Anda di halaman 1dari 23

HAND OUT PERKULIAHAN

MATAKULIAH TEORI BILANGAN

DISUSUN OLEH :

ALIF RINGGA PERSADA, S.Si. M.Pd.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON

2016

Pertemuan Ke - 1

Pendahuluan dan Kontrak Belajar.

Pertemuan Ke 2

Tujuan Pembelajaran

Mahasiswa memiliki gambaran materi perkuliahan menyeluruh mengenai Teori Bilangan

Materi Singkat

Mahasiswa menyusun peta konsep mengenai gambaran umum mata kuliah teori bilangan

Pertemuan Ke 3

Tujuan Pembelajaran

1. Mengenal dan mengetahui Sejarah Bilangan 2. Memahami macam-macam bilangan

Materi Singkat

Secara tradisional, teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat mudah mengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika.

A. Gambaran Sejarah Purbakala dari Matematika

Pada mulanya di zaman purbakala banyak bangsa-bangsa yang bermukim sepanjang sungai-sungai besar. Bangsa Mesir sepanjang sungai Nil di Afrika, bangsa Babilonia sepanjang sungai Tigris dan Eufrat, bangsa Hindu sepanjang sungai Indus dan Gangga, bangsa Cina sepanjang sungai Huang Ho dan Yang Tze. Bangsa-bangsa itu memerlukan keterampilan untuk mengendalikan banjir, mengeringkan rawa-rawa, membuat irigasi untuk mengolah tanah sepanjang sungai menjadi daerah pertanian untuk itu diperlukan pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan teknik dan matematika bersama-sama. Sejarah menunjukkan bahwa permulaan Matematika berasal dari bangsa yang bermukim sepanjang aliran sungai tersebut. Mereka memerlukan perhitungan, penanggalan yang bisa dipakai sesuai dengan perubahan musim. Diperlukan alat-alat pengukur untuk mengukur persil- persil tanah yang dimiliki. Peningkatan peradaban memerlukan cara menilai kegiatan perdagangan, keuangan dan pemungutan pajak. Untuk keperluan praktis itu diperlukan bilangan- bilangan. Asal mula pemikiran matematika terletak di dalam konsep bilangan, besaran, dan bangun. Pengkajian modern terhadap fosil binatang menunjukkan bahwa konsep ini tidak berlaku unik bagi manusia. Konsep ini mungkin juga menjadi bagian sehari-hari di dalam kawanan pemburu. Bahwa konsep bilangan berkembang tahap demi tahap seiring waktu adalah bukti di beberapa bahasa zaman kini mengawetkan perbedaan antara "satu", "dua", dan "banyak", tetapi bilangan yang lebih dari dua tidaklah demikian. Benda matematika tertua yang sudah diketahui adalah tulang Lebombo, ditemukan di pegunungan Lebombo di Swaziland dan mungkin berasal dari tahun 35000 SM.Tulang ini berisi 29 torehan yang berbeda yang sengaja digoreskan pada tulang fibula baboon. Terdapat bukti bahwa kaum perempuan biasa menghitung untuk mengingat siklus haid mereka; 28 sampai 30 goresan pada tulang atau batu, diikuti dengan tanda yang berbeda. Juga artefak prasejarah ditemukan di Afrika dan Perancis, dari tahun 35.000 SM dan berumur 20.000 tahun.menunjukkan upaya dini untuk menghitung waktu. Tulang Ishango, ditemukan di dekat batang air Sungai Nil (timur laut Kongo), berisi sederetan tanda lidi yang digoreskan di tiga lajur memanjang pada tulang itu. Tafsiran umum

adalah bahwa tulang Ishango menunjukkan peragaan terkuno yang sudah diketahui tentang barisan bilangan prima atau kalender lunar enam bulan. Periode Predinastik Mesir dari milenium ke-5 SM, secara grafis menampilkan rancangan-rancangan geometris. Telah diakui bahwa bangunan megalit di Inggris dan Skotlandia, dari milenium ke-3 SM, menggabungkan gagasan- gagasan geometri seperti lingkaran, elips, dan tripel Pythagoras di dalam rancangan mereka.

B. Satu Persembahan Euclid dari Sekolah Athens oleh Raphael.

Geometri Euclid merupakan sebuah sistem matematik yang disumbangkan oleh seorang ahli matematik Yunani bernama Euclid dari Alexandria. Teks Euclid,Elements merupakan sebuah kajian sistematik yang terawal mengenai geometri. Ia sudah menjadi salah satu buku- buku yang paling berpengarh di dalam sejarah, sama banyaknya dengan kaedahnya yang mempunyai isi kandungan matematik. Kaedah cara yang mengandungi andaian satu set aksiom secara intuitif yang sangat menarik, dan kemudiannya membuktikan banyak usul (teorem- teorem) daripada aksiom-aksiom berkenaan. Walaupun banyak daripada keputusan-keputusan oleh Euclid sudah dinyatakan oleh ahli-ahli matematik Yunani sebelumnya, Euclid merupakan orang yang pertama untuk menunjukkan bagaimana usul-usul ini diletakkan secara sempurna membentuk satu deduksi dan sistem logik yang komprehensif. Buku Elements ini bermula dengan geometri satah, yang masih lagi diajar di sekolah menengah sebagai satu sistem aksioman dan contoh-contoh pembuktian formal yang pertama. Kemudiannya, Elements merangkumi geometri pepejal dalam tiga dimensi, dan seterusnya geometri Euclid telah dipanjangkan kepada satu bilangan dimensi yang terhingga. Kebanyakan daripada Elements menyatakan keputusan-keputusan dalam apa yang kini disebut sebagai teori nombor, yang boleh dibuktikan menerusi kaedah geometri. Selama dua ribu tahun, kata adjektif "Euclid" tidak diperlukan kerana pada masa itu tiada geometri lain dapat dibayangkan. Aksiom-aksiom Euclid nampak seperti sangat jelas sehinggakan apa-apa teorem lain yang dibuktikan daripadanya dianggap benar secara mutlak. Hari ini, bagaimanapun, banyak geometri bukan Euclid sudah diketahui, yang pertamanya telah dijumpai pada awal abad ke-19. Ia juga tidak boleh diambil mudah bahawa geometri Euclid hanya menggambarkan ruang fizikal. Satu implikasi daripada teori Einstein mengenai teori kerelatifan umum bahawa geometri Euclid merupakan satu anggaran yang baik kepada sifat-sifat ruang fizikal hanyak sekiranya medan graviti tidak terlalu kuat.

II. MACAM MACAM BILANGAN

 

BILANGAN

 

KOMPLEK

 

BILANGAN

REAL

BILANGAN

IMAJINER

BILANGAN

RASIONAL

BILANGAN

BULAT

BILANGAN

CACAH

BILANGAN RASIONAL BILANGAN BULAT BILANGAN CACAH BILANGAN IRASIONAL PECAHAN BILANGAN BULAT BILANGAN ASLI

BILANGAN

IRASIONAL

BILANGAN BULAT BILANGAN CACAH BILANGAN IRASIONAL PECAHAN BILANGAN BULAT BILANGAN ASLI NOL BILANGAN PRIMA
BILANGAN BULAT BILANGAN CACAH BILANGAN IRASIONAL PECAHAN BILANGAN BULAT BILANGAN ASLI NOL BILANGAN PRIMA

PECAHAN

BILANGAN

BULAT

BILANGAN ASLI NOL BILANGAN PRIMA BILANGAN GENAP POSITIF SATU ATAU
BILANGAN ASLI
NOL
BILANGAN
PRIMA
BILANGAN
GENAP POSITIF
SATU
ATAU

BILANGAN

KOMPOSIT

BILANGAN GANJIL POSITIF

BULAT BILANGAN ASLI NOL BILANGAN PRIMA BILANGAN GENAP POSITIF SATU ATAU BILANGAN KOMPOSIT BILANGAN GANJIL POSITIF

2.1 BILANGAN KARDINAL Bilangan Kardinal adalah bilangan yang menyatakan banyaknya atau jumlah suatu anggota himpunan. Karakteristik khusus dari bilangan kardinal didasarkan pada himpunan equivalen, yaitu :

A B n A n B

……(2.1)

Kita mempunyai definisi bilangan kardinal dalam terminology himpunan. Jika a adalah bilangan kardinal sedemikian sehingga a = n (A). Oleh sebabitu kita akan asumsikan bahwa diberikan bilangan kardinal a dan b, dengan a = n (A) dan b = n (B) dengan himpunan A dan B saling lepas.

2.2 PENJUMLAHAN BILANGAN KARDINAL

Perhatikan contoh berikut :

PENJUMLAHAN BILANGAN KARDINAL Perhatikan contoh berikut : A B A U B (Gambar 1) Dari gambar

A

PENJUMLAHAN BILANGAN KARDINAL Perhatikan contoh berikut : A B A U B (Gambar 1) Dari gambar

B

BILANGAN KARDINAL Perhatikan contoh berikut : A B A U B (Gambar 1) Dari gambar 1

A U B

(Gambar 1)

Dari gambar 1 di peroleh bahwa n (A) = 3 , n (B) = 4 dan n (A U B) = 7. Kita dapat asumsikan bahwa :

n(A) + n (B) = n (AUB)

.…(2.2)

Kemudian kita andaikan bahwa a = n(A) dan b = n (B) dengan a dan b adalah bilangan kardinal, ini berarti bahwa himpunan A dan B saling lepas. Akibat dari (2.2) didapat :

a+ b = n (AUB)

….(2.3)

Dari sifat komutatif himpunan bagian, diperoleh

A B B A sehingga n (AUB) = n (BUA)

….(2.4)

2.3 SIFAT SIFAT PENJUMLAHAN BILANGAN KARDINAL

1. Komutatif

a b b a, a,b bil.kardinal

….(2.5)

2. Asosiatif

(a b) c a (b c), a,b,c bil.kardinal …(2.6)

3. Identitas Penjumlahan

a 0 a, a bil.kardinal

(2.7)

Pertemuan Ke 4

Tujuan Pembelajaran

1. Mengenal dan mengetahui bilangan komposit

2. Menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan bilangan komposit

1. Mengenal dan mengetahui bilangan komposit 2. Menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan bilangan komposit

Materi Singkat

Pertemuan Ke 5

Tujuan Pembelajaran

1. Mengenal dan memahami operasi uner-biner

2. Menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan operasi biner

Materi Singkat

Lawan

PENJUMLAHAN
PENJUMLAHAN

PENJUMLAHAN

PENJUMLAHAN
PENJUMLAHAN
PENJUMLAHAN

BerulangLawan PENJUMLAHAN PENGURANGAN PEMBAGIAN Lawan Lawan LOGARITMA PERKALIAN Berulang EXPONEN Berulang POLINOM

PENGURANGAN

PEMBAGIAN

Lawan
Lawan
Lawan
Lawan

LOGARITMA

PERKALIAN

BerulangLawan PENJUMLAHAN Berulang PENGURANGAN PEMBAGIAN Lawan Lawan LOGARITMA PERKALIAN EXPONEN Berulang POLINOM

EXPONEN

Berulang

POLINOM

3.1 Penjumlahan

Penjumlahan merupakan operasi biner, yaitu operasi hitung yang membutuhkan paling sedikit

sepasang bilangan (unsur) yang akan dioperasikan.

Sifat- sifat operasi hitung penjumlahan.

a. Sifat tertutup

a,b R, maka, a b R

b. Sifat komutatif

a b b a, a,b R

c. Sifat asosiatif

a (b c) (a b) c, a,b,c R

d. Unsur identitas

a 0 a, a R

3.2 Pengurangan

Pengurangan merupakan operasi biner dan juga lawan dari operasi penumlahan.

Sifat pengurangan :

a b a ( b), a,b R

3.3 Perkalian

Perkalian merupakan operasi penjumlahan yang berulang.

Sifat-sifat perkalian.

a.

Sifat tertutup

a,b R a *b R

b.

Sifat komutatif

a

*b

b*a, a,b R

c.

Sifat asosiatif

a

*(b*c) (a *b)*c, a,b,c R

d.

Unsur identitas

a

*1 a, a R

e.

Sifat distributive penjumlahan dan perkalian

a(b c) ab ac, a,b,c R a(b c) ab ac, a,b,c R

Algoritma perkalian

1.

Metode Letice Hitunglah nilai dari 12 x 24 =…….

2 4 0 0 2 4 0 0 4 8 2
2
4
0
0
2
4
0
0
4
8
2

2

1

8

8

Jadi, 12 x 24 = 288

2.

Metode lipat dua

Hitunglah nilai dari , 43 x 92 =………

1

92

2

184

4

368

8

739

16

1472

32

2944

Dari sebelah kiri kita ambil angka 32 + 8 +1 = 42, kemudian tambahkan bilangan sebelah

kanan yang berkorespondensi dengan bilangan yang diambil sebelah kiri, sehingga

didapat : 92 + 184 + 736 + 2944 = 3956

Perkalian bilangan kardinal

 

Konsep perkalian pada bilangan kardinal didasarkan pada Cartesian product suatu

himpunan.

Definisi :

Jika a dan b adalah bilangan kardinal, maka diperoleh a = n (A) dan b = n (B),

sedemikian sehingga

n (A) X n (B) = n ( A X B ) atau

a X b = n ( A X B )

Persamaan

Sifat-sifat persamaan :

Refleksif,

a. a = a

b. Jika a = b, maka b = a

Simetris

c. Jika a = b dan b = c, maka a = c

Transitif

Penjumlahan

d. Jika a = b, maka a + c = b + c

e. Jika a = b, maka ac = bc

Perkalian

f. Cancellation

Jika a + c = b + c, maka a = b

Jika c ≠ 0

dan ac = bc maka a = c

Pertidaksamaan

Definisi umum pertidaksamaan :

1. a b a n b, n A

2. a b a n b, n A

Sifat-sifat pertidaksamaan :

1. Trikotomi

2. Jika a dan b adalah bilangan asli maka salah satu dari ketiga pernyataan berikut berlaku,

yaitu :

a < b

3. Transitif

a = b

a > b

Jika

a < b dan b < c , maka

a < c

4. Jika a < b dan c < d, maka

a + c < b + d

5. Jika a < b, maka a + c < b + c

6. Jika a < b dan c > 0, maka

ac < bc

Pertemuan Ke 6

Tujuan Pembelajaran

1. Mengenal dan mengetahui basis bilangan.

2. Memahami Macam-macam Basis Bilangan

3. Mampu mengkonfersi basis bilangan

Materi Singkat

Bilangan basis 2

:

{ 0

,

1

}

Bilangan basis 3

:

{ 0 , 1, 2 }

Bilangan baisis 4 :

{ 0 , 1, 2, 3 }

Bilangan basis

8 :

{ 0 , 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 }

Bilangan basis 10 :

{ 0 , 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 }

Konversi Basis 2 ke Basis 8 dan Kebalikannya

12 10 = ( 1x 10 1 ) + ( 2 x 10 0 )

Contoh 1: Rubahlah 1010 2 kedalam basis delapan

Jawab : 1010 2 = ( 1 x 2 3 ) + ( 0 x 2 2 ) + ( 1 x 2 1 ) + ( 0 x 2 0 )

=

8 + 0 + 2 + 0

=

10 10

10

: 8

= 1 sisa 2

1

: 8

= 0 sisa 1

Jadi 1010 2 = 12 8

Contoh 2 : Rubahlah 12 8 kedalam basis dua

Jawab :

12 8

=

( 1 x 8 1 ) + ( 2 x 8 0 )

 

=

8 + 2

= 10 10

10

:

2

=

5

sisa 0

5

:

2

=

2

sisa

1

2

:

2

=

1

sisa 0

1

:

2

=

0

sisa

1

Jadi

12 8 =

1010 2

Pertemuan Ke 7

Tujuan Pembelajaran

1. Mampu mengoperasikan Basis bilangan

Materi Singkat

Penjumlahan basis bilangan

12 5 + 24 5 = 41 5

5T 12 + 6E 12

= ( 5D + 10 ) + ( 6D + 11)

 

= ( 5D + 6D ) + ( 10 + 11 )

= ( 5 + 6 + 1 ) D + 9

= ( D x D ) + 9

= D 2 + 9

= ( 1 x D 2 ) + ( 0 x D ) + 9

= 109 12

Perkalian Basis Bilangan

Contoh :

3 7

x

6 7

= 6 7 + 6 7 + 6 7

= 6 7 + (1 7 +5 7 ) + ( 2 7 + 4 7 )

= (6 7 + 1 7 ) + ( 5 7 + 2 7 ) + 4 7

= 10 7 + 10 7 + 4 7

= ( 2 x 10 7 ) + 4 7

= 24 7

Pertemuan Ke 8 dan 9

Tujuan Pembelajaran

Resume pembelajaran

Materi Singkat

1. Mahasiswa membuat resume atau mindmap perihal materi teori bilangan yang sudah

dijelaskan pada Minggu sebelumnya sejak kontrak belajar dimulai

Pertemuan Ke 10

Ujian Tengah Semester

Pertemuan Ke 11

Tujuan Pembelajaran

1. Memahami langkah-langkah penyelesaian,pada masalah Induksi Matematika 2. Menentukan penyelesaian Induksi Matematika

Materi Singkat

Induksi Matematika berawal pada akhir abad ke-19 yang dipelopori oleh dua orang

matematikawan yaitu R. Dedekind dan G.Peano. Dedikind mengembangkan sekumpulan

aksioma yang m enggambarkan bilangan bulat positif. Peano memperbaiki aksioma tersebut dan

memberikannya interpretasi logis. Keseluruhan aksioma tersebut dinamakan Postulat Peano.

Postulat ini ditemukan sekitar tahun 1890 sebagai rumusan formula konsep bilangan asli.

1. Penggunaan dan Manfaat metode Induksi matematika

Induksi Matematika merupakan teknik pembuktian yang baku dalam matematika dan

merupakan salah satu metoda/alat yang digunakan untuk membuktikan suatu pernyataan

matematika, khususnya pernyataan-pernytaan yang berkaitan dengan bilangan asli atau bilangan

bulat positif. Melalui Induksi Matematika ini kita dapat mengurangi langkah-langkah

pembuktian bahwa semua bilangan bulat termasuk ke dalam suatu himpunan kebenaran dengan hanya sejumlah langkah terbatas. Jadi, manfaat induksi matematika itu sendiri adalah untuk membuktikan suatu pernyataan apakah terbukti benar atau tidak dengan menggunakan langkah langkah basis dan induksi. Untuk lebih jelasnya, pahami terlebih dulu prinsip-prinsip induksi matematika karena di dalamnya ada pembahasan tentang langkah-langkah pembuktian pernyataan matematika yang berkaitan dengan bilangan asli atau bilangan bulat positif.

2. Prinsip Induksi matematika Macam-macam Prinsip Induksi Matematika

1. Prinsip induksi sederhana

Misalkan

membuktikan bahwa p(n) benar untuk semua bilangan bulat positif n. Untuk membuktikan

pernyataan ini, kita hanya perlu menunjukan bahwa:

a. n(1) benar.

b. Untuk semua bilangan bulat positif n ≥ 1, jika n(k) benar, n(k+1) juga benar.

Langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

bilangan bulat positif dan kita ingin

p(n)

adalah

pernyataan

perihal

(i) Akan dibuktikan p(n) benar, untuk n = 1 (ii) Asumsikan p(n) benar, untuk n=k (iii) Akan dibuktikan p(n) benar untuk n= k+1

Contoh 1:

Buktikan bahwa Pn : 1 + 3 + 5 + … + (2n - 1) = n 2 untuk setiap n bilangan asli Jawab :

i) Akan dibuktikan bahwa Pn benar untuk n=1 P n = n 2

1 = 1 2

1

= 1

Terbukti benar

ii) Asumsikan bahwa Pn benar untuk n= k

1 + 3 + 5 + …+ (2k – 1) = k 2

iii) Akan dibuktikan bahwa Pn benar untuk n= k+1

1 + 3 + 5 + …+ [(2(k+1) 1] = (k+1) 2

1 + 3 + 5 + …+ (2k+1) = (k+1) 2

1 + 3 + 5 + …(2k-1)+ (2k+1) = (k+1) 2

( 2k+1) = (k+1) 2 1 + 3 + 5 + … (2k-1)+ (2k+1) = (k+1)

k 2 +2k +1 = k 2 +2k +1

Terbukti benar

Kesimpulan :

Ini berarti kita telah membuktikan bahwa 1 + 3 + 5 + …+ (2k1)+[(2(k+1)-1] = (k+1) 2 yang merupakan pernyataan P k+1 Jadi jika P k benar, maka P k+1 benar, sehingga dapatlah disimpulkan bahwa : 1 + 3 + 5 + … + (2n - 1) =

n 2 untuk setiap bilangan asli n.

2.

Prinsip induksi yang dirampatkan

Misalkan p(n) adalah pernyataan perihal bilangan bulat dan kita ingin membuktikan bahwa p(n) benar untuk semua bilangan n ≥ n 0 , untuk membuktikan ini kita hanya perlu menunjukkan bahwa:

a. p(n 0 ) benar.

b. Untuk semua bilangan bulat n ≥ n 0 , jika p(n) benar maka p(n+1) juga

benar. Perbedaan prinsip induksi sederhana dengan prinsip induksi yang dirampatkan adalah pada induksi sederhana selalu memakai basis induksi untuk n=1, tetapi pada prinsip induksi yang dirampatkan, basis induksi tidak selalu dimulai dengan n=1. Nilai n bisa berapa saja asalkan n merupakan anggota bilangan asli.

Contoh 2 :

Untuk semua bilangan bulat tidak-negatif n, buktikan dengan induksi matematik bahwa 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 n = 2 n+1 - 1

Penyelesaian:

(i) Akan dibuktikan p(n) benar untuk n = 0 (karena bilangan bulat tidak negatif terkecil) Pn = 2 n+1 1 P 1 = 2 n+1 1 2 0 = 2 0+1 1

1 = 1

(ii) Asumsikan Pn benar untuk n = k 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 n = 2 n+1 1 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 k = 2 k+1 1

……………….Terbukti benar

(iii) Akan dibuktikan Pn benar untuk n= k+1 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 k = 2 k+1 1 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 k+1 = 2 (k+1)+1 1 2 0 + 2 1 + 2 2 + … 2 k + 2 k+1 = 2 (k+2) 1

+ … 2 k + 2 k + 1 = 2 ( k + 2 )

2 k+1 1 + 2 k+1 = 2 (k+2) 1

(2 k+1 + 2 k+1 ) 1 = 2 (k+2) 1 ( 2 . 2 k+1 ) -1 = 2 (k+2) 1

2 (k+2) 1 = 2 (k+2) 1

Terbukti benar

Karena prinsip i,ii dan iii terbukti maka Pn : 2 0 + 2 1 + 2 2 + … + 2 n = 2 n+1 1

Benar untuk semua bilangan bulat tidak negatif

3. Prinsip induksi kuat Misalkan p(n) adalah pernyataan perihal bilangan bulat dan kita ingin membuktikan bahwa p(n) benar untuk semua bilangan bulat n ≥ n 0 , jika p(n 0 ), p(n 0 +1),…, p(n) benar maka p(p+1) juga benar.

Versi induksi kuat ini mirip dengan induksi sederhana,kecuali pada langkah b kita mengambil hipotesis induksi yang lebih kuat pada semua pernyataan p(1), p(2),…, p(n) adalah benar dari hipotesis yang menyatakan bahwa p(n) benar. Contoh :

Tunjukkan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih besar dari 1 dapat dituliskansebagai hasil kali bilangan- bilangan prima.

Penyelesaian:

i) basis induksi : p(n) = proporsisi “setap bilangan bulat yang lebih besar dari 1 dapat dituliskan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima”. Dimisalkan p(2), bernilai benar, karena 2 adalah hasil kali dari satu bilangan prima, dirinya sendiri.

ii) Langkah induksi : asumsikan p(n) benar untuk semua bilangan bulat n, 1 < n 2 k. Harus ditunukkan bahwa p(k+1) juga benar. Ada 2 kasus yang mungkin:

Jika (k+1) bilangan prima, maka jelas p(k+1) benar

Jika (k+1) bilangan komposit, (k+1) dapat ditulis sebagai perkalian dua buah bilangan bulat a dan b sehingga 2 ≤ a≤ b< k+1.

Oleh hipotesa induksi, a dan b keduanya dapat dituliskan sebagai hasil kali bilangan prima. Jadi, k+1 = a.b dapat ditulis sebagai hasil kali bilangan prima.

iii)kesimpulan : karena dari tahap pertama dan kedua telah dibuktikan maka hasilnya adalah “setiap bilangan bulat yang lebih besar dari 1 dapat dituliskan sebagai haasil kali bilangan-bilangan prima”.

4. Prinsip Induksi Matematika Berjeda Tak satu

Contoh soal :

1 n (n adalah

jumlah pengulangan angka 1, mislanya n=4 maka x= 1111) pasti kongruen dengan 0 (mod 11) atau 1(mod 11). [misalkan 111 1(mod11) dan 111111 0 (mod11)].

Buktikan dengan induksi matematika bahwa semua bilangan berbentuk x = 11

Penyelesaian :

i) basis induksi : kita akan menggunakan prinsip induksi matematika berjeda tak-satu sebanyak 2 kali secara teerpisah namun dengan p(n) yang sama. Nyatakan p(n) sebagai

1n kongruen dengan 0(mod 11) atau 1(mod 11)”. Di sini kita akan

“bilangan 11

membuktikan dua pernyataan:

jika n bilangan ganjil positif, maka 11

1 n 1(mod 11)

jika n bilangan genap positif, maka 11

1 n 0(mod 11).

P(1) benar karean 1 1(mod 11). Jadi kita memiliki basis untuk pernyataan i). P(2) juga benar karena 11 0(mod 11), jadi kita memiliki basis untuk pernyataan ii).

ii). Asumsikan bahwa untuk suatu m € N, P(a + 2(m – 1)) benar. Akan ditunjukkan bahwa

P(a+2m) juga benar. Perhatikan bahwa:

11

1 a+2m = 100 x 11

11

1 a+2(m-1) + 11

1 a+2(m-1) (mod11)

Karena 100 1(mod 11) dan 11 0 (mod 11). Jadi, jika 11

1 a+2(m-1) 0(mod11). Begitu pula jika 11

1(mod11). Jadi terbukti jika P(a+2(m-1)) benar, maka P(a+2m) juga benar.

1 a+2(m-1) 0(mod11), maka 11

1 a+2(m-1) 1(mod11), maka 11

1 a+2(m-1)

ii) Kesimpulan: dengan menyulihkan a=1, maka berdasarkan prinsip induksi matematika

berjeda tak-satu, pernyataan i) kita terbukti, dan dengan menyulihkan a=2, maka

berdasarkan prinsip induksi matematika berjeda tak-satu, pernyataan ii) kita terbukti.

Karena kita telah membuktikan untuk semua bilangna ganjil dan semua bilangan genap

P(n) benar, maka kita simpulkan P(n) benar untuk semua n€N.

5. Prinsip Aturan Rapi

Contoh soal :

Sebuah bilangan bulat n dikatakan baik jika kita dapat menuliskan n sebagai

a 1 + a 2 +

berbeda) sehingga

+ a k = n dimana a 1 + a 2 +

+ a k adalah bilangan bulat positif (tidak harus

2 + + a k adalah bilangan bulat positif (tidak harus Diketahui bahwa seluruh bilangan bulat

Diketahui bahwa seluruh bilangan bulat dari 33 hingga 73 adalah baik, tunjukkan bahwa

setiap bilngan bulat lebih besar dari 32 adalah baik.

Penyelesaian :

i) basis induksi : sebuah bilangan bulat kita katakan buruk jika tidak baik. Apa yang ingin kita

buktikan adalah tidak ada bilangan buruk yang lebih besar dari 32. Untuk membentuk

kontradiksi, andaikan himpunan S dengan elemen bilangan-bilangan buruk lebih besar dari

32 adalah tidak kosong. Berdasarkan prinsip induksi rapi ini, himpunan ini memiliki

elemen terkecil, katakanlah m. Dengan informasi yang diberikan, kita ketahui bahwa m

74.

ii) andaikan m genap. Misalkan p=

. kita punya p ≥ 33, dan karena m adalh ≥ 33, dan karena m adalh

elemen terkecil di S, dan p < m, maka p adalah bilangna baik. Jadi terdapat a 1 , a 2 ,

sehingga a 1 +a 2 +

a

k = p dan

1 , a 2 , sehingga a 1 +a 2 + a k = p dan

, a k

Perhatikan bahwa 4 + 4+ 2a 1 + 2a 2 +

+ 2a k = m, dan

bahwa 4 + 4+ 2a 1 + 2a 2 + + 2a k = m, dan

Yang berarti m adalah bilangan baik, kontradiksi dengan asumsi semula. Dengan cara serupa, kita bisa mencapai kontradiksi yang sama jika m ganjil. Kali ini dengan mengambil

p=

yang sama jika m ganjil. Kali ini dengan mengambil p= , menggunakan fakta bahwa serta 3

, menggunakan fakta bahwa

serta 3 +6 +2a 1 +2a 2 + 1 +2a 2 +

+2a

k = m.

6. Prinsip Induksi Matematika Bekerja Mundur Contoh soal :

Untuk semua n € N, tunjukkan ketaksamaan berikut selalu berlaku :

n € N, tunjukkan ketaksamaan berikut selalu berlaku : Penyelesaian : i) Basis induksi : mungkin

Penyelesaian :

i) Basis induksi : mungkin kita akan langsung terpikirkan untuk menggunakan prinsip induksi dasar dan menggunakan parameter induksi n dalam menyelesaikan soal ini. Tapi kalaupun kita telah mengetahui bahwa

soal ini. Tapi kalaupun kita telah mengetahui bahwa , kita tidak dapat menyimpulkan apa-apa tentang ,
soal ini. Tapi kalaupun kita telah mengetahui bahwa , kita tidak dapat menyimpulkan apa-apa tentang ,

, kita tidak dapat menyimpulkan apa-apa tentang

, disini terlihat bahwa pemilihan n sebagai parameter induksi

tidak membawa hasil yang diharapkan. Alih-alih membuktikan ketaksamaan di atas, kita

akan membuktikan ketaksamaan yang lebih umum.

ii) Kita akan membuktikan bahwa ketidaksamaan

lebih umum. ii) Kita akan membuktikan bahwa ketidaksamaan , berlaku untuk C denagn prinsip induksi matematika
lebih umum. ii) Kita akan membuktikan bahwa ketidaksamaan , berlaku untuk C denagn prinsip induksi matematika

, berlaku untuk C denagn prinsip induksi matematika bekerja terbaik. Kali ini kita akan membuktikan bahwa ketaksamaan berlaku untuk m=n lalu mundur hingga ke m=2. Untuk m =n, ketidaksamaan jelas berlaku karena , sekarang kita asumsikan untuk suatu k € N, k < n, ketidaksamaan berlaku untuk m = k+1, yaitu :

N, k < n, ketidaksamaan berlaku untuk m = k+1, yaitu : maka Jadi ketaksamaan juga
N, k < n, ketidaksamaan berlaku untuk m = k+1, yaitu : maka Jadi ketaksamaan juga

maka

< n, ketidaksamaan berlaku untuk m = k+1, yaitu : maka Jadi ketaksamaan juga berlaku untuk
< n, ketidaksamaan berlaku untuk m = k+1, yaitu : maka Jadi ketaksamaan juga berlaku untuk

Jadi ketaksamaan juga berlaku untuk m = k.

iii) Kesimpulan : berdasarkan prinsip induksi matematika bekerja mundur kita dapat

menyimpulkan ketidaksamaan berlaku untuk semua m € N, m ≥ 2.

Pertemuan Ke 12

Tujuan Pembelajaran

1

Memahami langkah-langkah penyelesaian FPB

2

Mampu menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan FPB

Definisi: Setiap bilangan bulat bukan nol dapat membagi nol, sehingga a = b = 0 maka setiap bilangan bulat yang merupakan faktor sekutu a dan b adalah tak hingga, tetapi jika salah satu faktor a atau b bukan nol maka banyak faktor sekutu positivnya terhingga dan diantara faktor-faktor sekutu itu ada faktor yang tebesar. Faktor inilah yang disebut faktor persekutuan terbesar dari a dan b (FPB). Definisi : pembagi positif (faktor) persekutuan dari a dan b (a,b ≠ 0) adalah bilangan – bilangan yang habis membagi a dan b. Dinotasikan D (a,b) Jadi, D (a,b) = D (a) ∩ D (b) Contoh : D (6,9) = {1,2,3,6} ∩ {1,3,9} = {25} = D (3)

D

(15,30) = {1,3,5,15} ∩ {1,3,5,6,10,15,30} = {94} = D{15}

D

(17,27) = {1,17} ∩ {1,3,9,27} = {58} = D{1}

Ada beberapa cara atau metode untuk menentukan FPB, yaitu metode himpunan faktor persekutuan, metode faktorisasi, dan algoritma euclide.

1. Metode Himpunan Faktor Persekutuan Dalam metode ini langkah yang harus diperhatikan adalah:

Pertama kita cari angka yang dapat membagi angka tersebut

Kemudian cari pembagi yang sama dari bilangan tersebut

Terakhir kita cari nilainya yang paling besar.

Contoh :

Tentukan FPB dari 18 dan 12 Jawab :

F(18) = 1,2,3,6,9,18 F(12) = 1,2,3,4,,6,12 Lalu kita cari faktor yang sama yaitu 1,2,3,6 Kemudian kita cari yanng terbesar dari faktor yang sama, yaitu 6. Maka FPB dari 18 dan

12 adalah 6.

2. Metode Pohon Faktor Buatlah pohon faktor dari bilangan yang dicari FPBnya Tulislah faktorisasi primanya Pilihlah bilangan pokok yang sama pada faktorisasi prima Jika bilangan tersebut memiliki pangkat yang berbeda, ambillah bilangan prima dengan pangkat yang terendah. Contoh :

Tentukan fpb dari 24 dan 32 Jawab:

yang terendah. Contoh : Tentukan fpb dari 24 dan 32 Jawab: Faktorisasi prima dari 24 32

Faktorisasi prima dari

24

32

FPB dari 24 dan 32 adalah 2 3 atau 8

=2 3 x 3

=2

5

3. Metode Faktorisasi Prima Tentukan faktorisasi prima Ambil faktor sekutu primanya, fpb adalah hasil kali faktor-faktor sekutu. Jika bilangan tersebut memiliki pangkat yang berbeda, ambillah bingan prima dengan pangkat yang terendah. Contoh:

Tentukan fpb dari 24 dan 60 Jawab:

24 = 2 x 2 x 2 x 3 60 = 2 x 2 x 3 x 5 Lalu, kita cari faktor prima persekutuan dari kedua bilangan tersebut. Faktor prima perekutuannya adalah 2, 2, dan 3. Maka fpb dari 24 dan 60 adalah hai perkalian dari faktor prima persekutuan, yaitu 2 x 2 x 3= 12.

4. Metode Algoritma Euclide Algoritma ini mencari fpb dengan cara melakukan pembagian berulang-ulang dimulai dari kedua bilangan yang hendak cari fpb nya sampai kita mendapatkan sisa nol dari hasil pembagian. Contoh:

Tentukan fpb dari 24 dan 60 Jawab:Bagilah bilangan yang lebih besar dengan yang lebih kecil = 2 dengan sisa 12 lalu kita bagi bilangan yang lebih kecil yaitu 24 dengan sisa

dengan sisa nol maka fpb dari 24

kecil yaitu 24 dengan sisa dengan sisa nol maka fpb dari 24 dari pembagian sebelumnya yaitu

dari pembagian sebelumnya yaitu 12 jadi

nol maka fpb dari 24 dari pembagian sebelumnya yaitu 12 jadi dan 60 adalah 12. Pertemuan

dan 60 adalah 12.

Pertemuan Ke 13

Tujuan Pembelajaran

1. Memahami langkah-langkah penyelesaian KPK

2. Mampu menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan KPK

Materi Singkat

Suatu bilangan bulat c disebut kelipatan persekutuan dari bilangan-bilangan bulat bukan nol a dan b jika a|b dan b|c. Hal ini berarti 0 adalah keliptan persekutuan a dan b. Perlu diingat bahwa ab dan ab adalah kelipatan persekutuan dari adan b, dan salahsatunya positif. Kita menyebutnya kelipatan persekutuan terkecil dari a dan b. Metode-metode untuk menentukan KPK

1. Metode Himpunan Faktor Persekutuan Dalam metode ini pertama kita cari angka yang dapat membagi angka tersebut,kemudian cari pembagi yang sama dari bilangan tersebut, terahir kita cari nilainya yang paling kecil.

Contoh:

Tent kpk dari 40, 60 dan 80 Jawab:

K(40) = 40,80,120,160,200,240,280,320 K(60) = 60,120,180,240,300 K(80) = 80,160,240,320,400 Lalu kita cari faktor yamg sama yaitu:240 Jadi kpk dari 40.60 dan 80 adalah 240

Buatlah pohon faktor dari bilangan yang dicari FPBnya

Tulislah faktorisasi primaya

Ambilah semua faktor yang sama maupun tidak sama dari bilangan-bilangan tersebut.

Jika bilangan tersebut memiliki pangkat yang berbeda, ambilah faktor yang pangkatnya terbesar.

Contoh:

Tentukan kpk dari 24 dan 32 Jawab:

Buatlah pohon faktor

Tentukan kpk dari 24 dan 32 Jawab: Buatlah pohon faktor Faktorisasi dari 24 32 =2 3

Faktorisasi dari

24

32

=2 3 x 3

=2

5

Jadi kpk dari 24 dan 32 adalah 2 5 x 3 = 96

3. Metode Faktorisasi Prima Tulislah faktorisasi primaya Ambilah semua faktor yang sama maupun tidak sama dari bilangan-bilangan tersebut.

Jika bilangan terseut memiliki pangkat yang berbeda, ambilah faktor yang pangkatnya terbesar. Contoh :

Tentukan kpk dari 16 dan 30 Jawab:

Faktor prima dari

16

= 2x2x2x2 = 2 4

36

= 2x2x3x3 = 2 2 x3 2

Jadi kpk dari 16 dan 30 adalah 2 4 x3 2 =144.

4. Metode Algoritma Euclid Metode algoritma ini tidak bisa digunakan untuk menentukan KPK kecuali FPBnya sudah diketahui terlebih dahulu. Atau dengan kata lain KPK adalah hasil bagi antar perkalian dua bilangan a dan b dengan FPBnya. Contoh :

Tentukan KPK dari 66 dan 50, Pertama tentukan terlebih dahulu FPBnya:

Faktor prima dari

66

= 2x3x11

50

= 2x5x5

Fpb= 2 Lalu berdasarkan konsep algoritma euclid kita tentukan hasil bagi antar perkalian dua bilangan a dan b dengan FPBnya

kita tentukan hasil bagi antar perkalian dua bilangan a dan b dengan FPBnya = 1650 Jadi

= 1650

Jadi KPK dari 66 dan 50 adalah 1650.

5. Metode Pembagian Dengan Bilangan Prima Pertama tentukan bilangan prima terkecil yang dapat membagi paling sedikit satu dari bilangan yang diberikan. Lalu teruskan proses pembagian sampai baris dimana jawabannya berisi bilangan-bilangan 1. Contoh Tentukan KPK dari 12, 75 dan 120

Jawab

 

2

12

75

120

2

6

75

60

2

3

75

30

3

3

75

15

5

1

25

5

5

1

5

1

 

1

1

1

Dengan demikian, KPK (12, 75, 120) = 2x2x3x5x5=2 3 x3x5 2 =600

Pertemuan Ke 14

Tujuan Pembelajaran

1. Mengenal Algoritma pembagian, Faktorisasi prima, dan Teorema Euclid

2. Memahami langkah-langkah penyelesaian Algoritma pembagian, Faktorisasi prima, dan Teorema Euclid

3. Mampu menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan Algoritma pembagian, Faktorisasi prima, dan Teorema Euclid

Materi Singkat

Definisi : Suatu bilangan bulat x dikatakan habis dibagi oleh suatu bilangan bulat y ≠ 0, jika terdapat satu bilangan bulat p sedemikian sehingga x = py. Jika hal ini dipenuhi maka y dikatakan membagi x dan dinotasikan dengan y │ x yang dapat diartikan sebagai y adalah faktor (pembagi) x, atau x adalah kelipatan y. Jika y tidak membagi x dinotasikan dengan y x. Contoh :

y. Jika y tidak membagi x dinotasikan dengan y x. Contoh : 3 │12, sebab ada

3 │12, sebab ada bilangan bulat 4 sedemikian sehingga 12 = (4) 3

Untuk selanjutnya pernyataan y│x sudah dianggap bahwa y ≠ 0. Sehingga dari definisi tersebut dapat ditentukan bahwa:

1)

1 │ x, untuk setiap x Z, karena ada p Z sedemikian sehingga

x = (p)1, sehingga 1 │ 3, 1│6, 1 │ 11, 1 │-21, 1 │16, 1 │ -10, semuanya bernilai benar.

2)

y │ 0, untuk setiap y

Z dan y ≠ 0 karena ada 0

Z sehingga

0 =(y)0, sehingga 3 │ 0, 1│0, -1│ 0, 12 │0, -191 │0, 4│ 0, semuanya

bernilai benar.

3)

x │x untuk setiap x Z dan x ≠ 0, karena ada 0 Z, sehingga x = (1)x, sehingga pernyataan-pernyataan 2│2, -2-2, 42│42, 12│12, -20-20, 21│21, semuanya bernilai benar.

4)

Jika y │x, maka kemungkinan hubungan antara y dan x adalah y < x,

y = x, y>x. Misalnya 2 │ 2 dengan 2 = 2, 2 │4 dengan

2 -4 dengan 2 > -4.

2 < 4, dan

2.1 Teorema dan Sifat-sifat Keterbagian Teorema 1 Jika a, b, dan c adalah bilangan bulat dengan a│b dan b│c maka a│c.

Bukti a│b dan b│c maka menurut Definisi :

terdapat bilangan bulat m dan n sedemikian sehingga c = bn = (am)n = a(mn). Jadi, c = a(mn). Untuk suatu mn = p anggota bilangan Bulat maka c = ap Akibatnya menurut Definisi, a│c. Untuk lebih jelasnya, diberikan Contoh berikut. Contoh :

Jika 2 6 dan 690 maka menurut Teorema 2 90 karena terdapat bilangan bulat 45 sedemikian sehingga (45)(2) = 90

Teorema 2 Jika a,b, dan c adalah bilangan bulat dengan:

c│a dan c│b maka c│(am+bm) untuk suatu m,n anggota bilangan bulat. Bukti c│a dan c│b maka terdapat bilangan

bulat x dan y sedemikian sehingga a=cx dan b=cy.

Sehingga,

am

= c(xm) dan bn

=c(yn). untuk

suatu xm

am + bn = c(p+q). Akibatnya,c│(am+bn).

Teorema 3 (Buchmann, 2002: 3)

a.

Jika a│b dan b ≠ 0 maka |a| ≤ |b|.

b.

Jika a│b dan b│a maka |a| = |b|.

Bukti

=

p dan (yn)=q,

Maka:

a. Jika a│b dan b ≠ 0 maka menurut Definisi terdapat m 0 sedemikian sehingga b=am. Karena b = am maka |b| = |am| ≥ |a| sehingga, |a| ≤ |b|.

b. Andaikan a│b dan b│a. Jika a = 0 maka b = 0 dan jika a ≠ 0 maka b ≠ 0. Selanjutnya, Jika a ≠ 0 dan b ≠ 0 maka sesuai dengan Teorema 3a, |a| |b| dan |b| ≤ |a| sehingga |a| = |b|.

Penjelasan Sifat-Sifat Keterbagian diatas :

1. Jika suatu bilangan b dibagi oleh bilangan a, dan bilangan c dibagi oleh bilangan

b, maka bilangan c dapat dibagi bilangan a.

2. Jika suatu bilangan c dibagi oleh ab (ab merupakan perkalian dua buah bilangan), maka c dapat dibagi oleh bilangan a dan dapat dibagi oleh bilangan b.

3. Jika suatu bilangan b dan c dapat dibagi oleh bilangan a, maka ketika bilangan b dan c tersebut dikali dengan suatu bilangan bulat, akan dapat pula dibagi oleh bilangan a.

2.2 Dalil-dalil Keterbagian

Jika a,b,c Z maka berlaku:

1)

a│b → a │bc, untuk setiap c

Z.

2)

(a │b, b│c) → a│ c.

3)

(a│b, b│a) → a = ± b.

4)

(a│b, a│c) → a│(b ± c).

5)

(a│b, a│c) → a │ (ax + by) untuk setiap x,y Z. Untuk selanjutnya ax + by disebut kombinasi linear dari b dan c

6)

( a > 0, b > 0 dan a│b) → a ≤ b.

7)

a│b ↔ ma│mb untuk setiap m Z dan m ≠ 0.

8)

( a│b dan a│b+c ) → a │c. Pernyataan-pernyataan di atas dapat dibuktikan sebagai berikut:

1.

Karena diketahui a│b , maka menurut definisi 1 ada suatu bilangan bulat p sedemikian

sehingga b = (p)a. b = pa berarti bc = (pa)c. Hal ini berarti terdapat bilangan bulat q =

pc

sedemikian sehingga bc = qa.

Jadi a │bc.

2.

a│b → b = pa, untuk suatu p Z

b│c → c = qb, untuk suatu q Z.

(

b = pa, c = qb) → c = q(pa) atau c = (qp)a. atau c = wa, untuk suatu

w

Z.

Jadi

a │c.

3.

a│b → b = pa, untuk suatu p Z

b│a → a = qb, untuk suatu q Z.

b = pa, a = qb) → a = q(pa) atau a = (qp)a. Karena a │b, berarati a ≠ 0, sehingga a = (qp)a atau a(1-qp) = 0 dan dapat disederhanakan menjadi a=0 atau qp = 1.

(

qp

= 1 → ( q = 1 dan p =1) atau ( p = -1 dan q = -1)

p

= q

= 1 maka a = pb = b

(1)

p

= q = -1, maka a = pb = -b

(2)

Dari (1) dan (2) didapat a = ± b

4.

a

│b → b = pa, untuk suatu p Z

a

│c → c = qa, untuk suatu q Z.

(

b = pa, c = qa) → b ± c =

pa ± qa atau b ± c = a ( p ± q)

b

± c = at dengan t Z.

Jadi

a │b ± c.

5.

a

│b → b = pa, untuk suatu p Z

a

│c → c = qa, untuk suatu q Z.

bx

+ cy = ( pa)x + (qa)y

bx

+ cy = a (px+qy) dengan (px + qy) Z.

Jadi a │(bx+cy).

6.

a

│b → b = pa, untuk suatu p Z

karena a > 0, b > 0 dan b = pa maka p > 0. karena p Z maka p bukan suatu pecahan. Sehingga nilai kemungkinan x adalah 1,2,3,

,

yaitu x = 1 atau x >1

b

= pa dan p =1 → b = a atau a = b

b

= pa dan p > 1 → b > a atau a < b.

a

= b atau a < b → a = b

7.

(a)

a │b → b = pa, untuk suatu p

Z

→ mb = map → mb = (ma)p → ma │mb

(b)

ma │mb → mb = (ma)p untuk suatu p Z→ ma │mb

mb = m (ap) dan m ≠ 0 → b = ap → a │b

b │c → c = q b, untuk suatu q

Z.

8.

a

│b → b = pa, untuk suatu p Z

a

│b + c

→ b + c = qa, untuk suatu q Z.

b

+ c

= qa → c = qa – b.

c

= qa b dan b = pa

→ c = qa - pa atau c = a( q-p)

c

=

a ( q-p) dengan (q-p) Z → a │c.

2.3 Logaritma Keterbagian

Untuk bilangan bulat sebarang a dan b dengan a > 0, terdapat bilangan bulat q dan r sedemikian sehingga b = qa + r dengan 0 ≤ r < a, maka:

a) b disebut bilangan yang dibagi (devidend)

b) a disebut bilangan pembagi (devisor/faktor)

c) q disebut bilangan hasil bagi (quotient), dan

d) r disebut bilangan sisa (remainder/residu)

Pernyataan di atas disebut pula dengan algoritma pembagian. Algoaritma adalah prosedur atau metode matematis untuk memperoleh hasil tertentu yang dilakukan menurut

sejumlah langkah berurutan yang berhingga. Dalil ini sebenarnya lebih bersifat dalil eksistensi (keujudan) dari adanya bilangan-bilangan bulat q dan r dari suatu algortima.

Namun demikian, uraian tentang pembuktiannya dapat memberikan gambaran adanya suatu metode, cara , atau prosedur matematis untuk memperoleh bilangan-bilangan bulat q dan r sehingga b = qa + r. Ternyata berdasarkan dalil algoritma pembagian, setiap bilangan bulat dapat dinyatakan sebagai bilangan bulat genap (2q) atau bilangan bulat ganjil ( 2q + 1). Selanjutnya jika diambil a = 3, maka menurut dalil Algoritma Pembagian, dengan mengambil r = 0, r = l dan r = 2. Sehingga sebarang bilangan bulat b dapat dinyatakan sebagai bentuk dari salah satu persamaan berikut:

b

= 3q

b

= 3q + 1

b

= 3q + 2

Dengan alasan yang sama, setiap bilangan bulat selalu dapat dinyatakan antara lain:

1. Salah satu dari 4q, 4q+1, 4q+2, 4q+3 (q Z)

2. Salah satu dari 5q, 5q+1, 5q+2, 5q+3, 5q+4 (q Z)

3. Salah satu dari 6q, 6q+1, 6q+2, 6q+3, 6q+4, 6q+5 (q Z)

Disinilah sebenarnya letak dari konsep algoritma pembagian, suatu konsep mendasar yang dapat

digunakan untuk membantu pembuktian sifat-sifat tertentu.

Pertemuan Ke 15

Tujuan Pembelajaran

Resume Pembelajaran

Materi Singkat

Mahasiswa membuat resume / matriks materi dari materi yang telah disampaikan terhitung sejak

uts selesai

Pertemuan Ke 16

UJIAN AKHIR SEMESTER

REFERENSI UTAMA

Sukirman (2000), Pengantar Teori Bilangan, Universitas Negeri Yogyakarta Press. Yogya Nugroho (2002), Teori Bilangan, Diktat Kuliah. Munir (2007), Teori Bilangan, Diktat Kuliah.

REFERENSI PENDUKUNG

Burton, D, Elementary Number Theory, Jones, Gareth A and J. Mary Jones (2005).Elementary Number Theory, Spring-Verlag, London. Zawaira, Alexandar and G. Hitchcock (2009). A Primer for Mathematics Competitions, Oxfor Univ.Press, London

Cirebon, Februari 2016 Dosen Pengampu

Alif Ringga Persada, M.Pd