Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 C- Reactive Protein ( CRP )

2.1.1 Pengertian CRP

C-Reactive Protein ( CRP ) adalah protein yang digunakan dalam darah

yang meningkat sebagai respon terhadap peradangan.Peran fisiologis adalah untuk

mengikat fosfokolin yang diekspresikan pada permukaan sel– sel mati ( dan

beberapa jenis bakteri ) untuk mengaktifkan system pelengkap melalui kompleks

C1q. CRP diklarifikasikan sebagai reaktan fase akut, yang berarti bahwa tingkat

protein akan naik sebagai respon terhadap peradangan. Reaktan umum lainnya

adalah fase akut termasuk tingkat sedimentasi eritrosit ( ESR ) dan jumlah

trombosit darah.

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi dari dalam kandungan ibu,

juga dari lingkungan di luar kandunngan. Resiko infeksi berat bayi baru lahir

dapat di deteksi dengan pemeriksaan serologi C-Reaktif protein ( CRP ). Fase

penting minggu pertama kehidupan bayi khususnya bayi lahir dini ( prematur )

sangat beresiko terjadi sepsis ( infeksi akut berat ), karena bayi baru lahir system

imun belum sempurna ( Rokhayah.2016 )

CRP merupakan salah satu parameter kedaruratan medik menunjang

diagnosis kerja pasien ( J Nugraha,2016 ). CRP sebagai salah satu protein fase

akut penting, petunjuk resiko infeksi bayi baru lahir . Resiko infeksi neonatus

dapat berasal dari ibunya saat kehamilan ( resiko prenatal ), resiko nosokomial
dan resiko neonatal ( berat lahir rendah, kelainan bawaan, nilai Apgar saat lahir

rendah ) ( Pusponegoro,2000 ),( Esi Afri,2016 ).

CRP ditemukan oleh William S. Tillett (1892-1974) dan Thomas Francis,

Jr. (1900-1969) pada tahun 1930 di laboratorium milik Oswald T. Avery (1877-

1955). Ketika itu, kedua peneliti tersebut sedang mengadakan studi klinis dan

laboratorium untuk mengembangkan terapi bagi infeksi pneumococcal

pneumonia. Mereka menemukan suatu antigen baru yang disebut Fraksi C dan

melanjutkannya dengan pemeriksaan imunologi terhadap pasien penderita infeksi

pneumonia. Tilett dan Francis membuktikan bahwa Fraksi C dapat bereaksi kuat

terhadap pasien yang berada dalam tahap awal infeksi dan infeksi akut, namun

setelah pasien sembuh maka reaksi dengan Fraksi C menghilang. Dalam

percobaan lanjutan, ternyata Fraksi C tersebut juga dapat bereaksi dengan pasien

penderita penyakit atau inflamasi lainnya, seperti endocarditis dan demam rematik

akut.

Beberapa tahun kemudian, Avery, Theodore J. Abernethy, dan Colin

MacLeod (1909-1972) mempublikasikan senyawa yang disebut C-reactive protein

dan menjelaskan sifat dari protein tersebut. Maclyn McCarty (1911-2005) berhasil

mengkristalisasi CRP pada tahun 1947 dan bersama dengan rekannya mulai

menggunakan pengukuran CRP untuk mempelajari tahapan perkembangan

penyakit demam rematik. Saat penelitian mengenai CRP makin berkembang,

Schieffelin & Co, suatu perusahaan di New York mulai memproduksi CRP secara

komersial untuk keperluan pemeriksaan medis.


Pada tahun 1990, para peneliti membuktikan bahwa inflamasi berperan

terhadap perkembangan aterosklerosis sehingga CRP dapat digunakan untuk

penilaian risiko (prediksi) penyakit jantung atau kardiovaskular. Penelitian juga

menunjukkan adanya kemungkinan CRP berperan di dalam perkembangan

penyakit tersebut sehingga saat ini mulai dikembangkan obat yang dapat

menurunkan kadar CRP di dalam tubuh.

Protein C-Reactive (C-reactive protein, CRP) dibuat oleh hati dan

dikeluarkan ke dalam aliran darah. CRP beredar dalam darah selama 6-10 jam

setelah proses inflamasi akut dan destruksi jaringan. Kadarnya memuncak dalam

48-72 jam. Seperti halnya uji laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate,

ESR), CRP merupakan uji non-spesifik tetapi keberadaan CRP mendahului

peningkatan LED selama inflamasi dan nekrosis lalu segera kembali ke kadar

normalnya.

CRP merupakan salah satu dari beberapa protein yang sering disebut

sebagai protein fase akut dan digunakan untuk memantau perubahan-perubahan

dalam fase inflamasi akut yang dihubungkan dengan banyak penyakit infeksi dan

penyakit autoimun. Beberapa keadaan dimana CRP dapat dijumpai meningkat

adalah radang sendi (rheumatoid arthritis), demam rematik, kanker payudara,

radang usus, penyakit radang panggung (pelvic inflammatory disease, PID),

penyakit Hodgkin, SLE, infeksi bakterial. CRP juga meningkat pada kehamilan

trimester akhir, pemakaian alat kontrasepsi intrauterus dan pengaruh obat

kontrasepsi oral.
C-Reactive Protein adalah salah satu protein fase aktif yang didapatkan

dalam jumlah yang kecil. Pada keadaan tertentu dimana didapatkan adanya reaksi

radang atau jaringan ( meurosis ), yaitu baik yang infektif maupun yang tidak

infektif. Kadar CRP dalam serum dapat meningkat sampai 1.000x

( Handojo,1982 ). CRP adalah globula alfa abnormal yang cepat timbul dalam

serum penderita dengan penyakit karena infeksi atau sebab lain . Protein ini dapat

menyebabkan presipitasi hidrat orang C dari pneumokokus ( Bonang,1982 ).

C-Reactive Protein ( CRP ) merupakan protein fase awal yang keadaanya

dapat meningkat dalam waktu 24 jam pasca infeksi. Peradangan atau kerusakan

jaringan mampu meningkatkan unsur pokok dari mikroorganisme yang biasa

disebut CRP, karena CRP mempunyai kemampuan untuk berkaitan dengan

C.Pneumococeal Polisakarida ( Lorenz,1990 ).

Protein C-Reactive ( C- Reactive Protein = CRP ) adalah suatu globulin

yang disintesis oleh sel hepatosit dan disekresi ke dalam darah. Kadar CRP akan

meningkat bila terjadi respons inflamasi lokal atau sistemis, dan lebih spesifik

pada penyakit infeksi neonatal seperti sepsis neonatorium dan meningitis

(Pepys,1981).Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menggunakan CRP ini

sebagai parameter dalam menegakkan diagnose sepsis neonatorium. Hasil

penelitian ini sangat bervariasi (Ng et al,1997), dibagian IKA FK Universitas

Hongkong mendapatkan pemeriksaan CRP mempunyai nilai sensitivitas 84% dan

spesifitas 96%, pada 668 orang bayi berat lahir sangat rendah sebagai

pemeriksaan marker tunggal.


Chiesa et al (2001) juga mengatakan diperlukan pemeriksaan CRP

terhadap neonatus sehat yang lahir mempunyai faktr risiko pada 148 neonatus

yang diteliti. Anwer & Mustafa (2003) meneliti lima puluh neonatus yang

memiliki faktor risiko dibagian perawatan intensif bagian Anak RS Shaheed

Abbasi, Karrachi Pakistan, didapatkan pemeriksaan CRP dengan sensitifitas di

atas 60% dan spesifitas 50%, sedangkan untuk dapat membantu menegakkan

diagnosis sepsis neonatorium, CRP mempunyai nilai sensitifitas sebesar 84 dan

spesifitas 96%.

2.2.2 Definisi Infeksi Akut atau Sepsis

Infeksi akut merupakan infeksi yang berlangsung dalam jangka waktu

cepat namun dapat juga berakibat fatal.Akibat dari infeksi akut adalah sembuh

tanpa kerusakan ( sembuh total ) ataua sembuh dengan keruskan / cacat. Sepsis

adalah komplikasi yang jarang terjadi namun sangat berbahaya dari suatu

penyakit.

Pada saat terjadi infeksi,tubuh kita akan menghasilkan berbagai senyawa

kimia untuk melawan infeksi tersebut. Senyawa – senyawa kimia yang dihasilkan

ini akan mancetuskan suatu respon peradangan yang mengakibatkan serangkaian

perubahan pada fungsi tubuh, sehingga terjadilah keruskan berbagai system organ.

Pada tahap awal, infeksi akut ini biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik

dan cairan infus dalam jumlah banyak.

Infeksi akut ( sepsis ) neonatal adalah sindrom klinik penyakit sistemik,

disertai bakteremia yang terjadi pada bayi dalam satu bulan pertama kehidupan.

Sepsis neonatal dapat terjadi secara dini, yaitu pada 5 – 7 hari pertama dengan
organism penyebab didapat dari intrapartum atau melalui saluran genital ibu.

Sepsis neonatal dapat terjadi setelah bayi berumur 7 hari atau lebih yang disebut

sepsis lambat ,yang mudah menjadi berat dan sering menjadi meningitis. Sepsis

nosokomial terutama terjadi pada bayi berat lahir sangat rendah atau bayi kurang

bulan dengan angka kematian yang sangat tinggi.

Sepsis neonatorum/sepsis neonatal adalah suatu penyakit pada bayi baru

lahir dengan umur kurang dari 1 bulan, kebanyakan bayi-bayi tersebut

menunjukkan gejala-gejala sakit dan dengan kultur darah menunjukkan hasil yang

positif. Sepsis neonatal masih merupakan penyebab utama morbiditas dan

mortalitas pada bayi-bayi baru lahir. Insidensi / frekuensi sepsis neonatal adalah

kasus dari 1000 kelahiran hidup pada bayi aterm, dan 4 kasus dari 1000 kelahiran

hidup pada bayi prematur. Peningkatan kejadian secara dramatis sampai mencapai

300 dari 1000 kelahiran bayi hidup adalah pada bayi dengan berat badan lahir

rendah ( ( PROM/ Premature Rupture of Membrane ) yang terjadi 12 jam sampai

lebih dari 24 jam sebelum lahir, perdarahan ibu, toksemia, fetal distres, aspirasi

mekonium, ibu dengan infeksi traktus urinarius atau endometrium, kebanyakan

pada ibu dengan demam singkat selama partus. Peralatan pernafasan yang

terkontaminasi seperti alat-alat intubasi patut diduga penyebab timbulnya

nosokomial pneumonia dan sepsis neonatus. Bentuk klinis dari sepsis neonatal

dengan pneumoni neonatal adalah sama /serupa seperti: lethargi, poor feeding,

sianosis sentral dan tanda-tanda kesulitan bemapas, maka dari itu sulit

memisahkan / membedakan dari sebuah primer infeksi pada neonatal pneumoni

dengan sepsis neonatal.


Sepsis neonatorum, sepsis neonatus dan septikemia neonatus

merupakan istilah yang telah digunakan untuk menggambarkan respons sistemik

terhadap infeksi pada bayi baru lahirInsidensi sepsis neonatorum beragam, dari 1-

4/1000 kelahiran hidup di negara maju dengan fluktuasi yang besar sepanjang

waktu dan tempat geografis. Keragaman insiden dari rumah sakit ke rumah sakit

lainnya dapat dihubungkan dengan angka prematuritas, perawatan prenatal,

pelaksanaan persalinan, dan kondisi lingkungan di ruang perawatan. Angka sepsis

neonatorum meningkat secara bermakna pada bayi dengan berat badan lahir

rendah dan bila ada faktor resiko ibu ( obstetrik ) atau tanda- tanda koriamnionitis,

seperti ketuban pecah lama ( > 18 jam ), demam intrapartum ibu (> 37,5°C ),

leukositosis ibu (>18000/mm3), pelunakan uterus dan takikardi janin (>180

kali/menit). Faktor resiko host meliputi jenis kelamin laki-laki, cacat imun didapat

atau kongenital, galaktosemia ( Escherichia coli) pemberian preparat besi

intramuskuler ( E.coli ), anomali kongenital (saluran kencing, asplenia,

myelomeningokel, saluran sinus), omfalitis dan kembar (terutama kembar kedua

dari janin yang terinfeksi). Prematuritas merupakan faktor resiko baik pada sepsis

awal maupun lanjut.

Sepsis Neonatal merupakan jenis infeksi neonatal dan secara khusus

mengacu pada infeksi darah akibat bakteri (BSI) bayi baru lahir, seperti

meningitis, pneumonia, gastroenteritis atau pielonefritis dalam kondisi deam.

Sepsis neonatal dibagi menjadi dua kategori yakni early-onset sepsis (EOS) dan

late-onset sepsis (LOS). EOS mengacu pada sepsis muncul pada 7 hari pertama
kehidupan bayi (meskipun dalam beberapa kasus EOS muncul saat 72 jam

pertama kehidupan).

Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda – tanda klinis dan

gejala – gejala infeksi yang parah dapat berkembang kea rah septisemia dan syok

septik (Doenges,1999).Sedangkan sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang

diderita neonatus dengan gejala sistematik dan terdapat bakteri dalam darah.

Perjalanan penyakit sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga

sering sekali tidak terpantau, tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat

meninggal dalam 24 samapi 48 jam (Surasmi,2003). Berikut ini adalah beberapa

definisi atau pengertian dari sepsis neonatorum atau sepsis pada bayi baru lahir

(Maryumi,2009),yaitu :

1. Sepsis neonatorum atau septicemia neonatorum merupakan keadaan dimana

terdapat infeksi oleh bakteri dalam darah di seluruh tubuh.


2. Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah

dan jaringan lain.


3. Sepsis bacterial pada neonatus adalah sindrom klinis dengan gejala infeksi

sistemik dan diikuti dengan bakterimia pada bulan pertama kehidupan

(WHO,1996).
4. Sepsis merupakan suatu proses berkelanjuta nmulai dari infeksi, SIRS (Systeic

Inflammatory Respopnse Syndrome), sepsis, sepsis berat, syok septic, disfungsi

multiorgan dan akhirnya kematian.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sepsis

Faktor – factor yang mempengaruhi terjadinya sepsis dibagi menjadi dua :


1. Faktor Ibu

 Ketuban pecah sebelum waktunya

 Infeksi peripartum

 Partus lama

 Infeksi Intrapartum

2. Faktor Anak

 Berat badan lahir rendah

 Prematuritas

 Kecil untuk masa kehamilan

 Defek kongenital

 Bayi laki – laki lebih banyak dari perempuan

 Korioamnionitis

 Fetal Tarkikardi > 160 kali/menit

3. Faktor Minor

 Ibu dengan demam intrapartum > 37,5°C

 Kehamilan kembar

 Bayi prematur (Ibu dengan leukositosis ( hitung sel darah putih

>15.000 )

 Ruptur membran > 12 jam

 Takipnea < 1 >

 Kolonisasi SGB pada ibu

 APGAR score yang rendah


 Berat badan lahir rendah / LBW

Berikut ini akan dibahas sebagian dari faktor-faktor yang telah disebut

diatas :

I. Berat lahir memegang peran penting pada terjadinya sepsis neonatal.

Dilaporkan bahwa bayi dengan berat lahir rendah mempunyai resiko 3 kali

lebih tinggi terjadi sepsis daripada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500

gram.Makin kecil berat lahir makin tinggi angka kejadian sepsis. Masalah

sepsis bukan saja terjadi dekat setelah lahir,tetapi seringkali seorang bayi

berat lahir rendah setelah dapat mengatasi masalah prematuritasnya selama

5 hari pertama kehidupan ,meninggal setelah mendapat sepsis dikemudian

hari(late onset sepsis neonatal). Walaupun angka kematian sepsis onset

lambat mempunyai prognosis yang lebih baik daripada sepsis onset dini.

II. Perawatan di Unit Perawatan Intensif Neonatus ( UPIN ).

Neonatus yang dirawat di ruang rawat intensif mempunyai resiko tinggi

untuk terjadinya infeksi. Hal ini dapat dimengerti oleh karena pada

umumnya pasien yang dirawat di ruang intensif adalah pasien berat. Pada

umumnya infeksi merupakan penyebab kematian pada bayi kecil.

III. Respon imun penjamu

Kerentanan bayi baru lahir terhadap terjadinya sepsis diduga disebabkan

oleh karena sistem imunologi baik humoral maupun selular yang masih

imatur. Para peneliti banyak melaporkan mengenai pengaruh jenis kelamin

pada kejadian sepsis neonatal. Dikemukakan bahwa sepsis neonatal lebih

banyak dijumpai pada anak laki-laki daripada bayi perempuan. Bayi lelaki
juga lebih rentan terhadap infeksi basil enterik gram negatif sedangkan

bayi perempuan lebih rentan terhadap infeksi bakteri kokus gram positif.

Angka kejadian bayi lelaki lebih rentan menderita sepsis daripada

perempuan dengan rasio 7:3. Dugaan penyebabnya adalah peran faktor

sex-linked pada kerentanan penjamu terhadap infeksi. Telah disepakati

bahwa gen yang terletak pada kromosom x mempengaruhi fungsi kelenjar

thymus dan sintesis imunoglobulin. Perempuan mempunyai dua gen x

mungkin hal ini yang menyebabkan lebih tahan terhadap infeksi. Beberapa

peneliti membuktikan bahwa bayi perempuan lebih jarang menderita

sindrom distres pemapasan. Peneliti lain melaporkan bahwa rasio

lecithin:sphingomyelin dan konsentrasi saturated phosphatidylcholine

serta kortisol dalam cairan amnion pada kehamilan 28-40 minggu bayi

perempuan lebih tinggi daripada bayi lelaki.

IV. Faktor geografi

Jenis bakteri penyebab berbeda antara satu rumah sakit dengan rumah

sakit lain atau antara negara satu dengan negara lain. Hal ini disebabkan

karena perbedaan fasilitas pelayanan kesehatan, budaya setempat termasuk

sexual-practices, pelayanan perawatan, dan pola penggunaan antibiotik.

Hal tersebut akan menyebabkan pola etiologi sepsis neonatal berbeda pada

tiap negara. Spesies Salmonella dan Enterobacteriacae lainnya serta

Streptococcus pneumonia di samping E.coli di daerah tropis banyak

dilaporkan sebagai penyebab utama sepsis neonatal. Faktor lain adalah

jenis kolonisasi bakteri pada ibu hamil-pun berbeda di setiap negara.


V. Faktor sosio-ekonomi

Pola gaya hidup ibu,termasuk kebiasaan.kondisi perumahan, status nutrisi,

dan penghasilan orang tua sangat mempengaruhi resiko terjadinya infeksi

pada bayi baru lahir. Sebenarnya berat bayi lahir rendah dan prematuritas

merupakan faktor resiko terpenting terjadinya sepsis neonatal. Kesempatan

bayi kontak dengan infeksi akan meningkat ketika bayi tersebut pulang.

Pertemuan dengan anggota keluarga lain serumah, akan meningkatkan

resiko terjadinya infeksi (khususnya infeksi stafilokokus) akan sangat

menular ke anggota keluarga yang lain. Keadaan tersebut akan menjadi

lebih berat bila pada keluarga dengan sosio ekonomi rendah.

VI. Perawatan di bangsal bayi.

Dibangsal perawatan bayi baru lahir seringkali infeksi berasal dari orang

dewasa,termasuk ibu,perawat atau keluarga lain yang berkunjung.

Transmisi melalui droplet merupakan sumber infeksi terbanyak, baik

berasal dari orang dewasa maupun dari bayi lahir. Infeksi stafilokokus

biasanya dihubungkan dengan transmisi dari orang dewasa,sedangkan

penularan dari alat dan cairan menyebabkan infeksi spesies Proteus,

Klebsiella, Serratia marcescans, Pseudomonas, dan Flavobacterium. Di

pihak lain,penggunaan antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan

perubahan pola resistensi bakteri setempat.Penggunaan preparat ampisilin

dan gentamisin atau kloramfenikol (sebagai pengobatan standar)dalam

jangka waktu panjang menyebabkan resistensi antibiotik tersebut. Akhir-

akhir ini dilaporkan peningkatan resistensi bakteri terhadap golongan


sefalosporin generasi ketiga terhadap enterik gram negatif lebih cepat

terjadi dibandingkan dengan pengobatan standar.Pemakaian obat topikal

terutama hexachlorophene sebagai anti septik untuk perawatan talipusat,

dilaporkan sangat efektif menghambat kolonisasi stafilokokus tetapi tidak

menghambat kolonisasi bakteri gram negatif. Walaupun demikian belum

pemah dilaporkan hubungan antara pemakaian hexachlorophene dengan

kejadian sepsis neonatal ( Herry Gama,2005 ).

2.2 Epidemiologi

Infeksi neonatus di Negara kita masih merupakan masalah yang gawat. Di

Jakarta terutama di RSCM, infeksi merupakan 10 – 15% dari morbiditas perinatal.

Angka kejadian sepsis neonatorium adalah 1-10 per 1000 kelahiran hidup. Sepsis

terjadi kurang dari 1 % bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30 %

kematian pada bayi baru lahir . Infeksi bakteri lebih sering terjadi pada bayi baru

lahir dengan berat badan kurang dari 2,75 kg dan dua kali lebih sering menyerang

bayi laki – laki .

Sistem imun non spesifik fisiologis didapatkan pada individu sehat yang siap

mencegah mikroba masuk tubuh. Jumlahnya bisa ditingkatkan oleh proses infeksi

terutama di fase akut. Imunitas non Spesifik merupakan pertahanan terdepan

dalam menghadapi serangan berbagai antigen dan memberikan respons langsung .

Pertahanan tubuh alami dengan memproduksi protein fase akut, terjadi oleh
stimulus sitokin pro inflamasi . Salah satu protein fase akut yang berperan penting

adalah CRP ( Afriyanti,2016 ).

C- Reaktif Protein ( CRP ) merupakan opsonin, dihasilkan oleh organ hati

sebagai respons imunologi non spesifik. CRP mengikat komponen dinding antigen

patologis infeksi terutama fosforilkolin ( polisakarida C ). Produksi CRP, beserta

sitokin proinflamasi, mengaktifkan komplemen jalur klasik. CRP menjadi aktif

setelah berikatan dengan kalsium dan kadar CRP aktif untuk menilai aktivitas

penyakit inflamasi . Sintesis CRP dapat meningkat 100x lebih, meningkatkan

viskositas plasma dan laju endap darah . CRP yang tetap tinggi menunjukkan

infeksi yang persisten, karena CRP sebagai protein efektor dalam sirkulasi darah

( molekul larut imunitas non spesifik )( Baratwidjaja,2012).

Sebelum lahir, janin secara optimal dipertahankan di lingkungan yang steril.

Organisme yang menyebabkan sepsis onset awal naik dari jalan lahir baik ketika

selaput ketuban pecah atau bocor sebelum atau selama masa persalinan,

mengakibatkan infeksi intra-amniotik 2 umumnya disebut “

chorioamnionitis”, infeksi intra-amnitik mengindikasikan adanya infeksi pada

cairan amnion, selaput, plasenta, dan / atau desidua ( selaput lendir rahim dalam

keadaan hamil ). Streptokokus kelompok B ( GBS ) juga bisa memasuki cairan

amnion melalui air mata gaib. Chorioamnionitis adalah demam ibu. Kriteria

lainnya relative tidak sensitive.

Insiden sepsis neonatorium beragam menurut definisinya, dari 1-4/1000

kelahiran hidup di Negara maju dengan fluktuasi yang besar sepanjang waktu dan

tempat geografis. Keragaman insidens dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya
dapat dihubungkan dengan angka prematuritas, perawatan prenatal, pelaksanaan

persalinan, dan kondisi lingkungan di ruang perawatan. Angka sepsis neonatorium

meningkat secara bermakna pada bayi yang berat badan lahir rendah dan bila ada

factor risiko ibu ( obstetric ) atau tanda – tanda korioamnionitis, seperti ketuban

pecah lama ( > 18 jam ), demam intrapartum ibu ( .37,50 ), leukositosis ibu

( >18.000 ), pelunakan uterus dan takikardia janin ( >180 kali/menit ).

Faktor risiko host meliputi jenis kelamin laki – laki, cacat imun didapat atau

congenital, galaktosemia ( Escherichia coli), pemberian besi intramuskuler

(E.coli), anomaly congenital ( saluran kencing, asplenia, myelomeningokel,

saluran sinus ), amfalitis dan kembar ( terutama kembar dua dari janin yang

terinfeksi ). Prematuritas merupakan faktor risiko baik pada sepsis mulai – awal

maupun mulai – akhir .

2.3 Etiologi

CRP dinamakan demikian karena pertama kali ditemukan sebagai bahan

dalam serum pasien dengan peradangan akut yang bereaksi dengan polisakrida C-

( kapsuler ) dari pneumococcus .Ditemukan oleh Tillet dan Francis pada tahun

1930, pada awalnya diperkirakan bahwa CRP adalah sekresi pathogen seperti

meningkatnya CRP pada orang dengan berbagai penyakit termasuk kanker.

Namun, penemuan sintesis hati menunjukkan bahwa CRP adalah protein asli.Gen

CRP terletak pada pertama kromosom (1q21-Q23). CRP adalah protein 224-residu

dengan massa molar dari monomer 25.106 Da. Protein ini merupakan disc

pentameric annular dalam bentuk dan anggota dari kecil pentraxins.


Infeksi akut atau sepsis dapat timbul sebagai lanjutan dari infeksi mikroorganisme

termasuk virus, bakteri ,jamur dan parasit. Bayi dapat terkena infeksi selama

kehamilan,sari traktus genital ibu selama kelahiran atau setelah bayi lahir oleh

sebab lain. Berbagai kuman pathogen yang dapat menyebabkan sepsis pada

neonatus.

Semua infeksi pada neonatus dianggap oportunisitik dan setiap bakteri

mampu menyebabkan sepsis. Mikroorganisme berupa bakteri, jamur, virus atau

riketsia. Penyebab paling sering dari sepsis : Escherichia Coli dan Streptococcus

grup B (dengan angka kesakitan sekitar 50 – 70 %. Diikuti dengan malaria, sifilis,

dan toksoplasma. Streptococcus grup A, dan streptococcus viridans, patogen

lainnya gonokokus, candida alibicans, virus herpes simpleks (tipe II) dan

organisme listeria, rubella, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis.

Pertolongan persalinan yang tidak higiene, partus lama, partus dengan

tindakan. Kelahiran kurang, BBLR, cacat bawaan

Etiologi terjadinya sepsis pada neonatus adalah dari bakteri, virus, jamur dan

protozoa ( jarang ). Penyebab yang paling sering dari sepsis awitan awal adalah

Streptokokus grup B dan bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu.

Sepsis awitan lanjut dapat disebabkan oleh SGB, virus herpes simplek

(HSV), enterovirus dan E.coli. Pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah,

Candida dan Stafilokokus koagulase-negatif (CONS), merupakan patogen yang

paling umum pada sepsis awitan lanjut.


2.4 Tanda dan Gejala

Mungkin awalnya sulit untuk mengetahui apakah bayi baru lahir terserang

infeksi atau tidak. Karena bayi baru lahir yang sehat juga dapat memiliki beberapa

gejala meskipun tidak terserang infeksi. Pada bayi baru lahir yang terserang

infeksi, gejala – gejala berikut ini akan berlanjut dan bayi perlu diperiksa oleh

dokter.

Infeksi pada bayi baru lahir bisa memberikan gejala yang serupa :

 Malas minum
 Kesulitan bernapas
 Lemah, tidak aktif
 Suhu tubuh meningkat atau menurun
 Ruam kulit yang tidak biasa atau perubahan warna kulit
 Tangisan yang menetap, rewel yang tidak biasa

Jika infeksi semakin memburuk, bayi yang baru lahir dapat

mengembangkan gejala – gejala tambahan seperti berikut :

 Sulit bernapas
 Kebiruan di sekitar mulut
 Kulit pucat atau keabu – abuan
 Suhu tubuh di atas 38°C
 Suhu tubuh rendah di bawah 36,6°C, meskipun diselimuti atau dikenakan

pakaian.

a. Dari gejala-gejala klinis / manifestasi klinis

Sepsis neonatorum adalah infeksi yang masuk ke dalam tubuh secara

langsung, yang dapat menimbulkan gejala klinis yang berat. Penyebab sepsis

neonatorum adalah bakteri gram positif dan gram negatif, virus infeksi, dapat

masuk secara hematogen, atau infeksi asenden. Waktu masuknya infeksi dapat

berlangsung sebagai berikut :


1. Sebelum inpartu potensi infeksi neonatus dalam keadaan :

a. Ketuban pecah dini akibat infeksi asenden.


b. Akibat melakukan amniotomi.
c. Infeksi ibu sebelum persalinan.

d. Prematuritas akan lebih rentan terhadap infeksi

e. Pertolongan persalinan yang tidak bersih situasinya.

2. Pada saat inpartu sebagai akibat bayi dengan berat badan lahir

rendah/prematuritas atau akibat alat resusitasi yang tidak steril.

3. Terdapat sumber infeksi (infeksi lokal).

4. Stomatitis, perlukaan badan.

5. Sumber infeksi kulit (furunkel).

Berdasarkan kejadiannya, infeksi sepsis neonatorum berlangsung dalam

dua awitan ( permulaan / gejala ) berikut :

1. Gejala dini :

a) Gejala klinisnya tampak secara dini yaitu sekitar/sejak semula (rata-rata 48

jam pertama).
b) Infeksi berkaitan dengan sumber pada ibunya saat proses persalinan.
c) Kumannya: stafilokokus (E. Coli, H. Infuenzae, Klebsiella, Monilia).

2. Gejala lanjut :

a) Gejala klinisnya tampak setelah7 hari, saat penderita telah pulang.


b) Sumber infeksinya: faktor lingkungan yang kotor dan infeksius, infeksi

nosokomial di rumah sakit.


c) Penyebab infeksinya : S. Aureus, stafilokokus grup beta, E. Coli

monositogen.
d) Komplikasi berat : komplikasi susunan saraf pusat.

Diagnosis sepsis nenoatorum sulit ditetapkan karena gejalanya tidak khas.

Setiap perubahan keadaan fisik atau gambaran darah neonatus dianggap terjadi
infeksi sepsis neonatorum. Diagnosis ditegakkan jika terdapat lebih dari satu

kumpulan gejala berikut ini :

1. Gejala umum infeksi : tampak sakit, suhu naik atau turun,

sklerena/skerederna.

2. Gejala gastrointestinal : terdapat diare, muntah, hepatomegali,

splenomegali, atau perut kembung.

3. Gejala paru : sianosis, apnea, atau takipnea.

4. Gejala kardiovaskular : terdapat takikardia, edema atau dehidrasi.

5. Gejala neurologic : letargi (tampak seperti mayat), peka rangsang atau

kejang.

6. Gejala hematologis-laboratorium : ikterus, pendarahan bawah kulit,

leukopenia, dan leukosit kurang dari 5.000/mm3.

7. Pemeriksaan tambahan untuk memperkuat sepsis neonatorum adalah :

KED meningkat, trombositopenia, granulasi toksis vakuolisasi sel atau granulasi

toksis, vakuolisasi nukleus polimorf.

Diagnosis pastinya ditegakkan bila dijumpai bakteri kuman dalam darah dan

semua cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.