Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

“QUALITY COST MANAGEMENT


dan JUST IN TIME”

Dosen Pembimbing :
Rita Yuniarti, Dr., S.E., M.M., Ak., C.A.

Disusun Oleh :
Fasya Yosifa 1619103006
Yani Suryani Selamarta 1619103009
Desi Aryanti 1619103013

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS WIDYATAMA
TAHUN 2019
BAB I
KAJIAN TEORI

Laporan Biaya Kualitas dan Kegunaannya


a. Manfaat Laporan Biaya Kualitas
Suatu sistem pelaporan biaya kualitas menjadi penting jika organisasi tersebut serius dengan
program perbaikan kualitas. Laporan Biaya Kualitas dapat dijadikan parameter bisnis bagi
perusahaan dan memberikan informasi penting bagi pihak manajemen dalam pengambilan
keputusan untuk tujuan perusahaan.

Tjiptono et al.(2003 : 40) merincikan berbagai manfaat Laporan Biaya Kualitas ke dalam
beberapa point, antara lain:
1) mengidentifikasi peluang laba (penghematan biaya dapat meningkatkan laba),
2) mengambil keputusan capital budgeting dan keputusan investasi lainnya,
3) menekan biaya pemebelian dan biaya yang berkaitan dengan pemasok,
4) mengidentifikasi pemborosan dalam aktivitas yang tidak dikehendaki para
pelanggan,
5) mengidentifikasi masalah kualitas dan adanya sistem yang berlebihan,
6) menentukan apakah biaya-biaya kualitas telah didistribusikan secara tepat,
7) penentuan tujuan dalam anggaran dan perencanaan laba,
8) sebagai alat untuk mengukur perbandingan antara input dengan output,
9) sebagai salah satu alat analisis Pareto untuk membedakan antara vital few dan trivial
many,
10) sebagai alat manajemen strategic untuk mengalokasikan sumber daya dalam
perumusan dan pelaksanaan strategi,
11) sebagai ukuran penilaian kinerja yang objektif.

Jenis Laporan Biaya Kualitas


Laporan biaya kualitas ada 4 (empat) jenis (Hansen et al., 2001 : 984).
1. Laporan standar interim
Laporan ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan memenuhi biaya
kualitas yang dianggarkan. Para manajer menggunakan laporan ini untuk
membandingkan biaya kualitas aktual dengan yang dianggarkan pada periode
tersebut.
2. Laporan trend satu periode
Laporan ini menunjukkan kemajuan yang berhubungan dengan kinerja kualitas tahun
terakhir. Manajemen dapat memperoleh wawasan tambahan dengan menbandingkan
kinerja tahun ini dan biaya kualitas yang sesungguhnya terjadi pada tahun
sebelumnya.
3. Laporan trend periode-ganda
Laporan ini menyediakan grafik yang menggambarkan perubahan kualitas sejak
pertama kali program perbaikan kualitas tersebut dilaksanakan sampai tahun ini.
Dengan laporan ini, diharapkan manajemen memperoleh informasi trend menyeluruh
untuk menilai program peningkatan kualitas.
4. Laporan jangka panjang
Laporan ini menunjukkan kemajuan berdasarkan standar atau tujuan jangka panjang.
Laporan jangka panjang ini membandingkan biaya kualitas aktual periode ini dengan
biaya yang diizinkan jika standar cacat nihil tercapai (dengan asumsi tingkat
penjualan sama dengan periode saat ini).
Pelaporan Informasi Biaya Kualitas

Suatu sistem pelaporan biaya kualitas menjadi penting jika organisasi/perusahaan tersebut serius
dengan biaya perbaikan dan pengendalian kualitas. Langkah pertama dalam menciptakan sistem
tersebut adalah dengan melaporkan biaya-biaya kualitas aktual saat ini. Daftar yang rinci dari
biaya kualitas aktual per kategori akan dapat memberikan dua informasi penting yaitu :

1. Menunjukkan berapa yang dikeluarkan untuk tiap kategori biaya kualitas dan
pengaruhnya terhadap laba.
2. Menunjukkan distribusi biaya kualitas dengan kategori, memungkinkan para manajer
menilai kepentingan relatif tiap kategori.
Laporan Biaya Kualitas

Signifikansi finansial dari biaya kualitas dapat dinilai secara lebih mudah dengan
mengekspresikan biaya-biaya ini sebagai persentasi penjualan aktual. Terdapat dua pandangan
tentang biaya kualitas optimal yaitu : pandangan tradisional, yang mensyaratkan adanya tingkat
kualitas yang dapat diterima, dan pandangan yang diadopsi oleh perusahaan-perusahaan
kontemporer, yang disebut sebagai total pengendalian kualitas (total quality control). Setiap
pandangan menawarkan kepada manajer, informasi-informasi tentang bagaimana biaya-biaya
kualitas harus dimanajemen.

Tabel dibawah ini mengilustrasikan laporan biaya kualitas, dimana persentase biaya kualitas
dihitung dari penjualan aktual :

JENSEN PRODUCTS
LAPORAN BIAYA KUALITAS
UNTUK TAHUN YG BERAKHIR 31 MARET 2006

PERSENTASE (%)
BIAYA KUALITAS
Biaya pencegahan : DARI PENJUALAN

Pelatihan kualitas $ 35.000

Rekayasa keandalan 80.000 $ 115.000 4,11%

Biaya penilaian :

Pemeriksaan bahan baku $ 20.000

Penerimaan produk 10.000

Penerimaan proses 38.000 $ 68.000 2,43

Biaya kegagalan internal :


Sisa bahan $ 50.000

Pengerjaan ulang 35.000 $ 85.000 3,04

Biaya kegagalan eksternal :

Keluhan pelanggan $ 25.000

Garansi 25.000

Perbaikan 15.000 $ 65.000 2,32

Total biaya kualitas $ 333.000 11,90%

Penjualan aktual $ 2.800.000.


$333.000/$ 2.800.000 = 11,89 persen
(Sumber : Hansen & Mowen, 2006, Buku 2, hal. 12)

JIT dan Karakteristik

JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi segala sumber
pemborosan dalam aktifitas produksi dengan memberikan keseimbangan produksi yang tepat
serta pada tempat dan waktu yang tepat.

Latar belakang munculnya JIT adalah pemborosan-pemborosan tenaga kerja, ruangan dan
waktu produksi yang terjadi karena adanya persediaan sehingga mengakibatkan biaya produksi
lebih tingggi. Dengan JIT perusahaan dapat menekan biaya produk per unit, meningkatkan
kualitas produk dan meningkatkan daya saing dipasar baik dalam negri maupun luar negri.

Karakteristik JIT antara lain adalah :

1. Mempertahankan jumlah persediaan seminimum mungkin


2. Memelihara kualitas produk tetap tinggi
3. Pembelian material dan memproduksi barang hanya dilakukan jika dibutuhkan
4. Membangun sistem penjadwalanyang disiplin
5. Memelihara karyawan yang mempunyai beberapa keterampilan
6. Membangun sistem manufakturing yang fleksibel
7. Biaya perawatan mesin dilakukan secara sederhana dan relatif murah

Pembelian dalam JIT bersifat :

1. Pembelian dalam unit yang kecil dengan pengiriman yang sering.


Harga terdapat satu penawaran yang dipilih untuk komponen tertentu dengan daerah
geografis yang dekat dan dengan kontrak jangka panjang

2. Dalam penilaian supplier menekankan pada mutu produk, performa pengiriman dan harga
dan tidak ada prosentase penolakan dari supplier yang dapat diterima (karena kualitas
komponen yang diterima berkualitas).
3. Dalam hal inspeksi komponen yang masuk, inspeksi komponen dikurangi dan
dieliminasi.
4. Dalam hal penentuan metode transportasi terdapat perhatian pada angka angkut serta
pengiriman yang tepat waktu, dan jadwal pengiriman diserahkan pada pembeli.
5. Dalam hal penentuan spesifikasi produk, pembeli lebih percaya spesifikasi performa
daripada desaign produk, supplier didorong agar lebih inovatif.
6. Dalam hal pekerjaan klirekel, lebih sedikit waktu yang digunakan untuk klirekel
7. Waktu oengiriman dan tingkat kuantitas dapat diubah selalui pemberitahuan telpon saja.
8. Dalam hal kemasan, konteiner standart yang kecil digunakan untuk menopang kualitas
yang tepat dan spesifikasi yang tepat

JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead

Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih
dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang
berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah
karakteristik utama JIT.
Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT

Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah
meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).Pemanufakturan JIT, dengan
mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biayatersebut
menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa

Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai
departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai
dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan
melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang
semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung

Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung
tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:

1.Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang

2.Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan

Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan
pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian
persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya
mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan
persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian
persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.DalamJIT, keberadaan
penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan
informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya:

(a) penetapan harga jual berdasar cost-plus,

(b) analisis trend biaya,

(c) analisis profitabilitas lini produk,

(d) perbandingan dengan biaya para pesaing,

(e) keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan

Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan
bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan
dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.

Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang
besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan
pada level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis
untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan
akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.
Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT

Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya
persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga
penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari
periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

JIT dan Otomasi

Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa
hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan
pemilikan teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk : (a) menaikkan kapasitas
produksi, (b) menaikkan efisiensi, (c) meningkatkan mutu dan pelayanan, (d) menurukan waktu
pengolahan, (e) meningkatkan keluaran.Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri
biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan
terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang
tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

Penentuan Harga Pokok Backflush

Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan
membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan
backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

1.Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.2.Setiap produk ditentukan biaya


standarnya.3.Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira
mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.Ada dua
perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :

1.Perubahan Akuntansi Bahan2.Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

Illustrasi :
PT.KIRANA, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang
menggunakan dua sistem biaya yang berbeda yaitu:1.Sistem biaya konvensional 2.JIT.Sistem
biaya konvensional membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost driver) berbasis unit.
Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada penelusuran biaya dan penentuan harga
pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan
suatu sel pemanufakturan. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua metode, berikut ini
disajikan data biaya produksi untuk bulan desember 1997 :

Diminta:1.Hitunglah jumlah maksimum dari masing-masing sistem biaya yang harus dibayar
seandainya perusahaan memutuskan untuk membeli pada pemasok luar.2.Bila diketahui
perusahaan berproduksi pada kapasitas 1500 unit dengan harga jual Rp 1.100, susunlah laporan
L/R untuk periode yang bersangkutan3.Lakukan analisis terhadap kasus tersebut. Penyelesaian :

1. Jumlah maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya
terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.Biaya yang dapat dihindarkan:

-Sistem biaya konvensional = Rp 800 + 70 + 90 + 30 = Rp 990

-Sistem biaya JIT = Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980

2. Laporan L/R
1)Rp 800 + Rp 70+ Rp 90 = Rp 960

2)Rp 800 + Rp 20 = Rp 820

3)Rp 30 x 1.500 u = Rp 45.000

4)(Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u = Rp 195.000

3. Sistem penentuan harga pokok konvensional menyediakan laporan yang menunjukkan


profitabilitas produk sedangkan sistem JIT menunjukkan adanya efisiensi karena JIT dapat
mengubah beberapa jenis biaya mis: Biaya tenaga kerja langsung menjadi biaya tetap langsung.
BAB II

KAJIAN JURNAL

Judul Penelitian : Quality Cost Management in Moroccan Industrial Companies: Empirical

Study
Pengarang : Lamiaa Ayach , Abdellah Anouar , Miloud Bouzziri Faculty of Sciences and

Techniques, University Hassan 1 (Morocco)


Latar Belakang : Dalam lingkungan yang sangat kompetitif, tantangan terbesar bagi

perusahaan adalah menawarkan produk-produk berkualitas tinggi dengan

harga terendah. Untuk memastikan hal ini, perusahaan diharuskan untuk

menganalisis dan merasionalisasi semua komponen biaya bisnis mereka.

Karena Biaya Kualitas (CoQ) merupakan bagian yang signifikan dari biaya

bisnis dan sebagian besar dari pendapatan penjualan. Namun, sebagian besar

perusahaan tidak mengetahui jumlah biaya kualitasnya dan karenanya

meremehkannya. Meskipun diakui pentingnya implementasi sistem biaya

kualitas (QCS), konsepnya tidak diterapkan secara luas.


Tujuan Penelitian : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyoroti praktik atau hambatan

yang terkait dengan penghitungan biaya terkait kualitas serta menganalisis

hubungan antara karakteristik organisasi dan praktiknya dalam hal mengelola

kualitas biaya.

Teori :
Kerangka Pemikiran :

Metodologi : Penelitian ini bersifat eksploratif dan berdasarkan data primer yang

dikumpulkan melalui survei kuesioner yang diterapkan pada perusahaan

industri Maroko. Penarikan Sample menggunakan rumus Lemeshow


menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 22. Pertama, statistik

deskriptif, Kedua, uji chi-square dari independensi.


Hasil Penelitian : Penelitian ini menunjukan terbatasnya penggunaan praktik penetapan biaya
di antara perusahaan industri Maroko. Hasil menunjukkan bahwa 42,6% dari
perusahaan yang disurvei terlibat dalam QCS sementara 63,4% dari mereka
tidak. Hambatan utama adalah kompleksitas implementasi QCS. Selain itu,
temuan menunjukkan bahwa asal, aktivitas bisnis, orientasi pasar bisnis, dan
tingkat kematangan QMS menonjol pada penerapan QCS (p <0,05).
Kesimpulan : Temuan ini memberikan wawasan tentang hambatan untuk penerapan QCS
yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi cara untuk
mengatasi kesulitan ini, untuk mengembangkan pedoman dan
mengungkapkan praktik terbaik dalam penerapan sistem pelaporan COQ.

Keterbatasan utama penelitian ini adalah terbatasnya jumlah responden.


Penelitian di masa depan harus dilakukan untuk mencakup ukuran sampel
yang lebih besar dari sektor manufaktur dan jasa juga