Anda di halaman 1dari 6

SEKILAS TENTANG LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO SYARIAH DI INDONESIA

Oleh Abdul Rasyid (Maret 2017)

Lembaga keuangan mikro (LKM) di Indonesia saat ini berkembang pesat dan mempunyai
peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Pesatnya perkembangan LKM
ini karena hampir 51,2 juta unit atau 99,9% pelaku usaha dalam perekonomian Indonesia
didominasi oleh unit usaha mikro dan kecil (Ali sakti: 2013). LKM bisa dikatakan sebagai
salah satu pilar penting dalam proses intermediasi keuangan yang dibutuhkan oleh
masyarakat kecil dan menengah guna untuk konsumsi maupun produksi serta juga
menyimpan hasil usaha mereka.

LKM diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro.
Menurut Pasal 1 (1) Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro,
yang dimaksud dengan LKM adalah:

lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan
pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro
kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi
pengembangan usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan.

Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa LKM merupakan lembaga keuangan yang
berfungsi sebagai lembaga intermediary yang bertujuan tidak hanya semata-mata mencari
keuntungan (profit motive) saja, tetapi mempunyai tujuan lain yakni tujuan sosial (social motive)
yang kegiatannya lebih bersifat community development (I Gde Kajeng Baskara: 2013).
Selain menjalankan aktivitas secara konvensional, LKM juga bisa beroperasi berdasarkan
prinsip syariah. Khusus untuk lembaga keuangan mikro syariah (LKMS), kegiatan yang
dilakukannya dalam bentuk pembiayaan, bukan simpanan. Pembiayaan di sini diartikan
sebagai penyediaan dana kepada masyarakat yang harus dikembalikan sesuai dengan yang
diperjanjikan menurut prinsip syariah (lihat Pasal 1 (4) UU-LKM). LKMS dalam
menjalankan usahanya harus merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah
Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Di samping itu, LKMS juga wajib
membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas memberi nasihat dan saran
kepada direksi atau pengurus, dan mengawasi kegiatan LKM sesuai dengan prinsip syariah
(lihat Pasal 12 & 13 UU-LKM).

LKM sebelum beroperasi harus mendapat izin terlebih dahulu dari Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) (lihat Pasal 9 UU-LKM). Bentuk badan hukumnya bisa berbentuk koperasi dan
Perseroan terbatas (lihat Pasal 5 UU-LKM). Kegiatan usaha LKM bisa meliputi jasa
pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan
usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun
pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha (lihat Pasal 11 UU-LKM). LKM yang akan
beroperasi harus mengajukan permohonan untuk mendapat izin usaha dari OJK semenjak
diberlakukannya UU-LKM pada tanggal 8 januari 2015. Adapun bagi LKM yang selama ini
telah beroperasi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga
Keuangan Mikro wajib memperoleh izin usaha dengan pengukuhan sebagai LKM oleh OJK
selambat-lambatnya 8 Januari 2016 (lihat Pasal 29 ayat 1 POJK nomor 12/POJK.05/2014
tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Lembaga Keuangan Mikro). Saat ini, berdasarkan
data OJK per 31 Januari 2017, terdapat 138 Lembaga Keuangan Mikro yang telah terdapat di
OJK.

LKMS dalam menjalankan usahanya berada dalam satu wilayah desa/kelurahan, kecamatan,
atau kabuapen/kota. Jika LKMS melakukan kegiatan usaha melebihi 1 (satu) wilayah
kabupaten/kota maka ia wajib merubah bentuknya menjadi bank (lihat Pasal 16 & 27 UU-
LKM). Dalam hal pembinaan, pengaturan, dan pengawasan LKM, baik yang berbadan
hukum koperasi dan perseroan terbatas, dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Terkait dengan pembinaan terhadap LKM berbadan hukum koperasi, OJK akan melakukan
koordinasi dengan kementerian yang menyelenggarakan urusan koperasi.

Sebelum lahirnya Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro,
LKMS di Indonesia dikenal dengan nama Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau Koperasi Simpan
Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Lembaga tersebut di atas pada umumnya berbadan
hukum koperasi. Berdasarkan Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasion
yang secara spesifik diatur dalam Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Republik Indonesia Nomor 16/Per/M.KUM/IX/2015 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Koperasi, perihal perizinan, pendirian,
pengawasan dan pembinaan badan koperasi jenis KSPPS harus dilakukan oleh Pemerintah.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa BMT/KSPSS merupakan lembaga
keuangan mikro yang beroperasi berdasarkab prinsip syariah yang berbadan hukum koperasi
di bawah pegawasan kementerian koperasi dan usaha kecil dan menengah.
BMT mempunyai peran penting dalam perekonomian nasional. BMT tumbuh dan
berkembang dengan pesat, sehingga keberadaannya berkontribusi dalam meningkatkan usaha
masyarakat kecil dan menengah. Beberapa fungsi yang dijalankan BMT selain menghimpun
dana juga berfungsi menyalurkan dana disertai imbalan jasa dana yang dihimpum/disalurkan
dan memiliki fungsi sosial sebagai baitul maal. Sampai saat ini tidak ada data yang jelas
tentang jumlah BMT dan sebarannya. Meski demikian, BMT link memperkirakan jumlah
BMT tahun 2006 sebesar 3.200 dengan jumlah nasabah sebanyak 3 juta orang, kemudian
sampai akhir tahun 2010 tumbuh menjadi sekitar 5.200 BMT untuk melayani nasabah 10 juta
orang (Ali Sakti: 2013). Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Muhammad Kholim,
terdapat tiga wilayah yang memiliki jumlah BMT yang terbesar di Indonesia, yaitu di wilayah
Jawa Barat dengan 637 BMT (433 BMT yang melaporkan kegiatannya ke PINBUK), Jawa
Timur dengan 600 BMT (519 BMT yang melaporkan kegiatannya) dan Jawa Tengah
menduduki urutan ketiga dengan 513 BMT (447 BMT yang melaporkan kegiatannya (M.
Kholim: 2004).
BMT atau KSPPS sering disebut juga dengan Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah LKM
berbadan hukum koperasi yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan tujuan
menyediakan permodalan bagi masyarakat usaha mikro dan dan kecil. Saat ini berdasarkan
data yang dimiliki oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM), sampai dengan akhir tahun 2011, secara umum ada sekitar 187.598 unit koperasi,
yang mana sebanyak 71.365 unit merupakan koperasi simpan-pinjam, dan kurang lebih 5.500
unit (7,7%) diantaranya adalah BMT.

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan


Mikro semakin mengukuhkan eksistensi LKM di Indonesia untuk melegitimasi aktivitasnya
yang selama ini dianggap bermasalah dan tidak memiliki kepastian hukum. Namun, lahirnya
UU-LKM ini juga menimbulkan persoalan baru, terutama terkait dengan pengaturan LKMS,
seperti BMT dan KSPPS yang berbadan hukum koperasi. Sebelum diberlakukan UU-LKM,
BMT dan KSPPS merupakan lembaga keuangan mikro yang mayoritas bentuk hukumnya
adalah koperasi, sehingga pengaturannya tunduk pada Undang-undang No. 25 Tahun 1992
tentang Perkoperasian. Berdasarkan undang-undang koperasi pengawasan dan pembinaannya
di bawah kementerian koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. JIka melihat Pasal 29 (1)
POJK Nomor 12/POJK.05/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Lembaga
Keuangan Mikro secara jelas diatur bahwa LKM yang telah beroperasi sebelum berlakunya
Undang-Undang No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro seperti Baitul Maal wa
Tamwil (BMT), Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM), wajib mendapat ijin usaha dan
dikukuhkan oleh OJK. Hal ini juga berlaku bagi BTM yang ada sebelum diundangkannya
BMT.

Di samping itu, berkaitan dengan persoalan di atas, LKM yang berbadan hukum koperasi
memiliki konsekuensi hukum tunduk pada dua peraturan perundang-undangan yang berbeda,
yaitu undang-undang koperasi dan undang-undang tentang lembaga keuangan mikro. Hal ini
menyebabkan terjadinya aturan ganda bagi LKM Syariah. Dualisme pengaturan hukum itu
berimplikasi terjadinya overlapping kewenangan antar instansi yang mengaturnya,
inkonsistensi, dan kontradiksi dalam pengaturan, pengawasan dan pembinaan terhadap LKM
Syariah. Mengingat pentingnya keberadaan lembaga keuangan mikro dalam meningkatkan
perekonomian masyarakat, maka penting untuk memperhatikan peraturan perundang-
undangan yang mengaturnya. Semua peraturan terkait LKM diharapkan semakin memperkuat
keberadaan dan mempermudah kinerjanya sehingga menjadi lebih baik, bukan malah
sebaliknya.***

Keuangan syariah di Indonesia telah berkembang lebih dari dua dekade sejak beroperasinya Bank
Muamalat Indonesia, sebagai bank syariah pertama di Indonesia. Perkembangan keuangan syariah telah
membuahkan berbagai prestasi, dari makin banyaknya produk dan layanan, hingga berkembangnya
infrastruktur yang mendukung keuangan syariah. Bahkan di pasar global, Indonesia termasuk dalam
sepuluh besar negara yang memiliki indeks keuangan syariah terbesar di dunia. Namun demikian,
pertumbuhan keuangan syariah belum dapat mengimbangi pertumbuhan keuangan konvensional. Hal ini
dapat dilihat dari pangsa pasar (market share) keuangan syariah yang secara keseluruhan masih di bawah
5%. Namun apabila dilihat dari setiap jenis produk syariah, hingga akhir Desember 2016, terdapat
beberapa produk syariah yang market share-nya di atas 5%, antara lain aset perbankan syariah sebesar
5,33% dari seluruh aset perbankan, sukuk negara yang mencapai 14,82% dari total surat berharga negara
yang beredar, lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,24% dari total pembiayaan, lembaga jasa keuangan
syariah khusus sebesar 9,93%, dan lembaga keuangan mikro syariah sebesar 22,26%. Sementara itu,
produk syariah yang pangsa pasarnya masih di bawah 5%, antara lain sukuk korporasi yang beredar
sebesar 3,99% dari seluruh nilai sukuk dan obligasi korporasi, nilai aktiva bersih reksa dana syariah
sebesar 4,40% dari total nilai aktiva bersih reksa dana, dan asuransi syariah sebesar 3,44%. Selain produk
keuangan di atas, saham emiten dan perusahaan publik yang memenuhi kriteria sebagai saham syariah
mencapai 55,13% dari kapitalisasi pasar saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Angka-angka
tersebut di atas menunjukkan bahwa keuangan syariah Indonesia masih perlu terus dikembangkan
sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan keuangan konvensional dalam rangka membesarkan industri
keuangan secara keseluruhan.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam mengakselerasi pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia
adalah melakukan berbagai program yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan lintas sektor, baik
yang melibatkan ketiga sektor ataupun dua sektor. Permasalahan bersama yang dihadapi oleh ketiga sektor
keuangan syariah antara lain keterbatasan suplai produk syariah; keterbatasan akses akan produk keuangan
syariah; masih rendahnya tingkat literasi keuangan syariah dan tingkat utilitas produk keuangan syariah;
keterbatasan sumber daya manusia; perlunya optimalisasi koordinasi dengan para pemangku kepentingan;
serta perlunya kebijakan jasa keuangan yang selaras dan dapat saling mendukung perkembangan seluruh
sektor keuangan syariah.
Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, visi Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah
Indonesia 2017-2019 adalah untuk mewujudkan industri jasa keuangan syariah yang tumbuh dan
berkelanjutan, berkeadilan, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan stabilitas sistem
keuangan menuju terwujudnya Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.
Selanjutnya, untuk mencapai visi tersebut, misi utama yang akan dilakukan dalam periode waktu 2017-
2019 adalah (1) meningkatkan kapasitas kelembagaan dan ketersediaan produk industri keuangan syariah
yang lebih kompetitif dan efisien, (2) memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan (3) meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan
koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.
Dalam menjalankan misi tersebut terdapat beberapa program unggulan yang dilakukan untuk
membesarkan keuangan syariah antara lain penguatan kapasitas kelembagaan industri jasa keuangan
syariah; peningkatan ketersediaan dan keragaman produk keuangan syariah; pemanfaatan fintech dalam
rangka memperluas akses keuangan syariah; perluasan jaringan layanan keuangan syariah; optimalisasi
promosi keuangan syariah; peningkatan kapasiatas sumber daya manusia; dan peningkatan koordinasi
antar pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Dengan
menjalankan seluruh program tersebut diharapkan visi dan misi keuangan syariah Indonesia yang telah
ditetapkan dapat terwujud.

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Lembaga ini merupakan lembaga keuangan mikro yang berdasarkan
prinsip syariah dan berlandaskan ajaran Islam. Secara etimologis Baitul Maal wat Tamwil terdiri dari
dua arti yakni Baitul Maal yang berarti “rumah uang” dan Baitul Tamwil dengan pengertian “rumah
pembiayaan”. Rumah uang dalam artian ini adalah pengumpulan dana yang berasal dari infaq, zakat,
ataupun shodaqah, dan pembiayaan yang dilakukan adalah berdasarkan prinsip bagi hasil, yang
berbeda dengan sistem perbankan konvensional yang mendasarkan pada sistem bunga. Sejarah
keberadaan BMT di Indonesia tidak lepas dari dibentuknya Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha Kecil
(YINBUK). Yayasan ini dibentuk sekitar bulan Maret tahun 1995 melalui prakarsa dari Majelis Ulama
Indonesia (MUI), Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) beserta Bank Muamalat yang
merupakan bank pertama di Indonesia dengan prinsip syariah. Dalam susunan dewan pendiri
tercatat nama B.J. Habibie, mantan presiden Indonesia. YINBUK kemudian membentuk Pusat
Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) (Irwan, 2006). Pendirian PINBUK dimaksudkan sebagai sarana
operasional untuk menyalurkan dana yang dihimpun oleh YINBUK. Institusi inilah yang kemudian
memprakarsai pembentukan BMT di Indonesia, dengan juga melakukan pembinaan, monitoring,
evaluasi hingga perlindungan dalam legal status, karena status BMT yang pada saat itu belum jelas.
Pada bulan Desember 1995, Presiden Suharto mendeklarasikan BMT sebagai sebuah gerakan
nasional untuk pemberdayaan usaha kecil, dan di tahun tersebut BI juga mengijinkan BMT sebagai
lembaga yang dapat diberikan bantuan pendanaan dan masuk dalam program linkage dengan bank
umum. Secara operasional BMT dijalankan dengan organisasi seperti koperasi. Keanggotaan awal
minimal 20 orang anggota. Baitul Maal memiliki prinsip sebagai penghimpun dan penyalur dana
zakat, infaq dan shadaqah, dalam arti bahwa Baitul Maal hanya bersifat “menunggu” kesadaran
umat untuk menyalurkan dana zakat, infaq dan shadaqahnya saja tanpa ada sesuatu kekuatan untuk
melakukan pengambilan ataupun pemungutan secara langsung kepada mereka yang sudah
memenuhi kewajiban tersebut. Selain sumber dana tersebut BMT juga menerima dana berupa
sumbangan, hibah, ataupun wakaf serta sumber -sumber dana yang bersifat sosial. Penyaluran dana-
dana yang bersumber dari dana-dana Baitul Maal harus bersifat spesifik, terutama dana yang
bersumber dari zakat, karena dana dari zakat ini sarana penyalurannya sudah ditetapkan secara
tegas dalam AI-Qur’an yaitu kepada delapan ashnaf antara lain: faqir miskin, amilin, mu’alaf,
fisabilillah, gharamin, hambu sahaya, dan musafir. Sedangkan dana di luar zakat dapat digunakan
untuk pengembangan usaha orangorang miskin, pembangunan lembaga pendidikan, masjid maupun
biaya-biaya operasional kegiatan sosial lainnya. Ada tiga prinsip yang dapat dilaksanakan oleh BMT
(dalam fungsinya sebagai Baitut Tamwil), yaitu (1) prinsip bagi hasil, (2) prinsip jual beli dengan
keuntungan, (3) prinsip non-profit (Wardiwiryono, 2012). Saat ini keberadaan BMT sudah mencakup
seluruh wilayah Indonesia, dengan populasi terbanyak berada di Pulau Jawa. Selain di Pulau Jawa,
konsentrasi populasi BMT yang cukup besar terdapat di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Data dari RENDEV Project menyebutkan sebanyak 2.025 BMT-YINBUK terdapat di Indonesia. Dari
jumlah tersebut sekitar 72% atau 1.456 lembaga berada di Pulau Jawa (Adriani, 2005). Semenjak
disahkannya UU No. 1 tahun 2013, BMT diklasifikasikan sebagai LKM yang harus mengikuti aturan
dalam perundang an tersebut. Hal ini memberikan status legal yang sudah lama dinantikan oleh
BMT.

Pemaparan dalam artikel konseptual ini memberikan gambaran tentang keberadaan lembaga
keuangan mikro di Indonesia. Lembaga ini mempunyai sejarah yang cukup panjang sejak dari jaman
penjajahan Belanda hingga saat ini. Perjalanan yang panjang ini menguatkan peran dari lembaga ini
di dalam masyarakat. Struktur masyarakat Indonesia yang amat heterogen membutuhkan lembaga
keuangan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing kelompok. Karakter orang Indonesia yang
bersifat komunal sangat sesuai dengan jenis lembaga keuangan yang bersifat community banking.
Lembaga keuangan mikro yang kuat tentunya akan berdampak positif pada pengembangan usaha
mikro kecil dan menengah di seluruh pelosok. Penguatan legalitas dengan diterbitkannya peraturan
perundangan tentang LKM dirasa sangat tepat. Payung hukum yang komprehensif tentunya I Gde
Kajeng Baskara, Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia 123 akan semakin memperkuat keberadaan
lembaga keuangan ini. Pengaturan serta pembinaan dan pengawasan yang berkesinambungan
diharapkan dapat membuat lembaga keuangan mikro mampu berdiri sejajar dengan lembaga
keuangan perbankan. Dengan demikian peningkatan financial inclusion bagi masyarakat kecil akan
mampu memberikan sumbangan yang besar dalam proses pembangunan

Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) tercatat paling menonjol dalam keuangan
syariah di Indonesia. LKMS lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan BMT (Baitul Mall wa
Tamwill). Ada LKMS yang menyebut diri sebagai Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), dan secara
lengkap menyatakan diri sebagai KJKS BMT dengan nama tertentu (Mahmudi, 2015). BMT pada
umumnya mempunyai dua latar belakang pendirian dan kegiatan yang hampir sama kuatnya, yaitu
peran sebagai lembaga keuangan syariah dan lembaga keuangan mikro.

BMT (Baitul Mall wa Tamwill) merupakan balai usaha terpadu yang memiliki kegiatan usaha
produktif dan investasi dalam peningkatan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil dan
menengah dengan mendorong kegiatan menunjang kegiatan ekonomi dan menabung. Baitul Mall
wa Tamwill (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu Baitul Mall dan Baitut Tamwill. Baitul Mall lebih
mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti : zakat,
infaq dan shodaqoh. Sedangkan Baitut Tamwill sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana
komersial. Usaha-usaha tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari BMT sebagai
pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berlandaskan syariah (Tyas dan Ari, 2012).
Berdasarkan latarbelakang diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut

a. Lembaga keuangan mikro merupakan salah satu pilar dalam proses intermediasi keuangan.
Keuangan mikro dibutuhkan oleh kelompok masyarakat kecil dan menengah baik untuk konsumsi
maupun produksi serta juga menyimpan hasil usaha mereka. Tujuan penulisan artikel ini adalah
memberikan pemaparan bagaimana keberadaan lembaga keuangan mikro di Indonesia serta telaah
terkait lembaga keuangan mikro dari perspektif Undang-undang no.1 tahun 2013 tentang lembaga
keuangan mikro. Penyajian artikel ini terbagi menjadi empat bagian utama, (1) konsep dan definisi
keuangan mikro, (2) sejarah perkembangan lembaga keuangan mikro di Indonesia, (3) lembaga
keuangan mikro yang saat ini terdapat di Indonesia, dan (4) telaah terkait Undang-undang No. 1
tahun 2013 tentang lembaga keuangan mikro. Dari hasil pembahasan terlihat bahwa begitu
beragamnya jenis lembaga keuangan mikro di Indonesia yang berdasarkan heterogenitas
masyarakat. Peraturan dan legalitas amat dibutuhkan untuk memperkuat peran lembaga ini.
Pemaparan kajian tentang lembaga keuangan mikro di Indonesia diharapkan dapat memperluas
wawasan kita tentang peran lembaga ini dalam proses pembangunan dan konsep pengembangan di
masa yang akan datang: