Anda di halaman 1dari 31
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA DAFTARDAFTARDAFTARDAFTAR ISIISIISIISI LATAR BELAKANG 3
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
DAFTARDAFTARDAFTARDAFTAR ISIISIISIISI
LATAR BELAKANG
3
PERKENALAN
16
TUJUAN
11
MATERI 1
18
PESERTA
11
MENONTON FILM
20
MATERI
12
MATERI 2
22
ALOKASI WAKTU
12
MATERI 3
24
METODE
12
PERMAINAN
26
MEDIA
12
MATERI 4
28
EVALUASI
12
MATERI 5
30
JADWAL
14
SILABUS
15
2 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA LATARLATARLATARLATAR BELAKANGBELAKANGBELAKANGBELAKANG Kongres
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
LATARLATARLATARLATAR BELAKANGBELAKANGBELAKANGBELAKANG
Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-IX di Bukittinggi
pada 27-29 November lalu, membawa perubahan penting dalam
jurnalisme di Indonesia. Dalam kongres itu AJI memutuskan
menerima jurnalis warga (citizen journalist) sebagai anggota.
Sebelumnya, keanggotaa AJI hanya terbatas pada jurnalis yang
bekerja pada media arus utama.
Penerimaan jurnalis warga sebagai anggota AJI tertuang dalam
Pasal 1 Anggaran Rumah Tangga AJI. Pembahasan jurnalis warga
ini cukup alot dan memakan waktu paling lama, baik di sidang
komisi maupun saat dibawa ke sidang pleno kongres. Perdebatan
dinamis mengemuka, mulai menyoal aspek kredibilitas, kualitas
berita hingga perlindungan hukum bagi jurnalis warga.
Posisi jurnalisme warga memang belum terlindungi oleh UU No 40
Tahun 1999 tentang Pers. Undang-undang yang menjadi tolak ukur
kebebasan pers Indonesia itu hanya mengatur mengenai pers yang
berbadan hukum. Sementara kenyataannya, AJI tak bisa
menafikkan kehadiran jurnalis warga yang bertumbuhan dalam 15
tahun terakhir.
Perkembangan Jurnalisme warga
Jurnalisme warga berarti warga yang aktif mengumpulkan
informasi, memverifikasi, menulis dan kemudian
menyebarluaskannya baik melalui personal blog, portal jurnalisme
2 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA warga, media komunitas maupun ke media mainstream yang
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
warga, media komunitas maupun ke media mainstream yang
menyediakan kanal khusus bagi jurnalis warga.
Sejatinya, jurnalisme warga bukan barang baru di Indonesia. Radio
telah memulainya jauh sebelum internet banyak diakses
masyarakat. Olivia Lewi Pramesti (2013) menyebutkan, praktik
jurnalisme warga berawal dari Radio Sonora Jakarta saat
kerusuhan Mei 1998. Para pendengar melaporkan apa yang dilihat
dan dialami ke radio tersebut. Sementara penelitian Moch. Nunung
Kurniawan (2007) menunjukkan bahwa Radio Elshinta sejak tahun
2000, telah mempelopori jurnalisme warga dengan jumlah reporter
hingga 100.000 orang. Keberhasilan Elshinta ini mengalahkan
situs jurnalisme warga pertama di Korea Selatan, Ohmynews yang
memiliki 40.000 reporter.
Kehadiran internet memang makin menyuburkan jurnalisme
warga. Global Web Index, sebuah perusahaan riset yang meneliti
pasar komsumen digital, merilis bahwa pengguna internet di
Indonesia telah mencapai 58 juta orang, dan merupakan terbanyak
ke tujuh di dunia. Menurut Yanuar Nugroho dan Sofie Shinta
Syarief (2012), kemajuan teknologi internet dan media sosial telah
mengubah wajah media secara fundamental, dari komunikasi satu
arah (yang hanya menyampaikan berita dan informasi) menjadi
interaksi dua arah (dimana pengguna dapat berinteraksi dengan
penyedia informasi atau antara pengguna).
Wisnu Martha Adiputra (2012), menjelaskan, cikal bakal
jurnalisme warga di internet yakni ‘APA KABAR’ yang dimoderasi
3 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA seorang asal Maryland MC Douglas pada awal gerakan
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
seorang asal Maryland MC Douglas pada awal gerakan reformasi.
‘APA KABAR’ beredar dalam berbagai bentuk seperti original and
relay mailing list, local newspaper and list dan sebagainya yang
memungkinkan masyarakat menyampaikan aspirasi dan bertukar
pendapat. Selain APA KABAR, website yang disebut-sebut sebagai
awal perkembangan jurnalisme warga adalah rumahkiri.net (2005),
wikimu.com (2006), kabarindonesia.com (2006) dan kilasan.com
(2006).
Melihat trend jurnalisme warga ini, media arus utama pun akhirnya
menyediakan kanal khusus. Seperti kompasiana.com milik portal
kompas.com, citizen6 milik liputan6.com, NET 10 yang
ditayangkan NET TV, dan Wideshot yang disediakan Metro TV.
Kanal-kanal jurnalisme warga itu tak hanya mendongkrak jumlah
kunjungan atau jumlah penonton di media tersebut. Media arus
utama juga diuntungkan karena mendapatkan berita yang tak
terjangkau oleh jurnalisnya.
Kehadiran jurnalisme warga menjadi antitesa atas ketidakpuasan
publik terhadap pemberitaan media arus utama. Sebab media arus
utama dibangun oleh sebuah struktur, bermodal besar, dan
berkepentingan komersial serta politik yang hanya menempatkan
warga sebagai konsumen atau obyek berita.
Secara historis, semangat kebebasan pers yang mendorong lahirnya
jurnalisme warga tersebut menjadi marwah AJI. Organisasi yang
berdiri tahun 1994 ini juga lahir dari semangat melawan
otoritarianisme Orde Baru yang memberangus kemerdekaan pers.
4 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA AJI kemudian menerbitkan media alternatif Independen yang tak
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
AJI kemudian menerbitkan media alternatif Independen yang tak
berbadan hukum, bermodal kecil dan digerakkan oleh jurnalis-
jurnalis tak berbayar.
Setelah Reformasi, tantangan kebebasan pers tidak lagi rezim
otoriter melainkan liberalisasi media yang nyatanya memunculkan
konsentrasi kepemilikan media. Penelitian CIPG-HIVOS (dikutip
Kristiawan, 2013:141), menyebutkan, konglomerasi media pada
2012 di Indonesia ternyata hanya dimiliki oleh 12 orang/kelompok.
Di antaranya yang terbesar yakni Hary Tanoesoedibjo melalui MNC
Group memiliki 20 TV, 22 radio, 7 media cetak dan 1 portal. Jawa
Pos Group yang dimiliki Dahlan Iskan telah mendirikan 20 TV, 177
media cetak dan 1 portal. Konglomerat media lainnya yakni Jacob
Oetama melalui Kelompok Kompas Gramedia, Bakrie & Brothers
(Visi Media Asia), dan Surya Paloh (Media Group).
Konsentrasi kepemilikan media tersebut tidak hanya berbahaya
bagi masa depan media, tetapi juga berpengaruh pada konten
pemberitaan. Pemilu 2014 menjadi contoh aktual bagaimana
kepentingan publik banyak terabaikan pada pemberitaan media
yang pemiliknya berafiliasi dengan partai politik. Sebut saja, Hary
Tanoe pemilik MNC Group yang sebelumnya menjadi pimpinan
Partai Hanura, Surya Paloh di Nasional Demokrat dan Aburizal
Bakrie yang menjadi Ketua Umum Partai Golkar.
Kristiawan dalam bukunya Penumpang Gelap Demokrasi (2012),
mengatakan, bertemunya kapital ekonomi dan kapital politik dalam
bisnis media menjadikan media massa rentan menjadi instrumen
5 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA dan kepentingan politik pemiliknya. Media massa rentan
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
dan kepentingan politik pemiliknya. Media massa rentan diperalat
untuk memperkuat citra politik pemiliknya atau merusak citra
politik lawan politiknya.
Padahal menurut Amir Effendi Siregar (2014), jaminan terhadap
freedom of expression, freedom of speech dan freedom of the press
adalah keharusan dalam dunia media. Namun, itu saja tidak cukup.
Perlu adanya jaminan terhadap diversity of content, diversity of
voice, diversity of ownership. Tanpa jaminan tambahan itu, akan
lahir penguasaan serta monopoli media dan informasi atas nama
freedom yang akhirnya akan membunuh proses demokratisasi
media.
Sependapat dengan Yanuar Nugroho dan Sofie Shinta Syarief
(2012) bahwa jurnalisme warga dapat dianggap sebagai keinginan
masyarakat untuk mengumpulkan informasi yang lebih beragam,
dengan sudut pandang yang lebih luas. Fenomena ini membuat
masyarakat Indonesia percaya bahwa orang biasa punya kekuatan
untuk menyebarkan informasi dan untuk membagi cerita dengan
sudut pandang mereka (2012:47).
Dengan demikian
penulis
yakin,
langkah
AJI
mendorong
jurnalisme
warga
ini
adalah
salah
satu
perjuangan
untuk
menegakkan demokratisasi media di Indonesia.
Mendorong jurnalisme warga yang beretika
Kecanggihan teknologi internet memang membuat siapa pun bisa
menjadi jurnalis warga. Dampaknya, informasi yang disampaikan
6 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA bisa benar atau salah. Untuk menyaring banyaknya jurnalis
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
bisa benar atau salah. Untuk menyaring banyaknya jurnalis warga
tersebut, AJI menetapkan syarat khusus pada jurnalis warga yang
akan menjadi anggota AJI.
Sesuai Pasal 2 Anggaran Rumah Tangga AJI disebutkan bahwa
jurnalis warga harus menyertakan 12 karya jurnalistiknya yang
telah dipublikasikan selama setahun terakhir. Syarat umumnya
antara lain:tidak bekerja dan melakukan kegiatan yang
bertentangan dengan AD/ART serta Kode Etik AJI; harus
mendapatkan rekomendasi dari tiga anggota AJI; serta bukan
anggota partai politik.
Verifikasi atas jurnalis warga yang dianggap layak atau tidak
menjadi anggota AJI diserahkan kepada 37 AJI kota. Sebab, AJI
kota yang paling mengerti kondisi jurnalis warga di daerahnya.
Kongres Bukittinggi juga memperkuat peran Majelis Etik untuk
memberikan sanksi kepada anggotanya, termasuk jurnalis warga
yang terbukti melakukan pelanggaran.
Konsekuensi atas pilihan membuka ruang bagi jurnalisme warga ini
adalah AJI harus ikut mendorong lahirnya jurnalis warga yang
beretika. Karena, jurnalisme warga muncul dari warga biasa yang
tidak mendapat keterampilan jurnalistik sebagaimana halnya
jurnalis pada media arus utama. Kelemahan jurnalisme warga
biasanya terletak pada kemampuannya melakukan verifikasi
terhadap informasi yang diperolehnya.
Apalagi belum ada undang-undang yang melindungi jurnalis warga.
Sehingga, jurnalis warga akan lebih mudah terjerat UU No 11
7 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bahkan,
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bahkan,
media-media arus utama yang menyediakan kanal jurnalisme
warga pun tak mau bertanggungjawab apabila terjadi gugatan
terhadap pemberitaan jurnalis warga. Ini artinya, resiko
kriminalisasi terhadap jurnalis warga jauh lebih besar
dibandingkan jurnalis pada media arus utama.
Untuk mencetak jurnalis warga yang kapabel dan meminimalkan
resiko hukum, bisa dilakukan dengan memperbanyak pelatihan
jurnalistik dan sosialisasi Kode Etik Jurnalistik. Jalan tengah ini
membuat jurnalis warga tidak menyajikan berita bohong,
bermuatan SARA atau bermuatan pornografi. Sebaliknya, Kode
Etik Jurnalistik mendorong jurnalis warga membuat berita yang
berimbang, tidak subyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berlebihan bila ada yang khawatir apabila kebangkitan jurnalis
warga ini pada akhirnya akan menggeser peran jurnalis pada media
arus utama. Sebaliknya, penulis berkeyakinan bahwa jurnalis warga
dan jurnalis media arus utama bisa saling berkolaborasi. Jurnalis
warga bisa menjadi garda penyedia informasi pertama. Sementara
jurnalis media arus utama bergerak membuat liputan pendalaman
dan investigasi.
Jurnalisme warga desa
Perkembangan jurnalisme warga meluas hingga ke komunitas-
komunitas di desa, bersamaan dengan momentum lahirnya UU No
6 Tahun 2014 tentang Desa. UU tersebut memberikan otonomi
yang luas bagi desa untuk menyejahterakan warganya. Untuk
8 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA mencapai kesejahteraan ini, maka desa dituntut untuk
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
mencapai kesejahteraan ini, maka desa dituntut untuk transparan
dan melibatkan publik mulai perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi program pembangunannya.
Salah satu aspek transparansi ini, desa wajib memiliki Sistem
Informasi Desa berbentuk digital yang berisi seluruh informasi
terkait administrasi, kependudukan, anggaran, potensi hingga
permasalahan desa. Selain SID yang dikelola pemerintah desa
bersama warganya, banyak pula komunitas warga yang secara
independen mendirikan media sendiri seperti balebengong.net di
Bali, penadesa.com di Purwokerto dan Buletin Bumi Blambangan
di Banyuwangi.
Selama ini dengan konten pemberitaan media mainstream yang
Jakarta sentris dan kota sentris, menyebabkan hak informasi warga
desa paling terabaikan. Minimnya informasi dasar di media
mainstream seperti pembuatan KTP, akta kelahiran, BPJS,
kesehatan ibu dan anak, serta TKI menyebabkan permasalahan
serius di tingkat desa. Kontruksi opini yang diciptakan media
mainstream tentang desa juga sangat buruk yang mengindentikkan
desa sebagai sumber kebodohan, kemiskinan, dan ketakberdayaan.
Semisal pemakaian kata “kampungan” dan “ndeso” yang seolah-
olah menjadi hal biasa untuk menjuluki mereka yang bodoh.
Dampaknya, terjadi perubahan kultur warga desa yang sebelumnya
sederhana dan bergotong royong, menjadi bergaya metropolitan,
konsumenrisme tinggi, serta individual.
9 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA Maka solusinya, mau tak mau, warga desa harus
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
Maka solusinya, mau tak mau, warga desa harus mendirikan media
sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan perluasan distribusi
informasi berbasis desa. Pengelola informasi desa harus mengubah
mindset bahwa informasi merupakan kunci utama untuk
mendorong kesejahteraan. Literasi media bagi warga desa akan
membuat mereka mau terlibat dalam pembangunan di desa,
sehingga orang desa yang selama ini menjadi obyek pembangunan
kini menjadi subyek pembangunan itu sendiri.
Dari latar belakang itu, maka AJI Jember membuat modul
pelatihan jurnalisme warga desa sebagai standar pelaksanaan
training hingga tercapainya tujuan.
Tujuan Pelatihan
1) Membekali peserta dengan isu desa, baik potensi maupun
permasalahannya
2) Membekali peserta dengan keterampilan jurnalisme warga
yang beretika
3) Mendorong peserta untuk terlibat dalam pembangunan di
desa
4) Mendorong peserta membentuk jejaring antar jurnalis warga
5) Mendorong tumbuhkembangnya media-media warga
berbasis desa
Peserta Pelatihan
Pelatihan ini diikuti oleh pemuda dan perangkat desa berjumlah
maksimal 50 orang
10 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA Materi Pelatihan 1) Jurnalisme warga untuk kemandirian desa
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
Materi Pelatihan
1)
Jurnalisme warga untuk kemandirian desa
2) Mengenal Berita dan cara mendapatkan berita
3) Teknik wawancara
4) Menulis berita
5)
Memetakan potensi dan permasalahan desa
Alokasi waktu
Modul ini disusun untuk 2 hari. Satu hari untuk teori dan satu hari
untuk praktek dengan masing-masing berdurasi 6 jam
Metode Pelatihan
Pelatihan dilakukan dengan melibatkan para peserta dan
menggunakan pendekatan partisipatif. Pelatihan akan dipimpin
oleh 1 trainer dengan proses sebagai berikut.
1) Ceramah
2) Tanya-jawab
3)
Diskusi kelompok
4) Praktek lapangan
Media Pendukung
1)
LCD Proyektor
2) Speaker
3) Whiteboard
4) Spidol
11 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 5) Laptop 6) Kertas HVS 7) Kertas Plano
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
5) Laptop
6) Kertas HVS
7)
Kertas Plano
Evaluasi
Evaluasi akan dilakukan di akhir pelatihan, melalui proyek kerja
yakni setiap kelompok mampu membuat karya jurnalistik. Evaluasi
atas karya jurnalistik tersebut meliputi:
1)
Angle berita
2) Unsur 5W+1 H
3)
Struktur tulisan
4) Gaya Tulisan
5)
Penulisan caption foto
12 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA JADWAL TRAINING Waktu Lokasi Peserta Fasilitator 15-16
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
JADWAL TRAINING
Waktu
Lokasi
Peserta
Fasilitator
15-16
Oktober
Desa Glingsran
40
orang
dari
Desa
Mahrus
2016
Bondowoso
Banyuputih
dan
TimesIndon
Glingseran
esia
22-23
Oktober
Desa Ramban Wetan
40
orang dari Desa
Friska Kalia
2016
Bondowoso
Suling Wetan dan
Desa Ramban Wetan
KBR68H
22-23
Oktober
Desa Bukor
40
orang
dari
Desa
Mahrus
2016
Bondowoso
Bukor
dan
Desa
TimesIndon
Ambulu
esia
29-30
Oktober
Desa Cermee
40
orang
dari
Desa
Zuhanna
2016
Bondowoso
Bercak
dan
Desa
Mongabay
Cermee
29-30
Oktober
Desa Grujugan
40
orang dari Desa
Friska Kalia
2016
Bondowoso
Grujugan dan Desa
KBR68H
Ramban Kulon
13 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SILABUS Waktu Durasi Kegiatan Metode 09.00-09.15 15
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SILABUS
Waktu
Durasi
Kegiatan
Metode
09.00-09.15
15
menit
Perkenalan
Permainan
09.15-10.00
45
menit
Materi 1:
Ceramah, tanya jawab
Jurnalisme warga untuk kemandirian
desa
10.00-10.15
15
menit
Menonton film “Ciptagelar” karya
Watchdog
10.15-11.00
45
menit
Materi 2:
Ceramah, Tanya jawab
Mengenal berita dan cara
mendapatkan berita
11.00-12.00
60
menit
Materi 3:
Menulis Berita dan KEJ
Diskusi kelompok,
simulasi
12.00-13.00
60
menit
Break Ishoma
13.00-13.15
15
menit
Permainan
Gambar anti-
mainstream
13.15-14.00
45
menit
Materi 4
Memetakan potensi dan
permasalahan desa
Diskusi kelompok
14.00-14.45
45
menit
Materi 5
Rencana tindak lanjut
Tugas individu
14.45-15.00
15
menit
Review dan penutupan hari pertama
Ceramah
14 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS SESI PERKENALAN Durasi Tujuan Metode Indikator
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS
SESI PERKENALAN
Durasi
Tujuan
Metode
Indikator
: 15 menit
: terbangun suasana pelatihan yang saling
mendukung, akrab dan bekerja sama
: permainan kolaboratif
: Semua peserta aktif terlibat permainan
Tahapan
1) Trainer memperkenalkan diri terlebih dahulu, mulai nama, latar
belakang profesi
2) Trainer menjelaskan secara singkat tujuan pelatihan
3) Trainer kemudian meminta peserta memperkenalkan diri dengan
permainan kolaboratif. Yakni semua peserta diminta berbaris
berdasarkan urutan abjad namanya
15 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 4) Peserta pun akan riuh saling bertanya nama
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
4) Peserta pun akan riuh saling bertanya nama kepada peserta lain.
Trainer memberikan waktu dengan berhitung hingga angka 30
5) Setelah peserta membentuk barisan sesuai abjad namanya, trainer
meminta peserta memperkenalkan nama dan pekerjaannya. Bisa
dimulai dari urutan paling belakang atau depan
6) Setelah semua peserta memperkenalkan diri, trainer meminta
peserta kembali ke tempat duduknya
---END---
16 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MATERI 1 Jurnalisme warga untuk kemandirian desa
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS MATERI 1
Jurnalisme warga untuk kemandirian desa
Durasi
Tujuan
Metode
Media
Indikator
: 45 menit
: Peserta memahami pentingnya jurnalisme
warga untuk mendorong pembangunan di desa
yang lebih transparan dan partisipatif
: ceramah dan tanya jawab
: LCD Proyektor, laptop, kertas plano
: Peserta aktif bertanya dan berbagi
pengalaman terkait pembangunan di desa
Tahapan
1) Trainer membuka sesinya dengan melemparkan pertanyaan kepada
peserta: “Apa yang ada di benak Anda ketika berbicara tentang
desa? Bagaimana image desa selama ini?
2) Trainer mencatat setiap jawaban-jawaban dari peserta di kertas
plano untuk melihat persepsi peserta tentang desa
17 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 3) Setelah itu, trainer kembali melempar pertanyaan:
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
3) Setelah itu, trainer kembali melempar pertanyaan: “Seberapa
sering desa Anda diberitakan oleh media arus utama seperti Jawa
Pos, TV-TV dari Jakarta atau radio?”. Pertanyaan berikutnya: “Lalu
kemana selama ini warga desa mencari informasi, misal cara
membuat KTP atau akta kelahiran atau membuat kartu BPJS?”
4) Apabila peserta telah menyadari bahwa selama ini media massa
arus utama jarang memberitakan desa, maka trainer bisa
mempresentasikan materinya
5)
Ceramah ditutup dengan tanya jawab
---END—
18 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MENONTON FILM “BUMI CIPTAGELAR Durasi Tujuan
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS
MENONTON FILM “BUMI CIPTAGELAR
Durasi
Tujuan
Metode
Media
Sumber film
Indikator
: 15 menit
: Menambah wawasan peserta mengenai
kehidupan masyarakat adat Ciptagelar yang
mampu mengelola media sendiri dan
mempertahankan kearifan ekologi demi
kesejahteraan warganya
: menonton film dan diskusi
: LCD Proyektor, speaker, laptop
: Youtube
: Peserta menemukan kearifan lokal pada
masyarakat adat Ciptagelar
Tahapan
1)
Trainer
memberikan
penjelasan
singkat
mengenai
film
“Bumi
Ciptagelar”
yang
diproduksi
oleh
Watchdog
dalam
Ekspedisi
Indonesia Biru
19 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 2) Trainer meminta peserta untuk mencatat kearifan lokal
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
2) Trainer meminta peserta untuk mencatat kearifan lokal di balik
film dokumenter tersebut
3) Trainer kemudian memutar film yang berdurasi 10 menit
4) Usai menonton film, trainer memilih secara acak peserta untuk
membacakan catatannya
5) Trainer mengakhiri diskusi dengan memberikan kesimpulan soal
kemandirian desa yang bertumpu pada hasil agraris, gotong-royong
antar warganya, hidup sederhana, tidak konsumtif, dan hidup
selaras dengan alam
--END—
20 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MATERI 2 MENGENAL BERITA DAN CARA MENDAPATKAN
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS MATERI 2
MENGENAL BERITA DAN CARA MENDAPATKAN BERITA
Durasi
Tujuan
Metode
Indikator
: 45 menit
: Memberikan pemahaman kepada peserta
mengenai berita dan bagaimana mendapatkan
berita
: ceramah dan Tanya jawab
: Peserta mengenal ciri-ciri berita dan
mengetahui cara mendapatkan berita
Tahapan
1) Trainer melempar pertanyaan kepada peserta di antaranya: “Apa
itu berita?”, “apa itu informasi?”, “informasi apa saja yang layak
jadi berita?” setiap jawaban peserta dicatat di kertas plano
2) Setelah mendapatkan jawaban-jawaban kunci, trainer
mempresentasikan materinya
3) Saat presentasi, trainer bisa memberikan contoh-contoh berita
yang berkaitan dengan isu desa. Misal nasib petani, fenomena TKI,
pengurusan administrasi kependudukan, dll
21 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 4) Berlatih bersama membuat perencanaan liputan yang terdiri
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
4) Berlatih bersama membuat perencanaan liputan yang terdiri dari:
- Menentukan angle (sudut pandang)
- Menentukan narasumber (dengan prinsip cover both side)
- Membuat pertanyaan (5W1H) untuk setiap narasumber
- Menentukan obyek foto
5)
- Menentukan dokumen atau data pendukung
Presentasi ditutup dengan tanya-jawab
--END--
22 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MATERI 3 MENULIS BERITA dan KEJ Durasi
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS MATERI 3
MENULIS BERITA dan KEJ
Durasi
Tujuan
: 45 menit
: - Membekali peserta dengan keterampilan
menulis berita yang aman dari jeratan hukum
-
Membekali
peserta
dengan
Kode
Etik
Jurnalistik
Metode
Media
Indikator
: ceramah dan tanya jawab
: LCD Proyektor, laptop, kertas plano
: Peserta dapat menulis berita yang aman dari
jeratan hokum
Tahapan
1) Trainer menyajikan materi tentang penulisan berita
2) Dalam sesi ini, trainer menekankan bahwa jurnalis warga harus
menghindari kata sifat agar aman dari jeratan hokum
23 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 3) Setelah menyajikan materi, trainer menampilkan sebuah foto
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
3) Setelah menyajikan materi, trainer menampilkan sebuah foto
dalam slide (halaman terakhir dalam materi)
4) Trainer meminta setiap peserta menulis reportase dari apa yang
tampak dalam foto pada selembar kertas dengan durasi 5 menit
5) Setelah selesai, trainer memilih 3 peserta secara acak untuk
membacakan tulisannya
6) Trainer meminta peserta lain untuk menanggapi hasil tulisan
tersebut, terutama terkait ada tidaknya pemakaian kata sifat
7)
Setelah itu, trainer menjelaskan tentang Kode Etik Jurnalistik
8) Trainer membuka tanya-jawab
9) Trainer menutup sesi ini
--END—
24 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS PERMAINAN MENGGAMBAR ANTI-MAINSTREAM Durasi
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS PERMAINAN
MENGGAMBAR ANTI-MAINSTREAM
Durasi
Tujuan
Metode
: 15 menit
:Membuat peserta kembali bugar agar kembali
bisa berkonsentrasi pada materi berikutnya
: Permainan
Tahapan
1) Trainer meminta semua peserta mengeluarkan selembar kertas
kosong
2) Trainer meminta peserta membuat garis yang membagi kertas
menjadi tiga kolom
3) Trainer meminta peserta menggambar “manusia” pada kolom
pertama dengan batas waktu 10 detik
4) Trainer meminta peserta menggambar “pemandangan” pada kolom
kedua dengan batas waktu 10 detik
5) Terakhir, trainer meminta peserta menggambar “alat vitalnya
masing-masing” pada kolom ketiga dengan batas waktu 5 detik
25 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 6) Trainer meminta seluruh peserta mengakhiri kerjanya dan
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
6) Trainer meminta seluruh peserta mengakhiri kerjanya dan
menunjukkan karyanya
7) Trainer mengevaluasi adakah peserta yang menggambar manusia
utuh, dari kepala, tubuh, tangan dan kaki? Trainer kemudian
menegaskan bahwa menggambar manusia tidak harus utuh, tapi
bisa dari sudut manapun
8) Pada gambar kedua, trainer mengevaluasi apakah ada peserta yang
menggambar pegunungan berupa dua gunung, dengan sungai atau
jalan di tengah? Bila ada, trainer menegaskan bahwa gambar
pemandangan tidak harus berupa dua gunung seperti yang
diajarkan saat tk
9) Terakhir, trainer mengevaluasi apakah ada peserta yang
menggambar “alat kelaminnya”? Bila ada trainer menegaskan
bahwa alat vital itu tidak selalu alat kelamin, tapi bisa berupa mata,
telingan, tangan, kaki dll
10) Dari permainan itu trainer menyimpulkan bahwa seorang jurnalis
warga harus berani keluar dari mainstream, berani menulis berita
tentang hal-hal yang tidak pernah ditulis media besar
--END--
26 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MATERI 4 MEMETAKAN POTENSI DAN PERMASALAHAN DESA
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS MATERI 4
MEMETAKAN POTENSI DAN PERMASALAHAN DESA
Durasi
Tujuan
Metode
Media
Indikator
: 45 menit
: Mendorong peserta lebih peka untuk
memetakan potensi dan permasalahan desa
: ceramah dan tanya jawab
: LCD Proyektor, laptop, kertas plano
: Peserta dapat memetakan potensi dan
permasalahan desa
Tahapan
1) Trainer membagi peserta menjadi empat kelompok sesuai desanya
masing-masing, dengan demikian di satu desa ada dua kelompok
(kelompok A dan kelompok B)
2) Trainer meminta setiap kelompok A memetakan potensi desanya
masing-masing mulai potensi ekonomi (pertanian, peternakan dan
umkm), wisata, kesenian, olahraga dan lain-lain.
27 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA 3) Sementara kelompok B memetakan permasalahan desanya masing-
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
3) Sementara kelompok B memetakan permasalahan desanya masing-
masing dengan kategori ekonomi, sosial, pemerintahan desa,
budaya dll
4) Hasil diskusi kelompok ditulis dalam selembas kertas plano dengan
durasi 15 menit
5) Selesai diskusi kelompok, tiap perwakilan kelompok
mempresentasikan hasilnya di depan peserta lain dengan masing-
masing durasi 5 menit
6) Kelompok lain memberikan tanggapan atau usulan kepada
kelompok yang presentasi
7) Setelah seluruh kelompok mempresentasikan hasilnya, trainer
memberikan penguatan bahwa fungsi pemetaan tersebut adalah
bekal bagi calon jurnalis warga di lapangan. Sebab calon jurnalis
warga harus mengetahui bagaimana karakteristik, potensi dan
permasalahan di desanya
8) Trainer menutup sesi diskusi
--END--
28 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA SINTAKSIS MATERI 5 RENCANA TINDAK LANJUT Durasi Tujuan
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
SINTAKSIS MATERI 5
RENCANA TINDAK LANJUT
Durasi
Tujuan
Metode
Media
Indikator
: 45 menit
: Mendorong kesiapan peserta untuk mengikuti
lomba jurnalisme warga
: tugas individu, diskusi
: LCD Proyektor, laptop, kertas plano
: Peserta dapat membuat perencanaan liputan
sebagai persiapan mengikuti lomba jurnalisme
warga
Tahapan
1) Trainer meminta setiap peserta mengeluarkan selembar kertas, dan
menuliskan rencana liputan dengan bahan dari pemetaan potensi
dan permasalahan pada sesi sebelumnya.
2) Rencana liputan tersebut meliputi keterangan:
- Angle (sudut pandang)
- Daftar narasumber (dengan prinsip cover both side)
29 |AJI JEMBER
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA Untuk DEMOKRATISASI DESA - Daftar pertanyaan (5W1H) untuk setiap narasumber -
MODUL PELATIHAN JURNALISME WARGA
Untuk DEMOKRATISASI DESA
- Daftar pertanyaan (5W1H) untuk setiap narasumber
- Rencana obyek foto
- Daftar dokumen atau data pendukung
3) Trainer menjelaskan bahwa peserta melakukan praktek liputan
pada keesokan harinya dengan batasan waktu hingga pukul 12.00
WIB. Hasil liputan berupa berita yang ditulis dalam bentuk straight
news atau feature. Tidak ada batasan jumlah karakter.
4) Berita dan foto yang telah dibuat peserta dikirimkan ke email
5) Keesokan harinya trainer menjadi salah satu juri untuk menilai
karya peserta
--END--
30 |AJI JEMBER