Anda di halaman 1dari 11

BAB I

TEORI

A. Pengertian Penyimpangan/Deviasi
Secara umum, deviasi adalah suatu bentuk penyimpangan dari peraturan, terutama
bentuk perilaku yang menyimpang atau melawan dari norma dan nilai sosial yang telah
ditetapkan. Karena deviasi memiliki makna penyimpangan, maka selalu dikonotasikan secara
negatif sebagai suatu tindakan atau perilaku yang dianggap salah dan tidak semestinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), deviasi adalah penyimpangan dari
peraturan yang sudah ada dan yang sudah ditetapkan, baik itu penyimpangan tingkah laku,
perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-
norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Pengertian Deviasi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli bahasa di dunia dan Indonesia, mendefinisikan deviasi sebagai berikut.
 Menurut Bruce J. Cohen, deviasi adalah perilaku penyimpangan sosial merupakan
setiap perilaku negatif yang dihasilkan dari ketidak berhasilan penyesuaian diri
seseorang atau kelompok dengan kehendak masyarakat atau nilai dan norma yang
berlaku.
 Menurut James W. Van Der Zanden, deviasi adalah perilaku penyimpangan sosial
merupakan suatu perilaku atau tingkah laku yang oleh sebagian besar anggota
masyarakat dianggap sebagai perilaku yang tercela dan diluar batas toleransi.
 Menurut Perilaku Paul B. Horton, deviasi adalah penyimpangan sosial merupakan
setiap perilaku individu maupun kelompok yang dianggap atau dinyatakan melanggar
norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
 Menurut Hendropuspito (1989), deviasi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
perorangan atau kelompok di luar, melawan kaidah sosial yang berlaku di masyarakat.
 Menurut Kartini Kartono (2007:11), deviasi adalah tingkah laku yang menyimpang
dari tendensi sentral atau ciri-ciri karakteristik rata-rata dari rakyat
kebanyakan/populasi.
Deviasi atau perilaku menyimpang pada dasarnya merupakan perilaku yang tidak
sesuai dengan norma atau nilai kesusilaan, baik dari sudut pandang kemanusiaan, moral,
perilaku, dan agama, baik dilakukan secara individu maupun kelompok.

1
Jadi, bisa disimpulkan bahwa deviasi adalah perilaku yang dilakukan oleh individu
yang bertentangan/menyimpang dengan ciri kharakteristik masyarakat kebanyakan dan
norma/nilai yang berkembang di dalam masyarakat tersebut.

B. Faktor Penyebab Penyimpangan/Deviasi


Menurut Ahmad Mubarok dalam bukunya Al-Irsyad An-Nafsy atau Konseling Agama
Teori dan Kasus, serta Wilnes dalam bukunya “Punishment and Reformation“ penyebab
perilaku menyimpang pada diri seseorang dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1. Faktor bawaan (subjektif) adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat
pembawaan yang dibawa sejak lahir).
2. Faktor lingkungan (objektif) adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang
tidak serasi.
Sedangkan faktor penyebab terjadinya penyimpangan atau deviasi secara umum, yaitu
sebagai berikut.
1. Gagal nya seseorang atau ketidak sanggupan seseorang dalam menyerap nilai dan
norma sosial serta kebudayaan yang berlaku dalam lingkungan masyarakatnya,
sehingga tidak dapat membedakan mana yang benar dan salah.
2. Ketidak berhasilan dalam proses sosialisasi, baik dalam lingkungan keluarga maupun
masyarakat.
3. Adanya kesenjangan sosial yang menyebabkan munculnya perasaan iri sehingga
menimbulkan suatu tindak kriminal yang menyimpang dari norma hukum masyarakat.
4. Kendornya nilai-nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat yang mungkin
disebabkan oleh perubahan sosial dan perkembangan zaman.
5. Proses belajar yang menyimpang juga dapat menyebabkan timbulnya suatu perilaku
penyimpangan sosial, karena mulai banyaknya contoh perilaku menyimpang yang
mudah dilihat maupun dibaca dan dipelajari.

C. Ciri-Ciri Penyimpangan/Deviasi
Menurut Paul B. Horton penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan
Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria
tertentu dan diketahui penyebabnya.

2
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak
Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif, adakalanya penyimpangan bisa
diterima masyarakat, misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan perampokan
merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak
Semua orang pernah melakukan penyimpangan sosial, tetapi pada batas-batas tertentu
yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada
frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap
orang cenderung relatif. Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat
laun harus berkompromi dengan lingkungannya.
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok
masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap
segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu
terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam
kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi
keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka.Jadi
norma-norma penghindaran merupakan bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat
setengah melembaga.
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)
Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat
dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.

D. Bentuk-Bentuk Penyimpangan/Deviasi
Bentuk-bentuk penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:
a. Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut:
1) Penyimpangan bersifat positif
Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif
terhadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya
wawasan seseorang.

3
Penyimpangan seperti ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan
zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan wanita
karir.
2) Penyimpangan bersifat negatif
Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-
nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk.
Bobot penyimpangan negatif didasarkan pada kaidah sosial yang dilanggar.
Pelanggaran terhadap kaidah susila dan adat istiadat pada umumnya dinilai lebih berat dari
pada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan santun. Bentuk penyimpangan yang bersifat
negatif antara lain sebagai berikut:
 Penyimpangan primer (primary deviation)
Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya
bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Seseorang yang melakukan penyimpangan primer
masih diterima di masyarakat karena hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang
tersebut. Misalnya: siswa yang terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu
lintas, dan orang yang terlambat membayar pajak.
 Penyimpangan sekunder (secondary deviation)
Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali
terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta mengganggu orang lain. Misalnya: orang yang
terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang
yang melakukan tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan
masyarakat dan mereka biasanya dicap masyarakat sebagai “pencuri”, “pemabuk”,
“penodong” dan “pemerkosa”. Julukan itu makin melekat pada si pelaku setelah ia ditangkap
polisi dan diganjar dengan hukuman.

b. Bentuk penyimpangan berdasarkan pelakunya, dapat dibedakan menjadi dua macam,


yaitu sebagai berikut:
1) Penyimpangan individual (individual deviation)
Penyimpangan individual adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang
menyimpang darinorma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya: seseorang
bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan, seperti: mencuri, menodong
dan memeras.

4
Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima,
yaitu sebagai berikut:
 Pembandel yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak patuh pada nasihat orang
tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.
 Pembangkang yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak taat pada peringatan
orang-orang.
 Pelanggar yaitu penyimpangan yang terjadi karena melanggar norma-norma umum
yang berlaku dalam masyarakat.
 Perusuh atau penjahat yaitu penyimpangan yang terjadi karena mengabaikan norma-
norma umum, sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di
lingkungannya.
 Munafik yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak menepati janji, berkata
bohong, mengkhianati kepercayaan dan berlagak membela.
2) Penyimpangan kelompok (group deviation)
Penyimpangan kelompok adalah tindakan sekelompok orang yang beraksi secara
kolektif dengan cara yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya: mafia
obat-obatan terlarang dan narkotika, geng, dan komplotan penjahat.
Dalam penyimpangan kelompok biasanya kejahatan yang mereka lakukan sulit
dibongkar dan dilacak pihak kepolisian.

5
BAB II
PERMASALAHAN/KASUS

Berikut beberapa contoh kasus dari deviasi atau penyimpangan di masyarakat :


1. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan bentuk penyimpangan yang biasa dilakukan oleh anak
remaja yang berusia antara 12 hingga 18 tahun. Anak di usia ini rentan terhadap pengaruh
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat/sekolah. Karena bagi mereka masih belum dapat
membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu remaja sangat rentang
melakukan deviasi atau penyimpangan.
Sebagai contoh tawuran terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada 6 Mei 2019 eqn
mengakibatkan satu orang remaja tewas. Setelah kejadian itu, polisi menangkap 21 orang.
Kejadian tawuran itu hari Minggu dini hari sekitar pukul 01.30 WIB itu ada dua kelompok
remaja dari RW 4 gang 1C dan RW 8 Kebon Sayur. Buntut dari tawuran itu menewaskan 1
orang berinisial R (18) yang mengalami luka bacok di perut. Polisi menyebut R juga terlibat
dalam aksi tawuran itu.

2. Pernikahan Sesama Jenis


Di beberapa negara memang sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, namun pada
dasarnya melakukan pernikahan sesama jenis merupakan sebuah perilaku penyimpangan
sosial dan melanggar norma yang berlaku di masyarakat, dan bahkan melanggar hukum
negara jika masih ilegal. Banyak faktor kenapa orang melakukan pernikahan sesama jenis,
diantaranya pengaruh trauma, lingkungan keluarga dan sosialnya, hingga kelainan psikologis.
Selama hampir 15 tahun, di Jawa Tengah, Indonesia, tercatat sebanyak 5 kasus
pernikahan sesama jenis. Pernikahan itu terjadi baik perempuan dengan perempuan maupun
laki-laki dengan laki-laki.
Kasus pertama kali yang tercatat terjadi di Kabupaten Semarang sekitar tahun 2001.
Saat itu seorang perempuan warga Kabupaten Semarang yang dinikahi warga luar Jawa itu
diketahui setelah beberapa saat berumah tangga.
Kasus lainnya terjadi di Kabupaten Boyolali tahun 2016, pernikahan sejenis ini
dilakukan oleh Heniyati (25) dan Suwarti (40). Heniyati merupakan warga Pengkol,
Kecamatan Karang Gede, Boyolali. Suwarti alias Efendi Saputra yang merupakan warga
Tanjung, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali adalah tersangka.

6
Suwarti atau pelaku mengubah jenis kelaminnya dari perempuan menjadi laki-laki.
Pernikahan tersebut terbongkar setelah satu satu mereka menjalani kehidupan rumah tangga.
Kasus ini terbongkar karena setiap mengajak hubungan suami istri namun pelaku
menolak. Setelah korban memeriksa dompet pelaku ditemukan KTP atas nama Suwarti
berjenis kelamin perempuan.
Sedangkan kasus kedua di Boyolali terjadi antara laki-laki dengan laki-laki. Saat akan
diadakan pesta di rumah dengan alasan acara syukuran, warga melaporkan kasus tersebut.
Kasus lain juga terjadi di Kabupaten Wonosobo, pasangan Andi Budi Sutrisno alias
Andini (27) dan Didik Suseno. Pernikahan tersebut juga digagalkan. Mereka kemudian diberi
pengertian oleh tokoh masyarakat pernikahan sesama jenis tidak bisa dilaksanakan.
Terakhir terjadi di Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Kasus ini terbongkar
saat mendaftarkan pernikahan di KUA antara Wilis Setyawati warga Desa Sidoleren, Gebang
dengan Pratama (30) warga Desa Binong, Kecamatan Curug, Kota Tangerang, Banten.
Karena petugas KUA Gebangm curiga, Pratama yang bernama asli Nova Aprida
Avriani setelah diperiksa tim medis puskesmas setempat ternyata berjenis kelamin
perempuan. Padahal rencana pernikahan akan digelar hari ini di rumah mempelai wanita,
Selasa (5/9/2017). Dalam pengakuannya, mereka sudah berpacaran selama 7 tahun.

3. Tindakan Kriminal
Contoh deviasi yang umum atau sering dilakukan adalah melakukan tindakan
kriminal. Tindakan kriminal bukan hanya melanggar norma di masyarakat namun juga
melanggar hukum yang sudah ada. Akibatnya jika orang melakukan suatu tindakan kriminal,
maka pelaku akan mendapatkan sanksi sosial, seperti dikucilkan dari masyarakat, bahkan
dipenjara. Penyebab seseorang melakukan tindakan kriminal cukup banyak, mulai dari rasa
iri (cemburu), kebencian, tekanan ekonomi, dan masih banyak lagi.
Sebagai contoh kasus yang baru saja terjadi, Aulia Kesuma alias AK (35) telah
merencanakan pembunuhan terhadap suaminya, Edi Chandra Purnama alias ECP (54) dan
anak tirinya M Adi Pradana alias Dana alias D (23) di Sukabumi. Di mana AK terilit utang
hingga dirinya menyewa pembunuh bayaran dari Lampung.
AK ini mempunyai utang kemudian ingin menjual rumahnya. Tapi karena suami ini
mempunyai anak dan tidak setuju, dia mengatakan 'kalau menjual rumah ini, kamu akan
saya bunuh. Karena tak diizinkan, AK lalu menghubungi mantan pembantunya untuk
menanyakan kenalan orang asal Lampung. Setelah itu, suami dari mantan pembantu itu

7
menghubungi dua orang. Usai dihubungi, dua orang laki-laki berinisial S dan A datang ke
Jakarta menggunakan travel. Singkat cerita, korban pun tewas usai diberikan minuman keras
dan racun. Korban dibawa ke Kampung Bondol, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di mana
ditemukan terpanggang di dalam mobil Calya B 2983 SZH.

8
BAB III
PEMBAHASAN

9
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulkan sebagai
berikut:

Saran

10
DAFTAR PUSTAKA

Drs. S. Imam Syari. Patologi Sosial. Surabaya: Usaha Nasional


Moeljono Notosoedirjo. 2002. Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Malang:
Universitas Muhammadiyah
Dr. Kartini Kartono. 1981. Patologi Sosial Jilid 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

11