Anda di halaman 1dari 6

Tugas Mandiri 1 CPNS Kementerian PUPR 2017

Tugas Mandiri 1 CPNS Kementerian PUPR 2017 Tema: Peran Teknik Penyehatan Lingkungan Permukiman Ahli Pertama dalam

Tema:

Peran Teknik Penyehatan Lingkungan Permukiman Ahli Pertama dalam Peningkatan Daya Saing Nasional

Judul:

Penyelenggaraan Infrastruktur Permukiman Untuk Peningkatan Daya Saing Nasional

Oleh:

Rizki Ramadhani Ferina, ST

Nomor Peserta 30211233020390

Teknik Penyehatan Lingkungan Permukiman Ahli Pertama

Kelompok 14 Bergerak Cepat

Nomor Absen Kelompok: 45

Penyelenggaraan infrastruktur di Indonesia merupakan bagian dari upaya pemerintah bersama rakyat untuk melaksanakan pembangunan nasional. Sejalan dengan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk memuliakan manusia dan kehidupan bermasyarakat. Bagian dari arah kebijakan pembangunan nasional adalah mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan.

Pembangunan infrastruktur diarahkan untuk memperkuat konektivitas nasional untuk mencapai keseimbangan pembangunan, mempercepat penyediaan infrastruktur perumahan dan kawasan permukiman (air minum dan sanitasi) serta infrastruktur kelistrikan, menjamin ketahanan air, pangan dan energi untuk mendukung ketahanan nasional, dan mengembangkan sistem transportasi massal perkotaan. Tahapan pembangunan tersebut dilaksanakan secara terintegrasi dengan meningkatkan kerjasama pemerintah bersama pihak swasta. Dalam pelaksanaannya, pembangunan infrastruktur di Indonesia menghadapi beberapa tantangan, diantaranya:

1. Disparitas antar wilayah dan kawasan masih tinggi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).

2. Pemanfaatan sumber daya yang belum optimal dalam mendukung kedaulatan pangan dan

energi.

3. Daya saing nasional yang masih belum kuat disebabkan oleh keterbatasan dukungan

infrastruktur (termasuk konektivitas).

4. Urbanisasi yang tinggi, dengan fakta bahwa 53% penduduk tinggal pada kawasan

perkotaan.

Selain tantangan tersebut diatas, dalam penyelenggaraan infrastruktur, Indonesia juga turut menghadapi tantangan daya saing global yaitu Indonesia menduduki peringkat ke-36 untuk Indeks Daya Saing Global (GCI) dan peringkat 52 dari Indeks Daya Saing Infrastruktur Indonesia berdasarkan data dari “The global competitiveness Report 2017-2018 (World Economic Forums)”. Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara di ASEAN yaitu Thailand yang berada di peringkat ke-32, Malaysia di peringkat ke-23 dan Singapura di peringkat ke-3.

Daya saing Indonesia dalam pandangan internasional cukup mendapat perhatian dengan fakta- fakta berikut:

1. Peningkatan peringkat investment grade atau layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat internasional yang kredibel yaitu Standard and Poors, Fitch Ratings, dan Moodys

2. Hasil survei EoDB (Ease of Doing Business) tahun 2017, menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara teratas dalam Top Reformer bagi perbaikan kemudahan berusaha dengan mereformasi 7 indikator dari 10 indikator EoDB, diantaranya:

a. Biaya memulai usaha dibuat lebih rendah dengan penurunan dari sebelumnya 19,4% menjadi 10,9% pendapatan per kapita.

b. Biaya mendapatkan sambungan listrik dibuat lebih murah dengan mengurangi biaya sambungan dan sertifikasi kabel internal. Biaya untuk mendapatkan sambungan listrik kini 276% dari pendapatan per kapita, turun dari 357%. Di Jakarta, dengan proses permintaan untuk sambungan baru yang lebih singkat, listrik juga didapatkan dengan lebih mudah.

c. Akses perkreditan ditingkatkan dengan dibentuknya biro kredit baru.

d. Perdagangan lintas negara difasilitasi dengan memperbaiki sistem penagihan elektronik untuk pajak, bea cukai serta pendapatan bukan pajak. Akibatnya, waktu untuk

mendapatkan, menyiapkan, memproses, dan mengirimkan dokumen saat mengimpor turun dari 133 jam menjadi 119 jam.

e. Pendaftaran properti dibuat lebih murah dengan pengurangan pajak transfer, sehingga mengurangi biaya keseluruhan dari 10,8% menjadi 8,3% dari nilai properti.

f. Hak pemegang saham minoritas diperkuat dengan adanya peningkatan hak, peningkatan peran mereka dalam keputusan perusahaan besar, dan peningkatan transparansi perusahaan.

g. Kemudahan pembayaran pajak secara online.

3. Hasil survei Gallup World Poll tahun 2017 menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara yang pemerintahannya paling dipercaya oleh masyarakat, yakni sebesar 80%

Tantangan nasional direspon melalui kebijakan pengembangan wilayah yang meliputi perencanaan wilayah dan perencanaan sektoral. Tujuan pengembangan wilayah, sesuai dengan yang tercantum dalam Perpres No. 2 Tahun 2015 terkait amanat RPJMN 2015-2019, adalah untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara KBI dan KTI, perlu dilakukan melalui percepatan dan pemerataan pembangunan wilayah dengan menekankan keunggulan kompetitif perekonomian daerah berbasis sumber daya alam, SDM, penyediaan infrastruktur dan pengembangan teknologi. Tema pengembangan wilayah di Indonesia didasarkan pada pembagian 7 (tujuh) wilayah yang terdiri dari:

1. Papua sebagai industri berbasis komoditas local, ekonomi kemaritiman, hilirisasi pertambangan

2. Maluku sebagai produsen makanan laut dan lumbung ikan nasional, ekonomi kemaritiman

3. Nusa Tenggara sebagai pintu gerbang wisata ekologis, industri peternakan sapi, mangan, dan tembaga

4. Sulawesi sebagai gerbang perdagangan internasional, industri berbasis logistik, lumbung pangan nasional

5. Kalimantan sebagai paru-paru dunia, lumbung energy nasional

6. Jawa-Bali sebagai lumbung pangan nasional serta pendorong sektor industry dan jasa nasional

7. Sumatera sebagai gerbang perdagangan internasional, lumbung energi nasional, hilirisasi komoditas batubara

Strategi pembangunan infrastruktur bidang PUPR 2015-2019 tersusun dalam rangka penyelenggaraan infrastruktur yang optimal di Indonesia. Hal ini dijabarkan sebagai berikut:

1. Meningkatkan ketahanan air, kedaulatan pangan dan energi, guna menggerakkan sektor- sektor strategis ekonomi domestik dalam rangka kemandirian ekonomi. Strategi ini meliputi pengelolaan Sumber Daya Air (SDA); Pendayagunaan SDA; dan Pengendalian Daya Rusak Air.

2. Dukungan terhadap konetivitas nasional guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pelayanan sistem logistik nasional bagi penguatan daya saing bangsa di lingkup global

yang berfokus pada konektivitas daratan dan maritim. Strategi ini meliputi penyelenggaraan

jalan.

3. Untuk meningkatkan keseimbangan pembangunan antar daerah, terutama di kawasan tertinggal, kawasan perbatasan, dan kawasan perdesaan. Strategi ini meliputi keterpaduan infrastruktur wilayah; serta pembinaan konstruksi nasional dan fasilitasi pengusahaan

infrastruktur.

4. Dukungan terhadap peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur dasar permukiman di perkotaan dan perdesaan. Strategi ini meliputi pembinaan dan

pengembangan

infrastruktur

permukiman;

penyediaan

perumahan;

dan

pembiayaan

perumahan.

Strategi tersebut diatas turut didukung oleh terobosan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, diantaranya:

1. Aspek regulasi dan hukum yaitu dengan kemudahan perizinan, kepastian hokum dan pengadaan tanah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah.

2. Aspek Sumber Daya Manusia, dari segi kuantitas yaitu melalui skema kerjasama dalam upaya memenuhi target 3 juta tenaga bersertifikat di tahun 2019. Sementara itu dari segi kualitas yaitu melalui program sertifikasi tenaga ahli dan terampil.

3. Pendanaan inovatif, yaitu melalui investasi swasta (direct investment); KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dukungan pemerintah berupa viability gap fund, insentif, hybrid financing, availability payment; BUMN/ BUMD state guarantee model serta APBN/ APBD berupa peningkatan belanja modal untuk infrastruktur.

4. Kepimpinan yang kuat, sesuai dengan motto Bapak Basuki selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yaitu bekerja dengan ritme rock and roll yang berarti mission oriented, teamwork, professionalism, dan akhlakul karimah.

5. Penerapan hasil riset dan teknologi, sesuai dengan yang tercantum dalam RPJMN 2015- 2019 bahwa percepatan pembangunan infrastruktur hanya dapat dilakukan dengan dukungan hasil riset dan teknologi inovatif.

Penyelenggaraan infrastruktur di Indonesia masih perlu ditingkatkan, hal ini dibuktikan melalui kondisi terkini infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat di Indonesia sebagai berikut:

1. Infrastrutkur sumber daya air sebagai pendukung ketahanan air, kedaulatan pangan dan kedaulatan energi, meliputi 39 bendungan terbangun yang terdiri dari 30 bendungan baru

dan 9 yang telah selesai di tahun 2017. Bendungan yang telah terbangun ini menambah luas layanan irigasi waduk yang semula 761.542 Ha menjadi 859.626 Ha. Selain itu bendungan yang telah terbangun tersebut turut meningkatkan kapasitas tampung air sebesar 1.031 juta m 3 , dengan peningkatan kapasitas air baku sebesar 5 m 3 /detik serta potensi energi sebesar 112 MW. Berikut rincian infrastruktur sumber daya air terbangun:

a. 17,46 m 3 /detik pemanfaatan air baku telah dibangun di tahun 2015- 2017

b. 632.098 Ha jaringan irigasi permukaan, rawa, air tahan dan 7.838 Ha jaringan tambak telah dibangun di tahun 2015- 2017

c. 828 Km sarana dan prasarana pengedali daya rusak telah dibangun di tahun 2015-

2017

d. 223 buah pengedali sedimen dan lahar telah dibangun di tahun 2015- 2017

2. Infrastruktur jalan merupakan pendukung konektivitas bagi penguatan daya saing meliputi:

a. Capaian pembangunan jalan tol hingga bulan November 2017 sepanjang 332 Km

b. Kemantapan jalan nasional adalah 86%; jalan provinsi adalah 71%; jalan kabupaten/ kota adalah 57% di tahun 2015. Waktu tempuh di koridor utama sebesar 2,7 jam/100 Km di tahun 2015

c. Jembatan terbangun di tahun 2015-2017 dan telah beroperasi yaitu Jembatan Tayan di

Kalimantan dengan panjang 1.440 meter; Jembatan Ir. Soekarno di Sulawesi dengan panjang 1.127 meter; Jembatan Merah Putih di Maluku dengan panjang 1.140 meter

3. Infrastruktur permukiman untuk meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan dan perdesaan, salah satunya adalah kapasitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di tahun

2014 sebesar 34.319 liter/detik dan telah meningkat di tahun 2017 sebesar 20.430 liter/detik. Berikut infrastruktur permukiman terbangun meliputi:

a. Capaian akses air minum sebesar 72,58% di tahun 2017

b. Permukiman kumuh di perkotaan menurun hingga 29.448 Ha

c. Capaian akses sanitasi sebesar 78,04% di tahun 2017

4. Infrastruktur perumahan meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan dan perdesaan meliputi:

a. Backlog penghunian sebanyak 7,6 juta unit di tahun 2015, yang harus ditangani sebanyak 2,2 juta unit hingga tahun 2019

b. Rumah tidak layak huni sebanyak 3,4 juta unit di tahun 2015 yang harus ditangani sebanyak 1,5 juta unit hingga tahun 2019

Salah satu bidang infrastruktur di Indoneisa yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah infrastruktur permukiman. Mengingat pertumbuhan penduduk cenderung meningkat terutama di perkotaan. Hal ini menghadapkan masyarakat dan pemerintah terhadap tantangan sebagai berikut:

1. Meningkatnya kepadatan permukiman dan perubahan kebutuhan rumah tangga perkotaan

2. Meingkatnya kebutuhan pelayanan dasar dan sistem pengelolaan perkotaan

3. Meningkatnya kebutuhan permukiman layak huni dan berkelanjutan

Ketidaksiapan kota menghadapi urbanisasi menyebabkan semakin pesatnya pertumbuhan permukiman kumuh dan terbatasnya pelayanan dasar perkotaan. Selain itu, banyak kota di Indonesia mengalami diseconomies of scales atau skala disekonomi seperti kemacetan lalu lintas yang parah, polusi, dan risiko bencana yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi.

Disamping tantangan tersebut diatas, terdapat 2 (dua) tujuan tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang harus dicapai dalam bidang cipta karya yaitu:

1. Menjamin ketersediaan dan pengelolaan berkelanjutan untuk air minum dan sanitasi bagi semua

2. Mewujudkan perkotaan dan kawasan permukiman yang inklusif, aman, berketahanan, dan berkelanjutan

Sehingga arah kebijakan bidang cipta karya sesuai dengan RPJMN 2015-2019 yaitu:

1. Mencapai akses universal air minum aman 100% melalui pembangunan sistem penyediaan air minum di tingkat regional, kota/kabupaten dan lingkungan, di kawasan perkotaan maupun perdesaan

2. Mengurangi kawasan kumuh mencapai 0% melalui upaya peningkatan kawasan permukiman kumuh di 38.431 Ha kawasan melalui pemberdayaan masyarakat di 7.683 kelurahan

3. Meningkatkan akses sanitasi layak (air limbah domestik, persampahan, dan sistem drainase) mencapai 100% untuk memenuhi kebutuhan dasar tingkat regional, kota/kabupaten, dan lingkungan, di kawasan perkotaan maupun perdesaan

4. Meningkatkan keamanan gedung dan keselamatan gedung, serta meningkatkan dan menjaga keharmonisan antar bangunan dan lingkungan sekitarnya melalui:

a. Pengembangan dan pemantauan bangunan milik negara;

b. Mengembangkan peraturan tentang green building;

c. Menetapkan local building codes

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka diperlukan peran teknik penyehatan lingkungan permukiman ahli pertama untuk mendukung penyelenggaraan infrastruktur permukiman.

Sehingga daya saing nasional dapat meningkat, apabila kesejahteraan masyarakat turut meningkat melalui ketersediaan infrastruktur permukiman yang berkualitas. Berikut peran yang akan dilaksanakan oleh teknik penyehatan lingkungan permukiman:

1. Penyelenggaraan pengelolaan air minum sebagai dukungan infrastruktur permukiman bidang air minum. Mengingat target dukungan infrastruktur permukiman bidang air minum mencapai 100% akses air minum di tahun 2019

2. Penyelenggaraan pengelolaan air limbah, pengelolaan sampah dan pengelolaan drainase sebagai dukungan infrastruktur permukiman bidang sanitasi. Mengingat target dukungan infrastruktur permukiman bidang sanitasi mencapai 100% akses air minum di tahun 2019

3. Penyelenggaran pengaturan dan pembinaan bidang teknik penyehatan lingkungan permukiman

4. Penyelenggaraan pemrograman bidang infrastruktur permukiman terutama di bidang air minum dan sanitasi

5. Penyelenggaraan pengadaan jasa konsultan dan jasa konstruksi/ pemasok

6. Penyelenggaraan penyuluhan bidang penyehatan lingkungan permukiman

7. Penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi manfaat terhadap infrastruktur permukiman yang telah terbangun

Pada dasarnya, teknik penyehatan lingkungan permukiman merupakan bagian dari Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki fungsi, tugas dan peran sesuai dengan Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, dengan penjabaran sebagai berikut:

1. Pegawai ASN berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik; pelayan publik; perekat dan pemersatu bangsa.

2. Pegawai ASN memiliki tugas sebagai berikut:

a. Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Memberikan pelayanan publik yang professional dan berkualitas;

c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

3. Pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang professional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sebagai ASN sekaligun insan PUPR, Teknik Penyehatan Lingkungan Permukiman Ahli Pertama juga harus memiliki karakter yang kuat, berani, berjiwa seni dan kompeten. Selain itu, sebagai ASN generasi muda dengan total efforts berkemauan untuk berubah menjadi lebih baik dan yakin mampu mewujudkan visi pembangunan PUPR. Serta dengan integritas yang tinggi kepada tanah air disertai upaya untuk meningkatkan profesionalisme yaitu kerja cerdas, kreatif, inovatif, memiliki prinsip hospitality dan enterprenurship maka upaya untuk mewujudkan infrastruktur yang handal dapat diwujudkan. Sehingga daya saing nasional akan turut meningkat.