Anda di halaman 1dari 17

HADIS MARFU’

(esensi sebuah pemahaman hadis)

Abstraksi
Hadis secara bahasa berarti berita, komunikasi, cerita.
Sementara Hadis secara terminologi adalah segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi saw baik perkataan, perbuatan,
ketetapan maupun sifat beliau. Dalam perkembangannya hadis
dapat dibagi dalam beberapa sudut pandang. Perbedaan sudut
pandang dalam pembagian hadis memberikan pemahaman pada
terminologi dan kajian yang berbeda dalam pembahasannya.

Hadis dapat dibagi berdasarkan 4 (empat sudut pandang yaitu;


pembagian hadis berdasarkan matannya, pembagian hadis
berdasarkan jumlah sanadnya, , pembagian hadis berdasarkan
derajatnya, dan pembagian hadis berdasarkan sumber
penyandarannya.

Pada makalah ini fokus pembahasan berada pada pembagian


hadis berdasarkan sumber penyandarannya, lebih khusus lagi
pada pembahasan hadis marfu’. Dalam benak pemikiran awam,
ketika disebutkan istitah “hadis’, esensinya adalah hadis marfu’,
karena yang terfikir dalam pemahaman mereka adalah Hadis
Nabi saw, yaitu apa daja yang disamdarkan kepadanya. Dan
sesungguhnya dalam hal ini, yang dimaksud sebenarnya Hadis
Nabi saw itu adalah Segala sesuatu yang di sandarkan kepada
Nabi saw baik perkataan, perbuatan, keketapan, atau sifat
beliau. Definisi tersebut yang dimaksudnya adalah Hadis marfu’
dalam pembahasan ini. Dengan memahami termonologi hadis

1
marfu’ ini, pembaca dalam membedakan manakah hadis yang
dapat di jadikan sumber syariat Islam.

A. Pendahuluan
Hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, maupun
ketetapan beliau. Pengkajian Hadis dan Ilmu Hadis pada saat ini
telah sangat di gemari di kalangan akademis pendidikan Islam,
terutama di lingkungan perguruan tinggi Islam, IAIN misalnya.
Pentingnya mengetahui dan mempelajari Hadis dan Ilmu
Hadis adalah agar kaum muslim tidak secara sembarangan
mengambil atau menganggap suatu ungkapan itu sebagai Hadis
Nabi, karena bisa saja ungkapan-ungkapan tersebut bukanlah Hadis
Nabi, walaupun seandainya makna ungkapan itu baik dan sesuai
dengan ajaran Islam.
Ucapan, perbuatan, dan ketetapan yang disandarkan kepada
Nabi sajalah yang dikatakan Hadis Nabi, dan itulah yang disebut
dengan Hadis Marf’ . sedangkan ucapan, perbuatan, atau ketetapan
yang disandarkan bukan kepada Nabi bukanlah disebut dengan
Hadis Nabi, walaupun penamaannya juga dinamakan Hadis. Seperti
Hadis Mauqf dan Hadis Maq¯’. Penyandaran kedua jenis Hadis ini
bukanlah kepada Nabi saw., akan tetapi kepada sahabat dan tabi’in.
Dalam makalah ini akan dibahad tentang materi-mater hadis
marfu’. Pendiskusian terkait hadis marfu’ ini berkaitan sebuah
kaidah hadis:
‫ والمرفععوع‬،‫ والمرفوع من الفعععل حكمععا‬،‫المرفوع من القول حكما‬
‫من التقرير حكما‬

2
Dalam sistematika pembahasannya terdiri dari; Pembagian hadis
menurut sumber penyandarannya, bentuk-bentuk marfu’,
Ketentuan hadis marfu’, hukum hadis marfu’, kemudian ditutup
dengan kesimpulan.

B. Pembagian Hadis Menurut Sumber Penyandarannya


Hadis ditinjau berdasarkan sumber penyandarannya terbagi
kepada 4 macam, yaitu:
1. Hadis Qudsi
Kata Qudsi secara etimologi berarti suci, al-¦ad³£ al-Quds³
berarti Hadis yang dihubungkan kepada zat yang quds (suci),
yang Maha Suci, yaitu Allah swt.1
Sedangkan pengertian secara terminologi adalah:

‫كل حديث يضععيف فيععه الرسععول صععلى اللععه عليععه‬


2
‫وسلم قول إلى الله عز وج ل‬
.‫ل‬
“Setiap Hadis yang disandarkan Rasul saw. perkataannya
kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.
Hadis Quds³ dapat ditandai dengan bentuk periwayatan
sebagai berikut:

‫قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويععه‬


3
‫عن رلبه عز وج ل‬
...‫ل‬
“Bersabda Rasulullah saw. menurut apa yang diriwayatkan
beliau dari Allah ‘Azza wa Jalla…”
Dan.
1
Mahmud al-tahhan, Taisir Mu¡‘al±h al-¦ad³£ (Beirut: dar al-Qur’an al-
Karim) 1979, h.126.
2
M. Ajjaj al-Kha¯ib, U¡l al-¦ad³£: Ulmuhu wa Mu¡¯al±huhu (Beirut: Dar al-
Fikr) 1989, h. 28.
3
Nawir Yuslem, Ulumul Hadis (PT Mutiara Sumber Widya) 2001, h. 281.

3
‫ فيما رواه عنه رسععول اللععه صععلى‬،‫قال الله تعالى‬
4
...‫الله عليه وسلم‬
“Berfirman Allah swt. menurut yang diriwayatkan dari
pada-Nya oleh Rasullah saw…”

2. Hadis Marf’
Hadis Marf’ adalah:

‫ماأصيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول‬


5
‫أو فعل أو تقرير أو صفة‬
“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.
dalam bentuk perkataan, perbuatan, ketetapan, ataupun
sifat.”

‫ماأصيف إلى النبي صلى الله عليععه وسععلم خاصععة‬


‫ سععواء كععان متصععل أو‬،‫مععن قععول أو فعععل أو تقريععر‬
6
‫منقطعا‬
“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.
secara khusus baik dalam bentuk perkataan, perbuatan,
ketetapan.”
Menurut Ibn ¢al±¥ adalah:

‫ماأصيف إلى رسول الله صلى اللععه عليععه وسععلم‬


‫ ول يقع مطلقه على غير ذلك نحععو الموقععوف‬،‫خاصة‬
7
‫على الصحابة وغيرهم‬
4
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 282.
5
Al-tahhan, Taisir , h. 127.
6
¨afar A¥mad al-‘U£m±n³, Qaw±id f³ ‘Ulm al-¦ad³£ (Riyad: Maktabah al-
Ma¯b±t al-Isl±miyah, cet. 5) 1984 , h. 38.
7
Ibn ¢al±¥, Muqaddimah Ibn al-¢al±¥ f³ ‘Ulm al-¦ad³£ ( Beirut: Dar al-
Kutub al-Alamiyah) 1989, h. 22.

4
“Sesuatu yang disandarkan kepada Rasul saw. secara
khusus, dan dia tidak terjadi secara mutlak kepada yang
selainnya, seperti Hadis Mauqf terhadap sahabat dan yang
selain mereka.”
Dari defenisi di atas dapat dipahami bahwa segala sesuatu
yang disandarkan dan di hubungkan dengan Nabi saw. baik
dalam bentuk perkataan, perbuatan, ketetapan, ataupn sifat
beliau, disebut dengan hadis Marf’. Orang yang
menyandarkan itu boleh jadi Sahabat, atau selain sahabat,
seperti Tabiin dan lainnya. Dengan demikian sanad dari hadis
Marf’ ini bisa bersambung (mutta¡il), yaitu bersambung dari
awal sanad sampai kepada akhir sanadnya, dan bisa juga
terputus, misalnya; Mursal, atau mu’«al dan Mu’allaq.8.
Demikian juga halnya dengan periwayatan Hadis Marf’ ada
yang berkualitas sahih, hasan dan «a’if. Hal itu terjadi
berdsarkan ketersambungan sanadnya. Sehingga yang dapat
dipegangi untuk dijadikan hujjah adalah yang berkualitas
sahih dan hasan.

3. Hadis Mauqf
Hadis Mauqf adalah :

‫وهععو المععرويل عععن الصععحابة قععول لهععم أو فعل أو‬


9
.‫نحوه متصل كان أو كان منقطعا‬
“Yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat
dalam bentuk perkataan mereka, peruatan, atau yang
semisalnya, baik bersambung atau terputus.”
8
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 283.
9
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 283.

5
‫وهو ما رواه عن الصحابي من قول له أو فعل أو‬
10
‫تقرير متصل كان أو منقطعا‬
“Yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat
dalam bentuk perkataan beliau, peruatan, atau takrir, baik
bersambung atau terputus.”

Menurut al-°a¥¥±n adalah:

‫ماأصععيف إلععى الصععحابي مععن قععول أو فعععل أو‬


11
‫تقرير‬
“Sesuatu yang disandarkan kepada sahabat berupa
perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa,
segala sesuatu yang diriwayatkan dari auatu dihubungkan
kepada seorang sahabat atau sejumlah sahabat baik berupa
perkataan, perbuatan maupun ketetapan, disebut Hadis
Mauqf. Sanad Hadis Mauqf bisa jadi bersambung dan bisa
jadi juga ada yang terputus.
Hadis Mauqf juga ada yang berstatuskan Marfu’. Di antara
Hadis Mauqf terdapat hadis yang lafal dan bentuknya Mauqf ,
namun setelah dicermati hakikatnya bermakna atau berstatus
Marfu’, yaitu berhubungan dengan rasul saw. dan terjadi
pada masa Rasul masih hidup. Hadis yang demikian oleh para
Ulama hadis dinamakan dengan al-Mauqf laf§an al-Marfu’

10
Al-Khatib, U¡ul al-¦ad³£, h. 380.
11
al-Tahhan,Taisir, h. 129.

6
Ma’nan. yaitu, secara lafal berstatus Mauqf , namun secara
makna berstatus Marfu’.12
Diantaranya adalah:
a. Perkataan Sahabat mengenai masalah-masalah yang
bukan merupakan lapangan ijtihad dan tidak pula dapat
ditelusuri melalui pemahaman secara kebahasaan,
serta tidak pula bersumber dari ahli kitab, umpamanya:
i. Berita tentang masa lalu, seperti tentang awal
kejadian manusia.
ii. Berita tentang masa yang akan datang, seperti
huru-hara dan kedahsyatan keadaan yang akan
dialami pada hari kiamat.
b. Perbuatan Sahabat mengenai masalah yang bukan
merupakan lapangan ijtihad, seperti salat kusuf yang
dilakukan oleh Ali ra. dengan cara melakukan lebih dari
dua ruku’ pada tiap rakaatnya.
c. Berita dari Sahabat mengenai perkataan atau
perbuatan mereka tentang sesuatu serta tidak adanya
sikap keberatan yang muncul mengenai perkataan atau
perbuatan tersebut. Terhadap hal ini ada dua keadaan,
yaitu:
i. Apabila perkataan atau perbuatan sahabat tersebut
disandarkan kepada masa abi saw. Maka hukumnya
adalah Marfu’ . seperti perkataan Jabir ra.”adalah
kami ber-azal pada masa rasul saw.
ii. Namun, apabila perkataan atau perbuatan sahabat
tersebut tidak disandarkan kepada masa Nabi saw.

12
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 285.

7
maka jumhur Ulama berpendapat bahwa hadis
tersebut berstatus Mauqf.
d. Perkataan Sahabat: “umirna bika©a” (kami
diperintahkan untuk melakukan ini), “Nuhina ‘an ka©a”
(kami dilarang begini) atau “min al-Sunnah ka©a”
(termasuk sunnah adalah begini).
e. Perawi hadis tersebut ketika berhubungan dengan nama
Sabahat mengatakan “yarfa’uhu” dia merafa’kannya.
f. Penafsiran Sahabat yang berhubungan dengan sabab
nuzul suatu ayat Alquran, seperti perkataan jabir:
“orang yahudi berkata: “siapa yang menggauli istrinya
dari arah belakangnya, maka akan lahir anak yang
juling matanya, “maka setelahitu turunlah ayat Alquran
yang menyatakan, isteri-isteri kamu adalah ibarat lahan
perkebuna kamu....(hadis Riwayat Muslim).
4. Hadis Maq¯’
Secara etimologi kata qa¯a’a adalah lawan dari wa¡ala
yang berarti putus atau terputus. Sedangkan secara
terminologi adalah:
13
‫وهو الموقوف على التابعي قول أو فعل‬
“yaitu sesuatu yang terhenti sampai pada tabi’i baik
perkataan maupun perbuatan tabi’i tersebut.”

‫ماأصيف إلععى التععابعي أو مععن دونععه مععن قععول أو‬


14
.‫فعل‬

13
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 292.
14
al-Tahhan, Taisir, h. 132.

8
“sesuatu yang disandarkan kepada Tabi’i atau generasi
yang sesudahnya berupa perkataan atau perbuatan.”
Hadis Maqt’ tidaklah sama dengan hadis Munqa¯³’, karena
Maqt’ adalah sifat dari mata, yaiu berupa perkataan tabi;’in
atau tabi’i al-Tabi’in, sementara Munqa¯³’ adalah sifat dari
sanad, yaitu terjadinya keterputusan sanad pada generasi
sebelum sahabat dan tidak secara berturut-turut, apabila
keterputusan sanad tersebut lebih dari satu orang perawi. 15
Sanad pada hadis Maqt’ bisa saja bersambung dan bisa juga
terputus.

C. Bentuk-Bentuk Hadis Marfu’


Hadis bila ditinjau berdasarkan bentuk matannya terbagi
kepada :
1. Hadis Qauli
Hadis atau Sunnah Qauliyah ialah perkataan atau ucapan
Rasul yang pernah belaiah utarakan dalam bebagai
kesempatan semasa ia masih hidup. Ucapan ini mencakup
bebagai aspek, seperti aspek hukum, akhlak, akidah, dan
ibadah.16

2. Hadis Fi’li
Hadis atau sunnah fi’liyah ialah perbuatan atau tindakan
Rasul yang merupakan penjelasan praktis ajaran agama,

15
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 293.
16
Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, (bandung: Ciptapustaka Media)
2005, h. 14.

9
seperti tata cara salat, wuduk, dan haji. Dengan kata lain,
sunnah Fi’liyah merupakan praktek keagamaan yang
dicontohkan oleh Rasul saw.17

3. Hadis Taqriri
Hadis atau Sunnah Taqririyah ialah pengakuan atau
persetujuan Rasul atas perbuatan atau perkataan sahabat
yang diketahuinya. Suatu perbuatan atau perkataan sahabat
yang disaksikannya atau sampai beritanya kepadanya dan
tidak dipersalahkannya merupakan sunnah Taqririyah. Ini
berarti bahwa Sunnah dalah kategori ini pada mulanya adalah
perkataan atau perbuatan sahabat yang kemudian mendapat
legalisasi dan legitimasi dari Rasul.18

D. Ketentuan Hadis Marfu’


Dalam kajian pembahasanhadis marfu’ terdapat satu kaidah.
Kaidah tersebut mambahas secara khusun berkaitan dengan
ketentuan hukum marfu’ sebuah hadis. Kaidah hadis tersebut
adalah:
‫ والمرفععوع مععن الفعععل‬، ‫المرفوع من القععول حكمععا حكمععه مرفععوع‬
‫ والمرفوع من التقرير حكما حكمه مرفوع‬، ‫حكما حكمه مرفوع‬
Artinya: “Hadis Marfu’ dari bentuk perkataan secara hukum,
hukumya adalah marfu’, dan Hadis marfu’ dari bentuk perbuata
secara hukum, hukumya adalah marfu’, dan Hadis marfu’ dari
bentuk ketetapan secara hukum, hukumya adalah marfu”.
Penerapan kaidah hadis tersebut diatas adalah berkaitan
dengan pembahasan Hadis Mauqf yang berstatuskan Hadis Marfu’.
Hal ini dapat terjadi, karena secara lafal hadis, matan Hadis
17
Wahid, Studi Ilmu Hadis, h. 15.
18
Wahid, Studi Ilmu Hadis, h. 17.

10
tersebut seolah-olah berasal dari sahabat, akan tetapi apabila
dicermati lebih teliti, maka makna hadis tersebut niscaya
terkembali kepada Rasul, maksudnya adalah bahwa secara makna
matan hadis itu tidak mungkin hal itu berasal dari sahabat.
‫“ المرفععوع مععن القععول حكمععا حكمععه مرفععوع‬Hadis Marfu’ dari
bentuk perkataan secara hukum, hukumya adalah marfu”. Kaidah
ini berkaitan dengan Perkataan Sahabat mengenai masalah-
masalah yang bukan merupakan lapangan ijtihad dan tidak pula
dapat ditelusuri melalui pemahaman secara kebahasaan, serta
tidak pula bersumber dari ahli kitab, umpamanya:
i. Berita tentang masa lalu, seperti tentang awal kejadian
manusia.
ii. Berita tentang masa yang akan datang, seperti huru-hara
dan kedahsyatan keadaan yang akan dialami pada hari
kiamat.
‫“ والمرفععوع مععن الفعععل حكمععا حكمععه مرفععوع‬Hadis marfu’ dari
bentuk perbuata secara hukum, hukumya adalah marfu”. Kaidah ini
berkaitan dengan perbuatan Sahabat mengenai masalah yang
bukan merupakan lapangan ijtihad, seperti salat kusuf yang
dilakukan oleh Ali ra. dengan cara melakukan lebih dari dua ruku’
pada tiap rakaatnya.19
‫“ والمرفوع مععن التقريععر حكمععا حكمععه مرفععوع‬Hadis marfu’ dari
bentuk ketetapan secara hukum, hukumya adalah marfu”. Kaidah
ini berkaitan dengan berita dari Sahabat mengenai perkataan atau
perbuatan mereka tentang sesuatu serta tidak adanya sikap
keberatan yang muncul mengenai perkataan atau perbuatan
tersebut. Terhadap hal ini ada dua keadaan, yaitu:
19
Yuslem, Ulumul Hadis, h. 286.

11
i. Apabila perkataan atau perbuatan sahabat tersebut
disandarkan kepada masa abi saw. Maka hukumnya adalah
Marfu’ . seperti perkataan Jabir ra.”adalah kami ber-azal
pada masa rasul saw.
ii. Namun, apabila perkataan atau perbuatan sahabat
tersebut tidak disandarkan kepada masa Nabi saw. maka
jumhur Ulama berpendapat bahwa hadis tersebut
berstatus Mauqf.
Perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang ucapkan atau
dilakukan oleh sahabat, dikategorikan sebagai hadis Marfu’, karena
terdapat indikasi dan tanda-tanda yang dapat memasukkannya
kedalam katergori Hadis Marfu’. Perkara-perkara tersebut antara
lain adalah masalah-masalah yang bukan merupakan lapangan
ijtihad, tidak bersumber dari ahli kitab. Indikasi lainnya adalah
perkataan sahabat dengan ucapan “umirna bika©a” (kami
diperintahkan untuk melakukan ini), “Nuhina ‘an ka©a” (kami
dilarang begini) atau “min al-Sunnah ka©a” (termasuk sunnah
adalah begini). Dan ketika berhuungan dengan penafsiran tentang
sabab nuzul ayat.

E. Hukum Hadis Marfu’


Dalam menentukan status hukum sebuah Hadis harus dilihat
dan diteliti terlebih dahulu keadaan sanad hadis tersebut. Dalam hal
ini diterima atau tidak ditermianya hadis marfu’ sebagai hujjah
dalam syariat islam ditentukan dengan keadaan dan kualitas sanad
dan matannya. Ketika sanad hadis marfu’ tersebut berstatus
mutawatir, maka wajib hukumnya menerima kebenaran hadis
tersebut, bahwa benar berita yang disampaikan adalah benar-benar

12
berasal dari Nabi saw. Karena kedudukan hadis dengan sanad
mutawatir adalah qath’i al-wurud.
Selanjutnya, ketika status sanad hadis marfu’ tersebut adalah
sanad yang ahad, maka mestilah diteliti terlabih dahulu, karena
hadis yang memiliki sanad ahad bersifat zanni al-wurud. Dalam
kaitan ini, hadis ahad memiliki tingkatan kualitas atau derajat yang
berbeda yaitu; shahih, hasan, dha’if dan mardud. Apabila sebuah
hadis marfu’ memiliki sanad ahad dan setelah dilakukan penelitian
ternyata bernilai shahih atau hasan, dalm istilah kualitasnya adalah
shahiha atau hasan, maka wajib hukumnya menerima hadis
tersebut sebagai sumber syariat islam.
Apabila sebuah hadis marfu’ yang berkualitas dhoif, maka
tidak dapat dijadikan hujjah atau dalai dalam pembentukan hukum
islam, namun sebagian ulama dapat menerimanya sebagai rujukan
dalam fadhilatul amal. Dan hadis maudhu’ sepakan jumhur ulama
menolaknya.
Hukum menolak hadis marfu’ yang mutawatir, hadis ahad
yang shahih dan hasan adalah haram. Orang yang menolak hadis
tersebut digolongkan kepada golongan ingkar sunnah. Menolak
hadis yang berstatus mutawatir, dan hadis ahad yang berkualitas
shahih atau hasan akan memperngarihi akidah, karena dengan
menolak hadis nabi yang jelas bersifat qath’i al wurud adalah sama
dengan menolah keberadaan Nabi saw.

F. Contoh Hadis Marfu’

13
‫‪Hadis riwayat imam aT-Tirmizi‬‬

‫عح بددثَّعبعناَ ِععدل بىى ِبببنن ِنحبج برر ِأعبخبعبعرنعبباَ ِإدبس بعماَدعيِنل ِبببنن ِعجبععف برر ِعع بدن ِالبععلعدء ِبببدن ِععبب بدد‬
‫الدربحعمدن ِععبن ِأعدبيِده ِععبن ِأعدبى ِنهعريَببعرعة ِرضى ِال ِعنه ِأعدن ِعرنسوُعل ِاللدده ِ‪-‬صببلى ِال ب‬
‫صبعدقع ة‬ ‫ر‬ ‫ت ِادلنبسبباَنن ِانببعقطعبع ِعملنبه ِإد د د‬ ‫عليِببه ِوسببلم‪ِ -‬قعباَعل ِإدعذا ِعمبباَ ع‬
‫ل ِمببن ِثَّعلعث ِ ع‬ ‫ع عع ن‬ ‫ع‬
‫صاَلدةح ِيَعبدنعوُ ِلعنه ِ«‪.‬رواه ِالتْرميِذي‬ ‫د ِ‬‫ة‬ ‫ل‬
‫ع‬‫و‬ ‫و‬ ‫جاَدريَةة ِودعبلم ِيَببنتْعبعفع ِبد د‬
‫ه ِ‬
‫ع ع ع ة ن ن عع ع‬
‫‪Nabi saw, ia bersabda : apabila mati seorang manusia maka‬‬
‫‪terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, shadaqah jariah, atau‬‬
‫‪ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akan akannya‬‬

‫‪Hadis Riwayat Imam Abu Daud‬‬

‫ك ِببنن ِععببدد ِالبعوُادحدد ِالبدمبسعمدعىى ِعحددثَّعبعناَ ِال د‬


‫ضدحاَنك ِببنن ِعمبخلعرد ِعحددثَّعبعناَ‬ ‫عحددثَّعبعناَ ِعماَلد ن‬
‫ب ِععبن ِعكدثيِدر ِببدن ِنمدرعة ِععبن‬‫صاَلدنح ِببنن ِأعدبى ِععدريَ ر‬ ‫د‬ ‫د‬
‫ععببند ِالبعحدميِد ِببنن ِعجبععفرر ِعحددثَّعنى ِ ع‬
‫نمععاَدذ ِببدن ِعجبعرل ِعقاَعل ِعقاَعل ِعرنسوُنل ِاللدده ِ‪-‬صلى ِال ِعليِه ِوسلم‪ِ »ِ -‬عمبن ِعكاَعن‬
‫ل ِاللدنه ِعدعخعل ِالبعجندعة ِ«رواه ِأبوُ ِداود‬ ‫آدخنر ِعكلعدمده ِ ع‬
‫ل ِإدلععه ِإد د‬
‫)‪Nabi saw, ia bersabda : siapa yang pada akhir ucapan (ajalnya‬‬

‫‪mengucapkan kalimat‬‬ ‫ل ِاللدهن‬


‫ل ِإدلععه ِإد د‬
‫‪ ِ maka masuk surga.‬ع‬

‫‪Riwayat imam an-Nasai‬‬

‫أعبخبعبعرنبعباَ ِنمعحدمبند ِبببنن ِعرادفبرع ِقبعباَعل ِعحبددثَّعبعناَ ِنحعجبيِبةن ِ‪ِ -‬عونهبعوُ ِابببنن ِالبنمثعبنبدبى ِ‪ِ -‬قبعباَعل‬
‫ب ِقبعباَعل ِأعبخبعبعرنبدبى ِأعببنبوُ ِبعبكبدر ِبببنن ِععبببدد‬ ‫ث ِععببن ِعنعقبيِبرل ِععبدن ِابببدن ِدشبعهاَ ر‬
‫عحبددثَّعبعناَ ِلعبيِب ة‬
‫ث ِببدن ِده ع‬
‫شاَرم ِأعندنه ِعسدمعع ِأعبعباَ ِنهعريَب بعرعة ِيَعبنقببوُنل ِعكباَعن ِعرنسبوُنل ِاللدبده‬ ‫الدربحمدن ِببدن ِالبحاَدر د‬
‫ع‬ ‫ع‬
‫صبلعدة ِيَنعكب بنر ِدحيِبعن ِيَعبنقببوُنم ِثَّنبدم ِيَنعكب بنر‬‫‪-‬صلى ِال ِعليِه ِوسلم‪ِ -‬إدعذا ِعقاَعم ِإدعلى ِال د‬

‫‪14‬‬
‫صببلبعنه ِدمبعن‬ ‫د‬ ‫د‬
‫حيِبعن ِيَعببرعكبنع ِثَّنبدم ِيَعبنقببوُنل ِ» ِعسبدمعع ِاللدبنه ِلعمببن ِعحدمبعدنه ِ«‪ِ .‬حيِبعن ِيَعببرفعبنع ِ ن‬
‫د‬
‫ك ِالبعحبمبند ِ«‪ِ .‬ثَّندم ِيَنعكب بنر ِدحيِبعن ِيَعببهبدوُىِ‬ ‫الدربكععبدة ِثَّنبدم ِيَعبنقبوُنل ِعونهبعوُ ِقعباَئدةم ِ» ِعربدبنعباَ ِلعب ع‬
‫عساَدجددا ِثَّنبدم ِيَنعكب بنر ِدحيِبعن ِيَعببرفعبنع ِعرأبعسبنه ِثَّنبدم ِيَنعكب بنر ِدحيِبعن ِيَعبسبنجند ِثَّندم ِيَنعكب بنر ِدحيِبعن‬
‫ضببيِعبعهاَ ِعويَنعكب بنر ِدحيِبعن‬
‫حدبى ِيَببق د‬ ‫ك ِدفبى ِال د د‬
‫صبلعة ِنكلبعهبباَ ِ ع تْب ع‬ ‫يَعببرفعبنع ِعرأبعسبنه ِثَّبندم ِيَعببفععبنل ِعذلدب ع‬
‫س‪ِ .‬رواه ِالنسآئي‬ ‫يَعبنقوُنم ِدمعن ِالثبببنتْعببيِدن ِبعببععد ِالبنجنلوُ د‬
‫‪Abu hurairah berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi‬‬
‫‪Wassalam ketika shalat, beliau bertakbir saat berdiri, kemudian‬‬
‫‪bertakbir ketika akan rukuk dan mengucapkan: ‘sami’allahu liman‬‬
‫‪hamidah’, yaitu ketika ia mengangkat punggungnya dari ruku. Dan‬‬
‫‪ketika sudah berdiri beliau mengucapkan ‘rabbanaa wa lakal‬‬
‫‪hamd’. Kemudian beliau bertakbir ketika akan bersujud. Kemudian‬‬
‫‪bertakbir ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud).‬‬
‫‪Kemudian beliau bertakbir lagi ketika akan bersujud. Kemudian‬‬
‫‪bertakbir lagi ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud).‬‬
‫‪Kemudian beliau melakukan hal itu dalam semua rakaat hingga‬‬
‫‪selesai shalat, dan bertakbir ketika berdiri dari rakaat kedua setelah‬‬
‫‪duduk‬‬

‫‪Riwayat Imam Muslim‬‬

‫عوعح بددثَّعبعناَ ِنعبعببيِبند ِاللدبده ِبببنن ِنمععبباَرذ ِعحبددثَّعبعناَ ِأعببدبى ِعحبددثَّعبعناَ ِنشببعبعنة ِععببن ِتعببوُبعبعة ِالبععبنبعبدر ب‬
‫ىِ‬
‫شببعبددى ِعسبدمعع ِابببعن ِعنعمبعر ِأعدن ِالندبدبدى ِ‪-‬صببلى ِالبب ِعليِببه ِوسببلم‪ِ -‬عكبباَعن‬ ‫عسبدمعع ِال د‬
‫ت ِابم بعرأعةة ِدم ببن‬‫ب ِفعبنعبباَعد د‬‫ضب ب‬ ‫ص بعحاَبدده ِدفيِده ببم ِعس ببعةد ِعوأنتبنبوُا ِبدلعبح بدم ِ ع‬ ‫مع به ِنبعباَ د‬
‫س ِم ببن ِأع ب‬ ‫عع ن ة‬
‫ب ِفعبعقبباَعل ِعرنسببوُنل ِاللدبده‬ ‫ضب ب‬ ‫ندعسبباَدء ِالندبدببى ِ‪-‬صببلى ِالبب ِعليِببه ِوسببلم‪ِ -‬إدندبنه ِلعبحبنم ِ ع‬
‫س ِدمبن ِطعععاَدمى ِ«‪.‬‬ ‫ع‬ ‫يِ‬
‫ب‬‫ع‬‫ل‬ ‫ه ِ‬
‫ن‬ ‫د‬
‫ن‬ ‫‪-‬صلى ِال ِعليِه ِوسلم‪ِ »ِ -‬نكنلوُا ِفعدإندنه ِحلعةل ِولع د‬
‫ك‬ ‫ع ع‬
‫‪Ibnu ‘Umar ra. mendengar . , bahwasanya Rasulullah saw bersama‬‬
‫‪beberapa orang dari sahabatnya ra., diantaranya adalah Sa’d.‬‬
‫‪Didatangkan kepada mereka daging dhabb, lalu salah seorang isteri‬‬
‫‪Nabi‬‬ ‫‪berteriak, “Itu‬‬ ‫‪adalah‬‬ ‫‪daging‬‬ ‫‪dhabb”,‬‬ ‫‪kemudian‬‬

‫‪15‬‬
Rasulullah saw bersabda, “Makanlah oleh kalian, karena
sesungguhnya daging ini halal. Akan tetapi bukan dari makananku”

G. Kesimpulan
Dari paparan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa hadis dipandang dari sumber sandarannya terbagi pada 4
macam, yaitu, Hadis Qudsi, hadis Marfu’, Hadis Mauqf, dan Hadis
Maqtu’.Hadis bila dipandang dari segi matannya terbagi pada hadis
Qauliyah, Fi’liyah, dan Taqiriyah,.
Kaidah Hadis ‫ والمرفوع‬، ‫المرفوع من القول حكما حكمه مرفوع‬

‫ والمرفععوع مععن التقريععر حكمععا حكمععه‬، ‫مععن الفعععل حكمععا حكمععه مرفععوع‬
‫مرفععوع‬, digunakan berkaitan dengan adanya hadis Mauqf yang
berstatus Marfu’ . perkataan, perbuatan, dan ketetapan sahabat
dikategorikan kepada hadis Marfu’, karena secara makna hadis
tersebut tentulahberasal dari Nabi. Hadis tersebut di kategorikan
sebagai Mauquf karena dari segi lafaz adalah sahabat yang
megucapkan, melakukan atau menetapkannya, dan isnad Hadis
tersebut berakhir pada sahabat. Dikategorikan sebagai Hadis Marfu’
karena isi matan Hadis bukan merupakan hal yang menjadi
lapangan ijtihad yang dapat di ambil sesuai kontektualisasi sebuah
keadaan yang terjadi, akan tatapi isi matan Hadis merupakan
perkara berkaitan dengan ibadah, dan Tauhid, sehingga tentu saja
makna matan tersebut berasal dari Rasul saw.

DAFTAR PUSTAKA

Ibn ¢al±¥, Muqaddimah Ibn al-¢al±¥ f³ ‘Ulm al-¦ad³£, Beirut: Dar al-
Kutub al-Alamiyah, 1989.

16
al-Kha¯ib, M. Ajjaj. U¡l al-¦ad³£: Ulmuhu wa Mu¡¯al±huhu, Beirut: Dar
al-Fikr, 1989.

al-Tahhan, Mahmud. Taisir Mu¡‘al±h al-¦ad³£, Beirut: dar al-Qur’an


al-Karim, 1979.

al-‘U£m±n³, ¨afar A¥mad. Qaw±id f³ ‘Ulm al-¦ad³£, Riyad: Maktabah


al-Ma¯b±t al-Isl±miyah, cet. 5, 1984.

Wahid, Ramli Abdul. Studi Ilmu Hadis, Bandung: Ciptapustaka


Media, 2005.

Yuslem, Nawir. Ulumul Hadis, PT Mutiara Sumber Widya, 2001.

17