Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Dalam
masyarakat yang homogeny dan agak tertutup seperti masyarakat tradisional.
Tidak pernah mempersoalkan nilai-nilai dan norma-norma itu praktis. Dalam
keadaan seperti ini orang-orang akan secara otomatis menerima norma dan
nilai yang berlaku. Individu-individu dalam masyarakat itu tidak berfikir
lebih jauh. Tapi nilai-nilai dan norma-norma etis yang ada dalam masyarakat.
Tradisional umumnya tinggal implicit saja setiap saat bias menjadi ekspilit.
Terutama bila nilai-nilai itu ditantang atau norma-norma etis dilanggar
Karena perkembangan baru. Kita melihat bahwa nilai atau norma yang
tadinya terpendam dalam hidup rutin, dengan agak mendadak tampil ke
permukaan. Banyak nilai dan norma yang etis berasal dari agama. Tidak bisa
diragukan, agama merupakan salah satu sumber nilai dan dan norma yang
paling penting. Kebudayaan merupakan suatu sumber yang lain, walaupun
perlu dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan seringkali tidak bias dilepaskan
dari agama. Juga nasionalisme atau kerangka hidup bersama dalam satu
Negara mudah menjadi sumber nilai serta norma. Bila Negara dalam bahaya
atau merasa dihina oleh Negara lain. Nilai-nilai itu bisa sampai bergejolak.
Demikian halnya. Kalau dilihat dalam konteks social. Kalau kita melihat hal
yang sama dari segi individual . bisa saja terjadi bahwa nilai-nilai dan norma-
norma itu disadari oleh seorang tertentu. Karena ia pindah kedaerah lain. Di
Indonesia pun sudah sejak dulu terdapat variasi kecil-kecilan diberbagai
daerah. Sejauh menyangkut nilai dan norma. Misalnya dalam bidang
pergaulan antara muda-mudi dan hubungan antara anak dan orang tua. Bila
seorang muda menjadi mahasiswa dank arena itu untuk pertama kali dalam
hidupnya kelua dari naungan keluarga serta ketertutupan daerahnya. Ia dapat
merasakan perbedaan itu. Perbedaan biosa di rasakan lebih tajam lagi .
Berbeda dengan masyarakat tradisional, belakangan ini, Etika sering
menjadi perbincangan, khususnya bagi praktisi professional dan tenaga
kesehatan lainnya. Pada setiap professi biasanya ada etka keprofesian/kode
etik professi. Etika penting bagi sebuah professi karena bisa dijadikan acuan
tindakan atau standar tindakan yang akan dilakukan.
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
yang pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah
ilmu/kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah hal-hal yang
menyangkut moral dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Sedangkan bagi tenaga

1
kesehatan etika berarti kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan
professi dan masyarakat, serta bertindak dengan cara-cara yang professional.
Etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi
antara pemberi dan penerima jasa professi secara wajar, jujur, adil,
professional dan terhormat. Etika juga diartikan sebagai kesepakatan bersama
dan pedoman untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota assosiasi tentang
apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan professi
itu.
Jadi, pada intinya etika memiliki arti yang berbeda-beda sesuai sudut
pandang dilihatnya, oleh karena itu makalah mengenai konsep dasar etika
umum ini dibuat untuk memahami etika secara umum.

1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui perkembangan etika dalam dunia modern
1.2.2 Untuk mengetahui hubungan etika dengan moral dan agama
1.2.3 Untuk mengetahui hubungan etika dengan moral dan hukum

1.3 Rumusan masalah


1.3.1 Bagaimana perkembangan etika dalam dunia modern ?
1.3.2 Bagaiman hubungannya moral dan agama?
1.3.3 Bagaimana hubungannya moral dan hukum?

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Dapat memperoleh wawasan atau pengetahuan tentang etika
khususnya etika dalam dunia keperawatan.
1.4.2 Bagi Intuisi Pendidikan
Dapat membantu siswa/ mahaisiwa memahami dan menerapkan etika
dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

2
1.2 Peranan Etika dalam Dunia Modern

Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Dalam


masyarakat yang homogeny dan agak tertutup seperti masyarakat yang
homogeny dan agak tertutup seperti masyarakat tradisional. Tidak pernah
mempersoalkan nilai-nilai dan norma-norma itu praktis.

Dalam keadaan seperti ini orang-orang akan secara otomatis menerima


norma dan nilai yang berlaku. Individu-individu dalam masyarakat itu tidak
berfikir lebih jauh. Tapi nilai-nilai dan norma-norma etis yang ada dalam
masyarakat. Tradisional umumnya tinggal implicit saja setiap saat bias
menjadi ekspilit. Terutama bila nilai-nilai itu ditantang atau norma-norma etis
dilanggar Karena perkembangan baru. Kita melihat bahwa nilai atau norma
yang tadinya terpendam dalam hidup rutin, dengan agak mendadak tampil ke
permukaan. Banyak nilai dan norma yang etis berasal dari agama.

Tidak bisa diragukan, agama merupakan salah satu sumber nilai dan
norma yang paling penting. Kebudayaan merupakan suatu sumber yang lain,
walaupun perlu dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan seringkali tidak bias
dilepaskan dari agama. Juga nasionalisme atau kerangka hidup bersama
dalam satu Negara mudah menjadi sumber nilai serta norma. Bila Negara
dalam bahaya atau merasa dihina oleh Negara lain. Nilai-nilai itu bisa sampai
bergejolak. Demikian halnya. Kalau dilihat dalam konteks social.

Kalau kita melihat hal yang sama dari segi individual, bisa saja terjadi
bahwa nilai-nilai dan norma-norma itu disadari oleh seorang tertentu. Karena
ia pindah kedaerah lain. Di Indonesia pun sudah sejak dulu terdapat variasi
kecil-kecilan diberbagai daerah. Sejauh menyangkut nilai dan norma.
Misalnya dalam bidang pergaulan antara muda-mudi dan hubungan antara
anak dan orang tua. Bila seorang muda menjadi mahasiswa dan karena itu
untuk pertama kali dalam hidupnya keluar dari naungan keluarga serta
ketertutupan daerahnya. Ia dapat merasakan perbedaan itu.

Perbedaan biasa di rasakan lebih tajam lagi bila perpindahan itu bukan
saja dari satu daerah ke daerah lain. Tapi sekaligus juga dan dari daerah
pedesaan kekota besar. Apalagi bila seorang muda disekolahkan keluar negri.
Bisa sampai terkena cultural shock yaitu keterkejutan yang terjadi ketika
seseorang dihadapkan pada suatu budaya yang berbeda dengan budaya yang
dia anut selama ini. Menjadi filter dari pluralisme moral. Era komunikasi
mengakibatkan berbagai macam informasi dari segala penjuru masuk ke
rumah kita tanpa adanya batasan, disini peran etika, sebagai filter dari
pluralisme moral yang kita peroleh. Mengatasi masalah-masalah etis,

3
contohnya adanya donor organ. Kepedulian etis yang tampak diseluruh dunia,
contohnya Peperangan dalam merebutkan jalur gaza.

Pengalaman-pengalaman serupa itu selalu sudah terjadi dan tidak


merupakan sesuatu yang baru. Dalam masyarakat tradisional pun berlangsung
hal-hal sedemikian. Tapi sekarang ini keadaan masyarakat tradisional itu
hampir tidak ada lagi. Praktis tidak terdapat lagi masyarakat yang homogen
dan tertutup. Suatu contoh bagus tentang perubahan seperti ini adalah
kebiasaan di banyak masyarakat tradisional bahwa orang tua memilih jodoh
bagi anaknya. Menurut Ajib Rosidi, di Indonesia pun kebiasaan ini pernah
tersebar luas. Dalam sastra Indonesia gejala itu tampak dengan jelas. Antara
tahun 1920 dan 1940 banyak novel bertenakan kawin paksa dan campur
tangan orang tua dalam pernikahan anaknya (M. Yatimin Abdullah :2006).

Sekarang diakui secara umum hak seorang muda untuk memilih teman
hidupnya sendiri. Perjuangan hak yang tercermin dalam sastra Indonesia ini
menandai peralihan peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat
modern.

Jika kita memandang situasi etis dalam dunia modern terutama tiga ciri
yang menonjol, yaitu:

 Kita menyaksikan adanya pluralisme moral. Dalam masyarakat-


masyarakat yang berbeda sering erlihat nilai dan norma yang berbeda pula.
Bahkan masyarakat yang sama bisa ditandai oleh pluralisme moral.

 Sekarang timbul banyak masalah etis baru yang dulu tidak terduga.

 Dalam dunia modern tampak semakin jelas juga suatu kepedulian etis yang
universal.

Pluralisme moral terutama dirasakan karena sekarang kita hidup dalam


era komunikasi. Konon, ketika Christoper Columbus menemukan benua
Amerika (1492), bosnya di Eropa – raja Spanyol – baru mendengar tentang
kejadian itu sesudah 5 bulan. Ketika Presiden Amerika Serikat, Abraham
Lincoln, dibunuh (1865), kabar itu baru sampai di Eropa sesudah 12 hari.
Kini melalui media komunikasi modern informasi dan seluruh dunia langsung
memasuki rumah-rumah kita, sebagaimana juga kejadian-kejadian di dalam
masyarakat kiat segera tersiar ke segala pelosok dunia.

Dalam hal ini perkembangan mutakhir adalah internet. Suka tidak suka,
bersama dengan menerima informasi sebanyak itu kita berkenalan pula

4
dengan norma dan nilai dari masyarakat lain, yang tidak selalu sejalan dengan
norma dan nilai yang dianut dalam masyarakat kita sendiri.

Seperti diketahui, beberapa negara komunis yang sejak Perang Dunia II


telah berusaha menutup diri terhadap segala pengaruh dan luar, dalam hal ini
hanya sebagian berhasil. Lagi pula, sarana pengangkutan modern seperti
perawat terbang, kereta api dan kendaraan bermotor telah mengakibatkan
suatu mobilitas yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah umat
manusia. Ratusan juta manusia setiap tahun melewati perbatasan negara
mereka. Dan kita lihat, mereka pergi semakin jauh, karena sarana
pengangkutan semakin cepat dan pelayanan kewisataan semakin
ditingkatkan. Pariwisata sudah menjadi sebuah industri yang dengan sengaja
digalakkan untuk menarik sebanyak mungkin devisa. Dunia usaha juga sudah
hampir tidak mengenal perbatasan negara, sehingga banyak sekali manajer,
konsultan dan teknisi berkeliling dari satu negara ke negara lain, sebagai
karyawan salah satu multinational corporation. Atau kita lihat saja betapa
banyak orang Indonesia pernah menuntut ilmu diluar negeri atau sekarang
sedang menjalani studi di luar negeri.

Tidak dapat disangkal, masyarakat kita yang sudah sejak dulu diwarnai
“kebhinekaan” sekarang berjumpa dengan kemajemukan norma dan nlai
seperti hampir semua masyarakat di dunia. Kemajemukan itu menyangkut
nilai dan norma dalam praktek-praktek bisnis, umpamanya, tapi juga dalam
bidang yang sama sekali lain seperti seksualitas serta perkawinan. Kita lihat,
ada beberapa masyarakat yang lebih liberal dan permisif daripada masyarakat
lain tentang hubungan seksual sebelum perkawinan, hubungan
homoseksualm pornografi, dan sebagainya.

Ciri lain yang menandai situasi etis di zaman kita adalah timbulnya
masalah-masalah etis baru, yang terutama disebabkan perkembangan
pesatdalam ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya ilmu-ilmu biomedis.
Di antara masalah-masalah paling berat dapat disebut apa yang harus kita
pikirkan tentang manipulasi genetis, khususnya manipulasi dengan gen-gen
manusia, apa yang bisa dikatakan tentang reproduksi artifisial seperti fertilasi
ini vitro, entah dengan donor atau tanpa donor, entah dengan ib yang
“menyewakan” rahimnya atau tidak, apakah kita bisa menerima eksperimen
dengan jaringan embrio untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer-
umpamanya, entah jaringan itu diperoleh melalui abortus yang disengaja atau
abortus spontan? Masalah-masalah etis yang timbul berhubungan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, akan dibicarakan lagi secara khusus dalam
Bab yang lain.

5
Ciri ketiga adalah suatu kepedulian etis yang tampak diseluruh dunia
dengan melewati perbatasan negara. Globalisasi tidak saja merupakan gejala
di bidang ekonomi, tapi juga dibidang moral. Kita menyaksikan adanya
gerakan-gerakan perjuangan moral yang aktif pada taraf internasional. Bisa
dalam bentuk kerjasama antara lembaga-lembaga swadaya masyarakat, bisa
juga dalam bentuk kerja sama antara DPR dari beberapa negara atau serikat-
serikat buruh dan sebagainya

2.4. Moral dan agama


Ada dua rumusan agama menurut ensiklopedi Indonesia (1990, 104)
tentang berbagai macam pengertian agama. Akan tetapi hanya ada dua
rumusan yang dianggap kebenaran, yaitu:

2.4.1 Rumusan Pertama


Dalam bahasa Belanda, religie artinya agama sedangkan dalam
bahasa Inggris Religion. Pada umumnya hubungan antara manusia
yang dianggap paling penting adalah pengertian yang dianggap
palingpenting adalah bagian dari pengertian yang dianggap “suci” yang
mendatangkan rasa tunduk manusia Kepada-Nya dan
memperlakukannya dengan penuh khidmat, yang sebaliknya menarik
manusia kepada-Nya dan manusia itu mencintai-Nya. Agama
mempunyai unsur-unsur wahyu, rasul, risalah dan kitab suci,.

2.4.2 Rumusan Kedua


Agama merupakan apa yang diisyaratkan Allah dengan perantara
Nabi-Nabi – Nya berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk
kebaikan manusia didunia dan akhirat.

Ciri-ciri umum agama:

1. Percaya pada Yang Maha Gaib.


2. Mengadakan hubungan dengan Yang Maha Gaib dengan
melakukan upacara.
3. Ajaran tentang Yang Maha Gaib.

Sikap hidup yang ditimbulkan oleh ke-3 hal tersebut antara lain
adanya kesadaran yang meningkat diseluruh dunia, karena ditengah-
tengah perkembangan IPTEK saat sekarang ini, etika dan agama
memiliki sumbangsih yang kuat bagi konservasi.

Moral berasal dari bahasa latin, yaitu Mos yang artinya adab
atau cara hidup. Pada taraf kehidupan yang etis manusia meningkatkan

6
kehidupan etetis ke taraf manusiawi dalam bentuk perbuatan bebas dan
bertanggung jawab. Moral merupakan tindakan manusia sesuai dengan
ide-ide umum (masyarakat) yang baik dan wajar. Sebenarnya moral dan
etika memiliki kesamaan dalam hal yang baik dan wajar. Sebenarnya
moral dan etika memiliki kesamaan dalam hal baik dan buruk. Bedanya
moral bersifat praktis sedangkan etika bersifat teoritis.

Pada taraf kehidupan religius manusia menghayati


pertemuannya pada Tuhan penciptaanya dalam bentuk takwa dimana
makin dekat manusia dengan Tuhannya maka makin dekat pula
manusia denmgan kesempurnaan hidup dan semakin jauh dari
kegelisahan dan keraguan.

Terdapat hubungan kuat antara agama dengan moral, karena


nilai-nilai moral merupakan pengendalian diri dari sikap dan perilaku
manusia dalam mengimplementasikan ajaran agama dan kekuatan ilmu
dalam kehidupan nyata.

2.5. Moral dan Hukum


Etimologi kata “Moral” sama dengan etimologi kata “ etika” karena
keduanya berasal dari kata adab kebiasaan. Untuk melindungi kepentingan
masyarakat, perilaku individu sebagai anggota masyarakat tidak cukup hanya
diatur dan dilindungi oleh kaidah-kaidah etika dan moral tetapi juga
diperlukan adanya kaidah-kaidah hukum. Dengan kaidah hukum yang
mempunyai sanksi tegas dan konkret maka kepentingan yang diatur serta
dilindungi oleh kaidah etika itu data berlaku secara efektif.

Perbedaan Etika dengan Hukum:

1. Pada dasarnya tuntutan hukum itu lebih menitikberatkan pada


pengertian hukum itu lebih menitikberatkan pada pengaturan perilaku
seseorang demi ketertinban masyarakat. Sedangkan tuntutan moral
lebih menitikberatkan pada pengaturan perilaku seseorang agar
menjadi manusia yang berbudi.
2. Etika ditujukan pada sikap batin manusia, membebani manusia
dengan kewajiban-kewajiban dan sanksinya dari kelompok
masyarakat itu sendiri. Sedangkan hukum ditujukan pada sikap lahir
manusia dengan hak dan kewajiban. Bersifat memaksa, sanksinya
tegas, dan konkret yang dilaksanakan dengan wewenang pemerintah.
Lingkungan etika lebih luas dari hukum dan lebih mengandalkan
itikad baik, kesadaran etis dan nilai-nilai moral para pelakunya.

7
Persamaan Etika dan Hukum:

1. Persamaan Etika dengan hukum terdapat dalam tujuan sosialnya yaitu


menghendaki manusia melakukan perbuatan yang baik dan benar
dalam anggapan masyarakat. Itulah sebabnya dikatakan bahawa
pelanggaran hukum merupakan perbuatan yang tidak etis.
2. Kedua-duanya mempunyai sanksi.

Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali. Ada
pepatah roma yang mengatakan “ quid leges sine moribus “ (apa artinya
undang-undang jika tidak disertai moralitas?). dengan demikian hukum
tidak akan berarti tanpa disertai moralitas. Oleh karena itu kualitas hukum
harus selalu diukur dengan norma moral, perundang-undangan yang
immoral harus diganti. Disisi lain moral juga membutuhkan hukum, sebab
moral tanpa hukum hanya angan-angan saja kalu tidak diundangkan atau
dilembagakan dalamn masyarakat.

Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat, namun hukum


moral tetap berbeda sebab dalam kenyataanya mungkin ada hukum yang
bertentanagan dengan moral atau undang-undang yang immoral. Yang
berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Untuk itu dalam
konteks ketatanegaraan Indonesia dibawah ini. Apalagi dalam konteks
membutuhkan hukum.

Kualitas hukum terletak pada bobot moral yang menjiwainya. Tanpa


moralitas hukum tampak kosong dan hampa (Dahlan Thaib, h.6). Namun
demikian perbedaan antara moral dan hukum sangat jelas.

Perbedaan antara hukum dan moral menurut K. Berten:

1. Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dibutuhkan


secara sistematis dalam kitab perundang-undangan. Oleh karena itu norma
hukum lebih memiliki kepastian dan objektif disbanding dengan norma
moral. Sedangkan norma moral lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak
diganggu oleh diskusi yang mencari kejelasan tentang yang harus
dianggap utis dan tidak etis.
2. Meski moral dan hukum mengatur tingkah laku manusia namun hukum
membatasi diri sebatas lahiriah saja. Sedangkan moral menyangkut juga
sikap batin seseorang.
3. Sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang
berkaitan dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum untuk
sebagian besar dapat dipaksakan pelanggaran akan terkena hukuman. Tapi
norma etis tidak bias dipaksakan sebab paksaan hanya menyentuh bagian

8
luar sedangkan perbuatan etis tidak bias dipaksakan sebab paksaan hanya
menyentuh bagian luar. Sedangkan perbuatan etis justru berasal dari
dalam. Satu-satunya sanksi dibidang moralitas hanya hati yang tidak
tenang.
4. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya ats kehendak
Negara. Meskipun hukum tidak langsung berasal dari Negara seperti
hukum adat, namun hukum itu harus diakui oleh Negara supaya berlaku
sebagai hukum moralitas berdasarkan norma-norma moral yang melebihi
pada individu dan masyarakat. Dengan cara demokratis atau dengan cara
lain masyarakat dapat mengubah hukum. Tapi masyarakat tidak dapat
mengubah atau membatalkan suatu norma moral. Moral menilai hukum
dan tidak sebaliknya.

Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral:

1. Dilihat dari dasarnya, hukum memiliki dasar Yuridis. Consensus dan


hukum alam sedangkan moral berdasarkan hukum alam.
2. Dilihat dari otonominya hukum bersifat heteronom (dating dari luar diri
manusia). Sedangkan moral bersifat otonom (dating dari diri sendiri).
3. Dilihat dari pelaksanaannya hukum secara lahiriah dapat dipaksakan.
4. Dilihat dari sanksinya hukum bersifat yuridis. Moral berbentuk sanksi
kodrati, batiniah, menyesal, malu terhadap diri sendiri.
5. Dilihat dari tujuannya. Hukum mengatur kehidupan manusia dalam
kehidupan bernegara sedangkan moral mengatur kehidupan manusia
sebagai manusia.
6. Dilihat dari waktu dan tempat. Hukum tergantung pada waktu dan tempat,
sedangkan moral secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu
(1990, 119).

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Etik atau ethics berasal dari dua kata yunani yang hampir sama
bunyinya namun berbeda artinya. Ethos yang berarti “kebiasaan” atau “adat”
dan Ethos atau Ethikos yang artinya perasaan batin atau kecenderungan batin
yang mendorong manusia dalam perilakunya.

etika memiliki tiga arti yaitu:

 Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan


bagi seseorang atau sekelompok dalam mengatur tingkah
lakunya. Misalnya: Jika seseorang berbicara tentang “etika
suku-suku Indian”, “etika agama islam”, dan sebagainya.
 Kumpulan asaz atau nilai moral. Misalnya kode etik
 Ilmu tentang yang baik dan buruk.

Etika lahir dari filsafat dan Etika termasuk filsafat yang disifatkan
sebagai filsafat moral namun etika tidak sama dengan cabang-cabang
filsafat yang lainnya.
Peranan etika dalam dunia modern adalah dengan mempelajari
etika merupakan salah satu cara untuk mengatasi kesulitan moral yang kita
hadapi ditengah perkembangan dunia modern ini, salah satunya dengan
menggunakan rasio untuk meletakkan fundamental bagi norma-norma etis.
Hubungan antara agama dan moral, adalah agama membentuk
pribadi seseorang menjadi moral, dan moral merupakan pengendali diri,
sikap, dan perilaku manusia dalam mengimplementasikan ajaran
agamanya.
Hubungan antara moral dan hukum sangatlah kuat, karena moral
tanpa hukum hanyalah angan-angan saja. Oleh karena itu hukum
dibutuhkan untuk memeprkuat semua aturan moral yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,M.Yati.2005.Pengantar Studi Etika.Jakarta:Pt Raja Grafindo Persada

10
Wiranata, I Gede AB..2005. Dasar-Dasar Etika Dan Moral.Bandung:PT Citra
Aditya Bakti

Diktat Mahasiswa.Univesitas Sriwijaya.Indralaya

11