Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wanita mempunyai peranan yang sangat vital dalam

pembangunan kehidupan bangsa, salah satu peranannya sebagai

penerus bangsa, pendamping suami dalam keharmonisan rumah

tangga, pendidik kedewasaan sikap mental anak, dan penunjang dalam

meningkatkan pendapatan keluarga. Untuk mendukung

keberlangsungan perannya, sudah selayaknyalah kesejahteraan

wanita di perhatikan, salah satu caranya yaitu dengan memperhatikan

beberapa masalah yang sedang dihadapi wanita saat ini yaitu tingginya

Angka Kematian Ibu (Manuaba, 2010).

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun

2015 Angka Kematian Ibu (AKI) di seluruh dunia diperkirakan

216/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal turun 47%

antara tahun 1990- 2015, yaitu dari 36/1000 kelahiran hidup menjadi

19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Sebanyak 99% kematian ibu

akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi dinegara-negara

berkembang, 81% angka kematian ibu (AKI) akibat komplikasi selama

hamil dan bersalin. Faktor langsung penyebab tingginya AKI adalah

perdarahan 45%, terutama perdarahan post partum. Selain itu ada

keracunan kehamilan 24%, infeksi 11%, dan partus lama atau macet

(7%). Komplikasi obstetric umumnya terjadi pada waktu persalinan,

1
2

yang waktunya pendek adalah sekitar 8 jam (World Health

Organization, 2015).

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)

2007 Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100.000

kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi adalah 34 per

1000 kelahiran hidup. Penyebab AKI secara langsung adalah

perdarahan (pada kasus 2007 perdarahan adalah 60%), toksemia

gravidarum/keracunan kehamilan (20%), dan infeksi (20%), dan

kematian bayi karena Asfiksia (40%), BBLR & premature (25%) dan

infeksi, dan lain-lain, (35%). Dan juga terdapat beberapa faktor tidak

langsung yang mempengaruhi dalam hal ini yakni : pendidikan ibu,

sosial ekonomi, dan ada istilah “ 4 terlalu, yaitu terlalu muda, terlalu

sering, terlalu tua dan terlalu banyak, serta istilah lain yaitu “ 3

terlambat” yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat mengirim,

dan terlambat mendapat penanganan (Wiknjosastro, 2014).

Di Sulawesi Tenggara AKI pada tahun 2015 sebesar 131/100.000

kelahiran hidup dan meningkat menjadi 149/100.000 kelahiran hidup.

Adapun AKB pada tahun 2016 dan 2017 adalah 3/1000 kelahiran

hidup. Kematian ibu dan bayi di Sulawesi Tenggara disebabkan oleh

beberapa faktor, antara lain keterlambatan penanganan pada kasus

komplikasi, rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk

memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan, enggan melahirkan di


3

fasilitas kesehatan yang tersedia dan lebih memilih ke dukun ketika

melahirkan (Profil Kesehatan Sultra, 2017).

Dalam menilai derajat kesehatan keluarga dan masyarakat,

terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator

tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian,

angka kesakitan dan status gizi. Derajat kesehatan masyarakat di

Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka

Kematian Ibu (AKI) (Kemenkes RI, 2015).

Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari

indikator Angka Kematian Ibu (AKI). Indikator ini tidak hanya mampu

menilai program kesehatan ibu, terlebih lagi mampu menilai derajat

kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar

Sensus (SUPAS) 2015, AKI di Indonesia menunjukkan penurunan

menjadi 305/100.000 kelahiran hidup. Begitu pula dengan Angka

Kematian Bayi (AKB) di Indonesia juga menunjukkan penurunan

menjadi 22,23/1.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2015).

Namun, pada agenda pembangunan yang berkelanjutan,

Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disahkan pada

September 2015 menyatakan bahwa kementerian Kesehatan

menargetkan penurunan AKI di Indonesia pada tahun 2030 adalah 70

kematian per 100.000 kelahiran hidup dan penurunan AKB pada tahun

2030 adalah menjadi 12 kematian per 1.000 kelahiran hidup

(WHO,2015)
4

Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan

menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu

yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan

persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan

kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan

khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi (Kemenkes RI, 2015).

Kesehatan pada ibu yang tidak optimal dapat menyebabkan

kematian pada ibu. Kematian Ibu adalah kematian seorang Ibu yang

disebabkan kehamilan, melahirkan atau nifas, bukan karena

kecelakaan. Kematian bayi adalah kematian yang tejadi antara bayi

lahir sampai bayi usia 1 tahun kurang 1 hari). Persalinan yang

dilakukan di dukun disebabkan oleh faktor ekonomi, pengetahuan,

kebiasaan keluarga, pendidikan dan geografis (Kemenkes RI, 2013).

Untuk itu dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal

diperlukan tenaga kesehatan yang professional dan terampil (dalam hal

ini bidan), sebagai upaya penurunan AKI. Bidan merupakan mata rantai

yang sangat penting karena kedudukannya sebagai ujung tombak

pelayanan kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan

kesehatan melalui profesionalisme seorang bidan.(Manuaba,2010).

Pelayanan kesehatan merupakan bagian integral dari pelayanan

dasar yang terjangkau oleh seluruh masyarakat , di dalamnya termasuk

pelayanan kesehatan ibu yang berupaya agar setiap ibu hamil dapat

melalui kehamilan dan persalinannya dengan selamat. Upaya ini Dapat


5

tercapai bila pelayanan bermutu dan berkesinambungan. Kehamilan,

persalinan, nifas, dan bayi baru lahir merupakan suatu proses fisiologis

dimana dalam prosesnya terdapat kemungkinan yang dapat

mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian.

Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi salah satunya

dengan asuhan kebidanan berkesinambungan (Kemenkes, 2015).

Asuhan kebidanan komprehensif (Continuity of Care) merupakan

asuhan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dari mulai hamil,

bersalin, nifas sampai pada bayi baru lahir. Asuhan kebidanan ini

dilakukan agar mahasiswa dapat mengetahui hal – hal apa saja yang

terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas sampai

dengan bayi yang dilahirkannya serta melatih dalam melakukan

pengkajian, menegakkan diagnosa secara tepat, antisipasi masalah

yang mungkin terjadi, menentukan tindakan segera, melakukan

perencanaan dan tindakan sesuai kebutuhan ibu, serta mampu

melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk menyusun

laporan “Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny, F di Puskesmas

Poasia”.

B. Ruang Lingkup

Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan pada Ny. F

GIIPIA0 umur 24 tahun, pendidikan terakhir SMP, ibu rumah tangga,

islam, suku muna, alamat Jl. Badak, Lrg. Permata. Adapun asuhan
6

yang diberikan continuity of care meliputi asuhan kebidanan

kehamilan trimester III, persalinan, nifas dan bayi baru lahir dengan

menggunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah varney

dan pendokumentasian dengan menggunakan SOAP yang

dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Poasia.

B. Tujuan

1. Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan komprehensif

melalui pendekatan management pada ibu hamil, bersalin, nifas

dan bayi baru lahir secara berkesinambungan. Sehingga ibu bisa

melewati kehamilan, persalinan dan nifas dengan aman dan

selamat serta bayi yang dilahirkan sehat

2. Tujuan khusus

a. Memberikan asuhan kebidanan selama kehamilan.

b. Memberikan asuhan kebidanan selama persalinan

c. Memberikan asuhan kebidanan selama masa nifas

d. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir

e. Melakukan pendokumentasian kebidanan mulai dari kehamilan,

persalinan, nifas, bayi baru lahir

C. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Dapat menambah ilmu dan keterampilan dalam memberikan asuhan

kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir.
7

2. Bagi Tempat Pelayanan

Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam

memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu hamil,

bersalin, nifas, dan bayi baru lahir di Puskesmas Poasia.

3. Bagi Institusi

Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan atau

sumber referensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan kebidanan

khususnya asuhan kebidanan komprehensif.

4. Bagi Masyarakat

Menambah pengetahuan serta wawasan masyarakat tentang

kehamilan sesuai standart yang harus di dapatkan oleh wanita hamil

dan pemeriksaan kehamilan.