Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

EVALUASI PENDIDIKAN
TES SEBAGAI ALAT PENILAIAN HASIL BELAJAR

Disusun Oleh:
Niedya Octafyanna 20187270047
Maria Virginia K 20187270052
Nur Aprianti 201872700??

FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga alhamdulillah kami berhasil
menyelesaikan makalah dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Metode Penelitian Pendidikan dengan judul “Tes Sebagai Penilaian Hasil Belajar“
ini pada waktunya.
Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-
tingginya kepada yang terhormat :
1. Dr. Imam selaku dosen pengampu mata kuliah Evaluasi Pendidikan atas
pengarahannya dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini.
2. Rekan-rekan semua di kelas MIPA C .
3. Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang
telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada
kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami harapkan. Kami berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR .................................................................................................... 2
DAFTAR ISI ................................................................................................................... 3
BAB I ............................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ........................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 4
C. Tujuan .................................................................................................................... 5
BAB II.............................................................................................................................. 6
PEMBAHASAN.............................................................................................................. 6
A. Pengertian Penilaian Hasil Belajar-Mengajar ................................................... 6
B. Hasil Belajar Sebagai Objek Penilaian ............................................................. 10
C. Teknik Tes Sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar ................................................ 15
D. Konsep Penilaian Kurikulum 2013 ....................................................................... 19
BAB III .......................................................................................................................... 23
PENUTUP ..................................................................................................................... 23
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 23
B. Saran .................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 24

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penilaian hasil belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam
proses pendidikan. Semua proses di lembaga pendidikan formal pada akhirnya
akan bermuara pada hasil belajar yang diwujudkan secara kuantitatif berupa
nilai. Hasil belajar siswa tidak selalu mudah untuk dinilai. Sebagaimana
diketahui, tujuan pembelajaran meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Ranah pengetahuan (kognitif) dan sikap (afektif) relatif sulit untuk
diamati, meski pun dapat diukur. Oleh karena itu, dalam proses penilaian hasil
belajar langkah yang pertama harus dimulai dari perumusan tujuan
pembelajaran yang memungkinkan untuk diamati dan diukur (observable and
measurable).
Berangkat dari tujuan pembelajaran yang dirumuskan, maka disusunlah
instrumen untuk mengamati dan mengukur hasil pembelajaran. Dengan
menggunakan instrumen, diperoleh data yang mencerminkan ketercapaian
tujuan pembelajaran pada seorang peserta didik. Data ini selanjutnya harus
diolah dan dimaknai sehingga menjadi informasi yang bermakna. Selain itu
berdasarkan data tersebut penilai dapat membuat keputusan mengenai posisi
atau status seorang peserta didik, misalnya naik atau tidak naik kelas, lulus atau
tidak dan sebagainya. Seluruh proses penilaian hasil belajar tentu harus
dilakukan dengan cermat, mulai dari penyusunan instrumen, pelaksanaan tes,
pengolahan, sampai pada penetapan hasil akhir. Pada setiap tahapan diperlukan
keterampilan khusus yang perlu dipelajari. Tulisan ini bermaksud membekali
pengawas untuk dapat membina para guru dalam melaksanakan penilaian hasil
belajar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik
suatu rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian penilaian hasil belajar?
2. Kapan hasil belajar sebagai objek penilaian?

4
3. Bagaimana teknik tes sebagai alat penilaian hasil belajar ?
4. Bagaimana penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang akan disampaikan dalam makalah ini, berdasarkan
latar belakang di atas, yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian penilaian hasil belajar.
2. Untuk mengetahui apa saja hasil belajar sebagai objek penilaian.
3. Untuk mengetahui teknik tes sebagai alat penilaian hasil belajar.
4. Untuk memahami konsep penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penilaian Hasil Belajar-Mengajar


Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses
menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga
suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Misalnya untuk dapat
mengatakan baik, sedang, kurang, diperlukan adanya ukuran yang jelas
bagaimana yang baik, yang sedang, dan yang kurang. Ukuran itulah yang
dinamakan kriteria.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah
adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk
membandingkan antara apa yang dicapai dengan kriteria yang harus dicapai.
Perbandingan bisa bersifat mutlak, bisa pula bersifat relatif. Perbandingan
bersifat mutlak artinya hasil perbandingan tersebut menggambarkan posisi
objek yang dinilai ditinjau dari kriteria yang berlaku. Sedangkan perbandingan
yang bersifat relatif artinya hasil perbandingan lebih menggambarkan posisi
suatu objek yang dinilai terhadap objek lainnya dengan bersumber pada kriteria
yang sama.
Dengan demikian, inti penilaian adalah proses menentukan nilai suatu
objek tertentu berdasarkan kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut
berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment.
Interpretasi dan judgment merupakan tema penilaian yang mengimplikasikan
adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi
tertentu. Atas dasar itu maka dalam kegiatan penilaian selalu ada objek/program
yang dinilai, ada kriteria, dan ada interpretasi/judgment.
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil
belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan
bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada
hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotoris.

6
Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar rumusan kemampuan dan
tingkah laku yang diinginkan dikuasai siswa (kompetensi) menjadi unsur
penting sebagai dasar dan acuan penilaian.

1. Jenis, Standar Penilaian dan Cara Penskoran


a. Jenis Penilaian
Dilihat dari fungsinya penilaian dibedakan menjadi lima jenis
yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik,
penilaian selektif, dan penilaian penempatan.
1) Penilaian Formatif.
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan guru pada
saatberlangsungnya proses pembelajaran untuk melihat tingkat
keberhasilan prosesbelajar-mengajar itu sendiri. Dengan demikian,
penilaian formatif berorientasikepada proses belajar-mengajar untuk
memperbaiki program pengajarandan strategi pelaksanaannya.
2) Penilaian Sumatif.
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir
unitprogram, yakni akhir caturwulan, akhir semester, dan akhir
tahun. Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para
siswa, yakni seberapa jauh kompetensi siswa dan kompetensi mata
pelajaran dikuasai oleh para siswa.Penilaian ini berorientasi kepada
produk, bukan kepada proses.
3) Penilaian Diagnostik.
Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat
kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyebabnya. Penilaian ini
dilaksanakan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran
remedial (remedial teaching), menemukan kasus-kasus. Soal-
soalnya disusun sedemikian rupa agar dapat ditemukan jenis
kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.
4) Penilaian Selektif.

7
Penilaian selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan
seleksi,misalnya tes atau ujian saringan masuk ke sekolah tertentu.
5) Penilaian Penempatan.
Penilaian penempatan adalah penilaian yang ditujukan untuk
mengetahui keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu
program belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan
sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu. Dengan
perkataan lain, penilaian ini berorientasi kepadakesiapan siswa
untuk menghadapi program baru dan kecocokan program belajar
dengan kemampuan siswa.
Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan
menjadi tes dan bukan tes(nontes). Tes ini ada yang diberikan secara
lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut
jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam
bentuk perbuatan).
Di samping jenis-jenis penilaian perlu juga dijelaskan sistem
penilaian. Yang dimaksudkan dengan sistem penilaian dalam
pembahasan ini ialah cara yang digunakan dalam menentukan derajat
keberhasilan hasil penilaian sehingga kedudukan siswa dapat diketahui,
apakah telah menguasai tujuan instruksional ataukah belum.
b. Standar Penilaian
Selain jenis-jenis penilaian perlu juga dijelaskan mengenai
standar penilaian yakni cara yang digunakan dalam menentukan derajat
keberhasilan hasil penilaian sehingga dapat diketahui kedudukan siswa,
apakah ia telah menguasai tujuan pembelajaran ataukah belum. Standar
penilaian hasil belajar pada umumnya dibedakan kedalam dua standar,
yakni standar penilaian acuan norma(PAN) dan penilaian acuan patokan
(PAP).
1) Penilaian acuan norma (PAN)
Penilaian acuan norma adalah penilaian yang diacuhkan
kepada rata-rata kelompoknya. Dengan demikian dapat diketahui

8
posisi kemampuan siswa di dalam kelompoknya. Untuk itu norma
atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi
seseorang siswa, dibandingkan dengan nilai rata-rata kelasnya. Atas
dasar itu akan diperoleh tiga kategori prestasi siswa, yakni diatas
rata-rata kelas, sekitar di atas rata-rata kelas, dan dibawah rata-rata
kelas.
Dengan kata lain, prestasi yang dicapai seseorang posisinya
sangat bergantung pada prestasi kelompoknya. Keuntungan sistem
ini adalah dapat diketahui keberhasilan pengajaran bagi semua
siswa. Kelemahannya adalah kurang meningkatkan kualitas hasil
belajar serta kurang praktis sebab harus dihitung dahulu nilai rata-
rata kelas, apalagi jika jumlah siswa cukup banyak. Sistem ini
kurang menggambarkan tercapainya tujuan instruksional sehingga
tidak dapat dijadikan ukuran dalam menilai keberhasilan
pengajaran. Demikian juga kriteria keberhasilan tidak tetap dan
tidak pasti, bergantung pada rata-rata kelas.

2) Penilaian acuan patokan (PAP)


Penilaian acuan patokan adalah penilaian yang diacukan
kepada tujuan instruksional yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan
demikian, derajat keberhasilan siswa dibandingkan dengan tujuan
yang seharusnya dicapai, bukan dibandingkan dengan rata-rata
kelompoknya. Biasanya keberhasilan siswa ditentukan kriterianya,
yakni berkisar antara 75-80 persen. Sistem penilaian ini mengacu
kepada konsep belajar tuntas atau mastery learning. Sudah barang
tentu makin tinggi kriteria yang digunakan, makin tinggi pula derajat
penguasaan belajar yang dituntut dari para siswa sehingga makin
tinggi kualitas hasil belajar yang diharapkan. Dalam sistem ini guru
tidak perlu menghitung rata-rata kelas sebab kriterianya sudah pasti.
c. Cara Penskoran

9
Terkait dengan sistem penilaian perlu juga diketahui tentang cara
memberikan skor/nilai atau sistem pembijian yakni cara pemberian
angka dalam menilai hasil belajar siswa. Dalam sistem pembijian atau
cara memberikannilai dapat digunakan beberapa cara. Cara pertama
menggunakan sistem huruf, yakni A, B, C, D, dan E (gagal). Biasanya
ukuran yang digunakan adalahA paling tinggi, paling baik, atau
sempurna; B baik; C sedang atau cukup;dan D kurang; dan E gagal. Cara
kedua ialah dengan sistem angka yang menggunakanbeberapa skala.
Pada skala empat, angka 4 setara dengan A, angka 3setara dengan B,
angka 2 setara dengan C, dan angka 1 setara dengan D. Ada juga skala
sepuluh, yakni menggunakan rentangan angka dari 1-10. Selain itu ada
juga yang menggunakan rentangan 1-100. Berdasarkan kenyataan yang
terjadi selama ini di SD dan SMP, skala yang dipakai adalah skala
sepuluh(1-10) dan skala 100 (1-100).
.
B. Hasil Belajar Sebagai Objek Penilaian

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa


setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga
macam hasil belajar, yakni : (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan
dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita.
Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah
diterapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil
belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi
kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya tiga ranah,
yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi,

10
analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat
rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi..
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yang (a) gerakan
refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d)
keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f)
gerakan ekspresif dan interpretatif.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara
ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak yang dinilai oleh para
guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam
menguasai isi bahan pengajaran.
1. Ranah Kognitif
a. Tipe Hasil Belajar Pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata
knowledge dalam taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya
tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula
pengetahuan faktual disamping pengetahuan hafalan atau untuk diingat
seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang,
nama-nama tokoh, nama-nama kota dll.Dilihat dari segi proses belajar,
istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar dapat
dikuasainya sebagai dasar bagi pengetahuan atau pemahaman konsep-
konsep lainnya. Ada beberapa cara untuk dapat mengingatdan
menyimpannya dalam ingatan seperti teknik memo, jembatan keledai,
mengurutkan kejadian, membuat singkatan yang bermakna.
Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah
yang paling rendah. Namun,tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi
tipe hasil belajar berikutnya. Hafalan menjadi prasarat bagi pemahaman.
Hal ini berlaku bagi semua bidang ilmu, baik matematika, pengetahuan
alam, ilmu sosial, maupun bahasa. Misalnya hafal suatu rumus akan

11
menyebabkan paham bagaimana menggunakan rumus tersebut, hafal
kata-kata akan memudahkan membuat kalimat.

b. Tipe Hasil Belajar Pemahaman


Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari pada pengetahuan adalah
pemahaman. Misalnya menjelaskan susunan kelimat dengan bahasa
sendiri, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, menggunakan
petunjuk penerapan pada kasus lain. Dalam taksonomi Bloom,
kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi dari pada pengetahuan.
Namun, tidaklah berarti bahwa pengetahuan tidak perlu ditanyakan
sebab, untuk dapat memahami, perlu terlebih dahulu mengetahui atau
mengenal.
Pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga kategori. Tingkat
terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam
arti yang sebenarnya, misalnya dari bahasa Inggris ke dalam bahasa
Indonesia, pemahaman mengartikan Bhineka Tunggal Ika, mengartikan
merah putih, menerapkan prinsip-prinsip listrik dalam memasang saklar
dll yang sejenis.
Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni
menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui
berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan
kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok,
menghubungkan pengetahuan tentang konjungsi kata kerja, subjek, dan
possesive sehingga tahu menyusun kalimat.
Pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah
pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi diharapkan seseorang
mampu melihat di balik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang
konsekuensi dari suatu kejadian, dapat memperluas presepsi dalam arti
waktu, dimensi, kasus, ataupun masalahnya. Sejauh dengan mudah dapat
dibedakan antara pemahaman terjemahan,pemanfsiran, dan ekstrapolasi,
bedakanlah untuk kepentingan penyususunan soal tes hasil belajar.

12
c. Tipe Hasil Belajar Aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau
situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, rumus,
hukum, prinsip generalisasi dan pedoman atau petunjuk teknis.
Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Aplikasi
yang berulang kali dilakukan pada situasi lama akan beralih menjadi
pengetahuan hafalan atau keterampilan. Suatu situasi akan tetap dilihat
sebagai situasi baru bila terjadi proses pemecahan masalah.Situasi
bersifat lokal dan mungkin pula subjektif sehingga tidak mustahil bahwa
sesuatu itu baru bagi banyak orang, tetapi sesuatu yang sudah dikenal
bagi beberapa orang tertentu.
d. Tipe Hasil Belajar Analisis
Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-
unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya dan susunannya.
Analisis merupakan suatu kecakapan yang kompleks, yang
memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe hasil belajar sebelumnya.
Dengan kemampuan analisis diharapkan siswa mempunyai pemahaman
yang komprehensif tentang sesuatu dan dapat memilah atau memecahnya
menjadi bagian-bagian yang terpadu baik dalam hal prosesnya, cara
bekerjanya, maupun dalam hal sistematikanya. Bila kecakapan analisis
telah dikuasai siswa maka siswa akan dapat mengaplikasikannya pada
situasi baru secara kreatif.
e. Tipe Hasil Belajar Sintesis
Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam bentuk
menyeluruh disebut sintesis. Berpikir berdasar pengetahuan hafalan,
berpikir pemahaman, berpikir aplikasi, dan berpikir analisis dapat
dipandang sebagai berpikir konvergen yang satu tingkat lebih rendah
daipada berpikir devergen.
Dalam berpikir konvergen, pemecahan masalah atau jawabannya
akan mudah diketahui berdasarkan yang sudah dikenalnya. Berpikir
sintesis adalah berpikir divergen. Dalam berpikir divergen pemecahan

13
masalah atau jawabannya belum dapat dipastikan. Mensintesiskan unit-
unit tersebar tidak sama dengan mengumpulkannya kedalam satu
kelompok besar. pada sintesis adalah menyatukan unsur-unsur menjadi
suatu integritas yang mempunyai arti. Berpikir sintesis merupakan sarana
untuk dapat mengembangkan berpikir kreatif. Seseorang yang kreatif
sering menemukan atau menciptakan sesuatu. Kreatifitas juga beroperasi
dengan cara berpikir divergen.
Dengan kemampuan sintesis, siswa dimungkinkan untuk
menemukan hubungan kausal, urutan tertentu, astraksi dari suatu
fenomena dll.
f. Tipe Hasil Belajar Evaluasi
Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang
mungkin dilihat dari tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode,
materi, dll. Oleh karena itu maka dalam evaluasi perlu adanya suatu
kriteria atau standar tertentu. Dalam tes esai, standar atau kriteria tersebut
muncul dalam bentuk frase “menurut pendapat saudara” atau “menurut
teori tertentu”. Frase yang pertama sukar diuji mutunya, setidak-tidaknya
sukar diperbandingkan sebab variasi kriterianya sangat luas. Frase yang
kedua lebih jelas standarnya. Untuk mengetahui tingkat kemampuan
siswa dalam evaluasi, maka soal-soal yang dibuat harus menyebutkan
kriterianya secara eksplisit. Mengembangkan kemampuan evaluasi
penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kemampuan
evaluasi memerlukan kemampuan dalam pemahaman, aplikasi, analisis,
dan sintesis. Artinya tipe hasil belajar evaluasi mensyaratkan
dikuasainya tipe hasil belajar sebelumnya.
2. Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli
mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila
seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.
Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar, yaitu :

14
a) Reciving / attending : semacam kepekaan dalam menerima rangsangan
(stimulasi) dari luar yang dating kepada siswa dalam bentuk masalah,
situasi, gejala, dan sebagainya.
b) Responding atau jawaban : reaksi yang diberikan oleh seseorang
terhadap stimulasi yang dating dari luar.
c) Valuing (penilaian) : berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap
gejala atau stimulus.
d) Organisasi : pengembangan dari nilai ke dalam satu system organisasi,
termasuk hubungan satu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan
prioritas nilai yang telah dimiliki.
e) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua
sistem nilai yang telah dimilikinya.
3. Ranah Psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan ( skill
) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan,
yakni :
a) Gerakan refleks ( keterampilan pada gerakan yang tidak disadari ) ;
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar ;
c) Kemampuan perseptual, termasuk didalamnya membedakan visual,
membedakan auditif, motoris, dan lain-lain ;
d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan
ketepatan ;
e) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada
keterampilan yang kompleks ;
f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti
gerakan ekspresif dan interpretatif.

C. Teknik Tes Sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar

Tes berasal dari bahasa latin testum yang berarti alat untuk mengukur tanah.
Dalam bahasa Perancis kuno, kata tes berarti ukuran yang dipergunakan untuk

15
membedakan antara emas dengan perak serta logam lainnya. Menurut Sumadi
Surya Brata, mengertikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan
atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan tes menjawab
pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, meyelidiki
mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee
lainnya.
Dari kedua pengertian diatas maka dapat diketahui bahwa tes adalah alat
pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditunjukan kepada
testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon
tersebut ditentukan tinggi rendahnya akor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya
dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang
bersifat kuantitatif.

2. Fungsi Tes
Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
a. Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik.
b. Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui
tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program
pengajaran yang telah ditentukan.

3. Penggolongan Tes
Sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau
golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan
tes itu dilakukan.
a. Penggolongan Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur
Perkembangan/ Kemajuan Belajar Peserta Didik.
1) Tes seleksi. Sering dikenal dengan istilah “ujian ringan” atau “ujian
masuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa
baru, di mana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik
yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti
tes.

16
2) Tes awal. Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi
atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh
para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum
bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka
butir-butir soalnya dibuat yang mudah-mudah.
3) Tes akhir. Sering dikenal dengan post-test. Tes akhir dilaksanakan
dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang
tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh
para peserta didik.
4) Tes diagnostic. Adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan
secara tepat , jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik
dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis
kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan
dapat dicarikan upaya berupa pengobatan yang tepat. Tes ini juga
bertujuan ingin menemukan jawab atas pertanyaan “Apakah peserta
didik sudah dapat menguasai pengetahuan yang merupakan dasar atau
landasan untuk dapat menerima pengetahuan selanjutnya?”
5) Tes formatif. Adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk
mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk”
(sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah
mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
Perlu diketahui bahwa istilah “formatif” itu berasal dari kata “form”
yang berarti “bentuk”.
6) Tes sumatif. Adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah
sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah
tes ini dikenal dengan istilah “Ulangan Umum” atau “UN” (Ujian
Nasional), dimana hasilnya digunakan untuk mengisi rapor atau
mengisi ijazah. Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua
siswa memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang

17
dikemukakan dalam tes sumatif ini pada umumnya juga lebih sulit
atau lebih berat daripada butir-butir soal tes formatif.
b. Penggolongan Tes
Ditilik dari segi aspek kejiwaan yang ingin diungkap, tes setidak-tidaknya
dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
1) Tes intelegensi, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
2) Tes kemampuan, yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh
testee.
3) Tes sikap, yakni salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk
mengungkap predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk
melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik
berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.
4) Tes kepribadian, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan
mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya
bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian dan lain-lain.
5) Tes hasil belajar, yang sering dikenal dengan istilah tes pencapaian,
yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian
atau prestasi belajar.
Ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan
menjadi dua golongan, yaitu:
1) Tes individual, yakni tes di mana tester hanya berhadapan dengan satu
orang testee saja, dan;
2) Tes kelompok, yakni tes di mana tester berhadapan dengan lebih dari
satu orang testee.
Ditilik dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan
tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Power test, yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk
menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, dan;

18
2) Speed test, yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk
menyelesaikan tes tersebut dibatasi.

Ditilik dari segi bentuk responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua
golongan,yaitu:
1) Verbal test, yakni suaut tes yang menghendaki respon (jawaban) yang
tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara
lisan maupun secara tertulis, dan;
2) Nonverbal test, yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari
testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan
berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang dikehendaki
muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan
tertentu.
Apabila ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara
memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan,
yaitu:
1) Tes tertulis, yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butir-
butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee
memberikan jawabannya juga secara tertulis.
2) Tes lisan, yakni tes di mana tester di dalam mengajukan pertanyaan-
pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan, dan testee
memberikan jawabannya secara lisan pula.

D. Konsep Penilaian Kurikulum 2013

Penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah, sehingga langkah


awal yang d Kurikulum 2013 menghadirkan paradigma baru dalam sistem
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan tidak hanya
diorientasikan untuk mengembangkan pengetahuan semata, tetapi

19
menyeimbangkan penguasaan pengetahuan dengan sikap dan keterampilan
peserta didik. Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses
pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran
tidak langsung. Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di
mana peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan
keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar
yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan yang terjadi selama
belajar di sekolah dan di luar dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
terjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan moral dan perilaku yang
terkait dengan sikap. Perubahan paradigma pembelajaran dalam Kurikulum
2013 menuntut adaptasi dalam penilaian. Penilaian didaktik (didactical
assesment) merupakan penilaian yang bertujuan untuk mendukung proses
pembelajaran dimana tujuan, isi, prosedur, dan alat penilaian bersifat didaktis.

1. Tujuan bersifat didaktis


Tujuan bersifat didaktis, yaitu berusaha mengumpulkan data yang
menyakinkan tentang siswa dan proses pembelajarannya guna membuat
keputusan-keputusan pembelajaran.
Keputusan tersebut dapat meliputi keputusan tentang keberhasilan
atau kegagalan, pengenalan hal baru, pendampingan ekstra siswa, atau
pemilihan desain pembelajaran. Keputusan-keputusan yang didasarkan dari
berbagai informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran.
2. Isi bersifat didaktis
Isi bersifat didaktis, yaitu isi penilaian tidak hanya khusus (terbatas)
pada ketrampilan yang mudah dinilai, tetapi beberapa tujuan pembelajaran
yang lebih mendalam. Penilaian harus mampu memberikan pengetahuan
mendalam tentang aktivitas matematis siswa. Penilaian didaktik pada
dasarnya memprioritaskan pada penilaian proses, bukan semata-mata hasil.
Keluasan, kedalaman, dan hubungan antara proses dan hasil.

20
3. Prosedur bersifat didaktis
Prosedur bersifat didaktis, yaitu prosedur yang diterapkan
merupakan integrasi pengajaran dan penilaian serta merupakan bagian
proses pembelajaran. Integrasi proses pembelajaran dan penilaian juga
berarti bahwa penilaian akan memainkan peran selama proses
pembelajaran. Implikasinya, penilaian akan melihat belakang-depan.
Melihat ke belakang berarti melihat apakah siswa telah belajar, dalam
konteks hasil belajar. Melihat ke depan berarti memusatkan perhatian untuk
menemukan pijakan bagi pembelajaran selanjutnya. Metode penilaian harus
sesuai dengan praktek pendidikan dan harus bisa diterapkan.
4. Alat bersifat didaktis
Alat bersifat didaktis, yaitu harus dapat menggambarkan siswa
secara lengkap dan utuh, sehingga alat yang digunakan bervariasi sesuai
informasi yang diperlukan. Ini membutuhkan metode penilaian terbuka
yang memberi kesempatan siswa menunjukkan kemampuan. Penekanan
penilaian pada “apa yang sudah diketahui siswa” tidak berarti bahwa “apa
yang tidak diketahui siswa” tidak dianggap penting.
Yang membedakan antara RPP buatan KTSP dengan kurikulum
2013, yaitu tentang proses pembelajaran menggunakan
pendekatan saintifik/pendekatan ilmiah, pada kegiatan inti. Yaitu
komponen mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
mengkomunikasikan. Didalam teknik pembuatannya RPP setiap mata
pelajaran harus memunculkan Kompetensi Inti (KI). Ada 4 (empat) KI,
diantaranya :
KI 1, kompetensi tentang penghayatan terhadap agama yang dianutnya
KI 2, kompetensi tentang sikap sikap, seperi tanggung jawab, rasa ingin tahu
dan sebagainya
KI 3, kompetensi tentang Kognitif atau pengetahuan
KI 4, kompetensi tentang keterampilan atau praktik.
Penilaian pada kurikulum 2013, seluruh mata pelajaran baik mata
pelajaran IPA dan IPS, mengandung tiga ranah pengetahuan, keterampilan

21
dan sikap. Nilai pada Buku Raport atau nilai hasil belajar harus dikonversi
menjadi angka 1 s.d 4, dan di beri predikat A, B+,B-, C, C+, C-, D.
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk mengukur pencapaian hasil belajar Peserta Didik. Penilaian
merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan
menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dapat dilakukan selama pembelajaran berlangsung
(penilaian proses) dan setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian
hasil/produk). Menurut Juknis Pengelolaan Penilaian pada kurikulum 2013,
penilaian setiap mata pelajaran meliputi kompetensi pengetahuan,
kompetensi keterampilan, dan kompetensi sikap. Kompetensi pengetahuan
dan kompetensi keterampilan menggunakan skala 1–4 (kelipatan 0.33),
yang dapat dikonversi ke dalam Predikat A - D sedangkan kompetensi sikap
menggunakan skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang
(K).

22
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan pada bab II, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-
hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini
mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa.
2. Dilihat dari fungsinya penilaian dibedakan menjadi lima jenis yaitu
penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, penilaian
selektif, dan penilaian penempatan. Standar penilaian hasil belajar
pada umumnya dibedakan kedalam dua standar, yakni standar penilaian
acuan norma (PAN) dan penilaian acuan patokan (PAP). Terkait dengan
sistem penilaian perlu juga diketahui tentang cara memberikan skor/nilai
atau sistem pembijian yakni cara pemberian angka dalam menilai hasil
belajar siswa. Dalam sistem pembijian atau cara memberikan nilai dapat
digunakan beberapa cara. Cara pertama menggunakan sistem huruf, cara
kedua ialah dengan sistem angka yang menggunakan beberapa skala. Selain
itu ada juga yang menggunakan rentangan 1-100.
3. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem pendidikan nasional
rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan
instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom
yang secara garis besar membaginya tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotoris.

B. Saran
Sebaiknya dalam melakukan tes sebagai penilaian hasil belajar,
pendidik lebih dapat mengembangkan dari segi mutu dan kualitas penilaian
itu sendiri, agar tujuan instruksional yang ingin dicapai betul-betul dalam
pengelolaannya bersifat lebih efektif dan akurat.

23
Kami menyadari bahwa mash banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penyusunan makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan
saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Guraru. 2013. Penilaian Kurikulum. Pada http://guraru.org/guru-berbagi/rpp-


penilaian-kurikulum-2013/ Diakses pada tanggal 5 maret 2013.
Nana Sudjana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya. (http://fajarguru.blogspot.com . Diakses pada tanggal 3
Oktober 2019)
Sudrajat ,Ahmad . 2004 . Penilaian Hasil Belajar .
Pada http://ahmadsudrajat.worpress.com . Diakses pada tanggal 4 Oktober
2019.

24