Anda di halaman 1dari 10

KETERKAITAN SIFAT OPTIK MINERAL DALAM IDENTIFIKASI

BATUAN METAMORF

BAB I : PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Mineral merupakan benda padat dan homogen yang ditemukan secara
alami, mempunyai sifat fisik dan kimia tertentu, biasanya ditemukan dalam
bentuk kristalin, dan merupakan zat anorganik. Keterdapatan mineral di bumi ini
dapat membentuk batuan atau berasosiasi dengan mineral lain dalam membentuk
batuan. Memahami karakteristik dan genesa mineral khususnya melalui sifat
optis suatu mineral dapat mempermudah dalam mendeskripsikan baik mineral itu
sendiri ataupun asosiasi mineral tersebut dalam batuan, sehingga klasifikasi
batuan dapat dilakukan dengan baik dengan memperhatikan komposisi batuan
tersebut serta mempertimbangkan tekstur batuan yang berkembang .Untuk lebih
memahami asosiasi mineral diharuskan memiliki pemahaman terdapat setiap
klasifikasi batuan sehingga terbentuk pola pikir yang logis atas keterdapatan
setiap mineral dalam batuan tertentu.

Kemudian bagaimanakah keterkaitan Sifat Optik Minral dalam identifikasi


Batuan Metamorf ?

B. TUJUAN

Untuk mengetahui keterkaitan Sifat Optik Minral dalam identifikasi Batuan


Metamorf.

C. RUANG LINGKUP

Segala bentuk sifat optik mineral dalam identifikasi batuan Metamorf


BAB II : LANDASAN TEORI

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses


metamorfisme batuan-batuan sebelumnya karena perubahan temperatur dan
tekanan. Metamorfisme terjadi pada keadaan padat (padat ke padat)
meliputi proses kristalisasi, reorientasi dan pembentukan mineral-mineral
baru serta terjadi dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan
lingkungan batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral yang mempunyai
batas-batas kestabilan tertentu yang jika dikenakan tekanan dan temperatur
yang melebihi batas tersebut maka akan terjadi penyesuaian dalam batuan
dengan membentuk mineral-mineral baru yang stabil.Disamping karena
pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga dipengaruhi oleh
fluida, dimana fluida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara butiran
mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion terlarut
akan mempercepat proses metamorfisme. Batuan metamorf memiliki
beragam

karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh beberapa


faktor dalam pembentukan batuan tersebut:

 Komposisi mineral batuan asal


 Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme
 Pengaruh gaya tektonik
 Pengaruh fluida

Mineral metamorfik adalah mineral yang terbentuk hanya pada


suhu dan tekanan tinggi terkait dengan proses metamorfosis. Mineral ini,
yang dikenal sebagai mineral - mineral indeks, termasuk silimanit, kyanit,
staurolit, andalusit, dan beberapa garnet.

Mineral lainnya, seperti olivin, piroksen, ampibol, mika, feldspar, dan


kuarsa dapat ditemukan dalam batuan metamorf, tetapi belum tentu merupakan
hasil dari proses metamorfisme. Mineral ini terbentuk selama kristalisasi batuan
beku. Mineral tersebut stabil pada suhu dan tekanan tinggi yang secara kimia
tidak berubah ketika selama terjadinya proses metamorfisme. Namun, semua
mineral stabil hanya dalam batas-batas tertentu, dan adanya beberapa mineral
dalam batuan metamorf menunjukkan perkiraan suhu dan tekanan di mana
mereka terbentuk. Perubahan ukuran partikel batuan selama proses metamorfisme
disebut rekristalisasi. Misalnya, kristal kalsit kecil pada batugamping berubah
menjadi kristal yang lebih besar di marmer pada batuan metamorf, atau dalam
batupasir yang termetamorfosis, rekristalisasi dari kuarsa asal butir-butir pasir
menghasilkan kuarsit yang sangat kompak, atau biasa disebut dengan metakuarsit,
dimana kristal kuarsa yang lebih besar biasanya saling bertautan. Baik suhu
maupun tekanan yang tinggi berkontribusi terhadap rekristalisasi. Tekanan yang
tinggi memungkinkan atom dan ion dalam kristal padat untuk bermigrasi,
sehingga membentuk suatu susunan baru pada kristal, sementara temperatur
tinggi menyebabkan pelarutan kristal dalam batuan di titik kontak mereka.
BAB III : PEMBAHASAN

Lain halnya dengan batuan sedimen dan batuan beku, dimana kedua
proses pembentukan batuan tersebut perna dan dapat dilihat oleh manusia, maka
pembentukan batuan ubahan (Batuan Metamorf) tidak perna dilihat orang secara
langsung, walaupun demikian pembentukan batuan ini tidak hanya berdasarkan
perkiraan saja, akan tetapi semua berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang logis
dan dapat dipertanggung jawabkan. Penelitian ini terutama didasarkan pada
perubahan-perubahan fisika, sifat optik dan sifat kimia dari mineral-mineral yang
terbentuk secara sedimentasi ataupun secara pembekuan dibandingkan setelah
adanya perubahan menjadi batuan Metamorf. Hal ini sesuai dengan namanya
yang bersal dari Bahasa yunani ‘’ Metemorfisme’’ yang berate berubah bentuk
(Noer Aziz Megetsari, 2001)

Dalam hal ini, umumnya batuan ubahan bersal dari batuan sedimen
ataupun batuan beku. Dengan sendirinya selain terlihat perubahan pada bentuk
fisik batuan, juga dari mineral penyusunnya. Besar kecilnya derajat perubahan itu
tergantung sekurang-kurangnya terhadap tiga faktor yaitu :

1. Adanya perubahan tempertaur tinggi

Pada umumnya perubahan tempertaur jauh lebih efektif daripada


perubahan tekanan dalam hal pengaruh bagi perubahan mineralogi. Katalisator
berfungsi mempercepat reaksi terutama pada metarmorfosa tempertur rendah.

Ada dua hal yang mempercepat reaksi itu :

 Adanya larutan-larutan kimia yang berjalan antar ruang butir.


 Deformasi batuan, dimana batuan pecah-pecah menjadi batuan yang kecil
sehingga memudahkan kontak antar larutan kimia dan fragmen-fragmen.
(Soeakardie, 1985)
2. Adanya perubahan tekanan yang besar

1. Tekanan Hidrostatik
2. Tekanan Searah (Stress)

3. Faktor Lain

Yaitu adanya faktor yang mempengaruhi sifat ketahanan mineral asal terhadap
tekanan dan temperature

Pada metamorfisme merupakan proses isokimia dimana tidak terjadi


penambahan unsur-unsur kimia. Proses metamorfisme berjalan tanpa melalui fase
padat. Dalam proses metamorfisme yang berubah adalah tekstur dan asosiasi
mineral dan yang tetap adalah komposisi kimia. (Soekardi, 1985)

Macam-macam Metamorfisme :

1. Metamorfisme Termal (Kontak)

Faktor utama yang sangat berperan adalah panas, sedangkan tekanan


relatif rendah, terjadi pada intruksi magma, bias dijumpai disekitar instruksi/
batuan plutonik.

Metamorfisme termal terbagi atas 3 yaitu :

1.Pirometamorfisme : Terbentuk oleh pengaruh langsung panas intruksi magma,


contoh; Hornfelsik, Skran

2.Pneumatolysa : Pengaruh gas-gas panas dari magma yang sedang naik, yang
dapat merubah batuan sekelilingnya dan membentuk mineral-mineral baru contoh
batuan ; Tourmaline Slate dan Tourmaline Hornfels

3.Hydrotermal : Metamorfisme yang disebabkan oleh larutan panas pada waktu


terjadi instruksi, Contoh ; Quarsit dan Pyrophyllite.
2. Metamorfisme Dynamo Atau Kataklastik

Dimana faktor yang memegang peranan penting adalah tekanan dan daerah
relatif sempit. Terjadi karena penghancuran batuan oleh sesar.

3. Metamorfisme Regional

Terjadi akibat perubahan temperature dan tekanan secara bersamaan


meliputi daerah yang luas, misalnya pada geosingklin yang mengalami
sedimentasi kemudian terlipat, daerah metamorfisme regional dibagi tiga yaitu :

1.Epizone : Daerah metamorfisme regional rendah dengan temperature ( 350oC),


Tekanan Hidrostatik rendah dan tekanan kadang-kadang sangat tinggi dan lain-
lain.

2.Mesozone : Temperatur Sedang ( 350o-500o)C, Tekanan hidrostatik dan terarah


sedang pada kedalaman menengah. Contoh Sekis Biotit

3. Katazone : Temperatur Sangat Tinggi dan Tekanan terarah rendah, terbentuk


pada kedalaman kerak bumi, berasosiasi dengan batuan intrusi.

Komposisi – Komposisi Mineral Batuan Metamorf :

Kuarsa : Bentuk Mineral Kuarsa pada Batuan Metamorf yaitu Pipih atau
mengkristal tak beraturan. Kuarsa, bentuk dengan ciri poligonal

Mika : Bentuk Pipih dan berlembar-lembar halus, dapat memberikan warna


interferensi yang akan lebih gelap dari batuan asalnya

Klorit : Berwarna Hijau pada saat Nikol sejajar, Sudut gelapan 2o-9o belahan 1
arah, bentuk fibrous

Andalusit : Warna Transparan sampai dengan merah, Sudut Gelapan 900, Relif
tinggi, Pleokrisme Dwikroik
Silimatite : Warna absorbs tidak berwarna, bentuk prismatic panjang berserabut,
sudut gelapan 45o jenis gelapan simetris

Kyanite : Warna transparan sampai Biru Muda, bentuk plate tabular, Relif Tinggi
Pleokrisme Monokroik, Sudut gelapan membentuk 85o

Garnet : Warna Coklat Muda pada saat nikol sejajar, nikol silang berwarna hitam,
bentuk Kristal Euhedral, Relif sangat tinggi Belahan 2 arah

Cordierite : Warna Transparan, Bentuk Kristal prismatic pendek, relief rendah,


sudut gelapan 90o, kembaran polisinetik

Straulite : Warna Kuning mudapada saat nikol sejajar, nikol silang berwarna
hitam, relif tinggi, dijumpai adanya inklusi kuarsa

Spehene : Warna transparan, bentuk euhedral seperti ketupat, relif tinggi, jenis
gelapan simetris

Tekstur Batuan Metamorf :

Tekstur batuan metamorf merefleksikan sejarah pembentukannya. Tekstur


batuan batuan metamorf dibagi 2 golongan yaitu :

A. Kristaloblastik : Yaitu perubahan bentuk/komposisi mineral sehingga tekstur


asal tak terlihat lagi

1. Lapidoblastik : Apabila Terdiri dari mineral-mineral tabular.

2. Nematoblastik : Apabila terdiri dari Mineral-mineral yang prismatic.

3. Granoblastik : Apabila terdiri dari mineral-mineral-mineral equidimisional


granular dengan batas-batas yang tak teratur.
4. Phorphyroblastik : Tekstur yang ukuran mineralnya lebih besar yang dikelilingi
oleh mineral yang pipih
5. Mozaik Tekstur : Tekstur equidimensional atau equigranular mineralnya
membentuk polygonal seperti pada marmer
6. Decussate Tekstur : Tekstur dari polimineral serabut dengan orientasi mineral
tidak teratur
B. Tekstur Sisa Yaitu tekstur disebut juga palimpsest/relik tekstur yaitu tekstur
yang masi memperlihatkan tekstur batuan asalnya. Bedanya dengan kristaloblastik
iala kata tambahan blasto dijadikan awalan kata.
1.Blastoporpiritik : Tekstur sisa yang bersifat porfiritik
2.Blastopsammitik : Tekstur sisa bersifat pasir
3.Blastopelitik : Tekstur sisa bersifat Lempung
Bentuk Individidu Mineral : :
- Idioblastik : apabila mineral berbentuk Euhedral.
- Hypidioblastik : apabila mineral berbentuk anhedral.

Struktur Batuan Metamorf

Struktur batuan metamorf terbagi menjadi 3 yaitu :

1. Foliasi
Adalah struktur parallel yang ditimbulkan oleh mineral-mineral pipih sebagai
akibat proses metamorfosa.
 Slaty cleavage : penjajaran mineral dari suatu bidang tertentu,
rekristalisasi kecil
 Schistose : penjajaran mineral pipih relative jauh lebih banyak dari
mineral butiran
 Gneiss struktur : butiran prismatic dan tabular mineral pipih dalam
jumlah lebih kecil

2. Non Foliasi

Adalah struktur yang dibentuk oleh mineral equidimensional atau granular

 Boudinage struktur
 Milonitik struktur
 Augen milonitik struktur
 Phyllonitik struktur
BAB IV : KESIMPULAN

Sifat optik mineral sangat erat kaitannya dalam mengidentifikasi batuan


metamorf dengan melihat ciri fisiknya kita dapat menentukan genaesa karena
perubahan yang terjadi pada batuan metamorf tidak hanya merubah bentuk fisik
dari batuannya melainkan juga mineral penyusunnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku panduan praktikum Mineral Optik-Petrografi, Universitas Tadulako
‘’Untad’’ Palu 2019-2020