Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ASWAJA

Tentang

“ALIRAN ISLAM YANG DILARANG MUI DAN BID’AH”

Dosen Pengampu :

Ust. ROFI’I, M.Pd

DISUSUN:

1. M. FAHRUR ROJI

2. ABET NEGO DWI A. P

3. M. FADHOL

Prodi : Manajemen Pendidikan Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )


AS-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2019
JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sum-Sel
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih, lagi maha
penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, karena atas hidayah
dan innayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang “Aliran
Islam Yang Dilarang Mui Dan Bid’ah” ini.

Makalah ini telah kami tulis dengan maksimal berdasarkan sumber referensi
yang kami dapatkan. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari seepenuhnya bahwa masih banyak
kekurangan baik dari segi kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kamidapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Lempuing Jaya, Oktober 2019
Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ....................................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 2

BAB II : PEMBAHASAN
Definisi Pengertian Aliran Sesat (Dilarang MUI) ................................................ 3
10 Kriteria Ciri Aliran Sesat Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) ............ 3
Dampak Adanya Aliran Sesat ............................................................................... 4
Faktor – Faktor Terjadinya Aliran Sesat ............................................................... 5
Sebab – Sebab Adanya Aliran Sesat ..................................................................... 6
Beberapa Aliran Islam Yang Dilarang Oleh MUI ................................................ 7
Bid’ah .................................................................................................................... 13

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................. 16
B. Saran ....................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Begitu banyak aliran Islam yang terdapat di Indonesia, ada yang
mengatakan aliran ini aliran sesat. Munculnya fenomena aliran sesat tidak
terlepas dari problem psikologis baik para tokoh pelopornya, pengikutnya
serta secara keseluruhan. Problem aliran sesat mengindikasikan adanya
anomali nilai-nilai di masyarakat.
Aliran sesat bukan fenomena baru, selain dia mengambarkan anomali,
juga kemungkinan adanya deviasi sosial yaitu selalu ada komunitas yang
abnormal. Baik berada dalam dalam abnormalitas demografis, abnormalitas
sosial, maupun abnormalitas psikologis. Sedangkan deviasi dapat bersifat
individual, situasional dan sistemik. Abnormalitas perilaku seseorang tidak
dapat diukur hanya dengan satu kriteria, karena bisa jadi seseorang
berkategori normal dalam pengertian kepribadian tetapi abnormal dalam
pengertian sosial dan moral.
Demikian halnya dengan para penganut aliran sesat, akan diperoleh
kriterium kategori yang tidak tegas. Salah satu yang mungkin untuk
menyatakan kesesatan adalah definisi atau batasan ketidaksesatan yang
bersifat formalistik atau diakui sebagai batasan institusional. Walupun sudah
jelas dituangkan dalam Firman Allah SWT :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu” (Al-Maidah 5:3).
Merebaknya panji-panji yang bertentangan dengan ensensi ajaran
agama Islam dewasa ini, tentu melahirkan problematika yang serius, yang
patut di diskusikan, mengingat tidak ada perubahan aturan ibadah yang telah
ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Yang Dimaksud Aliran Sesat (Dilarang MUI)?
2. Sebutkan 10 Kriteria Ciri Aliran Sesat Menurut Majelis Ulama
Indonesia (MUI)?
3. Bagaimana Dampak Adanya Aliran Sesat?
4. Sebutkan Faktor – Faktor Terjadinya Aliran Sesat?
5. Apa Penyebab Adanya Aliran Sesat?
6. Sebutkan Beberapa Aliran Islam Yang Dilarang Oleh MUI?
7. Apa Yang Dimaksud dengan Bid’ah?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI PENGERTIAN ALIRAN SESAT (DILARANG MUI)


Kata sesat dapat diartikan sebagai keyakinan yang dianut seseorang
yang menjadi keyakinan publik, atau menjadi keyakinan para pengikutnya,
sehingga orang yang diikuti keyakinannya yang sesat disebut menyesatkan.
Sedangkan pengertian “sesat menyesatkan” (dallun mudillun) adalah paham
atau pemikiran yang di anut dan diamalkan oleh sebuah kelompok yang
bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam serta dinyatakan oleh Majelis
Ulama Indonesia (MUI) menyimpang dalil Syar’i.
Aliran sesat dapat didefinisikan sebagai suatu kepercayaan yang
menyimpang dari mainstream masyarakat, namun batasan ini menjadi rancu
karena kriteria kesesatan bersifat multikriteria. Oleh karena itu silang
pendapat apakah suatu aliran sesat atau tidak merupakan masalah tersendiri
yang tidak mudah.
Aliran hanya dapat dinyatakan sebagai sesat apabila mengacu pada
satu kumpulan kriteria yang dinyatakan secara apriori sebagai “tidak sesat”.
Oleh karena itu ukuran sosiologis, politis dan psikologis hanya merupakan
penjelas saja tentang kemungkinan-kemungkinan mengapa seseorang atau
kelompok menjadi bagian dari aliran sesat.

B. 10 KRITERIA CIRI ALIRAN SESAT MENURUT MAJELIS ULAMA


INDONESIA (MUI)
Ciri-ciri dari kesesatan atau aliran sesat yang berkembang di
Indonesia, dikemukakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
mengeluarkan maklumat tentang 10 ciri aliran sesat, yaitu :
1. Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab
Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan Qadar) dan mengingkari
rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat wajib 5
waktu, puasa, zakat, dan Haji).

3
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil
syar’i (Al-Quran dan As-Sunah).
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an.
5. Melakukan penafsiran Al Quran yang tidak berdasarkan kaidah-
kaidah tafsir.
6. Meingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran
Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan
rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul
terakhir.
9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah
yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke
Baitullah, shalat fardlu tidak 5 waktu.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti
mengkafirkan seorang muslim hanya kelompoknya.

Kesepuluh maklumat yang dikeluarkan oleh MUI bukan tanpa dasar,


bahkan dilandasi oleh banyak dalil dari Al Qur’an dan Al Hadist serta
bersesuaian dengan prinsip-prinsip Ahlussunah Wal Jama’ah.

C. DAMPAK ADANYA ALIRAN SESAT


Dampak dari kemunculan aliran-aliran sesat ini menimbulkan
keresahan dikalangan masyarakat. Mulai dari menghilangnya sanak saudara
dan kaum kerabat sampai kepada krisis kepercayaan kepada agama.
Akhirnya mereka kebingungan ditengah-tengah hirik pikuk, dan gonjang-
ganjingnya norma agama. Kerusuhan terjadi dimana-mana di pelosok negeri
ini imbas dari tumbuh dan berkembangnya akiran sesat ini. Aksi
pembakaran dan pengrusakan terhadap aliran yang dicap sebagai aliran sesat
terjadi dimana-mana. Masyarakat dengan brutalnya merusak sarana-sarana
ibadah mereka dan menghakimi para pengikutnya.

4
Menjadi sebuah tabiat manusia bahwa seringkali dalam melaksanakan
hidupnya kita sebagai manusia selalu menginginkan berjalannya roda
kehidupan ini sesuai dengan harapan kita. Kita tumbuh dalam bayang-
bayang keinginan sendiri, berada pada posisi terselubung dalam kegelapan
yang diakibatkan oleh bayangan tubuh yang menghalangi sinar untuk
meneranginya. Sungguh merupakan sebuah tabiat manusia manakala
menginginkan hidup senang namun mengharapkan sebuah jerih payah yang
ringan dan kalau bisa tidak membuat pikiran kita terkuras dan tenaga kita
tersita untuk memperolehnya.
Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan
yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan amal, kita
dapat menyaksikan tuhan dengan penuh keyakinan.

D. FAKTOR – FAKTOR TERJADINYA ALIRAN SESAT


Untuk memahami fenomena aliran yang dinilai sesat di Indonesia,
kami sebagai penulis melihatnya sebagai sebuah gejala sosio-politis,
ketimbang sebagai sebuah gejala keagamaan murni. Secara sosiologis,
bermunculan banyak aliran sesat dan fenomena masyrakat mudah “percaya”
dengan gejala janji-janji yang instan, ini dapat terjadi karena beberapa
faktor, diantaranya adalah :
 Ketika masyarakat sedang mengalami diorientasi hidup.
 Ketika masyarakat mengalami frustasi secara sosial, politik dan
ekonomi (atau ketika masyarakat terlalu lama berada dalam
kondisi “penderitaan”).
 Ketika masyarakat tidak mampu lagi menghadapi kenyataan
hidup yang serba sulit.
Kondisi seperti ini yang disebut dengan disorientasi hidup, akibatnya
mereka akan sangat mudah diombang-ambing oleh situasi (keadaan), karena
mereka berharap dapat menemukan kepuasan yang mereka cari, meskipun
kadang akal sehat mereka tidak lagi berfungsi sepenuhnya.

5
E. SEBAB – SEBAB ADANYA ALIRAN SESAT
Sebagaimana yang telah diuraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
aliran sesat di Indonesia disebabkan beberapa faktor, antara lain :
1. Kurang efektifnya dakwah atau lemahnya pembinaan umat
beragama secara internal.
2. Adanya pihak eksternal yang memicu, sebagaimana tercantum
dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 109 dan 120 :
“Banyak di antara ahli Kitab menginginkan sekiranya
mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman,
menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka,
setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan
berlapang dada-lah, sampai Allah menberikan perintah-Nya.
Sungguh Allah Maha kuasa atas segala sesuatu”
(QS.AlBaqarah : 109).
“ Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela
kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama
mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itu petunjuk
(yang sebenarnya)’. Dan jika engkau mengikuti keinginan
mereka setelah itu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan
ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah” (QS. Al
Baqarah : 120).
3. Pengaruh globalisasi dan informasi yang membawa paham-
paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
4. Rasa frustasi umat akibat kondisi keterpurukan ekonomi yang
lemah sehingga membuat seseorang kurang mendalami ajaran
agamanya dan dapat dikatakan bahwa “kefakiran itu
menyebabkan kekafiran”.

6
F. BEBERAPA ALIRAN ISLAM YANG DILARANG OLEH MUI
1. Agama Ahmadiyah
Agama Qadian didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India.
Mirza dianggap sebagai Nabi yang disejajarkan dengan Nabi Isa as.,
Nabi Musa as., Nabi Daud as.
Agama ini bermaksud untuk menyaingi Kenabian Muhammad
SAW. Ahmadiyah masuk Indonesia tahun 1935 dan tersebar.
Pusatnya sekarang di Parung Bogor.
Mempunyai majalah Nur Islam (sebagai pengganti Sinar Islam
yang telah dilarang). Aliran ini sudah dilarang namun hanya secara
lokal. MUI serta organisasi Islam lainnya telah mengirim surat kepada
Pemerintah (Kejagung RI) tetapi belum mendapat tanggapan.

Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah :


a. Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya Nabi dan Rasul
utusan Tuhan.
b. Mengaku menerima wahyu di India. Kitab suci mereka
bernama Tadzkirah. Isinya memutarbalikkan ayat-ayat
suci Al Qur'an, ayat yang awal diputar ke belakang, ayat
yang satu disambung ayat lainnya sesuai dengan selera
nabi India tersebut.
c. Mengakui Kitab mereka sama sucinya dengan Al Qur'an.
d. Wahyu tetap turun sampai hari kiamat begitu juga Nabi
dan Rasul diutus sampai hari kiamat.
e. Mempunyai tempat suci sendiri yaitu Qadian dan Rabwah.
Nabi Mirza tidak pernah naik haji ke Makkah.
f. Mereka mempunyai surga sendiri yang letaknya di Qadian
dan Rabwah dan sertifikat kapling surga tersebut di jual
kepada jama'ahnya dengan harga sangat mahal.
g. Wanita Ahmadiyah haram nikah dengan laki-laki bukan
Ahmadiyah tetapi sebaliknya boleh.

7
h. Tidak boleh bermakmum dibelakang orang yang bukan
Ahmadiyah.
i. Ahmadiyah mempunyai tanggal, bulan dan tahun sendiri
yaitu Suluh, Tabliqh, Aman, Syahadah, Hijrah, Ikhsan,
Wafa', Zuhur, Tabuk, Ikha', Nubuwah, Fatah. Nama
tahunnya adalah Hijri Syamsi (HS).

Fatwa MUI / Dasar Hukum lain yang melarang


1) No. 05/kep/munas II/MUI/1980 yang menyatakan ajaran
tersebut sesat.
2) Rabithah alam silami (liga dunia islam) di makkah
menyatakan aliran ini kafir di luar islam.

2. Agama Salamullah Ajaran Lia Aminuddin


Lia Aminuddin, umur 51 tahun tinggal di Jl. Mahoni 30 Jakarta
Pusat. Ada beberapa buku yang sudah dikarang olehnya :
a. Perkenankan aku menjelaskan sebab taqdir.
b. Pancasila menuju Zam-zam.
c. Lembaga Al Hira, fatwa Jibril as. VS fatwa MUI.
d. Puisi-puisi mendalami kerukunan Nasional.

Pokok-Pokok Ajarannya :
a. Malaikat Jibril akan muncul lagi ke Bumi dan
bersemayam di diri Lia, maka dimanapun Lia berada
selalu bersama Malaikat Jibril as.
b. Lia mengakui menjadi juru bicara Jibris as. dan mengaku
sebagai Nabi/Rasul.
c. Lia mengaku mendapatkan wahyu.
d. Lia mengaku mendapatkan mukjizat.
e. Agama yang dibawa oleh Lia bernama Salamullah /
Agama Perenialisme yang menghimpun segala agama.
f. Lia mengaku sebagai Imam Mahdi.

8
g. Imam Mukti (anaknya) dianggap sebagai Nabi Isa as.
h. Abdul Rahman diyakini sebagai wa'sil/Imam besar.
i. Mencukur semua jenis rambut lalu membakarnya
dianggap sebagai bentuk ibadah yang diperintahkan Jibris
melalui Lia Aminuddin (seperti bayi yang baru lahir).

Fatwa MUI / Dasar Hukum lain yang melarang


Fatwa MUI No. Kep-768/MUI/XII/1997 tanggal 22
Desember 1997 fatwa sesat ajaran Lia Aminudin.

3. Syiah
Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan
Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang
faham Syi’ ah sebagai berikut :
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam
dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab
Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam
Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :


a. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait,
sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan
asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
b. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci),
sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai
manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
c. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan
Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa
mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
d. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/
pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama,
sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari

9
segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan
adalahuntuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan
umat.
e. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar
as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’
Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus


Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai
perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama
Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham
Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap
kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

4. Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)


Jenis aliran ini dianggap menyimpang dan dilarang oleh MUI :
a) Orang Islam diluar LDII adalah Kafir dan najis termasuk kedua
orang tua sekalipun
b) Haram mengaji Al-Qur’an dan Hadits kecuali kepada Imam
LDII
c) Dosa bisa ditebus kepada amir/imam dan besarnya tebusan
tergantung besar/kecilnya dosa
d) Haram sholat dibelakang imam yang bukan LDII
e) Haram nikah dengan orang diluar LDII dan membagikan daging
qurban kepada orang diluar LDII
f) Al-Qur’an dan Hadits yang boleh diterima adalah yang manqul
(yang diluar dari mulut imam/amir mereka) diluar dari itu haram
untuk diikuti
g) Bila ada orang diluar LDII melakukan Sholat di Masjid LDII
maka bekas sholatnya harus dicuci karena dianggap najis

10
Fatwa Mui/Dasar Hukum Lain Yang Melarang:
a) Fatwa MUI tanggal 13 Agustus 1994 sewaktu masih bernama
Islam Jamaah
b) Kajian yang dibuat oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian
Islam-LPPI
c) Pemerintah melalui Kejaksaan Agung telah mengeluarkan SK
Kejaksaan Agung RI No. Kep.089/D.a/10/1971 tanggal 29
Oktober 1971 tentang pelarangan LDII yang pada waktu itu
masih bernama Islam Jamaah

5. Jemaat Kristiani Pondok Nabi Dan Rasul Dunia


Jenis aliran ini dianggap menyimpang dan dilarang oleh MUI
a) Bahwa orang yang tidak sealiran dengan ajaran Pendeta
MANGAPIN SIBUEA dianggap sebagai inti Kristen yang
menyesatkan yang akan ditempatkan di neraka
b) Bahwa Pendeta-pendeta Kristen yang diluar ajarannya adalah
nabi-nabi palsu
c) Bahwa pembaptisan percik air yang laxim dilakukan oleh umat
Kristen di Gereja-gereja dianggap oleh Pendeta MANGAPIN
SIBUEA diluar kebenaran Al-Kitab Injil
d) Adanya keyakinan bahwa hari Kiamat akan terjadi pada tanggal
10 Nopember 2003

Fatwa Mui/Dasar Hukum Lain Yang Melarang :


• Berdasarkan SK dari Ketua Team Koordinasi Pengawasan
Aliran Kepercayaan (PAKEM) Kab. Bandung No.
KEP01/P.2.28/DSB.1/06/2000 tanggal 21 Juni 2000 menyatakan
larangan terhadap ajaran pendeta MANGAPIN SIBUEA dan
larangan beredar buku pedomannya berjudul “Suara Allah
diakhir jaman” yang dikembangkan (diajarkan) di Kab.
Bandung

11
6. AL QIYADAH AL ISLAMIYAH
Jenis aliran ini dianggap menyimpang dan dilarang oleh MUI :
a. Adanya syahadat baru yang berbunyi “Asyhadu ala ilaha
illallah, Wa asyhadu anna Masih Al Mau’ud Rasulullah”.
b. Adanya Nabi/Rasul baru setelah nabi Muhammad SAW.
c. Belum mewajibkan Shalat, Puasa dan Haji
d. Kelompok tersebut menganggap Rasulullah SAW telah habis
masa tugasnya sampai tahun 1400 H, dan Allah SWT telah
mengutus Ahmad Mushaddeq
e. Orang lain yang tidak masuk kelompok aliran Al Qiyadah Al
Islamiyah dan yang masih menganggap nabi Muhammad
sebagai Rasul dianggap Musyirik.
f. Menganggap Al-Qur’an saat ini sebagai tulisan sedangkan jiwa
atau rohnya sudah hilang sejak tahun 1300 tahun yang lalu.

Fatwa Mui/Dasar Hukum Lain Yang Melarang


• Fatwa MUI No. 05 tahun 2007 tanggal 03 Oktober 2007 yang
berisi antara lain “Pemerintah berkewajiban untuk melarang
penyebaran paham dan ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah,
menutup semua tempat kegiatan serta menindak tegas pimpinan
aliran tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku”.

7. Al Qur’an Suci
Jenis aliran ini dianggap menyimpang dan dilarang oleh MUI :
• Tidak percaya kepada semua hadits Rasulullah karena dasar
hukum dalam Islam hanya Al Qur’an

Fatwa Mui/Dasar Hukum Lain Yang Melarang


• Al Qur’an Suci mirip dengan Ingkar Sunnah yang sudah
dilarang oleh Kejagung maupun MUI Pusat sesuai dengan

12
Keputusan Kejagung No. Kep.169/JA/9/1983 dan Fatwa MUI
tanggal 27 Juni 1983

8. Aliran Hidup Dibalik Hidup


Pimpinan MUHAMAD KUSNENDAR Bergerak di Daerah
Sigong Kec. Lemah Abang Kabupaten Cirebon Pengikut 100 Orang
Lebih Inti ajaran yang aneh :
 Bisa berkomunikasi dengan Malaikat dan Para Nabi
 Telah melakukan Survey ke Sidratul Muntaha Surga dan Neraka

G. BID’AH
1. Pengertian Bid’ah
Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu
tanpa ada contoh. Bid’ah besrasal dari kata Ibtida’(membuat sesuatu yang
baru) ada dua makna;
Membuat sesuatu yang baru dalam hal adat (urusan keduniaan),
seperti penemuan-penemuan modern,hal semacam ini boleh saja karena
hukum asal dalam adat itu adalah mubah.
Membuat sesuatu yang baru dalam agama,dan hal ini haram
hukumnya.karena hukum asal dalam agama adalah tawqif(terbatas pada apa
yang diajarkan oleh syari’at).

Bid’ah menurut istilah (syar’i/terminologi) adalah : sesuatu yang


diada-adakan menyerupai syariat tanpa ada tuntunannya dari Rasulullah
yang diamalkan seakan-akan bagian dari ibadah. Dalam hal ini Rasūlullôh
Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : ”Barangsiapa yang mengamalkan
suatu amalan yang tiada ada tuntunannya dariku, maka tertolak” (HR
Bukhari Muslim) dan hadits : ”Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan
neraka tempatnya.”
Adapun menurut etimologi (bahasa), makna bid’ah adalah al-ikhtira’,
sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contohnya sebelumnya.

13
Jadi Makna bid’ah secara bahasa diartikan mengadakan sesuatu tanpa
ada contoh sebelumnya.
Makna bid’ah secara istilah adalah suatu cara baru dalam beragama
yang menyerupai syari’at dimana tujuan dibuatnya adalah untuk berlebih-
lebihan dalam beribadah kepada Allah.
Tiga unsur yang selalu ada pada bid’ah adalah; (a) mengada-adakan,
(b) perkara baru tersebut disandarkan pada agama, (c) perkara baru tersebut
bukan bagian dari agama.

2. Macam-macam bid’ah
Izzu bin Abdu Assalam dalam bukunya Qawaidu Alahkam fi
mashalihi alanam hal:204, ia menganggap bahwa segala sesuatu yang belum
dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW adalah Bid’ah yang
terbagi menjadi lima bagian, Bid’ah Wajiba (Wajib), Bid’ah Muharramah
(Haram), Bid’ah Makruha (Makruh), Bid’ah Mandubah (Sunnah) dan
Bid’ah Mubaha (boleh) dan untuk mengetahuinya maka bidah tersebut
haruslah diukur berdasarkan Syar’i, apabila bid’ah tersebut termasuk ke
dalam sesuatu yang diwajibkan oleh syar’i berarti bida’ah itu wajib, apabila
termasuk perbuatan yang diharamkan berarti haram dan seterusnya. Defenisi
ini kemudian diperkuat oleh Imam Nawawi dalam Fath Albari karangan
Ibnu hajar hal:394, bahwa segala sesuatu yang belum dan tidak pernah ada
pada zaman Nabi adalah bid’ah namun ada yang terpuji dan ada pula yang
tercela
Imam Nawawi dalam kitabnya Alazkar, mengatakan bahwa bid’ah itu
terbagi menjadi:
a. Bid’ah Wajiba, Contoh:mempelajari ilmu Nahwu untuk lebih
memahami kalamullah dan sunnah rasul adalah sesuatu yang
wajib dipelajari dan untuk menjaga syariat maka bid’ah itu
adalah wajib
b. Muharramah, Contoh:Mazhab-mazhab yang sesat, seperti
Qadariyah, jabariah dan Khawarij, juga termasuk menciptakan
sesuatu yang mendatangkan mudharat bagi diri dan orang lain.

14
c. Mandubah, Contoh Bid’ah Mandubah: Pembangunan sekolah,
jembatan, shalat tarawih berjamaah di mesjid dan lain-lain.
d. Mubaha, Contoh Bid’ah mubaha: menambah kelezatan makanan
dan minuman serta memperindah pakaian
Dan beliau pun berbicara mengenai berjabat tangan setelah
menunaikan shalat, dimana berjabat tangan adalah sunnah pada setiap
kali bertemu, namun orang-orang terbiasa dengan berjabat tangan dan
menjadikannya adat hanya pada setiap kali selesai shalat subuh dan
ashar saja, padahal tidak mempunyai dasar dalam syara’, namun tidak
apa-apa karena asal hukum berjabatan tangan adalah sunnah.
Dalam kitab Annihayah,Ibnu Atsir berkata: Bid’ah itu terbagi
menjadi dua yaitu Bid’ah hasanah dan dhalalah, jika bertentangan
dengan perintah Allah dan rasulnya maka bid’ah itu termasuk
golongan sesat dan tercela namun jika sesuai dengan nilai-nilai yang
telah dianjurkan oleh agama maka bid’ah itu tergolong kedalam
bid’ah yang terpuji.

Para ‘ulama ahli ushul fiqih telah sepakat menetapkan pembagian


bid’ah itu kedalam dua bagian yaitu :
a. Bid’ah ‘Amm (umum);
Macamnya : Fi’liyyah dan Tarkiyyah, I’tiqadiyyah dan
‘Amaliyyah,Zamaniyyah, Makaniyyah dan Haliyyah,
Haqiqiyyah dan Idhafiyyah, Kulliyyah dan Juz-iyyah,
‘Ibadiyyah dan ‘Adiyyah.
b. Bid’ah Khash (khusus):
Macamnya : Bid’ah wajibah, Bid’ah Mandubah, Bid’ah
Mubahah, Bid’ah Muharramah, Bid’ah Makruhah.

15
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Aliran sesat bukan semata masalah kesesatan berpikir, tetapi juga
masalah psikologis individu dan masyarakat secara keseluruhan. Dinamika
kehidupan yang berat, kekacauan sistem sosial dan ketidakpastian nilai-nilai
yang ditawarkan oleh kapitalisme dan liberalisme menyebabkan orang-
orang dengan kecenderungan psikiatrik menempuh kehidupan yang sesat
dan menyesatkan tanpa disadarinya.
Meskipun kasus-kasus demikian jarang menjadi ranah para psikolog
dan psikiater tetapi fakta menunjukkan bahwa problem psikologis dengan
gejala psikiater delusi, halusinasi dan mimpi aneh menjadi bagian yang
perlu dicermati secara ilmiah terutama pada para pemimpin aliran dan
gerakan. Hal ini penting agar dapat melakukan deteksi dini akan adanya
keanehan perilaku.
Apalagi bila informasi (dakwah) yang disajikan kurang sistematis,
memberi solusi dan menyehatkan jiwa akan semakin mudah terbentuknya
komunitas atau gerakan kesesatan dengan variasi yang tidak pernah
berhenti. Lebih parah lagi apabila kesesatan dibiarkan sejak awal dan
menunggu menguat menjadi komunitas besar, maka kesesatan akan
dipahami sebagai keniscayaan kebenaran.
Sudah saatnya dakwah dikelola dengan lebih membumi dan menjadi
solusi bagi persoalan hidup serta ketersediaan sistem sosial yang mampu
mencegah kesesatan semakin mendapat ruang.

B. SARAN
Secara ringkas penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin
sekalian agar membudayakan sikap saling menasehati dalam kebaikan.
Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Agama adalah
nasehat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka tulisan ini adalah bentuk nasehat di balik sebuah harapan besar
agar kaum muslimin sekalian terhindar dari jalan-jalan kesesatan dan

16
bersatu di jalan kebenaran. Sehingga jika pembaca menemukan ciri-ciri
aliran sesat sebagaimana telah disebutkan, kewajiban pertama adalah
menasehati.
Bukan menyesat-nyesatkan, mencaci-maki, melakukan aksi anarkis
apalagi memvonis kafir. Sebab, terjerumus dalam jalan kesesatan belum
tentu kafir. Dan juga kami mengharap melalui masukan dari rekan-rekan
sekalian.
Setelah disadari bahwa Bid’ah kesalahan yang besar yang menyalahi
hukum-hukum Allah dan tidak diajarkan dalam agama Islam maka
hendaklah masyarakat mampu meramu pendidikan agama Islam yang sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang diajarkan dalam agama islam. Diharapkan
dengan adanya makalah ini pembaca akan lebih dapat mencari tahu tentang
aliran yang dilarang oleh MUI bid’ah yang diwajibkan dan diharamkan.
.

17
DAFTAR PUSTAKA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), “10 (Sepuluh) Kriteria Aliran Sesat”, 9


November 2007.
R. Hrair Dekmejian, “Islamic Revival, Catalysts, Categories, and Consequences”
dalam Shireen T. Hunter (ed.), The Politics of Islamic Revivalism,
Diversity and Unity, 1988. (dalam Moeflich hasbullah, 2007)
An-Natijah, “Timbulnya Aliran Sesat”, 29 Juli 2008. Diakses dari
http://mimbarjumat.com/archives/104
Mohm Yasin, “Pseudo-Mujtahid dan Menjamurnya Aliran Sesat”, Diakses Pada
Tanggal 10 Oktober 2019 Pukul 20.00 WIB http://muhammad-
yasin.blogspot.com/2008/08/pseudo-mujtahid-dan-menjamurnya-
aliran.html.
https://www.nahimunkar.org/data-ajaranaliran-sesat-yang-telah-difatwakan-mui/
Diakses Pada Tanggal 10 Oktober 2019 Pukul 20.00 WIB
http://www.media-islam.or.id/2007/11/09mui-sepuluh-kriteria-aliran-sesat.
Diakses Pada Tanggal 10 Oktober 2019 Pukul 20.00 WIB

18