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat
menerimanya.
Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan
yang diberikan di tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap
memiliki otonomi untuk memutuskan hal – hal yang terkait dengan masalah
kesehatannya. Perawat yang melakukan keperawatan di rumah bertanggung
jawab untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk mencegah penyakit
dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di Indonesia belum ada lembaga
ataupun organisasi perawat yang mengatur pelayanan keperawatan di rumah
secara administratif. Perawatan yang diberikan di rumah khususnya oleh
perawat komunitas masih bersifat sukarela, belum ada aturan terhadap
imbalan atas jasa yang diberikan.
Pengalaman belajar klinik memberikan kemampuan kepada mahasiswa
untuk memperoleh pengalaman nyata asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga yang mengalami masalah kesehatan dengan penerapan berbagai
konsep dan teori keperawatan keluarga serta proses keperawatan sebagai
pendekatan.
Keluarga masih banyak yang belum mengenal masalah, keptusan yang
diambil juga banyak kurang tepat, keluarga belum memahami perawatan
penyakit yang diderita anggota keluarga.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas dapat merumuskan
masalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana saja konsep keluarga ?
1.2.2 Bagaimana saja konsep dasar Neuritis optik ?
1.2.3 Bagaimana saja konsep asuhan keperawatan Neuritis optik?
1.2.4 Bagaimana asuhan keperawatan keluarga Tn.J dengan neuritis optik di
rt 02/ rw 02 Dusun andong taman suruh
1.3 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar klinik mampu
menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga Tn.J dengan neuritis optik
di rt 02/ rw 02 Dusun andong taman suruh
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan belajar klinik mahasiswa mampu :
1) Melakukan pengkajian data yang sesuai dengan masalah kesehatan
keluarga Tn.J dengan neuritis optik di rt 02/ rw 02 Dusun andong taman
suruh.
2) Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah
kesehatan keluarga Tn.J dengan neuritis optik di rt 02/ rw 02 Dusun
andong taman suruh.
3) Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan keluarga
Tn.J dengan neuritis optik di rt 02/ rw 02 Dusun andong taman suruh.
4) Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan pada
keluarga Tn.J dengan neuritis optik di rt 02/ rw 02 Dusun andong
taman suruh.
5) Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan keluarga Tn.J dengan
neuritis optik di rt 02/ rw 02 Dusun andong taman suruh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Keluarga


2.1.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta
sosial dari tiap anggota keluarga ,Duvall dan Logan ( 1986 )
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah
tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka
saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Bailon dan Maglaya
( 1978 )
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Departemen Kesehatan RI ( 1988 )
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1) Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi
2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain
3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing
mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik
4) Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya,
meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.
2.1.2 Struktur Keluarga
1) Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur
ayah
2) Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ibu
3) Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ibu
4) Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami
5) Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga
karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
2.1.3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga
1) Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota
keluarga
2) Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka
juga mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya
masing-masing
3) Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai
peranan dan fungsinya masing-masing.
2.1.4 Macam-Macam Struktur / Tipe / Bentuk Keluarga
1) Tradisional :
a) The nuclear family (keluarga inti) : Keluarga yang terdiri dari suami,
istri dan anak.
b) The dyad family : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa
anak) yang hidup bersama dalam satu rumah
c) Keluarga usila : Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah
tua dengan anak sudah memisahkan diri
d) The childless family : Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah
dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan
karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
e) The extended family (keluarga luas/besar) : Keluarga yang terdiri
dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti
nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek),
keponakan, dll)
f) The single-parent family (keluarga duda/janda) : Keluarga yang
terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi
biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan
(menyalahi hukum pernikahan)
g) Commuter family : Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda,
tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua
yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada
saat akhir pekan (week-end)
h) Multigenerational family : Keluarga dengan beberapa generasi atau
kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah
i) Kin-network family : Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu
rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-
barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi,
televisi, telpon, dll)
j) Blended family : Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang
menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan
sebelumnya
k) The single adult living alone / single-adult family : Keluarga yang
terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau
perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati
2) Non-Tradisional
a) The unmarried teenage mother : Keluarga yang terdiri dari orang tua
(terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
b) The stepparent family : Keluarga dengan orangtua tiri
c) Commune family : Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya)
yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu
rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama,
sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan
anak bersama
d) The nonmarital heterosexual cohabiting family : Keluarga yang
hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
e) Gay and lesbian families : Seseorang yang mempunyai persamaan
sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital
partners)
f) Cohabitating couple : Orang dewasa yang hidup bersama diluar
ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu
g) Group-marriage family : Beberapa orang dewasa yang menggunakan
alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah
satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan
membesarkan anaknya
h) Group network family : Keluarga inti yang dibatasi oleh set
aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling
menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan
bertanggung jawab membesarkan anaknya
i) Foster family : Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya
j) Homeless family : Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai
perlindungan yang permanen karena krisis personal yang
dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan
mental
k) Gang : Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang
muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai
perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam
kehidupannya.
2.1.5 Tahap-Tahap Kehidupan / Perkembangan Keluarga
Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara
unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama
(Rodgers cit Friedman, 199)
1) Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan
perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan (psikologis) keluarga masing-masing :
a) Membina hubungan intim yang memuaskan
b) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok social
c) Mendiskusikan rencana memiliki anak
2) Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan samapi
kelahiran anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30
bulan :
a) Persiapan menjadi orang tua
b) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi,
hubungan sexual dan kegiatan keluarga
c) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan
3) Keluarga dengan anak pra-sekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir
saat anak berusia 5 tahun :
a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman
b) Membantu anak untuk bersosialisasi
c) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan
anak yang lain juga harus terpenuhi
d) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di
luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang
paling repot)
f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
g) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak
4) Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai
jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk :
a) Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan
b) Mempertahankan keintiman pasangan
c) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin
meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan
anggota keluarga
5) Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah
orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan
memberi tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk
mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa :
a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab,
mengingat remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat
otonominya
b) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua.
Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang
keluarga
6) Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap
ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang
belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua :
a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
b) Mempertahankan keintiman pasangan
c) Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki
masa tua
d) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
e) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
7) Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah
dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal :
a) Mempertahankan kesehatan
b) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman
sebaya dan anak-anak
c) Meningkatkan keakraban pasangan
8) Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal damapi
keduanya meninggal :
a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
b) Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman,
kekuatan fisik dan pendapatan
c) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
d) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
e) Melakukan life review (merenungkan hidupnya).
2.2 KONSEP DASAR NEURITIS OPTIK
2.2.1 Definisi Neuritis Optik
Neuritis optik merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan oleh
inflamasi dan demyelinisasi pada nervus optik akibat reaksi autoimun. Pada
neuritis optikus, serabut saraf menjadi bengkak dan tak berfungsi
sebagaimana mestinya. Penglihatan dapat saja normal atau berkurang,
tergantung pada jumlah saraf yang mengalami peradangan.
Sedangkan neuritis vestibularis adalah suatu bentuk penyakit organik
yang terbatas pada apparatus vestibular dan terlokalisir pada perjalanan
saraf ke atas mencakup nuclei vestibular pada batang otak. Pada pasien ini
muncul vertigo dengan spektrum luas disertai sakit kepala yang bermula
dari pandangan gelap sesaat sampai ketidakseimbangan yang kronis, disertai
kelainan tes kalori unilateral maupun bilateral.
Jadi dapat disimpulkan bahwa neuritis adalah gangguan pada sistem
syaraf atau radang pada syaraf yang disebabkan oleh adanya pukulan,
benturan patah tulang dan keracunan atau kekurangan vitamin B.
1.2.2 Etiologi
1) Makanan yang tidak sehat
2) Virus yang menyerang saraf
3) Kecelakaan sehingga mengakibatkan benturan atau luka yang cukup
dalam sehingga menyebabkan adanya gangguan pada syaraf
1.2.3 Manifestasi Klinis
1) Tubuh sering mengalami kesemutan dan kram,
2) Sering mengalami sakit kepala,
3) Daya tahan tubuh menurun drastis,
4) Sering merasa cemas dan gelisah
5) Jika kondisinya sudah sangat parah dapat menyebabkan kemampuan
penglihatan menjadi berkurang
6) Pada beberaa kasus menyabakan mati rasa, lumpuh, dan kesulitan
berjalan.
6.2.2 Pemeriksaan Diagnostik
1) Tes Visus.
2) Pemeriksaan MRI
3) Nistagmus : Tes Romberg yang dipertajam (sharpen Romberg Test)
6.2.3 Penatalaksanaan
Pada pasien riwayat MS atau Neuritis optikus:
1) Dari hasil MRI bila terdapat minuman 1 lesi demieliminasi tipikal
Regimen selama 2 minggu:
a. 3 hari pertama diberikan Metilprednisolon 1kg/hari iv.
b. 11 hari setelahnya dilanjutkan dengan Prednisolon 1mg/kg/hari oral,
c. Tappering off dengan cara 20 mg prednisone oral untuk hari pertama
(hari ke-15 sejak pemberian obat) dan 10 mg prednisone oral pada
hari ke-2 sampai ke-4.
d. Dapat diberikan Ranitidin 150 mg prednisone oral untuk profilaksis
gastritis.
Menurut Neuritis Optikus Treatment Trial (ONTT) pengobatan
dengan steroid dapat menurunkan progresivitas MS selama 3 tahun.
Terapi steroid hanya mempercepat pemulihan visual tapi tidak
meningkatkan hasil pemulihan pandangan visual.
2) Dari hasil MRI bila 2 atau lebih lesi demielinisasi:
a. Menggunakan regimen yang sama dengan yang di atas,
b. Merujukan pasien ke spesialis neurologi untuk terapi interferon β-1α
intramuscular seminggu sekali selama 28 hari,
c. Metilprednisolon IV (1 g per hari, dosis tunggal atau dosis terbagi
selama 3 hari) diikuti dengan prednisone oral (1 mg/kgBB/hari
selama11 hari kemudian 4 hari tapering off). Tidak menggunakan
oral prednisolon sebagai terapi primer karena dapat meningkatkan
risiko rekuren atau kekambuhan.
3) Dengan tidak ada lesi demielinisasi dari hasil MRI:
a. Risiko terjadi MS rendah, kemungkinan terjadi sekitar 22% setelah
10 tahun kemudian,
b. Steroid IV dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan visual,
c. Biasanya tidak dianjurkan untuk terapi kecuali muncul gangguan
visual pada mata kontralateral,
d. MRI lagi dalam 1 tahun kemudian.
Mitoxantrone, suatu agen kemoterapi dan terapi antibiotik di
monoklonal lebih memberikan hasil yang menjanjikan bagi penyakit
kambuhan-remisi (relapsing-remining disease) yang progresif dan sulit
diatasi.
6.2.4 Patofisiologi
Demylination dan gliokis (bekas luka). Keadaan neuropatologis yang
utama adalah reaksi inflamatori, mediasi imune, demyelinating proses.
Yang beberapa percaya bahwa inilah yang mungkin mendorong virus
secara genetik mudah diterima individu. Diaktifkannya sel T merespon
pada lingkungan, (ex: infeksi).Tsel ini dalan hubunganya dengan
astrosit,merusak barier darah otak, karena itu memudahkan masuknya
mediator imun.
6.2.5 Pathway
Faktor predisposisi : virus,
respon
autoimun, genetic

Edema dan deporasi mielin

Demieinisasi
mengkerut dan
menjadi plak
Lesi ms terjadi pada
substansi SSP

Demilinasi

Terhentinya alur
impuls saraf

Saraf Sereblum Serebrum Medula


optik dan batang spinalis
otak
Disfungsi Lesi G.g
serebral kortiko sensorik
G.g Ataksia
penglihatan spinalis kelemaha
Hilangnya Mk: n
daya ingat perubahan anggota
dan eliminasi gerak
Mk:
Mk: Resiko Disatria
cidera dimensia urinarius kerusakan
gangguan mobilitas
Mk: Hambatan afek fisik
komunikasi
verbal

Eforia: kehilangan
Perubahan
kemampuan kemampuan
merawat diri menyelesaikan
sendiri masalah

Mk: Defisit perawatan


diri (makan, minum,
berpakaian, hygiene), Mk:
perubahan nutrisi kurang ketidakefektifan
dari kebutuhan koping
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan menunjukkan masalah yang aktual dan risiko
berkaitai dengan penyakit yang mencakup masalah neurologis, komplikasi
sekunder, dan pengaruh penyakit terhadap klien dan keluarga. Gerakan dan
kemampuan berjalan klien diobservasi untuk menentukan apakah ads
kemungkinan risiko jatuh. Pengkajian fungsi dilakukan baik ketika klien
cukup istirahat dan ketika mengalami keletihan. Perlu dikaji untuk adanya
kelemahan, spastisitas, kerusakan penglihatan, dan inkontinensia.
1. Amati kekuatan motorik, koordinasi dan gangguan berjalan.
2. Kaji pemeriksaan saraf cranial.
3. Evaluasi fungsi eliminasi.
4. Eksplorasi koping, efek aktifitas dan fungsi seksual, serta status
emosional.
DATA UMUM
1. Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok dewasa
muda antara 18-40 tahun), jenis kelamin (lebih sering menyerang wanita
dibandingkan dengan pria), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, dan diagnosis
medis.
2. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dan keluarga untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak, penurunan daya
ingat, serta gangguan sensorik dan penglihatan.
DATA DASAR :
1. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dan keluarga untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak, penurunan daya
ingat, serta gangguan sensorik dan penglihatan.
• Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna
Tanda : kelemahan umum, penurunan tonus/massa otot, jalan
goyah/diseret, ataksia
• Sirkulasi
Gejala : edema
Tanda : ekstremitas mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh
• Integritas ego
Gejala : HDR, ansietas, putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun
• Eliminasi
Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia, konstipasi, infeksi saluran kemih
Tanda : control sfingter hilang, kerusakan ginjal
• Makanan / cairan
Gejala : sulit mengunyah/menelan
Tanda : sulit makan sendiri
• Hygiene
Gejala : bantuan personal hygiene
Tanda : kurang perawatan diri
• Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri spasme, neuralgia fasial
• Keamanan
Gejala : riwayat jatuh/trauma, penggunaan alat bantu
• Seksualitas
Gejala : impotent, gangguan fungsi seksual
• Interaksi social
Gejala : menarik diri
Tanda : gangguan bicara
• Neurosensori
Gejala : kelemahan, paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan
kabur, memori hilang, susah berkomunikasi, kejang
Tanda : status mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi. Bicara
terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri,
nistagmus, diplopia. Kemampuan motorik hilang, spastic paresis, ataksia,
tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada lutut.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami pengakit autoimun.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umunya terjadi demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier yang
mengakibatkan erbagai derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga
kognitif
2.3.2 Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum
Lemah, jalan goyang, kepala pusing, diplodia, kekejangan otot / kaku otot
2. T T V
a) Tekanan darah : menurun
b) Nadi : cepat – lemah
c) RR : normal
d) Suhu : normal
e) BB & TB : ormal / seusia pemeriksaan.
3. Body System
a) Sistem Respirasi
I : Bentuk dada d/s simetris
P : Pergerakan dada simetris d/s
P : Sinor
A : Tidak ada suara nafas tambahan
b) Sistem Kardiovaskuler
I : Ictus cordis tidak nampak
P : Ictus cordis teraba pada ICS 4-5
P : Pekak
A : Tidak ada suara tambahan seperti mur-mur
c) Sistem Intergumen
Resiko terjadinya dekubitus karena intoleransi aktivitas
d) Sistem Gastrointestinal
Mengalami perubahan pola makan karena mengalami kesulitan makan
sendiri akbiat gejala klinis yang ditimbulkan.
e) Sistem Eliminasi Urine
BAK : mengalami inkontinensia & nokturia selama melakukan
eliminasi uri
f) Sistem eliminasi alvi
BAK : tidak lancar 3 hari 1x dengan konsistensi keras, warn kukning
bu khas feses
g) Sistem Murkulus skeletal
Kesadaran : -Apatisi 3-4-6
Terjadi kelemahan paralisis otot, kesemutan, nyeri (perasaan tertusuk-
tusuk pada bagian tubuh tertentu)
h) Sistem Neurologis
i) Terjadi perubahan ketajaman penglihatan (diplobia), kesulitan dalam
berkomunikasi (disastria)
2.3.3 Analisa data
No Data Etiologi Masalah kep

1 DS :
- Klien menyatakan Gejala motorik Kelemahan, kejanggalan
mati rasa
2 Kesulitan dalam berjalan atau
- Klien menyatakan
Gejala motorik mempertahankan
kakinya kesemutan
keseimbangan
3 - Klien menyatakan
sensasi abnormal Gejala sensorik Tremor (gemetaran)
lainnya (disestesia)
4 - Klien menyatakan
Gejala motorik Penglihatan ganda
gangguan penglihatan
5 - Klien menyatakan
sulit mencapai
Masalah pengendalian saluran
orgasme, berkurang
Gejala sensorik pencernaan atau kandung
nya sensai di
kemih, sembelit
vagina, impotensi
pada pria
6 - Klien menyatakan Kekakuan, ketidakstabilan,
Gejala sensorik
pusing atau vertigo kelelahan yang luar biasa
2.3.4 Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan mobilisasi fisik b/d kelemahan, paresisi, spastisitas
2. Resiko cedera b/d kerusakan sensori dan penglihatan
3. Perubahan eliminasi alvi dan uri b/d disfungsi medulla spinalis
4. Defisit perawatan diri (makan, minum, berpakaian, hygiene) b/d
perubahan kemampuan merawat diri sendiri.
5. Ketidak efektifan koping
6. Gangguan komunikasi verbal b/d Disartia.

2.3.5 INTERVENSI KEPERAWATAN


N Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
o Kep. kriteria hasil
1 Kerusakan Tujuan: Dalam 1. Tentukan dan 1. Untuk
mobilisasi 3x24 jam klien kaji tingkat mengembang
fisik b/d mampu aktivitas kan rencana
kelemahan, melaksanakan sekarang dan perawatan
paresisi, aktifitas fisik derajat bagi program
spastisitas sesuai dengan gangguan rehabilitasi
kemampuannya. fungsi dengan 2. Untuk
Kriteria hasil: skala 0-4 memecahkan
- Mampu 2. Identifikasi masalah
mengidentifik faktor-faktor untuk
asikan faktor- yang mempertahan
faktor resiko mempengaru kan/
dan kekuatan hi meningkatkan
individu yang kemampuan mobilitas.
mempengaruhi untuk aktif, 3. Untuk
toleransi misalnya meningkatkan
terhadap pemasukan kemandirian
aktifitas. makanan dan rasa
- Mampu yang tidak mobilitas diri
mengidentifik adekuat, dan dapat
asikan insomnia, menurunkan
beberapa penggunaan perasaan tidak
alternatif obat-obat berdaya.
untukmembant tertentu. 4. Latihan
u 3. Anjurkan berjalan dapat
mempertahank klien meningkatkan
an tingkat melakukan keamanan dan
aktivitas saat perawatan keefektifan
sekarang. diri sendiri pasien untuk
- Mampu sesuai dengan berjalan dan
berpartisipasi kemampuan alat bantu
dalam maksimal gerak dapat
program yang dimiliki menurunkan
rehabilitasi. pasien. kelemahan,
- Mampu 4. Evaluasi meningkatkan
mendemonstra kemampuan kemandirian.
sikan teknik / untuk 5. Menurunkan
tingkah laku melakukan kelelahan,
yang dapat mobilisasi kelemahan
mempertahank secara aman otot yang
an / dan berikan berlebihan.
meneruskan alat bantu
aktivitas. berjalan.
5. Buat rencana
perawatan
dengan
periode
istirahat
konsisten
diantara
aktivitas.
2 Resiko cedera Tujuan: Dalam 1. Identifikasi 1. Mengidentifik
b/d kerusakan waktu 3x24 jam tipe gangguan asi tipe
sensori dan resiko trauma penglihatan gangguan
penglihatan tidak terjadi. yang dialami visual yang
Kriteria hasil: klien terjadi dan
- Klien mau (diplopia, batasan
berpartisipasi nistagmus, keparahan.
terhadap neuritis 2. Pencegahan
pencegahan optikus / cidera
trauma. penglihatan dilakukan
- Decubitus kabur). pada klien
tidak terjadi. 2. Modifikasi multiple
- Kontraktur pencegahan sclerosis jika
sendi tidak cidera. disfungsi
terjadi. motorik
- Klien tidak menyebabkan
jatuh dari masalah
tempat tidur. dalam tidak
ada
koordinasi
dan adanya
kekakuan atau
jika ataksia
ada, klien
resiko jatuh.
3 Perubahan Tujuan: Dalam 1. Kaji pola 1. Mengetahui
eliminasi alvi 2x24 jam berkemih dan fungsi ginjal.
dan uri b/d eliminasi urin catat urin 2. Jadwal
disfungsi terpenuhi. setiap 6 jam. berkemih
medulla Kriteria hasil: 2. Tingkatkan diatur
spinalis - Pemenuhan kontrol awalnya
eliminasi urin berkemih setiap 1
dapat dengan cara sampai2 jam
dilaksanakan berikan dengan
dengan atau dukungan perpanjangan
tidak pada klien interfal waktu
menggunakan tentang bertahap.
kateter pemenuhan Klien
- Produksi 50 eliminasi rin, diinstruksikan
cc/jam lakukan untuk
- Keluhan jadwal mengukur
eliminasi urin berkemih, jumlah air
tidak ada. ukur jumlah yang di
urin tiap 2 jam minum setiap
3. Palpasi 2 jam dan
kemungkinan mencoba
adanya untuk
distensi berkemih 30
kandung menit setelah
kemih minum.
4. Anjurkan 3. Menilai
klien untuk perubahan
minum akibat dari
2000cc/hari. inkontinensia
urin.
4. Mempertahan
kan fungsi
ginjal.
4 Defisit Tujuan: Dalam 1. Melatih
perawatan 2X24 jam pasien pasien cara-
diri (makan, tidak mengalami cara
minum, defisit perawatan perawatan
berpakaian, diri. diri.
hygiene) b/d Kriteria hasil: 2. Melatih
perubahan - Pasien mampu pasien untuk
kemampuan melakukan berdandan
merawat diri kebersihan (berpakaian,
sendiri. diri secara menyisir,
mandiri berhias)
- Pasien mampu 3. Melatih
berpakaian pasien makan
dengan baik secara
- Pasien mampu mandiri
melakukan (praktik
makan dengan makan sesuai
baik. tahapan
makan yang
baik,
merapikan
alat)
5 Ketidakefekti Tujuan: 1. Kuatkan 1. Pada MS
fan koping - mempertahan mekanisme menyebabkan
kan sensasi koping. pasien
terhadap 2. Perbaiki dankeluarga
kontrol. perawatan mengalami
- Membuat diri. frustasi.
rencana untuk 2. MS
gaya hidup. mempengaru
- Mengungkapk hi setiap segi
an keinginan kehidupan
untuk sehari-hari.
melanjutkan
masa dewasa.
Kriteria hasil:
- Adaptasi fisik
dan
psikologis.
- Perawatan
diri
membaik.
6 Gangguan Tujuan: dalam 1. Beri satu
komunikasi waktu 2x24 jam kalimat
verbal b/d klien dapat simple dila
Disartia. meningkatkan berkomunika
kesehatan dan si.
mandiri dalam 2. Dorong klien
suatu lingkungan berkomunika
sosial. si perlahan
Kriteria hasil: dan
- Komunikasi: mengulangi
penerimaan, permintaan.
interpretasi 3. Gunakan
dan ekspresi tambahan
pesan lisan, bahan alat
tulisan dan non komunikasi
verbal lain untuk
meningkat. memfasilitasi
- Mampu komunikasi
mengontrol dua arah
respon yang optimal.
ketakutan dan 4. Konsultasika
kecemasan n dengan
terhadap dokter
ketidakmampu kebutuhan
an berbicara. terapi wicara
- Mampu untuk
mengkomunik berbicara.
asikan 5. Mampu
kebutuhan mengkomuni
dengan kasikan
lingkungan kebutuhan
social. dengan
lingkungan
sosial.

2.3.6 EVALUASI
1. Setelah dilakukan asuhan keperawatan paien mampu mengidentifikasi faktor-
faktor resiko dan kekuatan individu yang mempengaruhi toleransi aktivitas,
mampu mengidentifikasi beberapa alternatif untuk membantu
mempertahankan aktifitas saat sekarang serta berpartisipasi dalam program
rehabilitasi.
2. Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien dapat mengkompensasi
terjadinya perubahan sensori yang dialami dengan teknik-teknik yang
diajarkan.
3. Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien mampu mendemonstrasikan
perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri
serta mampu melakukan kegiatan perawatan diri sendiri dalam tingkat
kemampuan yang dimiliki secara optimal.
4. Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien dapat terhindar dari cidera
selama perawatan dilakukan: tidak jatuh dari tempat tidur, tidak terjadi
kontraktur dan luka tekan.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien dapat memahami keadaannya dan
mendemonstrasikan teknik mencegah atau menurunkan infeksi saluran kemih.
DAFTAR PUSTAKA

Vaughan & Asbury. Oftalmologi umum, Edisi 14, Jakarta: Widya Medika,
2000.Hall 274-287

Ilyas sidharta, ilmu penyakit mata, fakultas kedokteran indonesia edisi ke tiga
balai penerbit fkui, jakarta, 2006. Hall 179-188

American academy of ophtalmologi staff. Neuro-optalmologi : american


academy of ophtalmologi staff, editor. Neuro-optalmologi. Basic and
clinical sciencie course sec. 5. San fransisco the foundation of america
academy of ophtalmologi, 2011-2012. P 65, 128-146

Misbach jusuf. Neuro optalmologi. Pemeriksaan klinis dan interpretasi. Balai


penerbit fkui, jakarta, 1999. Hall 1-14, 18-23

Wijana nana s,d. Ilmu penyakit mata, cetakan ke 6, abdi tegal.jakarta 1993.
Hall 332-342

Mardjono mahar,Neurologi klinis Dasar. Cetakan ke sepuluh, Dian Rakyat.


Jakarta. 2004. Hall 116-126.

Guyton AC, Hall JE Neurofisiologi penglihatan sentral: Buku Ajar Fisiologi


Kedokeran, edisi 9. Jakarta 1997 . Hall 825.

Saiful Muhammad, Neuroanatomi Fungsional. Bag. Ilmu Penyakit Syaraf FK.


Unair .Surabaya. 1996 Hall 54-57.

Lumbangtobing S, Neurologi Klinis Pemeriksaan Fisik dan mental. Balai


Penerbit FKUI 1006. Hall 25-46.

http://www.djo.harvand.edu/site.php?url=/phsycians/oa/390 (diakses tanggal


28 Agustus 2019).