Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan

melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis (Keliat 2010 :13).

Resiko perilaku kekerasan merupakan prilaku yang memperlihatkan individu

tersebut dapat mengancam secara fisik, emosional dan seksual kepada orang lain

(NANDA-I 2012-2014 Herdman 2012 : 14).

Kesehatan jiwa merupakan bagian integral dari kesehatan dan kondisi yang

memungkinkan fisik, mental dan sosial individu secara optimal dan selaras

dengan perkembangan orang lain yang sehat jiwa (UUD No 3 th 1996).

Individu yang mengalami gangguan jiwa ditandai dengan ketidakmampuan

berpungsi secara optimal dalam kehidupannya sehari-hari dan untuk mengatasi

masalah tersebut tidak jarang individu tersebut membutuhkan terapi, akan tetapi

tanpa disertai do’a tidak akan lengkap, sebaliknya do’a saja tampa disertai terapi

tidaklah efektif. Hal ini sesuai dengan ajaran islam dalam AL-Qur’an surat As-

Syam ayat 7-10 ;

‫َاو َم َاونَ ْفس‬ َ ‫ورهَا فَأ َ ْل َه َم َها‬


َ ‫س َّواه‬ َ ‫ساهَا َم ْن خَا َب َوقَدْزَ َّكاهَا َم ْن أ َ ْفلَ َح قَد َْوت َ ْق َواهَا فُ ُج‬
َّ َ‫د‬

Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanNya), maka Allah

mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya

merugilah orang yang mengotorinya (AL-Qur’an surat As-syam 7-10).

1
2

Perilaku kekerasan merupakan respons terhadap stresor yang dihadapi oleh

seseorang, yang ditunjukan dengan prilaku aktual melakukan kekerasan, baik diri

sendiri orang lain maupun lingkungan, secara verbal maupun nonverbal, bertujuan

melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Iyus Yosep, 2014).

Untuk itu perlu dilakukan upaya diantaranya program intervensi dan terapi

yang implentasinya yang bukan hanya di rumah sakit tetapi dilingkungan

masyarakat

(community based psyciatric services) (Priyanto, 2007). Maka dari itu peran serta

keluarga adalah satu usaha untuk mengurangi angka kekambuhan penderita

halusinasi. Mengingat keluarga merupakan sistem pendukung utama yang

memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat sakit penderita. (Anna

K, dalam Nurdiana, 2007).

Keluarga merupakan unit paling dekat dengan penderita, dan merupakan

“perawat utama” bagi penderita. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat

hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Kebutuhan fisik (sandang, pangan,

papan),

kebutuhan social (pergaulan, pengakuan, sekolah, pekerjaan) dan kebutuhan

psikis

termasuk rasa ingin tahu, rasa aman, perasaan religiusitas, tidak mungkin

terpenuhi tanpa bantuan orang lain. Apalagi jika orang tersebut sedang

menghadapi masalah,

baik ringan maupun berat. Pada saat menghadapi masalah seseorang akan mencari

dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya, sehingga dirinya merasa dihargai,


3

diperhatikan dan di cintai. Contoh nyata yang paling sering dilihat dan dialami

adalah

bila ada seseorang yang sakit dan terpaksa dirawat di rumah sakit, maka sanak

saudara ataupun teman-teman biasanya datang berkunjung. Dengan kunjungan

tersebut maka orang yang sakit tentu merasa mendapat dukungan sosial.

Dukungan sosial (social support) didefenisikan oleh Kuntjoro (2005) sebagai

informasi verbal atau non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku

yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di lingkungan

sosialnya.

World Healt Organitation, masalah gangguan jiwa di dunia ini sudah menjadi

masalah yang semakin serius, paling tidak terdapat 1 dari 4 orang didunia ini yang

mengalami gangguan jiwa. Hasil riset WHO diperkirakan sekitar 450 juta orang

didunia ini ditemukan mengalami gangguan jiwa, saraf, maupun prilaku (WHO

2015).

Data riset kesehatan dasar 2015 mencatat prevalensi gangguan jiwa di

Indonesia mencapai 1, 7% dari 1000 penduduk Indonesia yang mengalami

gangguan jiwa yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan

berkomunikasi, gangguan realitas, kognitif serta sukar melakukan aktivitas sehari-

hari (Kemenkes 2014).

Upaya pencegahan gangguan jiwa perilaku kekerasan dapat dilakukan dengan

cara pencegahan primer dikomunitas mengidentifikasi anggota keluarga yang

bresiko tinggi terhadap gangguan jiwa. Meningkatnya fungsi keluarga dalam

pencegahan sekunder meliputi pengobatan. Dampak bila gangguan jiwa perilaku


4

kekerasan tidak diatasi akan beresiko pada klien untuk menciderai dirinya sendiri,

orang lain maupun lingkungan.

Menurut penulis, pendeta resiko peri laku kekerasan yang mendapatkan dukungan

keluarga mempunyai kesempatan berkembang kearah positif secara maksimal,

sehingga penderita akan bersikap positif, baik terhadap dirinya maupun

lingkungannya karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang

dikenal. Dengan dukungan keluarga yang seimbang bagi penderita diharapkan

baginya agar dapat meningkatkan kesembuhan.

data yang didapatkan dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung pada bulan

Januari-Maret 2017 di ruangan Cendrawasih terdapat 195 pasien yang mengalami

gangguan jiwa dimana, 95 orang resiko perilaku kekerasan (38%), 63 orang

halusinasi (12%), 8 orang isolasi sosial (15%), 17 orang harga diri rendah

(33%),12 orang difisit perawatan diri (23%).

Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan hubungan

dukungan keluarga terhadap kesembuhan kelien Gangguan resiko perilaku

kekerasan di ruangan Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung.

1.2 Batasan masalah

Peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan dukungan keluarga terhadap

kesembuhan kelien Gangguan resiko perilaku kekerasan di ruangan Cendrawasih

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung 2018

1.3 Rumuusan masalah

Bagaimanakah hubungan dukungan keluarga terhadap kesembuhan kelien


Gangguan resiko perilaku kekerasan di ruangan Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Lampung tahun 2018 ?
5

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan umum

Penulis mampu melaksanakan Hubungan dukungan keluarga terhadap

kesembuhan kelien Gangguan resiko perilaku kekerasan di ruangan Cendrawasih

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung, secara komprehensif meliputi biologis,

psikologis, sosial, dan spiritual dengan pendekatan proses keperawatan di Rumah

Sakit Jiwa Provinsi Lampung.

1.4.2 Tujuan khusus

Penulis mampu menggambarkan :

1) Mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap


kesembuhan Gangguan resiko perilaku kekerasan di ruanga
1.5 Manfaat penelitian

1.5.1 Secara teoritis

Untuk dapat dijadikan sebagai masukan untuk membantu proses

penyembuhan dan untuk memberikan dukungan yang tepat. Serta sebagai

masukan untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan terutama kesehatan jiwa.

1.5.2 Secara praktis

1) Perawat

Untuk menambah wawasan dalam keperawatan jiwa, dan dapat

menemukan serta memecahkan masalah yang ada.

2) Institusi Pendidikan
6

Yaitu menambah literatur tentang penderita gangguan jiwa, dan hasil

peneliti dapat digunakan sebagai sumber dalam pengembangan ilmu

pengetahuan penelitian selanjutnya.

3) Pasien

Sebagai dasar supaya individu trutama pasien dengan resiko perilaku

kekerasan mengikuti rehabilitasi dengan baik.

4) Rumah sakit.

Sebagai Hasil ini dapat menambah pengetahuan pada keluarga akan

pentingnya dukungan bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

halusinasi terhadap tingkat kesembuhannya.


7

BAB II

TINJAUAN TEORI

1.2 Pengertian

Resiko perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan

melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis (Keliat, 2010).

Kekerasan atau kemarahan adalah keadaan emosional yang bervariasi dalam

intensitas ringan hingga kemarahan yang intens (berat), hal ini disertai dengan

perubahan pisiologis dan psikologis, seperti peningkatan denyut jantung tekanan

darah dan kadar hormon ( Tousend, 2009).

Gangguan jiwa merupakan manisfestasi dari benuk penyimpangan perilaku

dari akibat adanya distorsi emosi sehingga ditemukan ketidakwajaran dalam

bertingkah laku, hal ini terjadi karena menurunnya semua fungsi kejiwaan (Abdul

Nasir & Abdul Mubah, 2011:8).

2.2 Etiologi

1) Predisposisi

a) Faktor psikologis

1) Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan

mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi

perilaku kekerasan

2) Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil

yang kurang menyenangkan

3) Frustasi

4) Kekerasan dalam rumah tangga atau keluarga


8

b) Faktor sosial budaya

Seseorang akan berespon terhadap peningkatan emosionalnya secara

agresif sesuai dengan respon yang di pelajari. Faktor ini dapat dipelajari

melalui observasi dan imitasi. Budaya juga dapat mempengaruhi prilaku

kekerasan seperti adanya norma yang dapat membantu marah yang dapat

diterima dan yang tidak diterima.

c) Faktor biologis

Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian stimulus

elektris ringan pada hipotalamus ternyata menimbulkan prilaku agresif,

dimana jika terdapat kerusakan limbic (untuk emosi dan prilaku), lobus

frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk

interprestasi penciuman dan memori), akan menimbulkan mataterbuka

lebar, pupil berdilatasi dan hendak menyerang objek yang ada di

sekitarnya.

2) Faktor presipitasi

Secara umum seseorang akan marah jika dirinya terancam,baik berupa

injury secara psikis, atau ancaman konsep diri, beberapa faktor pencetus

perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :

a) Klien kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan, kehidupan

yang penuh dengan agresif dan masa yang tidak menyenangkan.

b) Interaksi, penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik,

terancam baik internal dari permasalahan dari klien sendiri maupun dari

eksternal yaitu lingkungan ( Satuart, 2009:20-29)


9

2.3 Tahapan resiko prilaku kekerasan

Tahapan perilaku agresif atau resiko perilaku kekerasan menurut Fontaine

2009 dalam buku Satrio K.S (2015 ) yaitu :

1) Tahap I : tahap memicu

Perasaan :cemas

Perilaku :agitasi, mondar- mandir, menghindari kontak

Tindakan keperawatan : mengidentifikasi faktor pemicu, mengurangi cemas

2) Tahap II :tahap transisi

Perasaan : marah

Perilaku : agitasi

Tindakan keperawatan : jangan tangani marah dengan marah, menjaga

pembicaraan.

3) Tahap III : krisis

Perasaan : peningkatan kemarahan dan agresi

Perilaku : agitasi gerakan mengancam menyerang orang disekitar

Tindakan keperawatan:jagajarak, hangat (tidak mengancam), konsekuensi,

menjaga komunikasi

4) Tahap VI : perilaku merusak

Perasaan : marah

Perilaku : menyerang merusak

Tindakan keperawatan lindungi klien lain, hindari pengekangan fisik


10

5) Tahap V : tahap lanjut

Perasaan : agitasi

Perilaku : menghentikan terang-terangan destruktif, pengurangan tingkat

gairah.

Tindakan keperawatan : tetap waspada karena perilaku kekerasan masih

memungkinkan, hindari pembalasan atau balas dendam.

6) Tahaf VI : tahap peralihan

Perasaan : agitasi, mondar-mandir.

Tindakan keperawatan lanjutkan fokus masalah utama.

2.4 Tanda dan gejala

Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawa kerumah

sakit adalah perilaku kekerasan dirumah,klien dengan perilaku kekerasan

menunjukan adanya tanda dan gejala adalah :

1) Data obyektif : muka merah,pandangan tajam, otot tegang, suara nada

tinggi, berdebat, sering pula tampak memaksakan kehendak, merampas

makanan, memukul jika tidak senang.

2) Data subyektip : mengeluh merasa terancam, mengungkapkan perasaan

tidak berguna, mengungkapkan perasaan jengkel, mengungkapkan

adanya keluhan fisik, berdebar-debar, merasa tercekik, dada sesak,

bingung.

( Ridhyalla Alnuhai & Marni : 2015 :133).


11

2.5 Penatalaksanaan medik

1) Farmakotrapi :

a) Obat anti psikosis, (CPZ atau HLP)

b) Obat anti depresi, amitriptyline

c) Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam.

d) Obat anti insomnia, phneobarbital

2) Terapi modalitas

3) Terapi keluarga

Berpokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalahklien

dengan memberikan perhatian:

a) Bina hubungan saling percaya (BHBS)

b) Jangan memancing emosi klien

c) Libatkan klien dengan kegiatan yang berhubungan dengan keluarga

d) Memberikan kesempatan pada klien dalam megemukakan pendapat

e) Anjurkan pada klien untuk mengungkapkan masasalah yang dialami

f) Mendengarkan keluhan klien

g) Membantu memecahkan masalah yang dialami klien

h) Hindari penggunaan kata-kata yang menyakiti prasaan klien

i) Jika klien melakukan kesalahan jangan lagsung memvonis

j) Jika terjadi prilaku kekerasan yang dilakukan adalah : bawa klien ketempat

yang tenang dan aman, hindari benda tajam, lakukan fiksasi sementara,

rujuk ke pelayanan kesehatan.

4) Terapi kelompok
12

Berpokus pada perkembangan, keterampilan sosial atau aktivitas lain dengan

berdiskusi dan bermain untuk megembalikan kesadaran klien karena masalah

sebagian orang merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain

( Ridhyalla Alnuhai & Marni : 2015 :133).

2.6 Rentang respon resiko perilaku kekerasan

Rentangrespon marah menurut Stuart dan Sunden (1995) dalam buku Satrio

KS. (2015 :16) sebagai berikut:

Respon adaptif Respon maladaptif

Asertif Fasif Frustasi Agresif Amuk

1) Asertif adalah menyampaikan perasaan diri dengan pasti dan merupakan

komunikasi untuk menghormati orang lain. Individu yang asertif berbicara

dengan jujur dan jelas. Klien mengungkapkan marah tanpa menyalahkan

orang lain dan memberi kelegaan.

2) Fasif adalah individu yang fasif sering menyampingkan haknya dari

persepsinya terhadap hak orang lain serta tidak berdaya.

3) Frustasi adalah kegagalan individu dalam mencapai tujuan yang kurang

realistis atau hambatan dalam mencapai tujuan.

4) Agresif adalah tidak menghargai hak orang lain. Individu merasa harus

bersaing untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


13

5) Amuk adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat yang disertai

kehilangan kontrol diri sehingga individu dapat merusak diri sendiri,

oranglain dan lingkungan (Stuar & Laria, 2005;Stuart, 2009).

2.7 Proses terjadinya masalah

Perilaku kekerasan merupakan salah satu respon maladdaptif dari marah.

Marah adalah emosi yang kuat. Ketika ditolak atau dipendam dapat memicu

masalah fisik seperti sakit kepala, migren, ulcers, radang usus dan bahkan

penyakit jantungkoroner. Ketika ditujukan kedalam diri sendiri, marah dapat

mengakibatkan depresi dan harga diri rendah. Ketika di ungkapkan tidak dengan

tepat, dapat memperburuk hubungan, ketika ditekan atau supresi, marah dapat

berubah menjadi kebencian yang sering dimanisfestasikan sebagai perilaku diri

yang negatif dari pasif sampai agresi (Tounsend, 2009: 19).


14

Tabel 2.1 Perbandingan perilaku asertif, pasif dan agresif (Stuar &Laria,

2005; Stuart, 2009).

Aspek Pasif Asertif Agresif


Isi Negatif Positif, Menyombongkan
pembic Merendah menawarkan diri,
araan kan diri misalnya merendahkan
diri, :saya oranglain
misalnya mampu”sayab misalnya
saya isa” :”kamupasti tidak
melakuka Anda bisa, kamu selalu
n itu ? boleh,anda melanggar’’
dapat”
Tekana Lambat, Sedang Keras,ngotot
n suara mengeluh
Posisi Menunduk Tegap dan Kaku condong
badan an kepala santai kedepan
Jarak Mengajak Mempertahan Siap dengan jarak
jarak kan jarak dengan akan
dengan yang nyaman menyerang orang
sikap lain
mengabai
kan
Penamp Loyo tidak Sikap tenang Mengancamposis
ilan tenang i menyerang
Kontak Sedikit/sa Mempertahan Mata melotot dan
mata ma sekali kan kontak dipertahankan
tidak mata
15

Penyebab kemarahan atau resiko perilaku kekerasan secara umum adalah :

Faktor predisposisi

Biologis Psikologis Sosial Kultual

Sensor Presipitasi

Nature Origin Timing Number

Penilaian Terhadap Stresor

Kognitif Afektif Fisiologis Prilaku Sosial

Sumber Koping

Kemampuan Person Dukungan Sosial Aset Material Keyakinan Positip

Mekanisme Koping

Konstruktif Destruktif

Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Gambar 2.1 Psikodinamika masalah keperawatan jiwa (Stuart, 2009:20).


16

2.8 Mekanisme koping

1) Sublimasi : menerima suatu sasaran pengganti, misalnya melampiaskan

kemarahannya pada suatu objek seperti pada adonan kue yang di remas-

remas, meninju tembok tujuan nya untuk mengurangi ketegangan akibat

marah.

2) Proyeksi : menyalahkan oranglain seperti seorang menyangkal bahwa ia

mempunyai perasaan seksual terhadap teman sekerjanya, tetapi berbalik

menuduh bahwa temannya mencoba merayu dan mencumbunya.

3) Regresi : berkaitan dengan masalah informasi pengolahan dan pengeluaran

sejumlah besar energi dalam upaya untuk mengelola kegelisahan,

menyisakan sedikit untuk aktivitas kehidupan sehari-hari.

4) Deplacemen :melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan.

( Stuart, 2009:32 ).

2.9 Sumber koping

Menurut Stuart, 2009 dalam buku Satrio KS ( 2015 ) mengungkapkan

sumber koping gangguan jiwa dengan masalah utama perilaku kekerasan

adalah :

1) Efikasi/kemajuan pengobatan untuk secara konsisten mengurangi gejala dan

menstabilkan disonasi kognitif setelah episode pertama memakan waktu 6

sampai 12 bulan.

2) Awal pengenalan diri/insinght, proses mandiri melakukan pemeriksaan

realitas yang dapat diandalkan.


17

3) Setelah mencapai pengenalan diri proses pencapainkognitif meliputi

keteguhan melanjutkan hubungan interpersonal normal.

4) Ordinariness/kesepian kembali seperti sebelum sakit ditandai

dengankemampuan untuk secara konsistensi dan dapat diandalkan dan

terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan usia lengkap dari kehidupan

sehari-hari.

2.10 Konsep asuhan keperawatan

1) Pengkajian

a) Aspek biologis

Respon fisiologi timbul karena kegiaan sistem saraf otonom bereaksi

terhadap epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka

merah, pupil melebar, pengeluaran urin meningkat. Ada gejala yang

sama dengan kecemasan seperti meningkat kewaspadaan, ketegangan

otot seprti rahang terkatup tangan dikepal tubuh kaku, dan reflek cepat,

hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.

b) Aspek emosional

Indipidu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya

jengkel, frustasi, dendam ingin memukul oranglain, mengamuk

bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.

c) Aspek intekltual

Pengalaman hidu individu diapatkan melalui proses intelektual, pran

pancainra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang

selanjutnya di olah dalam proses intelektual dalam suatu pengalaman.


18

Prawat perlu mengkaji cara klien marah mengidentifikasi penyebab

kemarahan, bagaimana informasi di proses di klarifikasi.

d) Aspek sosial

Meliputi interaksi sosial, budaya konsep rasa percaya dan ketergantugan.

Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali

menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku orang lain.

e) Aspek spiritual

Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhihubungan individu dengan

lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yng dimiliki dapat

menimbulkan kemarahan yang di manisfestasikan dengan moral dan rasa

tidak berdosa.

2) Kemungkinan diagnosa keperawatan

a) Prilaku kekerasan

b) GSP: Halusinasi

c) Resiko bunuh diri

3) Tindakan keperawatan

a) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

b) Klien dapat mengidntifikasi tanda-tanda prilaku kekerasan.

c) Klien dapatmeyebutkan prilaku kekerasan dari perilaku kekerasan

yangdilakukan.

d) Klien dapat menyebutkan cara mencegah (mengontrol)perilaku

Kekerasan.

e) Klien dapat mencegah (mengontrol) prilaku kekerasan secara


19

pisikoparma, fisik, spiritual, sosial.

( Ridhyalla Alnuhai & Marni: 2015:136)

4) Pengkajian masalah utama prilaku kekerasan

Satrio KS (2015 :34) mengungkapkan data yang perlu dikaji pada perilaku

kekerasan yang muncul antara lain:

1) Data subyekitif

a) Ungkapan berupa ancaman

b) Ungkapan kata-kata kasar

c) Ungkapan ingin memukul atau melukai

2) Data objektif

a) Wajah memerah dan tegang

b) Pandangan tajam

c) Mengatupkan rahang dengan kuat

d) Mengepalkan tangan, suara tinggi, bertriak

5) Pohon masalah

Menurut Keliat dkk (2005) dalam buku Satrio KS (2015:34) pohon masalah

perilaku kekerasan sebagai berikut:

Resiko mencidrai diri


Resiko mencidrai orang
sendiri
lain dan lingkungan

Resiko perilaku kekerasan


20

Harga diri rendah

6) Diagnosa keperawatan

1) Prilaku kekerasan

2) Resiko mencidrai diri sendiri, oranglain, lingkungan.

3) Harga diri rendah.

4) Diagnosa medis : skizofrenia.

7) Rencana keperawatan

Rencana tindakan keperawatan Generalis :

Diagnosa Strategi pelaksanaan Strategi pelaksanaan


keperawatan kemampuan klien kemampuan kluarga
Resiko Sp 1: sp 1 :
perilaku - Identitas penyebabTanda - Diskusikan masalah
kekerasan dan gejala perilaku yang dirasakan dalam
kekerasan merawat pasien
- Jelaskan cara mengontrol - Jelaskan pengertian,
perilaku kekerasan (fisik, tanda dan gejala dan
obat, verbal, spiritua) proses terjadinya
- Latih cara mengontrol perilaku kekerasan
marah dengan tarik nafas (gunakan booklet)
dalam dan pukul bantal - Jelaskan cara merawat
- Masukan pada jadwal prilaku kekerasan
kegiatan untuk latihan - Latih satu cara
fisik merawat prilaku
kekerasan dengan
melakukan kegiatan
fisik tariknafas dalam
dan pukul bantal kasur
21

- Anjurkan membantu
pasien sesuai jadwal
dan memberikan
pujian
Sp 2: Sp 2:
- Evaluasi kegiatan latihan - Evaluasi kegiatan
fisik, beri pujian kluarga dalam
- Latih cara mengontrol merawat atau
perilaku kekerasan melatihpasien fisik,
dengan obat (jelaskan 6 beri pujian
benar:jenis, guna, Dosis, - Jelaskan 6 benar cara
frekuensi, cara, pemberian obat
Kontiunitas minum obat) - Latih cara
- Masukan pada jadwal memberikan atau
kegiatan untuk latihan membimbing minum
fisik dan minum obat obat
- Anjurkan membantu
pasien sesuai jadwal
dan beri pujian

- Sp 3: - Sp 3:
- Evaluasi kegiatan latihan - Evaluasi kegiatan
fisik dan obat, beri pujian kluarga dalam
- Latih mengontrol perilaku merawat atau melatih
kekerasan secara verbal pasien fisik dan
( 3 cara yaitu: memberikan obat, beri
mengungkapkan, pujian
meminta, menolak dengan - Latih cara
benar) membimbing :cara
- Memasukkan pada jadwal bicara yang baik
kegiatan untuk latihan - Latih cara
fisik, minum obat dan membimbing kegiatan
verbal sepiritual
- Anjurkanmembantupa
sien sesuai jadwal dan
memberi pujian
22

Sp 4: Sp :4
- Evaluasi kegiatan latihan - Evaluasi kegiatan
fisik danobat dan verval, kluarga dalam
beri pujian merawat atau melatih
- Latih cara mengontrol pasien fisik,
spiritual (2 kegiatan untuk memberikan obat,
latihan fisik, minum obat, - latihan bicara yang
verbal dan spiritual baik dan kegiatan
- Masukan pada jadwal sepiritual, beri pujian
kegiatan untuk latihan - Latiah cara
fisik, minum obat, verbal, mengontrol perilaku
dan spiritual kekerasan dengna cara
spiritual (2 kegiatan)
- Anjurkan membantu
pasien sesuai jadwal
dan memberikan
pujian
( Satrio KS,2015 : 35-36).

8) Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan keperawatan oleh klien. Hal yang harus

diperhatiakn ketika melakukan implementasi adalah tindakan keperawatan

yang akan dilakukan implementasi pada klien dengan perilaku kekerasan

dilakukan secara interaksi dalam melaksanakan tindakan keperawatan.

(Ridhyalla Afnuhai, 2015 :138).

Dari semua rencana keperawatan pada masalah utama resiko perilaku

kekerasan dapat dilakukan sesuai dengan teoriSatrio KS, 2015 :


23

1) Hari pertama yaitu sp pengkajian gunanya untuk mengidentivikasi

masalah resiko perilaku kekerasan

2) Sp1 (membantu pasien mengenal resiko perilaku kekerasan,

menjelaskan cara-cara mengontrol resiko perilaku kekerasan

menganjurkan pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan

cara: latihan fisik, tarik nafas dalam dan pukul bantal), dan RTL, klien

dapat melakukan meskipun dengan bantuan perawat.

3) Sp 2 ( melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan

mengenal obat 6 benar: jenis, guna, Dosis, frekuensi, cara, Kontiunitas

minum obat ) RTL, klin dapat melakukan meskipun dengan bantuan

perawat.

4) Sp 3 ( melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan

verbal : mengungkapkan, meminta, menolak dengan benar) dan RTL,

klien dapat melakukan meskipun dengan bantuan perawat.

5) Sp4( melatih pasien dengan cara spiritual 2 kegiatan: berwudhu dan

bersohlat ) dan RTL, klien dapat melakukannya meskipun dengan

bantuan perawat.

9) Evaluasi

Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari

tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan sesuai dengan

tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua

yaitu evaluasi proses dan evaluasi formatif, dilakukan setiap selesai


24

melaksanakan tindakan evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan

membandingkan respon klien pada tujuan yang telah ditentukan

(Ridhyalla Afnuhai, 2015 :138).

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai

pola pikir menurut ( DR. Budi Anna Keliat, 2007).

S: Respon subyek klien terhadap tindakan keperawatan yang telah

dilaksanakan. Dapat diukur dengan menanyakan: “Bagaimana

bagaimana perasaan bapak setelah latihan nafas dalam?

O: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah

dilaksanakan, atau menanyakan kembali apa yang telah diajarkan atau

memberi umpan balik sesuai hasil observasi.

A :Analisis ulangan atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan

apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data

yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Dapat pula

membandingkan hasil dengan tujuan.

P: perencanan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respons

klien yang terdiri dari tindak lanjut klien (PR), dan tindak lanjut oleh

perawat.

Rencana tindak lanjut dapat berupa :

1) Rencana diteruskan jika masalah tidak berubah.

2) Rencana dimodifikasi jika masalah tetap dan semua tindakan sudah

dijalanklan, tetapi hasil belum memuaskan.


25

3) Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak

belakang dengan masalah yang ada; diagnosis lama juga dibatalkan.

4) Rencana atau diagnosis selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang

diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang

baru. Klien dan kluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat

melihat adanya perubahan dan memelihara perubahan tersebut. Pada

evaluasi sangat diperlukan reinforcemen untuk menguatkan perubahan

yang positif ( DR. Budi Anna Keliat, 2007).

2.11 Penelitian terkait resiko perilaku kekerasan

1) Penelitian Ikhsan Nur Awaludin, (2016) upaya peningkatan kemampuan

mengontrol emosi dengan cara fisik pada klien resiko perilaku kekerasan,

ditemukan pada kasus ini di temukan 2 diagnosa yaitu resiko menciderai

diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku

kekerasan danresiko perilaku kekerasan berhubungan dengan harga

dirirendah. Telah dilakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan

strategi pendekatan untuk klien prilaku kekerasan. Setelah dilakukan

asuhan keperawatan didapatkan hasil klien mampu mengontrol perilaku

kekerasan.

2) Penelitian Arif Nugraha, (2016) asuhan keperawatan pada Tn.K dengan

gangguan resiko perilaku kekerasan akibat skizofrenia, dari hasil

pengkajian klien cukup kooperatif dalam mengemukakan semua perasaan

dan masalahnya. Data yang muncul pada saat pengkajian adalah resiko

perilaku kekerasan masalah keperawatan yang ditemukan pada klien


26

diantaranya: Perilaku kekerasan penulismelakukantindakanbinahubungan

salingpercaya, identifikasi masalah, identifikasi aspek positif yang

dimilikiklien, nilai kemampuan yang dapat dilakukan saatini, pilih

kemampuan yang akan dilatih, nilai kemampuan pertama yang telah

dipilih-pilih kemampuan kedua yang dapat dilaksanakan, pilih kemampuan

ketiga yang dapat dilakukan dan masukan dalam jadwal kegiatan pasien.

3) Penelitian AsriPuspita Dewi, (2014) asuhan keperawatan jiwa pada Ny.F

dengan resiko perilaku kekerasan, setelah dilakukan asuhan keperawatan

selama 3x24 jam di dapatkan perilaku kekerasan dapat terkontrol dengan

cara tarik nafas dalam, memukul-mukul bantal, minum obat, bicara baik

dan cara spiritual. Sedangkan yang belum tercapai dukungan dari keluarga,

karena selama memberikan asuhan keperawatan keluarga tidak ada.


27

BAB III

METODE PENULISAN KTI

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi

kasus.Studikasusini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah asuhan

keperawatan pada kelien dengan resiko perilaku kekerasan ( RPK) di Rumah

Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, yang akan dilakukan penelitian di ruang

Cendrawasih.

3.2 Batasan Istilah

Batasan istilah dalam penelitian ini menggunakan definisi operasional dan

definisi konseptual :

1) Definisi operasional

Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat menciderai orang

lain yang mempunyai suatu emosional yang tinggi yang tidak dapat

terkontrol sehingga merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

2) Definisi konseptual

Perilaku kekerasan atau agresif adalah suatu fenomena komplek yang

dapat terjadi pada klien dengan skizoprenia, gangguan mood, gangguan

kepribadian borderline, gangguan perilaku dan ketergantungan

(Fontaine, 2009: 14).


28

3.3 Responden (Partisipan)

Disini peneliti mengunakan 2 klien (2 kasus) dengan masalah keperawatan

diagnosis medis dan diagnosa keperawatan yang sama yaitu asuhan keperawatan

jiwa dengan masalah keperawatan utama resiko perilakau kekerasan di ruang

Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung.

3.4 Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi yang dipilih untuk penelitian adalah di rumah sakit jwa daerah

Provinsi Lampung di ruangan Cendrawasih.Penelitian ini dilakukan pada tanggal

5-9 Juni 2017. Adapun lamanya penelitian ini dilakukan selama 5 hari. Dan

dilakukan pada waktu yang sudah ditentukan sesuai dengan kontrak.

3.5 Pengumpulan data

1) Penulis menggunakan komunikasi terapeutik atau wawancara

langsungdengan klien secara terbuka ( sp pengkajian hari pertama,kemudian

dilanjutkan ke SP 1 sampai dengan SP 4 )

2) Observasi dan pemeriksaan pisik (dengan pendekatan IPPA : inspeksi,

palpasi, perkusi, auskultasi ) pada sistem tubuh klien.

3) Studi dokumentasi (hasil dari pemeriksaan diagnostik dan data lain yang

relavan).

3.6 Uji keabsahan data


29

Peneliti akan mencoba untuk meminta perpanjangan waktu atau tindakan

asuhan keperawatan apabila data yang dikumpulkan kurang lengkap atau tidak

sesuai dengan teori, dan peneliti akan mencari suatu data sumber informasi

tambahan nya baik dengan klien yang dilakukan penelitan, dan peneliti akan

menanyakan kepada perawat selama pasien dirawat diruangan, apa saja keluhan

yang dialami klien serta apabila ada keluarganya peneliti juga akan menanyakan

riwayat sampai bisa masuk kerumah sakit jiwa tersebut.

3.7 Analisis data

Menurut Agus Riyanto (2011), Analisis diskriptif kualitatif adalah analisis

yang menggambarkan suatu datayang akan dibuat baik sendiri maupun secara

kelompok. Tujuan analisis diskriptif kualitatif untuk membuat gambaran

secara sistematis data ysang factual dan akurat mengenai fakta-fakta, serta

hubungan antara fenomena yang diselidiki atau diteliti. Urutan dalam analisis

suatu penelitian ini yaitu:

1) Pengumpulan data

Disini peniliti akan mengumpulkan data penelitian dengan cara yaitu dengan

wawancara atau melakukan sesuai dengan SP pengkajian yang telah

ditetapkan lalu peneliti mengumpulkan datanya secara bertahap selama 5 hari

dan hasilnya ditulis dalam bentuk catatan lapangan, melakukan observasi

secara langsung terhadap klien, setelah data terkumpul semua maka peneliti

akan menyalin data tersebut dalam bentuk trankrip

2) Mereduksi data
30

Data dilapangan yang telah terkumpul dalam bentuk transkrip maka peneliti

akan mencoba untuk mengelompokkan menjadi data subyektif dan obyektif,

dan peneliti akan menganalisis berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik dan

akan dibandingkan dengan nilai normalnya

3) Penyajian data

Disini peneliti akan menyajikan datanya dalam bentuk teks naratif ataupun

tabel, yang akan di presentasikan dengan powerpoint, dan untuk kerahasian

identitas klien peneliti hanya akan memberinama inisialnya saja.

4) Kesimpulan

Peneliti akan membahas dan membandingkan hasil penelitiannya antara dua

pasien yang telah di lakukan penelitian dengan diagnosa keprawatan yang

sama bukan hanya itu saja penelitijuga akan membandingkan hasil penelitian

terdahulu maupun secara teoritis. Data yang dikumpulkan peneliti berkaitan

dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan dan evaluasi.

3.8 Etika penelitian

Dalam penyusunan study kasus ini peneliti tidak lupa dalam

melaksanakanpenelitian dengan etika-etika yang baik yaitu terdiri dari :

1) Informed consent

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan partisipan dengan

memberikan lembar persetujuan (informed consent), peneliti akan meminta

dengan baik terhadap klien ataupun keluarganya sebelum dilakukan nya

penelitian.

2) Anaonimity (tampa nama )


31

Merupakan etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak

memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan

hanya menulis kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian

yang disajikan.

3) Kerahasiaan (confidentiality)

Merupakan etika dalam penelitian untuk menjamin kerahasiaan dari hasil

penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lain nya.Peneliti akan

sebaik mungkin akan menjaga kerahasian masalah klien dan peneliti akan

mempergunakan nya untuk keperawatan klien saja.

( Dalami, 2010)