Anda di halaman 1dari 6

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PERENCANAAN LABA DAN PENGANGGARAN

Mata Kuliah: Akuntansi Keperilakuan

Oleh:
Kelompok 4

Ni Putu Hanita Pradnya (1707531012)


Ni Putu Icha Vellyana Dewi (1707531015)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2019

1
A. FUNGSI PERENCANAAN DAN ANGGARAN LABA
Anggaran adalah alat manajerial yang memastikan pencapaian target organisasional
dan memberikan pedoman yang terperinci untuk operasi harian. Anggaran merupakan
perencanaan manajerial untuk tindakan yang dinyatakan dalam istilah-istilah keuangan dan
rencana laba jangka pendek yang komprehensif untuk membuat tujuan dan target manajemen
dilaksanakan.
Anggaran perusahaan seharusnya membuat komitmen atas sumber daya yang
diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Anggaran sebaiknya mencerminkan tambahan
biaya iklan dan promosi yang diperlukan untuk meningkatkan penjualan dan memperbaiki
citra perusahaan, memasukkan estimasi beban gaji yang diperlukan untuk mempertahankan
tenaga penjualan yang lebih banyak dan struktur komisi yang lebih besar untuk memotivasi
usaha penjualan yang lebih besar, serta memasukkan estimasi arus kas juga
mempertimbangkan waktu penagihan kas dari pelanggan, pembayaran kas kepada pemasok,
dan peningkatan yang diantisipasi dalam berbagai beban. Anggaran memiliki beberapa fungsi
sebagai berikut :
1) Anggaran adalah hasil akhir dari proses perencanaan perusahaan. Sebagai hasil negoisasi
antar anggota organisasi yang dominan, anggaran mencerminkan konsensus
organisasional mengenai tujuan operasi untuk masa depan.
2) Anggaran merupakan cetak biru perusahaan untuk bertindak yang mencerminkan
prioritas manajemen dalam alokasi sumber daya organisasi. Anggaran menunjukkan
berbagai subunit organisasi bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan secara
keseluruhan.
3) Anggaran bertindak sebagai suatu alat komunikasi internal yang menghubungkan
beragam departemen atau divisi organisasi antara yang satu dengan yang lain serta
dengan manajemen puncak. Arus informasi dari departemen ke departemen berfungsi
untuk mengordinasikan dan memfasilitasi aktivitas organisasi secara keseluruhan
sedangkan arus informasi dari manajemen puncak ke tingkatan organisasi yang lebih
rendah mengandung penjelasan operasional mengenai pencapaian atau deviasi anggaran.
4) Anggaran berfungsi sebagai standar terhadap hasil operasi aktual yang dapat
dibandingkan dengan menetapkan tujuan dalam kriteria kinerja yang dapat diukur. Hal ini
merupakan dasar untuk mengevaluasi kinerja dari manajer pusat biaya dan laba.
5) Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang memungkinkan manajemen untuk
menemukan bidang-bidang yang menjadi kekuatan atau kelemahan perusahaan.

1
6) Anggaran mencoba untuk memengaruhi dan memotivasi baik manajer maupun karyawan
untuk terus bertindak dengan cara yang konsisten dengan operasi yang efektif dan efisien
serta selaras dengan tujuan organisasi.

B. PERILAKU PENYUSUNAN ANGGARAN


Dimana ada tiga tahapan proses penyusunan anggaran yaitu:
a) Tahap Penetapan Tujuan
Tujuan Aktivitas perencanaan dimulai dengan menerjemahkan tujuan organisasi yang
luas ke dalam tujuan-tujuan aktivitas yang khusus. Untuk menyusun rencana yang realistis
dan menciptakan anggaran yang praktis, interaksi yang ekstensif diperlukan antara manajer
lini dan manajer staf organisasi. Ketika memformulasikan tujuan organisasi dan
mengoperasikan ke dalam target operasi, diperlukan kehati-hatian untuk menetapkan suatu
hierarki tujuan dan target yang realistis.
Jika sesuai dengan struktur organisasi dan gaya kepemimpinan, maka manajer tingkat
bawah dan para karyawan sebaiknya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses
penetapan tujuan karena mereka akan lebih mungkin menerima tujuan yang turut mereka
formulasikan. Tujuan realistis yang ditetapkan melalui partisipasi yang berarti, akan
memengaruhi tingkat aspirasi manajer dan karyawan secara menguntungkan. Kurangnya
partisipasi atau hanya berbicara tanpa berbuat terhadap masalah itu, dapat menimbulken efek
samping berupa berbagai perilaku disfungsional. Jadi, konsep-konsep utama perilaku yang
berpengaruh terhadap tahap penetapan tujuan adalah proses perencanaan yang meliputi
partisipasi, kesesuaian tujuan, dan komitmen.
b) Tahap Implementasi
Pada tahap ini rencana formal digunakan untuk mengomunikasikan tujuan dan strategi
organisasi, serta untuk memotivasi orang secara positif dalam organisasi. Hal ini dicapai
dengan menyediakan target kinerja terperinci bagi mereka yang bertanggung jawab
mengambil tindakan. Agar rencana tersebut berhasil, rencana itu harus dikomunikasikan
secara efektif. Rencana formal mungkin akan menerima kerja sama penuh dari berbagai
kelompok yang ingin dimotivasi olehnya. Dimana konsep ilmu keperilakuan utama yang
memengaruhi tahap implementasi ini adalah komunikasi, kerja sama, dan koordinasi.

c) Tahap Pengendalian dan Evaluasi Kerja


Setelah diimplementasikan, anggaran berfungsi sebagai elemen kunci dalam sistem
pengendalian. Anggaran menjadi tolok ukur terhadap kinerja aktual dibandingkan dan
berfungsi sebagai suatu dasar untuk melakukan manajemen berdasarkan pengecualian.
Manajemen sebaiknya memperhatikan varians yang tidak menguntungkan terlebih dahulu
2
dan diinvestigasi, agar dapat menjaga efisiensi dalam operasi, kinerja di atas standar dan di
bawah standar. Sehingga varians yang menguntungkan dapat mengindikasikan kebutuhan
akan penyesuaian anggaran.
Kebijakan, sikap, dan tindakan manajemen dalam evaluasi kinerja dan tindak lanjut
atas varians memiliki berbagai konsekuensi keperilakuan, yang dapat meniadakan
keberhasilan dari seluruh proses perencanaan dan pengendalian jika tidak dipahami dan
dikendalikan. Beberapa konsekuensi keperilakuan yang mungkin muncul meliputi tekanan,
motivasi, aspirasi, dan kegelisahan.
Untuk menyusun suatu anggaran atau rencana laba, ada langkah-langkah tertentu
yang perlu diambil yaitu :
1) Manajemen puncak harus memutuskan tujuan jangka pendek perusahaan dan strategi
mana yang akan digunakan untuk mencapainya.
2) Tujuan harus ditetapkan dan sumber daya dialokasikan.
3) Suatu anggaran atau rencana laba yang komprehensif harus disusun, kemudian disetujui
oleh manajemen puncak. Setelah itu, anggaran harus dikomunikasikan kepada penyelia
dan karyawan yang kinerjanya dikendalikan.
4) Anggaran digunakan untuk mengendalikan biaya dan menentukan bidang-bidang masalah
dalam organisasi tersebut dengan membandingkan hasil kinerja aktual dengan tujuan
yang telah dianggarkan secara periodik
C. KONSEKUENSI PENYAMPAIAN PROSES PENGANGGARAN
Berbagai fungsi anggaran seperti penetapan suatu tujuan, pengendalian, dan
mekanisme evaluasi kinerja dapat memicu berbagai konsekuensi penyampaian, seperti rasa
tidak percaya, resistensi, konflik internal, dan efek samping lainnya yang tidak diinginkan.
a) Rasa Tidak Percaya
Suatu anggaran terdiri dari tujuan-tujuan tertentu dari organisasi. Meskipun anggaran
dapat disesuaikan dengan kejadian-kejadian yang tidak bisa diatisipasi, anggaran
menampilkan kesan infleksibilitas. Anggaran dapat menimbulkan rasa tidak percaya, rasa
permusuhan, dan mengarah pada kinerja yang menurun.
b) Resistensi
Meskipun anggaran telah memberikan manfaat dalam perusahaan, namun masih
banyak yang menolak adanya penganggaran ini dalam suatu organisasi. Salah satu yang
memicu hal tersebut adalah anggaran dikatakan membawa perubahan sehingga merupakan
suatu ancaman bagi status quo.
Alasan lain dari resistensi anggaran adalah proses anggaran memerlukan waktu dan
perhatian yang besar. Manajer atau penyelia merasa terbebani dengan permintaan yang

3
ekstensif atas waktu dan tanggung jawab rutin mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ingin
terlibat dalam proses penyusunan anggaran.
c) Konflik Internal
Dalam proses pembuatan anggran dalam suatu organisasi memerlukan interaksi dan
tindakan dari berbagai tingkatan didalam organisasi. Sehubungan dengan hal tesebut konflik
internal ini dapat terjadi dalam organisasi. Gejala-gejala umum dari konflik adalah
ketidakmampuan mencapai kerja sama selama proses penyusunan anggaran. Konflik internal
menciptakan suatu linkungan kerja yang kompetitif dan bermusuhan. Konflik internal ini
dapat mengakibatkan seseorang hanya berfokus pada kebutuhan atau keperluan
departemennya saja tanpa memperdulikan kebutuhan dari organisasi secara menyeluruh.
d) Efek Samping Lain yang Tidak Diinginkan
Anggaran dapat mengakibatkan pengaruh lain yang tidak diinginkan. Salah satunya
adalah terbentuknya kelompok-kelompok kecil yang akan menentang adanya tujuan
penganggaran ini. Untuk menghasilkan anggaran yang berhasil, karyawan harus menyadari
bahwa fungsi anggaran sebagai alat yang positif untuk pengoperasian organisasi. Daripada
melihat bahwa anggaran adalah hal yang mengerikan, sebaiknya karyawan memandang
bahwa anggaran adalah alat untuk menciptakan kelarasan tujuan dan sebagai standar kinerja
yang akan memberikan manfaat kepada seluruh karyawan.
D. RELEVANSI KONSEP ILMU KEPERILAKUAN
a) Dampak dari Lingkungan Perencanaan
Lingkungan perencanaan mengacu pada struktur, proses, dan pola-pola interaksi
dalam penetapan kerja. Hal tersebut biasa disebut budaya atau iklim organisasi yang meliputi
tingkat formalitas dalam interaksi manusia, penerimaan manajemen puncak terhadap ide-ide
baru, prosedur dan perangkat untuk membuat agar pekerjaan dilakukan, perasaan identifikasi
dengan organisasi tingkat, tingkat kohesi dari tenaga kerja, dan seterusnya.
Faktor yang memengaruhi lingkungan kerja dimana suatu perencanaan terjadi
diantaranya adalah ukuran dan struktur, gaya kepemimpinan, jenis sistem pengendalian, dan
stabiltias lingkungan.
b) Ukuran dan Struktur Organisasi
Ukuran organisasi merupakan suatu ukuran kuantitatif yang membedakan organisasi
yang satu dengan yang lainnya, sedangkan struktur organisasi merupakan hubungan formal
dan informal antara para anggota organisasi. Ukuran organisasi memengaruhi struktur
organisasi. Di perusahaan kecil, struktur perencanaan dan pengendalian adalah relatif
sederhana karena aktivitas organisasi hanya dilaksanakan oleh sedikit orang. Sebaliknya,
4
perusahaan besar harus mengembangkan struktur birokrasi yang kompleks untuk berurusan
dengan administrasi dari berbagai fungsi organisasi. Birokrasi yang kompleks tersebut tak
jarang menimbulkan masalah besar dalam perencanaan, implementasi, dan pengendalian.
c) Gaya Kepemimpinan
Teori X dari McGregor menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan yang otoriter dan
dikendalikan secara ketat, dimana kebutuhan akan efisiensi dan pengendalian mengharuskan
pendekatan manajerial tersebut untuk berurusan dengan bawahannya. Teori X
mengimplikasikan bahwa anggaran akan disusun oleh manajemen puncak dan dikenakan
pada manajemen tingkat bawah. Teori ini dianggap tidak mendorong partisipasi dan
menimbulkan tekanan anggaran yang berlebihan, kegelisahan, dan rusaknya motivasi.
Sebaliknya, teori Y dari McGregor dan gaya kepemimpinan Likert mendorong tingkat
keterlibatan karyawan dan partisipasi karyawan dalam penentuan tujuan dan pengambilan
keputusan. Gaya kepemimpinan ini dianggap lebih demokratis. Untuk dapat mempraktikkan
gaya kepemimpinan secara efektif, manajer atau atasan harus memperhatikan tingkat
perkembangan bawahannya.
d) Stabilitas Lingkungan Organisasi
Lingkungan perencanaan juga dipengaruhi lingkungan eksternal seperti iklim politik
dan ekonomi, ketersediaan pasokan, struktur industri yang melayani organisasi, hakikat
persaingan, dan lain sebagainya. Lingkungan yang stabil tentu mengenakan risiko yang
terbatas dan memungkinkan proses penetapan tujuan menjadi demokratis dan partisipatif.
Sedangkan, lingkungan yang berubah dengan cepat seperti perubahan dramatis tingkat bunga
akan menghasilkan situasi yang berisiko tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2009. Akuntansi Keperilakuan Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.