Anda di halaman 1dari 30

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MAKALAH HUBUNGAN NEGARA DAN WARGA


NEGARA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Semester 7

PEMBIMBING :
Nandaru Ramadhan SH, MH

Penyusun:
KELOMPOK 3 JTD 4E

9 GAGAS REFIANDY SATRYA 1641160102

12 LAURENA WIDYAWATI 1641160059

13 MOH. SYAKUR ROMADHONI 1641160010

JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas limpahan rahmat, karunia, hidayah dan
inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah hubungan negara dan warga
negara ini tepat pada waktunya.
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang materi
hubungan negara dan warga negara . Dengan selesainya makalah ini tak terlepas dari
bantuan berbagai pihak. Untuk itu kami haturkan terimakasih kepada :
1. Nandaru Ramadhan SH, MH yang senantiasa memberikan masukan – masukan
yang membangun makalah ini.
2.Kedua orang tua kami yang selalu mendukung dan mendoakan setiap usaha kami
3.Kepada teman – teman yang ikut membantu penyusunan makalah ini.
Tak luput dari semua itu kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini masih jauh dari sempurna baik dari segi materi maupun teknik penyampaiannya.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Malang, 18 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1. 1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1. 2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 2
1. 3 Tujuan Makalah..................................................................................................... 2
1. 4 Manfaat Makalah................................................................................................... 2
1.4.1 Bagi Mahasiswa .............................................................................................. 2
1.4.2 Bagi Dosen pembimbing ................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................... 4
2. 1 Pengertian Negara ................................................................................................. 4
2. 2 Bentuk Negara ........................................................................................................ 5
2. 3 Warga Negara, Penduduk, Rakyat, Kewarganegaraan Dan Hukum
Kewarganegaraan .............................................................................................................. 6
2. 4 Asas-Asas Kewarganegraan .................................................................................. 9
2.5 Cara Memperoleh Kewarganegraan Indonesia ......................................................... 11
2.6 Pengertian Hak Dan Kewajiban ......................................................................... 14
2.7 Hubungan Negara Dan Warga Negara .............................................................. 18
Hubungan Negara dengan Warga Negara .................................................................... 19
2.8 Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban Negara Dan Warga Negara Di Negara
Pancasila ........................................................................................................................... 21
BAB III PENUTUP .................................................................................................................... 25
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 25
1.1 Saran ..................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang

Hubungan antara negara dan warga negara identik dengan adanya hak dan
kewajiban, antara warga negara dengan negaranya ataupun sebaliknya. Negara
memiliki kewajiban untuk memberikan keamanan, kesejahteraan, perlindungan
terhadap warga negaranya serta mem iliki hak untuk dipatuhi dan dihormati.
Sebaliknya warga negara wajib membela negara dan berhak mendapatkan
perlindungan dari negara.

Di Indonesia seringkali terjadi adanya kesenjangan antara peranan negara dengan


kehidupan warga negara. Masalah-masalah politik, sosial, ekonomi, dan budaya
misalnya, seringkali terjadi karena adanya kesenjangan antara peranan negara serta
kehidupan warga negaranya.

Dalam deretan pasal-pasal beserta ayat-ayatnya, UUD 1945 secara jelas


mencantumkan hak serta kewajiban negara atas rakyatnya yang secara jelas juga harus
dipenuhi melalaui tangan-tangan trias politica ala Monteqeiu. Melalui tangan
Legislatif suara rakyat tersampaikan, melalui tangan eksekutif kewajiban negara, hak
rakyat dipenuhi, dan di tangan yudikatif aturan-aturan pelaksanaan hak dan kewajiban
di jelaskan. Idealnya begitu, tapi apa daya sampai sekarang boleh di hitung dengan
sebelah tangan seberapa jauh negara menjalankan kewajibannya. Boleh dihitung juga
berapa banyak negara menuntut haknya.

Bukan hal yang aneh ketika sebagian rakyat menuntut kembali haknya yang
selama ini telah di berikan kepada negara sebagai jaminan negara akan menjaga serta
menjalankan kewajibannya. Negara sebagai sebuah entitas dimana meliputi sebuah
kawasan yang diakui (kedaulatan), mempunyai pemerintahan, serta mempunyai
rakyat. Rakyat kemudian memberikan sebagian hak-nya kepada negara sebagi ganti
negara akan melindunginya dari setiap mara bahaya, serta berkewajiban untuk
mengatur rakyatnya. Hak-hak rakyat tadi adalah kewajiban bagi sebuah negara. Hak
untuk hidup, hak untuk mendapatkan kerja serta hak-hak untuk mendapatkan
pelayanan umum seperti kesehatan, rumah, dan tentunya hak untuk mendapatkan
pendidikan. Semuanya itu harus mampu dipenuhi oleh negara, karena itulah tanggung
jawab negara. Kalau hal itu tak bisa dipenuhi oleh sebuah negara maka tidak bisa
disebut sebuah negara.

1
1. 2 Rumusan Masalah
Pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian negara?
2. Apa saja jenis jenis bentuk negara?
3. Apa pengertian dari warga negara, penduduk, rakyat, kewarganegaraan dan
hukum kewarganegaraan ?
4. Apa saja asas asas kewarganegraan ?
5. Bagaimana cara memperoleh kewarganegraan Indonesia?
6. Apa pengertian hak dan kewajiban?
7. Bagaimana hubungan negara dan warga negara?
8. Bagaimana pelaksanaan hak dan kewajiban negara dan warga negara di
negara pancasila?

1. 3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Dapat mengetahui pengertian dari negara
2. Dapat mengetahui jenis jenis bentuk negara
3. Dapat mengetahui pengertian dari warga negara, penduduk, rakyat,
kewarganegaraan dan hukum kewarganegaraan
4. Dapat mengetahui asas asas kewarganegraan
5. Dapat mengetahui cara memperoleh kewarganegraan Indonesia
6. Dapat mengetahui pengertian hak dan kewajiban
7. Dapat mengetahui hubungan negara dan warga negara
8. Dapat mengetahui pelaksanaan hak dan kewajiban negara dan warga negara
di negara pancasila
1. 4 Manfaat Makalah
1.4.1 Bagi Mahasiswa
1. Untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Pendidikan Kewarganegraan.
2. Menjadi sumber rujukan apabila mahasiswa membutuhkan bahan
pembelajaran hubungan negara dan warga negara.
3. Sebagai tambahan wawasan serta pengetahuan tentang hubungan negara
dan warga negara proses pembelajaran.

2
1.4.2 Bagi Dosen pembimbing
1. Sebagai bahan penilaian bagi mahasiswa yang menyusun makalah.
2. Sebagai bahan pembelajaran apabila diperlukan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Pengertian Negara
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian negara adalah
organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan
ditaati oleh rakyat; kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah
tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang
efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan
tujuan nasionalnya.
Konsepsi Kelsen mengenai Negara menekankan bahwa Negara
merupakan suatu gagasan tekhnis semata-mata yang menyatakan fakta bahwa
serangkaian kaidah hukum tertentu mengikat sekelompok individu yang hidup
dalam suatu wilayah teritorial terbatas.
Negara merupakan suatu lembaga, yaitu satu sistem yang mengatur
hubungan yang ditetapkan oleh manusia antara mereka sendiri sebagai satu alat
untuk mencapai tujuan yang paling pokok di antaranya ialah satu sistem
ketertiban yang menaungi manusia dalam melakukan kegiatan. Negara adalah
lanjutan dari keinginan manusia hendak bergaul antara seorang dengan orang
lainnya dalam rangka menyempurnakan segala kebutuhan hidupnya.Negara
merupakan subjek utama hukum internasional. Beberapa sarjana telah
mengemukakan pendapatnya mengenai definisi negara.
Henry C. Black mendefinisikan negara sebagai sekumpulan orang
yang secara permanen menempati suatu wilayah yang tetap, diikat oleh
ketentuan-ketentuan hukum yang melalui pemerintahannya, mampu
menjalankan kedaulatannya yang merdeka dan mengawasi masyarakat dan
harta bendanya dalam wilayah perbatasannya, mampu menyatakan perang dan
damai serta mampu mengadakan hubungan internasional dengan masyarakat
internasional lainnya.
Berdasarkan Pasal 1 Konvensi Montevindo 1933 mengenai Hak-hak
dan Kewajiban-Kewajiban Negara mengemukakan karakteristik-karakteristik
negara yang merupakan subjek hukum internasional sebagai berikut :

1. Penduduk yang tetap.

Penduduk merupakan kumpulan individu-individu yang terdiri dari dua


kelamin tanpa memandang suku, bahasa, agama, dan kebudayaan yang
hidup dalam suatu masyarakat dan yang terikat dalam suatu negara melalui
hubungan yuridik dan politik yang diwujudkan dalam bentuk
kewarganegaraan. Penduduk merupakan unsur pokok bagi pembentukan
suatu negara. Suatu pulau atau suatu wilayah tanpa penduduk tidak mungkin
menjadi suatu negara. Syarat penting untuk unsur ini yaitu
bahwa rakyat atau masyarakat ini harus terorganisir dengan baik

4
(organized population). Sebab sulit dibayangkan, suatu negara dengan
pemerintahan terorganisir dengan baik hidup berdampingan dengan
masyarakat disorganized.

2. Wilayah yang Tetap.

Wilayah yang tetap adalah suatu wilayah yang dimukimi oleh


penduduk
atau rakyat dari negara itu. Agar wilayah itu dapat dikatakan tetap atau
pasti sudah tentu harus jelas batas-batasnya. Wilayah suatu negara terdiri
dari daratan, lautan, dan udara diatasnya.

3. Pemerintah.

Sebagai suatu person yang yuridik, negara memerlukan sejumlah organ


untuk mewakili dan menyalurkan kehendaknya. Lauterpacht menyatakan
bahwa adanya unsur pemerintah merupakan syarat terpenting untuk
adanya suatu negara. Jika pemerintah tersebut ternyata secara hukum atau
secara faktanya menjadi negara boneka atau negara satelit dari suatu
negara lainnya, maka negara tersebut tidak dapat digolongkan menjadi
negara.

4. Kemampuan untuk melakukan hubungan dengan negara-negara lain.

Untuk unsur keempat Oppenheim-Lautherpacht menggunakan kalimat


pemerintah yang berdaulat (sovereign). Adapun yang dimaksud dengan
pemerintah yang berdaulat yaitu kekuasaan yang tertinggi yang merdeka dari
pengaruh suatu kekuasaan lain di muka bumi. Kedaulatan dalam arti
sempit berarti kemerdekaan yang sepenuhnya, baik ke dalam maupun ke
luar batas-batas negeri.
Dari keempat unsur diatas, unsur keempat yang paling penting
berdasarkan hukum internasional. Unsur ini pula yang membedakan negara
dengan unit-unit yang lebih kecil seperti anggota-anggota federasi atau
protektorat-protektorat yang tidak menangani sendiri urusan luar negerinya
dan tidak diakui oleh negaranegara lain sebagai anggota masyarakat
internasional yang mandiri.

2. 2 Bentuk Negara

Menurut teori-teori modern sekarang ini, bentuk negara yang terpenting ialah
negara Kesatuan (Unitarisme) dan negara Serikat (Federasi).
a. Negara Kesatuan ialah suatu negara yang merdeka dan berdaulat, diseluruh negara
yang berkuasa hanya ada satu pemerintahan (pusat) yang mengatur seluruh daerah.

5
Negara kesatuan dapat juga berbentuk:
1. Negara kesatuan dengan sistem sentralisasi yang segala sesuatu dalam negara
itu langsung diatur dan diurus oleh pemerintah pusat dan daerah-daerah tinggal
melaksanakannya.
2. Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi, dimana kepala daerah diberikan
kesempatan dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri (otonomi
daerah) yang dinamakan daerah Swatantra.

Dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (1), dinyatakan bahwa Negara Indonesia ialah
Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.
b. Negara Serikat (federasi) ialah suatu negara yang merupakan gabungan dari
beberapa negara, yang menjadi negara-negara bagian dari negara Serikat itu.
Negara-negara bagian itu asal mulanya adalah suatu negara yang merdeka dan
berdaulat serta berdiri sendiri. Dengan menggabungkan diri dalam suatu negara
Serikat, maka negara yang tadinya berdiri sendiri itu sekarang menjadi negara
bagian, melepaskan sebagian kekuasaan dan menyerahkannya kepada negara
Serikat itu. Kekuasaan yang diserahkan itu disebutkan satu demi satu (limitatif),
hanya kekuasaan yang disebutkan itu yang diserahkan kepada negara Serikat
(delegated powers).
Kekuasaan asli ada pada negara bagian. Negara bagian berhubungan langsung
dengan rakyatnya. Kekuasaan negara Serikat adalah kekuasaan yang diterimanya
dari negara bagian. Biasanya yang diserahkan negara-negara bagian kepada negara
Serikat ialah hal-hal yang berhubungan dengan hubungan luar negeri, pertahanan
negara, keuangan dan urusan pos.

2. 3 Warga Negara, Penduduk, Rakyat, Kewarganegaraan Dan Hukum


Kewarganegaraan

2.3.1 Warga Negara

Pengertian warga negara adalah semua penduduk di suatu negara atau bangsa yang
berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya, serta memiliki hak dan
kewajiban penuh sebagai seorang warga negara di negara tersebut.

Ada juga yang menjelaskan pengertian warga negara adalah semua orang yang
secara hukum merupakan anggota resmi dari suatu negara tertentu. Artinya, seorang
warga negara memiliki hubungan kuat dengan tanah air dan Undang-Undang
negaranya, meskipun orang tersebut berada di luar negeri dan terikat dengan ketentuan
hukum Internasional.

6
Pada dasarnya seorang warga negara suatu negara tidak selalu menjadi penduduk
negara tersebut. Misalnya, warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negeri.
Dan penduduk suatu negara tidak selalu merupakan warga negara di mana ia tinggal.
Misalnya orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

Secara hukum, menurut Undang-Undang Tahun 1945 Pasl 26 ayat 1 tentang


Kewarganegaraan, pengertian warga negara Indonesia dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yaitu;

1. Warga Negara Asli (pribumi), yaitu penduduk asli suatu negara.


Misalnya di Indonesia, suku Jawa, Batak, Papua, Bugis, Madura, Minang,
Dayak, dan etnis keturunan yang sejak lahir merupakan warga negara
Indonesia.
2. Warga Negara Keturunan (vreemdeling), yaitu suku bangsa keturunan
yang bukan asli Indonesia, misalnya bangsa Eropa, Arab, India, Tiongkok,
dan lainnya yang disahkan secara undang-undang menjadi warga negara
Indonesia.

2.3.2 Penduduk

Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis suatu negara
selama kurang lebih enam bulan dan atau mereka yang berdomisili kurang dari enam
bulan tetapi bertujuan menetap.
Penduduk didefinisikan menjadi dua:

1. Orang yang tinggal di daerah tersebut


2. Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain
orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti
kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam istilah sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah
geografi dan ruang tertentu.
Konsep penduduk menurut Badan Kependudukan dan Catatan sipil: penduduk adalah
orang yang mempunyai KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan atau mempunyai KK
(Kartu Keluarga).

Penduduk adalah mereka, sekelompok orang yang tinggal atau menetap dalam sebuah
wilayah atau daerah negara. sedangkan yang bukan penduduk, adalah mereka yang
tinggal dalam sebuah negara tapi tidak ingin tinggal di negara tersebut atau hanya
sementara.

7
Faktor Yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk.
1. Fertilitas menyangkut peranan kelahiran pada perubahan penduduk
sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk
dan reproduksi manusia.
2. Mortalitas atau kematian merupakan salah satu di antara tiga komponen
demografi yang dapat mempengaruhi perubahan penduduk.
3. Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari
suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara atau pun batas
administratif/batas bagian dalam suatu negara. Jadi migrasi sering diartikan
sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah ke daerah lain.

2.3.3 Rakyat

Rakyat adalah seluruh orang yang berada pada suatu wilayah Negara dan taat
pada kekuasaan pemerintahan tersebut. Rakyat sendiri dibagi menjadi: penduduk dan
bukan penduduk/ orang asing yang tinggal di Negara tersebut. Penduduk di
wilayah negara bisa dibagi menjadi 2 yaitu: warga Negara dan bukan warga Negara/
orang asing.

Berikut ini adalah kriteria/ ketentuan yang dipakai untuk menentukan siapa yang
menjadi warga Negara di suatu Negara:
1. Asas Keturunana atau yang disebut ius sanguinis.
2. Asas tempat kelahiran atau disebut ius soli.
Dengan adanya asas ius sanguinis dan ius soli untuk menentukan kewarganegaraan
maka melahirkan apartide (tanpa kewarganegaraan) dan bipartide (mempunyai 2
kewarganegaraan).

Untuk menghindari terjadinya apartide dan bipartide maka dikenal adanya dua stelsel
yaitu:
1. Stelsel pasif dengan hak repudiasi (hak untuk menolak suatu kewarganegaraan).
2. Stelsel aktif dengan hak Opsie (hak untuk memilih suatu kewarganegaraan).

2.3.4 kewarganegraan
Istilah kewarganegaraan dapat dibedakan dalam pengertian secara yuridis dan
sosiologis.

Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum


antara orang-orang dengan negara. Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-
akibat hukum tertentu, yaitu orang tersebut berada di bawah kekuasaan negara yang
bersangkutan. Tanda dari adanya ikatan hukum tersebut antara lain akta kelahiran,
surat pernyataan, dan bukti kewarganegaraan.

8
Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum.
Akan tetapi ditandai dengan ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan
keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan
ini lahir dari penghayatan warga negara yang bersangkutan.

2.3.5 Hukum Kewarganegaraan

Hukum kewarganegaraan adalah hukum di setiap negara dan di


setiap yurisdiksi dalam masing-masing negara yang mendefinisikan hak dan
kewajiban warga negara dalam yurisdiksi dan cara di mana kewarganegaraan
diperoleh serta bagaimana kewarganegaraan mungkin akan hilang. Seseorang yang
bukan warga negara umumnya dianggap sebagai orang asing, juga disebut
sebagai alien. Seseorang yang telah ada diakui kebangsaan atau kewarganegaraan
dianggap sebagai tanpa kewarganegaraan. Menurut kebiasaan internasional, setiap
negara yang berdaulat memiliki hak untuk menentukan siapa yang akan diakui sebagai
sebagai seorang warga negara dan bangsa. Klasifikasi tersebut dapat dilakukan oleh
adat, hukum wajib, atau kasus hukum (preseden), atau beberapa kombinasi. Dalam
beberapa kasus, penentuan dapat diatur oleh hukum internasional umum-misalnya,
oleh perjanjian dan Konvensi Eropa tentang Kewarganegaraan.

2. 4 Asas-Asas Kewarganegraan

Secara umum asas kewarganegaraan dibagi menjadi dua macam, yakni asas ius
sanguinis dan asas ius soli. Berikut penjelasan macam-macam asas kewarganegaraan
beserta pengertian dan contohnya.

1. Asas Ius Sanguinis (Asas Keturunan)

Asas kewarganegaraan suatu negara yang ditetapkan menurut keturunan darah orang
tuanya disebut asas ius sanguinis atau asas keturunan. Artinya kewarganegaraan
seorang anak mengikuti kewarganegaraan orang tuanya, tanpa memperhatikan dimana
anak itu lahir.

Contohnya : Seorang anak dilahirkan di negara Australia, sedangkan kewarganegaraan


orang tuanya adalah Indonesia. Maka anak tersebut berkewarganegaraan Indonesia,
meski lahir di Australia.

Negara yang menerapkan asas sanguinis antara lain adalah Inggris, Belanda, Jerman,
Jepang, Italia, Portugal, Spanyol, Polandia, Belgia, Korea Selatan dan lain-lain.

9
2. Asas Ius Soli (Asas Kedaerahan)

Asas kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran disebut juga dengan istilah asas
ius soli atau asas kedaerahan. Artinya kewarganegaraan seorang anak tergantung
tempat ia dilahirkan dan tidak memperhatikan kewarganegaraan kedua orang tuanya.

Contohnya : Seorang anak dilahirkan di negara Australia, sedangkan kewarganegaraan


orang tuanya adalah Indonesia. Maka anak tersebut berkewarganegaraan Australia,
meski orang tuanya Indonesia.

Negara yang menerapkan asas sanguinis antara lain adalah Amerika Serikat, Brasil,
Kolombia, Panama, Argentina, Kosta Rika, Pakistan, Guatemala, Kanada dan lain-
lain.
2.4.1 Status Kewarganegaraan Penduduk
Adanya perbedaan dalam menentukan kewarganegaran di beberapa negara, baik yang
menerapkan asas ius sanguinis maupun asas ius soli dapat menimbulkan dua
kemungkinan status kewarganegaraan seorang penduduk di antaranya yaitu:

1. Apatride
Pengertian apartide adalah saat seorang penduduk sama sekali tidak mempunyai
kewarganegaraan. Hal ini terjadi saat seseorang dari keturunan negara berasas ius soli
lahir di negara yang berasas ius sanguinis. Maka orang tersebut tidak memiliki
kewarganegaraan sama sekali.

Contohnya : Seorang anak lahir di negara Jepang yang menganut asas ius sanguinis,
padahal orang tuanya berkewarganegaraan Amerika Serikat yang menganut asas ius
soli. Anak tersebut tidak menjadi warga negara Jepang karena menganut asas
keturunan, namun juga tidak menjadi warga negara Amerika Serikat karena menganut
asas kedaerah. Akibatnya anak tersebut tidak memiliki kewarganegaraan sama sekali.

2. Bipatride
Pengertian bipatride adalah saat seorang penduduk yang mempunyai dua macam
kewarganegaraan sekaligus atau kewarganegaraan ganda. Hal ini terjadi saat
seseorang dari keturunan negara berasas ius sanguinis lahir di negara yang berasas ius
soli. Maka orang tersebut memiliki kewarganegaraan ganda.

Contohnya : Seorang anak lahir di negara Amerika Serikat yang menganut asas ius
soli, padahal orang tuanya berkewarganegaraan Jepang yang menganut asas ius
sanguinis. Anak tersebut menjadi warga negara Amerika Seriakt karena menganut
asas kedaerahan, serta juga menjaadi warga negara Jepang karena menganut asas
keturunan. Akibatnya anak tersebut memiliki kewarganegaraan ganda.

10
Dalam menetukan status kewarganegaraan seseorang, pemerintah suatu negara
umumnya menggunakan dua stelsel, yaitu :

1. Stelsel aktif yaitu ketika seseorang harus melakukan tindakan hukum tertentu
secara aktif untuk bisa menjadi warga negara (naturalisasi biasa).
2. Stelsel pasif yaitu ketika seseorang dengan sendirinya dianggap menjadi warga
negara tanpa melakukan sutu tindakan hukum tertentu (naturalisasi istimewa).
Terkait dengan stelsel aktif dan stelsel pasif, seorang warga negara dalam suatu negara
memiliki dua hak di antaranya yaitu :

 Hak opsi, yaitu hak untuk memilih suatu kewarganegaraan (dalam stelsel aktif)
 Hak repudiasi, yaitu hak untuk menolak suatu kewarganegaraan (stelsel pasif).

2.4.2 Asas Kewarganegaraan Indonesia


Lantas apa asas kewarganegaraan yang dianut di Indonesia? Hal-hal terkait asas
kewarganegaraan di Indonesia telah diatur dalam undang-undang, tepatnya pada UU
No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang menjelaskan
bahwa Indonesia didalam penentuan kewarganegaraan menganut asas-asas sebagai
berikut:

1. Asas ius sanguinis


2. Asas ius soli secara terbatas
3. Asas kewarganegaraan tunggal
4. Asas kewarganegaraan ganda terbatas

Nah itulah penjelasan mengenai asas kewarganegaraan, baik jenis-jenis asas


kewarganegaraan, status kewarganegaraan penduduk serta asas kewarganegaraan
yang dianut di Indonesia.

2.5 Cara Memperoleh Kewarganegraan Indonesia

Dalam penentuan keawarganegaraan seseorang ada beberapa cara yang


dilakukan. Cara tersebut didasarkan pada beberapa unsur, yaitu

1. Unsur Darah Keturunan (ius sanguinis)

11
Dalam unsur ini cara memperoleh suatu kewarganegaraan didasarkan pada
keawarganegaraan orang tuanya. Maksudnya, kewarganegaraan orang tuanya
menentukan kewarganegaraan anaknya.Misalkan jika seseorang dilahirkan dari orang
tua yang berkewarganegaraan Indonesia, maka ia dengan sendirinya telah
berkewarganegaraan Indonesia.

Prinsip ini merupakan prinsip asli yang telah berlaku sejak dahulu, hal tersebut
terbukti dalam sistem kesukuan, dimana seorang anak yang lahir dalam suatu suku
dengan sendirinya ia langsung menjadi anggota suku tersebut. Sekarang prinsip
tersebut diterapkan pada beberapa negara di dunia, yaitu negara Inggris, Amerika
Serikat, Perancis, Jepang, dan juga negara yang kita cintai, Indonesia.

Jadi, pada cara penentuan kewarganegaraan ini didasarkan pada salah satu asas
kewarganegaraan, yaitu asas keturunan (ius sanguinis), yang dimana seseorang
dengan sendirinya atau secara langsung tanpa melalui beberapa tahap yang rumit dapat
memiliki kewarganegaraan seperti yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.

2. Unsur Daerah Tempat Kelahiran (ius soli)


Pada unsur ini, kewarganegaraan seseorang dapat ditentukan berdasarkan
daerah tempat ia dilahirkan.Misalkan ada seseorang dilahirkan di dalam daerah atau
wilayah hukum negara Indonesia, maka dengan sendirinyapun ia memiliki
kewarganegaraan Indonesia. Terkecuali anggota-anggota korps diplomatik dan
anggota tentara asing yang masih dalam ikatan dinas. Di samping dan bersama-sama
dengan prinsip ius sanguinis, prinsip ius soli ini juga berlaku di negara Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, dan juga Indonesia.

3. Unsur Pewarganegaraan (Naturalisasi)


Seseorang yang tidak memenuhi syarat kewarganegaraan ius soli dan ius
sanguinistetap bisa mendapatkan atau memperoleh kewarganegaraan, yaitu dengan
pewarganegaraan atau naturalisasi. Syarat-syarat dan prosedur unsur ini di berbagai

12
negara itu berbeda. Perbedaan tersebut dikarenakan kondisi dan situasi setiap negara
itu berbeda, jadi persyaratannya itu menyesuaikan dengan kondisi dan situasi
negaranya.
Pewarganegaraan ini dibagi menjadi dua macam, yaitu pewarganegaraan aktif
dan negatif.Sistem Kewarganegaraan berdasarkan Naturalisasi
Adalah suatu perbuatan hukum yang dapat menyebabkan seseorang memperoleh
status kewarganegaraan, Misal : seseorang memperoleh status kewarganegaraan
akibat dari pernikahan, mengajukan permohonan, memilih/menolak status
kewarganegaraan.
a.Naturalisasi Biasa

Yaitu suatu naturalisasi yang dilakukan oleh orang asing melalui permohonan
dan prosedur yang telah ditentukan.

b. Naturalisasi Istimewa

Yaitu kewarganegaraan yang diberikan oleh pemerintah (presiden) dengan


persetujuan DPR dengan alasan kepentingan negara atau yang bersangkutan telah
berjasa terhadap negara.

Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan naturalisasi digunakan 2


stelsel, yaitu :

1. Stelsel Aktif,

yakni untuk menjadi warga negara pada suatu negara seseorang harus melakukan
tindakan-tindakan hukum secara aktif.

2. Stelsel Pasif, yakni seseorang dengan sendirinya dianggap sebagai warga negara
tanpa melakukan sesuatu tindakan hukum.

13
2.6 Pengertian Hak Dan Kewajiban

Hak adalah kekuasaan seseorang untuk melakukan sesuatu untuk melakukan sesuatu
yang telah itentukan oleh undang-undang. MIsalnya, hak mendapat pendidikan
dasar, hak mendapt rasa aman.Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus
dikerjakan. Misalnya, wajib mematuhi rambu-rambu lalulintas dan wajib membayar
pajak.

Orang yang mendiami wilayah suatu Negara, bisa jadi warga Negara tersebut atau
warga Negara asing. Di Indonesia, misalnya, penduduk yang tinggal di wilayah
Indonesia bias warga Negara Indonesia atau warga Negara asing yang memiliki
kepentingan di Indonesia. Namun, mereka bukanlah warga Negara Indonesia. Jadi,
tidak semua orang yang tinggal di wilayah suatu Negara adalah warga Negara
tersebut . tentu saja Warga Negara Indonesia (WNI)dan Warga Negara Asing
(WNA) memiliki hak dan kewajiban yang berbeda.

Kewajiban merupakan hal yang harus dikerjakan atau dilaksanankan. Jika tidak
dilaksanankan dapat mendatangkan sanksi bagi yang melanggarnya. Sedangkan hak
adalah kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Namun, kekuasaan tersebut dibatasi
oleh undang-undang. Pembatasan ini harus dilakukan agar pelaksanaan hak
seseorang tidak sampai melanggar hak orang lain. Jadi pelaksanaan hak dan
kewajiban haruslah seimbang.

Dengan hak yang dimilikinya, seseorang dapat mewujudkan apa yang menjadi
keinginan dan kepentingannya. Sebagai warga Negara, kita memiliki hak untuk
mendapatkan pendidikan. Dengan pendidikan, kita akan mewujudkan cita-cita kita.

Antara hak dan kewajiban harus berjalan seimbang. Artinya, kita tidak boleh terus
menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban. Sebaliknya, Negara juga tidak boleh
berlaku sewenang-wenang dengan menuntut warga Negara menjalankan
kewajibannya tanpa pernah memenuhi hak-hak mereka.

Berikut ini adalah beberapa contoh hak dan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia.
Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama satu sama lain tanpa
terkecuali. Persamaaan antara manusia selalu dijunjung tinggi untuk menghindari
berbagai kecemburuan sosial yang dapat memicu berbagai permasalahan di
14
kemudian hari.

2.6.1 Hak dan Kewajiban Warga Negara

Apabila seseorang telah menjadi warga negara suatu negara, maka ia memiliki suatu
hubungan dengan negaranya. Hubungan tersebut pada umumnya berupa peranan.
Peranan pada dasarnya adalah tugas yang diakukan oleh seseorang yang sesuai dengan
statusnya sebagai warga negara.Secara teori, status warga negara meliputi status pasif,
aktif, negatif, dan positif.(Cholisin, 2000).
Peranan aktif merupakan aktifitas warga negara untuk terlibat (berpartisipasi)
serta ambil bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam mempengaruhi
keputusan publik. Peranan pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Peranan positif merupakan aktifitas warga negara
untuk meminta pelayanan dari negara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan
peranan negatif merupakan aktifitas warga negara untuk menolak campur tangan
negara dalam persoalan pribadi. Selain itu, peranan itu juga dapat berupa hak dan
kewajiban.

1. Hak Warga Negara


Kita sebagai warga negara memiliki hak. Hak adalah sesuatu yang seharusnya
didapat oleh warga negara setelah melaksanakan segala sesuatu yang menjadi
kewajibannya sebagai warga negara.

Adapun Hak Warga Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945, sebagai


berikut:

1. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. (Pasal 27)


2. Berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan.
3. Berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan.
4. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,tumbuh, dan berkembang, serta
perlindungan terhadap kekerasan dan kriminalitas.
5. Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya.

15
6. Berhak mendapatkan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya
demi meningkatkan kualitas hidupnya dan atau demi kesejahteraan hidupnya.
7. Setiap orang berhak memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
8. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta pengakuan yang sama di depan hukum.
9. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan pengakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja.
10. Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan.
11. Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
12. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal di wilayah negara, dan meninggalkannya serta berhak
kembali.
13. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran,
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
14. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
pendapat.
15. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperileh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tesedial.
16. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan
perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi.
17. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan
derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negera lain.
18. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
19. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
16
20. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagaim manusia yang bermartabat.
21. Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak
boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.
22. Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikian dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di
hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
23. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar
apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat
diskriminatif itu.
24. Identitas budayacdan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.

2. Kewajiban Warga Negara


Sebagai warga negara selain memiliki hak, juga memiliki kewajiban terhadap
negaranya. Kewajiban ini dilakukan sebelum seseorang mendapatkan haknya sebagai
warga negara. Jadi, kewajiban itu harus diutamakan, setelah itu baru meminta haknya
sebagai warga negara.

Adapun kewajiban warga negara yang tercantum dalam UUD 1945, sebagai
berikut:

1. Wajib membayar pajak tepat pada waktunya sebagai kontrak utama antara negara
dengan warga negaranya dan wajib membela tanah airnya ( Pasal 27 ).
2. Wajib membela pertahanan dan keamanan negarannya (Pasal 29).
3. Wajib menghormati hak asasi orang lain dan mematuhi pembatasan yang tertuang
dalam dalam peraturan (Pasal 28J).
4. Wajib menjunjung hukum hukum dan pemerintah.
5. Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
6. Wajib tunduk terhadap pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang untuk
menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain.
7. Wajib mengikuti pendidikan dasar.

17
2.6.2 Hak dan Kewajiban Negara

Hak dan kewajiban negara adalah menggambarkan apa yang seharusnya


diterima dan dilakukan oleh negara atau pemerintah dalam melindungi dan menjamin
kelangsungan kehidupan negara serta terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional
sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Hak negara atau pemerintah adalah meliputi :


1. Menciptakan peraturan dan UU untuk ketertiban dan keamanan.
2. Melakukan monopoli sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak.
3. Memaksa warga negara taat akan hukum yang berlaku.

Kewajiban negara berdasarkan UUD 1945 :


1. Melindungi wilayah dan warga negara.
2. Memajukan kesejahteraan umum.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
5. Menjamin kemerdekaan penduduk memeluk agama.
6. Membiayai pendidikan dasar.
7. Menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.
8. Memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 % dari anggaran belanja negara
dan belanja daerah.
9. Memajukan pendidikan dan kebudayaan.
10. Mengembangkan sistem jaminan sosial.
11. Menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kebudayaan nasional.
12. Menguasai cabang-cabang produksi penting bagi negara dan menguasai hidup orang
banyak.
13. Menguasai bumi, air, dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat.
14. Memelihara fakir miskin.
15. Mengembangkan sistem jaminan sosial.
16. Menyediakan fasilitas layanan kesehatan dan publik yang layak.

2.7 Hubungan Negara Dan Warga Negara

Setiap interaksi selalu menghasilkan hubungan. Keeratan hubungan negara dengan


warga negaranya sudah mencapai tahap ketergantungan. Sebuah negara tidak mungkin
berkembang, apalagi menjadi negara maju apabila warga negaranya pasif. Begitu juga
warga negara dari sebuah negara, tidak mungkin dapat hidup sejahtera di negara yang
kacau.

18
Negara merupakan suatu wilayah dengan luasan tertentu yang menjadi tempat tinggal
dari sekelompok orang. Namun untuk dapat disebut sebagai negara, wilayah yang
ditinggali penduduk tersebut juga harus mendapatkan pengakuan kedaulatan dari
negara lain. Selain itu, sebuah negara yang sudah berdiri tegak juga harus memiliki
undang-undang sendiri untuk mengatur tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tepat di hari Jum’at bulan
Ramadhan itu, negara kita resmi berdiri. Namun perjalanannya tidak berhenti sampai
di situ saja. Ada banyak ancaman dan tekanan dari dalam maupun luar negeri yang
menginginkan kehancuran kedaulatan NKRI.

Berkat kegigihan dan kerjasama yang kompak antara penyelenggara negara dengan
warga negara, semua rintangan itu berhasil dilewati. Sampai saat ini, tidak ada lagi
peperangan fisik yang harus dihadapi oleh Indonesia. Ada hubungan yang penting
antara negara dengan warga negaranya. Hubungan inilah yang akan menentukan
apakah tujuan negara dapat dicapai atau tidak.

Hubungan Negara dengan Warga Negara

Negara harus dapat memenuhi hak warga negaranya. Sementara itu, warga negara juga
harus menyelesaikan tugas sebagai warga negara yang baik. Barulah dapat hak warga
negara.

Negara memiliki hubungan emosional yang kuat dengan warga negara. Tidak perlu
ada pemaksaan atau aturan resmi yang mewajibkan warga negara membela negaranya.
Karena hubungan emosional yang kuatlah, warga negara tentunya tidak akan terima
bila negaranya mengalami keadaan buruk

Sebut saja kasus pelanggaran batas negara. Spontan dan tanpa dikomando oleh
pemerintah, warga negara Indonesia akan berusaha membela kehormatan negaranya
sebisa mungkin. Hanya saja kadang cara yang digunakan tidak selalu benar dan tidak
sesuai dengan keinginan pemerintah.

1. Memperkenalkan Budaya Bangsa

Hubungan emosional yang kuat antara negara dengan warga negara akan membentuk
rasa cinta tanah air. Rasa inilah yang mendorong warga negara bangga dengan segala
hal yang berasal dari negaranya. Secara tidak sadar, mereka akan sangat loyal dengan
segala produk rumah tangga yang berasal dari produksi dalam negeri.

Lebih dari itu, seorang warga negara yang telah memiliki keterikatan emosional
dengan negaranya akan memperkenalkan budaya bangsanya ke orang-orang luar
negeri tanpa disuruh pemerintah.

Misalkan saja seorang WNI yang sedang kuliah di U.S.A dan telah memiliki ikatan
emosional yang kuat dengan Indonesia akan tetap mengonsumsi tempe sebagaimana

19
kebiasaannya di Indonesia. Dia juga akan memperkenalkan kesenian dari Indonesia
dan kebiasaan-kebiasaan asli Indonesia seperti ramah dan menjaga sopan santun yang
menjadi adat orang Indonesia.

Apakah anda ingat dengan kebudayaan Jepang yang mendunia. Mulai dari baju
Kimono, jenis-jenis makanan khas Jepang, hingga bahasanya. Semuanya dikarenakan
rasa nasionalisme dan cinta tanah air warga negara Jepang. Sehingga seluruh aktivitas
dimanapun warga Jepang berada, mereka selalu berusaha memperkenalkan
kebudayaannya kepada dunia dan terus memegang budaya Jepang di manapun ia
bertempat.

2. Taat Aturan Negara

Warga negara yang telah memiliki hubungan emosional kuat dengan negaranya akan
memberi kepercayaan yang tinggi kepada negara. Setiap aturan negara dipercaya
memiliki manfaat untuk mengatur hubungan berbangsa dan bernegara. Karena itulah
ia akan berusaha sebisa mungkin mematuhi aturan negara.

Warga negara yang sudah terikat emosionalnya dengan negara secara spontan juga
akan membantu negara menegakkan hukum. Contoh bentuk perwujudannya adalah
dengan menjaga kelakuan agar tetap tertib bermasyarakat, menegur anggota
masyarakat yang melanggar aturan negara dan membantu aparat negara bila dimintai
bantuan.

3. Berusaha Mengharumkan Nama Negara

Hubungan emosional yang kuat antara negara dengan warga negaranya akan memacu
usaha pengharuman nama baik. Warga negara yang baik akan selalu menjaga
kelakuannya dalam bermasyarakat, baik di wilayah dalam atau luar negeri. Baca juga
: Penyebab Terciptanya Masyarakat Majemuk dan Multikultural

Selain itu, dia akan terus belajar dan berlatih agar dapat memberikan suatu prestasi
yang membanggakan negara, meningkatkan reputasi negaranya di kancah
internasional. Sebagai timbal baliknya, negaralah yang akan memberikan fasilitas
penuh kepada warga negara yang sedang berjuang mengharumkan nama negara.
Mulai dari bonus hadiah, transportasi dan segala macam akomodasi yang dibutuhkan
warga negara akan dipenuhi negara.

Segala hal yang diberikan oleh negara kepada warga negaranya merupakan upaya
mencapai tujuan-tujuan negara dan usaha untuk memenuhi kewajibannya kepada
warga negara. Sementara tindakan yang dilakukan warga negara merupakan bentuk
dari pelaksanaan kewajibannya sebagai warga negara yang baik.

20
2.8 Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban Negara Dan Warga Negara Di
Negara Pancasila

Persoalan yang paling mendasar hubungan antara negara dan warga negara adalah
masalah hak dan kewajiban. Negara demikian pula warga negara samasama memiliki
hak dan kewajiban masing-masing. Sesungguhnya dua hal ini saling terkait, karena
berbicara hak negara itu berarti berbicara tentang kewajiban warga negara, demikian
pula sebaliknya berbicara kewajiban negara adalah berbicara tentang hak warga
negara. Kesadaran akan hak dan kewajiban sangatlah penting, seseorang yang
semestinya memiliki hak namun ia tidak menyadarinya, maka akan membuka peluang
bagi pihak lain untuk menyimpangkannya. Demikian pula ketidaksadaran seseorang
akan kewajibannya akan membuat hak yang semestinya didapatkan orang lain menjadi
dilanggar atau diabaikan. Pada artikel ini akan dibahas pengertian hak dan kewajiban,
hak dan kewajiban negara dan warga negara menurut UUD 1945, serta pelaksanaan
hak dan kewajiban negara dan warga negara di negara Pancasila.

Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya
diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain
manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya. Hak dan
Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi terjadi
pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa setiap warga negara
memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada
kenyataannya banyak warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam
menjalani kehidupannya. Semua itu terjadi karena pemerintah dan para pejabat tinggi
lebih banyak mendahulukan hak daripada kewajiban. Padahal menjadi seorang pejabat
itu tidak cukup hanya memiliki pangkat akan tetapi mereka berkewajiban untuk
memikirkan diri sendiri. Jika keadaannya seperti ini, maka tidak ada keseimbangan
antara hak dan kewajiban. Jika keseimbangan itu tidak ada akan terjadi kesenjangan
sosial yang berkepanjangan.

Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara
mengetahui posisi diri kita sendiri. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak dan
kewajibannya. Seorang pejabat atau pemerintah pun harus tahu akan hak dan
kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan aturan-aturan yang
berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka kehidupan masyarakat
akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di Indonesia ini tidak akan pernah seimbang.
Apabila masyarakat tidak bergerak untuk merubahnya. Karena para pejabat tidak akan
pernah merubahnya, walaupun rakyat banyak menderita karena hal ini. Mereka lebih
memikirkan bagaimana mendapatkan materi daripada memikirkan rakyat, sampai saat
ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya. Oleh karena itu, kita
sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari mimpi kita yang buruk ini
dan merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak lupa melaksanakan kewajiban
kita sebagai rakyat Indonesia.

21
Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD 1945 pada pasal 28, yang
menetapkan bahwa hak warga negara dan penduduk untuk berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan, dan sebagainya, syarat-syarat
akan diatur dalam undang-undang. Pasal ini mencerminkan bahwa negara Indonesia
bersifat demokrasi. Pada para pejabat dan pemerintah untuk bersiap-siap hidup setara
dengan kita. Harus menjunjung bangsa Indonesia ini kepada kehidupan yang lebih
baik dan maju, yaitu dengan menjalankan hak-hak dan kewajiban dengan seimbang.
Dengan memperhatikan rakyat-rakyat kecil yang selama ini kurang mendapat
kepedulian dan tidak mendapatkan hak-haknya.
Hak dan Kewajiban Warga negara :

1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara Wujud hubungan warga negara
dan negara pada umumnya berupa peranan (role).

2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia Hak kewajiban warga negara
Indonesia tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945.
Hak Warga Negara Indonesia :

- Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak : “Tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” (pasal 27 ayat 2).

- Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang berhak untuk
hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(pasal 28A).

- Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan


yang sah (pasal 28B ayat 1).

- Hak atas kelangsungan hidup. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh, dan Berkembang”
- Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan
berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi
meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia. (pasal 28C ayat
1)
- Hak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif
untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. (pasal 28C ayat 2).

- Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum.(pasal 28D ayat 1).

- Hak untuk mempunyai hak milik pribadi Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa,
hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak beragama, hak untuk tidak diperbudak,
hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas
dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apapun. (pasal 28I ayat 1).
Kewajiban Warga Negara Indonesia :

22
- Wajib menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 berbunyi :
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

- Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945
menyatakan : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara”.

- Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain. Pasal 28J ayat 1 mengatakan :
Setiap orang wajib menghormati hak asai manusia orang lain

- Wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Pasal


28J ayat 2 menyatakan : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya,setiap orang
wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan
maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain
dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai
agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.”

- Wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 30 ayat (1)
UUD 1945. menyatakan: “tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
usaha pertahanan dan keamanan negara.”

Hak dan Kewajiban telah dicantumkan dalam UUD 1945 pasal 26, 27, 28, dan 30,
yaitu :

1. Pasal 26, ayat (1), yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia
asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
negara. Dan pada ayat (2), syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan
dengan undang-undang.

2. Pasal 27, ayat (1), segala warga negara bersamaan dengan kedudukannya di dalam
hukum dan pemerintahannya, wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu. Pada
ayat (2), taip-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan.

3. Pasal 28, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan


lisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

4. Pasal 30, ayat (1), hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam
pembelaan negara. Dan ayat (2) menyatakan pengaturan lebih lanjut diatur dengan
undang-undang.

Suatu hal tidak dapat dilaksanakan sebelum mengetahui benar apa yang hendak
dilaksanakan, untuk melaksanakannya diperlukan pedoman, dan agar pelaksanaan
bisa berjalan sesuai dengan harapan maka perlu ada institusi yang mengawal
pelaksanaan tersebut. Dengan demikian ada tiga hal penting dalam pelaksanaan hak
dan kewajiban ini. Pertama, Pancasila perlu dimengerti secara tepat dan benar baik
dari pengertian, sejarah, konsep, prinsip dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Tanpa mengerti hal-hal yang mendasar ini amat sulit Pancasila untuk diamalkan.
23
Selain daripada itu, Pancasila akan cepat memudar dan dilupakan kembali. Kekuatan
akar pemahaman ini amat penting untuk menopang batang, ranting, daun dan buah
yang akan tumbuh di atasnya. Banyak hal yang terjadi ketika semangat untuk
mengamalkan Pancasila sangat tinggi namun tidak didasari oleh pemahaman konsep
dasar yang kuat, bukan hanya mudah memudar, namun juga akan kehilangan arah,
seakanakan sudah melaksanakan Pancasila padahal yang dilaksanakan bukan
Pancasila, bahkan bertentangan dengan Pancasila. Hal ini amat mudah dilihat dalam
praktek perekonomian dan perpolitikan Indonesia saat ini yang tanpa sadar sudah
mengekor pada sistem kapitalis-neoliberalis dan perpolitikan yang bernapaskan
individualis bukan kolektifis. Kedua, pedoman pelaksanaan. Semestinya kita tidak
perlu malu mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yang
berusaha membuat Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4). Pedoman
ini sangat diperlukan agar negara dan warganegara mengerti apa yang musti
dilakukan, apa tujuannya dan bagaimana strategi mencapai tujuan tersebut. Manakala
tidak ada pedoman pelaksanaan, maka setiap orang berusaha membuat pedoman
sendiri-sendiri sehingga terjadi absurditas (kebingungan). Banyaknya kelemahan yang
terjadi pada pelaksanaan P4 perlu dievaluasi untuk diperbaiki. Contoh kelemahan
utama dalam pelaksanaan P4 adalah bahwa pedoman tersebut bersifat kaku, tertutup
dan doktriner, hanya pemerintah yang berhak menerjemahkan dan menafsirkan
Pancasila, sehingga tidak ada ruang yang cukup untuk diskusi dan terbukanya konsep-
konsep baru. Kelemahan tersebut harus diperbaiki tidak kemudian dibuang sama
sekali. Ketiga, perlunya lembaga yang bertugas mengawal pelaksanaan Pancasila.
Lembaga ini bertugas antara lain memfasilitasi aktivitas-aktivitas yang bertujuan
untuk mensosialisasikan Pancasila. Membuka ruang-ruang dialog agar tumbuh
kesadaran ber-Pancasila baik di kalangan elit politik, pers, anggota legislatif,
eksekutif, yudikatif, dan masyarakat luas. Yang tak kalah penting adalah ikut memberi
masukan kepada lembaga-lembaga negara dalam melaksanakan tugas dan membuat
kebijakan serta ikut mengevaluasi setiap kebijakan yang dilakukan agar terjamin tidak
bertentangan dengan Pancasila. Dalam konteks pelaksanaan hak dan kewajiban, maka
tiga hal penting sebagaimana disebut di atas juga perlu ada, yaitu perlu mengerti
prinsipprinsip dasar hak dan kewajiban negara dan warga negara, terdapat pedoman
pelaksanaannya dan ada lembaga yang mengawalnya. Tiga hal ini tentu tidak berdiri
sendiri khusus terkait dengan hak dan kewajiban negara dan warga negara, namun
merupakan kesatuan gerak besar revitalisasi Pancasila dalam semua bidang
kehidupan. Pelaksanaan hak dan kewajiban negara dan warga negara dalam negara
Pancasila adalah sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 seperti tergambar
dalam klasifikasi di atas. Namun demikian, selain melihat klasifikasi tersebut perlu
juga memahami konsep, prinsip dan nilai Pancasila dalam pelaksanaan hak asasi
manusia.

24
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1. pengertian negara adalah organisasi di suatu wilayah yang mempunyai


kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat; kelompok sosial yang
menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah
lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik,
berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.
2. Menurut teori-teori modern sekarang ini, bentuk negara yang terpenting
ialah negara Kesatuan (Unitarisme) dan negara Serikat (Federasi).
3. Pengertian warga negara adalah semua penduduk di suatu negara atau
bangsa yang berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya,
serta memiliki hak dan kewajiban penuh sebagai seorang warga negara di
negara tersebut.Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah
geografis suatu negara selama kurang lebih enam bulan dan atau mereka
yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan menetap. Rakyat
adalah seluruh orang yang berada pada suatu wilayah Negara dan taat pada
kekuasaan pemerintahan tersebut. Kewarganegaraan dalam arti yuridis
ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara.
Hukum kewarganegaraan adalah hukum di setiap negara dan di
setiap yurisdiksi dalam masing-masing negara yang mendefinisikan hak
dan kewajiban warga negara dalam yurisdiksi dan cara di mana
kewarganegaraan diperoleh serta bagaimana kewarganegaraan mungkin
akan hilang.
4. di Indonesia telah diatur dalam undang-undang, tepatnya pada UU No. 12
Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang
menjelaskan bahwa Indonesia didalam penentuan kewarganegaraan
menganut asas-asas sebagai berikut:asas ius sanguinis, asas ius soli, asas
kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda terbatas
5. Tata cara memperoleh kewarganegaraan indonesia adalah sebagai berikut
:unsur darah keturunan (ius sanguinis),unsur daerah tempat kelahiran (ius
soli), dan unsur pewarganegaraan (naturalisasi)
6. Hak adalah kekuasaan seseorang untuk melakukan sesuatu untuk
melakukan sesuatu yang telah itentukan oleh undang-undang. Kewajiban

25
merupakan hal yang harus dikerjakan atau dilaksanankan. Jika tidak
dilaksanankan dapat mendatangkan sanksi bagi yang melanggarnya.
7. Hubungan negara dan warga negara ibarat ikan dan airnya, keduanya
memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Negara Indonesia
sesuai dengan institusi, misal, berkewajiban untuk menjamin dan
melindungi seluruh warganya, tanpa kecuali. Secara jelas dalam UUD
Pasal 33.
8. pengertian hak dan kewajiban, hak dan kewajiban negara dan warga
negara menurut UUD 1945, serta pelaksanaan hak dan kewajiban negara
dan warga negara di negara Pancasila.

1.1 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan
jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut
dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

26
DAFTAR PUSTAKA
https://pungkiindriyonoblog.wordpress.com/2014/05/04/bab-i-asas-kewarganegaraan/

http://rinny-agustina.blogspot.com/2011/02/pengertian-hak-dan-kewajiban.html

https://www.academia.edu/24645295/PENGERTIAN_HAK_DAN_KEWAJIBAN

https://www.kompasiana.com/eganurfadillah5648/5c07cd146ddcae3c30477e49/makalah-
hubungan-negara-dengan-warga-negara?page=all

27