Anda di halaman 1dari 4

Apakah Hubungan HAM dengan Sistem Hukum Positif Indonesia?

Secara umum hukum tidak bisa dipisahkan dari kepentingan masyarakat. Manusia satu sama
lain memiliki kepentingan yang berbeda. Ada kepentingan yang menguntungkan dan ada kepentingan
yang merugikan orang lain. Seorang penjual Narkoba akan menghalalkan berbagai macam cara bahkan
bisa sampai membunuh orang lain yang menghalangi langkahnya untuk mengedarkan Narkoba tersebut
kepada konsumen. Agar kepentingan seseorang tidak diganggu oleh orang lain maka dibuatlah hukum
yang membatasi individu maupun kelompok bertindak diluar norma yang ada. Sebebas-bebasnya orang
dalam bertindak ketika dia sudah dihadapkan dengan orang lain maka terciptalah sebuah aturan yang
membatasi kebebasan mereka.

Di Indonesia sendiri sudah terdapat hukum yang mengatur masyarakatnya, hukum itu adalah
hukum positif. Hukum positif/ius constitutum adalah hukum yang berlaku saat ini. hukum positif dibagi
menjadi dua yaitu tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis di Indonesia adalah hukum yang telah
ditetapkan oleh pejabat yang berwenang dan hukum tersebut harus sesuai dengan undang-undang di
Indonesia. Kemudian pada hukum tertulis ini terdapat aturan kebijakan yang berkaitan dengan
administrasi Negara. Sedangkan hukum tidak tertulis adalah hukum yang mengatur adat, agama dan
yurisprudensi.

Hukum positif Indonesia mengakui adanya Hak Asasi Manusia. Dalam Undang-Undang Dasar
1945, baik sebelum maupun sesudah amandemen hak asasi manusia menempati posisi penting, bahkan
sudah tersaji dalam dalam beberapa aturan organik. Dalam UUD 1945, terdapat 11 pasal tentang HAM,
mulai dari pasal 28, yaitu pasal 28A sampai dengan pasal 28J. Mulai dari hak berkumpul/berserikat,
mempertahankan kehidupan/hidup, berkeluarga dan perlindungan dari kekerasan, mengembangkan
diri/memajukan diri, jaminan dan kepastian hukum, bebas beragama, bebas
berkomunikasi/memperoleh informasi, perlindungan diri, kesejahteraan lahir batin/persamaan keadilan,
hak hidup dan bebas dari perbudakan, serta tuntutan atas dasar hukum yang berlaku
surut/penghormatan identitas budaya, dan wajib menghormati hak asasi orang lain serta tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dalam undang-undang. Selain daripada UUD 1945 tersebut, terdapat pula
TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998 yang membahas tentang HAM, juga masih ada Peraturan perundang-
undangan lain yang membahas mengenai HAM.

Untuk mengimplementasikan, disusunlah Undang-Undang nomor 39/1999 tentang: Hak Asasi


Manusia, spirit Hukum yang menjadi dasar termuat di dalam konsideran, terutama dalam menimbang.
Pertimbangan utama yang dapat dicatat merupakan landasan filosofis “manusia makhluk ciptaan Tuhan
…pengelola/ memelihara alam… oleh-Nya dianugerahi HAM “hak kodrati melekat pada diri manusia
universal dan langgeng, karenanya harus dihormati, dilindungi dipertahankan, dan tidak boleh
diabaikan, dikurangi…” juga ditekankan bahwa “manusia mempunyai kewajiban dasar satu sama lain…”
serta “sebagai anggota PBB mengemban tanggung jawab moral dan hukum untuk menjunjung tinggi dan
melaksanakan HAM…”

Dalam UU no. 39/1999, Bab I ketentuan Umum, dalam pasal 1 (1) menjelaskan makna HAM
adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi ole
Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.
UU no. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, terdiri atas 106 pasal, secara rinci dibagi-bagi
menjadi hak hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas
kebebasan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan,
hak wanita, hak anak, kewajiban dasar manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah,
pembatasan dan larangan.

Beberapa pasal yang perlu diangkat antara lain hak hidup, pasal 9

1. Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf
kehidupannya.
2. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.
3. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Bab IV, kewajiban dasar manusia, pasal 67: “Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik
Indonesia wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum
internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia.”

Bab V, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, pasal 71: “Pemerintah wajib dan
bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia
yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum
internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.”

Selanjutnya, dalam bab VII, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dalam pasal 75 sampai 99.
Sedangkan Bab VIII mengatur tentang partisipasi masyarakat mulai Pasal 100 sampai 103,
pengadilan HAM pasal 104.

Komnas HAM pada awalnya dibentuk lewat Keppres No. 50 tahun 1993. Kemudian
diintegrasikan ke dalam UU No.39/1999

Pasal 89 Sub (3) terkait dengan funsi Komnas HAM. Komnas HAM bertugas dan berwenang
melakukan.

a. pengamatan pelaksanaan hak asasi manusia dan penyusunan laporan hasil pengamatan
tersebut;
b. penyidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang
berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia;
c. pemanggilan kepada pihak pengadu atau korban maupun pihak yang diadukan untuk
dimintai dan didengar keterangannya;
d. pemanggilan saksi untuk diminta dan didengar kesaksiannya, dan kepada saksi pengadu
diminta menyerahkan bukti yang diperlukan;
e. peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang dianggap perlu;
f. pemanggilan terhadap pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis atau
menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya dengan persetujuan
Ketua Pengadilan;
g. pemeriksaan setempat terhadap rumah, pekarangan, bangunan, dan tempat-tempat
lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu dengan persetujuan Ketua
Pengadilan; dan
h. pemberian pendapat berdasarkan persetujuan Ketua Pengadilan terhadap perkara
tertentu yang sedang dalam proes peradilan, bilamana dalam perkara tersebut terdapat
pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah publik dan acara pemeriksaan oleh
pengadilan yang kemudian pendapat Komnas HAM tersebut wajib diberitahukan oleh
hakim kepada para pihak.

Untuk melaksanakan fungsi Komnas HAM dalam mediasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 76, Komnas HAM bertugas dan berwenang melakukan :

i. perdamaian kedua belah pihak;


j. penyelesaian perkara melalui cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan
penilaian ahli;
k. pemberian saran kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui pengadilan;
l. penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada
Pemerintah untuk ditindaklanjuti penyelesaiannya; dan
m. penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk ditindaklanjuti.

Selanjutnya Bab VIII tentang partisipasi masyarakat, pasal 100 (UU No.39/1999): “Setiap orang,
kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga
kemasyarakatan lainnya, berhak berpartisipasi dalam perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi
manusia.” Sedangkan Pasal 101: “Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat,
lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak menyampaikan laporan
atas terjadinya pelanggaran hak asasi manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lain yang berwenang
dalam rangka perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia.”

Sebagaimana perintah UU No. 39/1999, pasal 104(1): “Untuk mengadili pelanggaran hak asasi
manusia yang berat dibentuk Pengadilan Hak Asasi Manusia di lingkungan Peradilan Umum.”
Diundangkan dalam Undang-undang nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan Hak asasi Manusia.
Dalam salah satu pertimbangannya, huruf (b) berbunyi: “bahwa untuk ikut serta memelihara
perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan hak asasi manusia serta memberi perlindungan,
kepastian, keadilan, dan perasaan aman kepada perseorangan ataupun masyarakat, perlu segera
dibentuk suatu pengadilan HAM untuk menyelesaikan pelanggaran yang berat.”

*) Masyur Effendi, Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM), Ghalia Indonesia. Jakarta,
2005, halaman 133

Maka dari itu, HAM dan hukum positif Indonesia dapat dikatakan berhubungan. Dapat dikatakan
berhubungan mengacu kepada pembahasan diatas bahwa sebagai salah satu hukum positif Indonesia,
UUD 1945 dalam salah satu pasal nya menjamin setiap rakyat Indonesia untuk memperoleh hak nya.
Kemudian juga terdapat peraturan perundang-undangan lain yang membahas mengenai HAM tersebut.
Pancasila sebagai dasar HAM Indonesia

Filsafat barat dengan individualismenya itu bertolak dari keyakinan bahwa “men are created free
and equal”. Manusia diciptakan sebagai makhluk otonom yang bebas terpisah dari manusia lain, atau
secara alamiah manusia itu ada dalam kebebasan sempurna untuk menentukan tindakan mereka,
sehingga agar dapat hidup bermasyarakat diperlukan pihak yang kemudian dibentuk untuk melakukan
pengaturan. Demikinalah adanya, maka disebutlah “negara” sebagai kelompok yang diberi kekuasaan
tersebut.

Pada sisi lain, pandangan hidup bermasyarakat tentang manusia Indonesia bukanlah pandangan
individualisme, melainkan berpandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta dengan
segala hal yang ada di dalamnya sebagai suatu keseluruhan yang terjalin secara harmonis. Artinya,
kehadiran manusia di dunia dikodratkan dalam kebersamaan dengan sesamanya. Bukan hanya makhluk
bermasyarakat saja, namun ada pengakuan eksistensi aspek rohani yang diakomodasi dalam bingkai
hokum yang hidup dalam masyarakat, yang kemudian masuk dalam hokum negara. Eksistensi aspek
rohani dengan mengingat manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa karena manusia berasal dari
Tuhan, dan tujuan akhir dari kehidupannya adalah untuk kembali kepada sumber asalnya, sehingga
keberadaan Tuhan masuk dalam sistem hokum bangsa Indonesia, bahkan menjadi hal yang utama.

UUD 1945 disusun berdasarkan filsafat ke Indonesiaan yang berdasar Pancasila dan telah
tertuang dalam bagian Pembukaan UUD 1945 sendiri, sehingga tentu isi konsistusi maupun cara
penerapannya sudah seharusnya berbeda, bahkan berlawanan dengan filsafat dan cara berpikir barat.