Anda di halaman 1dari 9

Laporan hasil kegiatan kredensial

Rabu ,28 November 2018

Pembicara : Dyno Aryo Christanto

Tata Kelola Komite Tenaga Kesehatan


Profesional Lainnya

Komite adalah wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli atau profesi dibentuk untuk memberikan
pertimbangan strategis kepada pemimpn rumah sakit dalam rangka peningkatan dan pengembangan
pelayanan rumah sakit.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang ‘’Rumah Sakit’’

Pasal 33

 Setiap rumah sakit harus memiliki organisasi yang efektif,efisien,dan akuntabel.


 Organisasi rumah sakit paling sedikit terdiri atas kepala rumah sakit atau direktur rumah sakit,unsur
pelayanan medis,unsur keperawatan,unsur penunjang medis,komite medis,satuan internal,serta
adminitrasi umum dan keuangan.

Standar Akreditasi Rumah Sakit

Dokumen yang perlu disiapkan adalah kebijakan kredensial, sk sub komite kredensial, bukti proses dan
data rekredensial, penetapan SPK (surat penugasan klinis) dengan rkk (rincian kewenangan klinis) oleh
direktur atas rekomendasi dari komite.

Komite tenaga kesehatan adalah perangkat RS untuk menerapkan tata kelola klinisnya agar nakes di RS
terjaga profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi klinis dan pemeliharaan
etika dan disiplin profesi klinis

Pedoman Komite

 SK Komite
 SK Mitra Bestari
 Pedoman Pengorganisasian Komite
 Pedoman Pelayanan Komite
 White Paper / Pedoman Kewenangan Klinis
 Code Of Conduct / Pedoman Prilaku
 Renstra

Lingkup Pelayanan

 Ketua
 Wakil Ketua Komite
 Sekretaris Komite
 Sub Komite Kredensial (Kredensial & Re-Kredensial)
 Sub Komite Mutu (Audit Klinis & Evaluasi Kerja)
 Sub Komite Etika dan Disiplin (Code Of Conduct)
Standar Fasilitas Komite

 Ruang Komite
 Fasilitas Ruangan
 Key Performance Indikator
 Pelaksanaan kredensial
 Pedoman RKK
 Audit klinis

Tatalaksana Pelayanan Komite

 Kredensial
 Re - Kredensial
 Audit klinis
 Pel komplain terhadap Nakes

White Paper

Dokumen informasi atau penjelasan tentang layanan/jasa/masalah/solusi atau lainnya yang dikhususkan
untuk penggunanya (Nakes&RS). Bertujuan untuk Menginformasikan dan merangkum berdasarkan bukti
dan fakta terhadap aturan yang berlaku (riil yang ada di RS).

Permenkes tentang standar profesi/pelayanan profesi

1. Latar belakang profesi


2. Deskripsi singkat (Kualifikasi pendidikan)
3. Pokok pembahasan (Kewenangan Dasar & Kewenangan Khusus)
4. Keterampilan khusus (Pelatihan)
5. Ketentuan : berupa rincian dasar pemberian kewenangan serta syarat-syarat untuk memperoleh
kewenangan
Pembicara : Riantina,S.Si.,MM

PEDOMAN PENGORGANISASIAN

Pedoman secara filosofi Alat untuk menunjukkan arah atau mata angin. Pedoman Kumpulan ketentuan
dasar yang memberi arah bagaimana sesuatu harus dilakukan.Definisi Pengorganisasian Proses kegiatan
penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan - tujuan, sumber - sumber, dan lingkungannya. Proses
pengorganisasian adalah sebagai berikut :

 Pembagian pekerjaan
 Memberi tugas

Tujuan pengorganisasian komite TKPL adalah


 sebagai pendukung utama dalam proses bisnis di rumah sakit.
 Menggambarkan identitas tenaga kesehatan yang tergabung dalam Komite TKPL.
 Terwujudnya suatu pelayanan yang sistematis, akurat, efisien dan efektif
 Meningkatnya mutu pelayanan masing-masing profesi yang tergabung dalam komite tenaga
kesehatan profesi lainnya.

Beberapa tantangan strategis yang dicanangkan yaitu :


 Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja.
 Terwujudnva staf vang memiliki kompetensi Terwujudnya integrasi riset dalam pelayanan dan
pendidikan.
 Terwujudnya sistem manajemen terintegrasi Rumah Sakit Umum Daerah Terwujudnya
kematangan proses bisnis dan organisasi di Departemen secara merata.
 Terwujudnya kesejahteraan pegawai.

Asesor dan Mitra Bestari

Asesor adalah seseorang yang berhak melakukan asesmen/pengujian terhadap kompetensi seseorang,
sesuai dengan ruang lingkup asesmennya. Dimana asesor akan berwenang dalam menilai dan memutuskan
hasil uji kompetensi, bahwa peserta uji telah memenuhi bukti yang dipersyaratkan untuk dinyatakan
kompeten atau belum kompeten pada unit kompetensi yang dinilai.

Mitra bestari ( peer group ) adalah sekelompok orang dengan reputasi dan kompetensi profesi yang baik
untukbmengkaji segala hal yang terkait dengan profesinya. Mitra bestari tidak memiliki sertifikasi khusus
dalam menjalankan tugasnya dan yang sangat diperlukan adalah pengalaman dalam bidangnya dan
memiliki kemampuan dalam mengkaji sesuai prosedur.

Prinsip Mitra Bestari

1. Dukungan Stakeholder/Manajemen
2. Memiliki Tanggungjawab Yang Professional
3. Tinjauan Sejawat Menghasilkan Inform Valid
4. Transparan dan Adil
5. Rekom Mitra Bestari utk Safety Patient

Kriteria
1. Berorientasi pada pasien/Patient cara
2. Memiliki ilmu kesehatan sesuai dengan profesi/Medical Knowledge
3. Komunikasi yang baik/Interpersonal and Communication Skills
4. Profesionalisme
5. System-Based Practice
NOTULEN : ERLINA,S.KM
Laporan hasil kegiatan kredensial
Kamis ,29 November 2018

Pembicara : Rhatna Dewi Riptasari,S.Si.,Apt

Pedoman Perilaku (Code of Conduct)

Pedoman Perilaku adalah kode atau aturan tata tertib dalam RS yang berisi sistem tata nilai, Etika
berperilaku, bertinak dan berinteraksi dengan semua pemangku kepentingan, dimana memiliki peranan
penting dalam keseharian perilaku layanan kesehatan. Tantangan yang dihadapi rumah sakit berupa
perkembangan teknologi medis, keterbatasan finansial, peningkatan ekspektasi, kontroversi dan dilema
etika baik di bidang manajerial dan klinis.

Tujuan

 Bersifat sebagai panduan perilaku di Rumah Sakit


 Paremeter evaluasi perilaku pegawai dalam semua kegiatan/pelayanan
 Semua memiliki sikap tindak,perilaku santun,profesional sejalan dengan budaya
 Mencegah,deteksi,koreksi tindakan yang menyimpang dari pedoman
 Mengembangkan lingkungan yang mendorong pelaporan permasalahan tanpa takut dan ragu
 Pengendalian perilaku yang efektif
12 Komitmen

 Pemangku kepentingan

 Perilaku
 Mutu dan keselamatan pasien
 Kerahasiaan informasi medik
 Peraturan dan hukum
 Pelayanan yang bermartabat
 Menghindari benturan kepentingan
 Perlindungan dan penggunaan informasi, properti dan aset
 Keselamatan lingkungan kerja
 Koding dan penagihan biaya perawatan
 Tanggung jawab sebagai rumah sakit pendidikan
 Kepatuhan terhadap pedoman penelitian klinik
Komitmen terhadap Pemangku Kepentingan
 Melaksanakan tugas dan tanggung jawab seusai hospital by laws dan undang-undang
 Menjaga hubungan baik dengan mitra kerja
 Menjalankan good governance dan mentaati semua kebijakan
 Melindungi dari pencemaran
Pelaporan
 Bersifat rahasia, “confidential”
 Pelapor diberikan perlindungan
 Telusur dan telaah laporan pelanggaran sebelum diberikan sanksi
Penegakan Prilaku
 Pelanggaran pedoman  sanksi sesuai tingkat pelanggaran
 Penanggung jawab: atasan langsung, Komite Etik dan Hukum, Bagian SDM, Wadir Direktur
Kemitraan dan Pendidikan, dan Direktur
 Sanksi pembinaan: peringatan lisan/tertulis untuk pelanggaran ringan; pembatasan
aktivitas/kewenangan atau penempatan dalam pengawasan untuk pelanggaran sedang
Pembelaan
 Sanksi ringan ditetapkan oleh atasan langsung atau bagian SDM
 Pelanggaran etika dan perilaku profesi keputusan direksi atas rekomendasi KEH
 Sanksi administratif/disiplin ketentuan undang-undang
 Pembelaan: menyampaikan keberatan bersama dengan alasan yang mendasari kepada Direktur
SDM dan Pendidikan.
Code of conduct (Pedoman Perilaku) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola RS
Pendidikan yang baik sehingga setiap staf dan karyawan RS selalu berpikir dan bertindak secara benar dan
tepat dalam situasi dan kondisi yang mengedepankan kepentingan RS
Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seorang NAKES untuk melakukan tindakan dibidangnya
yang diperoleh secara pribadi melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja.
Kewenangan adalah kewenangan yang diberikan oleh penguasa kepada NAKES untuk melakukan
pelayanan kesehatan ditempat (RS) tertentu dapat dicabut (dilarang melakukan jurisdiksi tertentu ) oleh
pemberi kewenangan.

RINCIAN KEWENANGAN KLINIS

Cara penentuan

1. Identifikasi fasilitas yang tersedia dan cek terhadap standar profesi


2. Rapatkan / diskusikan dengan Mitra Bestari dalam penentuan kompetensi dan kewenangan
3. Tentukan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan setempat
4. Mereferensi standar yang berlaku terhadap kompetensi suatu profesi
5. Tentukan batasan yang diperolehkan dalam prosedur yang aman bagi pasien
6. Buktikan kompetensi tersebut dengan dokumen dukungan : SPO, Intruksi kerja dll
7. Ujikan hasil kompetensi yang dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan yang tersedia

Pembicara : RENY UTAMI,AMT

RENCANA STRATEGIS KOMITE TENAGA KESEHATAN


PROFESIONAL LAINNYA

Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan : Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan, Sistematika Penulisan
BAB II Gambaran Umum Komite Tenaga Kesehatan Lainnya : Tugas Pokok dan Profesi Tenaga
Kesehatan Lainnya
Komite Tenaga Kesehatan Profesional Lainnya (TKPL) adalah unit kerja yang dibentuk dan bertanggung
jawab langsung kepada Direktur Rumah Sakit dengan struktur organisasi terdiri dari Ketua, Wakil Ketua
dan Sekretaris serta 3 (tiga) Sub Komite, yaitu :
• Sub Komite Kredensial
• Sub Komite Mutu Profesi
• Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi.
Tugas Pokok Komite TKPL
• Melaksanakan proses kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan profesional yang menjadi
staf profesi serta melaksanakan segala hal administrasi yang berkaitan dengan kegiatan yang
dilakukan oleh Sub Komite Kredensial.

• Melaksanakan dan menyelenggarakan pembinaan mutu tenaga kesehatan profesional lainnya


sehingga seluruh staf tenaga profesional lainnya dapat memberikan pelayanan yang berorientasi
pada mutu dan keselamatan pasien serta melaksanakan segala hal administrasi yang berkaitan
dengan kegiatan yang dilakukan oleh Sub Komite Mutu Profesi.

• Melaksanakan, penjagaan dan sosialisasi pembinaan etika dan disiplin profesi agar seluruh staf
tenaga kesehatan profesional lainnya memahami dan melaksanakan kode etik profesi mereka,
sehingga pelayanan masing-masing profesi terselenggara sesuai dengan etika profesi, serta
melaksanakan segala hal administratif terkait dengan kegiatan yang dilakukan oleh Sub Komite
Etika dan Disiplin Profesi.

BAB III Isu-isu Strategis Komite Tenaga Kesehatan Lainnya : Isu-isu Strategis, Faktor-faktor Kekuatan,
Kelemahan, Peluang dan Hambatan, Sasaran Strategis
Tantangan/ Isu-isu strategis meliputi:
• Meningkatnya kebutuhan kompetensi tenaga kesehatan yang unggul di bidangnya
• Kebutuhan adanya jenjang karir sesuai dengan level kompetensi dan kewenangan klinis
• Pasar bebas / masuknya tenaga asing di bidang kesehatan
• Meningkatnya kebutuhan pemahaman etika profesi tenaga kesehatan.
• Berkembangnya Program manajemen IT terintegrasi dalam bidang tenaga kesehatan
Faktor-faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Hambatan
Dalam menyusun rencana strategis Komite TKPL sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor yang
terkait dengan Komite TKPL sehingga nantinya bisa diperoleh langkah-langkah strategis untuk mencapai
tujuan/sasaran Komite TKPL.
1. Faktor Kekuatan
• SK Direktur tentang struktur organisasi komite tenaga kesehatan profesional lainnya.
• Jumlah tenaga kesehatan yang ada sebanyak 163 orang.
• Jenis pelayanan tenaga kesehatan yang menyeluruh
• Terakreditasi nasional KARS tahun 2018
2. Faktor Kelemahan
• Belum tersusunnya rincian kewenangan klinis yang terperinci
• Belum adanya pedoman pembinaan mutu tenaga kesehatan
• Belum adanya pembinaan etik dan disiplin profesi.
• Belum adanya sarana dan prasaranadalam menunjang kegiatan operasional komite
tenaga kesehatan profesional lainnya
• Jumlah tenaga kesehatan yang masih kurang
• Jumlah alokasi anggaran untuk pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.
• Belum tersosialisasi tentang fungsi dan peran komite tenaga kesehatan.
3. Faktor Peluang
• Adanya dukungan dari Manajemen
• Banyaknya permintaan kerjasama melalui pendidikan dan pelatihan untuk
pengembangan SDM Komite TKPL
• Undang-undang Tenaga Kesehatan no.36 Tahun 2014.
• Adanya kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di Indonesia
• Perkembangan IT dalam manajemen informasi tenaga kesehatan
• Adanya regulasi terkait lembaga Sertifikasi Profesi yang bekerjasama dengan organisasi
profesi dan kolegium tenaga kesehatan
4. Faktor Ancaman / Hambatan
• Belum adanya peraturan kesehatan mengenai komite tenaga kesehatan
• Berkembangnya rumah sakit swasta bertaraf nasional dan internasional
• Pasar bebas / masuknya tenaga asing di bidang kesehatan
Sasaran Strategis
A. Strategi meningkatkan Kekuatan
 Mewujudkan model komite tenaga kesehatan yang profesional
 Mewujudkan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan
 Mewujudkan tenaga tenaga kesehatan yang kompeten dan mengacu kepada rincian
kewenangan klinis
 Mewujudkan manajemen IT yang terintegrasi
 Menyelenggarakan rekomendasi kewenangan klinis
 Mewujudkan tenaga kesehatan yang kompeten dan jumlah yang cukup
B. Strategi meminimalkan ancaman
 Mewujudkan sistem komunikasi yang efektif dengan pihak Manajemen
 Staf komite tenaga kesehatan sesuai kompetensi
 Mewujudkan pedoman kewenangan klinis, pembinaan mutu, pembinaan etik dan disiplin profesi
 Meminimalkan tenaga kesehatan yang tidak menerapkan etika disiplin profesi
 Meminimalkan temuan dan komplain terhdap pelayanan tenaga kesehatan

BAB IV Visi Misi : Visi dan Misi


Komite Tenaga Kesehatan Profesional Lainnya (TKPL) mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan
kredensialing, penjagaan dan peningkatan mutu profesi, penjagaan serta pembinaan disiplin dan etika
profesi.
• Visi
“ Menjadi Tenaga Kesehatan yang profesional, handal dan bermartabat.”
• Misi
• Berperan serta dalam pelayanan kesehatan yang bermutu prima.
• Meningkatkan SDM tenaga kesehatan yang berkomitmen tinggi, beretika dan terpercaya.
• Berperan dalam mendorong peningkatan pendidikan, pelatihan dan penelitian dibidang
kesehatan bagitenaga kesehatan profesional lainnya.
• Berperan dalam meningkatkan manajemen yang efektif dan efisien.

BAB V Rencana Program dan Kegiatan : Program dan Kegiatan


• Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kegiatan :
• Pengadaan dan pemeliharaan meubeleur( meja, kursi dll)
• Pengadaan dan pemeliharaan alat dan perlengkapan kantor
• Pemeliharaan berkala gedung kantor
• Program peningkatan SDM Kegiatan:
• Pendidikan dan pelatihan ( workshop kredensial)
• Rapat – rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah
• Pelaksanaan Kredensial dan rekredensial
• Pogram Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan:
• Rapat secara berkala setiap 1(satu) bulan sekali
• Pengadaan alat tulis kantor

BAB VI Indikator Kinerja : Indikator-indikator Kinerja

Sebagai tolak ukur dalam evaluasi dan monitoring pelaksanaan kegiatan oleh Komite TKPL, maka
indikator-indikator kinerja yang harus diperhatikan antara lain :

Sub Komite Kredensial


Indikator kinerja utama:
• Terselenggaranya proses kredensial dan rekredensial terhadap seluruh tenaga kesehatan
profesional lainnya.
• Direktur mendapat masukan yang berkualitas dalam pemberian surat penugasan klinis.
• Dokumen-dokumen sub komite kredensial tertata rapi dan siap di gunakan kapanpun
diperlukan.
• Semua kegiatan sub komite terdokumentasi dengan baik.
• Hadir 100% rapat komiteTKPL.

SubKomite Mutu Profesi


Indikator kinerja utama:
• Terselenggaranya audit mutu Tenaga Kesehatan Profesional lainnya secara rutin.
• Hasil audit disampaikan kepada direktur dan disebarkan kepada unit – unit terkait.
• Identifikasi kebutuhan pelatihan profesi tenaga kesehatan.
• Dokumen-dokumen sub komite mutu profesi tertata rapi dan siap digunakan kapanpun
diperlukan
• Semua kegiatan sub komite terdokumentasi dengan baik.
• Hadir 100% rapat komite TKPL.
Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi
Indikator kinerja utama :
• Tersusunnya buku kode etik profesiuntuk tenaga kesehatan profesional lainnya.
• Seluruh staf profesi memahami kode etik masing – masing tenaga kesehatan lainnya.
• Permasalahan etika dan disiplin profesi yang menyangkut tenaga kesehatan lainnya
terselesaikan dengan baik.
• Terbitnya rekomendasi – rekomendasi terkait kasus etik dan disiplin profesi.
• Dokumen-dokumen sub komite etik dan disiplin profesi tertata rapi dan siap digunakan
kapanpun diperlukan.
• Semua kegiatan sub komite terdokumentasi dengan baik.
• Hadir 100% rapat komite TKPL.

BAB VII Penutup

Dengan telah disusunnya Rencana Strategis Komite Tenaga Kesehatan Profesional Lainnya ini maka
diharapkan bisa digunakan Komite TKPL sebagai acuan/dasar dalam menyusun rencana kerja tahunan,
sebagai indikator pengukuran kinerja lima tahunan dan juga sebagai dasar dalam pelaksanaan monitoring
dan evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan.

KREDENSIAL

Kredensial adalah proses formal yang digunakan untuk menverifikasi suatu keahlian/kompetensi
berdasarkan pengalaman dan profesionalisme seseorang dalam memberikan pelayanan yang spesifik
dengan mengedepankan keselamatan pasien dan bermutu tinggi dalam keahlianya. Dengan proses
kredensial ini menentukan suatu kewenangan yang diberikan kepada tenaga kesehatan yang berhak
berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan pengalaman. Sehingga suatu pelayanan yang diberikan sesuai
dengan prosedur yang berlaku dan aman bagi pasien serta staf/pegawai.

Prinsip Kredensial

• Keselamatan pasien merupakan prinsip dasar dalam proses kredensial dan ruang lingkup pelayanan
kesehatan tertentu merupakan karakter spesifik sesuai dengan fasilitas yang tersedia.

• Akuntabilitas suatu profesionalisme tenaga kesehatan dalam menjalankan layanan kesehatan.

• Kredensial dan ruang lingkup layanan kesehatan tertentu dijadikan dasar dalam kegiatan keseharian
pelayanan kesehatan secara konsisten dan suatu ruang lingkup khusus seorang tenaga kesehatan di
fasilitas kesehatan dijalankan sesuai tugasnya masing-masing.

• Menjaga mutu tenaga kesehatan dengan program pendidikan dan pelatihan berkesinambungan.

Tujuan kredensial

a. Mengukur batas aman tingkat kemampuan tenaga kesehatan terhadap pelayanan kesehatan yang
mereka kerjakan sesuai dengan prosedur.

b. Meningkatkan kemampuan suatu keahlian/kompetensi tertentu dengan motivasi belajar yang


tinggi.

c. Sebagai bahan identifikasi dari gap kompetensi terhadap pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
tenaga kesehatan secara berkesinambungan.

d. Mempersiapkan tenaga kesehatan yang professional untuk memasuki masyarakat ekonomi


ASEAN yang dapat bersaing.
Manfaat kredensial

a. Syarat penilaian dalam akreditasi Nasional dan Internasional.


b. Standar penetepan dalam penerimaan tenaga kesehatan (kualifikasi rekuitmen) di fasilitas
kesehatan tertentu.
c. Perencanaanakan kebutuhan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan selanjutnya.
d. Penempatan tenaga kesehatan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dan layanan pasien.
e. Mempertahankan dan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan yang sesuai bidangnya.

Instrumen adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan dalam kegiatannya mengumpulkan data agar
kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.

Jenis-jenis instrumen
1. Kebijakan
2. Pengajuan
3. Rincian kewenangan/Delineation of Clinical Privillege
4. Penugasan klinis/Clinical Appoitment

Langkah Menyusun Instrumen Kredensial

1. Identifikasi kebutuhan, sebelum menyelenggarakan proses kredensial di indentifikasi kebutuhan


instrumen yang memudahkan dalam pengisian dan pelaksanaan.
2. Sesuaikan desain/jenis intrumen dengan kebutuhan yang tidak membebani/sulit dikerjakan.

NOTULEN : ERLINA,S.KM