Anda di halaman 1dari 16

PELAKSANAAN PANCASILA DAN UUD 1945 SECARA MURNI DAN

KONSEKUENSI

DISUSUN OLEH :

 BELLA ANJANI
 EKA LUCIANA DEWI
 ANI KANIATI
 ALVI NUR IMAMAH

Dosen Pengampu :

THOMAS ALFA EDISON,M.Si

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

AS-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2014 /2015
JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kec. Lempuing Jaya Kab. OKI
Sum-sel 30657
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa kita semua ke jalan kebenaran yang diridhoi
Allah SWT.
Maksud penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pancasila yang diamanatkan oleh dosen kepada penulis. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangannya baik dalam cara
penulisan maupun dalam isi.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis yang
membuat dan umumnya bagi yang membaca makalah ini, untuk menambah
pengetahuan tentang pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Amin.

Lempuing Jaya, Desember 2014


Penulis

ii
Daftar isi
Halaman Depan ............................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pancasila ...................................................................................2
2.2 Pelaksanaan Pancasila ................................................................................2
2.3 Pelaksanaan Pancasila Dalam Konteks Berbangsa Dan Bernegara .............4
2.4 Pelaksanaan Pancasila Dalam Berbangsa Dan Bernegara...........................6
2.5 Pengertian Uud/Konstitusi .........................................................................8
2.6 Pelaksanaan Uud Di Indonesia ..................................................................8
2.7 Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari .....................................................10
BAB II PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................12
3.2 Saran............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa
Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap
bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan
kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa
daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu
sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan.
Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan landasan
berbangsa dan bernegara yang implementasinya mewajibkan semua manusia
Indonesia harus ber-ketuhanan. Karena keberadaan Tuhan melingkupi semua wujud
dan sifat dari alam semesta ini, diharapkan manusia Indonesia dapat menyelaraskan
diri dengan dirinya sendiri, dirinya dengan manusia-manusia lain di sekitarnya,
dirinya dengan alam, dan dirinya dengan Tuhan. Keselarasan ini menjadi tanda dari
mausia yang telah meningkat kesadarannya dari kesadaran rendah menjadi
kesadaran manusia yang manusiawi.
Pada hakikatnya, Pancasila juga terbuka pada pemikiran ideologi lainnya.
Kecuali terhadap ideologi Komunisme yang nyata-nyata bertentangan dengan
Pancasila harus tetap dilarang dan tidak boleh hidup di bumi Indonesia.
Artinya Pancasila menjadi ajimat yang ampuh bagi rejim dalam mengambil
segala bentuk keputusan, rakyat diharuskan tunduk pada legitimasi yang digunakan
dengan melalui pengatasnamaan Pancasila, inilah di kemudian waktu menjadi
permasalahan yang rumit.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa Pengertian Pancasila?
2. Bagaimana Pelaksanaan Pancasila ?
3. Bagaimana Pelaksanaan Pancasila Dalam Konteks Berbangsa Dan
Bernegara?
4. Bagaiman Pelaksanaan Pancasila Dalam Berbangsa Dan Bernegara?
5. Apa Pengertian UUD/Konstitusi ?
6. Bagaimana Pelaksanaan UUD Di Indonesia ?
7. Bagaiman pelaksanaan Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari?

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PANCASILA
Istilah “Pancasila” telah dikenal di Indonesia sejak zaman majapahit abad XIV,
yaituterdapat pada buku Negara Kertagama karangan Empu Prapanca dan dalam
bukuSutasoma karangan Empu Tantular. Tetapi baru dikenal oleh bangsa Indonesia
sejak tanggal 1 Juni 1945, yaitu pada waktu Ir. Soekarno mengusulkan Pancasila
sebagaidasar negara dalam sidang Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan
KemerdekaanIndonesia.

1. Dari Segi Etimologi, Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta (bahasa


Brahmana India) yang artinya Panca “lima” dan Sila / syila “batu sendi, tingkah
laku atau dasar”.Tingkah laku disini diartikan sebagai tingkah laku yang baik.
Jadi, pancasila ialah lima batu sendi, yaitu lima dasar tingkah laku baik yang
menjadi sendi dari masyarakat.
2. Dari segi Terminologi, Istilah “Pancasila” di dalam “Falsafah Negara Indonesia”
mempunyai pengertiansebagai nama dari 5 dasar negara RI, yang pernah
diusulkan oleh Bung Karno atas petunjuk Mr. Moh. Yamin pada tanggal 1 Juni
1945, yaitu pada saat bangsa Indonesiasedang menggali apa yang akan
dijadikan dasar negara yang akan didirikan padawaktu itu. Lima dasar negara
yang diberikan nama Pancasila oleh Bung Karno, ialah :
1. Kebangsaan
2. Prikemanusiaan
3. Mufakat
4. Kesejahteraan Sosial
3. 5.Ketuhanan YME
2.2 PELAKSANAAN PANCASILA dan UUD 1945 secara Murni Dan Konsekuen
1. BIDANG POLITIK
Nilai dan ruh demokrasi yang sesuai dengan visi Pancasila adalah yang berhakikat :
a. kebebasan, terbagikan/terdesentralisasikan, kesederajatan, keterbukaan,
menjunjung etika dan norma kehidupan
b. kebijakan politik atas dasar nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi yang
memperjuangkan kepentingan rakyat , kontrol publik,
c. Pemilihan umum yang lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat yang
seluas-luasnya
d. supremasi hukum.
Begitu pula standar demokrasinya yang :
a. bermekanisme ‘checks and balances’, transparan, akuntabel,
b. berpihak kepada ‘social welfare’, serta
c. meredam konflik dan utuhnya NKRI.

2
Aktualisasi secara objektif seperti perbaikan di tingkat penyelenggara
pemerintahan. Lembaga-lembaga negara mesti paham betul bagaimana bekerja
sesuai dengan tatanan Pancasila. Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif harus terus
berubah seiring tantangan zaman.
2. BIDANG EKONOMI
Ekonomi menurut pancasila adalah berdasarkan asas kebersamaan,
kekeluargaan artinya walaupun terjadi persaingan namun tetap dalam kerangka
tujuan bersama sehingga tidak terjadi persaingan bebas yang mematikan. Jadi
interaksi antar pelaku ekonomi sama-sama menguntungkan dan tidak saling
menjatuhkan.
Pilar Sistem Ekonomi Pancasila yang meliputi:
1. ekonomika etik dan ekonomika humanistik
2. nasionalisme ekonomi & demokrasi ekonomi
3. ekonomi berkeadilan social.
3. BIDANG SOSIAL BUDAYA
Pertama, Cara efektif dalam menrapkan adalah dengan melalui pendidikan formal
maupun nonformal, baik disekolah, pendidikan keagamaan dan acara-acara lain yang
memberikan perhatian terhadap etika dan moral bangsa Indonesia.
Kedua, sikap individualisme yang memengaruhi budaya masyarakat Indonesia yang
biasa bergotong-royong dan kekeluargaan. Hal tersebut perlu diperhatikan dalam
kehidupan social masyarakat Indonesia.
Ketiga, pengaruh sikap materialistis dan sekularisme, yaitu sikap yang lebih
mementingkan nilai materi daripada yang lainnya sehingga dapat merusak sendi-
sendi kehidupan yang menjunjung keadilan dan moralitas. Selain itu, sekularisme
perlu juga diwaspadai karena Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-
nilai Ketuhanan.

4. BIDANG HUKUM
Pengembangan prinsip-prinsip yang berbasis pada filosofi kemanusiaan dalam
nilai-nilai Pancasila, antara lain :
 Perdamaian - bukan perang.
 Demokrasi - bukan penindasan.
 Dialog - bukan konfrontasi.
 Kerjasama - bukan eksploitasi.
 Keadilan -bukan standar ganda.
Pertahanan dan Keamanan Negara harus berdasarkan pada tujuan demi
tercapainya hidup manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, harus menjamin
hak-hak dasar, persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan dan hankam.
Pertahanan dan keamanan harus diletakkan pada fungsi yang sebenarnya sebagai
soatu Negara hukum dan bukannya suatu Negara yang berdasarkan kekuasaan.

3
Peranan Pancasila sebagai margin of appreciation di bidang hukum akan
mewarnai segala sub sistem di bidang hukum, baik substansi hukum yang bernuansa
“law making process”, struktur hukum yang banyak bersentuhan dengan “law
enforcement” maupun budaya hukum yang berkaitan dengan “law awareness”.
Peranan Pancasila sebagai margin of appreciation yang mengendalikan
kontekstualisasi dan implementasinya telah terjadi pada:
1. Pada saat dimantabkan dalam Pembukaan UUD 1945 pada saat 4 kali proses
amandemen
2. Pada saat merumuskan HAM dalam hukum positif Indonesia
3. Pada saat proses internal di mana The Founding Fathers menentukan urutan
Pancasila.
Beberapa arah kebijakan negara yang tertuang dalam GBHN, dan yang harus
segera direlisasikan, khususnya dalam bidang hukum antara lain:
1. Menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui
dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbarui Undang-
undang warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif, termasuk
ketidak adilan gender dan ketidak sesuaiaannya dengan tuntutan reformasi
melalui program legislasi.
2. Meningkatkan integritas moral dan keprofesionalan para penegak hukum,
termasuk Kepolisian RI, untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dengan
meningkatkan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum,
pendidikan, serta pengawasan yang efektif.
3. Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh
penguasa dan pihak manapun.
4. Mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya
kesadaran dan kepatuhan hukum dalam kerangka supremasi hukum dan
tegaknya negara hukum.

2.3 PELAKSANAAN PANCASILA DALAM KONTEKS BERBANGSA DAN BERNEGARA


A. Pelaksanaan Pancasila Pada Masa Reformasi
Kondisi sosial politik ini diperburuk oleh kondisi ekonomi yang tidak berpihak
kepada kepentingan rakyat. Sektor riil sudah tidak berdaya sebagaimana dapat dilihat
dari banyaknya perusahaan maupun perbankan yang gulung tikar dan dengan
sendirinya akan diikuti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah
pengangguran yang tinggi terus bertambah seiring dengan PHK sejumlah tenaga kerja
potensial. Masyarakat kecil benar-benar menjerit karena tidak mampu memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga bahan
bakar minyak (BBM) dan listrik, serta harga bahan kebutuhan pokok lainnya. Upaya
pemerintah untuk mengurangi beban masyarakat dengan menyediakan dana sosial
belum dapat dikatakan efektif karena masih banyak terjadi penyimpangan dalam

4
proses penyalurannya. Ironisnya kalangan elite politik dan pelaku politik seakan tidak
peduli den bergaming akan jeritan kemanusiaan tersebut.
Di balik keterpurukan tersebut, bangsa Indonesia masih memiliki suatu
keyakinan bahwa krisis multidimensional itu dapat ditangani sehingga kehidupan
masyarakat akan menjadi lebih baik. Apakah yang dasar keyakinan tersebut? Ada
beberapa kenyataan yang dapat menjadi landasan bagi bangsa Indonesia dalam
memperbaiki kehidupannya, seperti: (1) adanya nilai-nilai luhur yang berakar pada
pandangan hidup bangsa Indonesia; (2) adanya kekayaan yang belum dikelola secara
optimal; (3) adanya kemauan politik untuk memberantas korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN).

B. Pelaksanaan Pancasila dalam Bidang Ekonomi


Pilar Sistem Ekonomi Pancasila meliputi: (1) ekonomika etik dan ekonomika
humanistik (dasar), (2) nasional ekonomi dan demokrasi (cara/metode
operasionalisasi), dan (3) ekonomi berkeadilan sosial (tujuan). Kontekstualisasi dan
implementasi Pancasila dalam bidang ekonomi cukup dikaitkan dengan pilar-pilar di
atas dan juga dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus dipecahkan
oleh sistem ekonomi apapun. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah: (a) Barang dan jasa
apa yang akan dihasilkan dan berapa jumlahnya; (b) Bagaimana pola atau cara
memproduksi barang dan jasa itu, dan (c) Untuk siapa barang tersebut dihasilkan,
dan bagaimana mendistribusikan barang tersebut ke masyarakat.
Langkah yang perlu dilakukan adalah perlu digalakkan kembali penanaman
nilai-nilai Pancasila melalui proses pendidikan dan keteladanan. Perlu dimunculkan
gerakan penyadaran agar ilmu ekonomi ini dikembangkan ke arah ekonomi yang
humanistik, bukan sebaliknya mengajarkan keserakahan dan mendorong persaingan
yang saling mematikan untuk memuaskan kepentingan sendiri. Ini dilakukan guna
mengimbangi ajaran yang mengedepankan kepentingan pribadi, yang melahirkan
manusia sebagai manusia ekonomi (homo ekonomikus), telah melepaskan manusia
dari fitrahnya sebagai makhluk sosial (homo socius), dan makhluk beretika (homo
ethicus).
Pembangunan politik memiliki dimensi yang strategis karena hampir semua
kebijakan publik tidak dapat dipisahkan dari keberhasilannya. Tidak jarang kebijakan
publik yang dikeluarkan pemerintah mengecewakan sebagian besar masyarakat.
Beberapa penyebab kekecewaan masyarakat, antara lain: (1) kebijakan hanya
dibangun atas dasar kepentingan politik tertentu, (2) kepentingan masyarakat kurang
mendapat perhatian, (3) pemerintah dan elite politik kurang berpihak kepada
masyarakat, (4) adanya tujuan tertentu untuk melanggengkan kekuasaan elite politik.
Keberhasilan pembangunan politik bukan hanya dilihat atau diukur dar
terlaksananya pemilihan umum (pemilu) dan terbentuknya lembaga-lembaga
demokratis seperti MPR, Presiden, DPR, dan DPRD, melainkan harus diukur dari
kemampuan dan kedewasaan rakyat dalam berpolitik. Persoalan terakhirlah yang

5
harus menjadi prioritas pembangunan bidang politik. Hal ini sesuai dengan kenyataan
objektif bahwa manusia adalah subjek negara dan karena itu pembangunan politik
harus dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia. Namun, cita-cita ini sulit
diwujudkan karena tidak ada kemauan dari elite politik sebagai pemegang kebijakan
publik dan kegagalan pembangunan bidang politik selama ini.
Pancasila sebagai paradigma pembangunan politik juga belum dapat
direalisasikan sebagaimana yang dicita-citakan. Oleh karena itu, perlu analisis ulang
untuk menentukan paradigma yang benar-benar sesuai dan dapat dilaksanakan
secara tegas dan konsekuen.
Apabila dianalisis, kegagalan tersebut disebabkan oleh beberapa persoalan
seperti:
1. Tidak jelasnya paradigma pembangunan politik dan hukum karena tidak
adanya blue print.
2. Penggunaan Pancasila sebagai paradigma pembangunan masih bersifat
parsial.
3. Kurang berpihak pada hakikat pembangunan politik dan hukum.
Prinsip-prinsip pembangunan politik yang kurang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila telah membawa implikasi yang luas dan mendasar bagi kehidupan manusia
Indonesia. Pembangunan bidang ini boleh dikatakan telah gagal mendidik
masyarakat agar mampu berpolitik secara cantik dan etis karena lebih menekankan
pada upaya membangun dan mempertahankan kekuasaan. Implikasi yang paling
nyata dapat dilihat dalam pembangunan bidang hukum serta pertahanan dan
keamanan.
Pembangunan bidang hukum yang didasarkan pada nilai-nilai moral
(kemanusiaan) baru sebatas pada tataran filosofis dan konseptual. Hukum nasional
yang telah dikembangkan secra rasional dan realistis tidak pernah dapat
direalisasikan karena setiap upaya penegakan hukum selalu dipengaruhi oleh
keputusan politik. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila pembangunan bidang
hukum dikatakan telah mengalami kegagalan. Sementara, pembangunan bidang
pertahanan dan keamanan juga telah menyimpang dari hakikat sistem pertahanan
yang ingin dikembangkan seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri republik
tercinta ini. Pembangunan pertahanan dan keamanan lebih diarahkan untuk
kepentingan politik, terutama guna mempertahankan kekuasaan.

2.4 PELAKSANAAN PANCASILA DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA


Pelaksanaan Pancasila dapat dibedakan antara yang obyektif dan subyektif
Yang dimaksut dengan pelaksanaan obyektif adalah bahwa Pancasila harus
dilaksanakan dalam UUD , penguasa negara yang meliputi :
a. Semua bidang kekuasaan baik legislatif , eksekutif maupun
yudikatif

6
b. Semua bidang usaha kenegaraan dan kemasyarakatan dalam hal
menentukan kebijaksanaan dalam haluan negara .
Pelaksanaan yang subjektif maksudnya ialah pelaksanaan dalam pribadi
perseorangan , warga negara , penguasa negara , dan penduduk. Pelaksanan
pancasila yang subjektif ini ialah terutama penting karena merupakan persyaratan
yang sebaik baiknya bagi berhasilnya pelaksanaan yang objektif .

A. REALISASI PELAKSANAAN PANCASILA YANG SUBJEKTIF


Ini dilakukan secara berangsur angsur dengan jalan pendidikan di sekolah ,
dalam masyarakat , dalam keluarga , didik diri sehingga dapat diperoleh berturut
turut :
a. Pengetahuan , sedapat mungkin yang lengkap dari pancasila
b. Kesadaran ialah selalu dalam keadaan mengetahui keadaan
dalam diri sendiri , selalu ingat dan setia kepada pancasila
c. Ketaatan ialah selalu dalam keadaan bersedia melaksanakan
pancasila lahir batin
d. Kemampuan , ialah mampu untuk melaksanakan pancasila
e. Mentalitas , watak hati dan nurani , sehingga orang selalu
melaksanakan dengan sendirinya
Karena pancasila pun mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak , yaitu
berupa sifat kodrat manusia dalam kenyataan yang sewajarnya , ialah sifat
perorangan (individu) dan makhluk sosial di dalam kesatuan yang bulat dan harmonis
atau dengan istilah yang lain monodualis (kedua tunggalan) . Kembali kita dalam
pembicaraan bahwa pancasila mempunyai sifat sebagai pemersatu , asas persatuan ,
asas kesatuan , asas damai dan kerjasama mengingat juga bahwa bangsa Indonesia
dimana warga warganya mempunyai kesamaan dan perbedaan , maka jelas dan
mutlak bahwa pancasila itu sebagai pemersatu.
Didalam pengamalan pancasila itu perlu ditransformasikan menjadi tujuan
hidup , tinjauan hidup , pedoman hidup , pegangan hidup , dasar sikap hidup
sehingga kita sebagai manusia Indonesia jangan sampai mengubah atau meniadakan
pancasila , karena mengubah atau meniadakan itu berarti suatu pertentangan
dengan sifat hakikat negara kita sebagai negara hukum kebudayaan . Dengan
sendirinya setiap usaha untuk meniadakan Pancasila atau mengubahnya juga
merupakan hal yang bertentangan dengan hukum.
Pancasila sebagai asas persatuan , damai , kerja sama dan sebagainya . Dasar
ini betul betul diliputi oleh semangat kekeluargaan . Kekeluargaan adalah inti dari
pancasila , maka semangat kekeluargaan yang meliputi Undang Undang Dasar itu pun
tidak dapat diubah atau ditiadakan dengan jalan hukum.
Mengingat pula bahwa hakikat keluarga itu ada pertaliannya dengan hubungan
darah , maka semangat keluarga itu adalah bersumber pada cinta kasih yang
menimbulkan persatuan dan kesatuan organis lahir dan batin , untuk mencapai

7
tujuan hidup setiap bangsa dan keseluruhan berdasaran pedoman : satu buat semua
, semua buat satu , semua buat semua

2.5 PENGERTIAN UUD/KONSTITUSI


• Kesepakatan bersama (common platform) yang mengikat berbagai
kelompok politik yang hidup dalam teritori tertentu.
• Hukum dasar yang menetapkan struktur dan prosedur organisasi yang
harus diikuti oleh otoritas publik agar keputusan-keputusan yang dibuat
mengikat komunitas politik.
FUNGSI UUD/KONSTITUSI
• Sebagai dasar bagi pihak yang berkuasa untuk menjalankan
kekuasaannya.
• Sebagai kerangka kerja institusional bagi lembaga-lembaga negara,
merupakan 'kontainer' dimana proses politik dan pemerintahan bekerja
secara dinamis.
• Mendefinisikan organ-organ inti pemerintahan dan jurisdiksinya.
• Menetapkan hak-hak dan kewajiban dasar warga negara

2.6 PELAKSANAAN UUD DI INDONESIA

A. Masa Awal Kemerdekaan


Sejak tanggal 14 Nopember 1945 kekuasaan pemerintah (eksekutif) dipegang
oleh perdana menteri sebagi pimpinan kabinet. Secara bersama-sama atausendiri-
sendiri, perdana menteri atu para menteri itu bertanggung jawap kepadaKNPI, yang
berfungsi sebagai DPR, dan tidak bertanggung jawap kepada presidensebagaimana
yang dikehendaki oleh UUD 1945. Hal ini berakibat semakin tidaksetabilnya negara
republik Indonesia baik di bidang politik, ekonomi, pemerintahan maupun keamanan
Pada bulan september 1955 dan desember 1955 diadakan pemilihan
umum,yang masing-masing untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat dan
anggotakonstituante. Tugas konstituante adalah untuk membentuk , menyusun
Undang-Undang Dasar yang tetap sebagai pengganti UUDS 1950. Untuk mengambil
putusanmengenai Udang-Undang dasar yang baru ditentukan pada pasal 137 UUDS
1950.
Atas dasar kenyataan tersebut maka presiden mengeluarkan suatu dekrityang
didasarkan pada suatu hukum darurat negara (Staatsnoodrecht). Hal inimenginggat
keadaan ketata negaraan yang membahayakan kesatuan, persatuan,keselamatan
serta keutuhan bangsa dan negara repubik indonesia.Dekrit presiden 5 juli 1959.

B. Masa Orde Lama


Karena pelaksanaan yang inskonstitusional itulah maka berakibatpada ketidak
stabilan dalam bidang politik, ekonomi terutama dalam bidangkeamanan. Puncak

8
dari kekuasaan Orde Lama tersebut ditandai denganpemberontakan G30S.PKI.
syukur alhamdulillah pemberontakan tersebut dapatdigagalkan oleh rakyat Indonesia
terutama oleh generasi muda.Dengan dipelopori oleh pemuda, pelajar, dan
mahasiswa rakyat Indonesiamenyampaikan Tritula (Tri Tuntutan Rakyat) yang
meliputi,
a. Bubarkan PKI
b. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI.
c. Turunkan harga/perbaikan ekonomi.
Gelombang gerakan rakyat semakin besar, sehingga presiden tidak mampulagi
mengembalikannya, maka keluarlah surat perintah 11 maret 1966 yangmemberikan
kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil langkah-langkahdalam
mengembalikan keamanan negara. Sejak peristiwa inilah sejarahketatanegaraan
Indonesia dikuasai oleh kekuasaan Orde Baru (Darmodihardjo,1979)

C. Masa Orde Baru


Pada masa awal kekuasaan Orde Baru berupaya untuk memperbaiki
nasibbangsa dalam berbagai bidang antara lain dalam bidang politik, ekonomi,
soaial,budaya maupun keamanan. Dalam kaitan dengan itu di bidang
politikdilaksanakanlah pemilu yang dituangkan dalam Undang-Undang No.15 tahun
1969tentangpemilu umum, Undang-Undang No.16 tentang susunan dan
kedudukanmajelis permusyawaratan rakyat. Dewan perwakilan rakyat dan dewan
perwakilanrakyat daerah
Realisasi UUD 1945 praktisi lebih banyak memberikan porsi atas
kekuasaanpresiden. Walupun sebenarnya UUD 1945 tidak mengamanatkan
demikian. Bahkansecara tidak langsung kekuasaan legislatif di bawah kekuasaan
presiden. Hal inisecara politis dituangkan dalam mekanisme peraturan perundang-
undanganterutama yang menyangkut pemilihan, pengangkatan serta susunan
keanggotaanMPR, DPR, DPRD sera pelaksanaan pemilu. Praktek ini telah
dilaksanakan olehpenguasa orde baru yang di tuangkan kedalam peraturan
perundang-undangansebagai berikut, UU. Tentang susunan dan kedudukan MPR,
DPR, dan DPRD (UUNo.16/1969 jis UU No.5/1975 dan UU. No.2/1985). UU tentang
partai politik dangolongan karya (UU No.3/1975.jo. UU. No.3/1985). UU. Tentang
pemilihan umum(UU No.15/1969 jis UU.No.4/1975. UU. No.2/1980, dan UU.
No.1/1985).
Dengan UU. Politik sebagaimana tersebut di atas maka praktisi secara
politiskekuasaan legislatif di bawah presiden. Terlebih lagi oleh karena sistem politik
yangdemikian maka hak asasi rakyat dibatasi bahkan di tekan demi kekuasaan,
sehinggaamanat sebagaimana tertuang dalam pasal28 UUD 1945, tidak di
realisasikan secarakonsekuen. Oleh karena kekuasaan politik orde baru di bawah
Soeharto semakinsulit untuk dikontrol. Kemudian tatkala terjadi krisis ekonomi
khususnya di AsiaTenggara, maka di Indonesia krisis ekonomi tersebut berkembang

9
menjadi krisiskepercayaan berikutnya menjalar kepada krisis politik. Atas dasar
kenyataanpenyimpanganketatanegara secara politis tersebut maka generasi muda di
bawahpelopor garda depan mahasiswa mengadakan gerakan reformasi
untukmengembalikan dan menata negara ke arah tetenan negara yang demokratis
D. Masa Reformasi
Kekuasaan Orde Baru di bawah Soeharto sampai tahun 1998
membawaketatanegaraan Indonesia tidak mengamanatkan nilai-nilai demokrasi
sebagaimanayang tergantung dalam Pancasila yang mendasarkan pada kerakyatan
didimanarakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam negara, bahkan juga sebenarnya
jugatidak mencerminkan pelaksanaan demokrasi atas dasarnorma-norma pasal-
pasalUUD 1945. Praktek kenegaraan dijangkiti penyakit korupsi, kolusi dan
nepotisme(KKN). Keadaan yang demikian ini membawa rakyat Indonesia semakin
menderita.Terutama karena adanya badai krisis ekonomi dunia yang juga melanda
Indonesiamaka praktisi GBHN 1998 pada PJP II pelita ketujuh tidak dapat
dilaksanakan.Ekonomi Indonesia hancur. Sektor riil ekonomi macet, PHK,
pengangguranmeningkat tajam sehingga terjadilah krisi kepercayaan dan krisis
politik.Antiklimaks dari keadaan tersebut, timbullah berbagai gerakan
masyarakatyang dipelopori oleh generasi muda terutama mahasiswa sebagai sesuatu
gerakanmoral yang memiliki kekuatan yang luar biasa yang menuntut adanya
reformasi disegala bidang kehidupan negara terutama bidang politik, ekonomi dan
hukum.Awal keberhasilan gerakan reformasi tersebut adalah ditandai
denganmundurnya presiden Soeharto dari singgasana kepresidenan dan diganti oleh
wakilpresiden Prof. Dr. Bj. Habibie pada tanggal 21 mei 1998. Pemerintahan Habibie
inilahyang merupakan pemerintahan transisi yang akan membawa bangsa Indonesia
untukmelakukan reformasi secara menyeluruh, terutama menata
ketatanegaraanIndonesia sesuai dengan UUD 1945.Bangsa indnesia menilai bahwa
penyimpangan atas makna UUD 1945 yangtelah dilakukan oleh pemerintahan Orde
Baru selain karena moral penguasa negara, juga terdapat berbagai kelemahan yang
tergantung dalam beberapa pasal UUD1945. Oleh karena itu selain melakukan
reformasidalam bidang politik yang harusmelalui suatu mekanisme peraturan
perundang-undangan juga dikarenakan terdapatbebrapa pasl UUD 1945 yang mudah
di interpretsi secara ganda (multiinterpretable), sehingga bangsa Indonesia merasa
perlu untuk mengadakanamandemen terhadap beberapa pasal dalam UUD 1945

2.7 PANCASILA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


Pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari harus dimulai
dengan menyegarkan kembali pemahaman kita tentang Pancasila.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa sejatinya bangsa ini
meyakini monoteisme sebagai landasan teologisnya. Sila pertama ini menempatkan
Tuhan Yang Maha Esa sebagai kekuatan transendental yang mendorong penganutnya
untuk meningkatkan kesalehan baik di level individual maupun sosial. Mereka yang

10
beriman bahwa Tuhan itu omnipresent: Mahahadir—akan membimbing hamba-Nya
untuk merasa selalu diawasi, bersikap jujur, dan menghindari untuk berlaku koruptif.
Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab mencerminkan bahwa kehidupan
berbangsa dan bernegara ini mesti didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang
luhur dan universal yang bersumber dari falsafah bangsa kita seperti toleransi,
harmoni, tepa selira, tenggang rasa, gotong royong, andhap asor, serta saling
menghormati sebagai karakter asli (genuine character) bangsa ini.
Sila Persatuan Indonesia menemukan konteksnya di saat bangsa ini begitu
mudah terpecah- belah dan terprovokasi hanya untuk perkara-perkara yang tidak
substansial. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/ Perwakilan menunjukkan komitmen founding fathers kita untuk
memilih jalan demokrasi dan musyawarah dalam menyelesaikan problem-problem
kebangsaan. Sila ini tidak memberi ruang sedikit pun bagi praktik kekerasan dalam
menyelesaikan persoalan. Perdebatan- perdebatan yang produktif yang dibimbing
akal sehat (common sense) dan kebijaksanaan akan memandu bangsa ini pada
peradaban politik yang lebih bermartabat.
Sementara sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkait
bagaimana proses penegakan keadilan benar-benar dirasakan oleh segenap rakyat
Indonesia tanpa pandang bulu. Penegakan hukum yang tegas dan afirmatif akan
memenuhi rasa keadilan di masyarakat yang pada gilirannya menjadi modal sosial
bagi bangsa ini dalam melahirkan stabilitas sosial-politik.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan tentang pelaksanaan Pancasila dan UUD
1945 dalam konteks perkembangan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila dan
UUD 1945 adalah salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang sangat penting
dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dan untuk mewujudkan itu semua perlu
dilakukan berbagai upaya agar pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 menjadi sebuah
usaha nyata bagi seluruh lapisan bangsa Indonesia agar Pancasila dan UUD 1945
tidak hanya menjadi teori-teori yang tidak ada praktik nyata.
Pancasila sebagai warisan bangsa dapat digolongkan sebagai budaya sebab
kompleksitas masyarakat Indonesia pada dasarnya dibangun selaras paham-paham
dalam Pancasila. Dalam budaya Pancasila, dianut dan dikembangkan sikap
kekeluargaan yang dilandasi oleh semangat kebersamaan, kesediaan untuk saling
mengingatkan, saling mengerti dan mengutamakan kepentingan nasional di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
Memahami peranan Pancasila di era reformasi, khususnya dalam konteks
sebagai dasar negara dan ideologi nasional, merupakan tuntutan hakiki agar setiap
warga negara Indonesia memiliki pemahaman yang sama, dan akhirnya memiliki
persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan, peranan, dan fungsi Pancasila
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apalagi manakala dikaji
perkembangannya secara konstitusional selama lebih dari 55 tahun terakhir ini
dihadapkan pada situasi yang tidak kondusifsehingga kredibilitasnya menjadi
diragukan, diperdebatkan, baik dalam wacana politis maupun akademis. Hal ini
diperparah oleh minimal dua hal, ialah: pertama, penerapan Pancasila yang
dilepaskan dari prinsip-prinsip dasar filosofinya sebagai dasar negara; dan kedua,
krisis multi dimensional yang melanda bangsa Indonesia sejak 1998 yang diikuti oleh
fenomena disintegrasi bangsa.

3.2 Saran
Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena
kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi kawan-kawan semua bisa
memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah
ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan
kami mohon maaf karena kami hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan
yang terbatas.

12
DAFTAR PUSTAKA

Busyairi, Badruzzaman. Boerhanoeddin Harahap Pilar Demokrasi. Jakarta : PT Bulan


Bintang. 1989.
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. Merevitalisasi Pendidikan Pancasila
Sebagai Pemandu Reformasi. Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press. 2011.
Lanur, Alex. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka. Yogyakarta : Kanisius. 1995.
Sutrisno, Drs. Slamet. Pancasila, Kebudayaan dan Kebangsaan. Yogyakarta : Liberty.
1988.
Srijanto Djarot, Drs., Waspodo Eling, BA, Mulyadi Drs. 1994 Tata Negara Sekolah
Menngah Umum. Surakarta; PT. Pabelan.
Pangeran Alhaj S.T.S Drs., Surya Partia Usman Drs., 1995. Materi Pokok Pendekatan
Pancasila. Jakarta; Universitas Terbuka Depdikbud.
http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/05/pengertian-pancasila.html
http://www.scribd.com/doc/46635688/DINAMIKA-PELAKSANAAN-UUD-1945

13