Anda di halaman 1dari 21

ISOLASI SOSIAL

Di Susun Oleh
Kelompok IV(Enam) :

1. Rishka Widiya Utami


2. Krisman Harapan Ziliwu
3. Sulastri Sinaga
4. Mesy Gultom
5. Mirna Gea
6. Delfiana Zamili

Dosen Pembibing : Walter Sutasoit, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S-1)


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
T.A 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan yang Mahakuasa yang
telah melimpahkan berkat dan rahmatnya kepada kami, sehingga kami dari
kelompok IV (Enam ) dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “ Isolasi
Sosial ” Kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
Bapak Walter Sutasoit, Sebagai dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa II, yang
sudah memberikan arahan dan bimbingan serta kepercayaan kepada kami untuk
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyelesaikan makalah ini dengan semaksimal mungkin, dan kami
menyadari bahwa makalah kami sungguh jauh dari kesempurnaan baik dari segi
susunan kalimat, penulisan, maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami dari
kelompok IV sangat mengharapkan saran, kritik, dan tanggapan dari pembaca
agar kami dapat memperbaikinya pada berikutnya.
Akhir kata kami dari kelompok berharap semoga makalah yang kami buat
ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kita semuanya.

Medan, 14 Oktober 2019

Kelompok IV

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii


DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latarbelakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan masalah .................................................................................. 2
C. Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Visi misi indonesia sehat ..................................................................... 3
B. Derajat kesehatan masyarakat indoensia ............................................. 5
C. Strategi dan program pembangunan kesehatan ................................... 7
D. Pokok Program .................................................................................... 9
E. Program Kesehatan Unggulan 10
F. Kebijakan ........................................................................................... 12
G. Dasar – Dasar Pembangunan Kesehatan ............................................. 13
H. Tren dan Issiu Pembanguan Kesehatan Indonesia .............................. 18
I. Strategi pengembangan Kesehatan................................................ 19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 24
B. Saran ................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Isolasi Sosial atau Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang
mengalami ketidak mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain
atau dengan lingkungan disekitarnya secara wajar. Pada pasien dengan perilaku
menarik diri sering melakukan kegiatan yang ditujukan untuk mencapai pemuasan
diri, dimana pasien melakukan usaha untuk melindungi diri sehingga ia jadi pasif
dan berkepribadian kaku, pasien menarik diri juga melakukan pembatasan (isolasi
diri), termasuk juga kehidupan emosionalnya, semakin sering pasien menarikdiri,
semakin banyak kesulitan yang dialami dalam mengembangkan hubungan sosial
dan emosional dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1998). Dalam membina
hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang adaptif sampai
dengan maladaptif. Respona daptif merupakan respon yang dapat diterima oleh
norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku, sedangkan respon maladaptif
merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang
kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya.
Respon sosial dan emosional yang maladaptif sering sekali terjadi
dalam kehidupan sehari hari, khususnya sering dialami pada pasien menarik
diri sehingga melalui pendekatan proses keperawatan yang komprehensif
penulis berusaha memberikan asuhan keperawatan yang semaksimal mungkin
kepada pasien dengan masalah keperawatan utama kerusakan interaksi
sosial: menarik diri. Menurut pengajar Departemen Psikiatri, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Surjo Dharmono, penelitian Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) di perbagai Negara menunjukkan, sebesar 20-30
persen pasien yang datang ke pelayanan kesehatan dasar menunjukkan
gejala gangguan jiwa. Bentuk yang paling sering adalah kecemasan dan
depresi.
Dari segi kehidupan sosial kultural, interaksi sosial adalah merupakan
hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai dampak adanya
kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar

4
dalam fenomen kehidupan, yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan
suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau
lingkungan disekitarnya (Carpenito, 1997)

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari isolasi sosial ?
2. Bagaimana proses terjadinya masalah ?
3. Bagaimana terjadinnya komplikasi ?
4. Apa saja pengkajian keperawatan ?

C. Tujuan
1. Mengetahui gambaran tentang asuhan keperawatan pada pasien
yanng menderita penyakit isoslasi sosial
2. Mampu mendiagnosa keperawatan pada pasien yang mengalami
isolasi sosial
3. Dapat mengetahui perencanaan keperawatan selanjutnya.
4.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian,
dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain
(Purba, dkk. 2008). Berikut beberapa pengertian isolasi sosial yang dikutip
dari Pasaribu (2008). Menurut Townsend, isolasi sosial merupakan keadaan
kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap
menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya. Kelainan interaksi
sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam
suatu kuantitas yang tidak cukup atau berlebih atau kualitas interaksi sosial
tidak efektif. Menurut Depkes RI penarikan diri atau withdrawal merupakan
suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap
lingkungan sosial secara langsung yang dapat bersifat sementara atau
menetap. Menurut Carpenito, Isolasi sosial merupakan keadaan di mana
individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau
keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak
mampu untuk membuat kontak. Menurut Rawlins & Heacock, isolasi sosial
atau menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan
berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan
akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi,
atau selalu dalam kegagalan.
Menurut Dalami, dkk. (2009), isolasi sosial adalah gangguan dalam
berhubungan yang merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang
mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain
dan lingkungan.

6
B. Etiologi
Pada setiap tahap tumbuh kembang individu terdapat tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan hubungan
sosial, setiap individu harus melewati masa bayi yang sangat tergantung
dengan orang yang terpercaya, masa sekolah anak dimulai mengenal
hubungan yang lebih luas khususnya sekolah, masa remaja dimana dekat
dengan temannya tapi remaja mengembangkan keininan orang tua dan
teman– temannya, masa dewasa muda adalah independent dengan teman
atau orang tua individu belajar menerima dan sudah matang dan
mempunyai rasa percaya diri, sehingga sudah menjalani hubungan dengan
orang lain, masa dewasa tua masa dimana individu akan merasa terbuka
karena kehilangan dan mulai menyembunyikan perasaan terkait dengan
budaya. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan
respon sosial maladaptif. Ada pendapat yang mengatakan bahwa individu
yang mengalami masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memasahkan
dirinya dari orang tua. (Gail, 2006 : hal 276)
Menurut Dalami (2009 : hal 3) faktor predisposisi antara lain :
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial
berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang. Mulai usia bayi
sampai dengan dewasa lanjut untuk dapat mengembangkan hubungan
sosial yang positif. Diharapkan setiap tahapan perkembangan dapat
dilalui dengan sukses.Sistem keluarga yang tergantung. Dapat berperan
dalam perkembangan respons social maladaptif.
Yang paling sering adalah adanya gangguan dalam mencapai tugas
perkembangan sehingga individu tidak dapat mengembangkan hubungan
yang sehat.
1) Masa bayi
bayi umumnya menggunakan komunikasi yang sangat sederhana
dalam menyampaikan kebutuhannya. Karena bayi sangat
tergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan biologis

7
dan psikologisnya. Kegagalan pada tahap ini mengakibatkan rasa
tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain, serta menarik
diri.
2) Toodler
mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri.
3) Pra Sekolah
anak menggunakan kemampuan berhubungan yang telah dimiliki
untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga. Dalam hal
ini, anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari keluarga
khususnya pemberian positif terhadap perilaku anak yang adaptif.
Kegagalan anak dalam berhubungan mengakibatkan anak tidak
mampu mengontrol diri, tergantung, ragu, menarik diri dari
lingkungan, pesimis.
4) Anak sekolah
pada usia ini anak mulai mengenal bekerjasama, kompetisi,
kompromi. Konflik sering terjadi dengan orang tua. Teman dan
orang dewasa merupakan sumber pendukung yang penting bagi
anak. Kegagalan dalam tahap ini mengakibatkan anak menjadi
frustasi, putus asa, merasa tidak mampu, dan menarik diri dari
lingkungan.
5) Pra remaja
pada usia ini, anak mengembangkan hubungan intim dengan
teman sebaya dan teman sejenis maupun lawan jenis.Kegagalan
membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan
orang tua akan mengakibatkan keraguan akan identitas dan rasa
percaya diri yang kurang.
6) Dewasa Muda
individu belajar mengambil keputusan dengan memperhatikan
saran dan pendapat orang lain seperti memilih pekerjaan, karir,
melangsungkan pernikahan.Kegagalan pada tahap ini
mengakibatkan individu menghindari hubungan intim, menjauhi
orang lain, putus asa akan karir.

8
7) Dewasa Tengah
individu pada usia dewasa tengah umumnya telah menikah.
Individu yang perkembangannya baik akan dapat mengembangkan
hubungan dan dukungan yang baru.Kegagalan pada tahap ini
mengakibatkan perhatian hanya tertuju pada dirinya sendiri,
produktivitas dan kreatifitas berkurang, dan perhatian terhadap
orang lain berkurang.
8) Dewasa lanjut
individu tetap memerlukan hubungan yang memuaskan dengan
orang lain. Kegagalan pada tahap ini mengakibatkan perilaku
menarik diri.
b. Faktor Biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respons sosial maladaptive
menurut (Gail, 2006 : hal 430). Terjadinya penyakit jiwa pada individu
juga dipengaruhi oleh keluarganya disbanding dengan individu yang
tidak mempunyai riwayat penyakit terkait.
c. Faktor Sosiokultural
Menurut (Gail,2006 : hal 431) Isolasi sosial merupakan faktor
utama dalam gangguan hubungan. Hal ini akibat dari transiensi: norma
yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak
menghargai anggota masyarakat yang kurang produkstif seperti lanjut
usia (lansia), orang cacat, penderita kronis. Isolasi dapat terjadi karena
mengadopsi norma, perilaku, dan system nilai yang berbeda dari yang
dimiliki budaya mayoritas.
d. Faktor Dalam Keluarga
Menurut (Gail, 2006 : hal 279) pola komunikasi dalam keluarga
dapat mengantar seseorang dalam gangguan berhubungan, bila keluarga
hanya mengiformasikan hal – hal yang negative akan mendorong anak
mengembangkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang
bertentangan disampaikan pada saat yang bersamaan, mengakibatkan
anak menjadi traumatik dan enggan berkomunikasi dengan orang lain.

9
2. Faktor Presipitasi
Menurut (Gail, 2006 : hal 280) faktor presipitasi terdiri dari :
a. Stresor Sosiokultural
Stres dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluarga dan
berpisah dari orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah
sakit.
b. Stresor Psikologis
Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan
keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk
berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan ansietas
tingkat tinggi

C. Proses Terjadinya Masalah


Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik
diri atau isolasi sosial yang tidak disebabkan oleh perasaan tidak berharga
yang bisa dialami klien dengan latar belakang yang penuh dengan
permasalahan, ketegangan , kekecewaan, kecemasan.
Perasaan tidak berharga dapat menyebabkan individu makin sulit
dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Akibatnya klien
menjadi mundur, mengalami penurunan dalam aktifitas dan kurangnya
perhatian terhadap penampilan dan keberhasilan diri. Sehingga individu
semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta
tingkah laku primitif antara lain tingkah laku yang tidak sesuai dengan
kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi. Halusinasi
melatarbelakangi adanya komplikasi.

D. Tanda dan Gejala


1. Menyendiri dalam ruangan
2. Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata

10
3. Sedih, Efek datar.
4. Pehatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5. Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak
bermakna
6. Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain.
7. Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan yang lain.
8. Menggunakan kata-kata simbolik (neologisme).
9. Menggunakan kata yang tak berarti.
10. Kontak mata kurang/tidak mau menatap lawan bicara.
11. Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka
melamun, berdiam diri.

E. Rentang Respon Sosial


Rentang respon sosial menurut (Gail W. Stuart ; 2006 hal 277) adalah :
1. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respons yang diterima oleh norma sosial dan
kultural dimana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal.
Adapun respons adaptif tersebut:
a. Menyendiri
Respons yang dibutuhkan untuk menentukan apa yang telah
dilakukan di lingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara
mengawasi diri dan menentukan langkah berikutnya.
b. Otonomi
Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide- ide individu.
c. Kebersamaan
Suatu keadaan dalam hubungan interpersonal di mana individu
tersebut mampu untuk memberi dan menerima.
d. Saling Ketergantungan
Saling ketergantungan individu dengan orang lain dalam hubungan
interpersonal.

11
2. Respon maladatif
Respon maladatif adalah respon yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma – norma sosial dan
kebudayaan suatu tempat. Karakteristik dari perilaku maladatif tersebut
adalah sebagai berikut :
a. Kesepian
Keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina
hubungan secara terbukakepada orang lain
b. Menarik diri
Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak
berhubungan dengan orang lainuntuk mencari ketenangan sementara
waktu.
c. Ketergantungan
Individu gagal mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan
yang dimiliki.
d. Manipulasi
Orang lain diperlakukan seperti objek, hubungan terpusat pada
masalah pengendalian, berorientasi pada diri sendiri atau pada
tujuan, bukan berorientasi pada orang lain.
e. Impulsif
Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman, penilaian yang buruk, tidak dapat diandalkan.
f. Narkisisme
Harga diri yang rapuh secara terus-menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian, sikap egoisentris, pencemburuan, marah jika
orang lain tidak mendukung.

12
F. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas
Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada mas
pubertas.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit biasanya
akibat adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
3. Faktor Predisposisi
Faktor Predisposisi sangat erat kaitannya dengan faktor etiologi yakni
keturunan, endokrin, metabolism, susunan saraf pusat, dan kelemahan ego.
4. Psikososial
a. Genogram
Orang tua penderita skizofrenia,salah satu kemungkinan anaknya 7-16 %
skizofrenia, bila keduanya menderita 40-68 %, saudara tiri kemungkinan
0,9-1,8 %, saudara kembar 2-15 % dan saudara kandung 7-15 %.
b. Konsep Diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien
akan mengurangi konsep diri pasien
c. Hubungan sosial
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka
melamun,dan berdiam diri.
d. Spiritual
Aktivitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan
5. Status mental
a. Penampilan diri
Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak
tepat, resleting tidak terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai
manifestasi kemunduran kemauan pasien.
b. Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c. Aktivitas motorik

13
Kegiatan yang dilakukan tidak berfariatif, kecenderungan
mempertahankan pada satu posisi yang di buatnya sendiri (katalepsia).
d. Emosi
Emosi dangkal.
e. Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
f. Interaksi selama wawancara
Cenderung tidak koperatif, kontak mata kurang,tidak mau menatap lawan
bicara, diam.
g. Persepsi
Tidak terdapat halusinasi atau waham.
h. Proses berfikir
Gangguan proses berfikir jarang di temukan.
i. Kesadaran
Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta pembatasan
dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak
sesuia dengan kenyataan ( secara kualitatif).
j. Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu dan orang
k. Kemampuan penilaian
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu
keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alas an tidak jelas atau tidak
tepat.
l. Tilik diri
Tidak ada yang pas
6. Kebutuhan sehari-hari
Pada permulaan, penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya,
makin mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk
memenuhi kebutuhan diri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK,
mandi, berpaikain dan istirahat tidur.

14
Teknik Mengkaji
untuk mengkaji pasien isolasi social anda dapat menggunakan
wawancara observasi kepada pasien dan keluarga.
Tanda dan gejala isolasi social yang dapat di temukan dengan wawancara
adalah:
1. Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
2. Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
3. Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
4. Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
5. Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
6. Pasien merasa tidak berguna.
7. Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat anda tanyakan pada waktu
wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
1. Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang disekitarnya (
keluarga atau tetangga ) ?
2. Apakah pasien mempunyai teman dekat ? bila punya, siapa teman
dekatnya itu ?
3. Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang terdekat dengannya ?
4. Apa yang pasien inginkan dari orang-orang disekitarnya ?
5. Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien ?
6. Apa yang menghambat hubungan harmonis antara pasien dengan
orang-orang disekitarnya ?
7. Apakah pasien merasa bahwa waktu begitu lama berlalu ?
8. Apakah pernah ada perasaan ragu untuk dapat melanjutkan kehidupan
?

Tanda dan gejala isolasi social yang dapat diobservasi :


1. Tidak memiliki teman dekat.
2. Menarik diri.
3. Tidak komunitatif.
4. Tindakan berulang dan tidak bermakna.

15
5. Asyik dengan pikirannya sendiri
6. Tidan ada kontak mata
7. Tampak sedih, afek tumpul.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang berlaku pada gangguan ini adalah isolasi social.

Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan untuk pasien
Tujuan :
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Menyadari penyebab isolasi sosial.
3. Berinteraksi dengan orang lain.

Tindakan :
1. Membina hubungan saling percaya. Tindakan yang harus dilakukan
dalam membina hubungan saling percaya adalah :
a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
b. Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama dan nama panggilan
yang anda sukai , serta tanyakan nama dan nama panggilan pasien.
c. Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini.
d. Buat kontrak asuhan : apa yang akan anda lakukan bersama pasien,
berapa lama akan di kerjakan, di tempatnya dimana
e. Jelaskan bahwa anda akan merahasiakan informasi yang di peroleh
untuk kepentingan terapi.
f. Setiap saat tunjukan sikap empati terhadap pasien
g. Penuhi kebutuhan dasar pasien bila memungkinkan.

Untuk membina hubungan saling percaya pasien isolasi social kadang-kadang


memerlukan waktu yang lama dan interaksi yang singkat dan sering, karena
tidak mudah bagi pasien untuk percaya pada orang lain.untuk itu anda sebagai
perawat harus konsisten bersikap terapeutik kepada pasien. Selalu penuhi

16
janji adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Pendekatan konsisten
akan membuahkan hasil. Bila pasien sudah percaya dengan anda program
asuhan keperawatan lebih mungkin dilaksanakan.

2. Membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial. Langkah-langkah


untuk melaksanakan tindakan ini adalah sebagai berikut :
a. Menanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan
orang lain.
b. Menanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi
dengan orang lain.
3. Membantu pasien mengenali keuntungan dari membina hubungan
dengan orang lain. Lakukan dengan cara mendiskusikan keuntungan bila
pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
4. Membantu pasien mengenal kerugian dari tidak membina hubungan.
Dilakukan dengan cara :
a. Mendiskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak
bergaul dengan orang lain.
b. Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadapt kesehatan fisik pasien
5. Membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
Anda tidak mungkin secara drastis mengubah kebiasaan pasien dalam
berinteraksi dengan orang lain, karena kebiasaan tersebut telah terbentuk
interaksi dengan orang lain, karena kebiasaan tersebut telah terbentuk
dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu anda dapat melatih pasien
berinteraksi secara bertahap. Mungkin pasien hanya akan akrab dengan
anda pada awalnya, tetapi setelah itu anda harus membiasakan pasien
untuk dapat berinteraksi secara bertahap dengan orang-orang
disekitarnya.
Secara rinci tahapan melatih pasien berinteraksi dapat anda lakukan
sebagai berikut:
a. Beri kesempatan pasien mempraktikkan secara berinteraksi dengan
orang lain yang dilakukan dihadapan anda.

17
b. Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu orang ( anggota
keluarga atau tetangga )
c. Bila pasien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah
interaksi dengan dua , tiga, empat orang dan seterusnya.
d. Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan
oleh pasien.
e. Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi
dengan orang lain. Mungkin pasien akan mengungkapkan
keberhasilan atau kegagalannya. Beri dorongan terus menerus agar
pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya.

Tindakan keperawatan untuk keluarga


Setelah tindakan keperawatan diharapkan keluarga mampu merawat pasien
isolasi sosial. Tindakan dilakukan dengan melatih keluarga merawat pasien isolasi
sosial. Keluarga merupakan system pendukung utama bagi pasien untuk dapat
membantu pasien mengatasi masalah isolasi sosial ini, karena keluarga yang
selalu bersama-sama dengan pasien sepanjang hari.
Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat pasiean isolasi sosial di
rumah meliputi :
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien.
2. Mejelaskan tentang :
a. Masalah isolasi sosial dan dampaknya bagi pasien
b. Penyebab isolasi sosial
c. Cara-cara merawat pasien isolasi sosial antara lain :
 Membina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara
bersikap peduli dan tidak ingkar janji
 Memberikan semangan dan dorongan kepada pasien untuk
dapat melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain
yaitu dengan tidal mencela kondisi pasien dan memberikan
pujian yang wajar
 Tidak membiarkan pasien sendiri di rumah

18
 Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien
3. Memperagakan cara merawat pasien isolasi soial.
4. Membantu keluarga mempraktikkan secara merawat yang telah
dipelajari, mendiskusikan yang dihadapi.
5. Menjelaskan perawatan lanjut.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian,
dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain
(Purba, dkk. 2008).
Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik
diri atau isolasi sosial yang tidak disebabkan oleh perasaan tidak berharga
yang bisa dialami klien dengan latar belakang yang penuh dengan
permasalahan, ketegangan , kekecewaan, kecemasan.
Komplikasi yang mungkin ditimbulkan pada kliendengan isolasi sosial
antara lain :
a. Defisit perawatan diri
b. Resiko terjadinya gangguan sensori persepsi halusinasi

B. Saran
Adapun saran yang penulis berikan agar tercapai kesehatan jiwa
optimal adalah :
1. Diharapkan pada keluarga klien apabila sudah pulang maka
keluarga tetap melakukan kontrol ke RSJ.
2. Diharapkan adanya kerja sama dengan baik antara dokter, perawat
dan tim medis lainnya guna memperlancar proses keperawatan.
3. Diharapakan kepala keluarga harus sering mengunjungi klien ke
RSJ karena dapa membantu proses penyembuhan.

20
DAFTAR PUSTAKA

21