Anda di halaman 1dari 11

Paper ulumul fiqh

Paper Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas mata kuliah ilmu fiqh

Dosen pengampu: Ahmad Damiri, S.sy, M.Ag

Disusun oleh :

Ajan Hudaepah (1193010014)

HUKUM KELUARGA (AS)

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2019


Biografi Maulana Malik Ibrahim

BAB I : PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Era wali sanga merupakan era berakhirnya dominasi Hindu Budha dalam budaya nusantara
sehingga lahirlah kebudayaan ”baru” , kebudayaan islam. Wali sanga merupakan perintis
awal penyebaran ajaran islam di Indonesia¸khususnya di jawa, yang di pelopori Maulana
Malik Ibrahim(Sastrowardjojo 2007:38). Disamping wali sanga, tentu tudak sedikit tokoh
lain yang ikut andil berdakwah dalam penyebaran islam di pilau Jawa. Namun yang
membuat wali sanga lebih di kenal , di sebabkan peran mereka yang sangat besar dalam
mendirikan kerajaan islam di pulau Jawa,dan pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat
secara luas serta dakwah secara langsung

Sebagai salah seorang wali, Maulana Malik Ibrahim memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap penyebaran agama islam di tanah jawa. Kehadiran Maulana Malik Ibrahim di Pulau
jawa di sinyalir sebagai wali pertama yang meletakan dasar dasar keislaman kepada
masyarakat, khusus di pesisir pulau Jawa, yang kemudian diteruskan oleh para wali-wali
yang lain.

Magnit kebesaran nama Maulana Malik Ibrahim, seperti yang dipersepsi oleh masyarakat,
kaum habaib, para ulama, serta para akademis, perlu di telusuri lebih dekat dan mendalam.

TUJUAN

Mengetahui biografi serta perjalanan hidup Maulana Malik Ibrahim dalam menyebarkan
agama islam di Nusantara (Pulau Jawa)

RUANG LINGKUP MATERI

Biografi MAULANA MALIK IBRAHIM, Penyebaran islam di pulau Jawa


BAB II : LANDASAN TEORI

SILSILAH KELUARGA

Maulana malik Ibrahim berasal dari daerah Maghribi,Afrika utara.Beliau datang ke Indonesia
pada Zaman Majapahit untuk menyiarkan ajaran islam, bersama Raja Cermin dan putra-
putrinya.ia pada dasarnya dianggap keturunan Rasululloh saw; melalui jalur keturunan
Husain bin Ali, Ali Zaenal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-shadiq , Ali al-Uraidhi,
Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi , Ahmad Al Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal,
Muhammad Sahibus Saumiyah, Alwi as-tsani, ali al-khali’Qasam, Muhammad shahib
mirbath, Alwi ammi al faqih, Abdul malik(Ahmad khan), Abdullah(al-azhamat) khan,
Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar Al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik
Ibrahim(Nurhayati,dkk yogyakarta 2007:40-41)

Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah. Ia juga dikenal dengan nama
Makhdum Ibrahim As-Samarkandi atau maulana malik ibrahim asmara. Dalam riwayat lain
di katakan, bahwa Maulana Malik Ibrahim merupakan keturunan dari Zainal Abidin bin
Hasan bin Ali ra

Nama lain maulana Malik Ibrahim adalah syekh magribi, dan sebagian masyarakat
menyebutkan dengan kakek Bantal. Sebutan Kakek Bantal ini muncul karena konon Maulana
Malik Ibrahim mempunyai kebiasaan yang khas. Yaitu, ketika mengajarkan ilmunya,
Maulana Malik Ibrahim meletakan Al-Qur'an atau kitab hadits di atas bantal. Karena itu iya
di juluki Kakek Bantal.

Mengenai asal-usulnya hingga sekarang masih menjadi misteri. Banyak kabar yang
memberitahukan beliau datang dari Persia dan ada juga yang mengatakan dari tanah Arab.
"Setengah riwayat mengatakan beliau berasal dari Gujarat(india), ada juga yang mengatakan
beliau berasal dari Persia dan ada pula yang mengatakan Malik Ibrahim itu berasal dari Tanah
Arab(Nurhayati, dkk, 2007:50)

Pada awal abad ke-14, Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di negeri campa(sekarang
kamboja), selama tiga belas tahun. Negeri campa pada waktu itu di pimpin oleh seorang Raja
yang masih kafir. Namun, beliau telah berhasil mengajak Raja Campa untuk memeluk agama
islam, bahkan kemudian dia membangun sebuah masjid dan mengawinkan salah seorang
putrinya yang bernama Dewi Candra Wulan dengan Maulana Malik Ibrahim. Dari pernikahan
ini, Maulana Malik Ibrahim di karuniai tiga putra. Mereka adalah Raden rahmat( dikenal
dengan Sunan Ampel), Raden pandita, dan Siti Zainab(Wahyudi, 2007:16). Merasa cukup
menjalankan misi dakwah di negeri itu, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa
meninggalkan keluarganya.

Gresik sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim

Secara kategoris, masyarakat pesisir dapat di kelompokkan menjadi beberapa model


berdasarkan propesinya: petani, pedagang, nelayan atau pengembang sektor perikanan,
masyarakat industri dan seni. Namun demikian, terdapat dua potensi besar yang dapat di
cermati dalam masyarakat pada masa itu yaitu pertanian dan perdagangan. Dua faktor inilah
yang menjadi tulang punggung masyarakat pada saat itu dan ini sejalan dengan sebutan
kerajaan majapahit pada saat itu, sebagai negara agraris dan maritim.

Namun demikian, nampaknya kegiatan yang menonjol dari masyarakat gresik adalah
sebagai pedagang. Salah satu pencaharian pokok penduduk Gresik yang secara geografis
sepertiga wilayahnya berupa lepas pantai adalah nelayan tambak atau mereka berprofesi
sebagai pedagang. Tentang hal yang terakhir ini, Tome Pires menjelaskan bahwa para
pedagang muslim dari Persia, Arabia, Gujarat, Bengali, Melayu sering singgah di pelabuhan
seperti Gresik, Sedayu, Surabaya, dan Tuban yang merupakan jalur perdagangan
internasional kala itu. Selain itu, seperti penjelasan Mahuan dalam kitab Ying Yai Sh'eng Lan
(1415M) bahwa terdapat empat kota yang semuanya tanpa tembok yakni Tuban, Gresik,
Surabaya, Majapahit.

Ramainya pelabuhan Gresik ini pada kenyataannya membawa konsekwensi logis maraknya
masyarakat yang memilih profesi sebagai pedagang. Gresik saat itu menjadi bandar
internasional yang menghubungkan jalur perdagangan jalur perdagangan menuju selat
Malaka yang menghubungkan Asia Barat, Asia Tenggara, dan Asia Timur dengan tiga
kerajaan besar yang saat itu eksis: Bani Umayyah(Asia Barat) Sriwijaya(Asia Tenggara), dan
Dinasti Tang (Asia timur).

Maka demikianlah, seperti yang telah di jelasakan bahwa uraian di atas sebuah gambaran
sekilas tentang kondisi masyarakat Gresik sebelum kedatangan Wali sanga itu. Menilik dari
kondisi seperti itu tidak mengherankan jika Maulana Malik Ibrahim dalam kehidupan
dakwahnya tidak lepas dari ketenarannya sebagai pembisnis. Hal ini tentu sesuai dengan
konteks sosial mayoritas masyarakat saat itu.
Data yang paling dekat dengan masa kedatangan Maulana Malik Ibrahim terdapat pada
catatan Ma Huan, musafir Cina Muslim yang mengunjungi Tuban, Gresik, dan Surabaya
pada tahun 1416, melaporkan: "Di negeri ini terdapat tiga macam bangsa: pertama, orang
Mohamedan yang datang dari Barat dan telah menetap di sana, sandang dan pangannya
bersih dan rapi. Kedua, orang Cina yang telah melarikan diri dan bermukim disana; apa yang
mereka makan dan mereka pakai juga bagus sekali, dan banyak di antaranya yang telah
menerima agama Mohamedan dan menjalankan ajarannya. Macam ketiga ialah kaum pribumi
yang buruk rupanya dan kasar kelakuannya; mereka kemana mana tanpa di sisir rambutnya
dan dengan kaki telanjang dan percaya kepada setan setan(Kraemer 1952:119)

Menurut cerita rakyat yang berkembang di wilayah Pesucinan, Leran, di katakan bahwa
sebelum beliau sampai di tanah perdikan Gresik, Maulana Malik Ibrahim bersama Maulana
Ishaq, keduanya di sebut sebut sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau syekh Jumadil
Qubro dari Persia bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh
Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan;
dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai, Kemudia menjadi ulama terkenal
di Samudera Pasai

Jika cerita itu dapat di dukung dengan data yang bisa dipertanggung jawabkan, kedatangan
Maulana Ishak ke Pasai bukan untuk dakwah Islam yang pertama, sebab menurut catatan
Marco polo, pada batu nisan makam Sultan Malikul Salih, penguasa beragama islam yang
pertama di Samudra Pasai, bertahun1297(vlekke Nusantara, 67)

Di sebut pula bahwa Maulana Malik Ibrahim bermukim di champa(chermain atau cermin)
selama 13 tahun. Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat
atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan
misi dakwa di negeri itu, ia hijrah ke pulau jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah
dewasa,kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama islam di pulau jawa.

PEMIKIRAN MAULANA MALIK IBRAHIM

Pemikiran Keagamaan

Indonesia, pernah di kenal dengan sebutan Hindia-Belanda. Sebutan ini muncul karena letak
Indonesia persis di tengah perjumpaan samudra Hindia dan wilayah tropis pasifik. Indonesia
juga di kenal sebagai negeri kepulauan, karena di dalamnya terdapat Sekitar 3000 pulau.
Indonesia tercatat menjadi negara terbesar keempat dunia dilihat dari jumlah penduduknya,
dan masuk keenam terbesar di lihat dari luas wilayah

Masih mengenai pulau jawa, menurut Hildred Geetz, bahwa faktor geografis ikut
menentukan perkembangan masyarakatnya. Hildred Geetz memetakan ada tiga tipologi
masyarakat. Pertama, masyarakat pesisir yang orientasi perdagangan serta komitmen
keislamannya sangat kuat. Kedua, jenis masyarakat pegunungan, yang bercorak pada
kelompok kesukuan yang berorientasi animistik. Ketiga, jenis masyarakat yang pada
umumnya dipengaruhi kebudayaan Hindu, yang sangat erat menjalin hubungan dengan
kelompok elit di istana, da berdiam di wilayah yang dapat di jangkau(Geetz, 1963)

Sebelum kedatangan para wali(islam), termasuk Maulana Malik Ibrahim, masyarakat jawa
dikenal sebagai masyarakat yang dominan menganut animisme. Kepercayaan animisme yang
di anut masyarakat jawa dapat di jumpai dengan bukti bukti informasi arkeologis dan
etnologis

Selain penganut kepercayaan, ditengarahi pada abad keenam hingga abad 14, agama Hindu
berkembang kuat di Nusantara. Menurut Van Leur dan Werheim, pengaruh india mengalir
lewat beberapa orang Brahma India yang berpengaruh, yang memberikan dukungan politik
kepada para penguasa Indonesia dengan menyatakan bahwa mereka secara geneologis adalah
keturunan kasta tertinggi(Van leur, 1933:237-238) .

Sementara agama budha masuk Indoneaia lewat interaksi yang lebih populer. Para
misionaris Budha mengunjungi para raja di Indonesia, mengajari hukum hukum agama
mereka dan mengkovensi para penguasa serta keluarga mereka.

Dari uraian singkat di atas, dapat di gambarkan bahwa kedatangan Maulana Malik Ibrahim
ke pulau Jawa tidaklah dalam suasana budaya yang hampa. Sebelumnya sudah ada penganut
kepercayaan, agama Hindu dan Budha yang begitu kuat pengaruhnya di masyarakat jawa.
Jalan penyebaran agama di tanah air hampir semuanya menggunakan akulturasi yang elegan
dan damai. Cara cara kekerasan dan peperangan tidak lagi efektifdigunakan untuk
menaklukan kepercayaan dan keagamaan masyarakat indonesia

Maulana Malik Ibrahim mengawali dakwah islam di pulau jawa sekitar 801 H/tahun 1392
M di Gresik Jawa Timur. Pada masa itu masyarakat Gresik di kenal sebagai penganut Hindu
yang taat dan kuat dari kerajaan Majapahit. Sambil berdagang, Maulana Malik Ibrahim
mengenalkan dasar dasar (pondasi) ajaran islam kepada pelanggan, kolega, dan masyarakat
pasar. Proses penetrasi dakwah Maulana Malik Ibrahim lebih menyentuh aspek-aspek
kebutuhan keseharian mereka, dan cocok untuk kaum masyarakat yang sudah memeluk
kepercayaan maupun agama. Selain dengan cara berdagang, misi dakwa juga melakukan
dengan budaya "cangkruk" (obrolan) di sebuah kedai/warung kecil

Pemikiran sosial budaya

Salah satu aspek strategis dalam menelusuri pemikiran Maulana Malik Ibrahim di bidang
sosial budaya ini adalah akomodasinya terhadap nilai nilai atau pin tradisi lokal. Sejalan
dengan prinsip Islam, bahwa pemikiran beliau dalam masalah-masalah sosial budaya dapat
beradaptasi dengan lingkungan di mana beliau tinggal.

Maulana Malik Ibrahim sebagai salah seorang wali sanga di jawa ini sangat konsisten dalam
menyebarkan agama islam dan menjunjukkan akan kegemarannya dalam melakukan
reaktualisasi dan kontekstualisasi nilai-nilai islam secara kreatif dan inovatif ke dalam
kompleksitas kehidupan masyarakat(abdullah, 2006:xvii)

Menurut beberapa sumber lisan mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim merupakan
seorang wali yang punya visi bahwa hidup itu harus bermodalkan keteladana yang luhur.
Bahkan beberapa cerita di ungkapkan bahwa orang yang asalnya perampok ataupun pencuri
tunduk dan luluh hatinya melihat aura hati dan pribadi beliau yang begitu teduh jiwanya yang
akhirnya menjadi murid muridnya(Jejak para wali kompas:37)

Keberhasilan Maulana Malik Ibrahim menggerakan aktivitas masyarakat dimulai dengan


contoh dan tauladan yang nyata. Hal itu misalnya banyak membantu masyarakat melalui
pengobatan gratis, membangun irigasi pertanian bagi warga masyarakat yang mata
pencahariannya cocok tanam, dan melakukan aktivitas lain yang intinya yaitu merakyat dan
menolong kaum bawah(Hasyim 1981:13)

Hal lain yang tidak luput dari perhatian Maulana Malik Ibrahim yaitu pentingnya
merehabilitasi dekadensi moral warga masyarakat. Menurut beliau, masyarakat harus di
sehatkan dan ditata kembali jiwa dan lingkungannya supaya bisa menjalani hidup dengan
baik dan lingkungannya supaya bisa menjalani hidup dengan baik. Dalam proses inilah beliau
juga memanfaatkan sambil mengenalkan dasar-dasar ajaran islam
Pemikiran Politik

Kedatangan Maulana Malik Ibrahim di tanah jawa di sinyalit para ahli sejarah melalui jalur
pelayaran. Sebagaimana banyak di ungkapkan di beberapa sumber tertulis, bahwa hampir
semua wali di jawa ini tugasnya adalah menyebarkan dakwah islam, bukan untuk merebut
kekuasaan (politik). Akan tetapi Maulana Malik Ibrahim selain sebagai penyiar islam, juga di
kenal sebagai pemimpin yang arif dan cerdas.

Ketika Maulana Malik Ibrahim datang di Gresik tahun 1404, di jawa ini sudah berdiri
kerajaan-kerajaan. Pasti pemerintahan kerajaan jawa antara jangka 1082-1404 berada di Jawa
Timur, yaitu di medhang ke kahuripan, lalu jenggala dan memenang, bersambung ke kediri,
singosari dan akhirnya pindah ke Majapahit(Simon, pustaka pelajar:43) .

Untuk mengembangkan strategi penyiaran agama islam yang lebih luas, Maulana Malik
Ibrahim melakukan pendekatan politik. Dalam beberapa sumber di sebutkan, Maulana Malik
Ibrahim beserta pengikutnya datang ke istana kerajaan Majapahit yang terletak di desa
Trowulan Mojokerto.

Melalui upaya pendekatan tersebut, tampaknya Prabu Briwijaya bersimpati kepada Maulana
Malik Ibrahim. Berkat hasil pertemuan itu, konon beliau mendapat restu agar tetap diijinkan
menyebarkan ajaran islam kepada masyarakat.

Dalam sebuah sumber diberitakan, tidak lama dari pertemuan dengan Brawijaya,kemudian
ada utusan raja cermin datang dengan membawa pesan Baginda Raja Cermin akan datang
berkunjung ke kota Gresik. Bagi Maulana Malik Ibrahim, kunjungan Raja Cermin ke kota
Gresik merupakan kesempatan untuk mengajak Prabu Brawijaya untuk memeluk islam.
Rencana ini tidak lama terwujud, Raja cemin datang bersama para pengikutnya di kota Gresik
di sambut meriah Maulana Malik Ibrahim.

Maulana Malik Ibrahim juga di kenal sebagai wali yang dekat dengan para sultan. Melalui
komunikasi yang instensif dengan para sultan, Maulana Malik Ibrahim berusaha
menyebarluaskan ajaran islam lebih cepat. Pendekatan komunikatif itulah yang menyebabkan
sekat sekat strata sosial menjadi lebih cair. Sesuai dengan misi islam pendekatan komunikatif
merupakan jalan silaturrahim yang menjadikan seseorang bertambah kawan dan bukan
lawan.
PENUTUP/KOMENTAR PRIBADI

Dapat di simpulkan dari awal pembahasan bahwa pengaruh wali songo di nusantara sangatlah
berharga, yang mana perannya dapat mengubah masyarakat nusantara lebih khususnya
masyarakat pulau jawa pada masa itu menjadi masyarakat yang beragamakan islam, maka
dari itu kita selaku generasi muda layaklah meniru perilaku Maulana Malik Ibrahim yang
memiliki jiwa semangat dalam menyampaikan kebenaran demi terwujudnya suatu keinginan
beliau

Maka dari itu menurut saya Maulana Malik Ibrahim patut di jadikan panutan bagi kita
semua, berkat perjuangan beliau dan ridho allahlah indonesia menjadi negara mayoritas
muslim terbesar di dunia
Daftar Pustaka

M lutfi Mustofa, dkk, Menapak Jejak Maulana Malik Ibrahim, Malang, UIN-Malang Press,

2010

R. Sastrowardjojo, syiar islam di tanah jawa: kisah wali sanga dan syekh siti jenar,

Yogyakarta,Sketsa, 2007

Alwi shihab, membendung arus; respons gerakan muhammadiyah terhadap penetrasi misi

kristen di indoneasia, Bandung, Mizan, 1995

Hildred Geertz, indoneasia cultures and communities, dalam Ruth T McVey, Indonesia

New Haven; Yale University press, 1963

Vlekke, Nusantara

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Malik_Ibrahim