Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

“PSAK 48”

Dosen Pembimbing :
Ibnu Rachman,DR.,Drs.,M.Si,M.M.,Ak.CA

Disusun Oleh :
Fasya Yosifa 1619103006
Meko Nanda Tejakusuma 1619103009

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS WIDYATAMA

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk menjalankan suatu perusahaan tentu saja dibutuhkan penunjang untuk menjalankan

operasional suatu perusahaan. Salah satu yang menunjang berjalannya suatu perusahaan agar tetap

produktif salah satunya ialah aset.

Aset yang dimiliki perusahaan beragam, ada yang berwujud maupun tidak berwujud. Dan ada

aset tetap maupun aset lancar. Pencatatan pada laporan keuangan pun telah diatur berdasarkan

PSAK yang mengaturnya. Pada PSAK 16 menjelaskan meengenai pencatatan aset tetap, dan

kriteria apa saja yang dapat digolongkan sebagai aset tetap. Sedangkan pada PSAK 19 mengatur

pencatatan mengenai aset tetap yang tidak memiliki wujud seperti goodwill.

Namun pada dasarnya setiap aset memiliki penurunan nilai kecuali yang dijelaskan oleh PSAK

13 mengenai property investasi. PSAK 48 mengatur pencatatan mengenai penurunan nilai pada

suatu aset kecuali untuk persediaan, aset keuangan, kontrak konstruksi, kontrak asuransi, properti

investasi yang diukur dengan nilai wajar, aset tak lancar dimiliki untuk dijual (PSAK 58) dan aset

pajak tangguhan (PSAK 46).

Penulisan kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai penurunan nilai pada aset. Ruang

lingkup, dan hal apa saja yang diatur oleh PSAK 48.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja hal yang diatur oleh PSAK 48 revisi 2013?

2. Bagaimana Implementasi PSAK 48 revisi 2013?

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan apa saja hal yang diatur pada PSAK 48 revisi 2013?

2. Mengetahui implementasi PSAK

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PSAK 48 “Penurunan Nilai Aset”

PSAK 48 dibuat awalnya pada tahun 1998 dan dilakukan beberapa revisi kembali pada

tahun 2009. Pada revisi tahun 2009 PSAK menambahkan beberapa pengaturan, Misalnya

untuk goodwill dan aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas, maka yang

terkena dampak perubahan PSAK 48 (Revisi 2009) adalah aset-aset tersebut yang didapatkan

entitas setelah tanggal 1 January 2011.

Sehingga untuk goodwill dan aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas yang

didapatkan sebelum tanggal efektif (1 Januari 2011), pengaturan dalam PSAK 48 (Revisi 1998)

tetap berlaku.

Seiring perkembangan waktu dilakukan revisi kembali pada tahun 2013. Hal yang direvisi

pada PSAK 48 TAHUN 2013 seperti alokasi goodwill pada unit penghasil kas (paragraf 80),

pada pengungkapan (paragraf 125), perbedaan nilai wajar dan nilai pakai (paragraf 53A).

Berikut table yang menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan PSAK 48 revisi 2013 dan

PSAK 48 revisi 2009.

Perihal ED PSAK 48 (2013) PSAK 48 (2009)


Ruang Lingkup Pengaturan investasi pada entitas anak Pengaturan investasi pada entitas
dan ventura bersama dalam laporan anak dan ventura bersama dalam
keuangan tersendiri mengacu pada laporan keuangan tersendiri mengacu
PSAK 4 (2013): Laporan Keuangan pada PSAK 4: Laporan Keuangan
Tersendiri Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri

3
Definisi • Tidak memberikan definisi Memberikan definisi mengenai nilai
mengenai nilai wajar dikurangi biaya wajar dikurangi biaya untuk menjual
untuk menjual dan pasar aktif. dan pasar aktif.
• Memberikan definisi nilai wajar
sesuai dengan PSAK 68: Pengukuran
Nilai Wajar.

Terminologi • Nilai wajar dikurangi biaya • Nilai wajar dikurangi biaya untuk
pelepasan menjual
• Pengukuran nilai wajar • Penentuan nilai wajar

Pengukuran nilai wajar Pengukuran nilai wajar dikurangi Memberikan pengaturan mengenai
dikurangi biaya biaya pelepasan mengacu pada hirarki nilai wajar dikurangi biaya untuk
pelepasan nilai wajar dalam PSAK 68: menjual.
Pengukuran Nilai Wajar.

Komposisi estimasi Memberikan tambahan penjelasan Tidak diatur.


arus kas masa depan mengenai perbedaan nilai wajar dan
nilai pakai.

Alokasi goodwill pada Setiap unit atau kelompok unit yang Setiap unit atau kelompok unit yang
unit penghasilan kas memperoleh alokasi goodwill: memperoleh alokasi goodwill:
• menunjukkan tingkat terendah dalam •menunjukkan tingkat terendah
entitas yang goodwill-nya dipantau dalam entitas yang goodwillnya
untuk tujuan manajemen internal; dan dipantau untuk tujuan manajemen
• tidak lebih besar dari segmen operasi internal; dan
yang didefinisikan dalam PSAK 5: •tidak lebih besar dari segmen
Segmen Operasi paragraph 08 operasi yang ditentukan sesuai
sebelum penggabungan. dengan PSAK 5: Segmen Operasi

4
Pengungkapan Memberikan tambahan persyaratan Memberikan persyaratan
pengungkapan untuk setiap asset pengungkapan untuk setiap rugi
individual atau unit penghasil kas penurunan nilai material yang diakui
yang mana kerugian penurunan nilai atau dibalik selama periode aset
telah diakui atau dibalik selama individual (termasuk goodwill dan
periode: unit penghasil kas)
• jumlah terpulihkan aset (unit
penghasil kas) dan apakah jumlah
terpulihkan aset (unit penghasil kas)
merupakan nilai wajarnya dikurangi
biaya untuk menjual atau nilai
pakainya.; dan
• jika jumlah terpulihkan merupakan
nilai wajar dikurangi biaya pelepasan,
entitas mengungkapkan:
(i) tingkat hirarki nilai wajar sesuai
dengan PSAK 68: Pengukuran Nilai
Wajar;
(ii) teknik penilaian (level 2 dan 3);
dan
(iii) setiap asumsi utama yang
mendasari manajemen untuk
menentukan nilai wajar dikurangi
biaya pelepasan (level 2 dan 3).
Koreksi Editorial Menggunakan istilah ”harapan” dan Menggunakan istilah ”ekspektasi”
”yang diharapkan” dan ”ekspektasian”

5
Perbedaan Dengan IFRSs

PSAK 48 (2013): Penurunan Nilai Aset mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 36

Impairment of Assets per efektif 1 Januari 2014, kecuali:

1. IAS 36 paragraf 2 yang menjadi PSAK 48 paragraf 02 tentang ruang lingkup.

PSAK 48 tidak mengecualikan aset biolojik karena IAS 41 Agriculture belum

diadopsi.

2. IAS 36 paragraf 4(a) yang menjadi PSAK 48 paragraf 04(a) tentang ruang lingkup

yang mencakup entitas anak. PSAK 48 memberikan tambahan penjelasan entitas

anak yang dicatat dengan metode biaya dalam laporan keuangan tersendiri sesuai

dengan PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri.

3. IAS 36 paragraf 12(h) yang menjadi PSAK 48 paragraf 12(h) tentang sumber

informasi penurunan nilai atas entitas anak, entitas asosiasi, dan pengendalian

bersama entitas. PSAK 48 memberikan tambahan penjelasan entitas tersebut

dicatat dengan metode biaya dalam laporan keuangan tersendiri sesuai dengan

PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri.

4. IAS 36 paragraf 12(h)(i) tentang sumber informasi penurunan nilai dalam laporan

keuangan tersendiri tidak diadopsi. Hal ini terkait dengan perbedaan pengaturan

dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri dibandingkan IAS 27 Separate

Financial Statements.

5. IAS 36 paragraf 139 yang menjadi PSAK 48 paragraf 134 tentang tanggal efektif

karena tidak relevan.

6. IAS 36 paragraf 140 A–J tentang tanggal efektif dan ketentuan transisi tidak

diadopsi karena tidak relevan.

6
Ruang Lingkup

PSAK 48 berlaku untuk aset keuangan yang dikelompokkan sebagai investasi pada

entitas anak dan ventura bersama yang disajikan dengan metode biaya dalam laporan

keuangan tersendiri seperti yang dijelaskan dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri,

PSAK 15 : Mengenai ventura bersama dan entitas asosiasi.

Pernyataan ini berlaku untuk aset yang dicatat pada jumlah revaluasian (yaitu nilai

wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi biaya penyusutan selanjutnya dan

akumulasi rugi penurunan nilai selanjutnya) sesuai dengan PSAK lain, seperti model

revaluasi dalam PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 19: Aset Takberwujud. Satu-satunya

perbedaan antara nilai wajar aset dan nilai wajar dikurangi biaya pelepasan adalah biaya

tambahan langsung yang diatribusikan kepada pelepasan aset.

PSAK 48 berlaku terhadap semua asset kecuali persediaan (PSAK 14 : Persediaan),

asset yang timbul dari kontrak konstruksi (PSAK 34 :Akuntansi Pajak Pengahasilan), aset

yang timbul dari imbalan kerja (PSAK 24 :imbalan kerja), aset keuangan yang termasuk

dalam ruang lingkup PSAK 55 :Instrumen Keuangan; Pengakuan dan Penggukuran,

Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (PSAK 13: Properti Investasi), Biaya

Akuisisi tangguhan dan aset tidak berwujud, yang timbul dari hak kontraktual penanggung

berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 28 (Kontrak

Asuransi), dan Aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang diklasidikasikan dimiliki

untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki untuk Dijual dan

Operasi Dihentikan).

7
Tujuan

Tujuan PSAK 48 adalah untuk menetapkan prosedur-prosedur yang diterapkan entitas

agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya (impairment). Suatu aset dikatakan

melebihi jumlah terpulihkannya jika jumlah tercatat aset melebihi jumlah yang akan

dipulihkan melalui penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset

mengalami penurunan nilai dan mensyaratkan entitas mengakui rugi penurunan nilai.

Pernyataan ini juga menentukan kapan entitas membalik suatu rugi penurunan nilai dan

pengungkapan yang diperlukan.

Penurunan Nilai

Suatu aset mengalami penurunan nilai jika jumlah tercatatnya melebihi jumlah

terpulihkan. Pada setiap akhir periode pelaporan, suatu entitas harus menilai apakah

terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut,

entitas mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut.

Pendekatan umum Penurunan Nilai :

Jumlah Nilai Akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi


=
tercatat Aset penurunan nilai

a. Jumlah terpulihkan tinggi = Nilai wajar – biaya pelepasan ( pemulihan dengan penjualan)

b. Jumlah terpulihkan dengan nilai terendah dengan menggukan nilai pakai (dipulihkan
dengan yang terpakai)

8
Pendekatan Umum Penurunan Nilai

Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa aset mungkin mengalami penurunan

nilai, entitas harus mempertimbangkan, minimum, hal-hal berikut ini:

Sumber Eksternal :

 Terdapat indikasi yang dapat diobservasi bahwa nilai pasar aset telah turun

secara signifikan selama periode tersebut lebih dari yang diharapkan

sebagai akibat dari berjalannya waktu atau pemakaian normal.

 Perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup

hukum tempat entitas beroperasi atau di pasar tempat aset dikaryakan, yang

9
berdampak merugikan terhadap entitas, telah terjadi selama periode

tersebut, atau akan terjadi dalam waktu dekat.

 Suku bunga pasar atau tingkat imbalan pasar dari investasi telah meningkat

selama periode tersebut, dan kenaikan tersebut mungkin akan

mempengaruhi tingkat diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai

pakai aset dan menurunkan nilai terpulihkan aset secara material.

 Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.

Sumber Internal :

 Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aset.

 Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang

berdampak merugikan sehubungan dengan seberapa jauh, atau cara, suatu

aset digunakan atau diharapkan akan digunakan. Perubahan-perubahan ini

termasuk dalam hal aset menjadi tidak digunakan, rencana untuk

menghentikan atau restrukturisasi operasi yang di dalamnya suatu aset

digunakan, rencana untuk melepas aset sebelum tanggal yang diharapkan

sebelumnya, dan penilaian ulang masa manfaat aset dari tidak terbatas

menjadi terbatas.

 Terdapat bukti dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja

ekonomi aset lebih buruk, atau akan lebih buruk, dari yang diharapkan.

Dividen dari entitas anak, entitas asosiasi, danyang disajikan dalam laporan

keuangan tersendiri berdasarkan metode biaya.

10
 Untuk investasi pada entitas anak, pengendalian bersama entitas, atau

entitas asosiasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersendiri

berdasarkan metode biaya sesuai dengan PSAK 4: Laporan Keuangan

Tersendiri, investor mengakui dividen dari investasi tersebut dan terdapat

bukti bahwa: (i) jumlah tercatat investasi dalam laporan keuangan tersendiri

melebihi jumlah tercatat aset neto investee, termasuk goodwill yang terkait;

atau (ii) dividen melebihi total laba rugi komprehensif entitas anak, ventura

bersama, atau entitas asosiasi pada periode dividen diumumkan.

Pengukuran Jumlah Terpulihkan

A. Nilai Wajar – Biaya Pelepasan

 Bukti terbaik dimana harga dalam suatu perjanjian penjualan yang mengikat

yang dibuat dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang independen,

disesuaikan dengan biaya tambahan yang dikaitkan secara langsung dengan

pelepasan aset.

 Apabila tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat namun aset

diperdagangkan di pasar aktif, diperhitungan berdasarkan harga pasar aset

dikurangi biaya pelepasan aset tersebut

 Apabila tidak terdapat penjualan yang mengikat dan tidak ada pasar aktif

untuk aset, dapat dihitung berdasarkan pada informasi terbaik yang ada

untuk menggambarkan jumlah yang dapat diperoleh entitas, pada akhir

periode pelaporan, dari pelepasan aset pada nilai wajar dikurangi biaya

pelepasan.

11
B. Nilai Pakai

Elemen-elemen berikut harus diperhitungkan dalam penghitungan nilai pakai aset:

a) estimasi arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh dari

aset;

b) ekspektasi mengenai kemungkinan variasi dari jumlah atau waktu arus kas

masa depan tersebut;

c) nilai waktu uang, diwakili oleh suku bunga pasar bebas risiko yang berlaku;

d) harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat pada aset; dan

e) faktor-faktor lain, seperti ilikuiditas, yang akan dipertimbangkan oleh

pelaku pasar dalam menilai arus kas masa depan yang diharapkan entitas

akan diperoleh dari aset tersebut.

Pengestimasian nilai pakai suatu aset meliputi langkahlangkah berikut:

a) mengestimasi arus kas masuk dan arus kas keluar di masa depan dari

pemakaian aset tersebut dan pelepasannya pada akhirnya;

b) menerapkan tingkat diskonto yang tepat atas arus kas masa depan tersebut.

Arus Kas

Hambatan proyeksi arus kas :

1. Didasarkan pada asumsi masuk akal dan didukung oleh fakta dan teori.

2. Didasarkan pada anggaran keuangan yang terbaru dan telah disahkan oleh

manajemen.

12
3. Tidak memasukkan komponen aruskas masa depan yang berasal dari

restrukturisasi.

4. Pendasaran kepada anggaran hanya meliputi periode 5 tahun, kecuali juka

periode yang lebih dijustifikasi.

5. Periode setelah anggaran hanya dapat menggunakan tingkat yang tetap atau

menurun, kecuali tingkat yang naik dapat dijustifikasi.

6. Tingkat pertumbhan yang digunakan dalam proyeksi ekstrapolasi tidak

dapat melebihi rata – rata jangka panjang pertumbuhan untuk produk,

industry atau negara tempat entitas beroperasi atau pasar dimana aset

digunakan, kecuali jika tingkat yang lebih tinggi dapat dijustifikasi

Estimasi arus kas neto diterima (atau dibayarkan) dari pelepasan aset pada akhir

umur manfaat ditentukan dengan cara yang serupa dengan penentuan nilai wajar aset

dikurangi biaya pelepasan, kecuali dalam mengestimasi arus kas neto tersebut:

a) entitas menggunakan harga yang berlaku pada tanggal estimasi untuk aset serupa

yang telah habis umur manfaatnya dan telah beroperasi dalam kondisi serupa

dengan aset yang akan digunakan.

b) entitas menyesuaikan harga tersebut atas dampak kenaikan harga masa depan

akibat inflasi umum maupun kenaikan atau penurunan harga spesifik. Namun

demikian, jika estimasi arus kas masa depan dari penggunaan aset dan tingkat

diskonto mengecualikan dampak inflasi umum, maka entitas juga mengecualikan

dampak tersebut dalam estimasi arus kas neto pelepasan aset.

13
Komposisi Estimasi Arus Kas Masa Depan. Estimasi arus kas di masa depan meliputi:

a) proyeksi arus kas masuk dari penggunaan aset;

b) proyeksi arus kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan arus kas masuk

dari penggunaan aset (termasuk arus kas keluar untuk menyiapkan aset agar

dapat digunakan) dan dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan

dengan dasar yang layak dan konsisten, pada aset; dan

c) arus kas neto, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk pelepasan

aset pada akhir masa manfaatnya.

Estimasi arus kas masa depan tidak termasuk:

a) arus kas masuk atau keluar dari aktivitas pendanaan; dan

b) penerimaan atau pembayaran pajak penghasilan.

Arus Kas Masa Depan Valuta Asing

Arus kas masa depan diestimasi dalam satuan mata uang ketika akan dihasilkan dan

kemudian didiskonto menggunakan suatu tingkat diskonto yang tepat untuk satuan

mata uang tersebut. Tingkat pertukaran yang digunakan = kurs spot pada tanggal

penghitungan nilai pakai.

Nilai wajar berbeda dengan nilai pakai. Nilai wajar mencerminkan asumsi yang

digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset. Sebaliknya, nilai pakai

mencerminkan dampak dari faktor-faktor yang mungkin spesifik untuk entitas dan

tidak dapat diterapkan untuk entitas secara umum. Sebagai contoh, nilai wajar tidak

mencerminkan faktor-faktor berikut ini sejauh bahwa faktor tersebut tidak dapat

tersedia secara umum untuk pelaku pasar:

14
a) nilai tambah yang diperoleh dari pengelompokan aset (seperti pembentukan

portofolio properti investasi di lokasi yang berbeda);

b) sinergi antara aset yang diukur dan aset lainnya;

c) hak hukum atau pembatasan hukum yang spesifik hanya untuk pemilik aset saat

ini;

d) manfaat pajak atau beban pajak yang spesifik untuk pemilik aset saat ini.

Tingkat Diskonto

Tingkat diskonto ditetapkan atas dasar tingkat diskonto sebelum pajak yang

menggambarkan penilaian pasar kini dari:

(a) nilai waktu uang; dan

(b) risiko spesifi k atas aset dimana estimasi arus kas masa depan belum disesuaikan.

Tingkat diskon ini adalah tingkat pengembalian yang disyaratkan investor jika

seandainya mereka hendak memilih suatu investasi yang mehasilkan aruskas dengan

jumlah, waktu dan profil risiko yang sama dengan yang entitas harapkan akan dihasilkan

dari aset tersebut.

Tingkat diskonto ini diestimasi dari tingkat diskonto implisit pada transaksi pasar

kini terhadap aset sejenis atau dari rata-rata tertimbang biaya modal entitas yang tercatat

di bursa efek yang memiliki aset tunggal (atau suatu portfolio aset) sejenis dalam kaitannya

dengan jasa potensial dan risiko aset yang ditelaah.

15
Pengukuran Penurunan Nilai

Jika, dan hanya jika, nilai terpulihkan aset lebih kecil dari nilai tercatatnya, nilai tecatat

aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkan. Penurunan tersebut adalah rugi

penurunan nilai.

Rugi penurunan nilai segera diakui dalam laporan laba rugi, kecuali aset disajikan pada

jumlah direvaluasi sesuai dengan Pernyataan lain (contoh, sesuai dengan model revaluasi

pada PSAK 16). Setiap rugi penurunan nilai asset revaluasian diperlakukan sebagai

penurunan revaluasi sesuai dengan Pernyataan lain.

Rugi penurunan nilai aset yang tidak direvaluasi diakui dalam laporan laba rugi. Namun

demikian, kerugian penurunan nilai atas aset revaluasian diakui dalam pendapatan

komprehensif lain, sepanjang kerugian penurunan nilai tidak melebihi jumlah surplus

revaluasi untuk aset yang sama. Rugi penurunan nilai atas aset revaluasian mengurangi

surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Contoh: Misalkan PT Anggrek melakukan uji penurunan nilai terhadap pabrik yang

dimilikinya. Nilai tercatat dari pabrik sebesar Rp 400 juta, nilai wajar dikurangi biaya

untuk menjual Rp360 juta dan nilai pakainyaRp 410 juta.

Rp. 400jt Rp. 410jt

Tidak ada penurunan nilai

Rp. 360jt Rp. 410jt

16
Contoh: Misalkan infromasi PT Mawar yang tersedia sama kecuali nilai pakai dari

peralatan sebesar Rp 350 juta.


Rp 40 juta Rugi Penurunan Nilai

Rp. 400jt Rp. 360jt

Rp. 360jt Rp. 350jt

Dr. Kerugian Penurunan Nilai Rp 40 juta

Cr. Akulumasi penurunan nilai Rp 40 juta

Ketika jumlah estimasi rugi penurunan nilai lebih besar dari nilai tercatat aset yang

terkait, entitas mengakui laibilitas jika, dan hanya jika, hal ini disyaratkan oleh Pernyataan

lain.

Unit Penghasil Kas

Jumlah terpulihkan dari suatu aset individual tidak dapat ditentukan jika:

a) nilai pakai aset tidak dapat diestimasi mendekati nilai wajarnya dikurangi

biaya penjualan (contoh, apabila arus kas masa depan dari penggunaan aset

tidak dapat diestimasi menjadi tak berarti); dan

17
b) aset tidak menghasilkan arus kas masuk yang independent dari kelompok

aset lain.

Dalam kasus ini, nilai pakai dan, jumlah terpulihkan, dapat ditentukan hanya

untuk unit penghasil kas aset.

Contoh

Suatu entitas pertambangan memiliki jalur kereta api pribadi untuk mendukung
aktivitas pertambangannya. Jalur kereta api pribadi dapat dijual hanya untuk
nilai sisanya dan itu tidak menghasilkan arus kas masuk yang independen dari
arus kas masuk dari aset lain pertambangan itu.

Tidak dimungkinkan mengestimasi jumlah terpulihkan dari jalur kereta pribadi


itu karena nilai pakainya tidak dapat ditentukan dan kemungkinan berbeda dari
nilai sisanya. Oleh karena itu, entitas mengestimasi jumlah terpulihkan dari
unit penghasil kas dimana jalur kereta pribadi tersebut tercakup, yaitu
pertambangan itu secara keseluruhan.

Jika terdapat indikasi bahwa suatu aset turun nilainya, jumlah terpulihkan

diestimasi untuk aset individual. Jika tidak mungkin untuk mengestimasi jumlah

terpulihkan aset individual, entitas menentukan nilai terpulihkan dari unit penghasil

kas yang mana aset tercakup (aset dari unit penghasil kas).

Jumlah tercatat unit penghasil kas ditentukan atas dasar yang konsisten dengan

cara menetapkan jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas.

18
Jumlah tercatat dari unit penghasil kas:

a) mencakup hanya jumlah tercatat dari aset-aset yang dapat diatribusikan

langsung, atau dialoksikan dengan dasar yang layak dan konsisten, ke unit

penghasil kas dan akan menghasilkan arus kas masuk yang digunakan dalam

menentukan nilai pakai unit penghasil kas; dan

b) tidak mencakup jumlah tercatat dari setiap laibilitas yang diakui, kecuali

jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas tidak dapat ditentukan tanpa

mempertimbangkan laibilitas tersebut.

Alokasi Goodwill untuk Unit Penghasil Kas

Untuk tujuan uji penurunan nilai, goodwill yang diperolah dalam suatu kombinasi

bisnis harus, sejak tanggal akuisisi, dialokasikan pada setiap unit penghasil kas pihak

pengakuisisi, (atau kelompok unit penghasil kas) yang diharapkan memberikan manfaat

dari sinergi kombinasi, terlepas dari apakah aset atau laibilitas lain dari pihak yang

diakuisisi yang ditetapkan ke unit-unit atau kelompok unit-unit tersebut. Setiap unit atau

kelompok unit yang memperoleh alokasi goodwill harus:

(a) merupakan tingkat terendah dalam entitas yang goodwillnya dimonitor untuk tujuan

manajemen internal; dan

(b) tidak lebih besar dari suatu segmen operasi yang ditentukan sesuai dengan PSAK 5:

Segmen Operasi.

Goodwill yang diakui dalam kombinasi bisnis adalah aset yang mewakili manfaat

ekonomi masa depan yang timbul dari aset lain yang diperoleh dalam kombinasi bisnis

yang tidak terdentifi kasi secara individual dan diakui secara terpisah.

19
Unit penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill harus diuji

penurunan nilai secara tahunan, dan setiap kali apabila terdapat indikasi bahwa unit

tersebut mengalami penurunan nilai, dengan membandingkan jumlah tercatat unit

tersebut (termasuk goodwill) dengan jumlah terpulihkannya. Jika jumlah

terpulihkan tersebut melebihi jumlah tercatatnya, unit dan goodwill yang

dialokasikan ke unit tersebut harus dianggap tidak mengalami penurunan nilai. Jika

jumlah tercatat unit melebihi jumlah terpulihkan, entitas harus mengakui rugi

penurunan nilai

Aset Korporat

Karakteristik khusus aset korporat adalah bahwa aset korporat tidak

menghasilkan arus kas masuk secara independen dari aset atau kelompok aset lain

dan jumlah tercatatnya tidak dapat sepenuhnya diatribusikan ke unit penghasil kas

yang sedang ditelaah.

Rugi Penurunan Nilai untuk Unit Penghasil Kas

Rugi penurunan nilai diakui untuk unit penghasil kas (kelompok terkecil dari unit

penghasil kas yang telah memperoleh alokasi goodwill atau aset korporat) jika, dan hanya

jika, jumlah terpulihkan dari unit tersebut (kelompok dari unit) lebih kecil dari jumlah

tercatatnya. Rugi penurunan nilai dialokasikan untuk mengurangi jumlah tercatat aset dari

unit tersebut (kelompok dari unit) dengan urutan sebagai berikut:

(a) pertama, untuk mengurangi jumlah tercatat atas setiap goodwill yang dialokasikan ke

unit penghasil kas tersebut (kelompok dari unit); dan

20
(b) selanjutnya, ke aset lain dari unit tersebut (kelompok dari unit) dibagi pro rata atas dasar

jumlah tercatat setiap aset di dalam unit tersebut (kelompok dari unit).

Pengurangan-pengurangan dalam jumlah tercatat diperlakukan sebagai rugi

penurunan nilai atas asset individual dan diakui.

Dalam mengalokasikan rugi penurunan nilai sesuai paragraf 99, entitas tidak harus

mengurangi jumlah tercatat aset dengan jumlah yang tertinggi dari:

(a) nilai wajarnya dikurangi biaya pelepasan (jika ditentukan);

(b) nilai pakainya (jika dapat diukur); dan

(c) nol.

Jumlah rugi penurunan nilai yang semestinya dialokasikan ke aset tersebut menjadi

harus dialokasikan pro rata ke asset lain dari unit (kelompok dari unit).

Pembalikan Suatu Rugi Penurunan Nilai

Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah

diakui pada periode-periode sebelumnya untuk aset (selain goodwill) mungkin tidak ada

lagi atau mungkin telah menurun, entitas mempertimbangkan, minimal, indikasi berikut

ini:

Informasi yang bersumber dari luar

(a) Terdapat Indikasi yang bias diobservasi bahwa nilai wajar aset telah meningkat

secara signifi kan selama periode tersebut.

21
(b) perubahan signifi kan dengan dampak menguntungkanuntuk entitas telah terjadi

selama periode tersebut, atau akan terjadi dalam waktu dekat, dalam hal teknologi, pasar,

kondisi ekonomi maupun legal tempat entitas beroperasi atau di pasar tempat aset itu

didedikasikan.

(c) suku bunga pasar atau tingkat pengembalian investasi pasar yang lain telah turun

selama periode itu, dan penurunan itu sepertinya akan mempengaruhi tingkat diskonto

yang digunakan dalam menghitung nilai pakai aset sehingga meningkatkan jumlah

terpulihkan secara material.

Informasi yang bersumber dari dalam

(d) perubahan signifi kan dengan dampak menguntungkan bagi entitas telah terjadi

selama periode tersebut, atau diharapkan akan terjadi dalam waktu dekat, seberapa jauh

dan cara, aset tersebut digunakan atau diharapkan untuk digunakan. Perubahan ini

termasuk biaya-biaya yang timbul selama periode tersebut untuk memperbaiki atau

meningkatkan kinerja aset atau merestrukturisasioperasi di tempat aset tersebut tercakup

(e) bukti tersedia dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja

ekonomi aset lebih baik atau akan lebih baik dari yang diharapkan.

Rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode-periode sebelumnya untuk

aset selain goodwill harus dibalik jika, dan hanya jika, terdapat perubahan estimasi yang

digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan atas aset tersebut sejak rugi penurunan

nilai terakhir diakui. Jika kasusnya seperti ini, jumlah tercatat aset, kecuali seperti

digambarkan pada paragraf 112, dinaikkan ke jumlah terpulihkannya. Kenaikan ini

merupakan suatu pembalikan rugi penurunan nilai.

22
Jumlah tercatat aset yang meningkat (selain goodwill), yang disebabkan

pembalikan rugi penurunan nilai, tidak boleh melebihi jumlah tercatat (neto setelah

amortisasi atau depresiasi) seandainya aset tidak mengalami rugi penurunan nilai di tahun-

tahun sebelumnya.

Pembalikan rugi penurunan nilai untuk asset (selain goodwill) diakui segera dalam

laba rugi, kecuali asset disajikan pada jumlah direvaluasi sesuai dengan Pernyataan lain

(contohnya, model revaluasi di PSAK 16). Setiap pemulihan rugi penurunan nilai aset

revaluasian harus diperlakukan sebagai kenaikan penilaian kembali sesuai dengan PSAK

terkait.

Setelah pembalikan rugi penurunan nilai diakui, depresiasi (amortisasi) yang

dibebankan ke aset tersebut harus disesuaikan di periode mendatang untuk mengalokasikan

jumlah tercatat aset yang direvisi, dikurangi nilai sisanya (jika ada), dengan dasar yang

sistematik selama sisa masa manfaatnya.

Pembalikan rugi penurunan nilai untuk suatu unit penghasil kas dialokasikan

kepada aset-aset dari unit (kecuali untuk goodwill) pro rata dengan jumlah tercatat dari

asset asetnya. Peningkatan dalam jumlah tercatat ini diperlakukan sebagai pembalikan rugi

penurunan nilai untuk asset individual dan diakui sesuai dengan paragraf 114.

Dalam mengalokasikan pembalikan rugi penurunan nilai untuk unit penghasil kas

sesuai dengan paragraf 117, jumlah tercatat aset tidak boleh dinaikkan diatas nilai yang

terendah dari:

23
(a) jumlah terpulihkan (jika ditentukan); dan

(b) jumlah tercatat yang telah ditentukan (amortisasi atau depresiasi neto)

seandainya tidak ada rugi penurunan nilai yang telah diakui untuk aset tersebut dalam

periode sebelumnya.

Jumlah pemulihan rugi penurunan nilai yang sebaliknya telah dialokasikan untuk

aset tersebut harus dialokasikan pro rata ke aset lain dari unit itu, kecuali untuk goodwill.

Rugi penurunan nilai yang diakui untuk goodwill tidak dapat dibalik pada periode

berikutnya.

Pengungkapan

Untuk setiap kelompok aset, entitas mengungkapkan hal berikut ini:

(a) Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode

tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi

penurunan nilai.

(b) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi

selama periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya

tercakup rugi penurunan nilai yang dibalik

(c) jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan

laba rugi komprehensif lainnya selama periode itu.

Entitas yang melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5

mengungkapkan hal-hal berikut ini untuk setiap segmen:

24
(a) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi dan dalam

laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode.

(b) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi

dan dalam laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode.

Entitas mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap rugi penurunan nilai material

yang diakui atau dibalik selama periode tertentu untuk suatu aset individual, termasuk

goodwill, atau suatu unit penghasil kas:

(a) peristiwa dan kondisi yang mengarah pada pengakuan atau pembalikan rugi

penurunan nilai.

(b) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui atau dibalik.

(c) untuk aset individual:

(i) sifat dari aset; dan

(ii) jika entitas melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5,

segmen terlaporkan yang mencakup aset tersebut.

(d) untuk unit penghasil kas;

(i) deskripsi unit penghasil kas (seperti apakah unit penghasil kas

merupakan suatu lini produksi, suatu pabrik, suatu operasi bisnis, suatu wilayah

geografi , atau suatu segmen yang dapat dilaporkan seperti dijelaskan dalam PSAK

5);

25
(ii) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui atau dibalik oleh kelompok aset

dan, jika entitas melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5, disajikan

berdasarkan segmen terlaporkan; dan

(iii) jika agregasi dari aset untuk mengindentifikasi unit penghasil kas telah

berubah sejak estimasi sebelumnya dari jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas

(jika ada), suatu uraian dari cara agregasi aset saat ini dan sebelumnya serta

alasan perubahan cara unit penghasil kas diidentifikasi.

(e) apakah jumlah terpulihkan aset (unit penghasil kas) adalah nilai wajarnya

dikurangi biaya untuk menjual atau nilai pakainya.

(f) jika jumlah terpulihkan adalah nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual,

dasar yang digunakan untuk menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (seperti

apakah nilai wajar ditentukan dengan mengacu kepada suatu pasar aktif).

(g) jika jumlah terpulihkan adalah nilai pakai, tingkat diskonto yang digunakan

pada estimasi saat ini dan estimasi sebelumnya (jika ada) dari nilai pakai.

Entitas mengungkapkan informasi berikut untuk rugi penurunan nilai agregat dan

pembalikan rugi penurunan nilai agregat yang diakui selama periode tertentu dalam hal

tidak diungkapkannya informasi sesuai paragraf 125:

(a) kelompok utama aset yang mengalami rugi penurunan nilai dan kelompok

utama aset yang mengalami pemulihan rugi penurunan nilai.

(b) peristiwa dan keadaan utama yang menyebabkan pengakuan rugi penurunan

nilai dan pemulihan rugi penurunan nilai tersebut.

26
2.2 Implementasi Penerapan PSAK 48

Pada penelitian yang dilakukan oleh Endang Giani Handianti Danga dan Jenny pada jurnal

yang dirilis 1 Maret 2016 dengan judul “Analisis Penerapan PSAK 48 (2015) Penurunan Nilai

Aset Tetap pada PT. Bank Mandiri (Persero)” menunjukkan bahwa PT. Bank Mandiri

(Persero) sudah menerapkan PSAK 48 (2015).

Sesuai dengan PSAK 48 (2015) tentang “Penurunan Nilai” mensyaratkan bahwa nilai tercatat

aset tetap dikaji ulang setiap tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian untuk menilai

apakah aset tetap tersebut nilai tercatatnya lebih tinggi dari jumlah yang dapat diperoleh

kembali (recoverable amount) dari aset tetap tersebut. Jika nilai tercatat aset tetap melebihi

taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset tetap tersebut, nilai tercatat aset tetap

harus diturunkan menjadi nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset tetap tersebut.

Penggolongan Aset Tetap pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk

Penyusutan dan amortisasi dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama umur

manfaat ekonomis aset tetap dan aset tidak berwujud yang diestimasi sebagai berikut:

1. Bangunan (20 Tahun) 2. Perlengkapan, peralatan, komputer, dan kendaraan bermotor (4-5

Tahun) 3. Perangkat lunak (5 Tahun)

Indikasi Penurunan Nilai

Suatu aset dikatakan mengalami penurunan nilai jika jumlah tercatatnya melebihi jumlah

terpulihkan. Bank Mandiri dan entitas anak mengevaluasi penurunan nilai aset non-keuangan

apabila terdapat kejadian atau perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat

aset non-keuangan tidak dapat dipulihkan kembali. Manajemen berpendapat tidak terdapat

27
indikasi penurunan nilai atas aset tetap yang dimiliki Bank Mandiri pada tanggal 31 Desember

2015 dan 2014.

Pengakuan dan Pengukuran Jumlah Terpulihkan Rugi Penurunan Nilai

Untuk tahun 2015 dan 2014 entitas tidak mengungkapkan secara rinci jumlah aset-aset tetap

yang diestimasi untuk menghasilkan jumlah terpulihkan. Bank Mandiri dan entitas anak

mengevaluasi penurunan nilai aset non-keuangan apabila terdapat kejadian atau perubahan

keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat aset non-keuangan tidak dapat dipulihkan

kembali.

Manajemen Bank dan Entitas Anak mengakui kerugian penurunan nilai apabila nilai tercatat

aset melebihi nilai yang dapat dipulihkan. Jumlah terpulihkan adalah nilai yang lebih tinggi

antara nilai wajar dikurangi biaya pelepasan dengan nilai pakai aset (atau unit penghasil kas).

Jumlah terpulihkan diestimasi untuk aset individual atau, jika tidak memungkinkan untuk unit

penhasil kas yang mana aset tersebut merupakan bagian daripada unit tersebut.

Neraca tahun 2014 dan 2015 pada PT. Bank Mandiri (persero) Tbk yang mengalami penurunan

nilai aset dari tahun 2014 ke tahun 2015 adalah kendaraan bermotor sebesar Rp.

22.003.000.000 atau sekitar -21,96% dimana pada tahun 2014 berjumlah Rp. 122.194.000.000

kemudian pada tahun 2015 turun menjadi Rp. 100.191.000.000.

28
BAB III

KESIMPULAN

29